Group: http://groups.google.com/group/supplychainindonesia/topics
Pak Gani,…
Saya senang membaca cerita pak Gani dengan inovasinya yang tentunya memberikan suatu kebaikan buat negara kita. Namun Pak Gani akan lebih baik jika bisa memberikan sharing lebih detail mengenai kendaraan yang di usulkan di bawah ini, bila perlu minta di atur khusus kepada ALI / SCI untuk menceritakan masalah kendaraan tersebut. Tentunya kelebihan dan kebaikannya atau supportnya dari princple manufacturingnya. Karena tanpa ada jaminan sparepart akan susah bagi kami pengguna kendaraan tersebut, lebih baik lagi jika ybs mau untuk investasi di negeri tercinta ini untuk mendirikan pabrikan nya.
Satu juga hal yang saya harapkan dimana kebaikan ataupun kemajuan jangan hanya untuk beberapa rekan dekat Pak Gani saja, alangkah baiknya juga di berikan kepada semua transporter, sehingga bisa di pakai semuanya atau siapapun yang merasa ide pak Gani baik untuk kita kita.
Pak Tata/ BBR memang hebat dan salut dengan kendaraan barunya , namun saya rasa banyak lainnya juga menggunakan kendaraan baru yang juga mengerti masalah keselamatan dan juga berjuang kepada customer untuk memberikkan pengertian mengenai biaya yang harus di keluarkan karena pemakaian kendaraan baru.
Saya setuju jika banyak manager di negara kita yang masih di tuntut dengan masalah kontrol harga / harga murah sehingga mereka menerima kendaraan yang jelek untuk mendapatkan harga yang murah tanpa memandang keselamatan kerja. Ada juga beberapa yang menerapkan masalah safety walaupun juga tetap menuntut harga yang sangat competitif. hal ini tentunya di sebabkan juga oleh produk mereka yang makin kompetitif sehingga harus benar benar kontrol biaya tinggi. Mudah mudahan dengan adanya sharing dari pak Gani dan juga teman transporter lainnya bisa menggugah para manager dari principle pemberi kerja untuk lebih memperhatikan masalah keselamatan kerja dan kelayakan kendaraan dan tentunya lebih mengerti dan menyetujui harga yang lebih sesuai dengan nilai investasi yang ada.
Jika saya perhatikan dari nilai kendaraan pada saat tahun 2005 saja berkisar 350 jutaan untuk tronton sedangkan saat ini sudah berkisar 650 jutaan. Kenaikan part, bbm dan juga UMR juga cukup memberikan kontribusi yang cukup tinggi. Sedangkan harga transport pengiriman transport dari tahun 2005 jika di lihat paling hanya meningkat tidak lebih dari 50%. Bahkan ada yang masih bertahan dengan harga yang sama. Bagaimana para transporter bisa membeli mobil baru dengan kondisi yang ada seperti ini. Saya rasa hanya pemain lama yang memiliki unit yang sudah lunas yang bisa support untuk unit yang baru, bahkan kadang mereka membeli untuk kelangsungan dari usaha yang ada.
Demikian saja sekilas info dan sharing, salam kenal bagi semuanya…….
Daniel
PT.Dinamika Makmur Sentosa
Dear Pak Agung Prasetyo dan temans,
Menyambung pertanyaan Pak Agung “ Jadi apakah biaya logistik akan naik jika kita sesuai aturan KIR ?”, kemarin saya jawab iya Pak dengan kendaraan yang sama ya Pak.
Jadi jika kita biasa menggunakan tronton 25-28Ton jika kita muat sesuai ketentuan 12-14 Ton maka biaya logistik kita akan meningkat.
Sebagai contoh muat 28 ton harga wing box xRp.310 = Rp. 8.680.000,- dengan menggunakan wing box yang sesuai kir mungkin bisa Rp. 7.000.000,- dikali 2 = Rp. 14.000.000,-
Tapi jika menggunakan trailer bisa sampai dengan 40Ton. Jadi untuk 40TxRp.310 = Rp. 12.400.000,-
Jadi sebenarnya dengan menggunakan mobil yang sesuai biaya logistik kita tidak naik. Karena piece ratenya sama cuman lebih berat dan banyak muatannya.
Karena trailer itu multi axled truck maka kirnya bisa jauh lebih besar.
Cuman kadangkala kita masih sering terbentur infrastruktur dalam implementasi di jawa.
Pantura sudah ok tapi gudang tujuan, gudang muat, jawa selatan masih sangat terkendala.
Semoga bisa lebih menjelaskan
Tq
Rgd,
Kyat
| From: Kyatmaja Lookman, Lookman Djaja Sent: Monday, 2 September 2013 13:59 Reply To: supplychai...@googlegroups.com Subject: [SCI] Biaya logistik akan naik jika kita sesuai aturan KIR |
Dear Pak RBS dan Temans,
Untuk waktu tempuh sendiri perbandingannya 1 hari
Jadi muatan tonase 2-3 hari, muatan overtonase 3-4 hari
Untuk perbedaan BBM cukup tapi tidak terlalu signifikan
e.g. 1lt : 2.5-3.5km untuk muatan tonase, menjadi 1lt : 1.5-2.5km untuk overtonase
akibat dari overtonase itu besar sekali dampak sosialnya jadi untuk stakeholder yang memang berada di luar aktivitas seperti masyarakat dan lingkungan. Untuk internal stakeholder seperti pengguna dan pnyedia jasa harusnya besar juga tapi RISK < COST ya akhirnya overtonase saja. sebenarnya tantangan untuk pemerintah ini gimana meningkatkan faktor COST sehingga COST > RISK. Jika COST nya sangat besar ditambah dengan resiko saya rasa tidak ada yang mau overtonase.
Driver tanpa kernet ini juga merupakan pedang bermata dua Pak. Disatu sisi faktor cost, disisi lain karena renegerasi driver akan terputus jika tidak menggunakan kernet. Dampaknya susah mencari Driver. Traditionally kan kernet itu sebenarnya future driver. Mungkin karena faktor cost untuk barang low risk dan short distant shipment is Ok, tetapi saya tidak merekomendasikan untuk long distance shipment karena resikonya terlalu besar. E.g. ban bocor kalo sopir ganti sendiri sangat beresiko ya. Truck ATM bayangkan jika sopir sendiri J bisa bisa uangnya dirampok Pak.
Memang harusnya ada effisiensi dengan menggunakan kendaraan yang lebih sesuai
Contoh:
Kiriman JKT-SBY 45 cbm
Dulu opsinya hanya 4 colt diesel, sekema cost: 3.5jt x 4 = 14Jt
Kemudian menjadi 2 fuso, sekema cost: 4.5jt x 2 = 9jt
Sekarang menjadi 1 built up: sekema cost: 7JT
Sebenarnya sudah ada effisiensi
Untuk barang berat 40 ton
Sesuai tonase butuh 3 tronton @13T, sekema cost: 7jt x 3 = 21jt
Sesuai tonase butuh 1 trailer @40T, sekema cost: 12.5jt
Sebenarnya juga ada effisiensi
Pertanyaanya: kenapa masih pake tronton?
Permasalahan baru: trailer tonse sampai 60-80Ton [Muat Besi di Cilegon] ß ini jelas overtonase, saya rasa kebiasaan overtonase itu permasalahan mental dan penegakan hukum
Saya menyebutnya Road Destruction Acceleration bayangkan tingkat kerusakannya
Semoga membantu
Rgd,
Kyat
From: supplychai...@googlegroups.com [mailto:supplychai...@googlegroups.com] On Behalf Of r.bud...@gmail.com
Dear Pak Rudi, Pak Gani, Temans,
Kalo gitu Pak Setijadi tolong berikan yang pertama ke kita J
Hehehe
Terus terang kita di Lookman Djaja tidak mau memuat diatas 14 Ton untuk kelas Tronton walaupun itu masih overload menurut JBI kalo JBB kita sudah sesuai.
Tahun ini kita menekankan untuk tronton wing box kita tidak muat diatas 13 Ton untuk customer2 yang baru bergabung walaupun yang lama kita masih ada sedikit toleransi
Jadi Kalo Pak Gani bilang kita suka Overload sorry ya Pak itu tidak benar.
Sedangkan untuk trailer juga kita muat maksimal sesuai ketentuan KIR sekitar 30-40Ton GCW
Itu kenapa harga kita sedikit mahal karena memang kita tidak mau muat diatas GVW/JBB kendaraan yang ada.
Kita tidak menggunakan JBI karena tiap daerah beda dan ada kecenderungan dipolitisir.
Kita memang agak idealis biar saja kalo ga ikut ketentuan yang kita ada ya kita tidak angkut.
Untuk FUSO kita maksimal loading 7 Ton dan CDD 4Ton
Untuk muat diatas itu kita tidak mau
Tq
Rgd,
Kyat
Dear Pak Hutkeri Malau dan Temans,
Mengapa jalannya tidak dibuat kuat? Ini sering menjadi pertanyan kita juga pak dikalangan praktisi transport. Kayanya penyelesaiannya hanya bisa diselesaikan dengan revisi UU Agraria. Jika tidak ya tidak ada yang mau menanamkan modalnya untuk investasi ini karena memang selalu terkendala pembebasan lahan. Contohnya JORR Ringroad yang betuknya ring sekarang seperti tapal kuda karena masalah ini kata Pak Tarigan. Memang ada perbedaan antara kualitas jalan tol dengan jalan gratis. Karena Investor akan memperhitungkan lama konsesi untuk pertimbangan kualitas jalan dan truck yang lewat sedangkan jalan Negara tidak. Pokok jadi sayangnya dengan harga mahal tapi kualitas yang dipertanyakan. Tahu sendirilah kenapa!!
Hanya setelah Tol trans jawa selesai mungkin solusi dari pertanyaan ini bisa terjawab. Tapi kapan? Tanyalah pada rumput yang bergoyang. Ya Pak Tarigan? :)
Sebagai bahan pemikiran:
Sebenarnya jika kita menggunakan standar gandar satu buahnya 10 Ton yang diperbolehkan oleh kemen PU dan dishub, hal ini mungkin ok ok saja untuk jalan yang seluruh permukaannya ditopang oleh tanah dibawahnya. Pertanyaan saya bagaimana ya dengan jembatan? Jika kita menggunakan trailer 100 Ton x sepanjang jembatan apa jembatannya tidak ambruk. Dibandingkan dengan colt diesel kecil2 sepanjang jembatan.
Kadang jika kita sebagai warga Jakarta menikmati macet senja di atas jalan tol dalam kota. Ada trailer liwat yang kelihatan berat maka kita akan berjoget2 karena gempa bumi lokal. Saya kuatir ambruk saja. nah untuk jalan tanpa penompang tanah seperti tol dalam kota, jembatan, kendaraan legal by law tapi terlalu berat ini bagaimana?????!!!!! Karena berat sendirinya dan barang bisa mencapai 100Ton. Ini tentunya bukan harus ditangani oleh by law saja loh, kualitas jalan juga !!! jadi untuk permasahalan ini setuju dengan Pak Mutkeri
Sebenarnya pihak trucking tidak diharapkan Pak. Hengkang saja dari perusahaan itu. Terus terang saya banyak penawaran dari perusahaan2 semacam itu tapi saya tidak mau muat overtonase. Yang jelas tipikalnya adalah cairan, bahan pertanian, besi dan sodara2nya, barang2 komoditas. Barang2 ini menyangkut hajat hidup orang banyak loh dan saya yakin jika naik drastis tidak lama cikarang akan tutup lagi jalan TOL nya karena demo UMR. Wah hal ini semakin membuat ketidakpastian untuk investasi akhirnya.
Solusinya ya untuk barang berat ini trailer tidak ada yang lain. Tapi karena pertimbangan infrastruktur mungkin masih susah (sorri Om Gani saya yakin beliau pasti marah). Trailerpun kalo overtonase gimana??? Seperti yang saya paparkan sebelumnya harusnya 40-50T eh masih kurang bisa 60-80T.
Terima kasih
Om Sugi...
Poin no 2 dan 3 kayaknya masih jauh di angan2 ya...
Tender 1 jt truck dan pembebasan 100% bea masuk, pemberian bunga 0% dan pembebasan angsuran di tahun pertama ? Siapa yang mau kasih boss? Kalo akan ada... Kapan akan terjadi?
Kalo mau kejar angan2 tersebut, sekarang saja biaya transport sudah tinggi yang ada adalah tuntutan perusahaan untuk menekan biaya saat ini juga dan tidak berangan2 akan turun dikemudian hari yang gak jelas kapan pemerintah akan support.
Lets do what we can do and jangan hanya berangan2.
Ayo kita kemon lha.... Untuk menurunkan biaya logistik bukan hanya dari transport saja, coba kita lihat dari beberapa aspek yang lain misalkan apakah distribution design kita sudah optimum? Apakah penentuan lokasi DC sudah tepat?
Apakah penentuan safety stock sudah benar?
Kalo kita mau focus di biaya transportasi... Apakah kita pernah menganalisa atau berfikir merubah susunan box di atas pallet dengan menyesuaikan dengan ukuran dan desain truck? Kalo mau di curah berapa faktor damage nya
Lets see from various angel and improve immediately.
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Jasa Logistik Indonesia" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to jasa-logisti...@googlegroups.com.
To post to this group, send email to jasa-l...@googlegroups.com.
Visit this group at http://groups.google.com/group/jasa-logistik.
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.