O2O services
We serve
the Earth – Belajar dari Negeri China
IAPI mendapat undangan mengikuti Global
Supply Chain Forum di China tanggal 20-20 Juli 2006 yang lalu, forum yang
membuka mata kita betapa pengelolaan Supply
Chain Management sudah menjadi sesuatu yang wajib dilakukan untuk memenangkan
persaingan bisnis dan menguasai dunia. China dengan big visionnya “To serve the Earth” telah melakukan berbagai inovasi
yang membuat barang yang dibuat di China (Manufactured
in China) bisa sampai di pelosok mana saja di muka bumi ini dengan harga
yang tidak akan bisa dikalahkan oleh produk lokal sekalipun jika negara
tersebut tidak melakukan proteksi terhadap produk dalam negerinya.
Merk boleh Mercy,BMW, Audi,Apple,Blackberry, dll apa saja tetapi manufactured in China, Our factory is world class
factory, dimana tidak ada satu pabrik sejenis didunia yang dapat
mengalahkan efisiensinya. Pabrik di
China sudah bertransformasi dari pabrik untuk produk dengan kualitas rendah dan murah menjadi
pabrik yang dapat memproduksi produk dengan kualitas yang diinginkan
pemesan.Jangan heran jika kita naik Mercy,Volvo,VW itu semua dibuat di China.
Untuk Consumer product China
memperkenalkan layanan O2O (Online to
offline) services, mereka membuat jaringan pemasaran dari barang keluar
pintu pabrik hingga terima didepan depan pintu konsumen dengan hanya mengklik
order di HP konsumen. China mempersiapkan lebih dari 5(lima) juta toko yang
dapat menghubungkan UKM/UKM,aggregator atau pabrik2 mereka keseluruh dunia.
Bagaimana bisa?
Salah satu kunci sukses China melakukan ini adalah betapa besarnya
peran asosiasi, China Federation of Logistics & Purchasing (CFLP) , adalah federasi
yang beranggotakan ratusan ribu profesional yang bekerja di bidang Procurement,
Logistik atau Supply Chain Management ,lebih dari ribuan perusahaan dan
asoasiasi –asosiasi SCM sejenis diberbagai kota Industri China.
Acara Global SCM forum dilaksanakan dikota Shenzen dan diselenggarakan
oleh Shenzhen Logistics and Supply Chain Management Association ,anggota China
Federation of Logistics & Purchasing (CFLP) , seperti DPD IAPI dibeberapa
kota provinsi. Asosiasi SCM Shenzen
terletak di kota shenzen, beranggotakan ribuan professional dan lebih dari 7000
perusahaan ,memiliki gedung sendiri berlantai 6(enam) lengkap dengan segala
fasilitasi training,R&D, akomodasi dll.
Kegiatan utama asosiasi adalah
melakukan:
1.Peningkatan kompetensi anggota (personal dan perusahaan) dengan kegiatan
training dan sertifikasi
2. Melakukan promosi dengan menyelenggarakan seminar dan ekspo rutin
diseluruh china
3.Melakukan R&D dalam menemukan cara atau metoda efisiensi baru
dalam procuremen,Logistik/SCM 4.Menjadi jembatan/bridge antara industri dan pemerintah.
Asosiasi SCM telah mendrive
arah dan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan vision O2O services to serve the earth
dengan cara paling efisien.
Pemerintah China mengeluarkan berbagai aturan sesuai saran dan kebutuhn
industri, mereka mendirikan banyak sekali industrial-industrial estate yang
semua resources untuk produksi ada
disatu lokasi .Konsep konsolidasi dan shared services sebagai salah satu metoda melakukan efisiensi dalam SCM dilakukan
dengan baik sekali, mereka menyebut pemerintah mereka Government Enterprises . China
membangun kota-kota industrinya diawali dengan pembinaan terhadap Usaha Kecil dan Menegah (UKM) dan bisnis
swasta daerah yang disebut sebagai Township
and Village Enterprises (TVEs) .
Pusat-pusat industri seperti Shenzen,Guangzhou,Shanghai, dll tumbuh menjadi
kota industri berskala dunia.Pemerinth China melakukan pemberdayaan industri mereka
secara serius dan all out. Pemerintahnya
memberikan subsidi yang diharamkan atau ditentang oleh negara-negara G7 seperti
AS,German dan negara2 besar lainnya.
Program subsidi atau bantuan pemerintah china terhadap produsen di
negaranya antara lain:
1.
Pengurangan pajak penghasilan
2.
Pengecualian pengenaan pajak pertambahan nilai
(PPN)
3.
Pengecualian pengenaan tarif
4.
Pemberian kredit murah
5.
Restitusi atas pajak penghasilan kepada
perusahaan pembeli peralatan dan aksesosi dalam negeri
6.
Restitusi PPN kepada perusahaan pembeli
peralatan dan aksesosi dari dalam negeri
China dengan lobi internationalnya sangat aktif mempromosikan free trade zone area/ community,
marketing strategi yang supercanggih yang ujung-ujungnya adalah sarana membuka
masuknya produk China dengan tanpa perlawanan. Ketika sebuah produk china
dengan kualitas sama atau bahkan lebih
baik bisa dijual dengan harga hanya 40-50% didepan pintu gerbang pabrik lokal,
siapa yang bisa melawannya??Dua fenomena yang kontradiktif, kita senang
mendapatkan barang dengan kualitas sama atau lebih bagus dari produk lokal sambil
melihat saudara kita menjadi pengangguran karena pabrik tempatnya bekerja ditutup
kalah melawan produk China.
Pada pembukaan acara Global forum, Chairman Asosiasi SCM Shenzen yang
juga CEO perusahan SCM /perusahaan distribusi china yang tahun 2015 beromzet
300 Triliun Rupiah) mengatakan , Kunci sukses kami : kami punya Mimpi (Dream),kami wujudkan mimpi kami dengan
kerja keras (Down to earth) dan Kami
melakukan sesuatu dengan benar dari suatu yang benar (DO things Right from The Right Things). Ketiga statement diatas
telah membuat mereka secara perusahaan sangat kuat,secara kota/kawasan dengan
konsep SCM collaborationnya menjadi kota/kawasan
industri yang sangat efisien dan kompetitif dan secara negara mereka menjadi
super power.
Mereka melakukan berbagai SCM
innovation dan mempraktekannya
.Mereka mempraktekan teori Consolidation,
Shared services, Integration, UKM empowerment, Collaboration, Government
enterprise bahkan pemerintahnya memberikan subsidi dan proteksi
terhadap kepentingan dan ekspansi bisnis.
Semua dilakukan dalam mewujukan visinya To serve the earth dengan the most efficient way,
Strategi memenangkan perang dizaman modern.
Pelajaran dan Warning
dari Negeri China
Jelas pelajaran bagaimana berusaha dizaman modern, melakukan efisiensi
luar biasa di mata rantai pengadaan barang/jasa,bagaimana mengimplementasikan Strategic Procurement menjadi pelajaran
mahal bagi para ahli pengadaan,logsitik dan SCM Negeri ini. Kita masih berteori
dan berdiskusi bagaimana mengimplementasikan konsep konsolidasi (menggabungkan
ribuan paket pengadaan yang dipecah-pecah dengan berbagai alasan dan motivasi)
, mereka sudah menggabungkan kebutuhan persektor industri bahkan seluruh negeri
dengan melakukan impor,berproduksi disuau zona/fasilitas dan ekspor bersama. Ketika mereka sudah
menerapkan praktek shared dan collaboration services , kita
saling berlomba membeli .mengusahakan gudang,kapal,alat komunikasi,transportasi
dll sendiri atau tidak mau bergabung bersama (dengan segala alasan dan
motivasi).
Kita bangga menjadi salah satu pencetus ASEAN sebagai free trade area (AFTA), tetapi mereka
menjadikan itu suatu consolidated demand,
agregasi pasar yang luar biasa. Jika produksi tadinya hanya ditujukan ke masing-masing
negara Malaysia,Singapore,Thailand dll, kini tujuannya adalah ke pasar ASEAN,
pasar dengan jumlah penduduk lebih dari setengah negeri china (plus 650 juta orang),
selain juga pasar dibelahan bumi lainnya.
Kata-kata belajar hingga ke negeri China, untuk bidang Suply
Chain Management benar adanya, tidak bisa dipungkiri . Dengan konsep
O2O (online to offline) servicenya
china sudah mempersiapkan 5(lima) juta koneksi kesemua outlet atau distributor diseluruh dunia. Kampanya Free trade area sebagai senjata penjebol
benteng-benteng “barer to entry” setiap negara sangat sukses dipromosikan.Dunia
terutama negara-negara berkembang dikondisikan menjadi “merasa bersalah” jika tetap
memasang “Barrier to entry” terhadap
serbuan produk asing.
Malah dengan bangga banyak negara-negara berkembang mendeclare negaranya adalah negara
pendukung free trade area, kami adalah
negara demokrasi yang membuka dan memberi kesempatan kepada seluruh dunia,
padahal dinegara produsen itu sendri mereka menerapkan praktek subsidi,proteksi
atau “Barier
to Entry” yang luar biasa ketatnya.????
Indonesia sebagai negara besar dengan penduduk dan tatanan geografis
yang luar biasa luas,negeri dengan potensi dapat menjadikannya suatu negera
yang kuat,mandiri dan makmur telah terperangkap menjadi salah satu negeri
dengan tingkat penerimaan produk impor paling tinggi di ASEAN. Hal sangat logis
dengan penduduk lebih dari 250 juta indinesia akan menjadi pasar sangat menggiurkan.
Konsep tol laut atau dari berbagai sumber adalah implementasi dari Silk roadnya china, akan menjadikan
jalur distribusi barang yang sangat efisien keseluruh pelosok Indonesia. Dengan
disain free trade zone area -ASEAN,
semua produk itu akan masuk langsung kepelosok desa dengan harga hanya setengah
bahkan bisa lebih murah dari produk UKM manapun. Konsep Innovation in Supply Chain
Magament menjadikan kita bangga mengetahuinya bahkan perlu belajar
hingga kenegeri China, tetapi disisi lain dinegeri ini telah menjadikan ribuan petani-petani kita menjual sawah atau
meninggalkan kampungnya merantau kekota besar menjadi kuli atau tukang ojek.
Hal ini menjadi Konsekuensi dan tantangan kita
semua bagaimana agar tetap ikut dengan arus dan pola operasi modernisasi global
atau inovasi SCM ini,tetapi tetap dapat
menjadikan petani kita petani yang sejahtera.
Petani yang mereka bangga menjadi petani
dan dapat berpenghasilan minimal atau lebih
besar dari UMR (Upah Minimum Rata-Rata) didaerah mereka, mengalahkan
penghasilan menjadi kuli atau tukang
ojek dikota-besar yang terpaksa dilakukan walau bukan kompetensi mereka…(KR-IAPI-Aug2016).