LPI 2012

27 views
Skip to first unread message

Sekretariat SCI

unread,
Jul 9, 2012, 10:55:55 PM7/9/12
to supplychainindonesia
Rekan-rekan SCI,

Terlampir saya sampaikan file Logistics Performance Index (LPI) 2012. Berdasarkan laporan tsb., ranking LPI Indonesia naik menjadi posisi 59 dari posisi 75 (LPI 2010).

Pengukuran LPI 2012 mencakup enam dimensi sbb.: Customs, Infrastructure, International Shipments, Logistics Quality and Competence, Tracking and Tracing, dan Timeliness.

Kita tentu sangat berharap peningkatan LPI Indonesia bisa dirasakan di lapangan dan berdampak ke biaya logistik yang semakin murah.

Salam,
Setijadi
Chairman
SUPPLY CHAIN INDONESIA
Education | Training | Research | Development

www.SupplyChainIndonesia.com

Office:
Jl. Negla No.19 Setiabudi
Bandung 40154

Phone : 022 7000 1090
Mobile : 0821 1515 9595
E-mail : sekre...@SupplyChainIndonesia.com

Logistics Performance Index 2012.pdf

rudys...@gmail.com

unread,
Jul 9, 2012, 11:58:57 PM7/9/12
to supplychai...@googlegroups.com
Angka tsb harus dinalarkan dengan substansi evident yg riel sehingga angka tersebut dapat diterima.

Rgds
Rudy Sangian
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Sekretariat SCI <sekre...@supplychainindonesia.com>
Date: Tue, 10 Jul 2012 09:55:55 +0700
To: supplychainindonesia<supplychai...@googlegroups.com>
Subject: [SCI] LPI 2012
--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Supply Chain Indonesia" group.
To post to this group, send email to supplychai...@googlegroups.com.
To unsubscribe from this group, send email to supplychainindon...@googlegroups.com.
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/supplychainindonesia?hl=en.

mrdiamon...@gmail.com

unread,
Jul 10, 2012, 12:50:44 AM7/10/12
to supplychai...@googlegroups.com
Berita bagus hasil survey yg dilakukan bank dunia, indonesia masuk ranking ke 59
Tapi harus kita lihat hasil survey melibatkan FIATA dan GEA yg kenyataannya perusahaan logistic milik asing yg membuka cabang/agent di indonesia jadi tidak bisa dibaca keseluruhan logistik indonesia sudah baik

Ranking LPI hanya mensurvey kegiatan logistic untuk perdagangan international (export import) bukan termasuk domestik

Salam
Berlian

Sent from my BlackBerry®
powered by PULSA yang BANYAK

From: Sekretariat SCI <sekre...@supplychainindonesia.com>
Date: Tue, 10 Jul 2012 09:55:55 +0700
To: supplychainindonesia<supplychai...@googlegroups.com>
Subject: [SCI] LPI 2012

Setijadi Adjhari

unread,
Jul 10, 2012, 9:19:25 PM7/10/12
to supplychai...@googlegroups.com
Rekan-rekan,

Mengenai LPI 2012, Bu Ina Primiana pernah memberikan ulasan yang dimuat di Harian Pikiran Rakyat, 16 Juni 2012. Di bawah ini saya kutipkan ulasan tersebut yang juga pernah diposting di milis SCI.

Salam,
Setijadi


SUPPLY CHAIN INDONESIA
Education | Training | Research | Development

www.SupplyChainIndonesia.com


Logistik: Kinerja Membaik, Tarif Tetap Tinggi

Bandung, (PR)

Membaiknya peringkat indeks kemampuan logistic (logistic performance index/LPI) Indonesia pada 2012, dari 75 pada 2010 menjadi 59, tidak serta merta membuat biaya logistik menjadi lebih murah. Pasalnya, perbaikan peringkat LPI yang dikeluarkan Bank Dunia pekan lalu, lebih didorong oleh peningkatan kinerja jasa swasta.

“Fakta di lapangan, berbagai biaya logistik di Indonesia relatif tidak ada penurunan. Karena membaiknya peringkat tidak didorong oleh faktor-faktor yang bisa mengurangi biaya,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi (FE) UNPAD, Ina Primiana, di Bandung, Jumat (15/6).

Dijelaskannya, LPI diukur berdasarkan enam indikator. Pertama, efisiensi proses clearance (penanganan kepabean). Kedua, kondisi infrastruktur perdagangan dan transportasi. Ketiga, kemudahan mencari kapal untuk pengangkutan barang. Keempat, kompetensi dan kualitas jasa logistik. Kelima, kemudahan proses pelacakan dan penelusuran barang. Keenam, ketepatan waktu.

Indikator yang mendorong kenaikan LPI Indonesia 2012, adalah kualitas jasa logistik dan proses pelacakan, yang merupakan domainnya swasta. Sementara untuk indikator infrastruktur dan efisiensi proses (indikator kesatu dan kedua) yang merupakan domainnya pemerintah, malah mengalami penurunan kinerja.

Padahal, yang bisa membuat biaya logistik menjadi lebih murah, justru sektor-sektor yang merupakan domainnya pemerintah. Seperti perbaikan infrastruktur jalan, pembuatan pelabuhan baru, menurunkan biaya-biaya nonreguler (suap) dan sebagainya.

“Oleh karena itu, membaiknya peringkat LPI 2012, tidak membuat biaya logistik di Indonesia menjadi lebih murah. Karena indikator perbaikan ada pada sektor swasta, yang kurang signifikansinya terhadap pengurangan biaya,“ katanya.

Menyinggung perbandingan dengan Negara tetangga, Ina mengatakan, biaya logistik di Indonesia paling tingi disbanding Negara Asean lainnya. Di Indonesia biaya logistic mencapai 24% dibandingkan total PDB (produk domestic bruto) atau sama dengan Rp 1.820 triliun, terdiri dari biaya penyimpanan Rp 546 triliun, transportasi Rp 1.092 triliun, dan administrasi Rp 182 triliun.

“Sebagai pembanding biaya logistik Malaysia 15% dari PDB-nya, Amerika Serikat 15%, dan Jepang 10%,” katanya.

Ina mencontohkan, untuk biaya penanganan container 20 kaki di Tanjung Priok, tarifnya 95 dolar AS. Sementara di Malaysia hanya 88 dolar AS, dan Thailand 63 dolar AS. Lebih repotnya, jika di Negara Asean lain, biaya penanganan container bisa dibayar dengan mata uang setempat, di Indonesia harus dengan dolar AS.

Ironisnya, untuk biaya angkut antarkota dan antarpulau di Indonesia, juga jauh lebih tinggi disbanding dengan biaya dari singapura berbagai tujuan di dalam negeri Indonesia. Sebagai contoh, pengapalan container dari Padang (Sumatera Barat) ke Jakarta, biayanya 600 dolar AS. Sementara biaya pengiriman untuk barang serupa dari Singapura ke Jakarta hanya 185 dolar AS.

“Salah satu penyebab tingginya biaya angkut antarpulau ini, karena kurang tepatnya strategi pengambangan infrastruktur nasional. Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, tapi sebagian besar infrastruktur transportasinya berada di darat. Ditambah, dengan rancangannya yang tidak mendukung keterkaitan antar pulau,” katanya.

Di sisi lain, mutu jasa pelayanan logistic Indonesia juga jauh tertinggal dibanding Negara lain. Misalnya dalam hal waktu jeda di pelabuhan (sebelum dikapalkan), di Indonesia bisa sampai 5.5 hari. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki jeda waktu 1.2 hari, pelabuhan Rotterdam Belanda 1.1 hari dan Singapura kurang dari 1 hari. (A-135)***

Sumber: Edisi Cetak Pikiran Rakyat, Sabtu, 16 Juni 2012.





--

had...@gmail.com

unread,
Jul 10, 2012, 9:30:33 PM7/10/12
to supplychai...@googlegroups.com
Dear Pak setijadi,

Artinya, perbaikan peringkat ini tidak langsung pd impact langsung di sisi operational perusahaan.

Kira2, mulai diperingkat berapa, kita bisa merasakan peningkatan effesiensi cost yg signifikan?

Salam,
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Setijadi Adjhari <seti...@supplychainindonesia.com>
Date: Wed, 11 Jul 2012 08:19:25 +0700
Subject: Re: [SCI] LPI 2012

Setijadi Adjhari

unread,
Jul 11, 2012, 10:40:04 PM7/11/12
to supplychai...@googlegroups.com
Pak Nur Hadi dan rekan2,

Pengukuran LPI 2012 mencakup enam komponen inti sbb.: Customs, Infrastructure, International Shipments, Logistics Quality and Competence, Tracking and Tracing, dan Timeliness. Pengukuran dilakukan berdasarkan persepsi melalui survei kepada para pelaku logistik.

Untuk masing-masing komponen, nilai (score) adalah minimum (terburuk) = 1 dan maksimum (terbaik) = 5.

Score masing-masing komponen untuk Indonesia tahun 2012 adalah sbb:
- Customs = 2.53,
- Infrastructure = 2.54,
- International Shipments = 2.97,
- Logistics Quality and Competence = 2.85,
- Tracking and Tracing = 3.12,
- Timeliness = 3.61
Berdasarkan ke-6 komponen tsb, LPI score Indonesia tahun 2012 = 2.94 dan berada pada peringkat 59 dari 155 negara yang disurvei.

LPI  berupaya melalukan pengukuran kinerja logistik dengan berbagai dimensi di negara-negara yang disurvei. Dalam laporan LPI disebutkan bahwa hasil pengukuran waktu dan biaya dalam proses-proses logistik tidak dapat secara mudah diagregasikan ke dalam suatu dataset yang tunggal, konsisten dan lintas negara karena perbedaan struktur dalam rantai pasok negara-negara tsb. Dengan demikian, efisiensi biaya (cost) tidak dapat ditentukan secara mutlak dari LPI score.

Mungkin ada rekan-rekan yang berkenan menanggapi atau melengkapi.


Salam,
Setijadi

SUPPLY CHAIN INDONESIA
Education | Training | Research | Development

www.SupplyChainIndonesia.com



2012/7/11 <had...@gmail.com>



--

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages