Gambaran Umum Logistik Perkeretaapian dan kaitannya dengan Logistik Kepelabuhanan

186 views
Skip to first unread message

Rudy Sangian

unread,
Jan 26, 2014, 12:07:19 PM1/26/14
to supplychai...@googlegroups.com
Dear all,

Ilustrasi di bawah ini adalah gambaran umum Logistik Perkeretaapian dan kaitannya dengan Logistik Kepelabuhanan.


Inline image 2

Sebagaimana telah saya sebutkan di email sebelumnya bahwasannya Logistik Perekeretaapian ini memiliki keterbatasan tapi jika ditata dengan baik maka dapat memberikan kontribusi penurunan biaya logistik.

Butir E di atas yakni: perusahaan truk tetap bekerja seperti biasa bahkan trip-nya untuk jarak-jarak pendek karena Jakarta Gudang sampai dengan Surabaya Turi dan begitu sebaliknya telah dilakukan dengan Kereta Api sebagai carrier alternative.

Penelitian ini saya lakukan sendiri dengan menghasilkan questionnaire sebagai berikut:
  1. Apa yang harus dibenahi pada Manajemen Logistik Perekeretaapian dalam hal menerima dan melakukan kegiatan bongkar muat; mulai dari stasiun awal, stasiun antara dan stasiun akhir ?
  2. Apa yang harus dibenahi pada Manajemen Ekspedisi Pengiriman Barang yang menggunakan Kereta Api ?
  3. Dengan adanya Logistik Perkeretaapian maka bagaimana peran masing-masing Operator Pelabuhan Setempat untuk membenahi pola koordinasinya sehingga BOR, BSH/ TGH dan YOR menjadi efisien dan efektif pada layanan kapal, pada kegiatan layanan bongkar muat, penempatan container di yard sehingga Dwelling Time dan YOR dapat diturunkan ?
  4. Perangkat peraturan seperti apa yang perlu ditambahkan atau diterbitkan oleh Pemerintah untuk mengatur keterhubungan antara Logistik Kepelabuhanan dan Logistik Perkeretaapian ?

Demikian perkembangan terakhir dari saya mengenai Logistik Kepelabuhanan dan Logistik Perekeretaapian.


--
Regards
Rudy Sangian
logistik perkeretaapian.jpg

Reza Meifia Fitra

unread,
Jan 26, 2014, 6:07:12 PM1/26/14
to supplychai...@googlegroups.com

Ulasan yang sangat menarik tentang logistik perkeretaapian dan logistik pelabuhan... saya dulu juga pernah membandingkan biaya operasional antara trucking vs kontainer kereta api. Dengan asumsi pengiriman Surabaya-Jakarta, hasilnya:
1. Dalam kondisi normal.Estimasi waktu pengiriman sama, 2 hari.
2. Aktivitas operasional lebih simpel dg truk
3. Utk cost pengiriman dg kontainer 20" kereta api, lebih mahal dibandingkan truck, tapi untuk 40" lebih murah dibandingkan truk.

Kesimpulan saya, terlepas dg aktivitas operasional yg lebih rumit, logistik perkereta apian saat ini bisa lebih murah dibandingkan truk jika menggunakan kontainer 40" karena biaya variabel lebih kecill

--
Mitra SCI:
PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) adalah perusahaan ICT solution provider yang berpengalaman selama 25 tahun melayani lebih dari 1.900 pelanggan korporatnya dengan jasa Data Komunikasi, Internet dan Value Added Service (VAS)
---
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Supply Chain Indonesia" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to supplychainindon...@googlegroups.com.
To post to this group, send email to supplychai...@googlegroups.com.
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.
logistik perkeretaapian.jpg

Kyatmaja Lookman

unread,
Jan 26, 2014, 6:50:41 PM1/26/14
to Supply Chain Indonesia, indo_log...@yahoogroups.com
Dear All, Dear Pak Rudi,

Logistik perkretaapian ini di Indonesia masih belum bisa berkembang pesat karena ada beberapa hal yang krusial. flow barang di perekretaapian adalah sbb: dari gudang konsumen - menuju ke stasiun menggunakan truck - stasiun ditumpuk ke container yard (C-Y) - dimuat ke kereta api - perjalanan kereta api - sampai di stasiun tujuan ditumpuk ke container yard (C-Y) - kemudian dipindahkan truck - setelah itu dikirim ke gudang tujuan. sedangkan dengan menggunakan truck prosesnya jauh lebih simpel.

penggunaaan jasa kereta api ini tidak boleh melupakan 2 unsur penting (mungkin bisa ditambahkan) pertama adalah lead time (servis) dan yang kedua adalah harga, jika lead time amatlah panjang dan harga mahal maka tidak akan switch dari truck. kenyataan: harga kurang lebih sama dengan truck dan lead time jauh lebih lama (survey yang saya lakukan kepada beberapa konsumen konsumen kami). kenapa bisa demikian sedangkan klaim dari kereta api sendiri lead time itu jauh lebih cepat. seperti yang saya jelaskan sebelumnya lead time itu cepat jika train journey itu hanya station to station. sedangkan untuk pick up dan dooringnya tetap memerlukan truck!

pick up dan dooring yang sedemikian lama akan berpengaruh ke performance lead time kereta api itu sendiri. pertama lead time perception ini harus disama kan dulu. kita sebagai pengguna jasa perhitungan lead time itu didasarkan dari barang keluar gudang sampai diterima gudang (door to door). jika persepsi ini tidak bisa disamakan saya rasa akan susah. kedua adalah harga. permasalahan berikut dengan kereta api berhentinya di stasiun dan stasiun itu letaknya sudah ditentukan dan tidak bisa dipindah. sedangkan truck bisa jalan sendiri menuju gudang konsumen. lack of fleksibility ini membuat kereta api jadi mahal. jika pengiriman dilakukan jauh dari stasiun. 

sebagai contoh gudang di mojokerto dibawa ke stasiun benteng di surabaya dulu kemudian sampai di stasiun legoa di jakarta baru dibawa ke karawang. hal ini tentunya sangat tidak efektif karena trucking untuk pick up - dooring jadi mahal karena jarak tadi. padahal kalau perjalanan truck mojokerto ke krawang secara kilometer lebih dekat. jika dua permasalahan ini bisa diselesaikan harga yang lebih ekonomis dan lead time/service yang lebih bagus. saya jamin yang ada di truck sekarang semua akan berbondong2 sendiri pindah ke kereta api.

adapun kelemahan lain dari kereta api ini tidak cocok untuk multiple pick up / drop dan pengiriman ke distributor. jika pengiriman antar DC kereta api sangatlah cocok sekali, tetapi kenapa ya masih banyak yang belum mau pindah kecuali terpaksa saja. ya karena alasan2 diatas. kereta masih digunakan untuk emergency saja pada saat ini ketika truck masih belum bisa menservice karena alasan lonjakan demand dan banjir (menyebabkan short supply karena truck tertahan di jalan). kebalik kan? harusnya truck yang sebagai cadangannya kereta.

seperti yang selalu saya tekankan pertumbuhan sepetak2 ini akhirnya membuat perkembangan kereta api menjadi susah. kenapa demikian? karena kita lihat daerah2 industri di jawa barat-DKI-Banten. apakah ada yang diintegrasikan dengan sistim kereta api??!!???!!! eits saya lupa ada 1 jababeka dengan CDP(Cikarang Dry Port) nya. sedangkan yang lain tidak ada termasuk juga yang di jawa timur. pengembangan daerah industri kita selalu diintegrasikan dengan jalan TOL. karena orientasi kita masih menggunakan trucking bukan kereta api!!! salah satu solusi adalah membuat stasiun kereta api mendekatkan diri ke sentra2 industri ini untuk menghindari costly pick up/dooring. tetapi apakah sudah bisa benang kusutnya sudah terlalu semrawut.

pemindahan rel kereta itu akan sangat ribet sekali. pemindahan daerah industri juga. pembangunan massive industrial complex beserta infrastruktur yang mendukung seperti kereta api setidaknya merupakan solusi yang sangat diperlukan. bisakah dilakukan dengan dana swasta yang pas2 an??? di banyak negara maju seperti massive industrial complex dengan segala fasilitas untuk mempermudah perpindahan barang di propinsi2 besar itu merupakan sebuah keharusan. kita negara bahari, massive industrial complex di sebelah laut itu juga merupakan sebuah keharusan untuk mempermudah perpindahan barang antar pulau. dengan mendekatnya fasilitas ke industrial complex maka pengiriman barang itu tidak akan sampai menggangu fasilitas umum dan fasilitias sosial.

semoga membantu

Rgd,
Kyat



Date: Mon, 27 Jan 2014 00:07:19 +0700
Subject: [SCI] Gambaran Umum Logistik Perkeretaapian dan kaitannya dengan Logistik Kepelabuhanan
From: rudys...@gmail.com
To: supplychai...@googlegroups.com

Pre Agusta

unread,
Jan 26, 2014, 7:08:20 PM1/26/14
to supplychainindonesia

Terima Kasih Pak Rudy , Informasinya sangat menarik.

Memang angkutan barang lewat KA perlu dioptimalkan sebagai alteratif moda di trans jawa, demikian juga mungkin perlu dipertmbangkan/dikembangkan angkutan laut barang jkt-sby atau jkt-smg sebagai alternatif moda yg lain.

Salam
Pre Agusta
Praktisi SC


  From: Rudy Sangian [rudys...@gmail.com]
  Sent: 01/27/2014 12:07 AM ZE7
  To: "supplychai...@googlegroups.com" <supplychai...@googlegroups.com>
  Subject: [SCI] Gambaran Umum Logistik Perkeretaapian dan kaitannya dengan Logistik Kepelabuhanan


logistik perkeretaapian.jpg

R. Budi Setiawan

unread,
Jan 26, 2014, 7:35:11 PM1/26/14
to supplychai...@googlegroups.com, supplychainindonesia
Dear P Rudy, P Reza, P Kyat, P Agus & All

Konsep Logitik KA & Pelabuhan yang disampaikan oleh P Rudy sudah sangat baik dan saya sangat setuju karena untuk "Alternatif Moda Transportasi Logistik" yang lain

Tinggal sekarang adalah "Implementasinya"

Apa yang disampaikan P Kyat adalah contoh implementasinya, dan hal yang paling penting menurut saya dalam implementasi untuk lebih efisien adalah :

1. Jalur KA "harus" melalui atau dekat dengan Kawasan Industri atau Sentra Industri atau Area Industri
2. Setiap Kawasan Industri ada port untuk bongkar muat kontainer kebutuhannya seluas dry port di Cikarang dan Gede Bage
3. Infrastruktur bongkar muat di port Kereta Api
4. Infrastruktur "jalan" dari antara Kawasan Industri/Sentra Industri/Area Industri --> port KA
5. Infrastruktur "rel" KA untuk ke Pelabuhan dan ke Kawasan Industri/Sentra Industri/Area Industri 
6. Traffic KA Penumpang & KA Barang harus di analisa untuk menentukan apakah rel untuk KA Barang dan KA Penumpang masih bisa 1 rel atau perlu rel ganda yang sekarang masih proses persiapan untuk jalur Jakarta - Surabaya.....kapan selesainya...??? Kita tunggu Presiden dan Menteri yang baru di 2014

Untuk membenahi logistik ini kita harus memiliki 2 tim yaitu
1. Tim Konseptor seperti P Rudy
2. Tim Implementasi seperti P Kyat ditambah Pejabat atau Pemimpin yang "Dapat Mengambil Keputusan dan Eksekusi Konsep"

Tanpa ke 2 tim tersebut yang ada adalah "Wacana"

Tapi saya sangat salut dengan perjuangan P Rudy tanpa kenal menyerah dan putus asa untuk menjadikan logistik pelabuhan bangsa Indonesia yang lebih baik "Tanpa Korupsi" 
Terus berjuang pak.....

Salam SAVE INDONESIA NOW
RBS

"SAVE" Indonesia

On 27 Jan 2014, at 07.08, Pre Agusta <pre.a...@enseval.com> wrote:

Terima Kasih Pak Rudy , Informasinya sangat menarik.

Memang angkutan barang lewat KA perlu dioptimalkan sebagai alteratif moda di trans jawa, demikian juga mungkin perlu dipertmbangkan/dikembangkan angkutan laut barang jkt-sby atau jkt-smg sebagai alternatif moda yg lain.

Salam
Pre Agusta
Praktisi SC


  From: Rudy Sangian [rudys...@gmail.com]
  Sent: 01/27/2014 12:07 AM ZE7
  To: "supplychai...@googlegroups.com" <supplychai...@googlegroups.com>
  Subject: [SCI] Gambaran Umum Logistik Perkeretaapian dan kaitannya dengan Logistik Kepelabuhanan


Dear all,

Ilustrasi di bawah ini adalah gambaran umum Logistik Perkeretaapian dan kaitannya dengan Logistik Kepelabuhanan.


<logistik perkeretaapian.jpg>

Rudy Sangian

unread,
Jan 26, 2014, 10:35:18 PM1/26/14
to supplychai...@googlegroups.com
Dear all,

Begini rekan-rekan sekalian. Saya sedang mengumpulkan beberapa data tarif, data gudang cargo (non-container) di beberapa stasiun.
Saya pernah tongkrongin beberapa gudang-gudang tersebut dan melihat langsung alur gerakan cargo (non-container) itu gak brenti-brenti naik ke Gerbong Barang: mulai dari komoditi motor, palet, box, bahkan ular sanca dimasukan ke dalam gerbong.

Pengiriman barang menggunakan kereta api dikelompokan menjadi 2 (dua), yaitu:
  1. BHP (Barang Hantaran & Potongan)
  2. Non BHP, yakni: Container yang ditempatkan di GD (Gerbong Datar), komoditi lainnya seperti batubara dan lain-lain
Selanjutnya saya juga survei TPKB Gede Bage Bandung dan melakukan wawacara langsung dengan Manajer Petikemas-nya dan mendapatkan kesimpulan yang nyata, yaitu: ada "mafia player" yang berperan sebagai brokerage company yang menguasai pasar angkutan barang dan sudah "nyaman" yang kalau digeser dengan total solusi harga murah maka mereka akan mempertahankan supaya tidak buyar back-to-back-nya antara Manajer Exim Kawasan Berikat/ Industri dengan "mafia player" tersebut.
Gila, anda sebagai CEO Manufaktur yang tidak gemar detil maka akan sulit melacak hengki-pengki ini. Atau sebaliknya anda sebagai CEO Perusahaan Ekspedisi yang tidak gemar detil maka Sales anda "bermain" dalam hal ini.
Kasus ini nyata karena data-data yang dipertunjukan kepada saya dan wawancara langsung dengan Pengelola Gede Bage.

Begni, saya memang orang IT tetapi bukan berarti saya tidak mengerti manajemen pengiriman barang dan sebagainya. Karena untuk merancang solusi IT maka saya dituntut harus mengerti itu semua dan dalam terminologi IT disebut dengan istilah business process.

Kembali permasalahan di atas, maka budaya logistik kita dan ditambah lagi dengan peran "mafia player" maka tidak mudah merubah sesuatu yang sudah berjalan bertahun-tahun dengan rasa "nyaman" itu.
Di sektor pelabuhan juga sama dan saya berupaya sedemikian rupa karena tanggung jawab saya sebagai Project Manager itu adalah sistem IT bukan hanya sekedar selesai. Tapi pengertian selesai adalah terpakai di pengguna sistem (Operator Pelabuhan dan Pengguna Jasa Pelabuhan). Saya bisa membuktikan kepada semua pihak di sini baik itu pemerintah maupun pelaku usaha dan membawa siapa saja yang mau lihat langsung di beberapa pelabuhan mengenai pemakaian sistem IT tersebut.

Jadi kembali kepada keterkaitan Logistik Perkeretaapian dan Logistik Kepelabuhanan maka untuk menganalisa kita butuh data yang absah, bukan denger-denger dari orang lain, tetapi kita sendiri harus turun di lapangan dan mengumpulkan sendiri dengan tenaga sendiri, dengan uang sendiri, dengan hasrat sendiri sebagai warga negara Indonesia yang baik.

Untuk melakukan reformasi logistik Indonesia, kita sudah berhadapan dengan "mafia player" dan politikus yang mana saya himbau kita semua Pelaku Usaha sama-sama duduk dan berpikir, dan bertindak. Pemerintah kita ajak sebagai fasilitator dan regulator dan saya yakin mereka mau melakukan itu untuk tujuan memajukan bangsa.

Dalam logistik perkeretaapian, saya melihat memang terjadi beberapa titik simpul yang ribet, tetapi sebenarnya titik ribet itu tetap dilakukan oleh para ekspedisi pengiriman barang.

Contoh:
  1. Tidak banyak Pemilik Barang Original itu memiliki seluruh isi dalam container, sekalipun ada maka itu biasanya untuk manufaktur yang besar atau pengiriman partai besar. Terminologi ini disebut oleh kita sebagai FCL dan LCL
  2. Esensi container itu adalah packaging dan Pemilik Barang lebih mengutamakan barang-barang yang di dalam container tersebut sudah sampai di lokasi gudangnya atau belum. Pemilik Barang gak peduli; anda sebagai ekspedisi itu ribet di gudang consolidator yang penting barang (cargo)nya harus sampai tepat waktu. Yang ditanya Pemilik Barang adalah bukanlah petikemas-nya tetapi cargo-nya.
  3. Sebagai ekspedisi maka titik consolidator tersebut khan tetap dilakukan sekalipun ribet. Hanya saja mau lakukan di mana, di gudang penerima barang yang terkadang juga truk kita nunggu ber jam-jam karena gak ada tempat (penuh), kecil - susah manuver truk container atau di lahan kosong pinggir stasiun awal, stasiun antara dan stasiun akhir dari kereta pengangkut.
  4. Yang lebih aneh lagi adalah Head Truck di parkir di mana (sebut saja titik A), Chasis Truck Container di parkir di mana (titik B), Container kosong atau penuh itu sendiri di parkir mana (titik C), Gudang Consolidator dilakukan di mana (titik D). Nah kalau jarak titik A, B, C dan D itu berjauhan maka apa gak ribet. Ini belum dinaikan ke atas KA aja sudah ribet. Bahkan jalan-jalan tol kita antara Priok dan Hinterland Kawasan Berikat atau Industri itu dilalui oleh bolak-balik truk demikian karena jaraknya berjauhan satu dengan lainnya. Kena macet di tol, ngantri, manuver di Kawasan Industri dan sebagainya. Lalu kena closing time di Priok, batal muat.
  5. Manajemen Perusahaan Ekspedisi kita itu kebanyakan manual, hanya perusahaan asing yang mandatory harus menggunakan IT. Karena manual maka ya pasti ribet. Coba kalau pake sistem, semua tercatat dan dapat melakukan planning sehingga operasionalnya tidak ribet.
  6. Sisanya adalah cargo yang mana bisa diangkut oleh truk yang lebih kecil tidak memenuhi jalan tol dan sebagainya. Indah betul kalau tol Priok dan Hinterland Kawasan Berikit/ Industri dilalui oleh truk-truk kecil yang jalannya juga tidak lambat.
  7. Saya tidak sebut GD (Gerbong Datar) menggunakan packaging petikemas dan untuk GD ini akan saya bahas tersendiri.
Ulasan saya ini butuh tanggapan sekiranya saya salah menterjemahkannya. Ulasan-ulasan di email loop ini sangat berguna untuk mencari alternatif agar terjadi penurunan biaya logistik.
Saya bisa saja salah ulas, salah mengagas. Mereka-mereka yang memiliki atribut Pelaku Usaha ljustru lebih paham mengenai hal ini.

Rgds
Rudy Sangian



2014-01-27 R. Budi Setiawan <r.bud...@gmail.com>



--
Regards
Rudy Alfred Sangian
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages