Masukan untuk FGD Sistem Logistik Ikan Nasional

275 views
Skip to first unread message

Setijadi

unread,
Nov 9, 2015, 3:24:29 AM11/9/15
to supplychainindonesia
Ysh. Rekan SCI,

SCI menjadi salah satu peserta yang diundang pada FGD Sistem Logistik Ikan Nasional besok dengan topik dan latar belakang atau isu dalam informasi terlampir di bawah.

Kami menunggu tanggapan atau masukan dari rekan-rekan yang bisa disampaikan melalui milis ini atau ke sekre...@SupplyChainIndonesia.com. 

Terima kasih atas perhatian rekan-rekan.

Salam,
Setijadi
Picture
Education | Training | Consulting | Research | Development

www.SupplyChainIndonesia.com



FGD SISTEM LOGISTIK IKAN NASIONAL
PENGUATAN KONEKTIVITAS DI SENTRA PRODUKSI, DISTRIBUSI DAN PASAR
MENDUKUNG PENGUATAN DAYA SAING PERIKANAN

1. Latar belakang
Isu konektivitas dalam bidang ekonomi telah menjadi agenda dalam pertemuan-pertemuan berbagai organisasi internasional sejak tahun 2010.  Pada KTT APEC bulan Oktober 2013 salah satu isu penting yang dibahas yaitu konektivitas kawasan Asia – Pasifik.  Isu konektivitas juga telah dibahas pada tingkat ASEAN dengan disusunnya Master Plan on ASEAN Connectivity. Master plan ini sudah diadopsi pada KTT ASEAN di Vietnam tahun 2010 dimana komponen konektivitas dibagi menjadi tiga yaitu: konektivitas perorangan (dukungan pengembangan SDM, budaya, turisme dan industri terkait); konektivitas fisik (infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, jalan raya) dan konektivitas institusional (terkait dengan kelembagaan, mekanisme dan proses). 

Sebelum implementasinya dalam konteks ASEAN, konektivitas nasional juga harus diperbaiki supaya lebih efisien dan berdaya saing. Konektivitas Nasional mencerminkan  penyatuan empat elemen kebijakan nasional yaitu Sislognas, Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), pengembangan wilayah (RTRWN) dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Perpres No. 26/2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sislognas juga telah mengamanatkan pentingnya membangun logistik nasional sebagai salah satu cara membangun daya saing nasional dimana KKP bertanggungjawab membangun logistik komoditas sesuai kewenangannya. 

Terkait pemanfaatan hasil perikanan, realitas yang ditemui sampai saat ini masih menghadapi tantangan mendasar yakni faktor musim, keterpencilan (remoteness), karakteristik komoditas (perishable) dan infrastruktur. Kondisi ini menyebabkan gap dalam penyediaan ikan terkait: geographical gap (volume ketersediaan antar wilayah), price gap (kesenjangan harga akibat panjangnya rantai distribusi) dan quality gap (mutu ikan). Pada akhirnya, pelaku usaha di hulu (nelayan, pembudidaya) dan konsumen rumah tangga kurang mendapat benefit dari harga komoditas yang diperdagangan.

Terkait hal tersebut, salah satu program Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan adalah memperkuat konektivitas hulu hilir melalui Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN). SLIN adalah sistem manajemen rantai pasokan komoditas, produk dan bahan/alat produksi perikanan mulai dari pengadaan, penyimpanan, hingga distribusi, untuk meningkatkan kapasitas dan stabilisasi sistem produksi perikanan hulu-hilir, pengendalian disparitas harga, untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri dan industri. Strategi pelaksanaan SLIN ditujukan pada 6 komponen, yaitu:  komoditas, infrastruktur, SDM, teknologi informasi dan komunikasi, jasa logistik, serta kelembagaan. Dalam perkembangannya, KKP membentuk unit kerja Direktorat Sistem Logistik sebagai unit kerja baru dengan tugas utama mengelola logistik ikan. 

SLIN akan mencapai tujuan yang dicanangkan apabila didukung konektivitas daerah produksi, distribusi dan industri pengolahan/pasar. Selain itu keterkaitan antar program dengan stakeholders menjadi sangat strategis dikelola demi efisiensi dan efektivitas program. Beberapa kegiatan instansi terkait seperti: jalur tol laut, program Listrik Perdesaan (Kemen ESDM), Gerai Maritim (Kementerian Perdagangan), KEK Bitung Enabling Trade (Kemenko Perekonomian), unit logistik PT. KAI, pelayaran perintis (PELNI), kiranya sangat potensial bersinergi dengan SLIN.

Sehubungan dengan hal-hal seperti tersebut di atas, dan guna mewujudkan pelaksanaan program di Ditjen PDSPKP yang transparan, akuntabel dan partisipatif, maka FGD ini dilaksanakan.

2. Tujuan 
1. Mengidentifikasi program kerja stakeholders terkait pengembangan konektivitas logistik.
2. Membahas tindak lanjut sinergi program mendukung SLIN

3. Peserta
Peserta FGD sejumlah 25 orang terdiri atas instansi, asosiasi dan entitas swasta yang langsung atau tidak terkait dengan pengembangan logistik untuk secara aktif membagi best practices unit kerjanya masing-masing.

4. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan diskusi akan diselenggarakan pada hari Selasa 10 November 2015 di Jakarta.


Cep Anang

unread,
Nov 9, 2015, 12:56:07 PM11/9/15
to supplychai...@googlegroups.com
Pak Setijadi,

Tertarik untuk memberikan masukan dan sudah ada entry poin yang disampaikan dalam latar belakang di atas yaitu:

Produksi, Industry dan Distribusi dan tambahan satu lagi yaitu pasar... keempat hal ini yang mendorong kebutuhan logistics dengan melaksanakan fungsi: transportasi, penyimpanan , pengepakan dan distribusi,  
Produksi dan industri menimbulkan demand akan trasportasi, beda moda transport membutuhkan area transfer antar moda ( pelabuhan ) pembangunan pelabuhan membutuhkan biaya besar , biaya besar tentu harus dipikirkan kesinambungannya yang tentu dihasilkan dari return on investment, pertanyaannya siapa yang mau invest kalau potensinya kecil ...??? 

Untuk menjamin pasokan terlebih dengan produksi musiman memerlukan ruang pengelolaan penyimpanan yang mampu manjaga qualitas barang tetap terjaga dalam menunggu proses produksi , juga harus bisa membuat produck tahan lama ( industry makanan kaleng  ) sehingga produksi berlimpah saat musim datang dapat secara maksimal melakukan produksi baik fresh maupun processed..

Tujuan pasar  :
Apakah domestics : supaya ada keseimbangan perdagangan antara daerah produksi dengan tujuan pasar, sehingga dapat  menekan biaya logistics, maka harus juga tumbuh pasar dilokasi produksi / industry agar terjadi balance traffic 
Apakah Internasional  : supaya bisa melakukan direct transhipment langsung ke luar , tanpa harus melalui domestics route , yaitu dengan melakukan rute counter clock wise ( tidak melalui jawa , melainkan melalui timur menuju luar , tentu ini harus dengan usaha  menarik pelayaran luar supaya  masuk , tentu dengan tawaran potensi pasar yang dapat manarik minat kapal asing, unutk langsung ke timur dan dari timur disambung dengan feeder domestics, sehingga bisa menimbulkan potensi pasar muatan yang cukup besar serta bisa memberikan keseimbangan jalur biasa via Jawa dan dapat membantu menyeimbangkan trade timur barat dengan adanya tambahan trade volume.
( hal ini mengingat trade route yang sudah ada dari pelayaran asing dari berbagai area menuju kawasan timur ) 

Demikian sekedar masukan 
Salam
Anang 

--
Mitra SCI:
- PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) adalah perusahaan ICT solution provider yang berpengalaman selama 25 tahun melayani lebih dari 1.900 pelanggan korporatnya dengan jasa Data Komunikasi, Internet dan Value Added Service (VAS)
- Logistics & Supply Chain Center (LOGIC) - Universitas Widyatama Bandung
---
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Supply Chain Indonesia" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to supplychainindon...@googlegroups.com.
To post to this group, send email to supplychai...@googlegroups.com.
Visit this group at http://groups.google.com/group/supplychainindonesia.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Togar M. Simatupang

unread,
Nov 9, 2015, 9:02:27 PM11/9/15
to supplychai...@googlegroups.com
Mas Setijadi, 

Semoga belum mulai rapatnya ya. Saya sampaikan gambaran sekilas saja dulu ya.

Beberapa hal yang sudah kita ketahui adalah:

·         Pesoalan mendasar yang hendak dijawab adalah ketersediaan ikan (jenis dan volume), mutu, dan disparitas harga di sentra produksi dan sentra konsumen.

·         Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan bertugas dalam pelaksanaan kebijakan di bidang penguatan daya saing dan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan kebijakan penguatan daya saing dan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang peningkatan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, dan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang peningkatan sistem logistik produk kelautan dan perikanan.

·         Telah diterbitkan Peraturan Menteri KP No. 5 tahun 2014 tentang Sistem Logistik Ikan Nasional (http://peraturan.bkpm.go.id/jdih/lampiran/5_PERMEN_KP2014.pdf) dalam rangka pemenuhan konsumsi ikan dan industri pengolahan ikan melalui jaminan terhadap pengadaan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi ikan dan produk perikanan, serta bahan dan alat produksi.

·         Sistem Logistik Ikan Nasional, yang selanjutnya disingkat SLIN adalah sistem manajemen rantai pasokan ikan dan produk perikanan, bahan dan alat produksi, serta informasi mulai dari pengadaan, penyimpanan, sampai dengan distribusi, sebagai suatu kesatuan dari kebijakan untuk meningkatkan kapasitas dan stabilisasi sistem produksi perikanan huluhilir, pengendalian disparitas harga, serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

·         Strategi SLIN meliputi:

o   Pengelolaan produksi dan pemasaran di bidang perikanan;

o   Penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana di bidang perikanan;

o   Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang perikanan;

o   Pemanfaatan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi di  bidang perikanan;

o   Pengembangan jasa logistik di bidang perikanan; dan

o   Pengembangan kelembagaan di bidang perikanan.

Apa yang menjadi masalah di lapangan?

·         Tidak adanya perhatian atau upaya dari PemKab/PemKot dalam menjaga sumberdaya perikanan dan kelautan mulai dari hulu sampai ke hilir. Perlu adanya pemetaan dan pembinaan sesuai dengan amanah SLIN. Ini yang harus diperkuat dulu.

·         Tidak adanya RTRW pantai dan laut yang mengatur peruntukan wilayah untuk budidaya, tangkap, dan konservasi.

·         Nelayan yang sangat lemah daya tawarnya sehingga menjadi alat produksi yang dieksploitasi. Perlu upaya penguatan kelembagaan dan pemberdayaan nelayan. Ini tidak sulit asalkan dilakukan secara konsisten dan melibatkan LSM dan kelembagaan desa.

·         SLIN hanya mengatur untuk permintaan domestik dan belum permintaan luar negeri.

·         Belum adanya insentif untuk bisnis lokal maupun jasa logistik perikanan untuk melakukan ekspansi penangkapan antara 5 mil sampai ZEE.

·         Pengembangan aliran ikan belum tertata mulai dari penangkapan sampai dengan penyaluran. Ini memerlukan pemetaan sampai semua titik kritis di sepanjang rantai pasokan ini dapat terhubung dan pembangunan infrastruktur dapat mendukung tercapainya tujuan penyediaan, harga yang stabil, sampai mutu yang aman.

·         Perlunya pelaksanaan praktik penangkapan yang berkelanjutan yang menjaga ketersediaan sumberdaya dan keanekaragaman sumberdaya KP.

·         Perbaikaan jasa logistik ikan, jasa penyimpanan dingin, prosedur lelang ikan, penyediaan kredit untuk nelayan, pembinaan jasa informasi dan sanitasi.

·         Pendirian taman logistik ikan yang menghubungkan antara sentra produksi atau budidaya ke sentra pengolahan (produk akhir) berserta dengan infrastruktur pendukung antara lain  PPS (Pelabuhan Perikanan Samudera) dengan daya tampung di atas 200 kalap, depot BBM, tempat pelelangan ikan, lokasi dermaga, unit galangan kapal, unit pabrik es, unit cold storage, aliran listrik, dan air bersih.  

·         Penerapan teknologi kemampulacakan (traceability)

·         Sistem informasi untuk komunikasi, pemantauan mutu produk dan keamanan produk, informasi pelanggan, informasi harga, perencanaan angkutan, informasi pengiriman, penjejakan (tracking), keselamatan kargo, dan efisiensi dan mutu layanan.

·         Peningkatan kampanye gemar makan ikan.

 

--
Togar M. Simatupang
School of Business and Management 
Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha 10 Bandung
__________________________________________
Follow our official accounts to get more information
IG: @sbmitbofficial             Twitter: @sbmitb 

Setijadi

unread,
Nov 9, 2015, 11:45:03 PM11/9/15
to supplychainindonesia
Prof. Togar, Pak Anang, dan rekan SCI,

Terima kasih banyak atas tanggapan dan masukan yang cepat dan sangat baik.

Baru saja saya paparkan beberapa masukan tersebut dalam FGD dan mendapatkan tanggapan yang baik dari KKP. 

Salam,
Setijadi
Picture
Education | Training | Consulting | Research | Development

www.SupplyChainIndonesia.com

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages