Kisah ini Bukan dari Negeri Dongeng. Sekaligus memberikan jawaban bahwa
berkiprah di Indonesia itu sangat bisa.
Subhanalllah, Kontribusi ke Indonesia yang sungguh Luar Biasa.
Pak Warsito yang kalem menyimpan segudang prestasi.
"Jika engkau merasa bahwa segala yang ada disekitarmu gelap dan pekat,
tidaklah dirrimu curiga bahwa engkaulah
yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka?
berhentilah mengeluhkan kegelapan itu,
sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, Maka berkilaulah"
(Pesan dari Buku Dalam Dekapan Ukhuwwah)
Ada juga artikel tentang sang kakak yang sembuh total karena alat tersebut,
masih di Jawa Pos:
Jum'at, 30 Desember 2011 , 08:08:00 JPPN
*Warsito P. Taruno, Ilmuwan Pencipta Alat Pembasmi Kanker Payudara dan
Otak*<http://www.jpnn.com/read/2011/12/29/112584/index.php?mib=berita.detail&id=112676#_>
*Butuh Waktu Sembuh dalam Hitungan Bulan*
Semula, Warsito merupakan salah seorang peneliti Indonesia yang berkarir di
Shizuoka University, Jepang. Di kampus tersebut, pria 54 tahun itu juga
menjadi salah seorang dosen. Selama berada di Jepang, hidup Warsito lebih
dari cukup. Apalagi, pemerintah di sana sangat memperhatikan dan menghargai
para peneliti.
Tapi, itu semua tak menghalangi tekad Warsito untuk pulang kampung. Dia
lantas merintis pendirian Ctech Labs (Center for Tomography Research
Laboratory) Edwar Technology yang bergerak di bidang teknologi penemuan.
Lama-kelamaan, lembaga tersebut berkembang pesat, meski berkantor di ruko
di kawasan perumahan Modernland, Tangerang. Sejumlah sistem dan alat
berhasil diciptakan Warsito dan kini menjadi incaran dunia
internasional."Saya ingin pulang ke Indonesia dan melakukan riset sendiri,"
jelas Warsito ketika ditemui di kantornya, Ctech Labs Edwar Technology,
kemarin (29/12).
Kini Warsito dan timnya tengah mengembangkan alat pembasmi kanker otak dan
kanker payudara. Alat tersebut berupa teknologi pemindai atau tomografi
kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis (electrical capacitance
volume tomography/ECVT).
Dengan alat tersebut, Warsito yang asli Karanganyar itu menciptakan empat
perangkat pembasmi kanker payudara dan kanker otak. Perangkat itu terdiri
atas brain activity scanner, breast activity scanner, brain cancer electro
capacitive therapy, dan breast cancer electro capacitive therapy.
Brain activity scanner dibuat Warsito sejak Juni 2010. Alat tersebut
berfungsi mempelajari aktivitas otak manusia secara tiga dimensi. Bentuk
alat tersebut mirip helm dengan puluhan lubang connector yang dihubungkan
dengan sebuah stasiun data akuisisi yang tersambung dengan sebuah komputer.
Alat itu bisa mendeteksi ada tidaknya sel kanker di otak. "Dengan alat itu,
juga bisa dilihat seberapa parah kanker otak yang diderita pasien," jelas
Warsito.
Sementara itu, breast activity scanner diciptakan pada September lalu.
Sedikit banyak, dua alat itu memiliki kesamaan, yakni mendeteksi adanya sel
kanker di tubuh.
Selain dua alat tersebut, Warsito melengkapinya dengan membuat brain cancer
electro capacitive therapy dan breast cancer electro capacitive therapy.
Dua alat itu berbasis gelombang listrik statis dengan tenaga baterai. Dua
alat tersebut terbukti dapat membunuh sel kanker hingga tuntas hanya dalam
waktu dua bulan.
Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak
perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV. Terdorong oleh
kondisi kakaknya, Suwarni, alumnus Jurusan Teknik Kimia Shizuoka
University, Jepang, tersebut menciptakan breast cancer electro capacitive
therapy yang berbasis listrik statis.
Bentuk alat tersebut dibuat mirip dengan penutup dada yang mengandung
aliran listrik statis di bagian dalam. Penutup dada berwarna hitam itu
terhubung dengan sebuah baterai yang bisa di-charge. "Sengaja dibuat mirip
dengan penutup dada biar mudah digunakan," papar Warsito.
Warsito pun mengenakan alat temuannya itu kepada kakaknya selama sebulan.
Penutup dada tersebut harus dipakai selama 24 jam. Pada minggu pertama,
terlihat efek samping dari alat itu. Namun, efek tersebut tidak sampai
menyiksa seperti proses kemoterapi. Hanya, keringat penderita yang
menggunakan alat tersebut berlendir dan sangat bau. Urine dan fesesnya
(kotoran) pun berbau lebih busuk. Menurut Warsito, hal tersebut menandakan
bahwa sel kankernya tengah dikeluarkan.
"Bau busuk itu berasal dari sel kanker yang sudah mati dan dikeluarkan
lewat urine, keringat, dan feses. Tapi, si penderita tidak merasakan sakit,
hanya gerah," paparnya.
Temuan Warsito itu ternyata berhasil. Dalam waktu sebulan setelah
pemakaian, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa kakaknya negatif kanker.
Sebulan kemudian, sang kakak dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir
merenggut nyawa itu.
Untuk brain cancer electro capacitive therapy, suami Rita Chaerunnisa
tersebut mencoba mengenakannya kepada seorang pemuda berusia 21 tahun yang
menderita penyakit kanker otak stadium lanjut. Bahan dasar yang digunakan
mirip dengan breast cancer electro capacitive therapy. Namun, bentuknya
disesuaikan dengan bentuk kepala sehingga menyerupai pelindung kepala.
Serupa dengan metode yang diterapkan kepada sang kakak, Warsito mengenakan
alat tersebut kepada pemuda itu selama sebulan pada September lalu. Karena
alat itu dipakai di kepala, pasien akan merasakan gerah pada bagian kepala.
Pada tiga hari awal pemakaian alat tersebut, tingkat emosi pasien akan
meningkat. Setelah itu, muncul gejala-gejala keringat berlendir hingga
feses yang baunya lebih nggak enak.
Warsito menceritakan, awalnya pemuda tersebut mengalami lumpuh total. Dia
tidak bisa bangun dari tempat tidur, bahkan tidak mampu menelan makanan.
Sel kanker telah menyebar di area pangkal otak penderita itu. Namun,
setelah seminggu pemakaian alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari
tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kaki.
Setelah dua bulan pemakaian, pemuda tersebut sudah dinyatakan sembuh total.
"Dua bulan sudah bersih. Sel kankernya sudah hilang," papar dia.
Setelah keberhasilan dua pasien itu, Warsito menerima banyak pesanan.
Bahkan, jumlahnya mencapai ratusan. Saat pesanan membeludak, para staf
Warsito terpaksa bekerja ekstrakeras hingga larut malam. Sebab, setiap
pasien tidak bisa menggunakan alat yang sama. "Alat terapi itu harus dibuat
sesuai dengan kondisi pasien sehingga tidak sama antara satu dan yang
lain," jelasnya.
Karena masih tergolong riset, harga alat terapi itu tergolong sangat
terjangkau, hanya sekitar Rp 1 juta. Saat ini alat pembasmi kanker tersebut
telah didaftarkan di Kementerian Kesehatan untuk mendapat izin edar. "Kalau
sudah ada izin, bisa segera digunakan oleh masyarakat luas. Harga bisa
berubah, tapi pastinya masih terjangkau," ucap dia.
Keberhasilan Warsito tersebut ternyata juga menjadi perhatian dunia
internasional. Salah satu di antaranya, The University of King Abdulaziz,
Saudi Arabia. Universitas yang berlokasi di kota Jeddah itu sudah memesan
breast activity scanner dan brain activity scanner. "Dan satu lagi alat
scanner untuk perminyakan yang menggunakan sistem ECVT 128 channel,"
jelasnya.
Sebuah rumah sakit besar di India pun sudah memesan sejumlah alat terapi
kanker payudara ciptaan Warsito. "Ya, baru beberapa hari lalu kami
melakukan clinical test di India," imbuh dia.
Sebelum menemukan alat pembasmi kanker payudara dan otak, Warsito sudah
dikenal dunia internasional lewat temuannya, yakni sistem ECVT. Sistem ECVT
tersebut merupakan tugas akhir Warsito ketika menjadi mahasiswa S-1 di
Shizuoka University, Jepang, pada 1991. Berdasar sistem tersebut, Badan
Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun tertarik memakai teknologi pemindai
temuan Warsito tersebut.
NASA menggunakannya pada pesawat ulang alik. Teknologi tersebut
memungkinkan untuk melihat tembus timbunan material di dinding luar pesawat
ulang alik. "Kalau ada timbunan air di bagian luar pesawat, dindingnya bisa
terbakar," jelasnya.
Tidak hanya itu. Saat mengajar di Ohio State University pada 2001, dia
berhasil mengembangkan tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik
statis. Paper yang menjelaskannya dimuat di jurnal Measurement Science and
Technology. Artikel tersebut menjadi paper yang paling banyak diakses di
penerbitan online oleh Institute of Physics (London).
Teknologi tersebut dipatenkan di Amerika pada 2003. Saat masih aktif
mengajar dan berkutat dengan sejumlah riset di Ohio State University,
Amerika Serikat, Warsito malah memilih pulang ke Indonesia pada 2003.
Pilihannya untuk kembali ke tanah air tidak direstui pihak institusi
tempatnya mengajar waktu itu. Masih banyak kewajiban yang harus dipenuhi
Warsito.
Alhasil, dia pun terpaksa bolak-balik Amerika-Indonesia selama kurun waktu
2003?2006. Pada 2005, Warsito mulai mengajar di Jurusan Fisika Medis
Universitas Indonesia.
Namun, pada 2006, pihak Ohio State University yang selama ini mendanai
riset Warsito menghentikan aliran dananya. Warsito yang kala itu sudah
membangun perusahaan di Indonesia terancam bangkrut. Selama dua tahun dia
berupaya menutupi semua biaya risetnya dengan berbagai cara. "Habis-habisan
pokonya," jelasnya.
Namun, di balik kesulitan finansial yang membelit, Warsito berhasil
melakukan sebuah pencapaian. Pada akhir 2007, dia berhasil menciptakan
sistem tomografi empat dimensi pertama di dunia. Institusi tempat dirinya
bekerja dulu, Ohio State University, langsung tertarik membeli sistem
tersebut.
"Tapi, saya maunya mereka membayar 100 persen di muka. Awalnya mereka
pikir-pikir. Tapi, setelah saingan mereka Washington State University juga
tertarik membeli, mereka langsung oke," jelasnya.
Dari situ kondisi keuangan Warsito membaik. Tanpa bantuan pemerintah, dia
mulai bisa menciptakan temuan-temuan yang lain. Di antaranya, temuan yang
dinamakan Sona CT Scanner. Alat tersebut adalah scanner berbasis ultrasonik
untuk tabung gas bertekanan tinggi. Alat tersebut merupakan pesanan PT
Citra Nusa Gemilang, pemasok tabung gas bagi bus Transjakarta.
Berkat sejumlah temuannya, Warsito pernah diganjar beberapa penghargaan. Di
antaranya, penghargaan rintisan teknologi industri, Kemenperin; penghargaan
inovator teknologi, Kemenristek; hingga penghargaan Achmad Bakrie pada 2009
untuk teknologi.
Ke depan Warsito mengatakan bahwa dirinya ingin memperdalam temuannya.
Yakni, alat pendeteksi kanker otak dan payudara. Dia juga akan menciptakan
alat terapi untuk segala jenis kanker dengan menggunakan metode gelombang
listrik statis. "Fokusnya ke depan ya di tiga itu dulu," imbuhnya. *
(c5/c11/c4/kum)*
*Sincerely,*
*Mohammad Kamiluddin Misdin*
--
--
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
IATMI Middle East (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Komisariat
Timur Tengah)
Website:
http://www.iatmi.or.id/iatmi/komisariat.php?id=12
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~