Jakarta bukanlah kota yg
nyaman sebagai tempat wisata. Sebagai pusat pemerintahan dan beraktifitasnya
perekonomian negara, Jakarta penuh dengan kesemerawutan karena padatnya
aktivitas. Jalan-jalan yang selalu ramai dari pagi hingga malam, gedung-gedung
tinggi bertingkat di sisi-sisi jalan, polusi, individualisme masyarakat, dan
kriminalitas yang tinggi adalah salah satu dinamika kehidupan yang hadir
menghias Jakarta.
Jika anda berasal dari sebuah desa yg
sejuk dan nyaman, dimana kehidupan masyarakat begitu akrab, dan berfikir bahwa
kehidupan di Jakarta lebih baik... coba pikirkanlah kembali, karena
sesungguhnya Jakarta lebih banyak menipu melalui wajah fisiknya.
Sebagai salah seorang warga Jakarta,
saya secara pribadi tentunya mengharap Jakarta yang lebih baik. Jakarta yang
ramah lingkungan, Jakarta yang peduli pada kehidupan masyarakatnya, Jakarta
yang tidak hanya menang secara lahiriah namun juga batiniah. Dan sayangnya bagi
saya semua itu hanya sebuah harapan. Setiap kali mata saya terbuka, tidak ada
lagi sejuknya pagi, berjalan keluar rumah sudah disapa asap knalpot
kendaraan. Udara yang bagaimanapun hadirnya, seringkali disambut dengan
caci... jika cerah, banyak yg mengeluh panas, jika hujan, jalan yang becek dan
terhambatnya aktifitas mengundang keluh dari mana-mana... dan banjir?? ah
itumah sudah biasa.
Keanehan hingga super aneh-aneh di
Jakarta banyak saya temui seumur hidup saya tinggal di kota ini. Hal-hal yang
tidak mungkin, ternyata banyak yang dapat diwujudkan disini. Dan salah satu
keanehan itu adalah maraknya kegiatan sosial dalam kehidupan masyarakat
Jakarta. Ternyata diantara kehidupan yang sangat keras, persaingan yang begitu
ketat, dan terkadang tidak tolerannya individu terhadap individu lain, saya
menemukan jiwa-jiwa yang begitu bersahabat, hangat, dan menyejukkan. Saya
melihat bagaimana para individu yang bertampang sangar, berwatak keras, juga
terkadang egois, ternyata memiliki sisi kelembutan yang tiada taranya...
seperti sebuah es krim yang meleleh di genggaman tangan... dingin, lembut, dan
begitu nikmat rasanya.
Seringkali setiap bertemu dengan
orang-orang seperti itu saya bertanya dalam hati... bagaimana bisa?? bagaimana
mungkin sesuatu yang keras itu ternyata menyimpan kebaikan yang begitu
lembutnya seperti sebatang es krim yg mencair... atau jangan-jangan sayalah
yang salah... saya yang sering berfikir salah, berfikir negatif terhadap yang
lain... sayalah yang sering menuntut namun tidak berusaha merubah, bahkan diri
sendiripun saya sulit merubahnya...??? dan satu demi satu pertanyaan semacam
itu akhirnya terjawab. Jawaban yang saya temukan bukanlah dari kata-kata,
ucapan, apalagi dari buku pintar yang saya beli... tetapi saya temukan jawaban
itu dari mereka, orang-orang yang seringkali saya anggap sombong, egois, dan
sok! Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab melalui senyum yang menghiasi
wajah, tatapan yang membuat saya nyaman, tegur sapa, dan uluran tangan
yang tulus saat saya membutuhkan... merekalah guru, pembimbing sekaligus teman
yang membuat kehidupan menjadi lebih bera rti. Dari
mereka saya belajar banyak tentang
kehidupan ini....
Jakarta... saya bertanya lagi pada
diri sendiri, kapan kira-kira saya memiliki kesempatan agar bisa memberikan
lilin yang saya miliki untuk menerangi jalan bagi yang lain saat listrik padam...
Senayan, 1 April 2005
salam,
hary
I love you without knowing how, or
when, or from where.
I love you straightforwardly, without
complexities or pride;
so I love you because I know no other
way
(Pablo Neruda)
--
Posting oleh Laskar Cinta Damai ke
Laskar ST Setia pada 6/05/2012 10:22:00 AM