[Laskar ST Setia] Menginjak Dua Kapal

1 view
Skip to first unread message

Laskar Cinta Damai

unread,
Nov 9, 2012, 9:48:37 PM11/9/12
to storys...@googlegroups.com

Sebut saja koh Aseng seorang pengusaha sukses di bidang bahan
bangunan di Yogyakarta yang tak pernah membiarkan ke-lima orang
putra-putrinya menikmati bangku universitas, maka ketika salah satu
putrinya nekad meraih gelar Insinyur Teknik Sipil malah dimusuhi. 
Apa yang terjadi dengan putra-putrinya yang rata-rata hanya lulusan
SMU ? Bagi mereka telah tersedia sebuah toko bahan bangunan lengkap
dengan isi dan modalnya. "Buat apa sekolah tinggi-tinggi, wong
bapakmu ini SD saja nggak lulus tapi bisa kaya" katanya berkobar-
kobar seolah nggak mau kalah dengan isi artikel "Kalau ingin kaya,
ngapain sekolah !?" tulisan Purdi E. Chandra.

Coba periksa, berapa banyak orang tua yang mau berisiko seperti koh
Aseng, berapa banyak yang suka anaknya hanya lulus SMP dan berapa
banyak yang rela anaknya drop-out ?  Mungkin saja masih ada satu
diantara ribuan dan coba periksa apakah para pakar motivator yang
sukses yang tak lulus SD atau drop out itu anaknya juga tak lulus SD
atau ikut-ikutan drop-out supaya sukses seperti orang-tua-nya? 
Nyaris tidak bakal menemukan orang tua yang tak ingin anaknya
sekolah setinggi mungkin, kecuali karena alasan tak cukup biaya.

Seorang kawan yang bergelar doktor dan menjadi dosen di sebuah
universitas terang-terangan mengatakan bahwa perguruan tinggi tak
ubahnya sebuah industri yang mencetak sarjana dalam waktu empat
tahunan dan ketika lulus dan masuk ke dunia kerja kalau dihitung-
hitung secara cermat, ternyata ilmu yang dibutuhkan untuk bekerja di
bidang misal akuntansi hanya butuh sekolah selama setahun bahkan
kursus 3 bulan saja sudah bisa kerja sebagai staf akuntansi.  Tapi
pada kenyataannya masyarakat lebih memilih bersekolah 4 tahun plus 2
tahun dari pada setahun yang hanya mengantungi gelar D1 atau D3.

Awal November 2004 Robert T. Kiyosaki berkunjung ke Indonesia dan
tidak sedikit mereka yang membaca buku-bukunya mendadak memiliki
nyali untuk pindah kuadran dari employee menjadi entrepreneur, tanpa
peduli kemudian sukses atau gagal yang penting jadi entrepreneur. 
Ada sementara orang yg melihat euphoria ini bertindak bagaikan dukun
togel yang memotivasi setiap orang untuk terjun ke kuadran
entrepreneur yang terlanjur dianggap lebih bergengsi ini.  Cukup
beralasan menceburkan orang yang baru 'ingin' berenang terjun ke
sungai tanpa peduli bisa atau tidak bisa berenang dan lebih banyak
publikasi bagi mereka yang sukses ketimbang yang malu dipublikasikan
karena tenggelam alias gagal, alhasil yang nampak hanyalah mereka
yang sukses saja.

Ketika makan siang di sebuah restoran empek-empek di bilangan
Jakarta Utara terlontar pertanyaan ke pemilik restoran yang ternyata
baru buka satu minggu tinggal di Jakarta hasil bedol desa sekeluarga
dari Palembang.  Usut punya usut, ternyata tempat usahanya yang
berupa rumah tinggal harus dibayar senilai 120 juta untuk jangka
waktu kontrak empat tahun.  Luar biasanya mereka juga tidak paham
dengan kota Jakarta, dan ketika saya tanyakan hal kenekatan
mereka "Ini masih lebih bagus daripada saya berjudi, kalau kalah
bisa amblas tak bersisa, kalau saya usaha seperti ini seandainya
kalah pun masih ada sisa" jawabnya enteng.

Didalam buku-bukunya hingga permainan Cash Flow Games 101 sebenarnya
Kiyosaki mengajarkan kita untuk mengambil risiko yang terukur. 
Seseorang yang ingin pindah kuadran perlu merencanakan dan menjalani
proses transformasi dari employee ke entrepreneur secara bertahap. 
Paycheck adalah istilah gajian yang perlu ditabung dan mulai
diaktifkan secara cerdik dan strategis.  Pergerakan menggeser kursi
dari lingkungan employee ke lingkungan entrepreneur sudah harus
dimulai dan memanfaatkan waktu diluar jam kerja employee untuk
berinteraksi dengan para entrepreneur membantu merangsang aktifnya
otak kanan.  Membaca buku dan majalah yang berhubungan dengan dunia
usaha sangat positif untuk menambah wawasan.  Tak jarang internet
bisa mempertemukan kita dengan peluang bisnis diluar jangkauan fisik
bahkan benar-benar jauh diluar perkiraan kita.  Berorganisasi atau
berkomunitas membawa kita ke dunia yang berwarna-warni serta
mengubah penampilan menjadi semakin bermakna.  Mengenal orang-orang
sukses, berinteraksi dan belajar kepada mereka sangat membantu kita
merangkak keluar dari tempurung kelapa yang kita diami selama ini. 
Memiliki tujuan dan impian bidang bisnis yang ingin kita raih adalah
keharusan untuk mengaktifkan pikiran bawah sadar kita  semakin fokus
diikuti pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan.  Beberapa
transaksi dengan teman, kolega hingga orang yang tak dikenal sangat
berguna untuk mengasah naluri bisnis menjelang memasuki dunia bisnis
yang sesungguhnya.

Ketika keputusan berinvestasi telah diambil bukan berarti kita harus
pamit kepada bos kita saat itu juga, ada ribuan orang yang serempak
bilang "mana mungkin ?"  "You are what you think", ketika kita
berpikir "tidak mungkin", demikianlah yang terjadi, sebaliknya
ketika dengan tegar kita mampu menghapus kata-kata "tidak mungkin"
dalam kamus kehidupan kita, niscaya tiada yang mustahil. 
Menginjakkan kaki kanan di employee dan kaki kiri di entrepreneur
terkesan konservatif dan kurang totalitas, tetapi bisa menjadi
alternatif pilihan yang bijaksana diantara ekstrim kanan yang
mungkin hanya menjadi kolektor buku-buku Kiyosaki di zona kenyamanan
atau ekstrim kiri yang langsung meninggalkan bos tanpa pijakan yang
mantap.  "No Risk No Gain", makin besar risiko yang diambil makin
besar untung atau rugi, hidup selalu demikian dan kita punya hak
untuk secara bijak mengambil risiko yang terukur.  Menginjakkan kaki
di dua kapal boleh menjadi alternatif pilihan bijaksana sebelum kita
menjadi entrepreneur yang sesungguhnya. (Haryo Ardito)

* Majalah Entrepreneur Indonesia, Edisi November 2004
http://www.ama-dki.org/artikel.php?kategori_id=2&mode=detil&id=33



--
Posting oleh Laskar Cinta Damai ke Laskar ST Setia pada 11/10/2012 09:48:00 AM
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages