You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to storys...@googlegroups.com
Sebut saja koh Aseng seorang
pengusaha sukses di bidang bahan bangunan di Yogyakarta yang tak
pernah membiarkan ke-lima orang putra-putrinya menikmati bangku
universitas, maka ketika salah satu putrinya nekad meraih gelar Insinyur
Teknik Sipil malah dimusuhi. Apa yang terjadi dengan
putra-putrinya yang rata-rata hanya lulusan SMU ? Bagi mereka telah tersedia
sebuah toko bahan bangunan lengkap dengan isi dan modalnya. "Buat
apa sekolah tinggi-tinggi, wong bapakmu ini SD saja nggak lulus tapi
bisa kaya" katanya berkobar- kobar seolah nggak mau kalah dengan
isi artikel "Kalau ingin kaya, ngapain sekolah !?" tulisan
Purdi E. Chandra.
Coba periksa, berapa banyak orang tua
yang mau berisiko seperti koh Aseng, berapa banyak yang suka
anaknya hanya lulus SMP dan berapa banyak yang rela anaknya drop-out
? Mungkin saja masih ada satu diantara ribuan dan coba periksa
apakah para pakar motivator yang sukses yang tak lulus SD atau drop
out itu anaknya juga tak lulus SD atau ikut-ikutan drop-out supaya
sukses seperti orang-tua-nya? Nyaris tidak bakal menemukan orang
tua yang tak ingin anaknya sekolah setinggi mungkin, kecuali
karena alasan tak cukup biaya.
Seorang kawan yang bergelar doktor
dan menjadi dosen di sebuah universitas terang-terangan
mengatakan bahwa perguruan tinggi tak ubahnya sebuah industri yang mencetak
sarjana dalam waktu empat tahunan dan ketika lulus dan masuk ke
dunia kerja kalau dihitung- hitung secara cermat, ternyata ilmu
yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang misal akuntansi hanya butuh
sekolah selama setahun bahkan kursus 3 bulan saja sudah bisa kerja
sebagai staf akuntansi. Tapi pada kenyataannya masyarakat lebih
memilih bersekolah 4 tahun plus 2 tahun dari pada setahun yang hanya
mengantungi gelar D1 atau D3.
Awal November 2004 Robert T. Kiyosaki
berkunjung ke Indonesia dan tidak sedikit mereka yang membaca
buku-bukunya mendadak memiliki nyali untuk pindah kuadran dari
employee menjadi entrepreneur, tanpa peduli kemudian sukses atau gagal
yang penting jadi entrepreneur. Ada sementara orang yg melihat
euphoria ini bertindak bagaikan dukun togel yang memotivasi setiap orang
untuk terjun ke kuadran entrepreneur yang terlanjur dianggap
lebih bergengsi ini. Cukup beralasan menceburkan orang yang baru
'ingin' berenang terjun ke sungai tanpa peduli bisa atau tidak
bisa berenang dan lebih banyak publikasi bagi mereka yang sukses
ketimbang yang malu dipublikasikan karena tenggelam alias gagal, alhasil
yang nampak hanyalah mereka yang sukses saja.
Ketika makan siang di sebuah restoran
empek-empek di bilangan Jakarta Utara terlontar pertanyaan ke
pemilik restoran yang ternyata baru buka satu minggu tinggal di
Jakarta hasil bedol desa sekeluarga dari Palembang. Usut punya
usut, ternyata tempat usahanya yang berupa rumah tinggal harus dibayar
senilai 120 juta untuk jangka waktu kontrak empat tahun. Luar
biasanya mereka juga tidak paham dengan kota Jakarta, dan ketika saya
tanyakan hal kenekatan mereka "Ini masih lebih bagus
daripada saya berjudi, kalau kalah bisa amblas tak bersisa, kalau saya
usaha seperti ini seandainya kalah pun masih ada sisa"
jawabnya enteng.
Didalam buku-bukunya hingga permainan
Cash Flow Games 101 sebenarnya Kiyosaki mengajarkan kita untuk
mengambil risiko yang terukur. Seseorang yang ingin pindah kuadran
perlu merencanakan dan menjalani proses transformasi dari employee ke
entrepreneur secara bertahap. Paycheck adalah istilah gajian yang
perlu ditabung dan mulai diaktifkan secara cerdik dan
strategis. Pergerakan menggeser kursi dari lingkungan employee ke
lingkungan entrepreneur sudah harus dimulai dan memanfaatkan waktu diluar
jam kerja employee untuk berinteraksi dengan para entrepreneur
membantu merangsang aktifnya otak kanan. Membaca buku dan
majalah yang berhubungan dengan dunia usaha sangat positif untuk menambah
wawasan. Tak jarang internet bisa mempertemukan kita dengan
peluang bisnis diluar jangkauan fisik bahkan benar-benar jauh diluar
perkiraan kita. Berorganisasi atau berkomunitas membawa kita ke dunia
yang berwarna-warni serta mengubah penampilan menjadi semakin
bermakna. Mengenal orang-orang sukses, berinteraksi dan belajar
kepada mereka sangat membantu kita merangkak keluar dari tempurung
kelapa yang kita diami selama ini. Memiliki tujuan dan impian bidang
bisnis yang ingin kita raih adalah keharusan untuk mengaktifkan pikiran
bawah sadar kita semakin fokus diikuti pengetahuan dan ketrampilan
yang dibutuhkan. Beberapa transaksi dengan teman, kolega hingga
orang yang tak dikenal sangat berguna untuk mengasah naluri bisnis
menjelang memasuki dunia bisnis yang sesungguhnya.
Ketika keputusan berinvestasi telah
diambil bukan berarti kita harus pamit kepada bos kita saat itu juga,
ada ribuan orang yang serempak bilang "mana mungkin
?" "You are what you think", ketika kita berpikir "tidak mungkin",
demikianlah yang terjadi, sebaliknya ketika dengan tegar kita mampu
menghapus kata-kata "tidak mungkin" dalam kamus kehidupan kita, niscaya
tiada yang mustahil. Menginjakkan kaki kanan di employee
dan kaki kiri di entrepreneur terkesan konservatif dan kurang
totalitas, tetapi bisa menjadi alternatif pilihan yang bijaksana
diantara ekstrim kanan yang mungkin hanya menjadi kolektor
buku-buku Kiyosaki di zona kenyamanan atau ekstrim kiri yang langsung
meninggalkan bos tanpa pijakan yang mantap. "No Risk No
Gain", makin besar risiko yang diambil makin besar untung atau rugi, hidup selalu
demikian dan kita punya hak untuk secara bijak mengambil risiko
yang terukur. Menginjakkan kaki di dua kapal boleh menjadi alternatif
pilihan bijaksana sebelum kita menjadi entrepreneur yang
sesungguhnya. (Haryo Ardito)