[Laskar ST Setia] Mobil Chevy Merah

0 views
Skip to first unread message

Laskar Cinta Damai

unread,
Nov 9, 2012, 10:00:14 PM11/9/12
to storys...@googlegroups.com

Ayahku sangat menyayangi mobil-mobilnya. Ayah rutin merawatnya dan
memoles catnya sampai mengkilap. Dan ayah tahu setiap bunyi, bau dan
keganjilan setiap mobil miliknya.

Ayahku juga sangat pemilih, untuk menentukan siapa saja yang diijinkan
mengendarai mobilnya. Maka saat aku mendapat SIM mobil di usia enam
belas tahun, aku sedikit khawatir akan tanggung jawab yang harus
kutanggung bila meninggalkan rumah dengan menggunakan salah satu mobil
kesayangan ayahku.

Ayah mempunyai sebuah picku up Chevy berwarna merah yang sangat bagus,
sebuah Suburban besar berwarna putih, dan sebuah Mustang denganmesin
V-8. semua mobil ayah selalu dalam kondisi prima.

Ayah juga mudah marah dan tidak sabar dengan kecebohan,khususnya bila
anak-anaknya sendiri yang ceroboh.

Pada suatu sore ayah menyuruhkan ke kota dengan truk chevinya ntuk
membelikan sederet daftar benda-benda yang ayah butuhkan untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan aneh di sekeliling rumah.

Aku memiliki SIM sudah sekian lama tapi baru kali ini aku dipercayakan
ayahku untuk mengendarai salah satu mobilnya. Dan itu adalah pertama
kalinya aku terlihat mengendarai mobil di jalan raya dengan chevy merah
yang membuatku kelihatan gagah.

Aku berhati-hati dalam perjalananku menuju ke kota, memperhatikan dengan
cermat setiap lampu lalu lintas, mencoba untuk mengendarai seaman
mungkin seperti yang selalu diingatkan ayahku. Berada dalam slah satu
mobil ayahku cukup untuk membuatku sebagai pengendara yang teraman di
kota. Aku bahkan tidak ingin memikirkan hal itu.

Mobilku melaju begitu lampu lalu lintas berubah hijau. Saat aku berada
di tengah persimpangan jalan raya, tiba-tiba seorang pria tua yang
nampaknya tidak melihat lampu telah menjadi merah, menghantap pintu
samping tempatku duduk. Aku menginjak rem, dan mobilku terkelincir di
tumpahan minyak, berputar menghantam trotoar dan terbalik.

Aku tidak mampu berpikir jernih pada awalnya, wajahku berdarah karena
pecahan kaca, tetapi sabuk pengaman menghindarkan aku dari luka yang
serius. Aku samar-samar mengkhawatirkan tentang bahaya kebakaran, tetapi
mesin mobil telah mati, dan tal lama aku mendengar suara sirene.

Aku baru saja mulai bertanya-tanya berapa lama lagi aku harus
terperangkap di dalam mobil saat beberapa petugas pemadam kebakaran
membantuku keluar, dan segera aku duduk di sisi jalan, memegangi
kepalaku yang sakit, wajah dan kemejaku penuh dengan darah.
Di saat itulah aku melihat mobil picku merah ayahku. Mobil itu rusak dan
hancur. Aku terkejut bisa keluar dari mobil itu dalam keadaan utuh. Aku
tiba-tiba teringat tentang ayahku. Bagaimana aku harus menghadapinya dan
menjelaskan kabar yang sangat buruk yang telah menimpa mobil kesayangan
dan kebanggaannhya.

Kami tinggal di kota kecil, dan beberapa orang yagn melihat kecelakaan
itu menenaliku. Seseorang pastilah telah menelepon ayah secepat mungkin
karena tidak lama kemudian setelah aku diselamatkan dari remukan mobil,
ayahku datang berlari menghampiriku. Aku menutup mata, menunduk dan
tidak ingin memandang wajah ayahku.

"Ayah, aku sungguh minta maaf......"
"Terry, apa kau baik-baik saja?" Suara ayah tidak terdengar seperti yang
kukira. Waktu aku menengadahkan wajahku, aku melihat ayahku berlutut di
sisiku, tangannya yang lembut mengangkat wajahku yang terluka dan
mengamati lukaku.
"Apa kau sangat menderita?"
"Aku baik-baik saja. Aku sunggu minta maaf atas mobil ayah."
"Lupakan mobil itu, Terry. Mobil itu hanyalah seonggok mesin. Ayah
mencemaskanmu, bukan mobil itu. Bisakah kau berdiri? Bisakah kau
berjalah? Ayah akan membawamu ke rumah sakit bila kau rasa tidak
membutuhkan ambulans."
Aku menggelengkan kepala.

Ayah dengan hati-hati merangkulku dan menopangku berjalan. Aku memandang
ayah dan aku terkesan melihat wajahnya yang penuh dengan belas kasihan
dan kecemasan.
"Bisakah kau bertahan?" ia bertanya , suaranya terdengar ketakutan.
"Aku baik-baik saja, Yah. Sungguh. Mengapa kita tidak pulang ke rumah
saja? Aku tidak perlu dibawa ke rumah sakit."

Kami akhirnya bersepakat untuk mengunjungi dokter keluarga, yang
membersihkan lukaku, membebat lukaku dan memperbolehkanku pulang.

Aku tidak ingat saat mobil itu diderek, apa yang kulakukan sepanjan sisa
malam itu, atau berapa lama aku terbarin. Yang kutahu adalah bahwa untuk
pertama kalinya dalam hidupku, aku memahami kalau ayah menyayangiku. Aku
tidak menyadari hal itu sebelumnya, tetapi ayah menyayangiku lebih dari
mobil chevy merah,ya, lebih dari mobil-mobilnya yang lain, lebih dari
yang dapat kubayangkan sebelumnya.

Sejak hari itu kami berbagi suka dan duka bersama, walau kadang aku
membuatnya kecewa sehingga ayah marah. Tetapi satu hal tetap tak
berubah. Ayah menyayangiku sejak dulu, sekarang dan ayah akan tetap
menyayangiku seumur hidupku.

- By TJ@Chicken soup-



--
Posting oleh Laskar Cinta Damai ke Laskar ST Setia pada 11/10/2012 10:00:00 AM
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages