[Laskar ST Setia] "Mujizat Mermaid"

3 views
Skip to first unread message

Laskar Cinta Damai

unread,
Nov 9, 2012, 10:03:27 PM11/9/12
to storys...@googlegroups.com


         Rhonda Gill terpaku saat ia mendengar puterinya yang berusia 
empat tahun, Desiree, menangis diam-diam di 
ruang keluarga di pagi hari itu di bulan Oktober 1993. Rhonda 
berjalan berjingkat-jingkat melalui pintu. Anak kecil 
berambut hitam itu memeluk pasfoto ayahnya, yang sudah meninggal 
sembilan bulan sebelumnya. Rhonda, duapuluh 
empat tahun, memandang ketika Desiree dengan lembut mengusapkan 
jari-jemarinya ke sekeliling wajah 
ayahnya. "Papa," katanya dengan lembut, "kenapa engkau tidak mau kembali?"
 
         Mahasiswa universitas berambut panjang yang ramping ini 
merasakan gelombang keputusasaan. Memang cukup 
sulit untuk menghadapi kematian suaminya, Ken, namun dukacita 
puterinya melebihi dari yang dapat ia tanggung. Jika 
saya rasa dapat merobek-robek nyeri itu darinya, pikir Rhonda.
 
         Ken Gill dan Rhonda Hill bertemu ketika Rhonda berumur 
delapan belas dan menikah setelah meminangnya. 
Puteri mereka, Desiree, lahir pada tanggal 8 Januari 1989.
 
         Meskipun berotot dan tingginya 190 sentimeter, Ken adalah 
seorang laki-laki sopan yang dicintai semua orang. 
Keinginan besarnya adalah Desiree. "Dia benar-benar anak Papa" Rhonda 
sering berkata demikian sedangkan mata 
Ken berkedip-kedip bangga. Ayah dan anak perempuannya pergi bersama 
kemana-mana: berkemah, mengendarai 
kereta pasir beroda dua, dan memancing ikan bass dan ikan salem.
 
         Bukannya secara berangsur-angsur beradaptasi terhadap 
kematian ayahnya, Desiree malah menolak untuk 
menerimanya. "Ayah akan segera pulang," katanya kepada ibunya. "Dia 
sedang di tempat kerja." Ketika sedang 
memainkan telepon mainannya, dia berpura-pura sedang berbicara 
kepadanya. "Aku merindukanmu, Papa," 
katanya. "Kapan engkau kembali?"
 
         Segera setelah kematian Ken, Rhonda pindah dari apartemennya 
ke rumah ibunya yang dekat. Tujuh minggu 
setelah pemakaman, Desiree masih tak dapat dihibur. "Saya betul-betul 
tidak tahu apa yang harus dilakukan," kata 
Rhonda kepada ibunya, Trish Moore, seorang asisten medis yang berusia 
empatpuluh tujuh tahun.
 
         Suatu petang, mereka bertiga duduk-duduk di luar, memandang 
bintang-bintang. "Lihat yang satu itu, Desiree?" 
neneknya menunjuk ke suatu titik terang dekat cakrawala. "Itu papamu 
yang bersinar dari surga."
 
         Berapa malam berikutnya Rhonda bangun untuk menemui Desiree 
di atas pijakan kaki dalam pakaian tidurnya, 
sambil menangis mencari bintang papanya. Dua kali mereka membawanya 
untuk menemui seorang psikiater anak, 
tapi tampaknya tidak menolong.
 
         Sebagai upaya terakhir, Trish membawa Desiree ke kuburan 
Ken, berharap bahwa hal itu akan membantunya 
mengerti akan kematian ayahnya. Anak itu meletakkan kepalanya di atas 
batu nisan ayahnya dan berkata, "Mungkin 
kalau saya cukup berusaha untuk mendengar, saya dapat mendengarkan 
Papa berbicara kepada saya."
 
         Lalu suatu malam, ketika Rhonda membawa masuk anaknya, 
Desiree berkata, "Saya ingin mati , Mama, supaya 
saya bisa bersama Papa." Tuhan tolong saya, Rhonda berdoa. Apalagi 
yang mungkin bisa saya lakukan?
 
         Tanggal 8 Nopember 1993 akan menjadi hari ulang tahun Ken 
yang keduapuluh sembilan. "Bagaimana cara saya 
mengirimkan kartu padanya?" Desiree bertanya pada neneknya.
 
         "Bagaimana kalau kita mengikatkan surat pada sebuah balon," 
kata Trish, "dan mengirimnya ke surga?" mata 
Desiree segera bercahaya.
 
         Dalam perjalan mereka ke tempat pemakaman, kursi belakang 
mobil itu penuh dengan bunga-bunga untuk 
kunjungan ke lokasi kubur yang sudah direncanakan mereka, mereka 
bertiga berhenti di sebuah toko. "Bantu Mama 
memilih sebuah balon," instruksi Trish.
 
         Di sebuah rak tempat lusinan balon perak berisi helium 
mengembang, Desiree membuat satu keputusan 
langsung: "Yang satu itu!" HAPPY BIRTHDAY terhias di sekeliling 
sebuah gambar Puteri Duyung Kecil dari film Disney. 
Desiree dan ayahnya sering menonton film itu bersama-sama.
 
         Mata anak itu bercahaya ketika mereka mengatur bunga di 
kubur Ken. Itu adalah hari yang indah, dengan 
hembusan angin perlahan yang menggoyangkan pohon-pohon eukaliptus. 
Kemudian Desiree mendiktekan sebuah 
surat untuk papanya. "Katakan padanya 'Happy Birthday. Aku 
mencintaimu dan merindukanmu," desaknya. "Aku 
berharap engkau menerima surat ini dan dapat membalasnya pada hari 
ulang tahunku di bulan Januari."
 
         Trish menulis pesan dan alamat mereka pada selembar kertas 
kecil, lalu membungkusnya di dalam plastik dan 
mengikatkannya pada ujung tali balon itu. Akhirnya Desiree melepaskan 
balon tadi.
 
         Selama hampir satu jam mereka memandang bintik sinar perak 
yang semakin lama semakin kecil. "Oke," kata  
Trish akhirnya. "Waktunya pulang ke rumah."
 
         Rhonda dan Trish mulai berjalan pelan-pelan dari kuburan 
saat mereka mendengar Desiree berteriak dengan 
gembira. "Apakah kalian melihatnya? Saya melihat papa turun dan 
mengambilnya!"
 
         Balon itu, yang baru saja kelihatan sebelumnya, telah 
hilang. "Sekarang Papa akan membalas saya," kata Desiree 
ketika dia berjalan menuju ke mobil.
 
                                                                      
          * * * * * * * * * * * * * *
 
         Pada suatu pagi hari yang hujan dan dingin di Kepulauan 
Prince Edward di sebelah timur Kanada, Wade 
MacKinnon yang berusia tigapuluh dua tahun menarik alat-alat 
perlengkapan pemburu-bebek miliknya yang tahan air. 
MacKinnon seorang penjaga hutan, tinggal bersama istri dan ketiga 
anaknya di lingkungan pedesaan Mermaid.
 
         Namun bukannya berkendara ke muara tempat dia biasa berburu, 
tiba-tiba dia memutuskan untuk pergi ke Danau 
Mermaid, tiga kilometer jauhnya. Kendaraan sportnya ditinggalkan, dia 
mendaki lewat tetesan-tetesan air dari pohon-
pohon cemara, dan segera masuk ke rawa cranberry yang mengelilingi 
danau seluas sembilan hektar. Di semak-
semak tepi danau, sesuatu bergoyang-goyang dan menarik pandangan 
matanya. Ingin tahu, dia mendekat dan 
menemukan sebuah balon perak tersangkut di cabang-cabang semak 
setinggi paha. Tercetak di sisinya adalah 
gambar seorang puteri duyung. Ketika dia melepaskan ikatan talinya, 
dia menemukan selembar kertas yang basah di 
bagian ujungnya, terbungkus di dalam plastik.
 
         Di rumah, MacKinnon dengan hati-hati mengeluarkan catatan 
yang basah tadi dan membiarkannya kering. Ketika 
istrinya, Donna, pulang ke rumah, MacKinnon menunjukkan balon dan 
catatan itu kepadanya. Dengan rasa ingin tahu, 
dia membaca: "8 November 1993. Happy Birthday, Papa....." Diakhiri 
dengan sebuah alamat di Live Oak, California.
     "Ini baru 12 November," seru Wade. "Balon ini menempuh 
perjalanan hampir 5.000 kilometer dalam empat hari!"
     "Dan lihat," kata Donna, sambil membalikkan balon itu. "Ini 
adalah balon Little Mermaid, dan balon ini mendarat di 
Danau Mermaid."
 
         "Kita harus menulis surat kepada Desiree," kata Wade. 
"Mungkin kita dipilih untuk menolong gadis kecil ini." Tapi 
dia melihat bahwa istrinya tidak merasakan hal yang sama. Dengan air 
matanya, Donna melangkah menjauhi balon 
itu. "Seorang gadis begitu muda harus menghadapi kematian ayahnya, 
sunggguh mengenaskan," katanya.
 
         Wade membiarkan hal itu reda. Dia meletakkan catatan itu di 
dalam laci dan mengikat balon tadi, masih bergoyang-
goyang, sampai ke pegangan di balkon memandang ke bawah ruang 
keluarga. Namun pemandangan balon membuat 
Donna merasa tidak nyaman. Beberapa hari kemudian, dia menyimpannya 
ke dalam lemari. Minggu demi minggu 
berlalu, tapi, Donna menemukan dirinya semakin bertambah-tambah 
memikirkan balon itu. Balon itu telah terbang 
melewati Rocky Mountains dan Great Lakes. Hanya beberapa kilometer 
lagi maka ia akan mendarat di laut. Malahan 
balon itu berhenti di sana, di Mermaid.
 
         Ketiga anak kami begitu beruntung, pikirnya. Mereka punya 
dua orang tua yang sehat. Dia membayangkan 
bagaimana anak perempuan mereka, Hailey, hampir berusia dua tahun, 
akan rasakan kalau Wade akan meninggal.
 
         Pagi berikutnya, Donna berkata kepada Wade: "Engkau benar. 
Kita mendapat balon ini untuk suatu alasan. "Kita 
harus mencoba menolong Desiree."
 
         Di suatu toko buku setempat, Donna membeli sebuah buku 
adaptasi The Little Mermaid. Beberapa hari kemudian, 
Wade membawa pulang sebuah kartu ulang tahun yang bertulisan, "Untuk 
Anak Perempuan Tersayang, Mengharapkan 
Ulang Tahun yang Penuh Kasih."
 
         Suatu pagi Donna duduk untuk menulis surat pada Desiree. 
Ketika dia selesai, dia menyelipkan ke dalam kartu 
ulang tahun dan membungkusnya bersama buku itu. Lalu, pada tanggal 3 
Januari 1994, dia memposkan paket itu.
 
         Hari ulang tahun kelima Desiree tiba dan berlangsung tenang 
dengan suatu pesta kecil pada 9 Januari. Setiap hari 
sejak mereka melepaskan balon, Desiree menanyai Rhonda, "Apa mama 
kira Papa sudah menerima balon saya?" 
Setelah pestanya, dia berhenti bertanya.
 
         Pada larut siang tanggal 19 Januari, paket keluarga 
MacKinnons datang. Sibuk memasak makan malam, Trish 
melihat pada alamat kembali yang tidak dikenal dan menganggap itu 
adalah hadiah ulang tahun untuk cucu 
perempuannya dari seseorang di keluarga Ken. Rhonda dan Desiree sudah 
pergi, jadi Trish memutuskan untuk 
mengantarkannya ke Rhonda pada esok harinya.
 
         Sewaktu Trish menonton TV malam itu, sebuah pikiran muncul 
di benaknya. Kenapa seseorang megirimkan 
bingkisan untuk Desiree ke alamat ini? Dia merobek bingkisan itu 
untuk membukanya dan menemukan kartu, "Untuk 
Anak Perempuan Tersayang........." Jantungnya berdebar. Ya Tuhan! 
pikirnya, dan meraih telepon. Saat itu sudah lewat 
tengah malam, tapi dia harus menelepon Rhonda.
 
         Ketika Trish, yang matanya merah karena menangis, masuk ke 
pekarangan Rhonda pada jam 06.45 keesokan 
harinya, anak perempuan dan cucu perempuannya sudah menanti. Rhonda 
dan Trish mendudukkan Desiree di antara 
mereka di kursi panjang. Trish berkata, "Desiree, ini untukmu," dan 
menyerahkan bingkisan itu kepadanya. "Ini dari 
Papamu."
 
         "Saya tahu," jawab Desiree dengan mantap. "Mari, nenek, 
bacakan untuk saya."
 
         "Selamat ulang tahun dari papamu," Trish memulai "Saya kira 
engkau pasti ingin tahu siapa kami. Baik, semuanya 
berawal di bulan November ketika suami saya, Wade, pergi berburu 
bebek. Tebaklah apa yang kami temui? Sebuah 
balon puteri duyung (Mermaid) yang kau kirim untuk papamu......." 
Trish berhenti sejenak. Sebutir air mata mulai 
membasahi pipi Desiree. "Tidak ada toko-toko di Surga, jadi papamu 
menginginkan agar seseorang berbelanja 
untuknya. Saya pikir dia memilih kami karena kami tinggal di sebuah 
kota bernama Mermaid."
 
         Trish meneruskan membaca, dia melihat ke Desiree. "Saya tahu 
papamu ingin kamu bahagia dan tidak sedih. 
Saya tahu dia sangat mencintaimu dan akan selalu mengawasimu. Dengan 
ribuan cinta, keluarga MacKinnons."
 
         Ketika Trish selesai membaca, dia melihat ke Desiree. "Saya 
tahu Papa akan menemukan cara untuk tidak 
melupakan saya," kata anak itu.
 
         Sambil mengusap air mata dari matanya, Trish melingkarkan 
lengannya pada Desiree dan mulai membaca buku 
The Little Mermaid yang dikirim keluarga MacKinnons. Ceritanya 
berbeda dari cerita yang sering dibacakan ayahnya 
kepada anak itu. Dalam versi itu, Little Mermaid tinggal bahagia 
selama-lamanya bersama seorang pangeran tampan. 
Tapi dalam kisah yang baru, dia mati karena seorang tukang sihir yang 
jahat telah mengambil ekornya. Tiga malaikat 
membawanya pergi.
 
         Ketika Trish selesai membaca, dia khawatir bahwa akhir 
cerita itu akan mengecewakan cucu perempuannya. Tapi 
Desiree menaruh tangannya di pipinya dengan senang. "Dia pergi ke 
Surga!" Dia berteriak bahagia. "Itu sebabnya 
kenapa Papa mengirim saya buku ini. Karena puteri duyung itu pergi 
persis seperti dia!"
 
         Pada pertengahan Februari, keluarga MacKinnons menerima 
sepucuk surat dari Rhonda: "Pada tanggal 19 
Januari, impian gadis kecil saya menjadi kenyataan ketika bingkisan 
anda tiba."
 
         Selama beberapa minggu berikutnya, keluarga MacKinnons dan 
keluarga Gills sering menelepon satu sama lain. 
Lalu bulan Maret, Rhonda, Trish dan Desiree terbang ke Kepulauan 
Prince Edward untuk bertemu keluarga 
MacKinnons. Sewaktu kedua keluarga itu berjalan melalui hutan di atas 
sepatu salju untuk melihat lokasi di tepi danau 
tempat Wade menemukan balon, Rhonda dan Desiree terdiam. Seakan-akan 
Ken berada disana bersama mereka.
 
         Hari ini meskipun Desiree ingin berbicara tentang Papanya, 
ia masih menghubungi keluarga MacKinnons. Tidak 
ada yang dapat menenangkannya selain berbicara beberapa menit di telepon."
 
         "Orang-orang berkata kepada saya, "Kebetulan sekali balon 
puteri duyungmu mendarat begitu jauh di tempat yang 
disebut Mermaid Lake," kata Rhonda. "Tetapi kami tahu bahwa Ken 
memilih keluarga ManKinnons sebagai jalan untuk 
mengirimkan cintanya pada Desiree. Dia sekarang mengerti bahwa 
ayahnya selalu bersamanya."
 
 
  
 


--
Posting oleh Laskar Cinta Damai ke Laskar ST Setia pada 11/10/2012 10:03:00 AM
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages