Rhonda Gill terpaku saat ia mendengar puterinya yang berusia
empat tahun, Desiree, menangis diam-diam di
ruang keluarga di pagi hari itu di bulan Oktober 1993. Rhonda
berjalan berjingkat-jingkat melalui pintu. Anak kecil
berambut hitam itu memeluk pasfoto ayahnya, yang sudah meninggal
sembilan bulan sebelumnya. Rhonda, duapuluh
empat tahun, memandang ketika Desiree dengan lembut mengusapkan
jari-jemarinya ke sekeliling wajah
ayahnya. "Papa," katanya dengan lembut, "kenapa engkau tidak mau kembali?"
Mahasiswa universitas berambut panjang yang ramping ini
merasakan gelombang keputusasaan. Memang cukup
sulit untuk menghadapi kematian suaminya, Ken, namun dukacita
puterinya melebihi dari yang dapat ia tanggung. Jika
saya rasa dapat merobek-robek nyeri itu darinya, pikir Rhonda.
Ken Gill dan Rhonda Hill bertemu ketika Rhonda berumur
delapan belas dan menikah setelah meminangnya.
Puteri mereka, Desiree, lahir pada tanggal 8 Januari 1989.
Meskipun berotot dan tingginya 190 sentimeter, Ken adalah
seorang laki-laki sopan yang dicintai semua orang.
Keinginan besarnya adalah Desiree. "Dia benar-benar anak Papa" Rhonda
sering berkata demikian sedangkan mata
Ken berkedip-kedip bangga. Ayah dan anak perempuannya pergi bersama
kemana-mana: berkemah, mengendarai
kereta pasir beroda dua, dan memancing ikan bass dan ikan salem.
Bukannya secara berangsur-angsur beradaptasi terhadap
kematian ayahnya, Desiree malah menolak untuk
menerimanya. "Ayah akan segera pulang," katanya kepada ibunya. "Dia
sedang di tempat kerja." Ketika sedang
memainkan telepon mainannya, dia berpura-pura sedang berbicara
kepadanya. "Aku merindukanmu, Papa,"
katanya. "Kapan engkau kembali?"
Segera setelah kematian Ken, Rhonda pindah dari apartemennya
ke rumah ibunya yang dekat. Tujuh minggu
setelah pemakaman, Desiree masih tak dapat dihibur. "Saya betul-betul
tidak tahu apa yang harus dilakukan," kata
Rhonda kepada ibunya, Trish Moore, seorang asisten medis yang berusia
empatpuluh tujuh tahun.
Suatu petang, mereka bertiga duduk-duduk di luar, memandang
bintang-bintang. "Lihat yang satu itu, Desiree?"
neneknya menunjuk ke suatu titik terang dekat cakrawala. "Itu papamu
yang bersinar dari surga."
Berapa malam berikutnya Rhonda bangun untuk menemui Desiree
di atas pijakan kaki dalam pakaian tidurnya,
sambil menangis mencari bintang papanya. Dua kali mereka membawanya
untuk menemui seorang psikiater anak,
tapi tampaknya tidak menolong.
Sebagai upaya terakhir, Trish membawa Desiree ke kuburan
Ken, berharap bahwa hal itu akan membantunya
mengerti akan kematian ayahnya. Anak itu meletakkan kepalanya di atas
batu nisan ayahnya dan berkata, "Mungkin
kalau saya cukup berusaha untuk mendengar, saya dapat mendengarkan
Papa berbicara kepada saya."
Lalu suatu malam, ketika Rhonda membawa masuk anaknya,
Desiree berkata, "Saya ingin mati , Mama, supaya
saya bisa bersama Papa." Tuhan tolong saya, Rhonda berdoa. Apalagi
yang mungkin bisa saya lakukan?
Tanggal 8 Nopember 1993 akan menjadi hari ulang tahun Ken
yang keduapuluh sembilan. "Bagaimana cara saya
mengirimkan kartu padanya?" Desiree bertanya pada neneknya.
"Bagaimana kalau kita mengikatkan surat pada sebuah balon,"
kata Trish, "dan mengirimnya ke surga?" mata
Desiree segera bercahaya.
Dalam perjalan mereka ke tempat pemakaman, kursi belakang
mobil itu penuh dengan bunga-bunga untuk
kunjungan ke lokasi kubur yang sudah direncanakan mereka, mereka
bertiga berhenti di sebuah toko. "Bantu Mama
memilih sebuah balon," instruksi Trish.
Di sebuah rak tempat lusinan balon perak berisi helium
mengembang, Desiree membuat satu keputusan
langsung: "Yang satu itu!" HAPPY BIRTHDAY terhias di sekeliling
sebuah gambar Puteri Duyung Kecil dari film Disney.
Desiree dan ayahnya sering menonton film itu bersama-sama.
Mata anak itu bercahaya ketika mereka mengatur bunga di
kubur Ken. Itu adalah hari yang indah, dengan
hembusan angin perlahan yang menggoyangkan pohon-pohon eukaliptus.
Kemudian Desiree mendiktekan sebuah
surat untuk papanya. "Katakan padanya 'Happy Birthday. Aku
mencintaimu dan merindukanmu," desaknya. "Aku
berharap engkau menerima surat ini dan dapat membalasnya pada hari
ulang tahunku di bulan Januari."
Trish menulis pesan dan alamat mereka pada selembar kertas
kecil, lalu membungkusnya di dalam plastik dan
mengikatkannya pada ujung tali balon itu. Akhirnya Desiree melepaskan
balon tadi.
Selama hampir satu jam mereka memandang bintik sinar perak
yang semakin lama semakin kecil. "Oke," kata
Trish akhirnya. "Waktunya pulang ke rumah."
Rhonda dan Trish mulai berjalan pelan-pelan dari kuburan
saat mereka mendengar Desiree berteriak dengan
gembira. "Apakah kalian melihatnya? Saya melihat papa turun dan
mengambilnya!"
Balon itu, yang baru saja kelihatan sebelumnya, telah
hilang. "Sekarang Papa akan membalas saya," kata Desiree
ketika dia berjalan menuju ke mobil.
* * * * * * * * * * * * * *
Pada suatu pagi hari yang hujan dan dingin di Kepulauan
Prince Edward di sebelah timur Kanada, Wade
MacKinnon yang berusia tigapuluh dua tahun menarik alat-alat
perlengkapan pemburu-bebek miliknya yang tahan air.
MacKinnon seorang penjaga hutan, tinggal bersama istri dan ketiga
anaknya di lingkungan pedesaan Mermaid.
Namun bukannya berkendara ke muara tempat dia biasa berburu,
tiba-tiba dia memutuskan untuk pergi ke Danau
Mermaid, tiga kilometer jauhnya. Kendaraan sportnya ditinggalkan, dia
mendaki lewat tetesan-tetesan air dari pohon-
pohon cemara, dan segera masuk ke rawa cranberry yang mengelilingi
danau seluas sembilan hektar. Di semak-
semak tepi danau, sesuatu bergoyang-goyang dan menarik pandangan
matanya. Ingin tahu, dia mendekat dan
menemukan sebuah balon perak tersangkut di cabang-cabang semak
setinggi paha. Tercetak di sisinya adalah
gambar seorang puteri duyung. Ketika dia melepaskan ikatan talinya,
dia menemukan selembar kertas yang basah di
bagian ujungnya, terbungkus di dalam plastik.
Di rumah, MacKinnon dengan hati-hati mengeluarkan catatan
yang basah tadi dan membiarkannya kering. Ketika
istrinya, Donna, pulang ke rumah, MacKinnon menunjukkan balon dan
catatan itu kepadanya. Dengan rasa ingin tahu,
dia membaca: "8 November 1993. Happy Birthday, Papa....." Diakhiri
dengan sebuah alamat di Live Oak, California.
"Ini baru 12 November," seru Wade. "Balon ini menempuh
perjalanan hampir 5.000 kilometer dalam empat hari!"
"Dan lihat," kata Donna, sambil membalikkan balon itu. "Ini
adalah balon Little Mermaid, dan balon ini mendarat di
Danau Mermaid."
"Kita harus menulis surat kepada Desiree," kata Wade.
"Mungkin kita dipilih untuk menolong gadis kecil ini." Tapi
dia melihat bahwa istrinya tidak merasakan hal yang sama. Dengan air
matanya, Donna melangkah menjauhi balon
itu. "Seorang gadis begitu muda harus menghadapi kematian ayahnya,
sunggguh mengenaskan," katanya.
Wade membiarkan hal itu reda. Dia meletakkan catatan itu di
dalam laci dan mengikat balon tadi, masih bergoyang-
goyang, sampai ke pegangan di balkon memandang ke bawah ruang
keluarga. Namun pemandangan balon membuat
Donna merasa tidak nyaman. Beberapa hari kemudian, dia menyimpannya
ke dalam lemari. Minggu demi minggu
berlalu, tapi, Donna menemukan dirinya semakin bertambah-tambah
memikirkan balon itu. Balon itu telah terbang
melewati Rocky Mountains dan Great Lakes. Hanya beberapa kilometer
lagi maka ia akan mendarat di laut. Malahan
balon itu berhenti di sana, di Mermaid.
Ketiga anak kami begitu beruntung, pikirnya. Mereka punya
dua orang tua yang sehat. Dia membayangkan
bagaimana anak perempuan mereka, Hailey, hampir berusia dua tahun,
akan rasakan kalau Wade akan meninggal.
Pagi berikutnya, Donna berkata kepada Wade: "Engkau benar.
Kita mendapat balon ini untuk suatu alasan. "Kita
harus mencoba menolong Desiree."
Di suatu toko buku setempat, Donna membeli sebuah buku
adaptasi The Little Mermaid. Beberapa hari kemudian,
Wade membawa pulang sebuah kartu ulang tahun yang bertulisan, "Untuk
Anak Perempuan Tersayang, Mengharapkan
Ulang Tahun yang Penuh Kasih."
Suatu pagi Donna duduk untuk menulis surat pada Desiree.
Ketika dia selesai, dia menyelipkan ke dalam kartu
ulang tahun dan membungkusnya bersama buku itu. Lalu, pada tanggal 3
Januari 1994, dia memposkan paket itu.
Hari ulang tahun kelima Desiree tiba dan berlangsung tenang
dengan suatu pesta kecil pada 9 Januari. Setiap hari
sejak mereka melepaskan balon, Desiree menanyai Rhonda, "Apa mama
kira Papa sudah menerima balon saya?"
Setelah pestanya, dia berhenti bertanya.
Pada larut siang tanggal 19 Januari, paket keluarga
MacKinnons datang. Sibuk memasak makan malam, Trish
melihat pada alamat kembali yang tidak dikenal dan menganggap itu
adalah hadiah ulang tahun untuk cucu
perempuannya dari seseorang di keluarga Ken. Rhonda dan Desiree sudah
pergi, jadi Trish memutuskan untuk
mengantarkannya ke Rhonda pada esok harinya.
Sewaktu Trish menonton TV malam itu, sebuah pikiran muncul
di benaknya. Kenapa seseorang megirimkan
bingkisan untuk Desiree ke alamat ini? Dia merobek bingkisan itu
untuk membukanya dan menemukan kartu, "Untuk
Anak Perempuan Tersayang........." Jantungnya berdebar. Ya Tuhan!
pikirnya, dan meraih telepon. Saat itu sudah lewat
tengah malam, tapi dia harus menelepon Rhonda.
Ketika Trish, yang matanya merah karena menangis, masuk ke
pekarangan Rhonda pada jam 06.45 keesokan
harinya, anak perempuan dan cucu perempuannya sudah menanti. Rhonda
dan Trish mendudukkan Desiree di antara
mereka di kursi panjang. Trish berkata, "Desiree, ini untukmu," dan
menyerahkan bingkisan itu kepadanya. "Ini dari
Papamu."
"Saya tahu," jawab Desiree dengan mantap. "Mari, nenek,
bacakan untuk saya."
"Selamat ulang tahun dari papamu," Trish memulai "Saya kira
engkau pasti ingin tahu siapa kami. Baik, semuanya
berawal di bulan November ketika suami saya, Wade, pergi berburu
bebek. Tebaklah apa yang kami temui? Sebuah
balon puteri duyung (Mermaid) yang kau kirim untuk papamu......."
Trish berhenti sejenak. Sebutir air mata mulai
membasahi pipi Desiree. "Tidak ada toko-toko di Surga, jadi papamu
menginginkan agar seseorang berbelanja
untuknya. Saya pikir dia memilih kami karena kami tinggal di sebuah
kota bernama Mermaid."
Trish meneruskan membaca, dia melihat ke Desiree. "Saya tahu
papamu ingin kamu bahagia dan tidak sedih.
Saya tahu dia sangat mencintaimu dan akan selalu mengawasimu. Dengan
ribuan cinta, keluarga MacKinnons."
Ketika Trish selesai membaca, dia melihat ke Desiree. "Saya
tahu Papa akan menemukan cara untuk tidak
melupakan saya," kata anak itu.
Sambil mengusap air mata dari matanya, Trish melingkarkan
lengannya pada Desiree dan mulai membaca buku
The Little Mermaid yang dikirim keluarga MacKinnons. Ceritanya
berbeda dari cerita yang sering dibacakan ayahnya
kepada anak itu. Dalam versi itu, Little Mermaid tinggal bahagia
selama-lamanya bersama seorang pangeran tampan.
Tapi dalam kisah yang baru, dia mati karena seorang tukang sihir yang
jahat telah mengambil ekornya. Tiga malaikat
membawanya pergi.
Ketika Trish selesai membaca, dia khawatir bahwa akhir
cerita itu akan mengecewakan cucu perempuannya. Tapi
Desiree menaruh tangannya di pipinya dengan senang. "Dia pergi ke
Surga!" Dia berteriak bahagia. "Itu sebabnya
kenapa Papa mengirim saya buku ini. Karena puteri duyung itu pergi
persis seperti dia!"
Pada pertengahan Februari, keluarga MacKinnons menerima
sepucuk surat dari Rhonda: "Pada tanggal 19
Januari, impian gadis kecil saya menjadi kenyataan ketika bingkisan
anda tiba."
Selama beberapa minggu berikutnya, keluarga MacKinnons dan
keluarga Gills sering menelepon satu sama lain.
Lalu bulan Maret, Rhonda, Trish dan Desiree terbang ke Kepulauan
Prince Edward untuk bertemu keluarga
MacKinnons. Sewaktu kedua keluarga itu berjalan melalui hutan di atas
sepatu salju untuk melihat lokasi di tepi danau
tempat Wade menemukan balon, Rhonda dan Desiree terdiam. Seakan-akan
Ken berada disana bersama mereka.
Hari ini meskipun Desiree ingin berbicara tentang Papanya,
ia masih menghubungi keluarga MacKinnons. Tidak
ada yang dapat menenangkannya selain berbicara beberapa menit di telepon."
"Orang-orang berkata kepada saya, "Kebetulan sekali balon
puteri duyungmu mendarat begitu jauh di tempat yang
disebut Mermaid Lake," kata Rhonda. "Tetapi kami tahu bahwa Ken
memilih keluarga ManKinnons sebagai jalan untuk
mengirimkan cintanya pada Desiree. Dia sekarang mengerti bahwa
ayahnya selalu bersamanya."
--
Posting oleh Laskar Cinta Damai ke
Laskar ST Setia pada 11/10/2012 10:03:00 AM