Laskar Pelangi adalah sebuah film drama Indonesia tahun 2008 yang disutradarai oleh Riri Riza dari skenario yang ditulis oleh Salman Aristo bersama Riri dan Mira Lesmana berdasarkan novel berjudul sama karya Andrea Hirata. Film ini diproduksi oleh Miles Films bersama Mizan Productions dan SinemArt.
Film Laskar Pelangi mencetak rekor film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan 4,6 juta penonton.[1][2] Rekor ini dipegang oleh film ini selama delapan tahun hingga dipatahkan oleh film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 pada tahun 2016.[3]
Untuk mencari pemeran tokoh-tokoh anggota Laskar Pelangi, Riri Riza melakukan casting di daerah Belitung dengan menggunakan pemeran-pemeran lokal dalam pembuatan film. Film ini juga diambil di lokasi yang sama, Pulau Belitung. Film ini memadukan 12 aktor Indonesia yang dikenal dengan kemampuan akting mereka dengan 12 anak-anak Belitung asli yang bertalenta akting.[4]
Mengkisahkan tentang Ikal (Zulfanny) anak asli Belitong yang berusaha keras mengejar mimpinya dengan bersekolah di salah satu SD yang hampir roboh bernama SD Muhammadiyah Gantong. Tahun 1974, Ikal kecil bersama ayahnya (Mathias Muchus) pergi ke sekolah SD Muhammadiyah Gantong untuk mendaftarkan Ikal disana. Sekolah tersebut diajarkan oleh Pak Harfan (Ikranagara) selaku kepala sekolah, serta dua guru Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Bakri (Teuku Rifnu Wikana). Sebagian besar siswa tersebut berasal dari kalangan keluarga miskin seperti Lintang (Ferdian) anak pesisir asal Tanjung Kelumpang yang tinggal bersama ayah dan tiga adik perempuannya, Mahar (Verrys Yamarno) yang sangat hobi mendengarkan musik melalui radionya, Kucai (Yogi Nugraha) ketua kelas yang ayahnya bekerja di tambang PN Timah, dan masih ada lagi. Sekolah tersebut memiliki aturan bahwa sekolah bisa membuka kelas baru jika jumlah siswanya sudah mencapai sepuluh siswa-siswi. Berbeda dengan sekolah lain seperti SD PN Timah yang setiap tahunnya selalu membuka kelas baru. Salah satu gurunya yaitu Pak Mahmud (Tora Sudiro) tertarik sama Bu Muslimah, walaupun Pak Mahmud pernah membuat Bu Muslimah agak sedikit tersinggung. Setelah lama menunggu, siswa-siswi yang terkumpul baru mencapai sembilan siswa. Ketika harapan tersebut hampir redup, datanglah seorang anak bernama Harun (Jeffry Yanuar) yang merupakan anak abk. Kehadiran Harun membuat sekolah ini akhirnya memiliki kelas baru.
Lima tahun kemudian tahun 1979, anak-anak SD Muhammadiyah menikmati kebahagian mereka di sekolah seperti anak-anak lainnya. Kadang-kadang kebahagian mereka membuat mereka sempat tidak menuruti apa kata Bu Muslimah. Tetapi dibalik itu semua, semangat mereka dalam belajar sangat tinggi. Seperti Lintang yang selalu datang telat karena harus menjaga adik-adiknya dulu sambil menunggu ayahnya pulang dari melaut, Lintang pun harus naik sepeda puluhan meter melewati rumput, menunggu buaya besar lewat, hingga akhirnya tiba di sekolah.
Album lagu tema film ini diproduseri oleh Mira Lesmana dengan lagu utama "Laskar Pelangi" yang dibawakan oleh grup musik Nidji. Sementara itu, lagu lainnya dibawakan oleh Sherina, Netral, Gita Gutawa, Ipang, Meng Float, Garasi, Gugun & The Bluesbug, dan salah satu lagu yang ditampilkan dalam film "Bunga Seroja" dinyanyikan oleh Verrys Yamarno yang memerankan tokoh Mahar.
Lagu-lagu yang ditampilkan dari album lagu tema tersebut antara lain "Laskar Pelangi" oleh Nidji sebagai lagu penutup, "Sahabat Kecil" oleh Ipang dalam adegan yang menggambarkan kegiatan anak-anak Laskar Pelangi saat libur sekolah dan "Bunga Seroja" oleh Verrys Yamarno dalam adegan Ikal berkhayal dihibur oleh Mahar dan semua teman. Sementara itu, lagu lainnya adalah lagu "Begadang 2" oleh Rhoma Irama dalam adegan Ikal akan bertemu A Ling untuk pertama kali.
"Tak Perlu Keliling Dunia" adalah lagu kelima dari album kompilasi Laskar Pelangi dan merupakan single ketiga dari keseluruhan single penyanyi Gita Gutawa. Lagu ini sendiri bermakna tidak jauh dari film Laskar Pelangi, yaitu mengajarkan bahwa kita tidak perlu keliling dunia untuk mencari yang terbaik, karena negeri kita sendiri sudah kaya akan yang terbaik. Lagu ini juga terinspirasi dari Ikal dalam film Laskar Pelangi yang sangat terpesona dengan kuku dari A Ling, dan mengatakan bahwa ia tidak perlu keliling dunia untuk menemukan kuku terindah, karena kuku terindah tersebut sudah ia temukan sendiri.
Skenario film Laskar Pelangi ditulis oleh Salman Aristo, Riri Reza, dan Mira Lesmana. Kesuksesan bukunya membuat Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Novelnya sendiri sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Laskar Pelangi dianggap sebagai sebuah novel yang inspiratif, terutama di bidang pendidikan. Selain itu filmnya berhasil mengangkat Kota Belitung sebagai salah satu kota dengan keindahan alam yang menakjubkan di Indonesia.
Novel mampu menceritakan apapun sesuai dengan keinginan penulisnya. Berbeda dengan film yang harus menyajikan cerita secara runtut. itulah mengapa penulisan skenario adalah faktor kunci dari berhasil tidaknya sebuah novel diadaptasi dalam film. Dalam penulisan skenario film laskar Pelangi, Salman Aristo beserta tim mampu menggambarkan novel Laskar Pelangi menjadi sebuah film yang bagus. Andrea Hirata, sang penulis novelnya memberikan pujian bahwa filmnya bisa lebih bagus dari novelnya.
Dalam skenarionya, Salman berusaha membuat sedikit perbedaan dari cerita asli dalam novel. Tujuannya agar cerita lebih hidup dan mampu menyentuh emosi dari para penonton. Misalnya: adanya tokoh bernama Mahmud yang menaruh hati pada Bu Muslimah, adegan saat meninggalnya Pak Harfan yang merupakan kepala sekolah SD membuat Bu Mus terpukul sehingga beliau tidak masuk sekolah dan akhirnya Lintang yang menggantikan mengajar teman-teman di sekolah. Padahal kedua adegan di novel ini tidak ada, tetapi justru adegan-adegan ini mampu mempercantik filmnya.
Namun meskipun skenario ini dinilai sangat baik, tetap saja beberapa hal yang mengecewakan penonton. Contohnya saat adegan karnaval yang di novelnya sendiri terlihat begitu megah dan menarik, tetapi kenyataannya dalam film tidak semegah yang dibayangkan dan kostum yang dikenakan anak-anak terkesan biasa saja. Selain itu juga adegan gatal-gatal setelah mereka mengenakan kostum karnaval buatan mereka sendiri, di dalam novel adegan tersebut sangat melekat dalam ingatan para pembaca namun saat di film justru dibuat ala kadarnya saja.
Nah, itulah sekilas pembedahan dari skenario dari film laskar pelangi. Memang dalam penulisan skenarionya tidak semua adegan dalam novel mampu divisualisasikan dengan baik. Namun filmnya mampu dinikmati oleh semua kalangan di Indonesia.
Mau bikin film seperti Laskar Pelangi? Mau belajar jadi filmmaker? Tertarik dengan dunia film? IDS International Design School menyediakan Program College Digital Film and Media Production, lho! Kamu bisa wujudkan impian kamu menjadi FilmMaker.
Sebelum kita membahas lebih dalam tentang laskar pelangi kita membahas tentang pengarang novel laskar pelangi. Pengarang novel tersebut adalah Andrea Hirata Seman Said Harun (lahir 24 oktober) adalah seorang penulis Indonesia yang berasal dari pulau Belitong, propinsi Bangka belitung. Novel pertamanya adalah novel Laskar Pelangi yang merupakan buku pertama dari tetralogi novelnya, yaitu :
Laskar Pelangi termasuk novel yang ada di jajaran best seller untuk tahun 2006-2007. Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains fisika, kimia, biologi, astronomi dan tentu saja sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cumlaude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom.
Dan akhirnya Andrea hirata membuat Novel Laskar Pelangi di jadikan menjadi film layar lebar. Sebagai tanda dimulainya proses syuting, Pendiri Miles Film, Mira Lesmana, Sutradara Laskar Pelangi Riri Riza, penulis skenario Salman Aristo, Andrea Hirata, dan sejumlah aktor dan aktris yang bakal berperan di Laskar Pelangi mengadakan acara syukuran di MP Book Point, Jalan Puri Mutiara, Jakarta Selatan, Senin (19/5) malam. Para aktor dan aktris yang hadir di acara itu antara lain Cut Mini, Ikranegara, Ario Bayu, Slamet Raharjo, Alex Komang, Mathias Muchus, dan Teuku Rifnu Wikana. Selain sejumlah artis ternama Indonesia lainnya juga bakal membintangi film yang turut melibatkan 10 orang anak yang benar - benar asli kelahiran Bangka Belitong (Belitung) tersebut.
"Ada Lukman Sardi, Tora Sudiro, Rieke Diah Pitaloka, Robbie Tumewu, dan Jajang C Noer. Sedangkan 10 anak Belitong yang bakal main dalam film ini merupakan hasil casting dari 1000-an anak Belitong yang datang waktu casting yang kita selenggarakan di Belitong. Di sini sang sutradara adalah juru kunci dalam perfilman dengan nama Mohammad Rivai Riza atau yang lebih dikenal dengan nama Riri Riza (lahir di Makassar, 2 atau 7 Oktober 1970) adalah seorang sutradara berbakat, penulis naskah, produser film asal Indonesia. Dia muncul pertama kali sebagai sutradara melalui film Kuldesak pada tahun 1998. Lulusan Institut Kesenian Jakarta ini sering berkolaborasi dengan sahabatnya, Mira Lesmana dalam pembuatan film.Sebagai sutradara Laskar Pelangi (film), 3 Hari untuk Selamanya (dalam produksi;2007), Untuk Rena (2005), Gie (2005), Eliana, Eliana (2002), Petualangan Sherina (2000), Kuldesak (1998)
Laskar pelangi adalah salah satu film yang menurut saya fenomenal dengan latar cerita setelah pertama Film dibuka sampai gambar indah panorama Belitung,kesitidak karyawan tambang timah sampai narasi tokoh utama,Haikal, yang menceritakan kilas balik perjalanan hidupnya.Sampai kemudian gambar menunjukkan sebuah bangunan reyot dari kayu sampai papan nama hijau bertuliskan "SD Muhammadiyah ".Disitulah cerita itu berpusat.Cerita tentang kegigihan seorang lelaki tua-diperankan oleh Ikranegara-mempertahankan keberadaan sebuah sekolah.Sebuah sekolah yang disebutnya menilai kecerdasan anak tidak sampai angka-angka tapi sampai hati.Cerita tentang idealisme seorang guru perempuan yang menolak tawaran - tawaran mengajar di tempat lain demi keinginan untuk mengajari anak -anak miskin yang berada disekolah tersebut.
b1e95dc632