Cross Docking

67 views
Skip to first unread message

Rifan Santoso

unread,
Jan 9, 2012, 9:28:48 PM1/9/12
to STD UTama
Cross Docking


Cross docking di Indonesia bukan hal yang baru. Hampir seluruh sopir-
sopir truck sudah faham benar bagaimana cross docking ini dilakukan.
Hanya saja, mereka tidak pernah tahu apa itu namanya cross docking
karena secara umum mereka menyebutnya pok.

Definisi cross docking adalah pemindahan barang dari truck pada proses
penerimaan barang langsung kedalam truck pengiriman. Proses ini
sebenarnya adalah bagian daripada proses efisiensi penerimaan barang
selain proses bulk storage (penyimpanan paletisasi) dan proses
racking.

Pada dasarnya cross docking merupakan proses pemendekan pengiriman
langsung dari penerimaan barang tanpa melalui proses put away, refill
dan picking.


Cross Docking adalah suatu tipikal pergudangan dimana produk dari
berbagai macam supplier diterima di dalam satu fasilitas gudang yang
kemudian digabungkan untuk tujuan pengiriman yang sama lalu
diberangkatkan dengan waktu yang secepatnya tanpa harus disimpan di
dalam gudang.
Nama gudang tipe ini adalah NON PUT AWAY DISTRIBUTION MODELS. beberapa
tipe gudang ini antara lain :
1. Flow Through
2. Merge-in-transit
3. Plant direct shipping
4. DC bypass
Arti secara umum untuk gudang jenis ini adalah gudang transit karena
dalam sistem ini hanya mengenal istilah "zero inventory" sehingga
tidak ada penyimpanan barang. Gudang ini tidak memerlukan tempat yang
luas dan hanya meletakkan barangnya diatas palet (tidak memerlukan
rak)

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kecepatan supply chaine dan
mengurangi biaya tenaga kerja.




Persyaratan Cross Docking


1.Barang diterima = barang dikirimkan.
Jika seluruh barang yang diterima gudang merupakan barang yang akan
dikirimkan, dengan kata lain, barang yang diorder adalah barang yang
sedang diterima digoods receiving, maka ini adalah kondisi ideal untuk
melakukan cross docking. Untuk mencapai kondisi ini diperlukan kerja
sama yang erat antara bagian order barang, purchasing dan distributor/
principal dalam menentukan jenis dan kuantiti barang yang dikirim.
Bagian yang paling ‘direpotkan’ jika kondisi ini akan dicapai adalah
si distributor/principal dalam menyiapkan barangnya. Bisa saja gudang
mengatur untuk 1 truck penerimaan akan di cross dockingkan kepada 2
atau 3 tujuan dengan 2 atau 3 truck yang berbeda, syaratnya adalah
barang disiapkan oleh distributor/principal dalam satuan yang sudah
tepat sesuai satuan ordernya.

2.Tersedia lokasi yang memadai.
Lokasi ini digunakan untuk membongkar barang terlebih dahulu digudang.
Barang yang akan dinaikan langsung ke truck keberangkatan ditinggalkan
dan sisanya disimpan dilokasi rak. Dengan cara ini maka gudang
setidaknya sudah menghemat ½ aktifitas picking yang tidak dilakukanya.
Disamping itu juga perlu disiapkan luasan loading dock yang sesuai
agar cross docking dapat cepat dilaksanakan.

3.Kuantitas jenis barang yang terbatas.
Cross docking akan semakin efektif jika jenis barang yang akan di
cross dockingkan tidak terlalu banyak, tetapi dalam kuantitas yang
banyak.

4.Jadual kedatangan truck sama dengan jadual keberangkatan.
Hal ini yang terkadang sulit diatur. Untuk mencapai kondisi ini –
sekali lagi-- diperlukan kerja sama yang erat dengan konsumen dan
distributor/principal. Pengaturan jadual yang sesuai antara kedatangan
dan keberangkatan sangat mungkin jika outlet yang dikirimkan tidak
terlalu banyak.

5.Jenis truck yang sepadan.
Bayangkan jika truck kedatangan mempergunakan tronton dengan kapasitas
20 ton, tetapi truck yang tersedia hanya 2 engkel fuso. Jelaslah
mustahil melakukan cross docking dengan baik. Kesepadanan jenis truck
merupakan syarat pemercepat dalam proses cross docking

6.Dokumentasi yang mantap.
Ini penting dikarenakan cross docking yang murni adalah pemindahan
antar truck.
Pastikan bahwa dokumen keberangkatan mempunyai data kuantitas barang
yang sama dengan barang yang datang, tetapi bertujuan berbeda.

Keuntungan Cross Docking
Tanpa perlu memperdebatkan, keuntungan cross docking secara umum dapat
mencapai 50% lebih efisiensi dibandingkan pola distribusi secara
tradisional. Keuntungan ini dihasilkan dengan tidak dilakukannya
proses-proses normal daripada proses pergudangan.
Jika gudang sudah dapat melakukan cross docking dengan normal dan
lancar, maka proses efisiensi dapat lebih ditingkatkan dengan
melakukan proses pengiriman langsung ke konsumen (direct delivery).
Tentunya untuk mencapai kondisi ini tantangan yang akan dihadapi akan
lebih besar.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages