Anggi Vektori (0509U034) , Marchiano Prasasti (0509U011) , Devan Pratoro (pengemasan dan penanganan transportasi ikan hidup)

1,453 views
Skip to first unread message

anggi vektori

unread,
Dec 20, 2011, 10:30:09 AM12/20/11
to STD UTama
Pengemasan dan Penanganan Transportasi Ikan Hidup
Ada 2 sistem pengemasan yang biasa di lakukan untuk transportasi ikan
hidup :

1. Pengemasan Ikan Sistem Terbuka

Yaitu ikan hidup yang diangkut dengan wadah atau tempat yang media
airnya masih dapat berhubungan dengan udara bebas. Pengankutan system
ini biasa digunakan untuk pengangkutan jarak dekat dan membutuhkan
waktu yang tidak begitu lama. Terdapat kelebihan dan kekurangan dari
system ini. Kelebihannya antara lain difusi oksigen melalui udara ke
media air masih dapat berlangsung, dapat dilakukan penambahan oksigen
melalui aerator, dan dapat dilakukan pergantian air sebagian selama
perjalanan. Sementara kekurangannya dapat membahayakan ikan dan tidak
dapat dilakukan untuk pengiriman menggunakan pesawat terbang. Sistem
ini sangat cocok untuk pengiriman ikan ukuran konsumsi.

2. Pengemasan Ikan Sistem Tertutup

Yaitu pengemasan ikan hidup yang dilakukan dengan tempat atau wadah
tertutup, udara dari luar tidak dapat masuk kedalam media tersebut.
Pengemasan dengan cara ini dapat dilakukan untuk pengangkutan jarak
jauh. Seperti halnya dengan system terbuka, pengemasan system tertutup
ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain
media air tahan terhadap guncangan selama pengangkutan, dapat
dilakukan untuk pengangkutan jarak jauh (dengan pesawat terbang),
memudahkan penataan dalam pemanfaatan tempat selama pengangkutan.
Sementara kekurangannya antara lain adalah media air tidak dapat
bersentuhan dengan udara langsung (tidak ada difusi oksigen dari
udara) sehingga tidak ada suplai oksigen tambahan, tidak dapat
dilakukan pergantian air, dan memerlukan kecermatan dalam
memperhitungkan kebutuhan oksigen dengan lama waktu perjalanan.

Pengangkutan Ikan Air Tawar

Baik ukuran benih maupun ukuran konsumsi atau dalam kondisi mati segar
atau kondisi hidup dapat dilakukan dengan pengangkutan melalui darat,
laut dan udara. Pengangkutan ikan yang berjarak jauh lebih aik bila
menggunakan jalur udara. Walaupun pesawat lebih mahal dari sarana
angkutan lainnya, tetapi waktu perjalanannya lebih singkat. Hanya
saja, pengangkutan ikan dengan pesawat lebih rumit dibandingkan dengan
sarana transportasi darat dan laut karena harus memenuhi beberapa
persyaratan, misalnya kelengkapan dokumen pengurusan dokumennya.
Dalam pengangkutan ikan hidup, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan antara lain;

• Jenis ikan, ukuran ikan, dan kepadatan ikan yang akan mempengaruhi
sarana pengangkutan.
• Sistem kemasan, kemasan dapat menggunakan system tertutup atau
terbuka.
• Jarak tempuh, jarak yang jauh perlu mempertimbangkan sarana
transportasi dan system kemasan.

Suhu harus dapat dipertahankan mendekati suhu normal karena
peningkatan pada waktu pengangkutan dapat menyebabkan ikan stress.
Untuk mempertahankan suhu, sebaiknya diberi pecahan es batu disekitar
media kemasan dengan perkiraan 10% dari banyaknya air media angkutnya.

Mengangkut Ikan Hidup Dengan Sekam

Ikan yang diangkut (biasanya ikan air tawar) disuruh berpuasa,
mensucikan diri dalam bak air mengalir. Jadi biar mengeluarkan isi
perut dulu sebanyak-banyaknya, sehingga kalau diangkut nanti tidak
akan minta permisi untuk pergi ke belakang lagi di tengah jalan. Kalau
tidak ada air mengalir, ya pakai air berhenti juga boleh, asal dialiri
udara dengan aerator seperti yang biasa dipakai untuk memelihara ikan
hias di akuarium itu, agar mereka tidak megap-megap karena sesak
napas.

Ikan dipingsankan

Proses pengosongan perut/puasa sudah dimulai sehari sebelum
keberangkatan rombongan. Esok harinya, pagi-pagi benar ikan-ikan yang
sudah “suci” bersih itu disuruh pingsan, dengan jalan dimasukkan ke
dalam air es. Jadi tidak akan meronta-ronta, menggelepar lagi sewaktu
ditangani untuk persiapan pengangkutan.
Sementara itu, disiapkan sekam padi yang sebelumnya juga sudah
didinginkan dalam air es, dan ditiriskan air kelebihannya. Maksudnya
agar suhunya bisa sama dinginnya dengan suhu ikan-ikan pingsan nanti.
Jadi tidak akan menyerap dan menurunkan suhu dingin dari ikan-ikan
yang sudah digarap.
Setelah bergelimpangan pingsan semua, ikan-ikan dibungkus satu per
satu dengan kertas, agar insangnya tidak akan kemasukan sekam padi
ketika mereka disusun dalam kotak yang berisi sekam.
Kotak pengangkut ini terbuat dari seng nirkarat atau aluminium yang
dinding gandanya diberi bahan penyekat. Jadi suhu dalam ruangan kotak
dapat tahan lama dingin terus, selama diangkut. Kotak jadi bertugas
sebagai semacan termos atau lemari es mini untuk mempertahankan
temperatur yang diangkut agar tetap dingin.
Bungkusan ikan disusun dalam kotak ini, yang dasarnya diberi selapis
tebal sekam padi dingin lembap yang sudah selesai ditiriskan
sebelumnya. Selesai disusun, deretan ikan dibekali hancuran es dalam
kantung plastik kecil tapi banyak, agar suhunya tetap dingin. Semuanya
kemudian ditimbuni selapis sekam padi dingin yang lembap lagi, sebelum
ditumpuki deretan ikan bungkus bersama kantung es lagi. Begitu
seterusnya, ikan disusun berselang-seling dengan lapisan tebal sekam
padi.
Selesai pengisian, kotak ditutup rapat dan dapat diangkut dengan
kendaraan bermotor ke tempat pedagang ikan eceran. Dibanting-banting
juga tidak akan mengganggu ikan hidup yang sudah dibuat setengah mati
itu.
Tiba di tempat tujuan, ikan perlu dibangunkan, sebelum dapat dijajakan
di pasar konsumen. Untuk itu perlu disediakan ember plastik berisi air
segar yang dialiri udara dari aerator.
Pengaliran udara ini perlu, agar air senantiasa bergolak, dan
menggoyang-goyang ikan tidur nyenyak supaya lekas siuman kembali. Baru
sesudah tampak bugar, tidak loyo lagi, mereka dipindah ke ember lain
berisi air biasa yang segar, untuk dipajang di gerai los pasar ikan.
Cara ini lebih simpel kelihatannya daripada cara pengangkutan dengan
air dalam tangki truk pengangkut, seperti yang sejauh ini sudah biasa
dilakukan. Tetapi yang menyebalkan ialah, membungkus ikan pingsan itu
satu per satu dalam lembaran kertas, kemudian menyusun bungkusan ikan
selapis demi selapis dalam kotak berisi sekam. Dalam taraf eksperimen
yang hanya menyangkut beberapa ekor ikan saja, cara itu boleh jadi
tidak bermasalah. Tetapi kalau sudah berskala komersial, dan
menyangkut beberapa puluh ekor ikan, berapa lama yang diperlukan untuk
membungkus ikan itu satu per satu dengan kertas? Perlu tenaga kerja
terampil yang tidak sedikit untuk mengemas ikan secepat-secepatnya
jangan sampai waktu angkut jadi berkurang karena habis terpakai untuk
bungkus-bungkus.
Cara ini masih perlu percobaan dan pengembangan lebih lanjut, yang
bertujuan mengefisienkan proses penanganan ikan hidup, sehingga kalau
diterapkan besar-besaran dalam skala komersial, hasilnya masih oke.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages