Dalamacara, wanita 31 tahun tersebut mengingatkan pemerintah untuk mematuhi peraturan yang ditetapkan bagi negara anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atau WTO Rules terkait ekspor nikel. Pemerintah Indonesia disarankan mencermati WTO Rules itu agar bisa beradaptasi terhadap WTO Rules demi kebermanfaatan bagi masyarakat.
Ia menganalisis, China yang baru masuk WTO pada 2001 dapat berkembang ketimbang Indonesia. Padahal, Pemerintah Indonesia sudah menjadi anggota WTO sejak 1995. Ia menduga hal ini salah satunya disebabkan Indonesia tidak patuh pada aturan WTO itu sendiri.
Elisa yang kini tengah menyelesaikan studi lanjutan MBA Digital Business di EU Business School menegaskan, peluang Indonesia untuk menang dalam banding ekspor bijih nikel melawan Uni Eropa di WTO sangatlah besar.
Keputusan Panel WTO memang sudah keluar pada 17 Oktober 2022. Hasilnya kebijakan larangan ekspor bijih nikel Indonesia dinilai telah melanggar Pasal XI.1 GATT 1994 dan tidak dapat dijustifikasi dengan Pasal XI.2 (a) XX (d) GATT 1994. Atas putusan tersebut, Pemerintah Indonesia mengajukan banding.
Peluncuran buku Nikel Indonesia tersebut dihadiri Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Cahyo Purnomo, pejabat Kemendag, Arie Rahmatika, Presidium MN KAHMI, Sutomo, Ketua Bidang Konservasi Energi MN KAHMI, Farid Djavar, dan Direktur Eksekutif FDN, Justin Jogo.
Tampak Hakim Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) 2013-2015, Hamdan Zoelva, dosen Hukum Internasional UI, Arie Afriansyah, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, dan Ketua Umum PB HMI, Raihana menyampaikan penilaian yang sangat positif bagi terbitnya buku ini.
Sementara, Nurul Ichwan menyampaikan bahwa buku Nikel Indonesia memberi gambaran komperhensif yang nyata tentang perbenturan kepentingan ekonomi nasional berbasis hilirisasi komoditas unggulan, nikel, dengan hegemoni globalisasi yang dipimpin oleh negara maju pemilik kapital dan teknologi.
Buku Nikel Indonesia tidak hanya membahas sengketa perdagangan Uni Eropa dan Indonesia, tapi juga mempertanyakan mengapa nikel begitu penting di mata Uni Eropa dan dunia kini. Bagaimana perkembangan nikel hingga menjadi komoditas yang diperhitungkan dan bagaimana Indonesia mencoba melepas hegemoni barat dalam perdagangannya?. Nilai strategis apa yang dapat diberikan dari komoditas nikel?.
Adapun maksud diterbitkan buku Nikel Indonesia ini sebagai upaya diseminasi gagasan sekaligus membuka ruang dialog terhadap pemanfaatan SDA agar seluruh pihak terbuka dengan persoalan yang dihadapi negerinya. Dengan demikian, manfaat keilmuan, khususnya dalam bidang hukum perdagangan internasional, tidak akan ditinggalkan. Dan, yang paling utama buku ini memberikan pemahaman bagaimana perdagangan hukum perdagangan internasional bekerja dalam ketidakpopulernya dan menunjukkan perannya dalam pengaturan perdagangan barang dan jasa internasional (Global Value Chain in Trade).
Pontianak, Gatra.com - Forum bedah buku Nikel Indonesia: Kunci Perdagangan Internasional karya Elisa Sugito ikut meramaikan semarak Kongres HMI XXXII di Kluwiland Pontianak pada Senin (27/11) kemarin.
Dalam forum bedah buku itu, turut menghadirkan tokoh HMI Pontianak dan para kandidat Ketua Umum PB HMI sebagai penanggap. Para penanggap tersebut antara lain Ketua Jurusan Sosiologi dan FISIP Universitas Tanjungpura, Syarifah Ema Rahmaniah; Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, Muhammad Jusrianto; Ketua Bidang Digitalisasi dan Inovasi PB HMI sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, Vidiel Tania Pratama; dan Ketua Umum HMI Badko Sulselbar sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, A. Ikram Rifqi.
Forum bedah buku Nikel Indonesia: Kunci Perdagangan Internasional yang ditulis oleh jebolan jurusan Hukum Perdagangan Internasional FH UI itu berjalan dengan penuh antusias dari para peserta. Setidaknya ada 300 orang peserta dari berbagai daerah yang tersebar di seluruh Indonesia baik dari kalangan mahasiswa, praktisi, maupun akademisi.
"Semangat untuk menulis buku ini dan mengulik tentang Nikel Indonesia timbul untuk pertama kalinya ketika saya sedang menempuh S1 pada tahun 2015 silam. Pada waktu itu saya sudah sangat penasaran terkait dengan potensi nikel di Indonesia. Oleh karena alasan itu saya mengambil langkah untuk melihat nikel ini dari sisi international business nya dimulai dari skripsi, tesis, hingga pada akhirnya terbitlah buku ini," ujar jebolan S2 FH UI itu.
Para penanggap pada forum bedah buku itu melihat bahwa buku ini memiliki substansi yang sangat amat penting karena membahas secara mendalam mengenai potensi nikel Indonesia. Daya tawar Indonesia dalam perdagangan Internasional sampai pada langkah strategis terkait dengan proses hilirisasi, penyelesaian sengketa di WTO, dan implikasi hukum yang akan timbul.
"Buku ini dapat memberikan pemahaman baru kepada masyarakat secara umum dan khususnya kalangan anak muda Indonesia terkait dengan Nikel Indonesia untuk lebih sadar akan hal ini. Saya lihat tentunya dengan penataan kebijakan nikel secara benar oleh pemerintah akan memberikan efek sosiologis yang nyata ke masyarakat," ungkap Syarifah Ema Rahmaniah pakar ilmu sosiologi dari Universitas Tanjungpura itu.
"Potensi nikel yang dimiliki saat ini dilihat pemerintah Indonesia menjadi komoditas yang menjanjikan di tengah penggunaan energi hijau yang sedang sedang masif. Hal ini dapat dilihat dari dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan," ujar lulusan International Trade Law Universitas Indonesia (UI) itu.
"Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik yang salah satu komponen utamanya berasal dari turunan nikel. Atas hal ini lah Indonesia bisa memainkan peranan kunci untuk mendapatkan nilai tambah dari nikel untuk digunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat Indonesia," tambahnya.
"Saya melihat bahwa masa depan nikel dunia berada di Indonesia. Hal ini bukan tanpa sebab, karena saya melihat dari hasil produksi tahunan Indonesia yang mencapai 21 juta ton dan ini menyumbang 30% global supply di tahun 2021. Terlebih lagi berdasarkan data US Geological Survey, cadangan nikel Indonesia mencapai 21 juta metrik ton, yang menjadikan Indonesia sebagai pemain utama nikel dunia, disusul oleh Australia dengan cadangan nikel yang mencapai 19 juta metrik ton," ujar Elisa Sugito.
Setidaknya ada 300 orang peserta dari berbagai daerah yang tersebar di seluruh Indonesia baik dari kalangan mahasiswa, praktisi, maupun akademisi. Dalam forum bedah buku ini, Elisa menjelaskan alasannya menulis buku mengenai Nikel Indonesia terinspirasi dari tesisnya.
Elisa menambahkan dengan adanya potensi produksi nikel Indonesia yang besar, maka dapat menjadikan Indonesia sebagai negara makmur. Ia meyakini potensi nikel yang dimiliki Indonesia menjadi komoditas yang menjanjikan di tengah penggunaan energi hijau yang sedang masif.
"Hal ini dapat dilihat dari dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan," ujar lulusan International Trade Law Universitas Indonesia (UI) itu.
"Buku ini dapat memberikan pemahaman baru kepada masyarakat secara umum dan khususnya kalangan anak muda Indonesia terkait nikel Indonesia untuk lebih sadar akan hal ini. Saya lihat tentunya dengan penataan kebijakan nikel secara benar oleh pemerintah akan memberikan efek sosiologis yang nyata ke masyarakat," ujar akademisi dari Universitas Tanjungpura, Syarifah Ema Rahmaniah.
Para penanggap tersebut antara lain Ketua Jurusan Sosiologi dan FISIP Universitas Tanjungpura, Syarifah Ema Rahmaniah; Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, Muhammad Jusrianto, Ketua Bidang Digitalisasi dan Inovasi PB HMI sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, Vidiel Tania Pratama dan Ketua Umum HMI Badko Sulselbar sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, A Ikram Rifqi
Hal ini menurut Elisa Sugito karena pengelolaan yang dilakukan pemerintah belum baik. Ini dapat terlihat, daerah penghasil tambang-tambang besar di tanah air justru merupakan daerah-daerah yang terbilang miskin.
Dalam buku ini Elisa Sugito menuliskan sikap nasionalisme pemerintah akan sumber daya nikel ini memiliki konsekuensi yang sebagaimana telah diresahkan oleh Uni Eropa. Bagi Uni Eropa, tidak peduli bahwa kebijakan tersebut diterapkan demi kepentingan nasional.
Indonesia dianggap inkonsisten karena diduga melanggar aturan WTO. Yaitu pasal XI Perjanjian Umum tentang Tarif dan Perdagangan atau General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) 1994 tentang pembatasan ekspor impor.
Pelanggaran tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) nomor 11 tahun 2019 dan dilaksanakan mulai 1 Januari 2020. Jika gugatan Uni Eropa ini dapat dibuktikan di persidangan WTO, Indonesia dapat disalahkan karena melarang ekspor.
Dalam penelitian ini ditemukan fakta bahwa negara-negara yang telah melakukan pelarangan ekspor dapat disalahkan berdasarkan aturan WTO. Tetapi ada juga negara yang tidak dapat disalahkan asalkan sesuai dengan ketentuan General Exeption. (*)
INDUSTRY.co.id, Pontianak-Elisa Sugito, S.H., M.H., CLA, CTL salah satu pakar hukum perdagangan internasional mengadakan forum bedah buku Nikel Indonesia: Kunci Perdagangan Internasional di Kluwiland Pontianak, Senin 27 November 2023 dalam rangka semarak Kongres HMI ke XXXII.
Forum bedah buku tersebut dihadiri juga oleh Dr. Syarifah Ema Rahmaniah selaku Ketua Jurusan Sosiologi dan FISIP Universitas Tanjungpura, Muh. Jusrianto, M.Si selaku Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, Vidiel Tania Pratama, ST.,MM selaku Ketua Bidang Digitalisasi dan Inovasi PB HMI sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI, dan A. Ikram Rifqi,SKM.,M.Sc. selaku Ketua Umum HMI Badko Sulselbar sekaligus Kandidat Ketua Umum PB HMI. Dalam forum bedah buku tersebut berjalan dengan sangat meriah karena dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai daerah yang tersebar di Indonesia baik dari kalangan mahasiswa, praktisi, maupun akademisi.
3a8082e126