“Kebiasaan Gereja perdana diteruskan dalam Gereja kuno pada zaman para
Bapa Gereja. Pada masa itu dikembangkan suatu upacara khusus, baik
untuk mengucilkan seseorang maupun untuk menerima-nya kembali di
kalangan Gereja. Orang yang memberi sandungan karena perbuatan jahat
(membunuh, merampok, zinah, dan murtad), bila mengaku dosanya di
hadapan uskup, ditempatkan di kalangan orang yang menjalankan laku
tapa. Mereka mempunyai tempat khusus di gedung gereja (atau di
mukanya), mempunyai pakaian khusus dan diwajibkan berpuasa, berdoa,
dan memberi sedekah. Mereka tidak boleh ikut serta dengan perayaan
Ekaristi, dan diperlakukan sebagai ‘katekumen’, yakni orang yang belum
dibaptis dan belum menjadi anggota Gereja. Setelah selesai masa tobat,
yang ditetapkan oleh uskup, mereka – biasanya pada Kamis Putih –
diterima kembali di kalangan Gereja, oleh uskup juga. Maka jelas ada
suatu upacara khusus, baik untuk pengucilan maupun untuk penerimaan
kembali.
Yang pokok dalam ibadat suci itu ialah tobat sendiri atau laku tapa”
(KWI: IMAN KATOLIK, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal
431). Hari ini adalah Rabu Abu, awal masa prapaskah, masa tobat atau
masa retret agung umat. Mulai hari ini, selama kurang lebih 40 hari,
kita diajak mawas diri perihal hidup keimanan dan keagamaan kita,
panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Maka baiklah kita
renungkan sabda Yesus hari ini.
“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik.
Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang
berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat
upahnya.Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan
cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang
berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.
Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
(Mat 6:16-18)
Berpuasa atau lakutapa memiliki tujuan, antara lain: “(1) menyilih
dosa-dosa masa lampau, (2) mengalahkan diri, maksudnya: supaya nafsu
taat kepada budi, dan semua kemampuan-kemampuan yang lebih rendah
makin tunduk kepada yang lebih luhur, dan (3) untuk mencari dan
mendapatkan suatu rahmat atau anugerah, yang dikehendaki atau
diinginkan” (St. Ignatius Loyola: LR no 87):
(1). “Menyilih dosa-dosa masa lampau” berarti menyesali dosa yang
telah dilakukan serta tidak melakukan lagi dosa yang sama. Agar
penyesalan berhasil dengan baik hendaknya mengaku dosa secara pribadi
di hadapan imam/pastor, agar dengan rahmat kasih pengampunanNya kita
mampu meninggalkan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Maka baiklah
memasuki masa Prapaskah ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri
dengan baik, agar semakin mengenali dan menghayati diri sebagai orang
berdosa yang dipanggil Tuhan.
(2). Berusaha “supaya nafsu taat kepada budi dan semua kemampuan lebih
rendah tunduk kepada kemampuan lebih luhur” memang harus bekerja
keras. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat
hal-hal yang positif dan tidak berpangku tangan serta selalu gigih dan
sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit:
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakatta 1997,
hal 10). Dalam bekerja keras memang tidak boleh bermuka muram,
melainkan ceria, gembira dan bergairah, dan juga tidak perlu mencari
muka, sanjungan atau pujian dari orang lain. Kita memiliki aneka macam
nafsu, antara lain nafsu makan dan minum serta seksual, maka hendaknya
dalam hal makan dan minum maupun melakukan hubungan seksual sungguh
masuk akal dan demi kesehatan atau kebugaran tubuh/phisik maupun
rohani (jiwa dan hati). Hendaknya menjauhi aneka mabuk-mabukan atau
pesta pora; demikian pula hubungan seksual hendaknya merupakan
perwujudan kasih, sehingga setelah hubungan seksual saling mengasihi
dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga. Itulah kiranya
yang dimaksud dengan mengusahakan kemampun lebih rendah tunduk kepada
yang lebih luhur: makan dan minum serta hubungan seksual merupakan
ungkapan atau perwujudan kasih.
(3) “Mencari atau mendapatkan rahmat atau anugerah, yang diinginkan
atau dikehendaki” berarti dengan penuh harapan dan keterbukaan diri
terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan atau kebaikan/rahmat
Tuhan yang menjadi nyata dalam kasih dan kebaikan saudara-saudari
kita. Untuk itu antara lain kita lakukan dengan berdoa. Berdoa
pertama-tama dan terutama mendengarkan dengan rendah hati, maka
baiklah dengan rendah hati kita dengarkan aneka macam nasihat, kita
lihat dan imani aneka kebaikan Tuhan melalui cara hidup dan cara
bertindak saudara-saudari kita yang terarah pada diri kita, yang lemah
dan rapuh ini. Berdoa hendaknya dilakukan di ‘tempat tersembunyi’
artinya secara pribadi sehingga tidak ada gangguan dari orang lain.
Hemat saya tempat tersembunyi ada di tempat tinggal atau rumah kita
masing-masing, antara lain kamar tidur atau WC/toilet. Fungsikan
tempat-tempat tersebut sebagai tempat berdoa secara pribadi. Maka
prapaskah juga masa
untuk meningkatkan dan memperdalam hidup doa.
“Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu
jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu
terima.” (2Kor 6:1)
Kita semua memiliki tugas, entah tugas belajar maupun bekerja. Marilah
kita hayati bahwa tugas belajar maupun bekerja merupakan kasih karunia
Allah, yang kita terima melalui orang-orang yang berbuat baik kepada
kita. Karena kasih karunia Allah hendaknya dihayati dan dilaksanakan
sesuai dengan kehendak Allah, dan secara konkret belajar atau bekerja
sesuai dengan tata tertib atau aturan yang berlaku. Selain tugas
belajar atau bekerja, panggilan hidup kita entah sebagai suami/isteri,
imam, bruder atau suster juga merupakan kasih karunia Allah, maka
baiklah memasuki masa Prapaskah ini masing-masing dari kita mulai
mawas diri perihal panggilan masing-masing. Berikut saya sampaikan
bantuan sederhana untuk mawas diri:
(1). Suami atau isteri hendaknya menyadari dan menghayati bahwa
pasangan hidupnya merupakan kasih karunia Allah atau kado dari
Allah,yang telah mengasihi kita. Sebagaimana sering kita alami ketika
menerima kado dari yang terkasih senantiasa terkenang pada kado
tersebut dan mengasihinya, maka baiklah antar suami dan isteri saling
mengenang dan mengasihi. Ingat bahwa anda pernah berjanji untuk saling
mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai
mati, maka baiklah mawas diri perihal janji perkawinan dan di malam
Paskah nanti kita perbaharui janji tersebut dalam upacara pembaharuan
janji baptis.
(2) Imam, bruder atau suster telah berjanji untuk menjadi
‘sahabat-sahabat Yesus’ artinya mau meneladan cara hidup Yesus sebagai
perwujudan persembahan diri secara total dan radikal kepada Allah.
Maka kami mengajak rekan-rekan imam, bruder atau suster untuk mawas
diri perihal persembahan diri total dan radikal. Secara konkret
marilah mawas diri perihal trikaul: keperawanan, ketaatan dan
kemiskinan, dan pada waktunya nanti di hari Kamis Putih atau Malam
Paskah memperbaharui janji imamat atau kaul.
(3). Sebagai orang yang telah dibaptis kita telah berjanji hanya mau
mengabdi Tuhan saja serta menolak godaan setan. Penghayatan janji
baptis merupakan dasar dan kekuatan bagi janji perkawinan, imamat
maupun kaul. Maka baiklah kita bersama-sama sebagai yang telah
dibaptis mawas diri perihal janji baptis tersebut, dan baiklah juga
mengenangkan santo atau santa yang menandai nama kita ketika dibaptis.
Semoga upacara pembaharuan janji baptis di Malam Paskah nanti
merupakan kebangkitan kembali dalam mengabdi Tuhan saja serta menolak
semua godaan setan.
“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah
pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku
seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab
aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan
dosaku.Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan
melakukan apa yang Kauanggap jahat”
(Mzm 51:3-6a)
Jakarta, 9 Maret 2011
Note: renungan sebelumnya, buka: www.ekaristi.org