9 April 2011 : “Mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,” (Yer 11:19-20; Yoh 7:40-53)

1 view
Skip to first unread message

A.S.Wipur Byantoro

unread,
Apr 8, 2011, 6:57:21 AM4/8/11
to gerejakatoliktambun, stasi-sanpera-garchive-19243
“Mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,”
(Yer 11:19-20; Yoh 7:40-53)
‘Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan
perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan
datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi
berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci
mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung
Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Maka timbullah pertentangan di
antara orang banyak karena Dia.Beberapa orang di antara mereka mau
menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani
menyentuh-Nya.Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala
dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu
tidak membawa-Nya?" Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang
manusia berkata seperti orang itu!" Jawab orang-orang Farisi itu
kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara
pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara
orang-orang Farisi?Tetapi orang
 banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah
mereka!"Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang
kepada-Nya, berkata kepada mereka:"Apakah hukum Taurat kita menghukum
seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang
telah dibuat-Nya?" Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea?
Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang
datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,”
(Yoh 7:40-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•    Terjadi ketegangan antar orang-orang yang percaya kepada Yesus
dan yang tak percaya, itulah isi Warta Gembira hari ini. Berbagai
ketegangan macam ini juga sedang terjadi di negeri kita tercinta
Indonesia ini maapun dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara dimanapun juga. Di Indonesia misalnya akhir-akhir ini
terjadi ketegangan sekitar PSSI, yang mengurus persepak-bolaan di
Indonesia, pertandingan dan ketegangan tidak hanya terjadi antar klub
sepak bola yang sedang bermain di lapangan, tetapi juga terjadi antara
pengurus PSSI dan para calon penggantinya beserta para pendukungnya.
Ketegangan politik juga terjadi dan dibelokkan menjadi ketegangan
hidup bergama. Akhirnya “mereka pulang, masing-masing ke rumahnya”,
artinya hidup dan bertindak menurut kemauan dan keinginan sendiri,
bahkan hal ini juga telah mempengaruhi masyarakat sehingga anggota
masyarakat juga hidup dan bertindak seenaknya sendiri. Kami berharap
kepada rekan-rekan
 beriman
 dan beragama untuk tetap setia pada iman dan ajaran agamanya, serta
bekerja sama membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan
sejati di tengah-tengah ketegangan yang sedang terjadi masa kini.
Hendaknya kita tidak terjebak pada pancingan atau rayuan dari mereka
yang bersikap mental materilistis atau tidak beriman.
•    “TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji
batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka,
sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yer 11:20), demikian
keyakinan iman nabi Yeremia, yang sedang menghadapi aneka ancaman
untuk disingkirkan. Hidup terpanggil menjadi nabi memang tak akan
terlepas dari aneka tantangan, hambatan atau masalah. Sebagai orang
beriman atau beragama kita memiliki dimensi kenabian dalam cara hidup
dan cara bertindak kita, maka marilah kita hayati dimensi kenabian
tersebut dalam hidup kita bersama dimanapun, dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik dalam keluarga, tempat
kerja maupun masyarakat. Nabi adalah pembawa dan pewarta kebenaran,
penyambung ‘lidah Allah’, maka menghayati dimensi kenabian berarti
senantiasa membawa dan mewartakan kebenaran dimana saja dan kapan
saja. Memang di tengah-tengah masih maraknya kebohongan dan
keserakahan masa kini, menjadi
 pembawa
 dan pewarta kebenaran pasti akan menghadapi ujian berat: diancam dan
ada kemungkinan ditangkap serta kemudian dibawa ke pengadilan untuk
diadili. Ada kemungkinan juga harus mengahadapi pengadilan informal
dari mereka yang kurang senang terhadap kebenaran. Baiklah dalam
menghadapi pengadilan kita tidak perlu takut dan gentar, persembahkan
atau percayakan semuanya kepada Penyelenggaraan Ilahi seraya berdoa
“kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”. Percayalah bahwa kebenaran pasti
akan menang terhadap kebohongan dan kebencian. Allah mahatahu dan maha
adil, biarkanlah Allah sendiri yang akan mengadili dan menentukan
keputusan. Sekiranya pengadilan manusia memutuskan kita harus
dipenjara, terimalah dengan rela dan besar hati, serta manfaatkan
waktu di penjara untuk mawas diri.

“TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku
benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang
fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati
dan batin orang, ya Allah yang adil. Perisai bagiku adalah Allah, yang
menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang
adil dan Allah yang murka setiap saat” (Mzm 7:9-12)

Jakarta, 9 April 2011 .

Note: renungan sebelumnya buka: www.ekaristi.org

--
AsWb
http://www.Stasi-Santo-Petrus-Rasul.notlong.com
http://sanpera.aeswebe.co.cc

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages