19Feb2011 : Betapa bahagianya kami...

0 views
Skip to first unread message

A.S.Wipur Byantoro

unread,
Feb 18, 2011, 1:13:43 AM2/18/11
to stasi-sanpera-garchive-19243, gerejakatoliktambun
From: I Sumarya <i_su...@yahoo.com>

“Betapa bahagianya kami berada di tempat ini”
(Ibr 11:1-7; Mrk 9:2-13)

“Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan
bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di
situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata
mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada
seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.
Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang
berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa
bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah,
satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata
demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka
sangat ketakutan.  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam
awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah
Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka,
mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus
 seorang
 diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada
mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa
yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara
orang mati.”(Mrk 9:2-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•    Di dalam psikologi agama dikenal adanya pengalaman mempesona
(‘fascinosum’) dan menghentak (‘tremendum’). Entah pengalaman
mempesona atau menghentak pada umumnya akan mempengaruhi hidup orang
yang mengalami, bahkan yang mengalami sering kemudian menyatakan niat
atau kehendak tertentu. Tiga rasul: Petrus, Yakobus dan Yohanes
mengalami hiburan rohani yang mendalam atau pengalaman ‘fascinosum’ di
sebuah gunung dan kemudian mereka akan membuat sesuatu. Dalam
perjalanan turun gunung Yesus berpesan kepada mereka agar mereka tidak
menceriterakan pengalaman tersebut ‘sebelum Anak Manusia bangkit dari
antara orang mati’. Dari peristiwa di gunung ini sampai bangkit dari
antara orang mati Yesus harus menghadapi aneka penderitaan dan
tantangan, dan para murid belum siap sepenuhnya diajak menghadapi
penferitaan dan tantangan tersebut. Kita semua kiranya pernah memiliki
pengalaman mempesona dalam perjalanan hidup kita, misalnya saat
melakukan
 latihan rohani atau retret, saat saling menerimakan sakramen
perkawinan, ditahbiskan menjadi imam atau kaul kekal/akhir, dst.. Kami
percaya pada saat-saat macam itu dari kedalaman lubuk hati kita muncul
niat atau cita-cita mulia dan indah, meskipun belum tahu persis
bagaimana mewujudkan niat atau cita-cita tersebut. Namun demikian
baiklah kami mengingatkan kita semua: ketika kita berada dalam keadaan
lesu, frustrasi dan takut dalam menghayati panggilan atau melaksanakan
tugas pengutusan, marilah kita kenangkan atau hadirkan kembali
pengalaman mempesona tersebut, agar kita tetap bergariah, ceria dan
dinamis dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas
pengutusan.
•    “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan
bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”(Ibr 11:1). Kutipan
ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita sebagai umat
beriman. Sebagai umat beriman kita diharapkan dalam dan dengan
semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Beriman
berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan
demikian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah
Tuhan. Salah satu perintah Tuhan bagi kita adalah ‘saling mengasihi
satu sama lain’, maka marilah kita hidup saling mengasihi dengan
siapapun dan dimanapun, karena kita semua mengakui diri sebagai orang
beriman. Kita juga diingatkan bahwa iman adalah ‘bukti dari segala
sesuatu yang tidak kita lihat’.  Kami percaya kita semua memiliki
pengalaman ini, misalnya ketika sedang menikmati makanan enak.
Bukankah kita tidak pernah mau tahu atau melihat jenis dan macam apa
saja bumbu-bumbu
 masak
 yang dicampur dalam makanan tersebut , melainkan kita percaya
sepenuhnya serta langsung menyantap saja. Maka dengan rendah hati kami
mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah pengalaman iman/percaya
dalam hal makanan tersebut juga kita hayati dalam bidang kehidupan
lainnya setiap hari. Marilah kita tingkatkan saling percaya kita satu
sama lain. Kami merasa pada masa kini sungguh terjadi ‘krisis
kepercayaan antar kita’, karena kebanyakan dari kita tidak dapat
dipercaya lagi. Maka untuk meningkatkan saling percaya satu sama lain,
antara lain saya pribadi harus berusaha keras untuk menjadi orang yang
dapat dipercaya.  Menjadi orang dapat dipercaya berarti bermoral dan
berbudi pekerti luhur, tidak pernah korupsi, berbohong, menyakiti
orang lain dst…

“Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu
untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan
kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan
pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak
kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan
kunyanyikan” (Mzm 145:2-5)
Jakarta, 19 Februari 2011
Note: renungan sebelumnya, buka: www.ekaristi.org


--
AsWb
http://www.Stasi-Santo-Petrus-Rasul.notlong.com

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages