To: "A.S. Wipur" <ant...@gmail.com>, aapja...@aatglobal.net.id,
abel...@yahoo.com, ach...@gmail.com, Adi <a.ma...@yahoo.com>,
"Adi D." <adjayanto...@gmail.com>, adi...@aksara.com, Aditya
Wiryawan <adit...@yahoo.co.id>, adityo....@gmail.com,
ad...@gerejastanna.org, ad...@pantirapih.or.id,
adoras...@gmail.com, adri...@ui.edu, adrianu...@gmail.com,
ady ian <ady_...@yahoo.com>, Agatha Riyanti
<agatha...@yahoo.com>, Agnes Hesti <cattleya...@yahoo.com>,
agnes_...@yahoo.com, agr...@yahoogroups.com, Agung Pindha
<agung...@yahoo.com>, agung....@atmajaya.ac.id, Agus Riyanto
<agho...@yahoo.com>, aguss...@yahoo.com, agusti...@yahoo.com,
agust...@yahoo.co.id, Agya Utama <nuki_...@yahoo.co.uk>,
"ajan...@yahoo.com" <ajan...@yahoo.com>, ajat...@ap.org, Ajeng
Diba <ajeng...@yahoo.com>, AJI JAKARTA <aji...@cbn.net.id>,
aksek-ta...@yahoogroups.com, Aksel SMP1BE
<aksel...@yahoo.co.id>, al andang <and...@provindo.org>,
alb...@bondor.co.id, ald...@yahoo.com, "al...@yahoo.com"
<al...@yahoo.com>, Alex Mohan <alexm...@yahoo.com>,
alexander...@yahoo.com, Alfons Subroto
<wedusgemb...@yahoo.com>, alfrina...@ymail.com,
alidas...@yahoo.co.id, "alksdr...@yahoo.com"
<alksdr...@yahoo.com>, amanda...@yahoo.com,
ambarg...@yahoo.co.id, ambrosius <ambros...@yahoo.co.id>,
amey...@hotmail.com, "am...@yahoo.com" <am...@yahoo.com>, among
<among...@gmail.com>, ana_...@yahoo.com,
ana5tasi...@yahoo.com, ana...@yahoo.com, "andr3...@gmail.com"
<andr3...@gmail.com>, andre andreas <matahar...@yahoo.com>,
andre_...@yahoo.co.id, andrea...@yahoo.com,
andre...@gmail.com, angel...@yahoo.com, anna hermali
<anna...@yahoo.com>, anso...@gmail.com, anthony brown
<anthony_...@yahoo.com>, anto_a...@yahoo.com,
"antok...@ymail.com" <antok...@ymail.com>,
Anton_u...@yahoo.com, anton...@yahoo.com,
"antoni...@yahoo.com" <antoni...@yahoo.com>,
antonius...@lautan-luas.com, Antonl...@yahoo.co.id, anugrah
sebayang <anug...@yahoo.com>, ApiKa...@yahoogroups.com, aprilia
gayatri <apien...@yahoo.com>, arch...@hotmail.com, ardi yunanto
<ardiy...@yahoo.com>, ardja...@yahoo.com, Ari is
<ujan...@yahoo.co.id>, ARI SETIADI <arima...@gmail.com>,
arif....@hotmail.com, Arifien Sutrisno <arifi...@yahoo.com.sg>,
Arjuno Wiwoho <arju...@gmail.com>, arlene_...@hotmail.com,
arlis...@yahoo.com, art...@imankatolik.or.id,
arwand...@yahoo.com, arya <ham...@yahoo.com>,
"aryan...@gmail.com" <aryan...@gmail.com>, Asbari Nurpatria Krisna
<ankr...@hotmail.com>, asu...@gmail.com, aswibi...@yahoo.com,
avem...@cbn.net.id
"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
(Sir 35: 1-12; Mrk 10:28-31)
“Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala
sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil
meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan,
ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang
pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah,
saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun
disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia
akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu
akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang
terdahulu.”(Mrk 10:28-31), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
• Hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster harus
meninggalkan segala sesuatu dan kemudian dengan setia mengikuti Yesus,
sebagai sahabat Yesus, hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan
cara bertindakNya. Ada orang yang mengatakan dengan meninggalkan
segala sesuatu tersebut akan merasa kesepian, padahal yang terjadi
adalah sebaliknya sebagaimana Ia sabdakan, yaitu :”akan menerima
kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara
perempuan, ibu, anak dan lading, sekalipun harus disertai berbagai
penganiayaan”. Pengalaman saya pribadi apa yang disabdakan oleh Yesus
tersebut sungguh menjadi kenyataan. Penganiayaan yang terjadi adalah
tidak boleh memiliki, dan hanya boleh menggunakan sesuai dengan tujuan
pelayanan atau kerasulan. Maka dengan ini kami mengajak dan
mengingatkan rekan-rekan generasi muda dan anak-anak untuk tidak takut
menanggapi panggilan menjadi imam, bruder atau suster. Memang juga ada
bentuk penganiayaan,
yaitu
tidak dapat menikmati apa yang menjadi dambaan banyak orang, yaitu
kenikmatan hubungan seksual sebagai suami-isteri. Apa yang disabdakan
oleh Yesus bahwa “yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang
terakhir akan menjadi yang terdahulu” juga menjadi kenyataan, artinya
dengan melayani secara rendah hati terhadap semua orang, akhirnya
‘dihormati’ oleh banyak orang. Kami juga mengingatkan siapapun yang
beriman kepada Yesus Kristus, meskipun tidak menjadi imam, bruder atau
suster untuk memfungsikan dan menghayati aneka harta benda dan
kenikmatan phisik sebagai wahana untuk semakin berbakti kepada Tuhan
alias beriman. Dengan kata lain hendaknya menyikapi harta benda dan
kenikmatan phisik sebagai sarana bukan tujuan.
• “Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong, sebab
semuanya wajib menurut perintah. Persembahan orang jujur melemaki
mezbah, dan harumnya sampai ke hadapan Yang Mahatinggi. Tuhan berkenan
kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan” (Sir
35:4-6).Kapan kita ‘tampil di hadirat Tuhan’? Kita tampil di hadirat
Tuhan antara lain ketika kita sedang berdoa atau beribadat serta pada
saat dipanggil Tuhan alias menjelang meninggal dunia. “Jangan tampil
di hadirat Tuhan dengan tangan kosong” itulah yang baik kita renungkan
atau refleksikan. Dengan kata lain kita diharapkan mempersembahkan
sesuatu kepada Tuhan, dan karena hidup kita serta segala sesuatu yang
kita miliki, kuasai serta nikmati sampai saat ini adalah anugerah
Tuhan, maka selayaknya sebagai orang beriman kita mempersembahkan diri
seutuhnya kepada Tuhan: hidup kita dan segala sesuatu yang kita
miliki, kuasai dan nikmati. Mempersembahkan diri
seutuhnya
kepada Tuhan berarti hidup suci atau benar, sebagaimana pernah kita
janjikan ketika dibaptis, yaitu “hanya mengabdi Tuhan saja dan menolak
semua godaan setan”. Tubuh kita serta segala jenis harta benda atau
kekayaan kita pada dasarnya netral, artinya dapat menjadi jalan ke
sorga atau jalan ke neraka, dan sebagai orang beriman kita diharapkan
menjadikannya jalan ke sorga. Kita berasal dari Tuhan/sorga dan harus
kembali kepada Tuhan/sorga. Semoga kita tidak memfungsikan anggota
tubuh kita sebagai ‘hamba setan’ melainkan sebagai ‘hamba Tuhan’,
demikian pula aneka harta benda dan kekayaan. Kita juga diingatkan
agar hidup dan bertindak jujur, tidak pernah korupsi atau berbohong.
Maka baiklah sekali lagi saya kutipkan apa jujur itu. “Jujur adalah
sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang,
berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela
berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman
Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17).
"Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian
dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!" Langit memberitakan
keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim. "Dengarlah, hai umat-Ku,
Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu:
Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum
engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku”
(Mzm 50:5-8)
Jakarta, 1 Maret 2011
Note: yg sebelumnya, buka: www.ekaristi.og