MAKALAH
JUDUL
‘’TEKNOLOGI PENDIDIKAN’’
DOSEN PEMBIMBING: MUHAMMAD NUZLI, Mpd.I
DISUSUN OLEH:
SEMESTER IV A
KELOMPOK I
NAMA : MAULANA IKBAR
NAMA : PADLAN MINALLOH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
SYEKH MAULAN QORI (SMQ) BANGKO
TUHUN 2011
KATA PENGANTAR
BISMILLAHIROHMANIRROHIM
Puji syukur penulis panjatkankehadirat allah SWT., yang memberikan
rahmat, taufik dan hidayah Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
modul ini.
dalam penulisan makalah ini tidak sedikit hambatan dan tantangan yang
dihadapi penulis, namun dengan bertawkkal kepada allah SWT.,
allhamdulillah berkat lindungan-Nya semuanya dapat diatasi. Penulis
juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, ini semua
karena keterbatasan kesempatan penulis. Walaupun demikian, penulis
telah berupaya sebaik mungkin.
Hanya kepada allah-lah penulis berserah diri semoga amal kebaikan yang
telah diberikan kepada penulis menjadi amal ibadah yang senantiasa
mengalir sanpai kemudian hari. Mudah mudahan makalah ini bermanfaat
bagi kita semua,amin
Bangko,22 Maret 2011
Penulis
Kelompok 1
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR IASI 3
1. Bab I Pendahuluan 4
2. Bab II Pembahasan 5
A . Issu Kontemporer 5
B. Problem Pendidikan 7
C. Klasifikasi Problem Pendidkan 9
D. Solusi Terhadap Problem Pendidikan 10
DAFTAR PUSTAKA
BABI
PENDAHULUAN
Ilmu pengatahuan teknologi dan informasi sudah bsangat berkembang pada
saat ini, yang menuntut kita sebagai calon pendidik yang frofesional
untuk mengikuti perkembangan tersebut. Juga perkembangan itu dapat
memudah kita dalam memanggali ilmu pengatahuan berbasis teknologi yang
canggih
Selama tiga dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesia secara
kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Pada tahun 1965 jumlah
sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru
sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921
SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika,
Balitbang Depdikbud, 1999). Jadi dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah
SD naik sekitar 300%. Sudah barang tentu perkembangan pendidikan
tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan
tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang
sepadan. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-
tengah masyarakat, termasuk yang sangat menonjol adalah: a)
ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga
kerja yang dibutuhkan, b) ketimpangan kualitas pendidikan antar desa
dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar pendudukkaya dan penduduk
miskin. Di samping itu, di dunia pendidikan juga muncul dua problem
yang lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang telah
disebutkan di atas.
Pertama, pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial.
Kedua, pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta
didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang
terlalu bersifat text-bookish sehingga bagaikan sudah diceraikan baik
dari akar sumbernya maupun aplikasinya.
Menarik permasalah ini utuk dibahas maka kami dari kelompok II akan
membahas dengan judul TEKNOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PROBLEM
PENDIDIKAN
. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan dan penyusunan dalam
makalah kami ini kami Mohon maaf.
Dan kami mohon mohon saran kepada rekan-rekan gar makalah kami ini
kedepah nantinya menjadi lebih baik.
BABII
PEMBAHASAN
A. Issu kontemporer
Kualitas pendidikan di indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan
antara lain dengan data unisko (2000) tentang peringkat indeks
pengembangan manusia ( Human Depelopmen indekx), yaitu komposisi dari
peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan perkepala
yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia indonesia makin
menurun. Dianta 174 negara didunia, indonesia indonesia menempati
urutan ke 102 (1996),ke-99(1997),ke-105 (1998),dank e-109(1999)
Menurut survey political end economic risk consultan (PERC), kualitas
pendidikan diindonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di
asia, posisi indonesia dibawah posisi Vietnam. Data yang dilaporkan
the word economic forum swedia (2000), indonesia memiliki tingkat
saing yang renda, yaitu hanya menduduki urutan survey dari lembaga
yang sama indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai
pemimpin teknologi dari 53 negara didunia.
Kualitas pendidikan indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data
balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di indonesia ternyata hanya
hanya delapan sekolah saja yang mendapatkan pengakuan dunia dalam
kategori the premery years program (PYM). Data 20.918 SMP di
indonesia ternya juga hanya delapan sekolah yang mendapatkan pengakuan
dunia dalam kategori the middle years program (MYP) dan dari 8.036 SMA
ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapatkan pengakuan dunia
dalam kategori the diploma program
Berdasarkan hasil penelitian tentang human development index (HDI)
yang dikeluarkan oleh UUDP 2005, saat ini kita berada perangkat 110
dari 174 negara yang diteliti. Kualitas sumber daya manusi Indonesia
berada jauh di bawah plipina (85), thailend (74), Malaysia (58),
Bruney Darussalam (31) Korea selatan (30), dan Singapura(28)
dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat
cepat. Pada tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233
dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah
meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta
1.158.004 guru (Pusat Informatika, Balitbang Depdikbud, 1999). Jadi
dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Sudah barang
tentu perkembangan pendidikan tersebut patut disyukuri.
Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti
dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Akibatnya, muncul
berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, termasuk
yang sangat menonjol adalah:
a. ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi
tenaga kerja yang dibutuhkan,
b. ketimpangan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan
luar Jawa, antar pendudukkaya dan penduduk miskin. Di samping itu, di
dunia pendidikan juga muncul dua problem yang lain yang tidak dapat
dipisah dari problem pendidikan yang telah disebutkan di atas.
Pertama, pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial.
Kedua, pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta
didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang
terlalu bersifat text-bookish sehingga bagaikan sudah diceraikan baik
dari akar sumbernya maupun aplikasinya.
Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan
hasilnya. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan di tanah air kita
dapat dikatakan senantiasa gagal menjawab problem masyarakat?
Sesungguhnya kegagalan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan di
tanah air kita bukan semata-mata terletak pada bentuk pembaharuan
pendidikannya sendiri yang bersifat erratic, tambal sulam, melainkan
lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan
penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan
pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini
menyebabkan adanya harapan-harapan yang tidak realistis dan tidak
tepat terhadap efikasi pendidikan.
B. problem pendidikan
Muhammad Zaimal Abidin mengemukakan 5 problem pendidikan diantaranya:
1. Ketida jelasan tujuan pendidikan
Dalam undang-undang nomor 4 tahun 1950, telah disebutkan secara jelas
tentang tujuaan pendidikan dan pengajaran yang peda intinya, ialah
untuk membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat
dan tanah air berdasarkan pancasila dan kebudayaan kebangsaan
Indonesia dan seterusnya.
Namun dalam kenyataan yang terjadi terhadap tujuan pendidikan yang
begitu ideal tersebut belum mampu menghasilkan manusia-manusia
sebagaiman yang dimaksud dalam tumpukan kata-kata dalam rumusan tujuan
pendidikan yang ada bahkan terjadi sebaliknya, yakni terjadi
kemerosotan moral kehidupan yang kurang demokratis, terjadi kekcauan
akibat konflik dimasyarakat dan lain-lain hal ini merupakan indikiasi
bahwa tujuan pendidikan Selma ini belum dikatakan berhasil, mungkin
disebabkan adanya ketidak jelasan atau kekaburan dalam memahami tujuan
pendidikan yang sebenarnya
2. Ketidak serasian kurikulum
Kebanyakan kurikulum yang dipergunkan disekolah-sekolah masih berisi
tentang mata pelajaran-mata pelajaran yang beraneka ragam, sejumlah
jam-jam pelajaran dan nama-nama buku pegangan untuk setiap mata
pelajaran. Sehingga pengajaran yang berlangsung kebanyakan menanamkan
teori-teori pengatahuan melulu, akibatnya para lulusan yang dihasilkan
kurang siap pakai bahkan miskin ketrampilan dan tidak mempunyai
kemampuan untuk berpoduktivitas ditengah-tengah masyarakatnya, karma
muatan kurikulum yang diterima di sekolah-sekolah memang tidak
dipersiapkan untuk menjadikan lulusan daripeserta didik untuk dapat
mandiri di masyarakat.
3. Ketiadaan tenaga pendidik yang tepat dan cukup.
Masih banyak dijumpai suatu slogan yang berbunyi “ tidak ada rotan
akarpun jadi “ ?, mungkin suatu gambaran betapa rendahnya kualitas
tenaga kependidikan yang ada karena harus dipegang oleh tenaga
kependidikan yang ada
karena karena harus dipegang oleh tenaga-tenaga yang bukan ahlinya.
Padahal menugaskan dan
Mendudukan seseorang sebagai pendidik yang tidak di bina atau tidak
di bekali ilmu kependidikan.dan bukan dalam bidang nya,sangatlah
menimbulkan kerugian yang sangat besar dianantara terjadi nya
pemborosan biayaya,terjadinya pemerosotan hasil mutu pendidikan ,lebih
jauh lagi akan mempersiapkan warga masyarakat di masa mendatang.
Pada akhir nya ,untuk mencari solusi terhadap penjenjangan
pendidikan,haruslah di dasar kan pada apa sja yang harus dibentuk
pada anak didik,perlu melahirkan perhitungan secara seksama, dengan
melakukan experimen yang matang untuk menemukan fakta-fakta
kebenaranbaru dalam rangka meninjau kembali penjenjangan tingkat
pendidikan yang selama ini di pedomani di sekitar pendidikan di
sekitar kita yang selama ini di temu kan jawabannya.
Sampai saat ini sekolah-sekolah berasrama dalam pengamatan saya masih
banyak mempunyai persoalan yang belum dapat diatasi sehingga banyak
sekolah berasrama layu sebelum berkembang dan itu terjadi pada sekolah-
sekolah boarding perintis. Faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
1.Ideologi Sekolah Boarding yang Tidak Jelas
.Masalahnya dalam implementasi ideologinya tidak dilakukan secara
kaffah. Terlalu banyak improvisasi yang bias dan keluar dari pakem
atau frame ideology tersebut. Hal itu juga serupa dengan yang
nasionalis, tidak mengadop pola-pola pendidikan kedisiplinan militer
secara kaffah, akibatnya terdapat kekerasan dalam sekolah berasrama.
Sementara yang nasionalis-religius dalam praktik sekolah berasrama
saya melihatnya masih belum jelas formatnya.
2. Dikotomi guru sekolah vs guru asrama (pengasuhan)
Sampai saat ini sekolah berasrama kesulitan mencari guru yang cocok
untuk sekolah berasrama. Pabrikan guru (IKIP dan Mantan IKIP) tidak
“memproduksi” guru-guru sekolah berasrama. Akibatnya, masing-masing
sekolah mendidik guru asrmanya sendiri sesuai dengan pengetahuan yang
dimiliki oleh lembaga tersebut. Guru sekolah (mata pelajaran) bertugas
hanya untuk mengampu mata pelajarannya, sementara guru pengasuhan
adalah tersendiri hanya bicara soal pengasuhan. Padahal idealnya, dua
kompetensi tersebut harus melekat dalam sekolah berasrama. Ini penting
untuk tidak terjadinya saling menyalahkan dalam proses pendidikan
antara guru sekolah dengan guru asrama.
3. Kurikulum Pengasuhan yang Tidak Baku
Salah satu yang membedakan sekolah-sekolah berasrama adalah kurikulum
pengasuhannya. Kalau bicara kurikulum academicnya dapat dipastikan
hampir sedikit perbedaannya. Semuanya mengacu kepada kurikulum KTSP-
nya produk DEPDIKNAS dengan ditambah pengayaan atau suplemen kurikulum
international dan muatan local. Tapi kalau bicara tentang pola
pengasuhan sangat beragam, dari yang sangat militer(disiplin habis)
sampai ada yang terlalu lunak. Kedua-duanya mempunyai efek
negative(Sartono Mukadis), pola militer melahirkan siswa yang berwatak
kemiliter-militeran dan terlalu lunak menimbulkan watak licik yang
bisa mengantar sang siswa mempermainkan peraturan.
C. Klasifikasikan problem pendidikan
a. Masalah fundamen
Arti dari kesatuan system itu adalah suatu cara yang di susun
secara makro dari tingkat prencanaan hingga implementasinya kea rah
tujuan pendidikan yang di harapkan
Perumusan visi ini mesti di tinjak lanjuti dengan berkomimen
untuk mengimplementasikan dalam proses penyelenggaraan
pendidikan .melahirkan anak didik yang cerdas dan bermoral adalah satu
kemestian.cerdas berkualitas dan berahlakulkarimah itulah
sesungguhnya arah pendidikan anak bangsa.apa yang hendak di capai
dalam tujuan pendidikan itu harus di kembangkan melalui prangkat-
prangkatnya .
b. Masalah anggaran pendidikan
Anggaran pendidikan memliki peran penting untuk bias
tercapainya cita-cita atau tujuan pendidikan yang dapat tercapai.
Sejak dahulu pemerintah baru sekedar memberi janji untuk mningkatkan
anggaran pendidikan,namun itu sebatas gambar-gembor , sekali lagi
persoalan aggaran pendidikan juga seharusnya tidakada perbedaan antara
negeri dan swasta, sekurang-kurangnya kesenjangannya jangan jauuah.
c. maslah kompetensin guru
Persoalan guru memang tak hanya menyangkut dengan kesejahteraannya.
Pareposionalisme gurujuga sangat berkaitan dengan kopotensi seoranag
guru adalah sangat tidak layak bila seorang guru tingkat dasar
mengajar dengan beragam mata pelajaran. Mereka mengajar berhitung
tetapi juga mengajar bahasa atau juga mengajari ilmu pengatahuan
alam.kemampuan seseorang itu sangat terbatas.
d. Masalah serana pendidikan
Pendidikan untuk semua jugamasih dalam batas tataran janji.sejak orde
baru tlah di cadangkan program pendidikan untuk semua melalui program
wajib belajar (wajar). Dengan wajar, maka diharapkan tak adalagi
masyarakat Indonesia yang tak pernah menyelesaikan pendidikan
dasarnya. Program wajib belajar membebaskan anak didik dari kewajiban
membayar uang sekolah, istilah populernya sekolah gratis. Dalam
kenyataanya, ternya tak ada yang tanpa biaya. Justru biaya sekolah SD
semakin mencekik, hinga sekarang di area paska reformasi, biaya
sekolah dasar tak ada yang gratis.
tiap tahun buku pelajaran berganti biaya sekolah menjadi sangat mahal,
yang akhirnya menyulitkan bagi orang tua. Berbeda dengan zaman dulu
dimana pemerintah punya kepedulian terhadap pengadaan buku pelajaran.
Anak-anak didik mendapat buku tersebut secara Cuma-Cuma atau sekurang-
kurangnya mendapat pinjaman. Tiap sekolah mempunyai perpustakaan yang
lengkap sehingga murid-murid dapat memanfaatkan dan membaca buku di
perpustakaan.
D. solusi terhadap problem pendidikan
Berbagai usaha dan inovasi telah dilakukan untuk meningkatka
pendidikan nasional, antara lain melalui penyempurnaan kuri kurikulum,
pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan serana dan praserana
pendidikan, pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, manajemen mutu
sekolah, system SKS, dan menyiapkan sekolah unngul.
Disamping itu, para penyelenggara pendidikan harus konsisten dalam
mengimplimentasikan berbagai kebijakan. Dunia pendidikan jangan
dijadikan ajang bisnis. Kesatuan system penanganan pendidikan mulai
dari pihak yang berwanag dalam hal ini tentu saja pemerintah.
Sekaligus diperlukan suatu perangkat perundangan yang walaupun sudah
terbentuk namun masih terkesan belum memenuhi harapn.oleh sebab itu
perlu ada perbaikan dan usaha untuk menyempurnakanya. Selain
pemeritah, tentu saja semua pihak harus bertanggung jawab.
Dari sekia banyak permasalahan dan problem-problem yang pada
pendidikan kita dapat mengambil solusinya di antara lain.
1. penyempurnaan kuri kulum,
2. pengadaan buku dan alat pelajaran,
3. perbaikan serana dan prasarana pendidikan,
4. pelatihan dan peningkatan kompotensi guru
5. manajemen mutu sekolah system SKS, dan menyiapkan sekolah
ungguls
Ada beberapa keunggulan Boarding School jika dibandingkan dengan
sekolah regular yaitu:
• Program Pendidikan Paripurna
Umumnya sekolah-sekolah regular terkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan
akademis sehingga banyak aspek hidup anak yang tidak tersentuh. Hal
ini terjadi karena keterbatasan waktu yang ada dalam pengelolaan
program pendidikan pada sekolah regular. Sebaliknya, sekolah berasrama
dapat merancang program pendidikan yang komprehensif-holistic dari
program pendidikan keagamaan, academic development, life skill(soft
skill dan hard skill) sampai membangun wawasan global. Bahkan
pembelajaran tidak hanya sampai pada tataran teoritis, tapi juga
implementasi baik dalam konteks belajar ilmu ataupun belajar hidup.
• Fasilitas Lengkap
Sekolah berasrama mempunyai fasilitas yang lengkap; mulai dari
fasilitas sekolah yaitu kelas belajar yang baik(AC, 24 siswa, smart
board, mini library, camera), laboratorium, clinic, sarana olah raga
semua cabang olah raga, Perpustakaan, kebun dan taman hijau. Sementara
di asrama fasilitasnya adalah kamar(telepon, TV, AC, Pengering Rambut,
tempat handuk, karpet diseluruh ruangan, tempat cuci tangan, lemari
kamar mandi, gantungan pakaian dan lemari cuci, area belajar pribadi,
lemari es, detector kebakaran, jam dinding, lampu meja, cermin besar,
rak-rak yang luas, pintu darurat dengan pintu otomatis. Sedangkan
fasilitas dapur terdiri dari: meja dan kursi yang besar, perlengkapan
makan dan pecah belah yang lengkap, microwape, lemari es, ketel
otomatis, pembuat roti sandwich, dua toaster listrik, tempat sampah,
perlengkapan masak memasak lengkap, dan kursi yang nyaman.
• Guru yang Berkualitas
Sekolah-sekolah berasrama umumnya menentukan persyaratan kualitas guru
yang lebih jika dibandingkan dengan sekolah konvensional. Kecerdasan
intellectual, social, spiritual, dan kemampuan paedagogis-metodologis
serta adanya ruh mudarris pada setiap guru di sekolah berasrama.
Ditambah lagi kemampuan bahsa asing: Inggris, Arab, Mandarin, dll.
Sampai saat ini dalam penilaian saya sekolah-sekolah
berasrama(boarding school) belum mampu mengintegrasikan guru sekolah
dengan guru asrama. Masih terdapat dua kutub yang sangat ekstrim
antara kegiatan pendidikan dengan kegiatan pengasuhan. Pendidikan
dilakukan oleh guru sekolah dan pengasuhan dilakukan oleh guru asrama.
• Lingkungan yang Kondusif
Dalam sekolah berasrama semua elemen yang ada dalam komplek sekolah
terlibat dalam proses pendidikan. Aktornya tidak hanya guru atau bisa
dibalik gurunya bukan hanya guru mata pelajaran, tapi semua orang
dewasa yang ada di boarding school adalah guru. Siswa tidak bisa lagi
diajarkan bahasa-bahasa langit, tapi siswa melihat langsung praktek
kehidupan dalam berbagai aspek. Guru tidak hanya dilihatnya di dalam
kelas, tapi juga kehidupan kesehariannya. Sehingga ketika kita
mengajarkan tertib bahasa asing misalnya maka semuanya dari mulai
tukang sapu sampai principal berbahasa asing. Begitu juga dalam
membangun religius socity, maka semua elemen yang terlibat
mengimplementasikan agama secara baik.
• Siswa yang heterogen
Sekolah berasrama mampu menampung siswa dari berbagai latar belakang
yang tingkat heteroginitasnya tinggi. Siswa berasal dari berbagai
daerah yang mempunyai latar belakang social, budaya, tingkat
kecerdasan, kempuan akademik yang sangat beragam. Kondisi ini sangat
kondusif untuk membangun wawasan national dan siswa terbiasa
berinteraksi dengan teman-temannya yang berbeda sehingga sangat baik
bagi anak untuk melatih wisdom anak dan menghargai pluralitas.
• Jaminan Keamanan
Sekolah berasrama berupaya secara total untuk menjaga keamanan siswa-
siswinya. Makanya, banyak sekolah asrama yang mengadop pola pendidikan
militer untuk menjaga keamanan siswa-siswinya. Tata tertib dibuat
sangat rigid lengkap dengan sangsi-sangsi bagi pelanggarnya. Daftar
“dosa” dilist sedemikan rupa dari dosa kecil, menengah sampai berat.
Jaminan keamanan diberikan sekolah berasarama, mulai dari jaminan
kesehatan(tidak terkena penyakit menular), tidak NARKOBA, terhindar
dari pergaulan bebas, dan jaminan keamanan fisik(tauran dan
perpeloncoan), serta jaminan pengaruh kejahatan dunia maya.
• Jaminan Kualitas
Sekolah berasrama dengan program yang komprehensif-holistik, fasilitas
yang lengkap, guru yang berkualitas, dan lingkungan yang kondusif dan
terkontrol, dapat memberikan jaminan kualitas jika dibandingkan
dengan sekolah konvensional. Dalam sekolah berasrama, pintar tidak
pintarnya anak, baik dan tidak baiknya anak sangat tergantung pada
sekolah karena 24 jam anak bersama sekolah. Hampir dapat dipastikan
tidak ada variable lain yang “mengintervensi” perkembangan dan
progresivits pendidikan anak, seperti pada sekolah konvensional yang
masih dibantu oleh lembaga bimbingan belajar, lembaga kursus dan lain-
lain. Sekolah-sekolah berasrama dapat melakukan treatment individual,
sehingga setiap siswa dapat melejikan bakat dan potensi individunya.
BAB II
KESIMPULAN
Sekolah Berasrama adalah alternative terbaik buat para orang tua
menyekolahkan anak mereka dalam kondisi apapun. Selama 24 jam anak
hidup dalam pemantauan dan control yang total dari pengelola, guru,
dan pengasuh di seklolah-sekolah berasrama. Anak betul-betul
dipersiapkan untuk masuk kedalam dunia nyata dengan modal yang cukup,
tidak hanya kompetensi akademis, tapi skill-skill lainnya dipersiapkan
sehingga mereka mempunyai senjata yang ampuh untuk memasuki dan
manaklukan dunia ini.
Da beberapa poin untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas sbb:
• Fasilitas Lengkap
• Guru yang Berkualitas
• Lingkungan yang Kondusif
• Jaminan Keamanan
• Jaminan Kualitas
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad nuzli. Teknologi pendidikan modul2
http://pakguruonline.pendidikan.net/wacana_pdd_1.html/2011/03/22
http://sutris02.wordpress.com/2008/09/08/problem-dan-solusi-pendidikan-berasrama-boarding-school/