Melipat Pesawat Kertas
Dua ruko digabung jadi satu, 4 lantai, dengan beberapa
karyawan, itulah kantor
milikku. Aku merasa kerja kerasku selama ini sungguh
menghasilkan, aku bangga
sekali dengan pekerjaanku. Hari itu mataku terasa pedas
sehingga kuputuskan
untuk mematikan monitor-monitor komputer di kantorku.
Pekerjaanku memang menuntut aku memiliki beberapa layar
monitor, dua atau tiga layar
saja tidak cukup, aku memerlukan informasi untuk mengambil
keputusanku.
Paduan logika, kenekatan dan peruntungan adalah cara aku
menghasilkan uang setiap
hari. Memang melelahkan tapi hasilnya selalu memuaskan. Namun,
kupikir aku
harus membiarkan mataku beristirahat hari ini, bagaimanapun
aku masih memerlukan
sepasang mata yang sehat.
Aku menelepon istriku mengatakan bahwa aku akan pulang siang
hari untuk tidur,
ia yang sedang berada bersama teman-teman arisannya mengatakan
bahwa Irah,
pembantu rumah kami akan menyiapkan makan siangku di rumah.
Demikianlah aku
pulang lebih awal ketika matahari masih terik bersinar, bukan
suatu hal yang
biasa tapi kurasa baik juga sesekali kulakukan. Setelah makan
siang, aku pun
masuk ke kamar dan tidur. Suara derai tawa anakku, Amanda dan
Devin,
membangunkan aku. Sesekali terdengar juga suara Ujang, pesuruh
kami.
Suara tawa khas anak-anak terdengar riang sekali sehingga
menarik perhatianku untuk
bangun dari tempat tidur dan melihat ada apa gerangan.
Kudapati Devin putera bungsuku sedang digendong di punggung
Ujang sambil
memegang pesawat kertas lipat. Sementara Amanda, putriku
berlari ke sana kemari
sambil dikejar-kejar Ujang yang masih menggendong Devin di
punggungnya. Mereka
tertawa senang sekali, tak menyadari sama sekali kehadiranku
di belakang
mereka.
“Ayo mang Ujang, kejar! Pesawat Devin menghancurkan perahu
Amanda!” Kata Devin.
“Tidak, tidak! Perahu Amanda sangat kuat, ini perahu sakti tak
terkalahkan!”
Sahut Amanda.
“Pesawat Devin lebih hebat! Bisa kalahkan apapun, bisa
kalahkan semuanya!
Termasuk perahu Amanda! Perahu Amanda akan hancur!” Sanggah
Devin.
“Tidak mau! Tidak mau! Perahu sakti Amanda terbuat dari baja!
Tahan air, tahan
peluru, tahan bom!!!” Kembali Amanda menyahut.
“Iya, iyaaaa… Perahu Amanda dan pesawat Devin, semuanya kuat.”
Kata Ujang,
tampaknya ia tahu bahwa dua anak itu akan bertengkar jadinya
jika tidak ditengahi.
“Ayo den Devin turun dulu, ayo sini non Amanda, mamang ajarkan
melipat lagi,
kali ini kita buat sebuah kotak, supaya perahu dan pesawat
bisa parkir di dalam
kotak ini. Mau?” Tanya Ujang.
“Mauuuuu!” Serentak dua anak itu menjawab kegirangan.
Aku melihat tangan-tangan kasar Ujang mulai melipat kertas dengan diperhatikan sungguh-sungguh oleh kedua anakku … Segera kuteringat akan tangan ayahku yang mengajarkan aku melipat pesawat-pesawat kertas dan beberapa lipatan lain. Lalu saat itu ayahku membawaku ke alam terbuka dan menerbangkan pesawat-pesawat kertas itu. Ketika angin menerpa, pesawat-pesawat itu tak dapat terbang terlalu jauh dan segera menukik ke bawah.
Ayahku akan berlari untuk mengambil pesawat-pesawat kertas yang jatuh itu dan mencoba memperbaikinya dan menerbangkannya lagi. Senang sekali bermain bersama ayahku saat itu… Namun sekarang, siapakah yang mengajarkan anak-anakku melipat pesawat dan perahu kertas itu? Mereka diajar oleh seorang pesuruh. Seorang pesuruh yang setia, yang telah didelegasikan tugas bermain bersama anak-anakku.
Dulu, ayahku sendirilah yang meluangkan waktu bersama kami kakak-beradik, tapi aku? Aku tidak punya waktu untuk itu. Saat besar nanti, mereka akan selalu ingat bahwa seorang bernama mang Ujang telah mengajarkan mereka melipat pesawat dan perahu kertas. Sedangkan aku? Apa kira-kira yang akan anak-anakku ingat dariku?
“Papa!” Teriak Amanda. Ia baru menyadari bahwa aku di belakang
mereka.
“Loh? Jam segini papa sudah pulang? Kok bisa? Papa bilang
pekerjaan papa banyak.
Papa, sana kerja aja lagi. Kami mau main sama mang Ujang. Mang
Ujang pintar
melipat.” Kata Devin polos.
Segera kubayangkan diriku yang telah menghabiskan begitu
banyak waktu bersama
monitor-monitorku. Monitor-monitorku tentunya tak akan pernah
merindukanku,
sementara anak-anakku, tampaknya akan lebih merindukan Ujang
daripada aku, ayah
mereka. Sedih sekali rasanya… Tidak! Aku harus membagi waktuku
dengan
bijaksana. Aku adalah ayah mereka, bukan si Ujang, umpat
hatiku dalam kesedihan
yang jujur.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Untung aku wis ngajari mas...:)
Sedih ya bacanya....
Sent from my iPhone
Ho...oh
Yen perlu kursus origami, iso hubungi aku.
Jam-jaman wae.
Gampang, karo konco.
Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sedih ya bacanya....
Sent from my iPhone
Ho...oh
Yen perlu kursus origami, iso hubungi aku.
Jam-jaman wae.
Gampang, karo konco.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT