Salam perkenalan, pak Sethiadi yang saya hormati
Benarlah pernyataan pak sethiadi: " Jangan Mengutuk", karena yang
berhak mengutuk hanya Tuhan, juga saya tambahkan untuk sesama seorang
insan (manusia) yaitu " Jangan Mengumpat", karena akan menurunkan
nilai derajatnya sebagai manusia. Kita suci barangkali rujukan utama
bila dibandingkan dengan relativitas penemuan hasil ilmu pengetahuan.
Karena saya seorang muslim izinkan saya mengutuk terjemahan alquran
surat 91 yang berjudul matahari (asy-syam), dan surat mengenai bulan
(al-qomar), saya kutipkan apa adanya untuk dimaknai bunyi kalimat dan
kosonan kosa katanya dalam bahasa Indonesia. Sebab kata adalah bunyi,
yang bisa menggetarkan sanubari.
Demikian kutipan surat 91 (Matahari) yang relevan dengan keadaan jiwa:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, (1) dan bulan apabila
mengiringinya, (2) dan siang apabila menampakkannya, (3) dan malam
apabila menutupinya [1], (4) dan langit serta pembinaannya, (5) dan
bumi serta penghamparannya, (6) dan jiwa serta penyempurnaannya
[ciptaannya], (7) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan]
kefasikan dan ketakwaannya, (8) sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu, (9) dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya. (10)
Kedua surat tersebut, mengisyaratkan pentingnya pensucian jiwa, karena
Allah telah mengilhamkan pada jiwa tentang jalan kefasikan dan
ketakwaan, manusia tinggal memilihnya. Disini, matahari sebagai
penunjuk waktu shalat, karena shalat sesungguhnya untuk penyucian
jiwa.
Sedangkan Surat 54 (Bulan) ialah sebagai berikut:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Telah dekat [datangnya] saat itu dan telah terbelah bulan [3]. (1) Dan
jika mereka [orang-orang musyrikin] melihat sesuatu tanda [mu’jizat],
mereka berpaling dan berkata: "[Ini adalah] sihir yang terus menerus".
(2) Dan mereka mendustakan [Nabi] dan mengikuti hawa nafsu mereka,
sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya [4]. (3) Dan
sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di
dalamnya terdapat cegahan [dari kekafiran], (4) itulah suatu hikmah
yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tiada berguna [bagi
mereka].
Demikian pula bulan, yang di malam hari sinarnya menerangi bumi,
sebagai penanda bahwa gelapnya malam masih ada penerangan. Kegalapnya
suasana batin pun masih ada penerangnya, yakni sang pencipta
penerangan itu sendiri yakni Allah. Mensyukuri nikmatlah yang
demikianlah, menjadi titik penting untuk kajian spiritualitas.
Demikian refleksi saya, semoga bermanfaat.
salam
salya
On 28 Feb, 01:32, "Sethiadi" <
ssethi...@gmail.com> wrote:
> TEORI GEOSENTRIS VERSUS TEORI HELIOSENTRIS.
>
> --------------------------------------------------------------------------
>
> "Matahari, berhentilah diatas Gibeon dan engkau, bulan diatas lembah Ayalon!". Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, ...