Sethiadi --> tentang meditasi dan jhana

431 views
Skip to first unread message

卓俊樺

unread,
Mar 18, 2009, 9:46:55 PM3/18/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Halo Bung Sethiadi,

Jika anda bertanya kepada para meditator,
apakah mereka sudah mencapai jhana,
tentu saja tidak akan ada yang mau mengakuinya.

seorang meditator dilarang untuk memamerkan jhana yang telah mereka dapatkan.

Untuk mencapai jhana, minimal anda harus mampu bermeditasi dan memusatkan pikiran pada objek meditasi selama 2 jam . bila pikiran anda masih melayang ke mana2 dalam 2jam itu, anda tidak akan mampu mencapai jhana.

sebelum mencapai jhana, ada tanda2 ( sign / nimitta ) yang dilihat oleh seorang meditator. saya tidak akan menjelaskan tentang hal ini karena terlalu panjang.

sekadar info saja, TIDAK semua orang yang bermeditasi pasti mendapatkan jhana.

Ada prasyarat yang harus dipenuhi yaitu
harus mempunyai kusala Citta ( kesadaran yang mengandung akar baik)

kusala citta ini adalah :
1. Tidak serakah
2. Tidak benci
3. Tidak gelap batin / mempunyai kebijaksanaan

Manusia yang tidak mempunyai kusala citta, tidak akan mempunyai potensi untuk mencapai Jhana.

saya benci untuk menulis ini,
selama Bung sethiadi masih serakah untuk masuk surga, membenci setan dan neraka,  mempunyai kegelapan batin ( seperti menganggap ada Tuhan sang penyelamat dan penebus dosa ),
Bung Sethiadi tidak akan pernah mencapai jhana meskipun bermeditasi selama ribuan tahun.

semoga penjelasan saya ini jelas untuk anda.

salam

卓俊樺



2009/3/19 sethiadi <sset...@gmail.com>


Sethiadi:


Saya sudah punya 5 buku mengenai Buddhism. Saya pernah belajar meditasi,
tetapi sekarang saya berhenti. Waktu itu beberapa orang Buddhist katakan : "
Ajaran Buddha bisa diverifikasi karena ilmiah." Saya sangat tertarik akan
hal ini. Saya   kemudian belajar meditasi dari bukunya Ajahn Brahm yang
dianjurkan mereka. Saya tanya apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi?
Mereka tidak dapat kasih sesuatu yang jelas. Soal perasaan, dan filsafat
spekulatif saya tidak mau. Ternyata mereka tidak dapat berikan contoh yang
jelas. Atau ada? Kalau menurut Anda ada, tolong beritahu saya.

Saya tanya siapa dimillis itu yang sudah jhana? Ternyata tidak ada satupun.
Kini saya tanya dimillis ini :"Siapa dimillis ini yang sudah jhana?"
Mungkin tidak ada juga. Wah mungkin saya harus tanya Ajahn Brahm sendiri.
Apakah Anda punya  alamat email  beliau?

Kalau memang ajaran Buddha bisa diverifikasi/falsifikasi karena ilmiah, saya
betul-betul tertarik. Tetapi jangan hanya soal perasaan yang sangat
subjektif dan soal filsafat spekulatif.

Salam. Stanley Sethiadi.

Ika Polim

unread,
Mar 19, 2009, 12:40:52 AM3/19/09
to Spiritu...@googlegroups.com
he he he ...!
 
saya suka berbicara ttg hal Meditasi dan juga Jhana !!!
 
saran saya adalah:
 
1. bagi yang membela buddhism, jgn terlalu berpegang pada peraturan (org lain)!
 
2. bagi yang mempertanyakan buddhism, apa yang ingin anda katakan sebenarnya dgn pertanyaan ttg sudah Jhana atau belum!
 
 ika.

--- On Wed, 3/18/09, 卓俊樺 <zent...@gmail.com> wrote:

CC.sen

unread,
Mar 18, 2009, 11:58:51 PM3/18/09
to Spiritu...@googlegroups.com
:}:]:)
Sobat Sethiadi,
Buddhism mengajarkan untuk membuktikanlah dgn cara praktekkan sendiri bukan orang lain membuktikan kepada kita, bila Anda ingin mengetahui apa itu jhana kenapa ga coba meditasi sungguh2 buktikan dan rasakan sendiri.
Bila Anda berkeinginan menanyakan ke orang lain sebagai verifikasi tentang pengalaman meditatifnya dan sensasi2 yg mereka alami, saya rasa hanya akan mengecewakan Anda.
Memang sulit untuk mencapai jhana tp BISA tergantung pribadi masing2, ada sebagian orang yg hanya duduk 2jam sudah mampu memasuki jhana sementara sebagian lagi masih harus berusaha keras pun belum tentu bisa dikehidupan ini.

Bila Anda ingin tahu lebih banyak mengenai jhana, saya yakin dibuku super power mindfulnes Ajahn Brahm sudah menjelaskan dgn sangat amat deteil, namun saya akui buku ini agak susah dicerna oleh sebagian besar orang bahkan umat Buddha sendiri pun banyak yg tdk tertarik oleh sebab itu buku ini dikabarkan kurang laku. Buku ini hanya cocok bagi mereka yg sungguh2 tertarik dgn meditasi dan mudah dimengerti bagi mereka yg pernah mengenyam pengalaman meditasi.
Bila Anda ingin hubungi YM.Ajahn Brahm bisa kunjungi www.bswa.org.
Namun kami dapat pesan dr Beliaw saat ini buuuaanyak email yg masuk sementara acara Beliaw sangat padat mencakup manca negara sehingga email2 tidak dapat terbalas.

Semoga sobatku Sethiadi dan semua nya bahagia selalu.


Salam
CC.sen


From: 卓俊樺
Date: Thu, 19 Mar 2009 10:46:55 +0900
To: <Spiritu...@googlegroups.com>


Subject: [Spiritual-World] Sethiadi --> tentang meditasi dan jhana

sethiadi

unread,
Mar 19, 2009, 9:45:05 AM3/19/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Terima kasih untuk semua respons dari posting saya kepada sdri Yenny Tan. Malah Nona Yenny Tan belum jawab apa-apa.
 
Waktu saya berumur 21 tahun paham saya adalah agnostik. Saya pernah coba bermeditasi cara Hindu ialah Yoga. Kalau Yoga, posisi tubuh sangat penting. Lain dengan meditasi cara Buddha yang katanya bisa sambil berdiri, jalan, bahkan kerjakan sesuatu.
Posisi tubuh yang saya pilih waktu itu adalah duduk bersila, dengan jari kaki kanan ditaruh dipaha kiri, dan jari kaki kiri ditaruh dipaha kaki kanan. Waktu itu dengan susah payah dan menahan sakit saya bisa juga. Tetapi yang saya tidak berhasil lakukan adalah kosongkan pikiran. Makin saya berusaha, makin banyak pikiran macam-macam masuk keotak saya. Akhirnya saya berhenti.
 
Baru-baru ini atas anjuran beberapa kawan Buddhist saya coba lagi cara Buddhist. Saya sudah dapat meditasi selama 30 menit. Pikiran dapat saya konsentrasi hanya kepernapasan selama beberapa detik. Lalu saya bertanya apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi? Ternyata jawaban mereka semua hanya perasaan dan filsafat spekulatif ialah menurut Buddha semua berubah. Saya katakan dizaman Yunani kuno sudah ada beda pendapat antara Parmenides dan Herakleitos. Parmenides bilang :"Yang ada, ada. Yang tidak ada, tidak ada. Yang ada tidak bisa jadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak bisa ada. Jadi semua tetap tidak berubah". Herakleitos bilang :" Semua berubah. Panta rei. Sungai kelihatannya saja tetap, sebenarnya airnya terus berubah. Jadi semua berubah." Kelihatannya Buddha setuju dengan Herakleitos.
 
Ilmu pengetahuan alam modern tarik kesimpulan jumlah enersi dialam semesta ini tetap. Tetapi bentuknya terus berubah dari bentuk yang satu kebentuk yang lain. Hal ini saya sudah tahu waktu saya mahasiswa di-ITB. Jadi buat apa saya verifikasi/falsifikasi lagi.
 
Lalu ada yang usulkan meditasi soal penderitaan manusia terus-menerus salam seminggu. Ya kalau begitu tentu perasaan kasihan dan turut menderita akan terasa. Tetapi perasaan adalah sangat subjektif. Mungkin ini bisa diterima oleh akhli psychologi tetapi tidak bisa diterima akhli fisika. Karena saya lebih dekat pada fisika daripada psychologi, saya tidak puas dengan perasaan.
 
 
Adakah sesuatu yang objektif yang dapat saya verifikasi/falsifikasi? Sesuatu yang dapat diterima oleh akhli fisika?
Banyak Buddhist katakan Buddhisme adalah ilmiah. Ilmiah apanya?
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.

Yenny Tan

unread,
Mar 20, 2009, 8:05:38 AM3/20/09
to Spiritu...@googlegroups.com
sorry, saya buka emailnya random, jadi yang ini juga baru kebaca hari ini.

Ok, jadi menurut anda perasaan itu tidak akan berubah?

Keinginan berubah kah? Kalau keinginan tidak berubah, berarti sampai
sekarang anda masih ingin mobil-mobilan? sepeda anak-anak?

Perasaan anda ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, apakah akan
terus sama walaupun anda melihatnya 10 kali, 100 kali?

Pemikiran anda sendiri, apakah sama dengan ketika anda masih SD? Kalau
nggak, apakah pemikiran itu berubah atau tidak?

Memang yang dikatakan "berubah" dalam agama Buddha bukan sekedar
perubahan fisik saja. ada hal yang lebih dalam yang bisa dikaji.

Saya masih awam. Jadi saya tidak tahu perenungan yang cocok anda
seperti apa. Makanya saya anjurkan dari awal, coba ke vihara, tanya
Bhikkhu saja. Karena kalau tanya umat Buddha sendiri, mereka juga
belum tentu bisa membantu.

Yang paling penting menurut saya, ketika anda mau belajar sesuatu,
coba semua teknik yang diajarkan. Buang semua keraguan-keraguan dan
pertentangan-pertentangan yang ada didalam anda. Kalau tidak, anda
hanya menyia-nyiakan waktu anda dan tidak mendapat manfaat apa-apa.

Thanks,

Yenny Tan

2009/3/19 sethiadi <sset...@gmail.com>:

sethiadi

unread,
Mar 20, 2009, 3:03:37 PM3/20/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Yenny:
Ok, jadi menurut anda perasaan itu tidak akan berubah?

Sethiadi:
Saya tidak katakan apa-apa mengenai perasaan dan keinginan. Yang saya
katakan adalah mengenai materi dan enersi. Menurut modern science, jumlahnya
dialam semesta tetap, tetapi bentuknya dapat berubah dari satu bentuk
kebentuk lain.

Yenny:
Saya masih awam. Jadi saya tidak tahu perenungan yang cocok anda
seperti apa. Makanya saya anjurkan dari awal, coba ke vihara, tanya
Bhikkhu saja. Karena kalau tanya umat Buddha sendiri, mereka juga
belum tentu bisa membantu.

Sethiadi:
Dahulu, waktu saya berumur 21 tahun, sebagai agnostik saya pelajari banyak
macam agama didunia ini, termasuk Buddhism.
Waktu itu saya tidak katakan Tuhan itu ada, tetapi saya juga tidak katakan
bahwa Tuhan itu ada. Saya katakan bahwa saya tidak tahu. Saya mulai
pencaharian kebenaran saya sejak umur 16 tahun : " On a white peace of
paper." Saya belajar dari buku-buku yang saya dapat waktu itu. Apa yang saya
cari? Yang saya cari adalah :"KEBENARAN".

Pada akhir bulan Juni 1964 saya yakin dan percaya bahwa saya telah diberi
petunjuk oleh Tuhan (Lihat kesaksian saya dimillis ini atau di-
www.dianweb.org atau www.sahabatsurgawi.com atau
www.freewebs.com/sethiadi/ ).

Apa yang saya cari sekarang? "KEBENARAN" yang lebih tinggi, lebih dalam,
lebih luas.

Beberapa orang Buddhist mengatakan bahwa ajaran Sang Buddha jangan
dipercaya, tetapi agar dialami sendiri.
Buddha bicara soal "Rebirth". Bagaimana menyelidiki apa ini benar atau
tidak? Buddha bicara soal "Karma". Bagaimana menyelidiki apa ini benar atau
tidak? Dan bagaimana menyelidiki ajaran-ajaran Buddha yang lain, benar atau
tidak?
Itu pertanyaan saya sekarang.

Kalau ada orang dimillis ini yang bisa beri petunjuk, maka saya sangat
berterima kasih padanya. Adakah?

anatta net

unread,
Mar 20, 2009, 10:10:36 PM3/20/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Anda mau tau karma?
Coba anda berhenti bernapas,
apa yang terjadi?

2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>:


>
> Yenny:
> Ok, jadi menurut anda perasaan itu tidak akan berubah?
>
> Sethiadi:
> Saya tidak katakan apa-apa mengenai perasaan dan keinginan. Yang saya
> katakan adalah mengenai materi dan enersi. Menurut modern science, jumlahnya
> dialam semesta tetap, tetapi bentuknya dapat berubah dari satu bentuk
> kebentuk lain.

--
What doesn't kill us makes us stronger.

sethiadi

unread,
Mar 21, 2009, 4:35:22 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
CC sen:
Buddhism mengajarkan untuk membuktikanlah dgn cara praktekkan sendiri bukan orang lain membuktikan kepada kita, bila Anda ingin mengetahui apa itu jhana kenapa ga coba meditasi sungguh2 buktikan dan rasakan sendiri.
 
 
Sethiadi:
Terima kasih untuk respons Anda.
 
Bagi saya buku Ajahn Brahm dapat saya mengerti. Walaupun banyak Buddhist takut-takuti saya bahwa saya tidak akan berhasil, saya tidak takut. Tetapi persoalannya, tujuan utama saya,  bukan mau jhana, tetapi mau verifikasi/falsifikasi ajaran Buddha.
Kalau tidak salah Buddha mengatakan :"Jangan percaya saya, tetapi alami sendiri." Betulkah ini?
 
REBIRTH:
Saya tidak percaya soal "Rebirth" bagaimana saya harus alami sendiri hal ini? Tunggu sampai saya mati?
 
KARMA:
 
Saya sedikit percaya Karma dikehidupan ini. Penjahat yang ditangkap polisi, diadili dan dihukum adalah contoh Karma bukan?
Tetapi tidak semua kejahatan dihukum didunia ini dan dikehidupan ini. Perusuh-perusuh Mei 1998 tidak ada satupun yang ditangkap, diadili dan dihukum. Akan dihukum dikehidupan lain?
 
Rebirth dan Karma dapat diverifikasi/falsifikasi kalau kita sudah mati. Jadi tidak bisa dikehidupan ini.
 
Apa yang dapat diverifikasi/falsifikasi dikehidupan ini?
 
PERUBAHAN:
 
Perubahan dari satu bentuk enersi kebentuk yang lain, memang selalu terjadi. Tetapi menurut ilmu pengetahuan alam modern setiap perubahan hanya menambah entropy. Alam semesta ini seperti jam yang pakai per. Pernya makin lama makin kendor. Suatu saat, semua perubahan akan berhenti. Pernya akan kendor total sampai tidak bisa ada perubahan lagi, kecuali kalau ada intervensi dari luar. Itu saya tahu dari kuliah "Thermodinamika".
 
Tetapi jumlah enersi total dialam semesta ini tetap, tidak berubah. Begitulah teori fisika masa kini.
 
Itu saya sudah tahu dan percaya waktu saya turut kuliah :"Thermodinamika".
 
Jadi saya tidak perlu verifikasi/falsifikasi lagi. Tetapi mengenai perubahan dan tetap ini saya belajar dari fisika, bukan dari ajaran Buddha.
 
Apa dari ajaran buddha yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dalam kehidupan ini?
 
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
 
----- Original Message -----
From: CC.sen
Sent: Thursday, March 19, 2009 10:58 AM

sethiadi

unread,
Mar 21, 2009, 4:43:11 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
saya benci untuk menulis ini,
selama Bung sethiadi masih serakah untuk masuk surga, membenci setan dan neraka,  mempunyai kegelapan batin ( seperti menganggap ada Tuhan sang penyelamat dan penebus dosa ),
Bung Sethiadi tidak akan pernah mencapai jhana meskipun bermeditasi selama ribuan tahun.
Sethiadi:
Darimana Anda tahu?
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
----- Original Message -----
From: 卓俊樺
Sent: Thursday, March 19, 2009 8:46 AM
Subject: [Spiritual-World] Sethiadi --> tentang meditasi dan jhana

sethiadi

unread,
Mar 21, 2009, 4:48:38 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Ika:
2. bagi yang mempertanyakan buddhism, apa yang ingin anda katakan sebenarnya dgn pertanyaan ttg sudah Jhana atau belum!
 
Sethiadi:
Kalau belum jhana, saya tidak bisa angkat jadi penasehat saya. Kalau sudah saya mau minta pendapatnya.
 
Pertanyaan saya :"Apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dari ajaran Buddha dalam kehidupan ini?"
Atau Anda bisa jawab pertanyaan saya dengan memuaskan?
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
 
 
----- Original Message -----
From: Ika Polim

sethiadi

unread,
Mar 21, 2009, 4:48:38 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Ika:
2. bagi yang mempertanyakan buddhism, apa yang ingin anda katakan sebenarnya dgn pertanyaan ttg sudah Jhana atau belum!
 
Sethiadi:
Kalau belum jhana, saya tidak bisa angkat jadi penasehat saya. Kalau sudah saya mau minta pendapatnya.
 
Pertanyaan saya :"Apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dari ajaran Buddha dalam kehidupan ini?"
Atau Anda bisa jawab pertanyaan saya dengan memuaskan?
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
 
 
----- Original Message -----
From: Ika Polim
Sent: Thursday, March 19, 2009 11:40 AM

sethiadi

unread,
Mar 21, 2009, 4:55:51 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Saya bisa tahan napas untuk kira-kira satu menit. Kalau tahan napas satu
menit, saya megap-megap. Kalau lebih dari itu, apalagi lebihnya banyak saya
akan mati dan tidak bisa menjawab Anda lagi. Tetapi saya belum mau mati
ahh....

Salam. Stanley Sethiadi.



----- Original Message -----

wirajhana eka

unread,
Mar 21, 2009, 5:22:20 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Setiadi:
Dari mana anda tahu?

Saya:
Dari sini: Dengan mengasingkan diri dari nafsu indera, mengasingkan diri dari dhamma yang tidak menguntungkan (akusala dhamma), seorang bhikkhu mencapai Jhana I disertai dengan 'usaha pikiran untuk menangkap objek' (vitakka), 'pikiran telah menangkap objek' (vicara), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) yang muncul dari mengasingkan diri.




2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>

wirajhana eka

unread,
Mar 21, 2009, 5:34:17 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Setiadi,
Sry saya ikutan sedikit..


2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>

CC sen:
Buddhism mengajarkan untuk membuktikanlah dgn cara praktekkan sendiri bukan orang lain membuktikan kepada kita, bila Anda ingin mengetahui apa itu jhana kenapa ga coba meditasi sungguh2 buktikan dan rasakan sendiri.
 
 
Sethiadi:
Terima kasih untuk respons Anda.
 
Bagi saya buku Ajahn Brahm dapat saya mengerti. Walaupun banyak Buddhist takut-takuti saya bahwa saya tidak akan berhasil, saya tidak takut. Tetapi persoalannya, tujuan utama saya,  bukan mau jhana, tetapi mau verifikasi/falsifikasi ajaran Buddha.
Kalau tidak salah Buddha mengatakan :"Jangan percaya saya, tetapi alami sendiri." Betulkah ini?

WE:
100% benar
 
 
REBIRTH:
Saya tidak percaya soal "Rebirth" bagaimana saya harus alami sendiri hal ini? Tunggu sampai saya mati?

WE:
Tidak perlu, Jika anda dapat percaya bahwa Yesus turun dari surga maka mengapa anda tidak percaya bahwa manusia dapat rebirth? atau anda dapat ambil2 contoh2 yang telah diverifikasi oleh ahli2 Psiko di blog saya:

http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/10/from-hero-to-zero-ini-reinkarnasi-bro.html

 
 
KARMA:
 
Saya sedikit percaya Karma dikehidupan ini. Penjahat yang ditangkap polisi, diadili dan dihukum adalah contoh Karma bukan?
Tetapi tidak semua kejahatan dihukum didunia ini dan dikehidupan ini. Perusuh-perusuh Mei 1998 tidak ada satupun yang ditangkap, diadili dan dihukum. Akan dihukum dikehidupan lain?

WE:
Perusuh2 itu bisa jadi tidak berhubungan dengan semua kehidupan masa lalu mereka yang korban, dan karma mereka terpicu karena 3 akar kejahatan [keserakahan, kebencian dan kebodohan batin] ia membawa karma baru dalam hidupnya dia saat ini dan kedepan [di hukum penjara belum pasti merupakan pembayaran karma] namun semua perbuatan ada ganjarannya [baik dan buruk]

Saran saya: Stop Hate those people..hidup akan terus berjalan...

 
Rebirth dan Karma dapat diverifikasi/falsifikasi kalau kita sudah mati. Jadi tidak bisa dikehidupan ini.
 
Apa yang dapat diverifikasi/falsifikasi dikehidupan ini?
 
PERUBAHAN:
 
Perubahan dari satu bentuk enersi kebentuk yang lain, memang selalu terjadi. Tetapi menurut ilmu pengetahuan alam modern setiap perubahan hanya menambah entropy. Alam semesta ini seperti jam yang pakai per. Pernya makin lama makin kendor. Suatu saat, semua perubahan akan berhenti. Pernya akan kendor total sampai tidak bisa ada perubahan lagi, kecuali kalau ada intervensi dari luar. Itu saya tahu dari kuliah "Thermodinamika".
 
Tetapi jumlah enersi total dialam semesta ini tetap, tidak berubah. Begitulah teori fisika masa kini.
 
Itu saya sudah tahu dan percaya waktu saya turut kuliah :"Thermodinamika".
 
Jadi saya tidak perlu verifikasi/falsifikasi lagi. Tetapi mengenai perubahan dan tetap ini saya belajar dari fisika, bukan dari ajaran Buddha.
 
Apa dari ajaran buddha yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dalam kehidupan ini?

WE:
silakan anda gali sendiri....

note:
ingat pak, umur anda [60 tahunan, kalo saya ngga salah]...saya berharap bapak sudah mulai mendapat titik terang yang benar...sayang sekali jika anda tetap berkutat di ajaran yang memakai waktu linier.

Semoga anda mencapai tujuan minimum dan dapat meneruskan nya di alam berikut.

wirajhana eka

unread,
Mar 21, 2009, 5:38:06 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Setiadi,
Anda bisa belajar sendiri..dan bereksperiment sendiri...berhentilah tergantung pada orang lain

    Seseorang seharusnya tidak berusaha kemana-mana,
    Seseorang seharusnya tidak bekerja pada orang lain.
    Seseorang seharusnya tidak hidup tergantung kepada yang lain,
    Seseorang seharusnya tidak membuat bisnis Dhamma.



2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>

卓俊樺

unread,
Mar 21, 2009, 6:54:02 AM3/21/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Dear Bung Sethiadi,

Keinginan anda untuk memverifikasi ajaran Buddha adalah hal yang baik dan sangat mengagumkan.
Sayangnya, tanpa mempraktekan meditasi dengan sungguh-sungguh,
tanpa mempraktekan ajaran moral Buddhism,
tanpa mengembangkan kebijaksanaan,
tanpa menghilangkan pandangan salah dan kekotoran hati/ batin ,
sungguh sulit bagi kita untuk memverifikasi ajaran Buddha

Sama seperti ajaran Kristiani,
tanpa beriman kepada Yesus dan memahami alkitab,
tanpa berdoa kepada Allah Bapa,
kita tidak akan mampu memahami konsep Allah Tritunggal, konsep freewill dan konsep dosa awal.

Buku Ajahn Brahm yang berjudul " Mindfullness, Bliss and Beyond " adalah buku petunjuk untuk para meditator.
Mungkin anda bisa mengerti semua kata2 yang tertulis di dalam buku tersebut,
tapi anda tidak akan bisa memverifikasi dan mengalami semua  yang tertulis dalam buku tersebut bila anda tidak bermeditasi dengan tekun dan sungguh2 ( sebagai pemula, minimal anda harus bermeditasi 1 jam di pagi hari dan 1 jam di malam hari )

Kalo boleh saya memberi saran kepada anda,
adalah hal yang tepat bagi anda untuk memeluk ajaran Kristiani

anda tidak perlu membuang2 waktu untuk memverifikasi ajaran Buddha dengan bertanya kepada orang lain,
karena itu tidak ada gunanya.

Yesus mengajarkan untuk mengembangkan sikap rendah hati, membagi kasih kepada sesama,
mengampuni orang yang bersalah kepada kita, menolong orang yang menderita, tidak bersikap sombong dan sebagainya.

ajaran Yesus ini sungguh sangatlah indah.
Percayalah, bila anda benar2 mempraktekkan ajaran Yesus ini,
anda akan bahagia di dunia dan anda pasti akan meninggal dengan bahagia
serta masuk ke alam surga yang Yesus janjikan.

Anda sudah berumur 60 tahun.
paling lama anda hanya punya sisa waktu 30 tahun di dunia ini.
Alangkah baiknya bila anda menggunakan waktu anda yang tersisa untuk mempraktekkan ajaran Yesus.

Percayalah, sungguh suatu hal yang sia2 bila anda menggunakan sisa hidup anda hanya untuk memverifikasi ajaran Buddha dengan bertanya kepada orang lain.

Umat Buddha sendiri tidak peduli apabila anda menganggap ajaran Buddha tidak ilmiah, tidak masuk akal, tidak dapat diverifikasi
dan sebagainya. Mengapa?
Karena kami yakin dan telah mengalami sendiri bahwa dengan mempraktikan ajaran Buddha,
kami bisa hidup bahagia di alam sini dan di alam akhirat.

Mengapa anda yang telah meyakini ajaran Yesus yang sangat indah, ingin memverifikasi ajaran Buddha dengan bertanya kepada orang lain? Percayalah, anda hanya melakukan hal yang sia2 dan tidak ada gunanya.

Hidup di dunia ini sangat singkat. Untuk apa kita melakukan hal yang sia2 dan tidak ada gunanya?

semoga anda selalu berbahagia dan diberkati oleh Yesus yang anda cintai,

salam,

卓俊樺



2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>

sethiadi

unread,
Mar 22, 2009, 3:14:23 AM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
saya benci untuk menulis ini,
selama Bung sethiadi masih serakah untuk masuk surga, membenci setan dan neraka,  mempunyai kegelapan batin ( seperti menganggap ada Tuhan sang penyelamat dan penebus dosa ),
Bung Sethiadi tidak akan pernah mencapai jhana meskipun bermeditasi selama ribuan tahun.
 
Sethiadi:(old)
Darimana Anda tahu?
 
 
Sethiadi: (new)
Anda tidak pernah jadi saya bukan? Anda juga tidak pernah meditasi selama ribuan tahun bukan? Dari mana Anda tahu bahwa saya tidak akan pernah mencapai jhana? Anda tidak pernah jadi saya, dan tidak pernah coba meditasi selama ribuan tahun. Jadi Anda tidak mungkin tahu karena mengalami sendiri. Buddha katakan :"Alami sendiri". Anda percaya itu, tanpa mengalami sendiri bukan? Sekali lagi Anda percaya, bukan tahu dari pengalaman sendiri. Anda percaya karena bhikku Anda atau orang lain mengatakan begitu, pasti bukan dari pengalaman sendiri.
 
Anda percaya, bukan tahu dari pengalaman sendiri. Banyak orang lain juga percaya, bahwa ada Tuhan dll, walaupun mereka juga tidak pernah atau belum pernah alami sendiri. Unsur percayanya sama kan?
 
 
Anda tidak dapat jawab pertanyaan saya dengan memuaskan, bukan? Jangan marah yah. Saya perlu orang yang sudah matang dalam hal Buddhism seperti Ajahn Brahm. Tetapi kelihatannya sangat sulit menghubunginya yah?  Apa Anda ada usul siapa yang dapat saya hubungi via alamat email. Sementara ini saya hanya mau bertanya dengan email. Mungkin kemudian bisa berlanjut. Tetapi saya coba hubungi Ajahn Brahm juga. Ia punya background fisika, saya juga punya background fisika. Jadi kami punya titik berangkat yang sama. Walaupun punya titikberangkat (starting point) yang sama, Albert Einstein jadi panteis, Bertrand Russel jadi agnostik, Laplace jadi Ateis, Damadian jadi Kristen Injili dan Kreasionis, Ajahn Brahm jadi Buddhist.
 
 
Anda betul, saya dapat "mengerti" bukunya, tetapi mempraktekkannya sulit sekali. Ia menulis harus bisa hening, seolah-olah mudah sekali. Saya sudah coba berbulan-bulan baru bisa hening beberapa detik, sebelum macam-macam pikiran menyerbu lagi keotak saya.
 
Pertanyaan saya adalah :"Apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dari ajaran Buddha dalam hidup ini?"
 
Pertanyaannya gampang, kelihatannya jawabannya yang sulit. Mungkin saya dapat menerima sebagian dari ajarannya kalau saya mengalami sendiri. Umur saya kini sudah 70 tahun. Tetapi menurut Ajahn Brahm umur, agama dll tidak jadi halangan. Betulkah?
 
 
Pepatah Belanda mengatakan :"Men is nooit te oud om te leren." Artinya dalam bahasa Inggris: "One is never too old to learn."
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
 
 
----- Original Message -----

wirajhana eka

unread,
Mar 22, 2009, 6:07:24 AM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Bung Setiadi,
Umur emang tidak masalah untuk belajar atau tidak belajar..atau merubah atau tidak merubah..
Kepercayaan terhadap Tuhan merupakan pandangan salah dalam agama Buddhis..salah satu pilar menuju Sottapati adalah menghancurkan pandangan salah...

Berikut dibawah ini saya postingkan sebuah peta jalan yang dapat anda pakai mengelola tujuan anda:


PENGELOLAAN DHAMMA

[berdasarkan tulisan dari Lily Warsiti]

Target yang harus tercapai Target  per Tingkat kesucian

AKUSALA KAMMAPATTHA 10

(10 SALURAN PERBERBUATAN TAK BERMANFAAT)

 

  1. Panatipata

(Membunuh)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Adinnadana

(Mencuri)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Kamesumicchacara

(Berbuat Asusila)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Musavada

(Berdusta)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Micchaditthi

(Pandangan Salah)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Pisunavaca

(Bicara Fitnah)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Pharusavaca

(Kata kasar)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Byapada

(Itikat Jahat)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Samphappalapa

(Gosip)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Abhijjha

(Hasrat Rendah, ketamakan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

 

 

LOKA DHAMMA 8

(8 KONDISI DUNIA)

 

  1. Alabha

(Rugi)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Ayasa

(Tidak Masyur)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Ninda

(cela)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Dukkha

(Penderitaan)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Labha

(Untung)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Yasa

(Kemasyuran)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Pasamsa

(Pujian)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Sukha

(kebahagiaan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

 

 

MACCHARIYA 5

(5 JENIS KEKIKIRAN)

 

  1. Dhammamacchariya

(Kekikiran terhadap kebenaran/pengetahuan/ajaran/Dhamma)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Vannamacchariya

(Kekikiran terhadap kemasyuran/keterkenalan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Labhamacchariya

(Kekikiran terhadap keuntungan/rejeki)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Kulamacchariya

(Kekikiran terhadap keluarga)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

5. Avasamacchariya (Kekikiran terhadap tempat tinggal)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

 

 

NIVARANA 6/7

(6/7 RINTANGAN BATIN)

 

  1. Kukkucca

(Kekhawatiran)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Vicikiccha

(Keragu-raguan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Kamaraga

(Hawa nafsu, nafsu indera)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Byapada

(Itikat Jahat)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Thina-Middha

(Malas-Lamban)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Uddhaca

(Kegelisahan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Avijja

(Kegelapan batin )

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

 

 

SANYOJANA 10

(10 BELENGGU)

 

1. Ditthi

(Pandangan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

2. Vicikiccha

(Keragu-raguan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

3. Silabataparamasa

(Kepercayaan bahwa dengan upacara saja bisa mencapai kesucian)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Kamaraga

(Hawa Nafsu, Nafsu Indera)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Patigha

(Kebencian, kemarahan)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Ruparaga

(Nafsu untuk bertubuh dengan materi/nafsu untuk lahir di alam bermateri)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Aruparaga

(Nafsu untuk menjadi bertubuh tanpa materi/nafsu untuk lahir di alam tanpa materi)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Mana

(kesombongan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Uddhacca

(Kegelisahan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Avijja

(Kegelapan batin)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

 

 

10 KILESA

(10 KEKOTORAN BATIN)

 

  1. Ditthi

(pandangan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Vicikiccha

(Keragu-raguan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Dosa

(Kebencian)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Ahirika

(tidak malu akan kejahatan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Anottappa

(tidak takut akibat perbuatan jahat)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Thina

(Kemalasan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Uddhacca

(Kegelisahan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Mana

(kesombongan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Moha

(kebodohan batin, kegelapan batin)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Lobha

(Keserakahan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

 

 

10 MICCHATTA DHAMMA

(10 KEKELIRUAN)

 

  1. Miccha-ditthi

(Pengertian keliru)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Miccha-Vaca

(Ucapan salah)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Miccha-Kammanta

(Perbuatan jasmani salah)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Miccha-Avijja

(Penghidupan salah)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Miccha-Sankhappa

(Pikiran salah)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Miccha-Vayama

(Daya upaya salah)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Miccha-Sati

(Perhatian salah)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Miccha-Samadhi

(Konsentrasi salah)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Miccha-Nana

(Pengetahuan salah)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Miccha-Vimutti

(Pembebasan salah)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

 

 

12 VIPALLASA DHAMMA

(12 KESEMUAN)

 

  1. Nicca-Sanna

(Persepsi/pencerapan tentang segalanya kekal)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Nicca-Citta

(Pemikiran tentang segalanya kekal)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. NicchaDitthi

(Pandangan/paham tentang segalanya kekal)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Atthasanna

(Persepsi/pencerapan tentang sesuatu mengandung inti kekal/atta)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Attacitta

(Pemikiran tentang sesuatu mengandung inti kekal/atta)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Atthaditthi

(Pandangan/paham tentang sesuatu mengandung inti kekal/atta)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Sukhaditthi

(Pandangan bahwa segala sesuatu itu menggembirakan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Subhaditthi

(Pandangan bahwa segala sesuatu itu indah)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Subhasanna

(Persepsi/pencerapan bahwa segala sesuatu itu indah)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Subhacitta

(Pemikiran bahwa segala sesuatu itu indah)

[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat]

  1. Sukhasanna

(Persepsi/pecerapan bahwa segala sesuatu itu menggembirakan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

  1. Sukhacitta

(Pemikiran bahwa segala sesuatu itu menggembirakan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]

 

 

12 AKUSALA DHAMMA

(12 DHAMMA TAK BERMANFAAT)

 

  1. Ditthigatasampayutta 4

(4 jenis Citta yg bersekutu dengan pandangan keliru)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Ditthigatavippayutta 4

(4 jenis Citta yang tidak bersekutu dengan pandangan keliru)

[Sotapatti dan Sakadagami baru bisa mengendalikan/Melemahkan, , Anagami, Arahat]

  1. Dosamulacitta 2

(2 jenis Citta yang dipimpin oleh kebencian)

[Sotapatti dan Sakadagami baru bisa mengendalikan/Melemahkan, , Anagami, Arahat]

  1. Vicikiccha-sampayutta 1

(1 jenis Citta yang dipimpin oleh keraguan-raguan)

[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat]

  1. Uddhaccasampayutta 1

(1 jenis Citta yang dipimpin oleh kegelisahan)

[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat]


Note:

Arhat

Tingkat kesucian ke empat adalah Arahant, seorang yang mencapai tercerahkan/mencapi kesempurnaan [mencapai Nirvana/Nibana] bebas dari samsara dengan mengalahkan 10 belenggu. Ia tidak akan terlahir di alam manapun.

 

Nirvana [sanskrit]/ Nibanna [Pali] artinya adalah Nir= tidak Va [na] = meniup, Jadi arti Nirvana adalah Padam. Nirvana adalah bukan alam/Tempat/dimensi namun suatu keadaan dimana nafsu keinginan telah Padam sehingga tidak terlahir di alam manapun [definisi lihat di sini dan di sini]. Definisi penuh Nibanna/Parinibanna lihat di Khuddaka Nikaya, Udena Viii 1-4, Pataligama [Desa patali]]

 

Anagamis

Tingkat ke tiga adalah Anāgāmī (Sanskrit: Anāgāmin), yang berarti "seseorang yang tidak lahir/datang (āgacchati)",  tidak lahir kembali  sebagai manusia atau lebih rendah lagi, namun di satu Alam di antara alam-alam Rūpadhātu yaitu di alam-alam Śuddhāvāsa. Di Alam itu, ia akan mencapai Nirvāa. Anāgāmī telah mengalahkan 5 belenggu terbawah.

 

Sakadagami

Tingkat kedua adalah Sakadāgāmī (Sanskrit: Sakdāgāmin), yang berarti "Seseorang yang lahir/datang (āgacchati) satu kali (sakt)", akan dilahirkan kembali satu kali saja di alam manusia dan kemudian akan mencapai Arahat.

 

Sotapanna

Tingkat Pertama adalah Sotāpanna (Pali; Sanskrit: Srotaāpanna), yang berarti "seseorang yang memasuki (āpadyate) Arus (sotas)," Arus berarti 8 Jalan Utama yang merupakan Dhamma yang tertinggi. Pemasuk arus ini juga dinamakan yang "dibuka mata dhammanya" (dhammacakkhu, Sanskrit: dharmacakus)[2].

 

Perenang Arus ini di jamin mencapai pencerahan [Nirvana/Nibanna] tidak lebih dari 7 kelahiran kembali [atau lebih sedikit] dan tidak akan terlahir kembali di alam2 menderita (misalnya alam binatang, preta (jin/mahluk halus/setan), atau di neraka) namun akan terlahir di alam manusia atau di salah satu loka diatasnya. Perenang arus diperoleh melalui ajaran Buddhis (samyagdṛṣṭi or sammādiṭṭhi, "pandangan benar"), atau telah menyelesaikan/mencapai atau  Saddha dalam tri ratna Buddha, Dhamma, and Sangha, dan juga mempunyai moral prilaku yang baik (Sila).


Pencapaian Jhana 1 sebelum meninggal membuat anda akan mendapatkan kesempatan dilahirkan kembali di salah satu alam kamaloka [diatas alam manusia]..namun setelah umur kedewaan [umur karma baik] anda habis...maka kelahiran berikutnya dapat dialam2 di bawahnya atau diatasnya [tergantung beberapa hal lagi yang berhubungan dengan tindakan anda sebelum dan saat itu], tidak harus berurutan/satu tingkat..[jadi bisa saja setelah wafat terlahir kembali ke neraka AVICI [neraka panas tingkat paling bawah]]

Semoga anda mendapatkan apa yang dicita-citakan.

2009/3/22 sethiadi <sset...@gmail.com>

anatta net

unread,
Mar 22, 2009, 6:45:22 AM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Maaf, yang muda mau ngasi saran,
alangkah baiknya lebih sabar, anda sudah berusaha
meditasi, dan berhasil mencapai hening, walau sebentar,
itu sudah bagus, coba terus, jangan menyerah.

Mengenai unsur percaya, percaya tuhan tidak bisa dibuktikan,
sampai kapanpun, dan tidak di beritahu bagaimana caranya
utk membuktikan, kecuali nanti setelah kiamat.

Ajaran buddha mengundang untuk dibuktikan,
dan di beri tahu juga bagaimana caranya, yaitu meditasi.
Tapi bukannya mencoba meditasi, malah banyak yang
mencemooh meditasi.

Anda sudah umur 70, saya yakin anda sudah pernah mengalami
"pencerahan".Contohnya umum, si a sudah sering mendengar
orang putus cinta, dan sudah sering di mendengar bagaimana
rasanya putus cinta.
Jika belum pernah merasakan putus cinta, dia kemungkinan
mengatakan ah gitu aja kok sedih, ABG banget loe.
Loe kan cowok, masak gitu aja nangis.
Kemudian begitu si a mengalami putus cinta, baru dia
mengerti, oh begini rasanya putus cinta, baru kemudian
"spiritualitasnya" meningkat.

Demikian juga apa yang di ajarkan oleh sang buddha,
it's all about mengalami, merasakan sendiri.
Sebenarnya dhamma itu sangat dekat dengan pengalaman
manusia sehari2, cuma manusia tidak menyadarinya,
pikiran manusia sudah demikian parah dan akutnya
ditutupi oleh kebodohan, keserakahan, dan kebencian.

Salah satu keserakahan contohnya, terlalu mendewakan
orang suci, ingin belajar hanya dengan orang suci.

Jadi jika anda ingin verifikasi/falsifikasi ajaran sang buddha,
berusaha saja dengan langkah kecil, yaitu menyadari
setiap hembusan napas anda, menyadari proses
pikiran anda, menyadari suapan demi suapan ketika
anda makan, hanya menyadari, jangan terhanyut oleh
semua itu. Ketika anda meditasi, memusatkan kesadaran
pada napas, menyadari pada saat mengambil napas,
menyadari saat menghembuskan napas, menyadari
tarikan napas panjang, tarikan napas pendek, menyadari juga
ketika pikiran mulai berpindah dari napas, catat, kemudian
kembali lagi pada kesadaran napas.

Lakukan rutin tiap hari, pilih waktu yang tetap.
Saya yakin anda akan berhasil.

Anda mau buku bagus?
Kalau mau nanti saya japri.

anatta net

unread,
Mar 22, 2009, 7:22:05 AM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
>
> Pencapaian Jhana 1 sebelum meninggal membuat anda akan mendapatkan
> kesempatan dilahirkan kembali di salah satu alam kamaloka [diatas alam
> manusia]..namun setelah umur kedewaan [umur karma baik] anda habis...maka
> kelahiran berikutnya dapat dialam2 di bawahnya atau diatasnya [tergantung
> beberapa hal lagi yang berhubungan dengan tindakan anda sebelum dan saat
> itu], tidak harus berurutan/satu tingkat..[jadi bisa saja setelah wafat
> terlahir kembali ke neraka AVICI [neraka panas tingkat paling bawah]]
>
> Semoga anda mendapatkan apa yang dicita-citakan.
>
Saya kutip lagi :

" [tergantung beberapa hal lagi yang berhubungan dengan tindakan anda
sebelum dan saat itu] "

Mohon dijelaskan lebih lanjut, supaya nanti tidak terjadi salah paham.

wirajhana eka

unread,
Mar 22, 2009, 8:51:29 AM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
beberapa hal yang saya maksud adalah seperti ini:

Dalam proses kesadaran menjelang kematian ada kamma (perbuatan), kamma nimitta (simbol perbuatan), gati nimitta (symbol alam2 / tempat yg akan di tuju) sebagai obyek yg pasti. Kamma Arammana (Obyek berupa perbuatan cth berdana dll), kamma nimitta Arammana (obyek berupa simbol perbuatan cth pisau dll), gati nimitta arammana (obyek berupa symbol alam2/tempat yg akan di tuju cth melihat api dll) yang salah satunya akan timbul dalam proses kesadaran menjelang kematian dan merupakan symbol untuk memberitahukan akan tumimbal lahir di alam kehidupan yang mana. Obyek-obyek itu timbul dengan 4 macam kekuatan kamma, yaitu :

1. Garuka kamma (kamma yg berat)
2. Asanna kamma (perbuatan baik & jahat yang dilakukan oleh seseorang sebelum saat ajalnya. Jika tidak ada garuka kamma, Asanna kamma ini memberikan hasil
3. Acinna Kamma (kamma kebiasaan yang baik dan jahat. Jika tidak ada Garuka kamma dan asanna kamma, acinna kamma yg memberikan hasil.
4. Katatta kamma (kamma yang tidak begitu berat di rasakan akibatnya dari perbuatan-perbuatan yang lampau. Jika tidak ada ke tiga macam kamma di atas, katatta kamma akan memberikan hasil).


Kalimat diatas merupakan suntingan dari postingan seorang kawan bernama Lily warsiti...dan kalimat diatas ini sangat MENGGETARKAN saya..sehingga secara KHUSUS saya beritahu Istri, ibu, anak2 saya...agar mereka memastikan bahwa saat menjelang wafat memperhatikan hal2 diatas!

Dalam Devaputta samyutta, para pengiring dewa Subrahma [salah satu deva dialam Sakka/Sakra/Indra] sejumlah 500 mahluk, ketika habis umur kedewaannya, dan mereka menghilang dialam itu serta terlahir kembali ke alam neraka AVICI...dewa subrahma menjadi terpukau dan memeriksa umur kedewaannya yang ternyata tersisa seminggu dan ia pun terancam terlahir kembali ke alam Neraka AVICI!...dst..dst

Kejadian ini membuat saya merasa bahwa mencapai Jhana 1 saja tidak menyelesaikan persoalan saya secara keseluruhan...maka itu saya mengubah haluan perhentian sementara saya dengan mempelajari peta perjalanan dipostingan sebelumnya 

Yenny Tan

unread,
Mar 22, 2009, 12:39:03 PM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
biasanya dari "keterikatan" anda yang kuat. Selain kalau anda melepaskannya.

Memang semakin tua, semakin kita yakin apa yang kita lihat/dengar itu
benar. Padahal semuanya bisa berubah.

Anda tanya tentang perubahan, dan menurut anda total energi tetap sama
sampai sekarang. yang ingin saya tanyakan, kenapa bumi semakin panas?
apakah tidak ada kaitannya dengan energi?

2009/3/22 sethiadi <sset...@gmail.com>:

Yenny Tan

unread,
Mar 22, 2009, 11:51:48 AM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Hello,

Anda sudah pernah mencari kebenaran, tetapi anda tidak menemukannya
ketika masih Buddhist. Lalu anda merasa anda telah mendapatkan
kebenaran tertinggi sekarang ini di agama anda. Itu mungkin sudah
jodoh anda.

Tetapi, apa yang membuat anda sekarang tertarik meditasi? Karena ingin
mencari "kebenaran" yang dialami orang Buddhist yang katanya lebih
ilmiah dan bisa dibuktikan? kalau anda ingin mencari bukti, dan
berharap orang bisa membuktikan kepada anda, yang terjadi mungkin
hanya 2, anda tidak akan menemukannya atau yang anda temukan itu
adalah kemampuan gaib.

Pernah anda bertanya, kenapa anda mampu duduk yoga sampai 30 menit,
tetapi anda tidak mampu konsentrasi napas selama meditasi? Menurut
saya, karena anda tidak mencari apa-apa (tidak ada pertentangan)
ketika anda melakukan yoga makanya anda mampu duduk sampai 30 menit,
tapi ketika anda meditasi, anda mencari "kebenaran" yang membuat anda
gelisah.

Berapa lamakah orang belajar berjalan? Apakah sekali berdiri orang
sudah bisa berjalan? Atau harus jatuh bangun sampai beberapa hari baru
bisa berjalan? Seperti juga meditasi, tidak mungkin sekali anda duduk,
anda sudah bisa melihat kebenaran dan sudah mahir meditasi.

Kalau anda memang niat, sekarang ini coba yoga saja dulu, jangan
langsung meditasi. Yoga sampai bisa 1 jam (soalnya kalau retreat
rata-rata 1 jam). Lalu kalau sudah mampu tenang seperti itu, baru coba
beralih ke memperhatikan napas. Mungkin itu bisa membantu.

Saya menyarankan anda mencari Bhikkhu karena mereka lebih pakar
meditasi dan bisa membantu anda karena bagaimana pun anda masih
pemula. Maaf jangan tersinggung. Lebih baik belajar sesuatu kepada
pakar daripada belajar sendiri kan?

Untuk melihat REBIRTH, itu sudah mencapai jhana ke 2. jadi jangan
dipikirkan dulu. Dan untuk mengetahui Karma, selama anda masih umat
awam, itu tidak akan bisa. Jadi jangan dipikirkan dulu.

Thanks,

Yenny Tan

2009/3/20 sethiadi <sset...@gmail.com>:

Yenny Tan

unread,
Mar 22, 2009, 1:03:09 PM3/22/09
to Spiritu...@googlegroups.com
itulah... ketika anda tahan napas.. anda sudah berpikir akan mati..
padahal walaupun anda tahan 1 detik lagi, anda tidak akan mati.

semakin anda menjudge ... anda makin salah.

2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>:

prajnarupam

unread,
Mar 22, 2009, 10:39:16 PM3/22/09
to Spiritual World
:} :] :)

Sobat Wirajhana Eka, saya ingin membagi sedikit yg saya ketahui.
Nimitta menjelang ajal tidak dapat di bikin(diusahakan) sesuai
kehendak orang tersebut,nimitta akan muncul sendirinya sesuai
kebiasaan/tabiat/karakter pd saat seseorang menjalani
kehidupannya,bila pd kehidupan itu orang tersebut banyak melakukan
perbuatan baik maka otomatis pd saat menjelang ajal pikiran2(nimitta2)
baik pula yg akan muncul begitu juga sebaliknya.
Kondisi pikiran dapat diarahkan oleh pihak luar kehal2 yg positif
(ketenangan) seperti dibacakan paritta atau dalam keyakinan lain
disebut doa, maka orang tersebut akan terlahir dialam yg bahagia namun
itu pun disesuaikan dgn timbunan karma baik(kebiasaan baik/energy
positif) nya yg ia kondisikan pd saat lalu,kalau banyak maka ia akan
hidup dialam bahagia itu dgn waktu lama,kalau sedikit ia akan hidup
singkat kemudian terlahir lagi dialam yg rendah.
Ada juga sebagian orang sering melihat penampakan makhluk2 alam
rendah,itu bisa salah satu faktornya adalah timbunan karma baik(energy
positif) nya telah menipis apabila orang tersebut tidak menanam
kebajikan atau menciptakan hal2/energy positif dalam pikirannya) maka
saat kelahiran berikutnya ia akan terlahir dialam rendah, sebab pd
saat karma baik seseorang menipis berarti mulai muncullah karma buruk
(energy negatif) gelombang/frequency pikiran terkondisi nyaris sama
dgn gelombang pikiran makhluk2 alam rendah yg bersifat negatif.

Oleh sebab itu perbanyak kebajikan yg terutama melalui pikiran
kemudian perbuatan dan ucapan.
Pikiran bekerja bukan berdasarkan banyaknya materi namun lebih
ditekankan ke nilai2 pikiran,seperti tulisan saya beberapa watu lalu
di milis SP mengenai Berdana(beramal) yg menentukan besar kecilnya
pahala yakni kondisi batin kita sebelum,saat dan sesudah melakukan
dana/amal,jumlah materi yg didanakan/diamalkan bukanlah penentu dan
disamping itu frequency dalam berdana/beramal itu pun sangat
berperanan.

Pikiran adalah pelopor,pembentuk berhati2lah dgn pikiran.

Semoga kita semua hidup dalam kebahagiaan berlandaskan keyakinan luhur
masing2.

salam
CC.sen







On Mar 22, 7:51 pm, wirajhana eka <wirajh...@gmail.com> wrote:
> beberapa hal yang saya maksud adalah seperti ini:
>

> ....cut

> Kalimat diatas merupakan suntingan dari postingan seorang kawan bernama Lily
> warsiti...dan kalimat diatas ini sangat MENGGETARKAN saya..sehingga secara
> KHUSUS saya beritahu Istri, ibu, anak2 saya...agar mereka memastikan bahwa
> saat menjelang wafat memperhatikan hal2 diatas!
>
cut...........

wirajhana eka

unread,
Mar 23, 2009, 12:45:01 AM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Salam,

Sobat yang baik, mengapa saya berpendapat itu...karena saya melihat bahwa hal itu masih bisa di bikin/buat.

Mengapa?

kelahiran kembali merupakan lingkaran samsara...selalu ada cara mensiasatinya...namun belum tentu mampu 2 kali dilakukan....ucapan saya merujuk pada satu sutta yang mengatakan begini:

Brahmana Dhananjani adalah seorang pemungut pajak yang tak benar, ia memeras raja dan masyarakat umum (M.ii,184-96). Yang Mulia Sariputta pernah bertemu dengannya dan menasehatinya tentang akibat-akibat dari kehidupan yang tidak benar. Segera setelah Dhananjani sakit parah, Sariputta dipanggil olehnya. Setelah diberitahu tentang kesehatannya, Dhananjani memberitahu Sariputta bahwa ia mempunyai sakit kepala yang tak tertahan. Selanjutnya Sariputta berbincang dengannya, perlahan-lahan menuntun perhatiannya dari alam kehidupan lebih rendah ke lebih tinggi sampai sejauh alam Brahma. Setelah mengalihkan perhatian pasien yang diambang kematian ke alam Brahma, Sariputta melanjutkan menjelaskan jalan menuju pencapaian alam Brahma, yaitu pengembangan penuh brahmavihara -- cinta kasih universal, belas kasihan, simpati dan keseimbangan batin -- agar meliputi semua penjuru. Sariputta pergi dan tidak lama kemudian Dhananjani meninggal. Dilaporkan bahwa ia dilahirkan kembali di alam Brahma. Belakangan saat peristiwa tersebut diceritakan pada Sang Buddha, Beliau menemukan kesalahan Sariputta karena tidak membimbing Dhananjani menuju jalan spiritual yang lebih jauh lagi.

Sutta ini menunjukkan bahwa manusia yang mempunyai mata pencaharian tidak benar juga dapat dibimbing menuju suatu kelahiran kembali yang lebih bahagia dengan pemberian nasehat pada saat penting sebelum menjelang kematian. Sangat diragukan apakah setiap pelaku kejahatan dapat dibimbing menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia. Mungkin sifat-sifat baik Dhananjani melebihi perbuatan-perbuatan buruknya (Dhp.173) dan mungkin itulah sebabnya mengapa seorang arahatta dapat membimbingnya menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia pada saat kematian.

Hal ini dapat disimpulkan dari fakta-fakta yang diceritakan dalam sutta (M.ii,185). Saat Sariputta sendiri sedang melakukan perjalanan jauh di Dakkhinapata, ia meminta keterangan tentang kesehatan Sang Buddha dari seorang bhikkhu yang berasal dari Rajagaha, saat itu pula Sariputta sengaja meminta keterangan tentang semangat pencarian spiritual Dhananjani. Kemungkinan besar bahwa Dhananjani adalah seorang pendukung Sangha yang setia saat istri pertamanya, seorang wanita yang mempunyai keyakinan penuh, masih hidup. Istri keduanya adalah wanita yang tidak mempunyai keyakinan. Saat Sariputta mendengar bahwa Dhananjani sedang lalai, ia cemas, dan memutuskan untuk berbicara dengan Dhananjani jika ada kesempatan bertemu dengannya.


Bagian penting lain yang patut dicatat dalam kotbah ini adalah Yang Mulia Sariputta memulai kotbah dari alam kelahiran yang paling rendah, dan satu per satu naik ke atas sampai sejauh alam Brahma. Mungkin ia memulai dari neraka-neraka karena Dhananjani telah menurun ke tingkat itu. Sariputta telah membantunya mengingat perbuatan-perbuatan baik sebelumnya, dan juga telah menarik perhatiannya ke kotbah Dhamma yang berkaitan, dan mungkin kotbah Dhamma tersebut telah diberikan oleh Sariputta kepadanya hanya beberapa hari sebelum ia jatuh sakit. Maka dengan menarik perhatian pada potensi spiritual yang tersembunyi di dalamnya, Sariputta dapat membantu Dhananjani mencapai kelahiran kembali yang bahagia dengan nasehatnya di menit terakhir. [Sumber : http://www.accesstoinsight.org/lib/bps/leaves/bl132.html, http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-42671.html ]

Mengapa saya katakan belum tentu dapat dua kali dilakukan...karena problem yang belum muncul bagi Dhananjani adalah ketika menjelang habis umurnya di alam brahma..belum tentu ia mendapatkan kesempatan yang sama dengan cara yang sama...sehingga ada kemungkinan ia tidak dapat lagi mensiasati ini untuk yang keduakalinya

Oleh karena itu, saya berpendapat...semua masih mungkin terjadi dan disiasati....hingga last minute..



2009/3/23 prajnarupam <prajn...@yahoo.co.id>

CC.sen

unread,
Mar 23, 2009, 1:14:54 AM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
:}:]:)
Sobat Wirajhana Eka, kalau saya mengetahuinya bukan hanya dr sutta tp juga dr pengalaman seorang Bhante menuntun/mengarahkan nimitta salah seorang umat menjelang ajal, dan nimitta yg muncul pun bisa bergantian.

Akan saya ceritakan dilain kesempatan.

Salam
CC.sen


From: wirajhana eka
Date: Mon, 23 Mar 2009 12:45:01 +0800
To: <Spiritu...@googlegroups.com>
Subject: [Spiritual-World] Re: Meditasi (4)

sethiadi

unread,
Mar 23, 2009, 3:55:47 AM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Yenny:
Anda tanya tentang perubahan, dan menurut anda total energi tetap sama
sampai sekarang. yang ingin saya tanyakan, kenapa bumi semakin panas?
apakah tidak ada kaitannya dengan energi?

Sethiadi:
Yang saya maksud total energy, adalah total energy alam semesta. Panas bumi
hanya urusan lokal. Bumi kita ini dibandingkan seluruh alam semesta sangat
sangat sangat kecil.

Kalau Anda nyalakan oven untuk memasak, tentu saja oven itu jadi panas
bukan. Itu karena potensial energy dari gas elpiji yang Anda pakai,
ditransfer jadi enersi panas.

Apakah Anda mengerti?


Salam. Stanley Sethiadi.

----- Original Message -----

sethiadi

unread,
Mar 23, 2009, 3:58:33 AM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Wirajhana:
Anda bisa belajar sendiri..dan bereksperiment sendiri...berhentilah tergantung pada orang lain
Sethiadi:
Saya akan berexperimen sendiri untuk hal-hal yang belum diketahui manusia. Kalau sudah diketahui manusia lain, ya saya tanya saja. Kan lebih mudah. Untuk pelajaran S/D apa Anda experimen sendiri untuk tahu pengetahuan S/D? Tidak bukan? Anda sekolah di-S/D. Demikian juga untuk SMP, SMA, dan Universitas S1, S2, S3. Mungkin setelah Anda dapat gelar S3 baru Anda bikin experimen sendiri.
 
Mengenai pertanyaan saya mengenai Buddhism rasanya masih sederhana kok. Mungkin Anda tidak bisa jawab, tetapi saya yakin Ajahn Brahm bisa jawab. Apalagi ia punya background fisika. Positivisme Logis adalah filsafat yang dikembangkan terutama oleh akhli-akhli fisika. Pertanyaan saya mengenai "verifikasi/falsifikasi" dapat dimengerti oleh kebanyakan akhli fisika. Pertanyaan saya mirip positivisme logis.
 
Kalau Anda bisa jawab pertanyaan saya, mohon jawaban Anda. Tetapi kalau Anda tidak bisa tidak apa-apa. Kalau Anda punya alamat email Ajahn Brahm, tolong berikan saya. Kalau Anda tidak punya, yah tidak apa-apa. Mungkin kawan Buddhist lain ada yang punya, kalau begitu tolong berikan kepada saya.
 
Pertanyaan saya, saya nilai baru tingkatan SMP kok.
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.
----- Original Message -----
2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>
 ika.

--- On Wed, 3/18/09, ・・場 <zent...@gmail.com> wrote:

From: ・・場 <zentao.ba@gmail.com>
Subject: [Spiritual-World] Sethiadi --> tentang meditasi dan jhana
To: Spiritu...@googlegroups.com
Date: Wednesday, March 18, 2009, 9:46 PM

Halo Bung Sethiadi,

Jika anda bertanya kepada para meditator,
apakah mereka sudah mencapai jhana,
tentu saja tidak akan ada yang mau mengakuinya.

seorang meditator dilarang untuk memamerkan jhana yang telah mereka dapatkan.

Untuk mencapai jhana, minimal anda harus mampu bermeditasi dan memusatkan pikiran pada objek meditasi selama 2 jam . bila pikiran anda masih melayang ke mana2 dalam 2jam itu, anda tidak akan mampu mencapai jhana.

sebelum mencapai jhana, ada tanda2 ( sign / nimitta ) yang dilihat oleh seorang meditator. saya tidak akan menjelaskan tentang hal ini karena terlalu panjang.

sekadar info saja, TIDAK semua orang yang bermeditasi pasti mendapatkan jhana.

Ada prasyarat yang harus dipenuhi yaitu
harus mempunyai kusala Citta ( kesadaran yang mengandung akar baik)

kusala citta ini adalah :
1. Tidak serakah
2. Tidak benci
3. Tidak gelap batin / mempunyai kebijaksanaan

Manusia yang tidak mempunyai kusala citta, tidak akan mempunyai potensi untuk mencapai Jhana.

saya benci untuk menulis ini,
selama Bung sethiadi masih serakah untuk masuk surga, membenci setan dan neraka,  mempunyai kegelapan batin ( seperti menganggap ada Tuhan sang penyelamat dan penebus dosa ),
Bung Sethiadi tidak akan pernah mencapai jhana meskipun bermeditasi selama ribuan tahun.

semoga penjelasan saya ini jelas untuk anda.

salam

・・場

sethiadi

unread,
Mar 23, 2009, 4:23:51 AM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Yenny:
Anda sudah pernah mencari kebenaran, tetapi anda tidak menemukannya
ketika masih Buddhist. Lalu anda merasa anda telah mendapatkan
kebenaran tertinggi sekarang ini di agama anda. Itu mungkin sudah
jodoh anda.

Sethiadi:
Maaf saya koreksi, saya tidak pernah Buddhist. Waktu saya masih agnostik
sekitar umur 21, saya pernah palajari praktis semua agama besar didunia,
termasuk Buddhisme. Tetapi saya tidak pernah beragama Buddhist. Saya juga
pelajari Hinduisme bahkan pernah berlatih Yoga beberapa kali selama 15 menit
setiap kali. Saya bilang saya tidak pernah berhasil mengosongkan pikiran.

Baru-baru ini saya berlatih meditasi cara Buddhist, mula-mula satu periode
hanya 15 menit. Kemudian 20 menit, 25 menit sampai 30 menit satu periode.
Saya berhasil "hening" menurut ajaran Ajahn Brahm, tetapi hanya beberapa
detik. Tetapi sambil meditasi, saya tanyakan kepada kawan-kawan Buddhist
waktu itu :"Apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi." Mereka jawab
"perubahan" dan "perasaan". Saya jawab mereka soal "tetap versus perubahan"
adalah filsafat spekulatif antara Parmenides dengan Herakleitos. Ilmu
pengetahuan kini mengatakan energi alam semesta tetap, tetapi perubahan
lokal dari satu bentuk energy kebentuk energy lainnya memang bisa. Soal
"perasaan" adalah sangat subjektif.

Yenny:
Tetapi, apa yang membuat anda sekarang tertarik meditasi? Karena ingin
mencari "kebenaran" yang dialami orang Buddhist yang katanya lebih
ilmiah dan bisa dibuktikan? kalau anda ingin mencari bukti, dan
berharap orang bisa membuktikan kepada anda, yang terjadi mungkin
hanya 2, anda tidak akan menemukannya atau yang anda temukan itu
adalah kemampuan gaib.

Sethiadi:
Saya tidak berharap orang lain bisa buktikan kepada saya. Saya ingin
verifikasi/falsifikasi sendiri ajaran Buddha. Tetapi apa yang dapat
diverifikasi/falsifikasi? Itu saja pertanyaan saya kini. Kalau Anda tahu,
tolong beritahu saya. Kalau Anda tidak dapat, yah sudah, tidak apa-apa.
Kalau Anda tahu alamat email Ajahn Brahm, tolong berikan kepada saya, kalau
Anda tidak tahu, yah sudah tidak apa-apa.

Suwarno Liang

unread,
Mar 23, 2009, 5:19:36 AM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Bung Stanley...

Silahkan hubungi Romo Hudoyo Hupudio, beliau adalah pelatih dalam
meditasi mengenal Diri.

Baiknya anda belajar Meditasi Mengenal Diri saja.. dengan mengenal
diri anda.. otomatis anda akan mengenal alam semesta...

Salam,
Suwarno

wirajhana eka

unread,
Mar 23, 2009, 7:18:58 AM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Setiadi,
saya memang tidak menjawab pertanyaan anda...yang menurut saya anda sendiri-pun sudah bisa memverifikasi itu...
saya sudah berhenti bertanya..sudah berhenti memverifikasi..saya sudah tahu apa yang saya perlukan..dan apa yang tidak saya perlukan

2009/3/23 sethiadi <sset...@gmail.com>

卓俊樺

unread,
Mar 23, 2009, 12:40:07 PM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
hhehe si om stanley ini sama sekali tidak niat dan tidak serius berlatih meditasi.

bahkan dulu ketika berlatih yoga, dia cuma berlatih beberapa kali selama 15 menit.
tanpa keseriusan,bagaimana akan bisa berhasil?

hanya dengan bermeditasi beberapa kali selama 30 menit,
lalu menganggap diri bisa berhasil, sungguh suatu hal yang lucu sekali.

ini sama aja dengan orang yang cuma berlatih bulutangkis beberapa kali selama 30 menit,
lalu menganggap dirinya bisa masuk olimpiade.

yang paling lucu, si om stanley menganggap dirinya sangat penting,
sampai2 dia mengira kalo dia menulis email ke ajahn brahm,
pasti akan akan mendapatkan balasan.

mana mau ajahn bram membuang waktunya yang berharga hanya demi menjawab pertanyaan bodoh dari  satu domba bandel yang tersesat dan mengabaikan manusia lainnya yang haus akan kebenaran dan giat berlatih?

saya yakin romo Hudoyo sendiri akan bersikap cuek bila om stanley tetap bandel
dan mengajukan pertanyaan yang tidak berguna menurut orang Buddhist.

sungguh kasihan sekali,
sudah berumur 70 tahun , tapi masih tetap tidak mempunyai keyakinan terhadap ajaran Yesus.
saya memahami bahwa om stanley ingin mencari rasa aman dan pembenaran
bahwa pilihan dia untuk menganut ajaran Yesus tu tidak salah dengan cara memverifikasi bahwa ajaran agama lain itu salah.

saya hanya bisa mendoakan semoga anda bahagia.
semoga Yesus menunaikan janjinya untuk membawa anda ke surga

amin,

卓俊樺



2009/3/23 Suwarno Liang <swl...@gmail.com>

CC.sen

unread,
Mar 23, 2009, 8:25:17 PM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com
:}:]:)
Sobat2,
Bulan lalu Achan Brahm kunjung ke Indonesia dalam rangka tour ke bebrapa kota besar ditanah air beberapa hari,kalau tidak salah satu kota hanya diberi jatah 1hari.
Sanking padatnya acara Beliaw,menurut panitia untuk mengundang Beliaw hadir disini butuh antri selama 2thn.
Sebab acara Beliaw bukan hanya di Australia namun mencakup manca negara.

Email yg masuk ditujukan ke Beliaw sangat banyak oleh sebab itu Beliaw pernah berpesan bahwa email yg masuk secara pribadi mohon maaf tidak dapat dibalas.

Semoga kita semua berbahagia dalam keyakinan masing2

Salam
CC.sen


From: 卓俊樺
Date: Tue, 24 Mar 2009 01:40:07 +0900
To: <Spiritu...@googlegroups.com>
Subject: [Spiritual-World] Re: Meditasi. (5b)

Abin...@app.co.id

unread,
Mar 23, 2009, 9:14:04 PM3/23/09
to Spiritu...@googlegroups.com, Spiritu...@googlegroups.com

Biasalah...
Orang Kristen kan memang sudah polanya selalu berpikir instan...
Wong keselamatan mereka aja cuma pakai janji koq...







卓俊樺 <zent...@gmail.com>
Others, 03/24/2009 01:40 AM ZE9
Sent by: Spiritu...@googlegroups.com
       
        To:        Spiritu...@googlegroups.com
        cc:        
        Subject:        [Spiritual-World] Re: Meditasi. (5b)

Yenny Tan

unread,
Mar 24, 2009, 12:07:47 PM3/24/09
to Spiritu...@googlegroups.com
hmmm... kalau total energi sih terus terang saya baru tahu kalau tetap sama.

Seperti hukum alam tetap sama sampai sekarang. dhamma sang Buddha
masih berlaku sampai sekarang juga karena hukum dhamma yang dibabarkan
itu tidak berubah.

saya ingat dulu ada umat kristen yang bertanya tentang ketidak kekalan
buddhist. kalau memang tidak kekal, lalu hukum alam itu kenapa kekal?

padahal sang Buddha sudah membedakan yang mana kekal dan mana yang
nggak kekal. Seperti nibbana itu kekal, hukum dhamma itu kekal.
Makanya kalau mengatakan tidak ada yang kekal dalam ajaran buddha,
tentu itu salah besar.

>> Pertanyaan saya adalah :"Apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dari ajaran Buddha dalam hidup ini?"

Dari perubahan yang anda lihat dalam meditasi anda, anda bisa
meverifikasikan sendiri.

Sebenarnya meditasi buddhist terbagi 2. yang satu untuk ketenangan dan
yang kedua untuk mendapatkan kebijaksanaan (ini yang untuk verifikasi
nantinya). Masalahnya, untuk mendapatkan pandangan yang benar, anda
harus masuk dalam ketenangan dulu.

Meditasi pernapasan banyak diajarkan karena meditasi itu paling
gampang untuk dari meditasi "ketenangan" ke meditasi "kebijaksanaan".
Makanya pertama-tama, ketika anda sadar pikiran anda sudah lari dari
napas, kembali ke napas. Jangan pikirkan tentang verifikasi dulu,
biarkan semua seperti apa adanya. karena kalau tanpa bimbingan, saya
tidak yakin anda bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya.

Thanks,

Yenny Tan

2009/3/23 sethiadi <sset...@gmail.com>:

sethiadi

unread,
Mar 24, 2009, 1:52:35 PM3/24/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Anda tidak jawab pertanyaan saya. Pertanyaan saya adalah : "Apa yang dapat diverifikasi/falsifikasi dari ajaran Buddha?"
 
Komentar Anda bukan yang saya tanyakan. Kalau ajaran Buddha "ilmiah" maka menurut positivisme logis ia harus dapat diverifikasi/falsifikasi. Kalau Anda tidak bisa jawab pertanyaan saya, yah sudah, tidak apa-apa. Mungkin Ajahn Brahm bisa jawab pertanyaan saya.
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.

sethiadi

unread,
Mar 24, 2009, 2:13:59 PM3/24/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Pertanyaan saya adalah: "Apa yang dapat diverifikasi/falsifikasi dari
ajaran Buddha?"


Salam. Stanley Sethiadi.




----- Original Message -----
From: "Suwarno Liang" <swl...@gmail.com>
To: <Spiritu...@googlegroups.com>

Suwarno Liang

unread,
Mar 25, 2009, 1:38:12 AM3/25/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Wow..

Banyak sekali...

Dari cara proses berpikir itu sendiri, dimana Sang Buddha mengajarkan
kata kuncinya adalah "sucikan Pikiran..."
Contoh nyata:
bagaimana ketika kita sedang merespon satu ucapan yang kasar, yang
tidak kita sukai... dengan kita melihat dengan jelas bagaimana batin
ini bereaksi.. saat timbul kemarahan, kita bisa mengetahui persis di
titik mana kemarahan itu akan muncul, kita bisa mengerem-nya, dan
membaliknya dengan Cinta Kasih.
Contoh nyata kedua:
"melihat hidup ini apa adanya"
Tatkala kita dirundung satu kesedihan yang berat sekali, semisal orang
tua kita sakit atau meninggal, dengan penuh perhatian kita melihat,
mendengar, dan merawatnya, kita akan menjadi tahu, bahwa sebenarnya
badan kita ini berubah, badan kita ini menjadi sarang penyakit, yang
suatu waktu akan menyerang kita, bahwa kehidupan yang nyaman ini tidak
kekal, ada masanya berubah, merenungkan kembali ketika merawat orang
tua kita sakit, begitu besarnya jasa mereka terhadap kita, sehingga
tiba saatnya ketika mereka sakit adalah tanggung jawab kita untuk
merawatnya.



Salam,
Suwarno

aliv

unread,
Mar 25, 2009, 1:39:43 AM3/25/09
to Spiritual World
> ---------------------------------------------------------------------------­---
>   2009/3/19 sethiadi <ssethi...@gmail.com>
>
>     Sethiadi:
>
>     Saya sudah punya 5 buku mengenai Buddhism. Saya pernah belajar meditasi,
>     tetapi sekarang saya berhenti. Waktu itu beberapa orang Buddhist katakan : "
>     Ajaran Buddha bisa diverifikasi karena ilmiah." Saya sangat tertarik akan
>     hal ini. Saya   kemudian belajar meditasi dari bukunya Ajahn Brahm yang
>     dianjurkan mereka. Saya tanya apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi?
>     Mereka tidak dapat kasih sesuatu yang jelas. Soal perasaan, dan filsafat
>     spekulatif saya tidak mau. Ternyata mereka tidak dapat berikan contoh yang
>     jelas. Atau ada? Kalau menurut Anda ada, tolong beritahu saya.
>
>     Saya tanya siapa dimillis itu yang sudah jhana? Ternyata tidak ada satupun.
>     Kini saya tanya dimillis ini :"Siapa dimillis ini yang sudah jhana?"
>     Mungkin tidak ada juga. Wah mungkin saya harus tanya Ajahn Brahm sendiri.
>     Apakah Anda punya  alamat email  beliau?
>
>     Kalau memang ajaran Buddha bisa diverifikasi/falsifikasi karena ilmiah, saya
>     betul-betul tertarik. Tetapi jangan hanya soal perasaan yang sangat
>     subjektif dan soal filsafat spekulatif.
>
>     Salam. Stanley Sethiadi.- Hide quoted text -
>
> - Show quoted text -

Meditasinya udah sampai semuanya lenyap belom? kalo udah itu mungkin
baru seper sekian dari pencapaian aja.
Jika energy (fisika) itu tetap secara fisika apakah ada bagian dari
diri manusia yang tetap dan terus mengalir tanpa henti bahkan setelah
tubuhpun terurai (biologi dech). Apakah sudah melihat wajah dari
energy (pikiran), jika belom maju terus sekuat tenaga, sekuat iman,
minimal 1 jam setiap hari dan yang jelas bukan menghayal hayal yang
indah indah. Apakah energy punya bentuk? bentuknya apakah kosong?

sethiadi

unread,
Mar 25, 2009, 4:05:41 AM3/25/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Yenny:
Jangan pikirkan tentang verifikasi dulu,
biarkan semua seperti apa adanya. karena kalau tanpa bimbingan, saya
tidak yakin anda bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya.

Sethiadi:
Buddha sendiri waktu cari "kebenaran" tidak ada yang bimbing bukan? Kok ia
bisa dapat "Kebenaran", sekurang-kurangnya itulah claimnya. Kalau Buddha
bisa, mengapa kita tidak bisa? Karena kita tidak atau kurang serius? Yah
mungkin saja, tetapi mustinya kalau kita serius bisa juga mencapai
"kebenaran" tanpa bimbingan. Tetapi apa betul Buddha telah telah mendapat
"kebenaran"? Mungkin hanya kebenaran relatif dan sepotong-sepotong seperti
juga Thales dari Milletos, Socrates, Plato, Aristoteles, Augustinus, Imanuel
Kant, Einstein dll.

Yenny:
saya ingat dulu ada umat kristen yang bertanya tentang ketidak kekalan
buddhist. kalau memang tidak kekal, lalu hukum alam itu kenapa kekal?

Sethiadi:
Yang disebut "kekekalan hukum alam" itu hanya pendapat beberapa orang.
Apakah betul, jumlah enersi dialam semesta tetap sama, kekal selamanya?
Apakah tidak ada mulanya? Apakah tidak ada akhirnya?

Seorang ilmuwan George Gamow mengatakan sekitar tahun 1948, ada mulanya dan
ada akhirnya. Gamow mengatakan alam semesta mulai dengan "big crunch".
Mula-mula terjadi ledakan besar, kemudian alam semesta menjadi makin lama
makin besar. Sebagian jadi matahari, sebagian planet-planet termasuk bumi,
sebagian jadi bintang-bintang, komet-komet, asteroid-asteroid dll benda
langit. Seorang astronom bernama Fred Hoyle mengejek teori ini yang
disebutnya teori "big bang". Hoyle berpendapat alam semesta ini selamanya
ada dan kira-kira seperti sekarang ini.

Pada tahun sekitar 1988, Seorang ilmuwan ateis Stephen Hawking koreksi teori
Gamow. Gamow katakan big bang mulai kira-kira 3,2 milliar tahun yang lalu.
Hawking katakan 15 milliar tahun yang lalu. Tetapi baik Gamow maupun Hawking
tidak bisa terangkan mengapa terjadi "big bang".


Singkatnya : "Teori sekarang cenderung mengatakan bahwa alam semesta
(termasuk hukum alam) ada mulanya dan ada akhirnya."

Apa yang dikatakan Buddha dan apa yang dikatakan para Buddhists kini?


Salam. Stanley Sethiadi.





----- Original Message -----
From: "Yenny Tan" <love...@gmail.com>
To: <Spiritu...@googlegroups.com>

sethiadi

unread,
Mar 25, 2009, 4:34:32 AM3/25/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Suwarno Liang:
bagaimana ketika kita sedang merespon satu ucapan yang kasar, yang
tidak kita sukai... dengan kita melihat dengan jelas bagaimana batin
ini bereaksi.. saat timbul kemarahan, kita bisa mengetahui persis di
titik mana kemarahan itu akan muncul, kita bisa mengerem-nya, dan
membaliknya dengan Cinta Kasih.

Sethiadi:
Anda bicara soal "perasaan" yah? "Ucapan yang kita rasa kasar", "persaan
marah", "perasaan cinta kasih".
Wah itu sih soal perasaan yang sangat subjektif. Yesus juga bicara kira-kira
begitu.

Jadi ajaran Buddha yang dapat diverifikasi/falsifikasi menurut Anda, adalah
soal perasaan yang sangat subjektif. Apa tidak ada yang objektif?

Sebenarnya "Rebirth" dan "Karma" adalah realita yang objektif, tetapi kita
tidak bisa verifikasi/falsifikasi dikehidupan ini. Konsep Kristen mengenai
Yerusalem baru dan neraka, juga tidak dapat diverifikasi/falsifikasi
dikehidupan ini. Setelah kita mati baru bisa tahu pasti kita "ketempat
penantian cara Kristen", "Rebirth cara Buddhist", "Incarnatie cara Hindu"
atau "Hilang tak berbekas cara ateis" dll.

Ya sudahlah, kini saya tahu yang dapat diverifikasi/falsifikasi dalam agama
Buddha adalah soal perasaan. Apa benar kesimpulan saya? Yang objektif hanya
"Rebirth" dan "Karma", tetapi ini tidak dapat diverifikasi/falsifikasi dalam
kehidupan ini. Benarkah kesimpulan saya ini?

Yenny Tan

unread,
Mar 26, 2009, 9:21:02 AM3/26/09
to Spiritu...@googlegroups.com
2009/3/25 sethiadi <sset...@gmail.com>:

>
> Yenny:
> Jangan pikirkan tentang verifikasi dulu,
> biarkan semua seperti apa adanya. karena kalau tanpa bimbingan, saya
> tidak yakin anda bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya.
>
> Sethiadi:
> Buddha sendiri waktu cari "kebenaran" tidak ada yang bimbing bukan? Kok ia
> bisa dapat "Kebenaran", sekurang-kurangnya itulah claimnya. Kalau Buddha
> bisa, mengapa kita tidak bisa? Karena kita tidak atau kurang serius? Yah
> mungkin saja, tetapi mustinya kalau kita serius bisa juga mencapai
> "kebenaran" tanpa bimbingan. Tetapi apa betul Buddha telah telah mendapat
> "kebenaran"? Mungkin hanya kebenaran relatif dan sepotong-sepotong seperti
> juga Thales dari Milletos, Socrates, Plato, Aristoteles, Augustinus, Imanuel
> Kant, Einstein dll.
>
YT:
Masalahnya, Pangeran Siddharta sudah mencapai jhana ke 9 sebelum
menjadi seorang pangeran Siddharta. Dan beliau menghabiskan 500
kehidupan untuk menjadi bodhisatva. Makanya kenapa begitu beliau
lahir, beliau sudah berbeda dengan manusia pada umumnya.

> Yenny:
> saya ingat dulu ada umat kristen yang bertanya tentang ketidak kekalan
> buddhist. kalau memang tidak kekal, lalu hukum alam itu kenapa kekal?
>
> Sethiadi:
> Yang disebut "kekekalan hukum alam" itu hanya pendapat beberapa orang.
> Apakah betul, jumlah enersi dialam semesta tetap sama, kekal selamanya?
> Apakah tidak ada mulanya? Apakah tidak ada akhirnya?
>
> Seorang ilmuwan George Gamow mengatakan sekitar tahun 1948, ada mulanya dan
> ada akhirnya. Gamow mengatakan alam semesta mulai dengan "big crunch".
> Mula-mula terjadi ledakan besar, kemudian alam semesta menjadi makin lama
> makin besar. Sebagian jadi matahari, sebagian planet-planet termasuk bumi,
> sebagian jadi bintang-bintang, komet-komet, asteroid-asteroid dll benda
> langit. Seorang astronom bernama Fred Hoyle mengejek teori ini yang
> disebutnya teori "big bang". Hoyle berpendapat alam semesta ini selamanya
> ada dan kira-kira seperti sekarang ini.
>
> Pada tahun sekitar 1988, Seorang ilmuwan ateis Stephen Hawking koreksi teori
> Gamow. Gamow katakan big bang mulai kira-kira 3,2 milliar tahun yang lalu.
> Hawking katakan 15 milliar tahun yang lalu. Tetapi baik Gamow maupun Hawking
> tidak bisa terangkan mengapa terjadi "big bang".
>
>
> Singkatnya : "Teori sekarang cenderung mengatakan bahwa alam semesta
> (termasuk hukum alam) ada mulanya dan ada akhirnya."
>
> Apa yang dikatakan Buddha dan apa yang dikatakan para Buddhists kini?
>

YT:
Ajaran Buddha yang mengenai teori alam semesta tidak berubah. Dan
semakin scientist berkembang, semakin kelihatan kebenaran dari ajaran
Buddha.

Terus terang, secara personally, saya tidak melihat kesungguhan niat
anda untuk melihat kebenaran ajaran buddha. Anda bertanya dan tidak
berusaha melihat realitas yang ada. Agama dan science dan hidup itu
bukan 3 hal yang berbeda. Itu semuanya adalah kesatuan tidak bisa
dipisahkan. Science disini adalah pembuktian/rumusan. Itulah mengapa
ajaran Sang Buddha mencakup agama, science dan hidup.

Oleh karena itu, semakin anda membedakan kalau itu adalah perasaan dan
subjektive, anda makin tidak bisa melihat kebenaran. padahal anda lupa
kalau anda juga mengalaminya. Kalau semua orang didunia ikut
mengalaminya, apakah itu adalah subjektif?

Anda bisa membaca sabda-sabda sang Buddha yang menarik anda, dan
buktikan kebenaran dari itu. Sabda sang Buddha sangat banyak, saya
tidak tahu yang mana cocok untuk anda. Walau bagaimanapun, semua
sesuai dengan usaha anda dan karma baik anda. Buddha bisa menemukan
sendiri kebenaran itu, karena beliau mendapat karma baik yang beliau
tanam dari kehidupan lampaunya. Anda belum tentu mempunyai karma baik
setinggi itu, jadi semua kembali kepada anda. Ada niat, pasti ada
jalan. Ada karma baik, pasti ada kesempatan.

Thanks,

Yenny Tan

Suwarno Liang

unread,
Mar 26, 2009, 8:59:08 PM3/26/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Satu kata yang bisa saya simpulkan buat anda.. "Salah pemahaman anda.."

Bung itu BUKAN perasaan, jikalau anda mempelajari Abhidhamma anda akan
dapat memverifikasi bagaimana bentuk2 batin ini merespon setiap input
yang masuk mellalui mata, telinga, hidung, mulut, kulit.

Saya tidak akan membahas yang jauh-jauh soal karma dan rebirth.. maaf
terlalu sulit bagi Anda... yang mana cangkir anda sudah terlalu penuh
oleh konsep2 Kristiani anda.

sethiadi

unread,
Mar 27, 2009, 1:36:08 PM3/27/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Sdr Suwarno Liang yang baik,
Saya yakin bahwa saya tahu apa itu "science", terutama "natural science".
Respons terhadap ucapan kasar, marah, cinta kasih, bentuk perasaan itu tidak
dibahas dalam natural science, itu bukan bidangnya natural science. Masuk
dalam bidang agama dan psychologi. Apakah agama atau kepercayaan itu masuk
bidang science? Apakah psychologi adalah science? Ada orang yang berpendapat
itu science, dan ada orang yang berpendapat itu non-science.

Jelas itu bukan "natural science", bukan "ilmu pengetahuan alam". Dalam ilmu
pengetahuan alam saya maksudkan fisika, kimia, biologi, geologi, astronomi
dll.

Konsep Buddha mengenai "Karma" dan "Rebirth" mungkin bisa masuk bidang
natural science.

Tetapi perasaan marah dan cinta kasih jelas tidak bisa masuk bidang natural
science. Itu mungkin bisa masuk "Religious science" atau "Psychological
science". Itu sangat subjektif. Contoh: Seorang anak muda katakan saja
namanya A, dijadikan bulan-bulanan oleh sekelompok kawannya. Si A ini
mungkin marah, tetapi mungkin juga ketawa saja. Kelompok anak muda itu
mungkin rasa lucu, tetapi bisa saja diantara mereka ada yang tidak merasa
ini lucu. Ia mungkin beri nasehat kepada kawan-kawannya untuk berhenti
mengganggu si A. Itu tergantung orangnya dan sifat-sifat orang itu. Itu yang
dinamakan subjektif.

Tetapi kalau percobaan fisika umpama : sepotong besi yang dipanasi memuai
jadi lebih besar. Ini tidak tergantung sifat-sifat manusia. Ini sesuatu yang
objektif, tidak tergantung pada orang, tidak tergantung pada subjek yang
melaksanakan percobaan itu.

Jadi kalau ajaran Buddha yang dapat diverifikasi/falsifikasi hanya soal
perasaan, maka ini effeknya pada orang atau subjeknya berlainan hasilnya,
tergantung sifat-sifat orang itu.

Yang objektif (karma dan rebirth) tidak dapat diverifikasi/falsifikasi dalam
kehidupan ini.

Yang dapat diverifikasi/falsifikasi adalah sangat subjektif. Menurut saya
itu adalah non-science maximal dapat dikatakan Religious science atau
Psychological science.

Suwarno Liang

unread,
Mar 29, 2009, 11:28:35 PM3/29/09
to Spiritu...@googlegroups.com
Bung Sethiadi,

Justru ajaran Buddha yang terlengkap.. kalau menggunakan
bahasa/istilah anda.. ada Natural Science, dan ada Physicology
Science.. jelas ajaran Buddha punya KEDUA-DUANYA.

Mau bukti???
1. ajaran Buddha 2500 tahun yang lalu sudah mengajarkan apa itu 4 NIYAMA:
a. UTU Niyama
b. BIJA Niyama
c. CITTA Niyama
d. KAMMA Niyama
Utu dan Bija, jelas2 masuk dalam Natural Science (menurut istilah anda
lho ya...)
Dan Citta Niyama juga bisa masuk dalam Natural Science, tepatnya
Biologi, bagian neorology.

2. ajaran Buddha 2500 tahun yang lalu sudah mengajarkan Physicology
Science, tepatnya.. bagaimana manusia bisa mengenal kondisi batin-nya
sendiri, tentunya dengan cara Meditasi... sebagai satu2nya cara yang
manjur dan jitu.

Salam,
Suwarno
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages