Sethiadi:
Saya sudah punya 5 buku mengenai Buddhism. Saya pernah belajar meditasi,
tetapi sekarang saya berhenti. Waktu itu beberapa orang Buddhist katakan : "
Ajaran Buddha bisa diverifikasi karena ilmiah." Saya sangat tertarik akan
hal ini. Saya kemudian belajar meditasi dari bukunya Ajahn Brahm yang
dianjurkan mereka. Saya tanya apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi?
Mereka tidak dapat kasih sesuatu yang jelas. Soal perasaan, dan filsafat
spekulatif saya tidak mau. Ternyata mereka tidak dapat berikan contoh yang
jelas. Atau ada? Kalau menurut Anda ada, tolong beritahu saya.
Saya tanya siapa dimillis itu yang sudah jhana? Ternyata tidak ada satupun.
Kini saya tanya dimillis ini :"Siapa dimillis ini yang sudah jhana?"
Mungkin tidak ada juga. Wah mungkin saya harus tanya Ajahn Brahm sendiri.
Apakah Anda punya alamat email beliau?
Kalau memang ajaran Buddha bisa diverifikasi/falsifikasi karena ilmiah, saya
betul-betul tertarik. Tetapi jangan hanya soal perasaan yang sangat
subjektif dan soal filsafat spekulatif.
Salam. Stanley Sethiadi.
he he he ...!
saya suka berbicara ttg hal Meditasi dan juga Jhana !!!
saran saya adalah:
1. bagi yang membela buddhism, jgn terlalu berpegang pada peraturan (org lain)!
2. bagi yang mempertanyakan buddhism, apa yang ingin anda katakan sebenarnya dgn pertanyaan ttg sudah Jhana atau belum!
|
Subject: [Spiritual-World] Sethiadi --> tentang meditasi dan jhana
2009/3/21 sethiadi <sset...@gmail.com>:
>
> Yenny:
> Ok, jadi menurut anda perasaan itu tidak akan berubah?
>
> Sethiadi:
> Saya tidak katakan apa-apa mengenai perasaan dan keinginan. Yang saya
> katakan adalah mengenai materi dan enersi. Menurut modern science, jumlahnya
> dialam semesta tetap, tetapi bentuknya dapat berubah dari satu bentuk
> kebentuk lain.
--
What doesn't kill us makes us stronger.
----- Original Message -----From: CC.senSent: Thursday, March 19, 2009 10:58 AM
----- Original Message -----From: 卓俊樺Sent: Thursday, March 19, 2009 8:46 AMSubject: [Spiritual-World] Sethiadi --> tentang meditasi dan jhana
----- Original Message -----From: Ika Polim
----- Original Message -----From: Ika PolimSent: Thursday, March 19, 2009 11:40 AM
CC sen:Buddhism mengajarkan untuk membuktikanlah dgn cara praktekkan sendiri bukan orang lain membuktikan kepada kita, bila Anda ingin mengetahui apa itu jhana kenapa ga coba meditasi sungguh2 buktikan dan rasakan sendiri.Sethiadi:Terima kasih untuk respons Anda.Bagi saya buku Ajahn Brahm dapat saya mengerti. Walaupun banyak Buddhist takut-takuti saya bahwa saya tidak akan berhasil, saya tidak takut. Tetapi persoalannya, tujuan utama saya, bukan mau jhana, tetapi mau verifikasi/falsifikasi ajaran Buddha.Kalau tidak salah Buddha mengatakan :"Jangan percaya saya, tetapi alami sendiri." Betulkah ini?
REBIRTH:Saya tidak percaya soal "Rebirth" bagaimana saya harus alami sendiri hal ini? Tunggu sampai saya mati?
KARMA:Saya sedikit percaya Karma dikehidupan ini. Penjahat yang ditangkap polisi, diadili dan dihukum adalah contoh Karma bukan?Tetapi tidak semua kejahatan dihukum didunia ini dan dikehidupan ini. Perusuh-perusuh Mei 1998 tidak ada satupun yang ditangkap, diadili dan dihukum. Akan dihukum dikehidupan lain?
Rebirth dan Karma dapat diverifikasi/falsifikasi kalau kita sudah mati. Jadi tidak bisa dikehidupan ini.Apa yang dapat diverifikasi/falsifikasi dikehidupan ini?PERUBAHAN:Perubahan dari satu bentuk enersi kebentuk yang lain, memang selalu terjadi. Tetapi menurut ilmu pengetahuan alam modern setiap perubahan hanya menambah entropy. Alam semesta ini seperti jam yang pakai per. Pernya makin lama makin kendor. Suatu saat, semua perubahan akan berhenti. Pernya akan kendor total sampai tidak bisa ada perubahan lagi, kecuali kalau ada intervensi dari luar. Itu saya tahu dari kuliah "Thermodinamika".Tetapi jumlah enersi total dialam semesta ini tetap, tidak berubah. Begitulah teori fisika masa kini.Itu saya sudah tahu dan percaya waktu saya turut kuliah :"Thermodinamika".Jadi saya tidak perlu verifikasi/falsifikasi lagi. Tetapi mengenai perubahan dan tetap ini saya belajar dari fisika, bukan dari ajaran Buddha.Apa dari ajaran buddha yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dalam kehidupan ini?
----- Original Message -----From: wirajhana eka
PENGELOLAAN DHAMMA [berdasarkan tulisan dari Lily Warsiti] |
Target yang harus tercapai Target per Tingkat kesucian |
|
AKUSALA KAMMAPATTHA 10 (10 SALURAN PERBERBUATAN TAK BERMANFAAT) |
|
(Membunuh) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Mencuri) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Berbuat Asusila) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Berdusta) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pandangan Salah) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Bicara Fitnah) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Kata kasar) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Itikat Jahat) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Gosip) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Hasrat Rendah, ketamakan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
|
|
|
|
LOKA DHAMMA 8 (8 KONDISI DUNIA) |
|
(Rugi) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Tidak Masyur) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(cela) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Penderitaan) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Untung) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Kemasyuran) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Pujian) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(kebahagiaan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
|
|
|
|
MACCHARIYA 5 (5 JENIS KEKIKIRAN) |
|
(Kekikiran terhadap kebenaran/pengetahuan/ajaran/Dhamma) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Kekikiran terhadap kemasyuran/keterkenalan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Kekikiran terhadap keuntungan/rejeki) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Kekikiran terhadap keluarga) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
|
5. Avasamacchariya (Kekikiran terhadap tempat tinggal) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
|
|
|
|
NIVARANA 6/7 (6/7 RINTANGAN BATIN) |
|
(Kekhawatiran) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Keragu-raguan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Hawa nafsu, nafsu indera) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Itikat Jahat) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Malas-Lamban) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Kegelisahan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Kegelapan batin ) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
|
|
|
|
SANYOJANA 10 (10 BELENGGU) |
|
|
1. Ditthi (Pandangan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
|
2. Vicikiccha (Keragu-raguan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
|
3. Silabataparamasa (Kepercayaan bahwa dengan upacara saja bisa mencapai kesucian) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Hawa Nafsu, Nafsu Indera) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Kebencian, kemarahan) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Nafsu untuk bertubuh dengan materi/nafsu untuk lahir di alam bermateri) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Nafsu untuk menjadi bertubuh tanpa materi/nafsu untuk lahir di alam tanpa materi) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(kesombongan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Kegelisahan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Kegelapan batin) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
|
|
|
|
10 KILESA (10 KEKOTORAN BATIN) |
|
(pandangan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Keragu-raguan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Kebencian) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(tidak malu akan kejahatan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(tidak takut akibat perbuatan jahat) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Kemalasan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Kegelisahan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(kesombongan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(kebodohan batin, kegelapan batin) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Keserakahan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
|
|
|
|
10 MICCHATTA DHAMMA (10 KEKELIRUAN) |
|
(Pengertian keliru) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Ucapan salah) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Perbuatan jasmani salah) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Penghidupan salah) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pikiran salah) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Daya upaya salah) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Perhatian salah) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Konsentrasi salah) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Pengetahuan salah) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Pembebasan salah) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
|
|
|
|
12 VIPALLASA DHAMMA (12 KESEMUAN) |
|
(Persepsi/pencerapan tentang segalanya kekal) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pemikiran tentang segalanya kekal) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pandangan/paham tentang segalanya kekal) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Persepsi/pencerapan tentang sesuatu mengandung inti kekal/atta) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pemikiran tentang sesuatu mengandung inti kekal/atta) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pandangan/paham tentang sesuatu mengandung inti kekal/atta) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pandangan bahwa segala sesuatu itu menggembirakan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Pandangan bahwa segala sesuatu itu indah) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(Persepsi/pencerapan bahwa segala sesuatu itu indah) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Pemikiran bahwa segala sesuatu itu indah) |
[Sakadagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Anagami, Arahat] |
(Persepsi/pecerapan bahwa segala sesuatu itu menggembirakan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
(Pemikiran bahwa segala sesuatu itu menggembirakan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
|
|
|
|
12 AKUSALA DHAMMA (12 DHAMMA TAK BERMANFAAT) |
|
(4 jenis Citta yg bersekutu dengan pandangan keliru) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(4 jenis Citta yang tidak bersekutu dengan pandangan keliru) |
[Sotapatti dan Sakadagami baru bisa mengendalikan/Melemahkan, , Anagami, Arahat] |
(2 jenis Citta yang dipimpin oleh kebencian) |
[Sotapatti dan Sakadagami baru bisa mengendalikan/Melemahkan, , Anagami, Arahat] |
(1 jenis Citta yang dipimpin oleh keraguan-raguan) |
[Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahat] |
(1 jenis Citta yang dipimpin oleh kegelisahan) |
[Anagami baru bisa mengendalikan/melemahkan, Arahat] |
Tingkat kesucian ke empat adalah Arahant, seorang yang mencapai tercerahkan/mencapi kesempurnaan [mencapai Nirvana/Nibana] bebas dari samsara dengan mengalahkan 10 belenggu. Ia tidak akan terlahir di alam manapun.
Nirvana [sanskrit]/ Nibanna [Pali] artinya adalah Nir= tidak Va [na] = meniup, Jadi arti Nirvana adalah Padam. Nirvana adalah bukan alam/Tempat/dimensi namun suatu keadaan dimana nafsu keinginan telah Padam sehingga tidak terlahir di alam manapun [definisi lihat di sini dan di sini]. Definisi penuh Nibanna/Parinibanna lihat di Khuddaka Nikaya, Udena Viii 1-4, Pataligama [Desa patali]]
Tingkat ke tiga adalah Anāgāmī (Sanskrit: Anāgāmin), yang berarti "seseorang yang tidak lahir/datang (āgacchati)", tidak lahir kembali sebagai manusia atau lebih rendah lagi, namun di satu Alam di antara alam-alam Rūpadhātu yaitu di alam-alam Śuddhāvāsa. Di Alam itu, ia akan mencapai Nirvāṇa. Anāgāmī telah mengalahkan 5 belenggu terbawah.
Tingkat kedua adalah Sakadāgāmī (Sanskrit: Sakṛdāgāmin), yang berarti "Seseorang yang lahir/datang (āgacchati) satu kali (sakṛt)", akan dilahirkan kembali satu kali saja di alam manusia dan kemudian akan mencapai Arahat.
Tingkat Pertama adalah Sotāpanna (Pali; Sanskrit: Srotaāpanna), yang berarti "seseorang yang memasuki (āpadyate) Arus (sotas)," Arus berarti 8 Jalan Utama yang merupakan Dhamma yang tertinggi. Pemasuk arus ini juga dinamakan yang "dibuka mata dhammanya" (dhammacakkhu, Sanskrit: dharmacakṣus)[2].
Perenang Arus ini di jamin mencapai pencerahan [Nirvana/Nibanna] tidak lebih dari 7 kelahiran kembali [atau lebih sedikit] dan tidak akan terlahir kembali di alam2 menderita (misalnya alam binatang, preta (jin/mahluk halus/setan), atau di neraka) namun akan terlahir di alam manusia atau di salah satu loka diatasnya. Perenang arus diperoleh melalui ajaran Buddhis (samyagdṛṣṭi or sammādiṭṭhi, "pandangan benar"), atau telah menyelesaikan/mencapai atau Saddha dalam tri ratna Buddha, Dhamma, and Sangha, dan juga mempunyai moral prilaku yang baik (Sila).
Mengenai unsur percaya, percaya tuhan tidak bisa dibuktikan,
sampai kapanpun, dan tidak di beritahu bagaimana caranya
utk membuktikan, kecuali nanti setelah kiamat.
Ajaran buddha mengundang untuk dibuktikan,
dan di beri tahu juga bagaimana caranya, yaitu meditasi.
Tapi bukannya mencoba meditasi, malah banyak yang
mencemooh meditasi.
Anda sudah umur 70, saya yakin anda sudah pernah mengalami
"pencerahan".Contohnya umum, si a sudah sering mendengar
orang putus cinta, dan sudah sering di mendengar bagaimana
rasanya putus cinta.
Jika belum pernah merasakan putus cinta, dia kemungkinan
mengatakan ah gitu aja kok sedih, ABG banget loe.
Loe kan cowok, masak gitu aja nangis.
Kemudian begitu si a mengalami putus cinta, baru dia
mengerti, oh begini rasanya putus cinta, baru kemudian
"spiritualitasnya" meningkat.
Demikian juga apa yang di ajarkan oleh sang buddha,
it's all about mengalami, merasakan sendiri.
Sebenarnya dhamma itu sangat dekat dengan pengalaman
manusia sehari2, cuma manusia tidak menyadarinya,
pikiran manusia sudah demikian parah dan akutnya
ditutupi oleh kebodohan, keserakahan, dan kebencian.
Salah satu keserakahan contohnya, terlalu mendewakan
orang suci, ingin belajar hanya dengan orang suci.
Jadi jika anda ingin verifikasi/falsifikasi ajaran sang buddha,
berusaha saja dengan langkah kecil, yaitu menyadari
setiap hembusan napas anda, menyadari proses
pikiran anda, menyadari suapan demi suapan ketika
anda makan, hanya menyadari, jangan terhanyut oleh
semua itu. Ketika anda meditasi, memusatkan kesadaran
pada napas, menyadari pada saat mengambil napas,
menyadari saat menghembuskan napas, menyadari
tarikan napas panjang, tarikan napas pendek, menyadari juga
ketika pikiran mulai berpindah dari napas, catat, kemudian
kembali lagi pada kesadaran napas.
Lakukan rutin tiap hari, pilih waktu yang tetap.
Saya yakin anda akan berhasil.
Anda mau buku bagus?
Kalau mau nanti saya japri.
" [tergantung beberapa hal lagi yang berhubungan dengan tindakan anda
sebelum dan saat itu] "
Mohon dijelaskan lebih lanjut, supaya nanti tidak terjadi salah paham.
Brahmana Dhananjani adalah seorang
pemungut pajak yang tak benar, ia memeras raja dan masyarakat umum
(M.ii,184-96). Yang Mulia Sariputta pernah bertemu dengannya dan menasehatinya
tentang akibat-akibat dari kehidupan yang tidak benar. Segera setelah
Dhananjani sakit parah, Sariputta dipanggil olehnya. Setelah diberitahu tentang
kesehatannya, Dhananjani memberitahu Sariputta bahwa ia mempunyai sakit kepala
yang tak tertahan. Selanjutnya Sariputta berbincang dengannya, perlahan-lahan
menuntun perhatiannya dari alam kehidupan lebih rendah ke lebih tinggi sampai
sejauh alam Brahma. Setelah mengalihkan perhatian pasien yang diambang kematian
ke alam Brahma, Sariputta melanjutkan menjelaskan jalan menuju pencapaian alam
Brahma, yaitu pengembangan penuh brahmavihara -- cinta kasih universal, belas
kasihan, simpati dan keseimbangan batin -- agar meliputi semua penjuru.
Sariputta pergi dan tidak lama kemudian Dhananjani meninggal. Dilaporkan bahwa
ia dilahirkan kembali di alam Brahma. Belakangan saat peristiwa tersebut
diceritakan pada Sang Buddha, Beliau menemukan kesalahan Sariputta karena tidak
membimbing Dhananjani menuju jalan spiritual yang lebih jauh lagi.
Sutta ini menunjukkan bahwa manusia yang mempunyai mata pencaharian tidak benar
juga dapat dibimbing menuju suatu kelahiran kembali yang lebih bahagia dengan
pemberian nasehat pada saat penting sebelum menjelang kematian. Sangat
diragukan apakah setiap pelaku kejahatan dapat dibimbing menuju kelahiran
kembali dalam alam bahagia. Mungkin sifat-sifat baik Dhananjani melebihi
perbuatan-perbuatan buruknya (Dhp.173) dan mungkin itulah sebabnya mengapa
seorang arahatta dapat membimbingnya menuju kelahiran kembali dalam alam
bahagia pada saat kematian.
Hal ini dapat disimpulkan dari fakta-fakta yang diceritakan dalam sutta (M.ii,185).
Saat Sariputta sendiri sedang melakukan perjalanan jauh di Dakkhinapata, ia
meminta keterangan tentang kesehatan Sang Buddha dari seorang bhikkhu yang
berasal dari Rajagaha, saat itu pula Sariputta sengaja meminta keterangan
tentang semangat pencarian spiritual Dhananjani. Kemungkinan besar bahwa
Dhananjani adalah seorang pendukung Sangha yang setia saat istri pertamanya,
seorang wanita yang mempunyai keyakinan penuh, masih hidup. Istri keduanya
adalah wanita yang tidak mempunyai keyakinan. Saat Sariputta mendengar bahwa
Dhananjani sedang lalai, ia cemas, dan memutuskan untuk berbicara dengan
Dhananjani jika ada kesempatan bertemu dengannya.
----- Original Message -----From: wirajhana eka
From: ・・場 <zentao.ba@gmail.com>
Subject: [Spiritual-World] Sethiadi --> tentang meditasi dan jhana
To: Spiritu...@googlegroups.com
Date: Wednesday, March 18, 2009, 9:46 PM
Halo Bung Sethiadi,
Jika anda bertanya kepada para meditator,
apakah mereka sudah mencapai jhana,
tentu saja tidak akan ada yang mau mengakuinya.
seorang meditator dilarang untuk memamerkan jhana yang telah mereka dapatkan.
Untuk mencapai jhana, minimal anda harus mampu bermeditasi dan memusatkan pikiran pada objek meditasi selama 2 jam . bila pikiran anda masih melayang ke mana2 dalam 2jam itu, anda tidak akan mampu mencapai jhana.
sebelum mencapai jhana, ada tanda2 ( sign / nimitta ) yang dilihat oleh seorang meditator. saya tidak akan menjelaskan tentang hal ini karena terlalu panjang.
sekadar info saja, TIDAK semua orang yang bermeditasi pasti mendapatkan jhana.
Ada prasyarat yang harus dipenuhi yaitu
harus mempunyai kusala Citta ( kesadaran yang mengandung akar baik)
kusala citta ini adalah :
1. Tidak serakah
2. Tidak benci
3. Tidak gelap batin / mempunyai kebijaksanaan
Manusia yang tidak mempunyai kusala citta, tidak akan mempunyai potensi untuk mencapai Jhana.
saya benci untuk menulis ini,
selama Bung sethiadi masih serakah untuk masuk surga, membenci setan dan neraka, mempunyai kegelapan batin ( seperti menganggap ada Tuhan sang penyelamat dan penebus dosa ),
Bung Sethiadi tidak akan pernah mencapai jhana meskipun bermeditasi selama ribuan tahun.
semoga penjelasan saya ini jelas untuk anda.
salam
・・場
|
卓俊樺 <zent...@gmail.com> Others, 03/24/2009 01:40 AM ZE9 Sent by: Spiritu...@googlegroups.com |
To: Spiritu...@googlegroups.com cc: |
| Subject: [Spiritual-World] Re: Meditasi. (5b) |
Seperti hukum alam tetap sama sampai sekarang. dhamma sang Buddha
masih berlaku sampai sekarang juga karena hukum dhamma yang dibabarkan
itu tidak berubah.
saya ingat dulu ada umat kristen yang bertanya tentang ketidak kekalan
buddhist. kalau memang tidak kekal, lalu hukum alam itu kenapa kekal?
padahal sang Buddha sudah membedakan yang mana kekal dan mana yang
nggak kekal. Seperti nibbana itu kekal, hukum dhamma itu kekal.
Makanya kalau mengatakan tidak ada yang kekal dalam ajaran buddha,
tentu itu salah besar.
>> Pertanyaan saya adalah :"Apa yang dapat saya verifikasi/falsifikasi dari ajaran Buddha dalam hidup ini?"
Dari perubahan yang anda lihat dalam meditasi anda, anda bisa
meverifikasikan sendiri.
Sebenarnya meditasi buddhist terbagi 2. yang satu untuk ketenangan dan
yang kedua untuk mendapatkan kebijaksanaan (ini yang untuk verifikasi
nantinya). Masalahnya, untuk mendapatkan pandangan yang benar, anda
harus masuk dalam ketenangan dulu.
Meditasi pernapasan banyak diajarkan karena meditasi itu paling
gampang untuk dari meditasi "ketenangan" ke meditasi "kebijaksanaan".
Makanya pertama-tama, ketika anda sadar pikiran anda sudah lari dari
napas, kembali ke napas. Jangan pikirkan tentang verifikasi dulu,
biarkan semua seperti apa adanya. karena kalau tanpa bimbingan, saya
tidak yakin anda bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya.
Thanks,
Yenny Tan
2009/3/23 sethiadi <sset...@gmail.com>:
> Yenny:
> saya ingat dulu ada umat kristen yang bertanya tentang ketidak kekalan
> buddhist. kalau memang tidak kekal, lalu hukum alam itu kenapa kekal?
>
> Sethiadi:
> Yang disebut "kekekalan hukum alam" itu hanya pendapat beberapa orang.
> Apakah betul, jumlah enersi dialam semesta tetap sama, kekal selamanya?
> Apakah tidak ada mulanya? Apakah tidak ada akhirnya?
>
> Seorang ilmuwan George Gamow mengatakan sekitar tahun 1948, ada mulanya dan
> ada akhirnya. Gamow mengatakan alam semesta mulai dengan "big crunch".
> Mula-mula terjadi ledakan besar, kemudian alam semesta menjadi makin lama
> makin besar. Sebagian jadi matahari, sebagian planet-planet termasuk bumi,
> sebagian jadi bintang-bintang, komet-komet, asteroid-asteroid dll benda
> langit. Seorang astronom bernama Fred Hoyle mengejek teori ini yang
> disebutnya teori "big bang". Hoyle berpendapat alam semesta ini selamanya
> ada dan kira-kira seperti sekarang ini.
>
> Pada tahun sekitar 1988, Seorang ilmuwan ateis Stephen Hawking koreksi teori
> Gamow. Gamow katakan big bang mulai kira-kira 3,2 milliar tahun yang lalu.
> Hawking katakan 15 milliar tahun yang lalu. Tetapi baik Gamow maupun Hawking
> tidak bisa terangkan mengapa terjadi "big bang".
>
>
> Singkatnya : "Teori sekarang cenderung mengatakan bahwa alam semesta
> (termasuk hukum alam) ada mulanya dan ada akhirnya."
>
> Apa yang dikatakan Buddha dan apa yang dikatakan para Buddhists kini?
>
YT:
Ajaran Buddha yang mengenai teori alam semesta tidak berubah. Dan
semakin scientist berkembang, semakin kelihatan kebenaran dari ajaran
Buddha.
Terus terang, secara personally, saya tidak melihat kesungguhan niat
anda untuk melihat kebenaran ajaran buddha. Anda bertanya dan tidak
berusaha melihat realitas yang ada. Agama dan science dan hidup itu
bukan 3 hal yang berbeda. Itu semuanya adalah kesatuan tidak bisa
dipisahkan. Science disini adalah pembuktian/rumusan. Itulah mengapa
ajaran Sang Buddha mencakup agama, science dan hidup.
Oleh karena itu, semakin anda membedakan kalau itu adalah perasaan dan
subjektive, anda makin tidak bisa melihat kebenaran. padahal anda lupa
kalau anda juga mengalaminya. Kalau semua orang didunia ikut
mengalaminya, apakah itu adalah subjektif?
Anda bisa membaca sabda-sabda sang Buddha yang menarik anda, dan
buktikan kebenaran dari itu. Sabda sang Buddha sangat banyak, saya
tidak tahu yang mana cocok untuk anda. Walau bagaimanapun, semua
sesuai dengan usaha anda dan karma baik anda. Buddha bisa menemukan
sendiri kebenaran itu, karena beliau mendapat karma baik yang beliau
tanam dari kehidupan lampaunya. Anda belum tentu mempunyai karma baik
setinggi itu, jadi semua kembali kepada anda. Ada niat, pasti ada
jalan. Ada karma baik, pasti ada kesempatan.
Thanks,
Yenny Tan