Alkitab mencatat adanya reinkarnasi, dalam hal ini yang sangat jelas
dituliskan adalah Reinkarnasi Nabi Elia menjadi Yonanes Pembabtis:
Mat 11:14 Dan kalau kalian mau percaya, Yohanes itulah Elia, yang
kedatangannya sudah dinubuatkan.
Dan, sikap Elia pun mengikuti Yohanes. Bisa kita perhatikan kemiripan
antara Elia dan Yohanes, yaitu berperang melawan nabi2 palsu (Elia
melawan nabi2 Baal, Yohanes melawan Orang2 Farisi). Menentang Raja
(Elia menentang Raja Ahaz, Yohanes menentang Raja Herodes).
Namun karma yang paling jelas terlihat adalah Elia membunuh nabi2
Baal, Yohanes Pembabtis mati dibunuh.
1Ki 18:40 Maka berkatalah Elia, "Tangkap nabi-nabi Baal itu! Jangan
biarkan seorang pun lolos!" Lalu orang-orang menangkap nabi-nabi Baal
itu, kemudian Elia membawa mereka ke Sungai Kison dan di sana ia
membunuh mereka semuanya.
Mat 14:10 Ia menyuruh orang pergi ke penjara untuk memancung kepala Yohanes.
Dengan demikian, ada tercatat kasus reinkarnasi di alkitab, lengkap
dengan karma yang mengikuti reinkarnasi tersebut.
Namun, konsep karma ini bukanlah segala-galanya bagi Yesus, sehingga
ketika ada orang buta sejak lahir dan murid2nya ingin mengetahui karma
siapa, Yesus menolak pemikiran seperti itu. Namun Yesus malah
"mengambil karma" orang buta tersebut:
Joh 9:1 Waktu Yesus berjalan, Ia melihat orang yang buta sejak lahir.
Joh 9:2 Pengikut-pengikut Yesus bertanya kepada Yesus, "Bapak Guru,
mengapa orang ini dilahirkan buta? Apakah karena ia sendiri berdosa
atau karena ibu bapaknya berdosa?"
Joh 9:3 Yesus menjawab, "Dia buta bukan karena dosanya sendiri atau
dosa orang tuanya, tetapi supaya orang bisa melihat kuasa Allah
bekerja dalam dirinya.
Joh 9:4 Selama masih siang, kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang
mengutus Aku. Malam akan tiba, dan seorang pun tak akan dapat bekerja.
Joh 9:5 Selama Aku di dunia ini, Akulah terang dunia."
Joh 9:6 Setelah berkata begitu Yesus meludah ke tanah, dan mengaduk
ludah-Nya itu dengan tanah. Kemudian Ia mengoleskannya pada mata orang
itu,
Joh 9:7 lalu berkata kepadanya, "Pergilah bersihkan mukamu di Kolam
Siloam." (Siloam berarti 'Diutus'.) Maka orang itu pergi membersihkan
mukanya. Waktu ia kembali, ia sudah dapat melihat.
Orang yang cuma mengandalkan karma, akan membiarkan orang buta
tersebut, tokh itu memang sudah karmanya. Demikian juga segala
kesulitan di dunia ini yang menimpa manusai akan dipandang "Memang
sudah karmanya". Sehingga, kegiatan2 kemanusiaan menjadi tidak perlu
karena tokh kalau karma belum habis kesengsaraan itu masih tetap akan
ada.
Nah, Yesus mengajarkan bahwa karma tersebut bisa dihilangkan, dan Anak
Manusia (Yesus) mampu menghilangkan/mengangkut karma (Yesus diatas
Karma?):
Mat 9:2 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang lumpuh yang
terbaring di tikar. Waktu Yesus melihat betapa besar iman orang-orang
itu, Ia berkata kepada orang lumpuh itu, "Tabahlah, anak-Ku!
Dosa-dosamu sudah diampuni."
Mat 9:3 Beberapa guru agama yang ada di situ berkata dalam hati,
"Orang ini menghina Allah!"
Mat 9:4 Yesus tahu pikiran mereka, jadi Ia berkata, "Mengapa
pikiranmu sejahat itu?
Mat 9:5 Manakah yang lebih mudah: mengatakan, 'Dosamu sudah
diampuni', atau mengatakan, 'Bangunlah dan berjalan'?
Mat 9:6 Tetapi sekarang Aku akan membuktikan kepadamu bahwa di atas
bumi ini Anak Manusia berkuasa untuk mengampuni dosa." Lalu Yesus
berkata kepada orang lumpuh itu, "Bangun, angkat tikarmu dan
pulanglah!"
Memang dalma hal ini konsep "karma" kristen berbeda dengan Buddhist,
karena di dalam ajaran Buddhist, tidak ada yang mampu melawan karma.
Sedangkan dalam ajaran alkitab, Yesus mampu melawan Karma.
Dan konsep ini:
Joh 9:3 Yesus menjawab, "Dia buta bukan karena dosanya sendiri atau
dosa orang tuanya, tetapi supaya orang bisa melihat kuasa Allah
bekerja dalam dirinya.
Sama persis dengan konsep penderitaan Yesus di kayu Salib. Dalam kaca
mata buddhist tentu Yesus menanggung karmanya sendiri:
Isa 53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena
tulah, dipukul dan ditindas Allah.
Dalam konsep karma, kesengsaraan Yesus adalah karena tulah, dipukul
dan ditindas Allah. Namun sesungguhnya, penyakit kitalah yang
ditanggungnya (karena karma orang lain).
Dan konsep ini menjadi salah satu inti ajaran alkitab, yaitu bahwa
kita haruslah berlomba2 mengangkut karma orang lain, dan menderita
untuk orang lain:
1Pe 4:15 Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai
pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
1Pe 4:16 Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka
janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama
Kristus itu.
Bila kita menderita karena berbuat jahat, itu karma biasa. Namun
pengikut Yesus diajarkan untuk menderita untuk karma orang lain, dan
bukan karena karma diri sendiri. Dengan demikian, apabila orang lai
nmenderita tidak dikatakan :Itu sudah karmamu, kena tsunami, kena
gempa, kecelakaan dst... namun dengan senang hati ikut menderita agar
karma orang lain menjadi lebih ringan. Itulah bedanya karma menurut
Buddhist (orang harus menanggung karmanya sendiri2) dan tabur tuai
menurut alkitab (kita bisa membantu meringankan karma orang lain).
Salam,
DK
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.
Oh, maksudnya hukum karma hanya berlaku di umat buddha sajakah?
Hehehe.... karena kata anda nggak ada karma di kristen.
> Tetapi yang jelas dalam Agama Buddha, ada banyak umat Buddha yang juga telah
> mampu menembus karma.
Wah, info baru nih. Selama ini saya kira ajaran Buddha mengajarkan
bahwa semua mahluk, termasuk gods dan Buddha, tunduk kepada hukum
Karma. Ada juga yang telah "Menembus karma" ya? Apakah Yesus juga
termasuk salah satu yang bisa menembus Karma? Lalu orang2 pengikut
Yesus apakah juga termasuk orang2 yang mampu menembus karma?
DK
> ABIN:
> Hukum karma melingkupi alam semesta artinya bahwa orang percaya atau tidak
> dengan hukum karma tetap dipengaruhi oleh hukum karma. <--- ini yang disebut
> universal, tidak berkondisi, tidak berpihak
>
>
> Dalam hukum karma, tidak dikenal yang namanya larangan dan perintah
> (bandingkan dengan 10 perintah Allah dalam ajaran Kristen).
> Semua adalah atas dasar kehendak bebas yang bertanggungjawab.
Makin lama makin ga mutu saja si Abin. KAtanya hukum karma ga ada
larangan dan perintah. Padahal di Buddhist sendir ada larangan dan
perintah yang dikenal dengan THE FIVE PRECEPT:
The Five Precepts
Overlapping with the moral guidelines of The Noble Eightfold Path are
the five precepts, the basic moral code. These instruct us to abstain
from harming living beings, from taking things not given, from sexual
misconduct, from false speech, and from intoxicating drinks and
non-medicinal drugs. For monks, the number of precepts is
traditionally extended to ten and include: not eating after noon;
avoiding theatrical performances and displays of music and dance; not
wearing adornments and perfumes; not sleeping on high or luxurious
beds; avoiding the handling of gold and silver.
Mbok yao kalo diskusi itu jangan cuma asal cuap gitu lho, malu2in.
> Kalau anda meyakini adanya hukum karma, maka apakah anda dapat menerima
> konsekuensi bahwa anda juga harus meyakini bahwa apa yang dialami oleh Yesus
> siksaan yang demikian kejamnya, hingga tewas di kayu salib) adalah akibat
> BUAH KARMA yang sangat buruk Yesus, entah pada kehidupannya yang lalu atau
> pada kehidupannya tersebut.
Karena menurut anda karma adalah universal, jadi Yesus jelas mati
karena dosa2nya sendiri dong, iya nggak? (secara obyektif karena karma
adalah universal).
> (Anda juga menyatakan adanya reinkarnasi dalam
> ajaran Kristen, yang berarti anda juga harus menerima bahwa Yesus, sang
> mesias sudah pernah terlahir menjadi manusia sebelumnya. Kalau anda
> menyatakan bahwa kelahiran Yesus itu adalah yang pertama kali, maka konsep
> reinkarnasi anda itu adalah bukan lagi hukum universal, tapi hukum
> pilih-pilih, alias orang-orang tertentu anda yakini pernah bererinkarnasi
> (Elia -> Yohanes), tapi pada satu sisi anda tentu sulit menerima bahwa Yesus
> sang Mesias telah pernah terlahir sebagai manusia sebelumnya.
Siapa yang bilang Yesus pertama kali lahir? Saya bilang tidak tahu
Yesus sudah lahir berapa kali, karena belum pernah tanya ke Dia.
> 1. Adanya makhluk adi kuasa yang berkuasa.
Kenapa tidak? Makhluk adikuasa ini memnag mengatasi karma dalam konsep kristen.
> 2. Adanya larangan dan perintah yang berujung pada dosa jika melanggarnya.
Di Buddhist juga ada Five Precept, so?
> 3. Adanya penebusan.
Karena karma bukanlah se-gala2nya. Ada proses pengambil alihan karma
dalam kristen yang mungkin tidak diajarkan di buddhisme.
DK
Maksud kata Karma di sini adalah kita harus melihat dari esensi dan asal muasal katanya.
Tentang Hukum Karma itu sendiri berlaku untuk semua mahluk.
Yang sy tekankan adalah.. masalah konsep Karma dalam Kristen sangat tidak tepat, dan sangat sempit dipakai untuk pemahaman cara pikir orang Kristen.
Anda pahami dulu arti kata "MENEMBUS", artinya mampu melihat arus dan cara kerja Hukum Karma.
Salam,
Suwarno
----- Original Message ----
From: David Kuntadi <d.ku...@gmail.com>
To: Spiritu...@googlegroups.com
Sent: Saturday, October 7, 2006 8:08:38 AM
Subject: [Spiritual-World] Re: Tabur Tuai (Karma?) dan Reinkarnasi/Rebirth Menurut Alkitab
On 10/6/06, Suwarno Liang <swl...@yahoo.com> wrote:
> Pertanyaan anda sebenarnya tentang bagaimana tahu tentang Karma itu juga akan sama
> dan bisa ditujukan juga ke David yang ngotot Karma juga ada di Kristen...
Oh, maksudnya hukum karma hanya berlaku di umat buddha sajakah?
Hehehe.... karena kata anda nggak ada karma di kristen.
> Tetapi yang jelas dalam Agama Buddha, ada banyak umat Buddha yang juga telah
anda paham gak sih apa itu FIVE PERCEPTS ?
Koq dengan mudah mengansumsikan itu sebagai sebuah larangan.
Coba anda simak kata demi kata salinan dalam bahasa Pali dan Indonesia, berikut:
1. Panatipatta veramani sikkhapadam samadiyami,
aku bertekad akan melatih diri menghindari Pembunuhan.
2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami
aku bertekad akan melatih diri menghindari Mengambil Barang Yang tidak diberikan.
3. Kamessumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami
aku bertekad akan melatih diri menghindari Tindakan Asusila.
4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami
aku bertekad akan melatih diri menghindari Ucapan yang tidak benar.
5. Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami
aku bertekad akan melatih diri menghindari Makanan/minuman yang menyebabkan lemahnya kesadaran.
Coba perhatikan dengan jeli kata demi kata:
1. Aku,
2. Bertekad
3. Melatih Diri
4. Menghindari
Dan dalam ajaran Buddha, senantiasa diajarkan bahwa 5 SILA (Five PErcept) ini sebagai pedoman untuk selaras dengan Hukum Karma yang perbuatan bajik akan membawa kebahagiaan.
So apanya yang menjadi larangan ?
Salam,
Suwarno
Intinya ya sama hanya berbeda cara pengungkapannya saja.
> Coba anda simak kata demi kata salinan dalam bahasa Pali dan Indonesia, berikut:
> 1. Panatipatta veramani sikkhapadam samadiyami,
> aku bertekad akan melatih diri menghindari Pembunuhan.
Intinya: Jangan Membunuh.
> 2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami
> aku bertekad akan melatih diri menghindari Mengambil Barang Yang tidak diberikan.
Intinya: Jangan Mencuri.
> 3. Kamessumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami
> aku bertekad akan melatih diri menghindari Tindakan Asusila.
Intinya: Jangan Berzinah
> 4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami
> aku bertekad akan melatih diri menghindari Ucapan yang tidak benar.
Intinya: Jangan mengucapkan saksi dusta.
> 5. Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami
> aku bertekad akan melatih diri menghindari Makanan/minuman yang menyebabkan
> lemahnya kesadaran.
Intinya: Jangan ber-mabuk2an.
> So apanya yang menjadi larangan ?
Dalam bahasa kristiani, larangan adalah utk hal2 yang membawa
sengsara, perintah adalah utk hal2 yang membawa kebaikan. INTINYA sama
saja tokh?
DK
Menyambung tulisan DK.
Saya sangat akur dengan uraian DK yang ada dibawah.
Saudara-saudara yang menjadi penganut Buddisme, cobalah lakukan perenungan mengenai hal itu sebelum nyerocos terus membantah faham Kekristenan.
Faham Kekristenan ttg dosa ialah dosa tetap dosa, tidak dapat ditebus oleh si pedosa tsb.
Kekristenan tidak mengenal balance system antara dosa dan amal.
Satu kejahatan kecil pun menurut hukum formal sekuler yang juga merupakan dosa dalam hukum rohani – misalnya mencuri sebuah kancing peniti - tidak dapat dibayar dengan sejuta amal baik. Agaknya dalam Buddisme juga demikian, sehingga setiap orang harus kembali bolak-balik kedalam kehidupan fisik ini untuk melunasi hutangnya walau sekecil apapun.
Inkarnasi atau reinkarnasi dalam faham Kekristenan berbeda motivenya dengan reinkarnasi pada Buddisme, yaitu kalau pada agama Kristen adalah karena (1) dorongan keinginan merasakan kenikmatan duniawi (Kej 6:20), dan (2) karena rencana Allah sendiri menghadirkan seseorang kembali, misalnya Elia = John the Baptist, sedangkan pada Buddisme adalah untuk sepenuhnya membayar dosa.
Sayangnya, fakta menunjukkan tidak ada manusia yang mampu hidup hingga usia - katakanlah umur 7 tahun - tanpa melakukan dosa. Jadi, mustahil bisa lepas dari karma negatif. Bayi dan anak kecil yang belum mampu membayar karma negatifnya tapi tiba-tiba mati, harus hadir lagi suatu waktu, entah dalam bentuk kehidupan apa.
Konsekwensi dari faham Buddisme ini ialah reinkarnasi di dunia ini akan menjadi suatu siklus yang tidak ada habis-habisnya, dan bahkan bisa menjadi jalan yang sangat panjang dan lebih panjang lagi kalau seseorang pedosa hadir kembali pada derajat kehidupan paling rendah, katakan saja sebagai kuman tbc yang malah menggerogoti kesehatan seseorang manusia yang juga sedang hidup dalam reinkarnasi.
Ini membawa kita kedalam pemahaman bahwa si kuman itu harus hidup lagi ke peringkat lebih rendah dari derajat kuman tbc pada renikarnasi berikutnya karena dia telah membuat manusia menjadi sakit.
Karena reinkarnasi itu adalah suatu proses tanpa ujung, maka ketika seseorang hadir dalam hidup ini sebagai kuman tbc, dengan apa si kuman ini berbuat baik agar dia dapat hadir kembali sebagai mahluk yang lebih tinggi harkatnya pada renikarnasi berikut? Demikian juga pertanyaan pada bakteri basillus tetrakokus tetany yang mengakibatkn tetanus yang ganas.
Walaupun ajaran Buddisme mengajarkan agar manusia berbuat baik, saya tidak menyangkal ini, tetapi faham tsb hanya mengajarkan notion of self centrum :,, Urus sendiri dosa atau karma negatifmu. Tidak ada entitas lain yang dapat menolongmu. Kalau kamu terperosok terus, siapa yang peduli?”.
Ini sangat kontras dengan faham Kekristenan ketika Yesus berkata :,, Mari, Aku yang membayar karma negatifmu (dosa) asalkan engkau percaya bahwa penderitaan and the death of my human physic yang kualamai di kayu salib itu adalah untuk membayar dosamu”.
Renungkan, betapa mulianya Yesus itu.
Salam.
Tentu beda donk.. coba lihat latar belakangnya...
yang satu disuruh dan sifatnya menghukum...
sedang yang satu adalah anjuran, dan tidak punya daya menghukum, hanya follow hukum alam.
thanks
Suwarno
----- Original Message ----
From: David Kuntadi <d.ku...@gmail.com>
To: Spiritu...@googlegroups.com
|
"David Kuntadi" <d.ku...@gmail.com> Others, 09/10/2006 08:46 AM Sent by: Spiritu...@googlegroups.com |
To: Spiritu...@googlegroups.com cc: |
| Subject: [Spiritual-World] Re: Tabur Tuai (Karma?) dan Reinkarnasi/Rebirth Menurut Alkitab |
Lho, kan sama saja dengan anda seenaknya sendiri menerjemahkan alkitab?
> Anda menyatakan bahwa larangan adalah:
> Dalam bahasa kristiani, larangan adalah utk hal2 yang membawa
> sengsara, perintah adalah utk hal2 yang membawa kebaikan. INTINYA sama
> saja tokh?
>
> Sekarang,
> Bagaimana dengan 10 perintah Allah yang pertama?
> Janganlah engkau menyebut nama Allah dengan tidak hormat.
>
> Apa konsekuensinya, apa kebaikannya?
> Bukankah kalau dilanggar, maka ancamannya adalah DOSA?
> Intinya larangan dan perintah itu adalah ANCAMAN.
Hal ini agak terlalu sulit untuk anda kelihatannya. Tapi baiklah saya
coba terangkan sedikit, yaitu bahwa negara Israel itu pada saat itu
merupakan negara Theokrasi. Menyebut nama Allah dengan tidak hormat
artinya melawan pemerintahan yang sah. Bila rakyat israel tidak
mematuhi pemerintahnya, ya kacau itu negara. Mengerti nggak?
>
> Jadi, sama sekali TIDAK SAMA.
> Jadi, tidak heranlah kalau anda tidak bisa membedakan mana larangan, mana perintah,
> dan MANA YANG BUKAN LARANGAN dan BUKAN PERINTAH.
Kelihatannya anda tidak tahu bahwa meskipun ada larangan dan perintah,
orang2 israel diberi kebebasan untuk memilih mau mneikuti larangan dan
perintah itu atau tidak. Bebas kok, tidak ada larangan untuk melanggar
larangan:
Deu 11:26 Hari ini kamu boleh memilih antara berkat dan kutuk.
Deu 11:27 Kamu akan diberkati kalau taat kepada perintah-perintah
TUHAN Allahmu, yang hari ini saya sampaikan kepadamu.
Deu 11:28 Tetapi kamu akan dikutuk kalau tidak taat kepada
perintah-perintah TUHAN Allahmu, melainkan berbalik untuk menyembah
ilah-ilah lain yang tidak pernah kamu sembah.
Salam,
DK
|
Rio <emails...@yahoo.com> Others, 08/10/2006 08:57 PM MST Sent by: Spiritu...@googlegroups.com |
To: Spiritu...@googlegroups.com cc: Subject: [Spiritual-World] 10 Perintah Allah (was Tabur Tuai (Karma?) dan Reinkarnasi/Rebirth Menurut Alkitab |
Musa.
> Padahal free will adalah azas dari makhluk hidup itu sendiri.
> Menentukan hidupnya tanpa ditakdirkan untuk menjadi bagaimana nantinya.
> Itu yang saya katakan bahwa ketika semua adalah kehendak sang maha kuasa,
> maka free will itu sudah tidak ada, karena semua sudah berupa skenario.
Tidak ada skenario, yang ada freewill.
> Bahkan Yesus di taman Getsmani, dalam doanya terlihat bahwa semua adalah
> atas KEHENDAK tuhan.
Artinya dengan freewill mengikuti kehendak Bapa. Bukan terpaksa.
> Lalu bagaimana dengan doa bapa kami?
> "Datanglah kerajaanmu,...
> Jadilah KEHENDAKMU...
Ingin mengikuti kehendak Bapa, dengan bebas bukan terpaksa. Jadi
dengan free will ikut kehendak Bapa.
DK
Yang saya tahu kitab Taurat ditulis oleh Musa, bukan oleh Tuhan.
> ABIN:
> Hahaha..
> Jadi, kalau anda tidak ingin mengikuti kehendak Bapa, apa konsekuensinya?
Konsekuensinya ya putus hubungan dengan Bapa.
> BERDOSA gak?
Berdosa. Karena sudah meleset dari sasaran. Entah anda tahu definisi
dosa atau tidak kok maish tanya apa berdosa atau nggak.
DK
|
"David Kuntadi" <d.ku...@gmail.com> Others, 09/10/2006 04:53 PM Sent by: Spiritu...@googlegroups.com |
To: Spiritu...@googlegroups.com cc: Subject: [Spiritual-World] Re: Tabur Tuai (Karma?) dan Reinkarnasi/Rebirth Menurut Alkitab |
Masalah renikarnasi dalam Alkitab, jelas merupakan fakta skriptural karena nomor-nomor ayatnya diterakan. Jadi bukan menurut pendapat saya.
Hanya saja, jika ada orang yang bertanya apakah seluruh manusia yang sudah mati memperoleh kesempatan ber-reinkarnasi, saya tidak tahu, dan dengan demikian tidak mampu menjawabnya.
Komentar saya tentang pendapat teman anda yang Katolik dan juga guru-guru agama denominasi itu, secara kelembagaan semua denominasi dalam tubuh agama Kristen tidak mengajarkan reinkarnasi. Tidak heran mengapa mereka menyangkalnya.
Gereja secara formal memang mengatakan kalau seseorang mati, hanya ada dua alternatif, dia ke nereka atau ke sorga.
Nah, ini kembali ke pertanyaan saya yang diatas, apakah semua orang diijinkan ber-reinkarnasi?
Kalaupun saya mendukung faham reinkarnasi, ini adalah karena alasan yang lebih bersifat pribadi, bukan mewakili pendapat Gereja. Jadi, diskusi/debat tentang hal reinkarnasi ini sebaiknya tidak menyangkut-pautkannya dengan Gereja sebagai lembaga.
Satu hal yang perlu diketahui tentang reinkarnasi dalam Alkitab. Manusia diciptakan Tuhan sebagai manusia, bukan hasil dari rantai proses yang panjang hingga kemudian tiba pada fase manusia. Dengan demikian, seorang manusia, andai dia ber-reinkarnasi berkali-kali, namun tetap saja sebagai manusia, tidak menjadi mahluk yang lain sebagaimana diajarkan oleh faham Buddisme.
Terima kasih atas ajakan anda agar saya mengikuti ceramah-ceramah tentang reinkarnasi oleh kaum Buddis.
Pada kalimat diatas saya menyebut percaya pada reinkarnasi karena alasan yang lebih bersifat pribadi. Ya, memang demikian. Ada perasaan yang kuat pada diri saya yang memaksa untuk mempertimbangkan kebenaran dorongan perasaan itu.
Saya akan bercerita sedikit ttg the impulse of the feelings (instuisition).
1. ITALIA.
Saya hanya melihat dari sebuat potret beberapa tubuh manusia yang sudah menjadi batu. Tubuh-tubuh itu menadi batu akibat letusan gunung Vesuvius yang meremukkan kota Pompei sekitar 2000 tahun yang lampau. Bagaimana prosesnya mereka menjadi batu bukan sesuatu yang berada diluar medan sains.
Ketika Pompei digali kembali oleh Pemerintah Italia modern, batu-batu manusia itu diangkat, dibersihkan, direkondisi bentuknya seperti bentuk asli.
Ketika mata saya tertuju pada sebuah batu manusia, saya sangat terkejut, jantung berdegup-degup, lemas. Pikiran saya langsung mengatakan bahwa batu tersebut adalah saya sendiri.
Ya, saya pernah lahir dan besar dikota Pompei, pada keluarga yang status sosial ekonominya cukup lumayan. Ukuran tubuh saya sangat ideal, seorang pemuda ganteng, dan sedang berjalan-jalan santai ketika Vesuvius meletus, terkubur dalam debu.
2. TIONGKOK.
Kita ketahui dari sejarah bahwa sebelum pecah Perang Dunia ke II, Jepang sudah menginvasi wilayah bagian timur negeri Tiongkok. Suatu hari ketika saya masih beranjak remaja, saya membaca sebuah kisah bergambar tentang seorang anak berumur sekitar 10 hingga 12 tahun, penggembala domba yang hidup pada masa pendudukan Jepang tsb.
Si gembala ini adalah anak keluarga miskin yang tidak pernah sekolah, mengembala domba orang lain untuk upah agar dapat membantu orang tua.
Saya menangis sejadi-jadinya pada waktu membacanya dan yakin bahwa si gembala miskin ini adalah saya sendiri. Ingatan saya disegarkan bahwa saya dipakai oleh kelompok-kelompok pejuang China sebagai kurir, pembawa surat dari satu kelompok ke kelompok lain yang kuselipkan pada ekor domba yang berbulu lebat, dan selalu lolos dari penjagaan tentara Jepang. Apa yang perlu dicurigai pada seorang anak kecil bodoh dan hanya tahu menggembala saja?
Saya juga disuruh menghitung jumlah tentara Jepang pada suatu pos penjagaan.
Hidup saya tidak lama disana. Agaknya pada sebuah perang yang berkecamuk, saya menjadi korban.
Begitulah kisahnya. Setelah dewasa, kucoba mencari dukungan Alkitab apakah reinkarnasi ada. Memang ada, tetapi tidak banyak dituliskan.
Tentang kebenaran perasaan saya mengenai dua “pengalaman” itu masih sepenuhnya dapat dipertanyakan. Tidak ada bukti konkrit yang dapat digunakan sebagai pendukung, tapi melulu hanya berdasarkan perasaan saja.
Bisa jadi perasaan seperti itu timbul sebagai bentuk fenomena kejiwaan, yaitu suatu keadaan psikologis yang sedang dalam kondisi melankolis pada saat melihat batu manusia Pompei, dan juga pada waktu membaca kisah perang Tiongkok dengan Jepang dimana seorang anak kecil gembala domba yang kebetulan termuat didalamnya walau hanya sebagai figuran saja.
Jadi, kalaupun saya coba menghadiri pencerahan tentang reinkarnasi yang dilakukan oleh kaum Buddis, ya paling juga begitu begitu saja. Saya toh sudah merasakannya, bukan karena autosugesti yang timbul karena mendengar adanya reinkarnasi.
Setelah kehidupan di Pompei berakhir, mungkin saya ingin hidup lagi karena doyan akan kekayaan dan kehormatan duniawi, tetapi malah lahir dalam keluarga miskin papa, tinggal dalam sebuah gubuk reot yang dindingnya bocor disana sini, dan selalu hidup sendirian dipadang rumput dengan domba-domba pada siang hari.
Walaupun perasaan saya sangat kuat tentang kisah diatas benar pernah terjadi, namun tidak dapat menerima semua ini sebagai kebenaran mutlak. Sekali lagi, karena alasannya hanya perasaan atau intuisi saja.
Kalaupun hidup saya yang sekarang ini adalah reinkarnasi yang lain, tujuan saya adalah untuk memberitakan keselamatan dalam Yesus Kristus. Saya ingin semua orang menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka, agar mereka turut diselamatkan untuk hidup kekal, TERMASUK ANDA. Tujuannya bukan memuaskan ego saya.
Aku tahu bahwa hal ini adalah kebodohan bagi anda, tetapi hutang kami (Rio, DK, dan saya) pada anda atas nyawa anda sudah lunas dan tidak akan dituntut pertanggung-jawabannya oleh Yesus pada hari penghakiman, karena anda sudah mendengar namun menolak pemberian gratis yang sangat berharga.
Yesus mengangkat karma anda, kalau anda menerima Dia sebagai Juruselamat anda.
Salam.
WS.
Itu adalah pernyataan Iman Musa, bisa dikatakan sebagai Firman Tuhan
kepada Musa (harap diingat "kepada Musa")
> Putus hubungan degan Bapa = tidak akan mendapatkan kerajaan Allah.
Penduduk suatu kerajaan adalah orang2 yang mengikuti undang2 kerajaan
tersebut. Kalau tidak mengikuti ya bisa disebut kriminal, atau bahkan
subversive. Kalau putus hubungan ya memang tidak mau ikut dalam
kerajaan, mungkin ingin mendirikan kerajaan lain, atau menyberang ke
kerajaan lain.
Salam,
DK
|
"David Kuntadi" <d.ku...@gmail.com> Others, 11/10/2006 09:48 AM Sent by: Spiritu...@googlegroups.com |
To: Spiritu...@googlegroups.com cc: |
| Subject: [Spiritual-World] Re: Tabur Tuai (Karma?) dan Reinkarnasi/Rebirth Menurut Alkitab |
My comments saya tulis dengan warna hijau.
Catatan : Masalah reinkarnasi hingga ke kuman tbc saya ulangi lagi. Ini karena anda membantah, sehingga tidak sesuai dengan apa yang dikatakan orang Hindu kepada saya.
Willer:
Satu kejahatan kecil pun menurut hukum formal sekuler yang juga merupakan dosa dalam hukum rohani – misalnya mencuri sebuah kancing peniti - tidak dapat dibayar dengan sejuta amal baik. Agaknya dalam Buddisme juga demikian, sehingga setiap orang harus kembali bolak-balik kedalam kehidupan fisik ini untuk melunasi hutangnya walau sekecil apapun.
ABIN:
Pandangan anda sungguh sangat sempit.
Dari penjelasan anda itu, anda HANYA melihat bahwa karma hanya akan berbuah pada KEHIDUPAN yang akan datang.
Padahal tidaklah demikian.
Pada kehidupan sekarangpun, karma bisa langsung berbuah.
Saya juga tau kalau karma bisa langsung berbuah pada periode kehidupan yang sama.
Namun dengan jawaban ini anda sedang mengatakan bahwa ternyata Buddisme juga berpijak pada balance system.
Karena tidak setiap orang akan surut kehidupannya pada reinkarnasi berikut, maka untuk itu saya harus meralat kata “setiap orang” dan saya ganti menjadi “sebahagian orang”.
Anda sebenarnya tahu bahwa inti pembicaraan saya bukan pada kwantitas, melainkan pada karma, jadi saya harap anda tidak berputar-putar tentang kata yang diralat itu karena argumentasi saya tidak terpengaruh pada berapa jumlah orang yang turun harkatnya kehidupannya, semua manusia atau hanya sebahagian sama saja.
Keterangan anda hanya mengulang apa yang sudah diketahui secara umum bahwa jika karma positip masih tersisa setelah dikurangi nilainya oleh karma negatif, berarti pada reinkarnasi berikut akan hidup pada harkat kehidupan yang lebih tinggi.
Kebalikannya, jika karma negatip masih tersisa setelah dikurangi nilainya dengan karma positip, berarti pada reinkarnasi berikut harkat kehidupannya akan turun. Begitu terus bagi mereka yang nilai negatipnya selalu lebih besar, hingga dia bisa saja menjadi kerbau, jadi cacing, atau jadi kuman tbc paru-paru seperti yang sudah pernah saya sebut.
Hal ini kuulangi lagi bukanuntuk ngeyel tetapi karena penjelasan anda berbeda dari yang kuketahui.
Kuman tbc paru-paru makanannya memang paru-paru, merusak kehidupan mahluk kemana dia menyusup. Karma negatipnya makin tidak karuan besarnya. Bagaimana si kuman atau para kuman tbc ini dapat berbuat baik agar dapat keluar dari lingkaran ini? Bukankah dia atau mereka tidak dapat hidup kalau tidak menggerogoti paru-paru?
Kemudian para kuman ini pada kehidupan berikut akan lebih rendah lagi derajatnya dari sekadar kuman. Jadi apa?
Konsep karma Buddisme sangat membingungkan.
Tolong dijelaskan, agar pikiran saya yang sempit ini (spt yg anda katakan) bisa berkurang sempitnya.
Willer:
Inkarnasi atau reinkarnasi dalam faham Kekristenan berbeda motivenya dengan reinkarnasi pada Buddisme, yaitu kalau pada agama Kristen adalah karena (1) dorongan keinginan merasakan kenikmatan duniawi (Kej 6:20), dan (2) karena rencana Allah sendiri menghadirkan seseorang kembali, misalnya Elia = John the Baptist, sedangkan pada Buddisme adalah untuk sepenuhnya membayar dosa.
ABIN;
Masalahnya adalah inkarnasi dalam ajaran kristen (seperti klaim DK dan anda), inkarnasi itu tidak berlaku universal, tapi pilih-pilih. Inkarnasi tidak terjadi pada semua secara menyeluruh, tapi hanya pada pribadi-pribadi tertentu yang dispesialkan.
Sialnya lagi, DK juga menyatakan bahwa Yesus pernah terlahir sebelumnya. <--- Ini perlu anda tanggapi juga. Pendapat anda gimana?
Saya tidak tahu apakah inkarnasi berlaku secara universal, tetapi memang saya lebih condong mempercayai tidak universal karena Alkitab menuturkan ada roh-roh yang dipenjarakan. Penjara alam sono tentunya.
Disamping itu juga pemberitaan Injil ada pada alam roh. Roh yang belum sempat mendengar kabar keselamatan dalam Yesus ketika masih hidup di dunia ini masih terbuka kesempatan baginya dialam roh. Kalau disana roh itu sudah menerima Yesus, nalar berkata untuk apa dia kembali ke dunia lagi?
Namun istilah ‘pilih-pilih’ yang anda pakai tidak pas untuk digunakan bagi semua yang berinkarnasi/reinkarnasi.
Mereka yang berinkarnasi/reinkarnasi karena keinginan mereka sendiri, tentu bukan karena dipilih. Siapa yang memilih? Wong keinginan sendiri, koq.
Mereka yang diutus oleh Tuhan untuk ber-reinkarnasi untuk tugas tertentu, bagi merekalah istilah ‘dipilih’ itu cocok.
Masalah pendapat bahwa Yesus sudah pernah terlahir sebelumnya.
Sudah saya katakan bahwa hal reinkarnasi bukan dogma Gereja. Karena bukan dogma, apapun tafsiran yang dibuat oleh seseorang bisa saja. Supaya anda ketahui, bahwa Gereja – terutama Protestan - mengijinkan umatnya menafsir dengan SEBEBAS-BEBASNYA. Tidak ada pemberangusan. Namun hasil penafsiran perorangan bukan suara Gereja.
Ada orang Buddha yang percaya bahwa Sidharta Gautama adalah inkarnasi/reinkarnasi dari Yesus. Kalau orang tsb percaya seperti itu, ya terserah dia, namanya juga kepercayaan. Namun bagi saya, tidak mungkin Gautama reinkarnasi dari Yesus.
Willer:
Sayangnya, fakta menunjukkan tidak ada manusia yang mampu hidup hingga usia - katakanlah umur 7 tahun - tanpa melakukan dosa. Jadi, mustahil bisa lepas dari karma negatif. Bayi dan anak kecil yang belum mampu membayar karma negatifnya tapi tiba-tiba mati, harus hadir lagi suatu waktu, entah dalam bentuk kehidupan apa.
Konsekwensi dari faham Buddisme ini ialah reinkarnasi di dunia ini akan menjadi suatu siklus yang tidak ada habis-habisnya, dan bahkan bisa menjadi jalan yang sangat panjang dan lebih panjang lagi kalau seseorang pedosa hadir kembali pada derajat kehidupan paling rendah, katakan saja sebagai kuman tbc yang malah menggerogoti kesehatan seseorang manusia yang juga sedang hidup dalam reinkarnasi.
Ini membawa kita kedalam pemahaman bahwa si kuman itu harus hidup lagi ke peringkat lebih rendah dari derajat kuman tbc pada renikarnasi berikutnya karena dia telah membuat manusia menjadi sakit.
ABIN:
Mustahil bagi anda yang tidak memahami, jadi anda secara implisit menyatakan Buddhisme itu pesimistik.
Tapi, kenyataannya tidak demikian. Sang Buddha secara jelas telah mengajarkan JALAN untuk mengakhiri hal tersebut.
Sang Buddha adalah contoh dari keberhasilan itu.
Jadi, kalau anda bilang "siklus yang tidak ada habis-habisnya" ya jelas anda salah paham.
Jika saya mengikuti travail (alur pikiran) anda, bagi Buddha memang benar. Bahkan bagi sebahagian lagi yang sudah tinggi taraf reinkarnasinya tapi masih dibawah Buddha levelnya, juga benar.
Tetapi tidak semua berhasil mencapai kemajuan, bukan? Sebahagian yang lain surut hingga menjadi kuman tbc seperti yang sudah kesebut diatas.
Lagipula, kelahiran kembali dalam ajaran Buddha, tidak sebatas terlahir kembali di alam manusia, atau alam hewan, tapi total ada 31 alam kehidupan dalam kosmologi Buddhis.
Ini tidak mencerahkan argumentasi saya.
Satu hal yang memperlihatkan bahwa anda tidak paham sama sekali ajaran Buddha, adalah anda menyatakan bahwa kuman tbc adalah MAKHLUK HIDUP.
Perspektif MAKHLUK HIDUP dalam Buddhisme adalah paling tidak memiliki 2 hal yakni NAMA dan RUPA.
NAMA (ini bahasa pali) adalah berarti BATIN, bukan "nama" label panggilan pada orang-orang.
RUPA (ini bahasa pali) adalah berarti FISIK.
Kuman (bakteri, virus, protozoa, amuba), tidak terkategori sebagai MAKHLUK hidup, karena memiliki RUPA, tidak memiliki NAMA (batin).
Begitu, ya? Tapi, dua orang teman saya berkebangsaan India yang beragama Hindu – seorang dari Gujarat, yang lain dari Srinagar - mengatakan bahwa seseorang bisa saja menjadi pohon, anjing, ulat, dll, dalam reinkarnasinya. Saya lebih percaya kepada yang dua orang ini daripada keterangan anda.
Apakah pohon memiliki bathin? Bukankah lebih mungkin bagi kuman memiliki bathin daripada pohon? Mengapa kalian bertentangan? Itu karena anda sendiri yang membuat kategori itu.
Sebaiknya, anda pahami lebih lanjut sebelum anda membuat pernyataan padahal anda tidak tahu sama sekali.
Walaupun pengetahuan saya tentang Buddhisme minim, jangan katakan tidak tahu sama sekali. Dua tahun saya bergaul dengan orang-orang India tadi, saya banyak mendengar mereka menerangkan karma, yang bagi Hindu dan Buddha adalah sama.
Pun, disamping yang dua orang ini, dulu saya juga sering bersama teman dekat - seorang Amerika (caucasia) yang menganut Buddhisme, tinggal di Seatle, USA, - dan sering mendengar Buddhisme dari dia.
Hingga wafatnya, Sidharta Gautama secara formal adalah Hindu. Para pengikutnyalah yang mengembangkan ajarannya menjadi Buddhisme karena tidak mau disebut sebagai sekte lain dari Hinduisme.
Salah satu alasannya, karena Sidharta sulit menerima banyaknya dewa dewi dalam agama Hindu dan tiap-tiap sekte lebih memberi pujaan pada dewa-dewi yang berbeda. Tidak sama.
Hindu memusatkan perhatian pada pemujaan, sementara Sidharta sepenuhnya mengarahkan pemikirannya pada notion of self centrum. Itulah juga sebabnya faham ketuhanan sangat lemah pada Buddisme, kalau tidak dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Atman ada, tapi hampir tidak disebut-sebut.
Willer:
Karena reinkarnasi itu adalah suatu proses tanpa ujung, maka ketika seseorang hadir dalam hidup ini sebagai kuman tbc, dengan apa si kuman ini berbuat baik agar dia dapat hadir kembali sebagai mahluk yang lebih tinggi harkatnya pada renikarnasi berikut? Demikian juga pertanyaan pada bakteri basillus tetrakokus tetany yang mengakibatkn tetanus yang ganas.
ABIN:
So, bagian ini tidak saya tanggapi, karena anda missleaded.
Argumen tentang ini sudah saya paparkan lagi karena keterangan berbeda dari yang saya ketahui.
Willer:
Walaupun ajaran Buddisme mengajarkan agar manusia berbuat baik, saya tidak menyangkal ini, tetapi faham tsb hanya mengajarkan notion of self centrum :,, Urus sendiri dosa atau karma negatifmu. Tidak ada entitas lain yang dapat menolongmu. Kalau kamu terperosok terus, siapa yang peduli?”.
ABIN:
Jadikalah dirimu sebagai pulau, sebagai pelindung bagimu.
Janganlah engkau mengharapkan yang di luar dirimu menjadi pelindungmu.
Orang tua yang anda lihat sehari-hari saja tidak mampu menolongmu, apalagi sesuatu yang tidak jelas di luar sana.
Nah, hal ini dalam faham Kekristenan adalah kesombongan yang luar biasa. Seperti yang kusebut pada subject lain bahwa dosa adalah tetap dosa, tidak dapat ditebus dengan kebaikan. Faham Buddhisme ini menjauhkan manusia dari ketundukan pada Tuhan. Saya maklum, Buddhisme bukan faham theologia, melainkan atheisme yang dibungkus dengan kerangka moralisme.
Kesadaran akan dosa membuat orang Kristen menyadari kelemahannya. Tidak ada seorangpun yang mampu keluar dari dosa, oleh sebab itu membutuhkan penolong. Penolong itu ialah Yesus Kristus. Yesus yang kuat, kenaikannya ke surga disaksikan oleh sekitar 500 orang saksi mata, dan didukung oleh catatan historis.
Bagaimana dengan Sidharta Gautama? Apakah ada saksi mata yang melihat dia naik ketingkat kehidupan yang tertinggi?
Tidak ada. Jika tidak, apa yang dikatakannya tentang semua tahapan harkat kehidupan pantas diragukan jika terlalu keras untuk mengatakan jangan dipercaya.
Willer:
Ini sangat kontras dengan faham Kekristenan ketika Yesus berkata :,, Mari, Aku yang membayar karma negatifmu (dosa) asalkan engkau percaya bahwa penderitaan and the death of my human physic yang kualamai di kayu salib itu adalah untuk membayar dosamu”.
Renungkan, betapa mulianya Yesus itu.
ABIN:
Sekilas memang terlihat mulia, tapi apakah benar bahwa kematian Yesus telah membayar dosamu?
Ketika seorang bayi lahir kemaren dan meninggal hari in (atau katakanlah meninggal sebelum usia 7 tahun seperti contoh anda di atas).
Kemana dia pergi?
Dalam iman kalian, bayi itu tentu belum beriman pada Yesus (namanya juga bayi), maka bayi itu arahnya adalah ke neraka, karena ketika ia lahir, ia telah membawa DOSA ASAL (warisan adam dan hawa).
Dosa warisan ialah, Allah berfirman : ,,Pada hari engkau memakan buah itu maka engkau akan mati”
Jadi dosa warisan dibayar dengan kematian tubuh. Tuhan tidak mengatakan akan masuk neraka. Dari mana anda mendapat penjelasan anda itu? Masihkan anda berlagak mengetahui isi Alkitab?
Yang membawa ke neraka adalah dosa perbuatan yang dilanjutkan dengan penolakan kepada Yesus sebagai Juruselamat.
Dosa perbuatan yang disusul dengan pertobatan dan penerimaan kepada Yesus, mengubah arah ke neraka menjadi arah ke surga.
Kalau sudah demikian, masihkah mulia si yesus itu?
Sudah saya katakan berkali-kali bahwa ajaran keimanan itu TIDAK UNIVERSAL.
Setelah membaca penjelasan persis yang diatas ini, tentu anda memahaminya sekarang, dan dengan demikian Dia selamanya mulia. Merelakan diri diperhinakan, disiksa, dan puncaknya berkorban di kayu salib sebagai tebusan bagi manusia yang berdosa, apakah itu tidak mulia? Bandingkan saja dengan tuhan anda yang hanya menikmati kesenangannya sendiri tidak perduli dengan kesengsaraan manusia. Manusia yang bersikap seperti ini saja terhadap sesamanya tidak layak untuk hidup.
Tuhan yang bagaimana itu?
Mengapa Kekristenan tidak universal? Karena penebusan hanya berlaku pada mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat?
Semua (manusia dan roh manusia yang sudah meninggal) harus mendengar berita Injil, barulah pengadilan Allah dilaksanakan supaya tidak ada yang berdalih.
Seperti yang kusebut diatas, orang-orang meninggal tanpa pernah mengetahui tentang Injil Keselamatan masih ada kesempatan bagi mereka di alam roh.
Alkitab juga berkata, mereka yang hidup dibawah hukum Taurat akan diadili dengan hukum Taurat. (Maksudnya, melakukan hukum Taurat tetapi menolak Yesus di alam ini atau di alam roh).
Mereka yang tidak mengenal hukum Taurat dan hidup berbuat baik menurut suara hatinya, akan diadili menurut suara hatinya sendiri (Melakukan yang baik tetapi menolak Yesus di alam ini atau di alam roh).
Bagaimana anda mengatakan tidak universal?
Terlepas dari keuniversalannya, penolakan terhadap Yesus akan membawa para penolak kepada kosekwensi yang parah karena dosa sekecil apapun harus dipertanggung jawabkan. Tuhan maha suci, satu dosa mencuri sebuah kancing peniti pun membuat roh manusia tidak layak dihadapanNya, tidak masalah sebesar apa kebaikan yang telah dilakukan oleh si pedosa itu.
Tuhan Kristen tidak adil? Banyak kaum skeptis mengatakan hal itu. Tetapi Tuhan memandang dosa sekecil apapun sesuatu yang sangat nazis dan jahat, oleh sebab itu Dia memberikan diriNya sebagai tebusan karena Dia tahu bahwa manusia tidak mungkin bisa lepas dari berbuat dosa karena kelemahan mereka. Sebaliknya, dosa sebesar apapun akan diampuniNya jika seseorang menerimaNya sebagai Juruselamat. Adil, bukan?
Eksekutor dari pengadilan itu adalah Yesus Kristus yang telah memberi diri sebagai korban tebusan. Jadi melalui milis ini saya menghimbau anda agar tidak mengabaikan penebusan itu.
Saya cukupkan hingga disini.
WS.
Willer:
Catatan : Masalah reinkarnasi hingga ke kuman tbc saya ulangi lagi. Ini karena anda membantah, sehingga tidak sesuai dengan apa yang dikatakan orang Hindu kepada saya.
ABIN:
Siapa yang lagi bahas soal Hindu? Anda lagi bahas soal Buddhisme atau Hinduisme? Makanya ngerti secara benar dulu baru ngomong. Mau tahu soal Buddhisme, ya tanya sama umat Buddha, bukan sama orang Hindu.
Willer:
Saya juga tau kalau karma bisa langsung berbuah pada periode kehidupan yang sama. Namun dengan jawaban ini anda sedang mengatakan bahwa ternyata Buddisme juga berpijak pada balance system. Karena tidak setiap orang akan surut kehidupannya pada reinkarnasi berikut, maka untuk itu saya harus meralat kata “setiap orang” dan saya ganti menjadi “sebahagian orang”.Anda sebenarnya tahu bahwa inti pembicaraan saya bukan pada kwantitas, melainkan pada karma, jadi saya harap anda tidak berputar-putar tentang kata yang diralat itu karena argumentasi saya tidak terpengaruh pada berapa jumlah orang yang turun harkatnya kehidupannya, semua manusia atau hanya sebahagian sama saja.
ABIN:
Baiknya anda cari tahu dulu dan pahami perbedaan reinkarnasi (Hinduism)
dengan Rebirth (Buddhism). Keduanya memiliki esensi yang sangat berbeda.
Kalau anda berangkat dari pengetahuan hasil tanya ke umat Hindu, maka anda
salah tempat menggunakannya untuk membahas soal Buddhisme. Jadi bukan saya
yang berputar-putar, tapi memang dari awalnya anda telah salah menganggap
konsep reinkarnasi Hindu sebagai rebirth Buddhis.
Willer:
Keterangan anda hanya mengulang apa yang sudah diketahui secara umum bahwa jika karma positip masih tersisa setelah dikurangi nilainya oleh karma negatif, berarti pada reinkarnasi berikut akan hidup pada harkat kehidupan yang lebih tinggi.
Kebalikannya, jika karma negatip masih tersisa setelah dikurangi nilainya dengan karma positip, berarti pada reinkarnasi berikut harkat kehidupannya akan turun. Begitu terus bagi mereka yang nilai negatipnya selalu lebih besar, hingga dia bisa saja menjadi kerbau, jadi cacing, atau jadi kuman tbc paru-paru seperti yang sudah pernah saya sebut.
ABIN:
Saya tidak pernah mengatakan bahwa karma bisa dikurangi seperti itu. Anda sendiri yang misleaded. Kenapa bisa misleaded? Karena seperti anda katakan "sudah diketahui secara umum". Pandangan umum yang anda gunakan. Walau umum, tapi apakah demikian konsep karma itu?
Willer:
Hal ini kuulangi lagi bukanuntuk ngeyel tetapi karena penjelasan anda berbeda dari yang kuketahui.
Kuman tbc paru-paru makanannya memang paru-paru, merusak kehidupan mahluk kemana dia menyusup. Karma negatipnya makin tidak karuan besarnya. Bagaimana si kuman atau para kuman tbc ini dapat berbuat baik agar dapat keluar dari lingkaran ini? Bukankah dia atau mereka tidak dapat hidup kalau tidak menggerogoti paru-paru?
Kemudian para kuman ini pada kehidupan berikut akan lebih rendah lagi derajatnya dari sekadar kuman. Jadi apa?
ABIN:
Sudah saya jelaskan bahwa dalam Buddhism, KUMAN (microba, amuba, protozoa, bakteri, virus) BUKAN masuk dalam kategori makhluk hidup. Kuman bukan hasil KELAHIRAN KEMBALI makhluk hidup.
Koq anda masih saja ngeyel bahwa kuman itu makhluk hidup?
Willer:
Konsep karma Buddisme sangat membingungkan.
Tolong dijelaskan, agar pikiran saya yang sempit ini (spt yg anda katakan) bisa berkurang sempitnya.
Abin:
udah tau sempit, makanya jangan malah menutup wawasan pikiran anda.
Willer:
Inkarnasi atau reinkarnasi dalam faham Kekristenan berbeda motivenya dengan
reinkarnasi pada Buddisme, yaitu kalau pada agama Kristen adalah karena
(1) dorongan keinginan merasakan kenikmatan duniawi (Kej 6:20), dan (2)
karena rencana Allah sendiri menghadirkan seseorang kembali, misalnya Elia
= John the Baptist, sedangkan pada Buddisme adalah untuk sepenuhnya membayar
dosa.
ABIN;
Masalahnya adalah inkarnasi dalam ajaran kristen (seperti klaim DK dan
anda), inkarnasi itu tidak berlaku universal, tapi pilih-pilih. Inkarnasi
tidak terjadi pada semua secara menyeluruh, tapi hanya pada pribadi-pribadi
tertentu yang dispesialkan.
Sialnya lagi, DK juga menyatakan bahwa Yesus pernah terlahir sebelumnya.
<--- Ini perlu anda tanggapi juga. Pendapat anda gimana?
Saya tidak tahu apakah inkarnasi berlaku secara universal, tetapi memang
saya lebih
condong mempercayai tidak universal karena Alkitab menuturkan ada roh-roh
yang dipenjarakan. Penjara alam sono tentunya.
Disamping itu juga pemberitaan Injil ada pada alam roh. Roh yang belum sempat mendengar kabar keselamatan dalam Yesus ketika masih hidup di dunia ini masih terbuka kesempatan baginya dialam roh. Kalau disana roh itu sudah menerima Yesus, nalar berkata untuk apa dia kembali ke dunia lagi?
Namun istilah ‘pilih-pilih’ yang anda pakai tidak pas untuk digunakan bagi semua yang berinkarnasi/reinkarnasi.
ABIN:
Apanya yang tidak pas?
Lihat konsep reinkarnasi Hindu. Karena ada konsep itu, maka dalam ajaran Hindu, semua makhluk PASTI mengalami kelahiran kembali.
Lihat konsep rebirth Buddhis. Karena ada konsep itu, maka dalam ajaran Buddha, semua mahkluk PASTI mengalami kelahiran kembali.
Anda mengklaim ada konsep kelahiran kembali, tapi ada memberi batasan "hanya orang-orang tertentu yang lahir kembali".
Itu namanya tidak universal.
Willer:
Mereka yang berinkarnasi/reinkarnasi karena keinginan mereka sendiri, tentu bukan karena dipilih. Siapa yang memilih? Wong keinginan sendiri, koq.
ABIN:
Kalau begitu, apakah ketika anda meninggal nanti, anda bisa reinkarnasi kembali dengan keinginan anda sendiri? Lalu kalau anda tidak ingin, anda tinggal putuskan untuk tidak reinkarnasi? Yang anda maksudkan "mereka" reinkarnasi karena keinginan mereka sendiri adalah "orang-orang" istimewa pilihan tuhan khan?
Willer:
Mereka yang diutus oleh Tuhan untuk ber-reinkarnasi untuk tugas tertentu, bagi merekalah istilah ‘dipilih’ itu cocok.
ABIN:
Please deh, ini konsep rekaan dari mana lagi?
Willer:
Masalah pendapat bahwa Yesus sudah pernah terlahir sebelumnya.
Sudah saya katakan bahwa hal reinkarnasi bukan dogma Gereja. Karena bukan dogma, apapun tafsiran yang dibuat oleh seseorang bisa saja. Supaya anda ketahui, bahwa Gereja – terutama Protestan - mengijinkan umatnya menafsir dengan SEBEBAS-BEBASNYA. Tidak ada pemberangusan. Namun hasil penafsiran perorangan bukan suara Gereja.
ABIN:
Kalau gitu, silakan anda tafsirkan seenak udel anda.
Tepat sekali. Memang membaca alkiab itu tidak mudah, harus selalu
ingat situasi dan kondisi ketika bagian tsb di tulis. Juga harus
mengenahui latar belakang pendidikan penulis, latar belakang budaya
setempat masa itu, dan hal2 berkaitan lainnya. Masalahnya, ada orang
yang tiba2 merasa menjadi ahli alkitab setelah misalnya membaca buku
Beyond Belief.
>
> Anda sedang membicarakan hukum Allah yang tentunya meliputi semuanya (universal),
> atau sedang bicara soal hukum negara yang berbatas?
> Atau anda memang sengaja mengaburkannya dengan mencampuradukkan dalam
> diskusi kita ini?
Saya sedang menanggapi tulisan anda mengenai kerajaan Allah:
"Putus hubungan degan Bapa = tidak akan mendapatkan kerajaan Allah. "
DK
From:
tulang...@yahoogroups.com
[mailto:tulang...@yahoogroups.com]
On Behalf Of Tomas Sudoroyekti
Sent: 11 Oktober 2006 13:13
To: tulang...@yahoogroups.com
Subject: RE: [tulang-rusuk] Re: Tabur
Tuai (Karma?) dan Reinkarnasi/Rebirth Menurut Alkitab
Dear Pak Simanjuntak,
Tugas siapa agar roh orang mati bisa menerima Yesus?
Apakah ada di Alkitab ya…?
regards
Tomas Sudoro
Pak Tomas.
Untuk pertanyaan pertama, jawabnya : tugas Yesus sendiri.
Untuk pertanyaan kedua, tentu saja ada ayatnya dlm Alkitab yaitu 1Petrus 3:18-19, bunyinya :,,Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah ; Ia yang telah dibunuh dalam keadaanNya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan didalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah,……………dst”.
Jelas, ayat itu menegaskan ada pemberitaan Injil di alam roh.
Pertanyaan, apakah Yesus berada disana selamanya? Tentu saja tidak. Seperti yang kita ketahui Dia kembali ke dunia dan hidup dengan tubuh surgawiNya, terakhir dan naik ke surga disaksikan oleh +/- 500 orang.
Saya ajak saudara ke bagian prolog dengan menelusuri sejarah missi Yesus di bumi ini.
Dalam kalimat-kalimat singkat, umat manusia berdosa, Yesus datang kedunia membawa keselamatan.
Wilayah pemberitanNya terbatas hanya di Israel. Tiga (3) tahun lebih Dia berada didunia ini. Membangun kaderisasi (pemuridan) dengan memilih 12 orang menjadi murid. (Melalui para murid-murid ini kemudian berita keselamatan disebar luaskan secara estafet hingga Berita Baik itu sampai kepada saudara dan saya).
Dia disalibkan, mati.
Pertanyaan : kemana RohNya pergi waktu tubuh duniawinya sedang mati?
1Petrus 18-19 yang sudah disebut diatas memberikan reportasenya : menginjil di alam roh.
Yesus hanya selama waktu kematian tubuh duniawiNya saja berada di alam seberang sana, dan roh-roh yang ditemuinya juga terbatas hanya yang tidak taat pada zaman Nuh.
Sekarang tidak sulit berasumsi bahwa sebagaimana Yesus mengangkat murid-murid didunia ini untuk melanjutkan pemberitaan Injil, tentu demikian pulalah yang dilakukanNya dialam roh.
Tetapi pak Tomas mungkin bertanya bahwa panjang waktu 3 hari 3 malam (tidak penuh 72 jam) saja tidak cukup untuk pemuridan di alam roh.
Kalau panjang waktu di alam kita ini serupa dengan panjang waktu di alam roh, tentu tidak cukup.
Saya membaca banyak kisah-kisah umat Kristiani yang hidup kembali setelah mengalami kematian. Ada yang mengatakan cukup lama - menurut perasaannya beberapa minggu atau bulan - berada dialam seberang. Ternyata kemudian menurut dokter, kematiannya hanya 4 jam saja.
Ini kuutarakan hanya sekedar agar lebih mudah memahami perbedaan waktu di alam kita ini dengan waktu di alam roh.
Jadi masa waktu yang digunakan oleh Yesus selama kurang dari 72 jam menurut waktu alam dimana kita hidup, tentu cukup untuk masa pengajaran bagi murid-muridNYa disana yang mungkin sudah berlangsung beberapa tahun menurut waktu alam roh.
Jelas, ada pemberitaan Injil di alam roh, saya yakin bahkan hingga sekarang, dilakukan secara estafet sama seperti dibumi ini.
Setelah Yesus selesai dengan missiNya disana, Dia kembali ke tubuhNya di bumi dan hidup kembali. Naik ke surga.
Tugas selanjutnya dari penginjilan di alam roh tentu saja dilakukan oleh para roh yang sudah dididik oleh Yesus.
Begitulah keyakinan saya tentang hal itu. Karena jika tidak demikian, bagaimana nasib dari manusia-manusia yang sudah meninggal dalam kejahatan karena tidak pernah mendengar Kabar Baik pada waktu hidup didunia?
Alkitab berkata (lupa ayatnya dimana), berita Keselamatan akan (harus) diberitakan kepada semua mahluk baru tiba kesudahannya (kiamat).
Tentu tidak adil bagi Yesus menghakimi/menghukum mereka yang senantiasa melakukan kejahatan didunia ini sebagaimana keadaan banyak manusia pada zaman bahula, misalnya penduduk Sodom dan Gomorrah yang tidak mengerti aturan moral dan etika, tidak berperi kemanusiaan, dan sangat gampang membunuh karena tidak ada yang mengajari mereka aturan-aturan moral dan kemanusiaan. Bahkan ada suku-suku bangsa yang menyembelih manusia untuk dipersembahkan kepada roh-roh jahat, juga karena tidak pernah mendengar bahwa itu salah dan bertentangan dengan hukum Allah/hukum kebaikan.
Adilkah bagi Tuhan memasukkan mereka ke neraka tanpa memberi kesempatan kedua?
Sungguh banyak manusia semacam itu sepanjang sejarah.
Tentu saja sangat beralasan bagi kita untuk percaya bahwa Tuhan bermurah hati dengan memberi kesempatan kedua di alam roh.
Kalau pada kesempatan kedua masih menolak menerima Yesus sebagai Juruselamat, mereka akan diadili menurut suara hati mereka sendiri yang selalu tuduh menuduh (konflik bathin antara yang baik dan jahat) ; yang mengikuti Taurat akan diadili menurut hukum Taurat.
Konsekwensi dari sikap penolakan ini sangat berat. Memang perilaku mereka cukup baik, tapi menolak menerima penebusan oleh Kristus. Karena mereka bersandar pada kekuatan dan kearifan mereka, satu dosa kecilpun akan dituntut pertanggung-jawabannya oleh Sang Hakim.
Oleh sebab itu saya sepenuhnya mengharapkan dan bergantung pada kasih dan pengampunan Kristus karena saya lemah dan bodoh, sehingga tidak mungkin mampu melepaskan diri dari dosa dan tidak tahu bagaimana harus mempertanggung-jawabkan pelanggaran-pelanggaran saya. Hanya kasih dan pengampunanNya yang kumohon karena yang bisa lolos dari penghukuman hanya mereka yang diampuni.
Semoga pencerahan ini dapat membantu.
Salam.
W. Sim.