Kisah Warga Amerika, Mengelana ke Surabaya Mencari Guru yang Tak Dikenal

2,159 views
Skip to first unread message

David Kuntadi

unread,
Apr 15, 2006, 5:25:26 AM4/15/06
to Spiritu...@googlegroups.com
Cerita mengenai John Chang ini sudah lama beredar. Beliau dikabarkan mampu membakar koran dari jarak 1 meter dengan tangan kosong, mampu membunuh orang hanya dengan memegang saja, mampu memukul/menggerakkan benda2 dari jarak jauh.
 
Berikut beritanya di Jawa Pos.
 
DK
 
Jawa Pos Sabtu, 29 Jan 2005
Kisah Warga Amerika, Mengelana ke Surabaya Mencari Guru yang Tak Dikenal
Ingin Hidup Lebih Baik, Tertarik dengan Energi Chi Edward Richards adalah pria asli Chicago, Amerika Serikat. Sudah hampir lima tahun ini dia mengembara untuk mencari seorang "guru". Guru ini hanya dikenalnya lewat buku dan program televisi di negaranya. Pencariannya itu menghantarkan Edward ke Surabaya.
Kamis (27/1) malam lalu adalah hari kedua Edward Richard berada di Surabaya. Dengan memakai kaus oblong dan celana pendek, dia datang ke redaksi Jawa Pos. Bule berkumis itu membawa sebuah buku yang sudah hampir lima tahun dimilikinya. Buku setebal 208 halaman itu berjudul The Magus of Java: Teachings of an Authentic Taoist Immortal. Pengarangnya adalah Kosta Danaos, penulis dari Yunani.
Tak tampak kelelahan di wajah Edward. Padahal, seharian penuh dia mengelilingi Surabaya. Pria 44 tahun itu mendatangi satu persatu tabib dan shinshe di kota ini. Salah satu tempat yang sudah diublek-ublek adalah kawasan Jalan Jagalan. Tak ketinggalan beberapa klenteng pun disambanginya.
Gerangan apa yang sedang dicari Edward? "I'm looking for this man," katanya kepada Jawa Pos. Saat mengucapkan kalimat itu, Edward menunjuk salah satu halaman pada buku yang dibawanya. Halaman itu berisi foto seorang pria yang sedang bermeditasi. Nama pria itu adalah John Chang.
Ya. John Chang adalah seorang master yang kisahnya diangkat dalam buku karangan Kosta Danaos tersebut. Dia adalah seorang "paranormal" keturunan Tionghoa di Indonesia. Buku itu menjelaskan secara jlentreh kemampuan John Chang. Di situ tertulis bahwa John Chang adalah seorang telekinesis (mampu menggerakkan benda dari jauh), pyrokinesis (mampu menciptakan api), telepatis dan kemampuan lainnya.
Selain itu, John Chang juga disebut menguasai teknik akupunktur dan thai chi. "Dia menguasai aliran yang disebut nei kung," terang Edward.
Nah, kemampuan inilah yang membuat hati pria yang masih lajang itu terpikat. Apalagi, dia mengaku mengalami masalah kesehatan. "Saya ingin berobat kepada orang itu," katanya. Menurut Edward, dia punya gangguan di punggung bawah dan hernia yang sudah menahun.
Mengapa tidak dioperasi di Amerika saja? Edward hanya menggeleng sambil tersenyum. Menurutnya, dia lebih tertarik kepada John Chang itu. Sebab, yang dilakukan suhu itu tak hanya menyembuhkan. Tetapi, John Chang juga punya metode untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Yaitu, dengan membangkitkan energi chi seseorang.
Inilah yang membuat Edward rela menghabiskan sebagian waktunya untuk mencari sang guru. Pencarian ini sudah dimulai pertengahan 2000 lalu saat Edward tak sengaja membeli buku The Magus of Java itu. "Saat saya membaca, saya ingat bahwa saya pernah melihat orang ini di televisi, sekitar 10 tahun lalu," katanya.
Memang benar. Pada 1988, John Chang memang pernah ditampilkan di salah satu televisi di Amerika. Saat itu John tampil pada sebuah acara dokumenter bertajuk Ring of Fire. Dokumenter ini dibuat oleh Lourne dan Lawrence Blair. Dan, film ini sangat fenomenal. Sebab, kemampuan John Chang terekam dengan jelas. Misalnya, bagaimana John menunjukkan penguasaannya menguasai fenomena chi atau bio energi. Bahkan, film itu juga menunjukkan bagaimana John mampu menyembuhkan penyakit mata sang pembuat film. Atau, bagaimana John bisa membakar koran dengan tangannya.
Sejak itu, ribuan orang berusaha mencari identitas John. Konon, hanya ada lima orang yang berhasil. Dan, salah satu di antaranya adalah Kosta Davaos, sang penulis buku. Kosta bahkan sempat magang selama beberapa tahun kepada John Chang.
Sayangnya, walaupun ada buku dan film yang merekam kemampuan John, ada satu hal yang tak pernah diterangkan. Yaitu, identitas sang guru. "Mereka tak menyebut alamatnya. Bahkan saya rasa, nama John Chang juga bukan nama asli," tutur Edward.
Tetapi, Edward tak mau putus harapan. Sebisa mungkin dia berusaha mencari video yang pernah diputar di televisi di negaranya itu. Dan dia mendapatkannya. Berbekal buku dan video itulah dia memulai pencariannya.
Pada November 2002 lalu, Edward pergi ke Jakarta. Dia mengaduk-aduk kawasan pecinan. Ketika itu, dia bertemu dengan salah satu murid John Chang. Ucapan syukur sempat meluncur. "Saya rasa, saya sudah dekat kepada guru itu," katanya. Tetapi, murid tersebut ternyata tak mau menunjukkan alamat gurunya. "Dia sudah bersumpah tak mau membuka identitas sang guru," sambung Edward. Meski demikian, murid itu sempat menyebut satu kota: Surabaya.
Edward pun kembali ke negaranya. Dia mencoba mengecek kembali keberadaan sang guru. Informasi baru pun dia peroleh. "Guru itu tinggal di kota besar di Jawa Timur. Sekitar 400 mil dari Jakarta," katanya. Dan, Edward pun semakin pasti bahwa guru itu tinggal di Surabaya.
Awal pekan lalu, dia tiba di kota ini. Dengan diantar salah satu staf Hotel Novotel, tempatnya menginap, dia mengelilingi kota ini. Tetapi, hasilnya masih nihil. "Semua menjawab tak tahu," katanya. "Mungkin mereka juga diberi pesan untuk merahasiakan alamatnya," sambungnya.
Meski demikian, Edward belum menyerah. "Saya punya waktu dua minggu untuk mencarinya. Jika tidak ketemu, saya akan datang lagi lain waktu," katanya. Bahkan, dia pun menghimbau jika ada orang yang tahu alamat sang guru, bisa mengirim surat atau email kepadanya. Alamatnya: Edward Richards, 3540 N. Southport #116, Chicago, IL 60657 USA. Atau email: [EMAIL PROTECTED] dan [EMAIL PROTECTED](doan widhiandono)
 
 
 
Jawa Pos Rabu, 02 Feb 2005
Akhir Pengembaraan Edward Richards, Warga Amerika yang Mencari Guru Chi
Papa Tidak Sakti seperti Dewa Impian Edward Richard, warga Chicago, Amerika Serikat, yang ngebet ingin bertemu pakar chi (bio energi) John Djiang, akhirnya terkabul. Sabtu lalu (29/1), Edward berhasil mendapatkan kontak, bahkan menemukan alamat John di Surabaya. Bagaimana perasaan Edward setelah menemukan jejak "sang guru" yang hampir lima tahun dicarinya itu?
Hari itu mungkin menjadi salah satu hari yang membahagiakan Edward Richard. Hari itu seakan menjadi akhir pencarian panjang yang dilakoni Edward sejak 2000. John Chang, pria yang dicarinya, sudah ditemukan. keberadaan dan identitas John Chang diberitahukan oleh seseorang yang menelepon Edward. Tak heran, pagi itu Edward langsung keluar dari kamar Hotel Novotel, tempatnya menginap selama ini, untuk menemui sang "guru" yang selama ini ingin ditemuinya.
Saat ditemui di loby hotel siang itu, wajah Edward tampak lega, plong. Saat turun dari van putih yang mengantarnya, pria 44 tahun itu tersenyum gembira. Dia lalu menjabat tangan Jawa Pos. "I found him (Saya sudah menemukan dia -- John Chang--, Red.)," katanya. Namun, ketika itu Edward tak langsung bisa bertemu dengan John. "Saat saya ke rumahnya, dia memang belum pulang. Dia sedang ke luar kota. Saya belum bertemu langsung," terangnya. Akhirnya bule berkumis itu berjanji akan menemui John lagi pada Senin (31/1) lalu. Sayang, Edward tak bersedia menunjukkan alamat John. "Saya rasa, dia tak ingin publikasi," kilahnya. Kok jadi mudah sekali Edward bisa menemukan John yang dicarinya hampir lima tahun ini? "No, no. It's not easy at all (Sama sekali tak mudah, Red.)," katanya sedikit merengut. "Tetapi, karena kamu menulisnya di halaman depan koran, itu membuat sedikit mudah," sambungnya.
Koran ini memang memuat features tentang "petualangan" Edward selama hampir lima tahun mencari guru chi John Chang pada Sabtu (29/1) itu. Tulisan itu menceritakan tentang Edward yang mengaku penasaran dengan keberadaan John Chang. Edward tahu tentang John dari buku The Magus of Java: Teachings of an Authentic Taoist Immortal. Buku setebal 208 halaman itu dikarang oleh Kosta Danaos, penulis asal Yunani. Dalam buku itu disebutkan bahwa John ada di Jawa. Tapi tidak ada alamat detilnya. Tak heran jika Edward mesti merunut jejak John dari kota ke kota lain. Selain itu, Edward juga sempat menonton John di salah satu program televisi di negaranya. Film dokumenter itu berjudul Ring of Fire yang dibuat oleh Lourne dan Lawrence Blair, dari Inggris. Film itu diputar di AS pada 1988.  
Yang membuat Edward terpikat dan penasaran, buku dan film tersebut menceritakan tentang keampuhan John Chang. John diprofilkan menguasai bio energy atau lazim disebut chi. Bahkan, John disebut-sebut mampu membuat api dari telapak tangannya (pyrokinesis) atau menggerakkan barang dari jauh (telekinesis). Di dalam buku itu disebutkan pula bahwa John adalah "suhu" aliran nei kung. Memang, segala kemampuan yang ditulis tentang John itu seolah di luar akal sehat. Tapi, "kesaktian" John yang luar biasa itulah yang membuat Edward tertarik untuk mengobatkan sakit punggung dan hernianya kepada guru chi itu. Memang, setelah penayangan tulisan pencarian Edward itu, beberapa pembaca yang mengenal John sempat menginformasikan alamat yang bersangkutan di S (pihak keluarga John minta detil alamatnya dirahasiakan dengan alasan untuk privacy, Red.). Mereka memberi tahu bahwa John lebih dikenal dengan nama suhu Dji Djiang. Rumahnya di salah satu perumahan di kawasan Surabaya Barat.
Jawa Pos yang kemarin berusaha menemui John Chang di rumahnya, hanya ditemui putranya, Johan Chang. "Papa sedang ke luar kota," katanya sambil tersenyum ramah. Johan menceritakan, setelah kasus pengembaraan Edward itu diberitakan koran ini, banyak orang yang tiba-tiba menelepon rumahnya. "Kami sampai pusing," sambung pria berkulit putih itu. Keluarga John memang sempat puyeng. Sebab, mereka tak pernah memandang papanya sebagai orang berilmu. Menurut mereka John hanyalah salah satu praktisi akupuntur. Sederetan nama tokoh terkenal memang pernah berobat kepada John. Salah satu yang disebut Johan adalah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Red). Ketika disinggung bahwa orang mengenal John dari buku-buku atau film yang menceritakan tentang sosok John, Johan dengan cepat menjawab, "Buku-buku itu banyak yang membual dan melebih-lebihkan."
Johan mengatakan bahwa ayahnya tak punya kesaktian seperti yang dibilang dalam buku tersebut. Memang, semua dokumentasi itu menulis bahwa John punya keampuhan bak dewa. "Tetapi, orang kan ada kelebihan dan kekurangannya," kata Johan. Tentang Edward yang mencari papanya selama hampir lima tahun, Johan mengakui bahwa papanya sudah bertemu warga AS itu. Bahkan, John juga bersedia mengobati penyakit Edward. "Papa saya sebenarnya sudah pensiun. Dia kan sudah 66 tahun," katanya.  "Papa mencoba menyembuhkan sakit punggung Edward," kata Johan. Sebab, hanya penyakit yang berhubungan dengan saraf yang bisa disembuhkan lewat akupunktur. Sedangkan penyakit hernianya, menurut John sulit disembuhkan dengan ilmu akupunktur. "Apalagi papa saya kan bukan dewa," tandas Johan. (doan widhiandono)

Ciggy

unread,
Apr 16, 2006, 10:10:21 PM4/16/06
to Spiritu...@googlegroups.com

Kurang lebih tahun 1994 saya mengantar mertua yang percaya dengan pengobatan klenik (tahayul) ke suatu tempat di kota Cikarang, jalan Cagak. Lokasinya di jalan lama Cikarang dengan Tambun.

 

Mertua saya kesana untuk menemui seorang ‘Pintar’ yang dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit. Saya sendiri tidak mempercayai segala macam pengobatan klenik seperti itu, kecuali saya melihat dengan mata kepala sendiri dan membuktikannya.

Jadi saya semata-mata mengantar mertua walau tidak percaya dengan caranya.

 

Kebetulan tidak ada tamu lain saat itu, jadi hanya kami berdua.

Ternyata orang pintar itu mengobati pasien dengan menggunakan spirit yang dipanggil untuk masuk kedirinya (kesurupan atau trance), jadi dia hanya bertindak sebagai medium. Sang spirit dipanggil dengan sebutan ‘Empé’ (panggilan untuk orang yang berusia lanjut atau kakek)  

 

Mertua saya berbicara dengan orang pintar ini didalam ruangan khusus yang banyak diisi dengan patung2 dan segala macam sesajian seperti buah2an.

Sewaktu mereka berbicara saya hanya berdiri dipintu mendengarkan dunia yang buat saya aneh ini, dimana dunia nyata dan tidak nyata bertemu.

 

Setelah beberapa lama jadi penonton, mertua mengatakan kepada si medium bahwa saya juga sering sakit dikaki jika bermain badminton “jadi apakah bisa diliatin?” Disini mulai terjadi interaksi antara saya dengan sang spirit.

 

Spirit: ‘Kelihatannya kamu tidak percaya?’

Saya: ‘Maaf, memang saya kurang percaya hal2 seperti ini, karena saya hidup didunia sekarang yang lebih banyak memakai akal sehat, jauh dari hal2 seperti ini dan juga agama saya katholik. Tetapi bukan berarti saya menyalahkan atau menentang cara Empé, kalau memang pada dasarnya untuk menolong orang, tentu itu baik…’

Spirit: ‘Oh tidak percaya karena beda agama tidak apa2. Kita sebenarnya percaya kepada Tuhan yang sama,  cuma jalan kita berhubungan dengan Tuhan yang berbeda. Kamu sembahyang dan meminta sesuatu kepada Tuhan secara langsung, tetapi kalau saya memalui Jendral2 dan bawahan2nya, seperti dipemerintahan, ada jalur2nya. Nah mereka itu salah satunya adalah Dewa2 yang dalam bentuk patung2 yang ada dimeja itu…

Bagi kami, tidak sopan kalau selalu berurusan langsung ke Tuhan (dia sebut ‘Thian’) jadi kami harus liwat bawahan2nya.’

 

Oh....? Disini saya jadi tertarik dengan kata2 sang Spirit, maklum saya mengira dia akan menyuruh saya kaluar karena tidak percaya, ini koq malah dia bilang Tuhan kita sama? Bicaranyapun santai dan enak, menunjukkan simpati kepada lawan bicaranya. Inilah Spirit yang Liberal.

 

Saya katakan ‘Wah menarik juga kalau begitu, boleh ngobrol2 sedikit? Saya mau tau lebih jelas lagi. Dari mana asal Empé?’

 

Spirit: ‘Boleh2. Saya dari Semarang, saya pengikut Sam Po Kong (Sam Po Toalang/  Cheng Ho?) Saya meninggal disana dan sering kemari jika dipanggil oleh…. (menyebutkan sang medium) dan juga sering di Gunung Kawi.’

(Waw…, bukankah Gunung Kawi terkenal dengan dunia hitamnya dunia spirit?)

‘Di Gunung Kawi tidak hanya mahluk2 hitam, yang baikpun ada…’ (he he he… jangan2 dia baca pikiran saya)

 

Pembicaraan diantara kami terus berlangsung, mertua saya malah jadi menyingkir kesamping dan saya duduk didepan sang spirit menikmati pembicaraan kami.

Satu saat dia kemudian bertanya ‘Mau dibuktikan apa oleh Empé?’ Kiranya dia ingat saya mengatakan cuma percaya kepada bukti.

Sejenak saya tidak menjawab, kemudian dia mengambil apel hijau yang masih keras dan memberikannya kepada saya sambil bilang: ’Coba belah apel ini dengan jari kamu…’

Saya ikuti kemauan dia, setelah beberapa detik saya menyerah dan memberikan aple itu kembali kepadanya dan bilang ‘ga bisa…’

Kemudian dia menggunakan 10 jarinya dengan model mencengkram ke apel tersebut… dan dalam 1-2 detik apel sudah terbelah dua dan apelnya diberikan kepada saya…. Mata saya mungkin melotot melihat aksi sang spirit saat itu, dan saya bilang ‘Saya percaya Empé punya kemampuan’

 

Lalu dia meminta saya duduk dikursi yang bisa berputar dan dia duduk didepan saya.

Spirit: ‘Tekan paha kaki saya yang keras supaya kursi kamu tidak bisa bergerak, dan saya akan memutar kursi kamu kekiri dan kekanan dengan tenaga dalam saya’

 

Nah ini sesuatu yang sangat menarik karena jelas2 saya terlibat didalamnya. Saya tekan jari tangan saya kepaha kaki sang medium, lumayan kencang.

Lalu sang spirit berkata ‘Kekiri!’ Zing…. Kursi saya berputar kekiri tanpa bisa saya tahan.

‘Siap lagi…’ Lalu saya balik kedepannya lagi dan kali ini menekan kakinya sekuat tenaga saya sampai tangan saya bergetar. Lalu sang spirit berkata lagi: ‘Kekanan!’ Lagi2 kursi berputar kekanan tanpa bisa dikontrol……. Dia tersenyum melihat kebingungan saya dan bilang ‘Jangan bingung, itu bisa dilatih semua orang kalau mau…, itu bukan setan tetapi tenaga dalam…’

 

Dia juga melihat kaki saya dan hanya mengerik dengan uang gobangan (uang jaman dulu) dan bilang ‘Ini tidak apa2, cuma ada sedikit angin…’

 

Akhirnya sesudah beberapa lama berbicara dan melihat aksi sang Spirit, saya permisi pulang dengan mertua saya.

 

Suatu pengalaman yang aneh tapi nyata.
 
Salam,
aw
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages