Kejadian Yesus mempertanyakan tindakan Allah ini memang membingungkan
banyak orang, apalagi orang non kristen:
Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Untuk itu, kiranya ayat berikut dapat SEDIKIT membantu kita memahami
fenomena ini:
Php 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Php 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Paulus mengatakan bahwa Yesus MENGOSONGKAN diri-Nya. Dan pengosongan
diri ini terlihat sangat jelas sejak di Taman getsemani.
Pertama, semua murid meninggalkan dia:
Mat 26:56 Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.
Kedua, bahkan Petrus dengan mengutuk dan bersumpah menyangkal mengenal Yesus:
Mat 26:74 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak
kenal orang itu."
Ketiga, seluruh masyarakat yang sebelumnya mengelu2kan Yesus, berbalik
meminta Yesus disalibkan dan menghujat:
Mat 27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya
ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
Mat 27:39 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil
menggelengkan kepala,
Namun kekosongan ini belum sempurna, bila Allah belum meninggalkan
Yesus. Itulah sebabnya, pada saat2 terakhir, Allahpun meninggalkan
Yesus agar kekosongan Yesus sempurna:
Mat 27:46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring:
"Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa
Engkau meninggalkan Aku?
Dan ini terjadi karena Yesus melawan arus pada jaman itu, yaitu
memerangi kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat dan penguasa Yahudi
pada waktu itu.
Dalam prakteknya, orang2 kristen selalu merasa bahwa Allah beserta
dengan kami. Namun dalam puncak pelaksanaan kekristenan, orang2
kristen harus mampu mengosongkan diri, termasuk "ditinggalkan oleh
Allah".
Untuk apa? Untuk mewujudkan kerajaan Allah di bumi, memerangi
kejahatan dan ketidak-adilan yang berlangsung di sekeliling kita.
Masing2 orang kristen haruslah memikul salibnya sendiri2, dan
mengosongkan diri seperti Yesus sudah melakukannya.
Dalam Buddhisme, fenomena ini bisa dinamakan sebagai "complete non-attachement"
http://www.swamij.com/swami-rama-karma-nonattachment.htm
Non-attachment does not mean indifference or non-loving.
Non-attachment and love are one and the same.
Semoga tulisan ini bisa membantu rekan2 baik kristen maupun non
kristen untuk bisa merenungkan makna Jum'at Agung yang sebentar lagi
akan kita peringati.
DK
Mengapa harus serumit itu? Kalau orang itu menghormati Yesus mengapa ia saja yang datang pada Yesus?
Berikutnya,
yaitu di perjamuan terakhir. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia
kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak
kauperbuat, perbuatlah dengan segera."..Karena Yudas memegang kas ada
yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu
untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas
menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam. [Yohanes 13:27,29-30]
Sehingga wajar apabila yesus meninggal begitu cepatnya…Bahkan Pontius Pilatus-pun keheranan![markus 15:44]
Ke-4
Injil menyatakan bahwa ada murid Yesus, seorang kaya dari arimatea,
bernama Yusuf, tiba-tiba datang menghadap Pontius dan meminta mayat
yesus. Ia sendiri yang mempersiapkan 'mayat' itu dan juga mempersiapkan
dan menggali "kubur" baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan
seseorang, Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu. [Matius 27-58-60, Markus 15:43-47, Lukas 23:50-53, Yohanes 1938-41]
Semua melihat bagaimana Yesus dipersiapkan.
Yusuf Arimatea, adalah seorang anggota Majelis Besar, Ia berpeluang besar untuk turut mengatur penjaga disekitar kubur Yesus. Karena tidak lama setelah itu ada juga permintaan dari imam Yahudi agar kubur itu dijaga.
***
Yesaya/
Isaiah 53:7 sering disebutkan sebagai nubuatan mengenai Yesus, yaitu
penggambaran Yesus yang hanya akan berdiam diri saat diadili. Mari kita
lihat ayat tersebut:
Ia ditekan dan ia dihambat, namun ia TIDAK MEMBUKA MULUTNYA, ia bagaikan seekor domba yang dibawa ke penjagal, dan seperti domba berdiam saja di hadapan pencukur bulunya.
Dari ke Empat Injil (Yohanes, Matius, Lukas dan Markus) sudah memberikan petunjuk bahwa Yesus ternyata tidak berdiam diri, ada perlawanan dan terutama adalah masih MENJAWAB pertanyaan Pilatus, sehingga apabila ini adalah sebagai nubuatan Tuhan untuk mengenapi, maka hal ini adalah tidak benar, sebab di ke empat Injil terbukti bahwa Yesus masih membuka mulutnya di hadapan Pilatus.
***
Mazmur/
Psalms 34:20, dipakai untuk menjelaskan peristiwa penyaliban Yesus,
dimana kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus dipotong kakinya,
sedangkan Yesus tidak, maka ini dianggap memenuhi nubuatan yang
berbunyi sebagai berikut:
Ia menjaga semua tulangnya, dan tidak ada satupun dari mereka yang dipatahkan
Apakah ini benar Nubuat? Mari kita telaah lebih dalam. Ayat sebelumnya yakni ayat 19:
Banyaklah hambatan bagi orang yang benar, namun TUHAN membebaskan Nya dari semua hambatan"
Dan
jika ayat 19 dan 20 digabungkan dengan ayat-ayat lainnya digabungkan
maka jelas ayat 20 adalah kata kiasan(menjaga tidak satupun tulang yang
patah) yang menunjukkan janji Tuhan untuk melindungi/menjaga orang
benar keluar dan selamat tanpa cacat dari semua hambatan/cobaan dan
bencana.
Jelas bahwa ayat 20 bukan nubuatan tentang Yesus.
Lagipula
kalau tetap mau dipaksakan bagi Yesus, maka tetap secara faktawi tidak
kena [karena hanya 1 Injl saja yang menyatakan bahwa ada keadaan hendak
dipatahkan kakinya].
mengenai kisah yesus tidak dipatahkan kakinya adalah sebagai berikut:
Maka
datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan
kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi
ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, [Yohanes 19:32-33]
Perhatikan kata berwarna merah di cetak tebal diatas!
Bagaimana mungkin bahwa meninggal atau tidaknya seseorang hanya dilakukan dengan cara 'melihat'?
Yang 'melihat' itupun hanyalah seorang prajurit!
Bahkan
dokter sekalipun yang terdidik baik dibidangnya TIDAK MAMPU menyatakan
meninggal atau tidaknya seseorang hanya dengan cara melihat!
Jadi, hanya dua kemungkinan mengenai ini:
1. Ia pura2 mati atau
2. Pingsan
Walaupun
dengan cara itu ia dapat menghindari agar kakinya tidak dipatahkan,
namun sepandai-pandainya tupai melompat, gawal juga.
Penulis
alkitab Yohanes juga memaksakan satu kisah, yaitu dikabarkan seorang
prajurit menikam lambungnya dengan dengan tombak, dan segera mengalir
keluar darah dan air. Kalimat itu dinyatakan hanya oleh 1 orang saksi
saja! [Yohanes 19:34-35]
Pernyataan ini tidak dapat diterima akal sehat dari sudut logika manapun.
Mengapa?
Masakah saat peristiwa penyaliban itu tidak ada batas barikade antara mereka yang disalib dan penonton?
Jarak itu tentunya cukup jauh dan masih juga terpisah batas dengan penjagaan para prajurit!
Kemudian,
Lambung ditusuk oleh tombak...saat tombak dilepaskan bagaimana mungkin
dinyatakan bahwa darah dan air keluar terpisah? yang ada juga semuanya
berwarna MERAH!
Dan diakhir pernyataan itu penulis Alkitab merasa perlu untuk melakukan penekanan kata: 'kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.'
Ini
indikasi yang cukup jelas bahwa si penulis sendiri sempat memikirkan
kemuskilan logika ini, namun ia tetap memaksakan menambahkan bumbu
lambung yang ditusuk tombak! dan diakhir kalimat ditambahkanlah dengan
kata-kata diatas!
Lucunya, Malah Alkitab sendiri juga yang
memberikan petunjuk nyata berulang-ulang di 4 Injil bahwa TIDAK ADA
DARAH dan LUKA apapun! [Dibawah akan dipaparkan lebih detail mengenai
TIDAK ada Darah dan LUKA apapun]
Diantara selang waktu, 39 jam antara kematian dan 'kebangkitannya',
diikatakan bahwa kuburannya dijaga prajurit Romawi [Ingat Yusuf
Arimatea adalah seorang anggota majelis besar! dan terlihat diterima
dikalangan Romawi, jadi ia punya peluang besar ikut 'mengatur' prajurit
yang menjaga dari 'kalangan sendiri']. Yesus seharusnya mampu
menyelamatkan diri keluar dari kubur batu itu, namun rencana tidak
berjalan seperti yang diharapkan.
Mengapa?
Diatas telah disampaikan bahwa Yusuf dari Arimatea menggulingkan sebuah batu Besar ke pintu kubur [Matius 27:60].
Batu besar itulah biang keladinya! Ia menghalangi yesus untuk keluar
dari kuburnya..Yesus wafat karena kepengapan..Ia kehabisan nafas!
Jadi,
kematian Yesus bukan seperti yang diberitakan selama ini! Bukan
pemerintahan Romawi yang menyebabkan Yesus Mati. Bukan karena kaum imam
Yahudi Yesus mati, Bukan karena Yudas yesus mati, Bukan karena di salib
Yesus mati. Yesus mati karena kecerobohan! Ya, seharusnya Yusuf dari
Arimatea tidak menggulingkan batu besar! Sehingga Yesus bisa meneruskan
rencanannya..Yesus mati karena kecerobohan! [Lihat artikel di sini bahwa trik mengubur diri ini merupakan trik tersulit dan jarang ada yang selamat dan lihat artikel Penemuan makam keluarga Yesus di Talpot].
Pemeran pengganti harus dipersiapkan!
Kemunculan
peran pengganti itu juga harus baik dan dilakukan secara dramatis,
ditandai dengan adanya suara menggelegar [itulah sebabnya di Alkitab
dinyatakan sebagai gempa...tapi lucunya cuma muncul di Matius 27:51,54; 28:2 dan tidak tercatat peristiwa besar itu di 3 Injil lainnya].
Jadi wajar jika disebutkan di alkitab bahwa TIDAK ADA BEKAS LUKA sama sekali!
Disamping
itu, 'Yesus' juga enggan disentuh oleh maria 'istrinya', Di Akitab 'Ia'
beralasan karena akan menghadap bapanya hingga ngga mau disentuh [Yohanes 20:17]. Anehnya, 'Ia' membiarkan dirinya disentuh oleh murid2 lainnya
Non-attachment dalam Buddhism tidaklah sama dengan mengosongkan diri
Non-attachment dalam Buddhism berarti melepas semua kemelekatan( Harta, Nafsu,Keinginan dsbnya )
Orang-orang yang telah mencapai tahap non-attachment, ketika meninggal,
mereka akan meninggal dengan tenang dan tersenyum, karena mereka tidak lagi terikat dengan kehidupan ini.
Nah, fenomena yang dialami oleh Yesus TIDAK BISA dikatakan sebagai non-attachment
Menjelang kematiannya, Yesus sangat takut, dia sangat melekat dengan hidup yang dia miliki,
sampai2 dia bertanya kenapa bapanya meninggalkan dirinya.
Salam,
卓俊樺
Dear Mas Zentao,
Saya numpang nimbrung... Dalam teologi Syi'ah ada yang disebut mati sebelum mati... Bagi sebagian orang ini ungkapan metafora namun sesungguhnya benar2 mati sebelum mati dan bisa dilihat urat takutnya sudah putus. Orang2 inilah yang disebut manusia Ilahiyah, manusia yang sudah mati hasrat kemanusiaannya yang ada patuh 100% apa maunya tuhan, inilah yang disebut "manusia langit yang berjalan di muka bumi"Salam,
Riza
Bung 卓俊樺,
Yang menjadi rahasia umum itu belum tentu benar, paling tidak menurut
pendapat saya dan rekan2 kristiani yang saya kenal. Ketika kuliah di
STT, ada seorang pendeta yang mengambil Mata kuliah agama Buddha
sebagai mata kuliah tambahan. Dan beliau komentar bahwa dia "menemukan
Yesus" di agama Buddha. Waktu itu saya masih SMP dan tidak begitu
mengerti apa yang beliau katakan. Namun belakangan setelah membaca
sendiri "The Teaching of Buddha" sekilas saya memahami apa maksud
beliau.
Orang yang berkata secara harfiah:
"orang yang tidak meyakini yesus sebagai juru selamat tidak akan masuk surga."
tentu tidak mengerti apa itu kekristenan. Bahkan di ajaran Islam pun ada ajaran:
"orang yang tidak Islam tidak akan masuk surga."
Demikian juga di ajaran Buddhist dikatakan bahwa:
"orang yang belum mencapai pencerahan tidak akan mencapai Nirvana"
Sebetulnya yang harus digali adalah apa itu "meyakini yesus sebagai
juru selamat", apa itu " Islam", dan apa itu "pencerahan".
Menurut saya, bila kita mau menggali dengan benar dan se-dalam2nya:
Islam, Yesus, Pencerahan, Tao, memiliki esensi yang sama.
Kembali ke non attachement, menurut saya definisi yang anda sampaikan
itu tidak salah, namun kurang lengkap. Definisi tersebut baru
mendeskripsikan non-attachement secara pasif saja. Menurut hemat saya,
non-attachment adalah aktif!! Jadi tidak sekedar melihat penderitaan
orang lain dengan tersenyum saja, tapi aktif menolong mereka. Tidak
melihat diri sendiri diperlakukan tidak-adil dengan tersenyum saja,
namun aktif mencoba menyadarkan orang2 yang berlaku tidak adil.
Demikian yang saya pahami mengenai non-attachment.
DK