From:
P. Simanjuntak [mailto:junt...@telkom.co.id]
Sent: 30 Januari 2007 08:54
Prakata
> Kisah berikut adalah terjemahan
bebas dari kesaksian yang direkam dari seorang yang hidupnya diubahkan.
Ini bukan sebuah wawancara atau
> Biografi, tapi kisah yang dituturkan oleh orang tersebut
sendiri. Reaksi tiap-tiap orang berbeda-beda ketika mendengar kisah ini. Ada
> yang dapat semangat, ada yang ragu, beberapa bahkan mengejek dan
mentertawakan, bahkan ada beberapa dengan penuh kegusaran dan marah,
> yakin bahwa kisah ini adalah 'ocehan' dari seorang gila atau
suatu penipuan yang cermat. Ada
umat Kristen yang menentang karena kejadian
> yang radikal dan ajaib ini tidak cocok untuk mereka, mengesankan seolah-olah
Allah yang maha kuasa itu lemah. Pada awalnya kami
> mengetahui kisah ini dari beberapa pemimpin Gereja yang
berbagi pengalaman dengan kami. Para
pemimpin itu sudah meneliti kisah ini dan
> tidak menemukan kisah ini sebagai suatu kebohongan. Dengan pemikiran ini kami memutuskan untuk berani melangkah mengabarkan kisah ini. Kami
> lakukan ini bukan untuk mencari
uang atau untuk mempromosikan diri. Kami hanya ingin kisah ini diketahui
dan membuat orang Kristen yang
> percaya menilainya secara Alkitabiah.
> Jika Tuhan menginginkan bagian dari
kisah ini untuk KemuliaanNya atau untuk membangun UmatNya, maka kami
berdoa agar Roh Kudus bekerja di
> dalam hati setiap pembaca. Beberapa orang menceritakan pada kami
bahwa mereka berfikir bahwa Rahib itu tidak benar-benar mati tetapi hanya
> ada dalam ketidak sadaran (mati suri), dan hal-hal yang dia lihat
dan dengar adalah bagian dari halusinasi orang yang kena demam.
> Apapun yang anda pikirkan, faktanya tetap bahwa kejadian ini
secara drastis telah menjadikan orang ini hidupnya berubah 180 derajat
> sesudah kejadian di bawah ini. Dia tanpa rasa takut, dengan
berani mengisahkan pengalamannya, dengan resiko besar, termasuk dipenjara.
> Dia juga dicaci maki oleh saudara-saudaranya, teman-teman, rekan-rekannya
dan diancam dibunuh karena ketidak sediaannya untuk
> mengkompromikan kisahnya.
> Apa yang memotivasi orang ini untuk
berisiko? Kita mempercayainya atau tidak, kisah ini layak
untuk didengarkan dan dipertimbangkan.
> Dalam masyarakat barat yang sinis banyak orang mendambakan bukti
yang kuat untuk hal-hal tersebut Bukti yang berani dihadapkan di
> pengadilan. Dapatkah kita yakin tanpa ragu bahwa semua ini betul
betul terjadi? Tidak, kita tidak dapat. Tetapi kami tetap merasa
> berkewajiban untuk mengabarkan kisah orang ini dengan
kata-katanya sendiri di mana pembaca dapat menilainya sendiri.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Halo, nama saya Athet Pyan Shinthaw Paulu.
Saya dari negara Myanmar.
Saya ingin berbagi dengan anda kesaksian saya ini tentang apa yang
terjadi pada saya, tetapi sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit latar
belakang saya sejak saya kecil. Saya dilahirkan tahun 1958 di
kota Bogale, di daerah delta Irrawaddy Myanmar selatan (dahulu Burma). Orang
tua saya penganut agama Budha yang beriman (taat) seperti
kebanyakan orang di Myanmar,
memanggil saya si Thitphin (yg artinya pohon). Kehidupan di mana saya bertumbuh
sangat sederhana.
Pada umur 13 tahun saya keluar sekolah dan
mulai bekerja di perahu nelayan. Kami menangkap ikan juga udang di beberapa
sungai besar dan
kecil di daerah Irrawaddy. Pada umur 16 saya
jadi pemimpin perahu. Saat itu saya tinggal di utara pulau Mainmahlagyon
(Mainmahlagyon
artinya pulau wanita cantik), di bagian utara Bogale dimana saya dilahirkan.
Tempat ini kira kira 100 mil barat daya Yangoon (Rangoon)
ibu kota negara
kami.
Suatu hari waktu saya berumur 17 tahun, kami
menangkap banyak sekali ikan dalam jala kami. Saking banyaknya ikan yang kami
tangkap, seekor
buaya besar tertarik perhatiannya. Buaya itu mengikuti perahu kami dan mencoba
menyerang kami. Kami jadi ketakutan sehingga dengan panik kami
mendayung perahu kami menuju tepian sungai secepatnya. Buaya itu mengikuti kami dan menyerang perahu kami dengan ekornya.Walaupun tidak
ada yang mati dalam kejadian ini, serangan
itu mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak mau lagi menangkap ikan. Perahu
kecil kami tenggelam
kena serangan buaya itu. Malam itu kami pulang ke kampung naik perahu
tumpangan. Tak lama sesudah itu, bos ayah saya memindahkan ayah saya
ke kota Yangoon (sebelum disebut Rangoon).
Pada umur 18 saya dikirim kesebuah biara
menjadi Rahib muda. Kebanyakan orang tua di Myanmar berusaha mengirimkan anak
laki-laki
mereka ke biara Budha, setidaknya satu kali, karena merupakan suatu kehormatan
mempunyai anak laki-laki melayani dengan cara ini. Kami
telah mengikuti adat ini ratusan tahun. Pada saat saya mencapai umur 19
tahun 3 bulan (thn 1977) saya jadi Rahib.
Rahib atasan saya di biara itu memberi saya sebuah nama Budha baru yang sudah
menjadi adat/kebiasaan di negara saya. Saya dipanggil U
Nata Pannita Ashinthuriya. Pada waktu kami menjadi Rahib kami tidak lagi
menggunakan nama yang diberikan orang tua pada waktu lahir.
Biara tempat saya tinggal disebut Mandlay Kyaikasan Kyaing. Nama Rahib kepala ialah U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (U Zadila adalah gelar). Dia
Rahib yang sangat terkenal di seluruh Myanmar pada waktu itu. Setiap orang tahu siapa dia.
Dia sangat dihargai oleh orang-orang dan
disegani sebagai guru besar. Saya katakan dulu karena pada tahun 1983 dia
tiba-tiba mati dalam
kecelakaan mobil yang fatal. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu saya
sudah 6 tahun jadi Rahib. Saya berusaha jadi Rahib terbaik
dan mengikuti semua ajaran Budha. Pada suatu tingkat tertentu saya pindah ke
sebuah kuburan yang kemudian saya tinggali dan bermeditasi
secara kontinyu. Beberapa Rahib yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran Budha
melakukan hal yang saya lakukan ini. Beberapa bahkan
pindah ke hutan dimana mereka hidup menyangkal diri dan miskin. Saya cari
penyangkalan diri, fikiran dan keinginan, untuk menghindari
penyakit dan penderitaan dan membebaskan diri dari kehidupan duniawi.
Di kuburan saya tidak takut setan, saya berusaha untuk mencapai kadamaian batin
dan sadar diri sampai sampai bila ada nyamuk hinggap
ditangan saya membiarkannya menggigit tangan saya dari pada mengusirnya.
Bertahun-tahun saya berusaha untuk jadi Rahib terbaik dan
tidak menyakiti mahluk hidup.
Saya belajar pelajaran Budha suci ini
seperti semua nenek moyang kami lakukan sebelum saya. Kehidupan saya sebagai
Rahib berjalan terus
sampai suatu waktu saya menderita sakit keras. Saya ada di Mandalay waktu itu dan harus dibawa ke rumah
sakit untuk perawatan.
Dokter melakukan beberapa pengecekan pada saya dan memberitahu saya bahwa saya
terjangkit penyakit kuning dan malaria bersamaan. Sesudah
sebulan di rumah sakit saya malah makin gawat. Dokter memberi tahu saya bahwa
tak ada harapan sembuh untuk saya dan mengeluarkan saya
dari rumah sakit untuk mempersiapkan kematian.
Inilah penjelasan
singkat masa lalu saya.
Sekarang saya ingin
menceritakan beberapa hal luar biasa yang terjadi pada diri saya sesudahnya.
Penglihatan Yang
Mengubah Hidup Saya Selamanya.
Sesudah saya dikeluarkan dari rumah
sakit saya kembali ke tempat di mana para Rahib yang lain mengurus saya.
Saya makin hari makin lemah dan makin susut karena badan busuk dan bau
kematian, dan akhrinya jantung saya berhenti berdenyut.
Tubuh saya dipersiapkan untuk kremasi dan melalui tata cara pemurnian agama Budha.
Walaupun tubuh saya mati tapi saya ingat
dan sadar dalam fikiran dan roh saya. Saya ada dalam badai besar. Angin kencang
meniup seluruh
daratan sampai tidak ada pohon atau apapun yang berdiri, semua rata, saya
berjalan sangat cepat di jalan rata itu untuk beberapa lama.
Tak ada orang lain, hanya saya sendiri,
kemudian saya menyeberang sebuah sungai. Di seberang sungai itu saya melihat
danau api yang
sangat sangat besar. Dalam agama Budha kami tidak ada gambaran tempat seperti
ini. Pada mulanya saya bingung dan tak tahu bahwa itu adalah
neraka sampai saya lihat Yama, raja neraka (Yama adalah nama untuk raja neraka
dalam kebudayaan Asia) mukanya seperti singa,
badannya seperti singa , tetapi kakinya seperti seekor naga (roh naga). Dia mempunyai beberapa tanduk di kepalanya.
Wajahnya sangat mengerikan dan saya sangat ketakutan. Dengan gemetar, saya tanya namanya. Dia jawab "Saya adalah raja neraka, si Perusak!"
Danau Api Yang Sangat Mengerikan Raja neraka memberi tahu saya untuk melihat ke danau api itu.
Saya memandang dan melihat jubah warna
kunyit yang biasa dipakai rahib Budha di Myanmar. Saya memandang dan melihat
kepala gundul seorang
laki-laki. Waktu saya lihat wajah orang itu saya mengenalinya sebagai U Zadila
Kyar Ni Kan Sayadaw (rahib terkenal yang mati kecelakaan
mobil tahun 1983). Saya tanya raja neraka mengapa pemimpin saya, diikat dalam danau
penyiksaan ini. Saya tanya "Mengapa dia ada dalam
danau api ini? Dia seorang guru yang baik." Dia bahkan mempunyai kaset
pengajaran yang berjudul 'Apakah anda manusia atau anjing?'
Yang sudah membantu ribuan orang mengerti bahwa sebagai manusia sangat berharga jauh dibandingkan binatang.
Raja neraka itu menjawab, "Betul, dia seorang guru yang baik, tetapi dia tidak percaya pada Yesus Kristus.
Itulah sebabnya dia ada di neraka." Saya diberi tahu untuk melihat orang lain yang ada di dalam api itu. Saya lihat seorang laki-laki dengan rambut panjang
dililitkan dibagian kiri kepalanya. Dia
juga mengenakan jubah. Saya tanya raja neraka "Siapa orang itu?" Dia
menjawab, "Inilah yang kau sembah, Gautama
(Budha)". Saya sangat terganggu melihat Gautama di neraka. Saya protes,
"Gautama orang baik, mempunyai karakter moral yang baik,
mengapa dia menderita di dalam danau api ini?" Raja neraka menjawab saya
"Tak peduli bagaimana baiknya dia. Ia ada di tempat ini karena
dia tidak percaya
pada Allah yang kekal"
Saya kemudian melihat seorang yang lain
yang tampaknya memakai seragam tentara. Dia terluka di dada-nya. Saya tanya
"Siapa dia?" Raja neraka berkata
"Ini Aung San, pemimpin revolusi Myanmar ". Saya kemudian
diberi tahu, "Aung San di sini karena dia menyiksa dan membunuh
orang-orang
Kristen, tapi terutama karena dia tidak percaya Yesus Kristus."
Di Myanmar ada pepatah, "Tentara tak pernah mati, hidup terus." Saya
diberitahu bahwa tentara neraka mempunyai pepatah "Tentara tak pernah
mati, tapi ke neraka selamanya."
Saya amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang dan perisai.
Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Saya bingung karena saya tidak tahu siapa itu Goliath dan Daud.
Raja neraka berkata, "Goliath tercatat di Alkitab orang Kristen. Kamu tidak tahu dia sekarang, tapi kalau kamu jadi Kristen, kamu akan tahu siapa dia.
Saya dibawa ke sebuah tempat di mana saya
lihat orang kaya dan miskin menyiapkan makan malam mereka. Saya tanya
"siapa yang memasak makanan
untuk orang-orang itu?" Raja itu menjawab "Yang miskin harus
menyiapkan makanan mereka, tapi yang kaya menyuruh yang lain untuk
memasak untuk mereka."
Ketika makanan sudah tersedia untuk yang
kaya, mereka duduk untuk makan. Segera setelah mereka mulai makan asap tebal
keluar. Yang kaya
makan secepat sebisa mereka agar mereka tidak pingsan. Mereka berusaha keras
untuk dapat bernafas karena asap itu. Mereka harus makan
cepat-cepat karena mereka takut kehilangan uang mereka. Uang mereka adalah
tuhan mereka.
Seorang raja yang lain kemudian datang pada saya. Saya juga melihat satu mahluk yang kerjanya menjaga api di bawah danau
api agar tetap panas. Mahluk ini bertanya
pada saya "Apa kamu juga akan masuk ke danau api ini?" Saya jawab,
"Tidak! saya di sini untuk
hanya mengamati!" Bentuk mahluk yang menjaga api itu sangat menakutkan. Dia
punya 10 tanduk dikepalanya dan sebatang tombak di tangannya
yang pada ujungnya ada 7 pisau tajam. Mahluk ini berkata "Kamu betul, kamu datang ke sini hanya untuk mengamati.
Saya tak temukan namamu disini". Katanya "Kamu harus kembali dari mana kamu datang tadi" Dia menunjukan arah pada saya tempat terpencil rata
yang saya lewati sebelumnya waktu datang ke danau api ini. Keputusan Untuk Memilih Jalan.
Saya jalan cukup lama, sampai saya berdarah. Saya sangat kepanasan dan kesakitan. Akhirnya setelah berjalan sekitar 3 jam saya sampai di sebuah
jalan yang lebar. Saya berjalan sepanjang jalan ini beberapa lama sampai menemukan persimpangan.
Satu jalan arah kiri, lebar. Jalan yang
lebih kecil menuju ke sebelah kanan. Ada
tanda disimpang itu yang berbunyi jalan kiri untuk mereka
yang tidak percaya pada Tuhan Yesus Kristus, jalan yang lebih kecil menuju ke
kanan untuk yang percaya Yesus. Saya tertarik melihat ke
mana tujuan jalan yang lebih besar itu, jadi saya mulai melaluinya.
Ada 2 orang berjalan kira-kira 300 yard di depan saya. Saya coba mengejar mereka agar dapat jalan bersama, tetapi sekerasnya saya coba tak dapat
mengejar mereka, jadi saya putar balik dan
kembali ke simpang jalan tadi. Saya terus perhatikan kedua orang yang berjalan
tadi.
Waktu mereka mencapai ujung jalan tiba-tiba mereka ditikam. Kedua orang itu
berteriak sangat kesakitan.
Saya juga menjerit keras waktu melihat apa yang terjadi pada mereka. Saya sadar
akhir dari jalan yang lebih lebar sangat berbahaya untuk
mereka yang menjalaninya. Melihat Surga Saya mulai melangkah ke jalan Orang
Percaya.
Sesudah berjalan sekitar 1 jam, permukaan jalan berubah jadi emas murni.
Sungguh murni sampai-sampai waktu saya
lihat kebawah saya dapat melihat bayangan saya dengan sempurna.
Kemudian saya lihat seseorang berdiri di depan saya. Dia memakai jubah putih.
Saya juga mendengar nyanyian merdu. Oh,
alangkah indah dan murninya! Sangat jauh lebih baik dan berarti dibandingkan
penyembahan yang kita dengar di gereja manapun di dunia.
Orang berjubah tersebut meminta saya berjalan bersamanya. Saya bertanya
padanya, "Siapakah namamu?" tetapi dia tidak menjawabnya.
Baru sesudah saya tanya dia 6 kali orang itu menjawab, "Saya yang memegang
kunci ke surga. Surga tempat yang sangat sangat indah.
Kamu tak dapat pergi ke sana sekarang tetapi kalau kamu mengikuti Yesus Kristus kamu dapat pergi ke
sana sesudah hidupmu selesai di bumi". Orang itu bernama Petrus.
Petrus kemudian meminta saya untuk duduk
dan menunjukkan pada saya sebuah tempat di sebelah utara.
Petrus berkata, "Lihat ke utara dan lihatlah Allah menciptakan
manusia". Saya melihat Allah kekal di kejauhan. Allah berkata pada
seorang malaikat, "Mari kita ciptakan manusia." Malaikat itu memohon
pada Allah dan berkata, "Jangan menciptakan manusia. Dia akan berbuat
dosa dan mendukakan Engkau." (dalam bahasa asli Burma berarti: "Dia akan
mempermalukan
Engkau") Tetapi Allah tetap menciptakan manusia. Allah meniupkan nafasNya
dan manusia itu hidup.
Dia memberi nama orang itu
"Adam". (catatan: agama Budha tidak
percaya penciptaan dunia atau manusia
sehingga pengalaman ini sangat besar
pengaruhnya pada rahib itu). Dikembalikan Dengan Nama Baru Kemudian Petrus
berkata, "Sekarang bangunlah dan kembalilah melalui jalan di mana
engkau datang. Katakan pada orang-orang yang menyembah Budha dan menyembah berhala. Beri tahu mereka bahwa mereka akan pergi ke neraka
bila mereka tidak berubah.
Mereka yang membangun kuil/kelenteng dan
berhala juga akan ke neraka. Mereka yang yang memberikan persembahan pada para
rahib untuk
mendapatkan jasa untuk mereka sendiri juga akan ke neraka. Mereka yang
menyembah rahib dan memanggil mereka
"Pra" (gelar kehormatan bagi rahib) akan ke neraka. Mereka yang
menyanyi dan memberikan hidupnya
untuk berhala akan ke neraka. Mereka
yang tidak percaya Yesus Kristus akan ke neraka. Petrus memberi tahu saya
untuk kembali ke bumi dan
bersaksi tentang semua apa yang telah saya lihat. Dia juga berkata, 'Kamu harus
bicara dengan nama yang baru.
Sejak saat ini kamu harus dipanggil
Athet Pyan Shinthaw Paulu (Paulus yang kembali hidup). Saya tidak mau kembali.
Saya ingin tinggal di
surga. Seorang kemudian malaikat membuka sebuah buku. Pertama-tama mereka
mencari nama masa kecilku (Thitpin) dalam buku, tapi mereka tak
menemukannya. Kemudian mereka mencari nama yang diberikan pada saya waktu masuk agama Budha (U Nata Pannita Ashinthuriya), tapi juga tidak
tertulis disitu. Kemudian Petrus
berkata, "Namamu tidak tertulis di sini, kamu harus kembali dan bersaksi
tentang Yesus pada orang-orang
yang beragama Budha." Saya berjalan kembali melalui jalan emas. Saya
dengar lagi nyanyian yang merdu, yang tak pernah saya dengar
sebelumnya. Petrus berjalan dengan saya sampai saatnya saya kembali ke bumi.
Dia menunjukkan pada saya tangga untuk kembali ke bumi antara
surga dan langit. Tangga itu tidak sampai ke bumi, tetapi berhenti di udara.
Pada saat di tangga saya lihat banyak
sekali malaikat, ada yang naik ke surga dan ada yang turun ke tangga. Mereka
sangat sibuk. Saya
tanya Petrus, "Siapakah mereka?". Peter menjawab, "Mereka
pesuruh Tuhan. Mereka melaporkan ke surga nama-nama mereka yang percaya Yesus
Kristus dan nama-nama mereka yang tidak percaya." Petrus kemudian memberi
tahu saya, sudah waktunya untuk kembali.
Hantu!
Tiba-tiba saya mendengar sebuah tangisan. Saya dengar ibu saya sedang menangis,
"Anakku, mengapa engkau meninggalkan kami sekarang?" Saya
juga mendengar orang-orang lain menangis. Saya kemudian sadar saya sedang
terbujur dalam sebuah peti. Saya mulai bergerak. Ibu dan ayahku
berteriak, "Dia hidup, dia
hidup!" Orang lain yang agak jauh tidak percaya. Kemudian saya taruh
tangan saya di kedua sisi peti itu dan duduk
tegak. Banyak orang ketakutan. Mereka menjerit, "Hantu!" dan berlari
secepat kaki mereka membawanya. Mereka yang tertinggal, diam dan
bergemetaran. Saya merasakan saya sedang duduk dalam cairan yang tak sedap
baunya, cairan tubuh, cukup banyak untuk dapat mengisi 3,5
gelas. Itu adalah cairan yang keluar dari perut dan bagian dalam tubuhku ketika
tubuhku terbujur di dalam peti mati. Inilah sebabnya
orang tahu bahwa saya sudah betul-betul mati.
Di dalam peti mati ini ada semacam lembaran plastik yang ditempelkan pada kayu
peti. Lembaran plastik ini untuk menampung cairan yang
keluar dari mayat, karena tubuh orang meninggal banyak mengeluarkan cairan
seperti yang saya alami. Saya diberi tahu kemudian bahwa hanya
beberapa saat lagi saya dikremasi dalam api. Di Myanmar orang mati dimasukan
kedalam peti mati, tutupnya kemudian dipaku, dan kemudian
dibakar. Ketika saya kembali hidup, ibu dan ayahku sedang melihat tubuhku untuk
terakhir kalinya. Sesaat lagi tutup peti akan segera dipaku dan saya
akan dikremasikan.
Saya segera mulai menjelaskan hal-hal yang saya lihat dan dengar. Orang-orang merasa heran. Saya ceritakan orang-orang yang saya lihat di dalam
danau api itu, dan memberi tahu hanya orang Kristen yang tahu kebenaran, bahwa nenek moyang kita dan kita sudah tertipu ribuan tahun! Saya beri tahu
mereka segala sesuatu yang kita percayai
adalah kebohongan. Orang-orang merasa heran sebab mereka tahu rahib macam apa
saya dan
bagaimana bersemangatnya saya dalam pengajaran Budha. Di Myanmar ketika
seseorang meninggal, namanya dan umurnya ditulis disamping peti
mati. Ketika seorang rahib meninggal, namanya, umurnya dan masa pelayanannya sebagai rahib dituliskan di samping peti mati. Saya sudah
ditulis mati tetapi seperti yang anda lihat, sekarang saya hidup!
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Penutup
Sejak "Paul yang kembali
hidup" mengalami kisah di atas dia tetap menjadi saksi yang setia kepada
Yesus Kristus. Para Gembala di Burma
mengabarkan bahwa dia sudah membawa ratusan rahib lain untuk beriman kepada
Yesus. Kesaksiannya jelas sekali tak berkompromi. Oleh sebab
itu, pesan dia telah menyakitkan banyak orang yang tidak dapat menerima hanya ada satu jalan ke surga, Yesus
Kristus.
Walaupun menghadapi penolakan yang sangat besar, pengalamannya sungguh nyata sehingga ia tak pernah ragu maupun bimbang.
Setelah sekian tahun dalam lingkungan biara Budha, sebagai pengikut ajaran Budha yang setia, beralih menyatakan Injil Kristus sesudah kebangkitannya
dari mati dan mendesak rahib yang lain
untuk meninggalkan semua dewa-dewa palsu dan menjadi pengikut Yesus dengan
sepenuh hati.
Sebelum sakit dan matinya dia tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang
ke-Kristenan. Semua yang dia dapatkan selama 3 hari dalam
kematian adalah baru dalam fikirannya. Dalam mengabarkan pesannya sebanyak
mungkin pada orang-orang.
Lazarus modern ini mulai membagikan audio dan video kaset mengenai kisahnya. Polisi serta pihak berwenang di Myanmar sudah berusaha sekuatnya untuk
mengumpulkan kaset-kaset ini dan
memusnahkannya. Kesaksian yang baru saja anda baca adalah salah satu terjemahan
dari kaset itu. Kami
diberi tahu bahwa sekarang sangat berbahaya bagi warga Myanmar untuk
memiliki kaset ini. Kesaksiannya yang tak kenal takut telah membuatnya
dipenjara, di mana yang berwenang telah
gagal menawarkan dia untuk bungkam. Sesudah dilepaskan dia terus bersaksi
tentang apa yang dia
lihat dan dengar. Keberadaannya sekarang tidak jelas. Seorang nara
sumber di Burma
mengatakan bahwa dia di penjara dan bahkan mungkin
sudah dibunuh, sumber lain mengabarkan bahwa dia sudah dilepaskan dari penjara
dan sedang meneruskan pelayanannya.
Sumber : www.terangdunia.com
Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast
with theYahoo! Search weather shortcut.
|
"Willer Simanjuntak" <rona...@telkom.net> Others, 01/02/2007 11:02 AM ZE8 Sent by: Spiritu...@googlegroups.com |
To: <Spiritu...@googlegroups.com> cc: <swl...@yahoo.com> Subject: [Spiritual-World] FW: Kesaksian Yang Luar Biasa Dari Seorang Rahib Budha Di Myanmar........ |
,"
DISCLAIMER :
The information contained in this communication (including any attachments) is privileged and confidential, and may be legally exempt from disclosure under applicable law. It is intended only for the specific purpose of being used by the individual or entity to whom it is addressed. If you are not the addressee indicated in this message (or are responsible for delivery of the message to such person), you must not disclose, disseminate, distribute, deliver, copy, circulate, rely on or use any of the information contained in this transmission.
We apologize if you have received this communication in error; kindly inform the sender accordingly. Please also ensure that this original message and any record of it is permanently deleted from your computer system. We do not give or endorse any opinions, conclusions and other information in this message that do not relate to our official business.