Mistik 6: Allah orang kristen Haus Darah?

87 views
Skip to first unread message

David Kuntadi

unread,
Dec 24, 2009, 1:10:44 AM12/24/09
to Spiritual World
Dalam kebudayaan primitif, dikenal Allah yang kejam, sadis lagi keji.
Allah tsb terkadang ngamuk2 dan minta korban. Sehingga manusia
ketakutan dan memberikan sesajen utk meredam kemarahan Allah primitif
tsb.

Namun, seperti tercatat dalam alkitab perjanjian lama, dikatakan bahwa
Allah orang Israel pun bersifat pencemburu, pembalas, pendendam, dan
pemarah:

Jos 24:19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: "Tidaklah kamu
sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah
Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.

Nah 1:2 TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas
dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya
dan pendendam kepada para musuh-Nya.

Psa 102:9 (102-10) Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur
minumanku dengan tangisan,
Psa 102:10 (102-11) oleh karena marah-Mu dan geram-Mu, sebab Engkau
telah mengangkat aku dan melemparkan aku.

2Sa 6:6 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza
mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena
lembu-lembu itu tergelincir.
2Sa 6:7 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh
dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut
Allah itu.

Namun bukan itu saja, Allah pun "haus darah", sehingga kemarahannya
hanya bisa diredam bila ada yang disembelih, dalam hal ini hewan2 yang
tidak ada sangkut-pautnya dengan kesalahan manusia tsb perlu
dicurahkan darahnya agar Allah bisa ditenangkan. Jadi konsep ini
mirip2 dengan konsep sesajen yang diberikan oleh bangsa2 primitif

Mungkin rekan2 di sini akan menyanggah:

"Lho, itu kan perjanjian lama. Diperjanjian baru tidak demikian!".

Betul, di perjanjian baru memang dikatakan bahwa korban binatang2 itu
tidak bisa menghapus dosa:

Heb 10:4 Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba
jantan menghapuskan dosa.

Namun ide mengenai Allah haus darah tetap dipertahankan, bahkan lebih
ditekankan dan diperbesar intensitasnya. Dikatakan bahwa kemarahan
Allah tidak bisa diredam dengan nyawa binatang, tapi harus manusia
lainlah yang disembelih:

1Co 5:7 Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.
Heb 7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari
harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu
barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu
kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri
sebagai korban.
1Pe 2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di
kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk
kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.

Dari analisa di atas, konsep Allah orang kristen ternyata tetap
merupakan Allah yang haus darah, yang meminta korban agar kemarahannya
bisa reda. Dan korban tersebut tidak bisa merupakan binatang, tapi
harus manusia (lain).

Demikian saya akhiri analisa kali ini, barangkali rekan2 di sini ada
yang bisa memberikan penjelasan apa bedanya konsep kristen dengan
agama2 primitif yang melihat allah sebagai sosok yang kejam, sadis,
lagi keji, sehingga perlu ada manusia yang disembelih (yaitu Yesus)
agar kemarahan - Nya bisa reda.

Salam,
DK

sethiadi

unread,
Dec 24, 2009, 1:33:51 PM12/24/09
to spiritu...@googlegroups.com
Analisa sdr David Kuntadi tidak salah. Saya setuju, tetapi kurang lengkap.
Harap dilengkapi sbb:
Darah domba Allah (Yesus) adalah untuk menebus dosa manusia, termasuk dosa
Anda dan saya.

Yohannes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Allah juga penuh kasih.


Salam. Stanley Sethiadi.

> --
> You received this message because you are subscribed to the Google Groups
> "Spiritual World" group.
> To post to this group, send email to Spiritu...@googlegroups.com
> To unsubscribe from this group, send email to
> Spiritual-Wor...@googlegroups.com
> For more options, visit this group at
> http://groups.google.com/group/Spiritual-World

David Kuntadi

unread,
Dec 24, 2009, 3:32:29 PM12/24/09
to spiritu...@googlegroups.com
2009/12/25 sethiadi <sset...@gmail.com>:

> Analisa sdr David Kuntadi tidak salah. Saya setuju, tetapi kurang lengkap.
> Harap dilengkapi sbb:
> Darah domba Allah (Yesus) adalah untuk menebus dosa manusia, termasuk dosa
> Anda dan saya.
>
Apakah Bung Sethiadi setuju, selain memiliki segi kasih, Allah juga
memiliki segi kejam, sadis lagi keji?

DK

sethiadi

unread,
Dec 25, 2009, 1:28:05 PM12/25/09
to spiritu...@googlegroups.com
Bukan kejam , sadis dan keji, tetapi Maha-adil. Allah menghukum dosa dengan
adil. Allah memang keras terhadap orang yang berdosa. Tetapi Allah juga
Maha-pengampun bagi orang yang bertobat.

Dosa saya pribadi sudah merah seperti Kirmizi, tetapi karena saya telah
bertobat, telah dicuci Allah jadi putih bersih seperti salju. Allah juga
bersedia maafkan dan mencuci jadi putih bersih dosa siapa saja yang
bertobat. Maka itu bertobatlah sebelum terlambat.


Salam. Stanley Sethiadi.

----- Original Message -----
From: "David Kuntadi" <d.ku...@gmail.com>

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 25, 2009, 8:07:46 PM12/25/09
to spiritu...@googlegroups.com, spiritu...@googlegroups.com

Kasihan mereka yang telah dijahati.
Mana keadilan bagi mereka?







"sethiadi" <sset...@gmail.com>
Others, 12/26/2009 01:28 AM
Sent by: spiritu...@googlegroups.com
       
        To:        <spiritu...@googlegroups.com>
        cc:        
        Subject:        [Spiritual-World] Mistik 6: Allah orang kristen Haus Darah?

sethiadi

unread,
Dec 26, 2009, 6:52:27 AM12/26/09
to spiritu...@googlegroups.com
Sdr Abin yang baik,
 
Saya masih pelajari soal meditasi. Mohon pendapat Anda dengan tulisan seorang meditator non-Buddhis sbb:
 

"Dalam meditasi tanpa objek kita belajar mengamati tanpa si pengamat. Dalam kesadaran meditatif ini, tidak ada subjek; karena subjek tidak ada, maka objek pun tidak ada. Yang ada tinggal APA ADANYA."

 

 

Apakah Anda mengerti tulisan diatas? Apa artinya :"mengamati tanpa si-pengamat"? Apa ada bedanya dengan meditasi Buddhis yang Anda anut? Mohon penerangan Anda kalau ada.

 

 

Salam. Stanley Sethiadi.

 

Suwarno Liang

unread,
Dec 27, 2009, 8:01:00 PM12/27/09
to spiritu...@googlegroups.com
Ha..ha..

Apakah Anda siap.. setelah anda memasuki Tanpa Pengamat, anda akan
menemukan jati diri alam semesta yang TANPA TUHAN KRISTEN ???

Salam,
Suwarno

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 27, 2009, 10:20:29 PM12/27/09
to spiritu...@googlegroups.com, spiritu...@googlegroups.com

Bung Sethiadi,
Selama anda berusaha memahami ajaran Buddhisme dengan menggunakan kacamata Kristen, anda tidak akan menemukan apa-apa.
Pernyataan meditator tersebut, walau dirinya meditator NON BUDDHIST, tapi pernyataan tersebut adalah konsep meditasi Buddhist, karena apa yang disampaikan itu yang biasa dikatakan sebagai NAMA adalah RUPA, RUPA adalah NAMA. NAMA bukan RUPA, dan RUPA juga bukan NAMA.

Meditasi, pada faktanya adalah "melihat" ke 18 mata rantai proses batin. Ketika salah satu mata rantai itu putus, maka proses (siklus) itu akan terhenti.

Sesungguhnya apa yang "ada" ini adalah interaksi antara subyek dan obyek. Semua hanya fenomena belaka. Anda bereaksi terhadap sesuatu, anda mungkin marah. Marah itu apa? Apakah obyek itu yang membawa "marah" atau anda yang membawa "marah"? Lalu ketika marah itu hilang, apakah obyek itu hilang, atau mungkin anda yang hilang?

Menurut saya, yang disebut meditasi tanpa obyek oleh si meditator tersebut tidak lain adalah Vipassana Bhavana. Tidak ada obyek tetap yang diamati (tidak seperti Samatha Bhavana) tetapi meditator hanya mengamati apa saja segala proses batin yang muncul. Tanpa pengamat memiliki pengertian "tidak terlibat dalam apa yang diamati". Tidak terlibat berarti tidak melakukan penilaian, judgement terhadap yang diamati. Semua hanya disadari sebagai fenomena yang timbul tenggelam. Itu yang disebut sebagai APA ADANYA.

Apakah anda dapat memahami apa yang saya jelaskan di atas?
Jika belum, coba anda baca ulang pelan-pelan dan simak kembali sekali lagi.
Jika masih juga belum, coba anda tinggalkan sebentar "pola pikir" Kristen anda, tempatkan diri anda sebagai bayi yang baru lahir yang tidak pernah dijejali dengan doktrin apapun... lalu anda baca ulang... dengan tanpa "kaca mata doktrin".

Semoga bermanfaat.

Abin Adika Ranggala







"sethiadi" <sset...@gmail.com>
Others, 12/26/2009 06:52 PM
Sent by: spiritu...@googlegroups.com
       
        To:        <spiritu...@googlegroups.com>
        cc:        
        Subject:        [Spiritual-World] Meditasi. (dh Mistik 6: Allah orang kristen Haus         Darah?)

sethiadi

unread,
Dec 27, 2009, 10:31:20 PM12/27/09
to spiritu...@googlegroups.com
Terima kasih atas respons Anda. Tetapi saya rasa tidak begitu. Meditator
non-Buddhis yang saya maksud adalah seorang Pastor suatu parochi. Karena
saya belum minta izin kepadanya untuk meneruskan tulisannya kemillis lain,
saya tidak bersedia menyebut namanya.

David Kuntadi

unread,
Dec 27, 2009, 10:40:33 PM12/27/09
to spiritu...@googlegroups.com
2009/12/28 sethiadi <sset...@gmail.com>:

> Terima kasih atas respons Anda. Tetapi saya rasa tidak begitu. Meditator
> non-Buddhis yang saya maksud adalah seorang Pastor suatu parochi. Karena
> saya belum minta izin kepadanya untuk meneruskan tulisannya kemillis lain,
> saya tidak bersedia menyebut namanya.

Sementara saya approved dulu posting anda, tapi seperti sudah pernah
kita diskusikan bersama, saya ingatkan jangan menambahi angka
dibelakang subyek, karena menyulitkan sebagian rekan2 di sini dalam
memonitor suatu diskusi.

Salam,
DK

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 28, 2009, 12:01:04 AM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com, spiritu...@googlegroups.com

Bung Sethiadi,
Meditasi buddhis, kini telah bergerak ke arah sekulerism. Banyak sekali pastor paroki yang bergabung dalam retret meditasi buddhist.
Anda bisa tanyakan pada Bapak Hudoyo Hupudio yang merupakan pembimbing MMD (meditasi mengenal diri).
MMD sendiri adalah meditasi buddhis (vipassana) yang mengambil jalur sekuler. Tidak ada kegiatan ritual keagamaan dalam retret MMD.

Lagipula, tentunya menjadi pertanyaan besar bagaimana pastor katholik mempraktikkan meditasi, karena dalam ajaran Yesus jelas tidak ada sama sekali singgungan tentang meditasi (saya heran anda tidak mempertanyakan hal kenyataan ini... terlewat ataukah mengabaikannya???), bahkan pada masa yang lalu, meditasi merupakan hal yang ditentang oleh gereja.

Semoga bermanfaat,
Abin Adika Ranggala






"sethiadi" <sset...@gmail.com>
Others, 12/28/2009 10:31 AM
Sent by: spiritu...@googlegroups.com
       
        To:        <spiritu...@googlegroups.com>
        cc:        
        Subject:        [Spiritual-World] Meditasi.(2)

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 28, 2009, 12:03:29 AM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com, spiritu...@googlegroups.com

Ya bung Sethiadi,
Kalau anda mau menjawab/merespon dalam subject yang sama, alangkah baiknya anda tinggal KLIK REPLY lalu sampaikan pendapat anda, TANPA PERLU mengutak-atik subject! Anda tidak perlu khawatir pembaca akan bingung jika anda tidak memberi nomor urut, karena kita sudah bisa untuk menyusun posting menurut jam anda mengirimkannya.

Semoga bermanfaat!
Abin Adika Ranggala







David Kuntadi <d.ku...@gmail.com>
Others, 12/28/2009 10:40 AM
Sent by: spiritu...@googlegroups.com
       
        To:        spiritu...@googlegroups.com
        cc:        
        Subject:        Re: [Spiritual-World] Meditasi.(2)


sethiadi

unread,
Dec 28, 2009, 6:59:32 AM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com
Maaf sdr David Kuntadi. Saya biasanya, khusus untuk Spiritual-world menulis
angka itu untuk file saya, tetapi tidak pada posting yang saya kirim. Maaf
kali ini saya keliru mengirim posting yang diberi nommor. Selanjutnya akan
saya perhatikan.
Oh yah, saya sudah unsubscribe dari CBN.


Salam. Stanley Sethiadi.


----- Original Message -----
From: "David Kuntadi" <d.ku...@gmail.com>
To: <spiritu...@googlegroups.com>

sethiadi

unread,
Dec 28, 2009, 7:17:07 AM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com
Terima kasih sdr Abin atas segala keterangan Anda. Pastor itu memang mengatakan bahwa metodenya mirip dengan Vipassana.
Tetapi saya bilang terus terang, saya lebih mudah mengerti tulisan Ajahn Brahm daripada tulisan Pastor itu. Saya lebih mudah mengerti tulisan Anda daripada tulisannya. tetapi menurut Anda ketiganya kira-kira sama? Semuanya sesuai dengan Vipassana?
 
Tetapi ketika saya katakan bahwa dahulu saya latihan meditasi dengan bimbingan Ajahn Brahm dan dipandu oleh para Buddhist dari millis samagiphala dan spiritual-world. Konsentrasi pada pernafasan, lalu berusaha hening (kosongkan pikiran). Ia katakan bahwa ia tidak pakai metode apapun dan tidak pakai konsentrasi apapun. Disini ia berbeda dengan meditator lain termasuk Ajahn Brahm. Lagipula ia katakan bahwa tidak dapat orang kosongkan pikiran, itu seperti anjing berputar-putar mau gigit ekornya sendiri. Apa sih maksudnya? Ajahn Brahm atau pastor itu yang lebih sesuai dengan Vipassana?

sethiadi

unread,
Dec 28, 2009, 7:28:54 AM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com
Abin:
bahkan pada masa yang lalu, meditasi merupakan hal yang ditentang oleh gereja.
Sethiadi:
Meditasi dalam artikata merenungkan tidak dilarang oleh Alkitab, bahkan dianjurkan.

Mazmur 1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

KJV

Psalm 1:1 Blessed is the man that walketh not in the counsel of the ungodly, nor standeth in the way of sinners, nor sitteth in the seat of the scornful.

1:2 But his delight is in the law of the LORD; and in his law doth he meditate day and night.

Jadi meditasi tidak dilarang bahkan dianjurkan. Tetapi meditasi seperti apa?

 

Salam. Stanley Sethiadi.

 

 

Suwarno Liang

unread,
Dec 28, 2009, 8:05:57 PM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com
Bung Sethiadi,

Sptnya pelajaran diberikan kepada anda adalah masih dasar sekali masih
pada seputar pemusatan konsentrasi pada alurnya nafas.

Dalam Buddhism, anda bisa dapat referensi tingkatan2 latihan meditasi
dari link berikut:
http://www.visuddha-m-c.org/vmc%20sg/files/Mainpage/meditation_paauk_meditation_chart.html

disitu anda bisa dapatkan gambaran lengkap bagaimana meditasi Buddhis,
apa itu Vipassana.

Jadi maaf saja, meditasi Buddhis tidak akan bisa disamakan dengan
meditasi Kristen.

Salam,
Suwarno

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 28, 2009, 8:14:54 PM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com, spiritu...@googlegroups.com

Sethiadi:
Meditasi dalam artikata merenungkan tidak dilarang oleh Alkitab, bahkan dianjurkan.
Mazmur 1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

KJV Psalm 1:1 Blessed is the man that walketh not in the counsel of the ungodly, nor standeth in the way of sinners, nor sitteth in the seat of the scornful.
1:2 But his delight is in the law of the LORD; and in his law doth he meditate day and night.

Jadi meditasi tidak dilarang bahkan dianjurkan. Tetapi meditasi seperti apa?

Abin:
Bung sethiadi, coba anda baca kembali pernyataan pastor tersebut:
>> "Dalam meditasi tanpa objek kita belajar mengamati tanpa si pengamat.
>> Dalam kesadaran meditatif ini, tidak ada subjek; karena subjek tidak ada, maka
>> objek pun tidak ada. Yang ada tinggal APA ADANYA."


Apakah MEDITASI dalam pernyataan pastor tersebut itu mengacu pada pengertian meditasi (merenung) Mazmur 1:2 itu ataukah meditasi dalam pengertian bhavana Buddhism?

Dalam banyak hal, kata meditasi mengalami distorsi luar biasa. Merenung, berkontemplasi, melakukan visualisasi sudah sering diterjemahkan sebagai meditasi. Dalam praktik Reiki, melakukan transfer energi pun mereka sebut sebagai meditasi.

Tentunya meditasi yang kita bahas adalah meditasi dalam pengertian BHAVANA sebagaimana diajarkan dalam ajaran Buddha.

Demikian semoga bermanfaat,

Mettacettana,
Abin Adika Ranggala








"sethiadi" <sset...@gmail.com>
Others, 12/28/2009 07:28 PM

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 28, 2009, 9:21:55 PM12/28/09
to spiritu...@googlegroups.com

Sethiadi:
Terima kasih sdr Abin atas segala keterangan Anda. Pastor itu memang mengatakan bahwa metodenya mirip dengan Vipassana.
Tetapi saya bilang terus terang, saya lebih mudah mengerti tulisan Ajahn Brahm daripada tulisan Pastor itu. Saya lebih mudah mengerti tulisan Anda daripada tulisannya. tetapi menurut Anda ketiganya kira-kira sama? Semuanya sesuai dengan Vipassana?

Abin:
Saya agak yakin bahwa ketiganya sama.
Apakah sesuai dengan Vipassana atau tidak, hanya perlu kembali pada konsep Vipassana itu sendiri. Vipassana berarti full aware. 100% aware. Makan DISADARI sebagai MAKAN, JALAN disadari sebagai JALAN. Tidak sedang makan tapi kita tidak menyadari setiap moment niat.
Sederhananya gini:
Ketika berjalan, seluruh kegiatan menggerakkan kaki, membutuhkan NIAT. Niat ini yang perlu disadari MUNCUL TENGGELAMNYA. Kenapa niat ini yang perlu diamati dan disadari? Karena itulah PIKIRAN.

Ketika dari posisi duduk di kursi kerja kantor, saya merasa haus dan ingin mengambil air minum di dispenser, maka di situ ada muncul niat yang timbul tenggelam dengan luar biasa cepatnya... niat untuk mengambil air - niat untuk bergerak menuju dispenser - niat untuk berdiri dari duduk (dan ketika akan berdiri dari duduk akan muncul niat menekan kaki ke lantai, mendorong otot untuk berdiri, menekan tangan di meja untuk membantu mengangkat beban badan ---> semua ini adalah tindakan yang pasti disertai NIAT sebelumnya).

Setelah berdiri, maka akan ada niat untuk bergerak menuju dispenser, maka niat menggerakkan kaki (di sini pun akan muncul niat mengangkat kaki - misal kaki kanan -,  niat memajukan kaki, lalu kemudian niat mengangkat kaki kiri, memajukan kaki. Saat menurunkan kaki biasanya tidak ada niat, karena turunnya kaki adalah karena gravitasi bumi.... setiap gerakan diawali niat hingga menuju meja dispenser... MENYADARI ada dispenser, MENYADARI adanya gelas. Niat mengambil gelas, melakukan tindakan mengambil gelas (eh... di sini ada niat menggerakan tangan, niat mengangkat tangan, niat memajukan tangan, niat menggenggam kuping gelas, niat menarik tangan, niat meletakkan di lubang air dispenser. intinya gerakan-gerakan didahului oleh niat....

Karenanya tidak heran bahwa dalam retret meditasi vipassana, dilakukan secara fullday dan dilakukan secara gerak lamban. Ini untuk memudahkan kita memperhatikan setiap niat/kehendak/cettana yang timbul tenggelam. Pada satu titik pengamatan yang mendalam, meditator akan mampu melihat bahwa segala tindakan selalu didahului oleh NIAT, dan saat itu dia akan melihat bahwa semua proses adalah seperti gerakan frame per frame.... layaknya gerakan rekaman vcd yang tegores dimana gerakan filmnya menjadi terputus-putus frame by frame.

Sethiadi:
Tetapi ketika saya katakan bahwa dahulu saya latihan meditasi dengan bimbingan Ajahn Brahm dan dipandu oleh para Buddhist dari millis samagiphala dan spiritual-world. Konsentrasi pada pernafasan, lalu berusaha hening (kosongkan pikiran). Ia katakan bahwa ia tidak pakai metode apapun dan tidak pakai konsentrasi apapun. Disini ia berbeda dengan meditator lain termasuk Ajahn Brahm. Lagipula ia katakan bahwa tidak dapat orang kosongkan pikiran, itu seperti anjing berputar-putar mau gigit ekornya sendiri. Apa sih maksudnya? Ajahn Brahm atau pastor itu yang lebih sesuai dengan Vipassana?

Abin:
Konsentrasi pada sentuhan nafas di ujung hidung (anapanasati) itu hanya sebagai alat bantu untuk konsentrasi. Selanjutnya tidak memegang obyek nafas, tetapi memperhatian, mengamati seluruh fenomena batin yang muncul. Kalau berpegang kokoh pada nafas terus, maka itu menjadi anapanasati Samatha Bhavana (meditasi untuk ketenangan lewat konsentrasi yang tajam), bukan lagi anapanasati Vipassana Bhavana (meditasi untuk pandangan terang lewat full awareness).


Dalam anapanasati Samatha Bhavana, pernafasan dipegang kuat sebagai obyek. Ketika pikiran mengembara ke sana ke mari, maka pikiran dipaksa kembali berkonsentrasi pada obyek nafas. Sedang dalam anapanasati Vipassana Bhavana, pernafasan dijadikan alat untuk konsentrasi saja (agar tidak menjadi melamun), ketika pikiran mengembara, maka disadari saja, pikiran tidak dipaksa kembali ke obyek.

Semisal, saya melakukan anapanasati, maka saya memusatkan pikiran pada sentuhan keluar masuk nafas di ujung hidung... Lalu saat bermeditasi terdengar suara klakson mobil lewat, pikiran biasanya bereaksi... membayangkan mobil tersebut lewat suara klaksonnya... hmmm... suara klaksonnya jelek... paling mobil pickup... arahnya ke sana... melaju dengan kecepatan tinggi... penumpangnya dua... bla bla bla... pikiran sudah kehilangan obyek... sudah mengembara ke mana-mana....

Jika anapanasati yang saya lakukan adalah Samatha Bhavana, maka pikiran yang mengembara itu HARUS dipaksa balik ke obyek, yakni nafas. Yang sedang dipikirkan itu dihentikan dengan memaksanya balik ke obyek.

Jika anapanasati yang saya lakukan adalah Vipassana Bhavana, maka saya harus menyadari bahwa saya sedang berkhayal, sedang menilai. Yang sedang dipikirkan itu dihentikan dengan menyadarinya. (Kita tidak bisa memikirkan 2 hal dalam 1 moment pikiran. Ketika kita menyadari kita sedang berkhayal, maka khayalan itu sudah buyar pada sepersekian detik yang lalu -- yakni sejak diambil alih oleh apa yang kita sebut sebagai MENYADARI.

So, kalau anda berusaha mengosongkan pikiran, sepertinya anda missleaded. Pikiran bukan dikosongkan... menyadari apa yang sedang dipikirkan membuat apa yang dipikirkan itu terhenti saat itu (lalu mungkin berpindah memikirkan yang lainnya)... Jadi yang dilakukan adalah mengamati secara pasif tanpa melakukan penilaian...

Soal apakah Ajahn Brahm atau pastor tersebut yang benar saya tidak tahu persis. Tapi kalau saya harus memilih guru untuk membimbing saya, dalam hal bhavana, saya akan lebih yakin bahwa seorang bhikkhu Buddhist lebih mumpuni daripada seorang pastor. Seorang bhikkhu melakukan Vipassana sepanjang hari, mulai dari bangun tidur (melek) hingga kembali tidur (merem).

Anda pernah dengar kisah Zen, tentang seorang master Zen yg mengaku hebat berniat menemui seorang master Zen lain di rumahnya untuk adu argumen. Master tersebut masuk ke rumah setelah melepaskan sandal dan meletakkan payung di depan pintu rumah sebelum masuk.
Sesampainya ke dalam rumah dan bertemu sang master satunya, sang master bertanya, "dimanakah kau letakkan payungmu tadi, di kiri atau kanan pintu?"
Sang bhikkhu tergagap dan segera menyadari bahwa ia masih harus belajar banyak lagi dan masih belum mempunyai kesadaran penuh.

Kisah tersebut menggambarkan apa yang disebut sebagai Vipassana.

Semoga bermanfaat.

Mettacettana,
Abin Adika Ranggala








"sethiadi" <sset...@gmail.com>
Others, 12/28/2009 07:17 PM

sethiadi

unread,
Dec 29, 2009, 3:41:33 AM12/29/09
to spiritu...@googlegroups.com
Terma kasih atas pejelasan sdr Suwarno Liang dan sdr Abin. Saya sudah minta izin kepada Pastor itu untuk forward tulisan beliau kepada Anda, karena terus terang saya lebih mengerti apa yang Anda tulis.. Ia persilahkan saya. Ia juga persilahkan saya untuk beritahu nama beliau. Nama beliau adalah Pater Sudriyanta Johanes S.J.
 
Ajahn Brahm menganjurkan kepada meditator pemula untuk konsentrasi pada pernafasan. Kemudian agar berusaha hening selama mungkin. Kelihatannya Pater itu mau tiba-tiba hening. Saya maksudkan dengan "kosongkan pikiran", jangan pikir apa-apa. Betulkah ini?
 
Kelihatannya sdr Abin sudah agak advanced dalam hal meditasi. Saya sangat berterima kasih kepada Anda.
 
Dibawah saya muat tulisan Pater Sudriyanta selengkapnya. Apakah ini sama dengan Vipassana? Atau ada juga perbedaannya? Kalau sama semuanya, saya ikuti buku Ajahn Brahm saja, lebih mudah dimengerti. Mohon petunjuk tambahan dari sdr Abin dan sdr Suwarno Liang.
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

  Tulisan Pater Sudriyanta Johanes.

 

 

Pak Sethiadi,

 

Dalam meditasi tanpa objek kita belajar mengamati tanpa si pengamat. Dalam kesadaran meditatif ini, tidak ada subjek; karena subjek tidak ada, maka objek pun tidak ada. Yang ada tinggal APA ADANYA.

 

Silahkan mengamati atau menyadari tubuh dan batin anda.

 

Pengamatan terhadap tubuh adalah pengamatan terdadap sensasi-sensasi tubuh, termasuk peristiwa melihat, mendengar, mencecap, membau, menyentuh, dst.

 

Pengamatan terhadap batin (mind) adalah pengamatan terhadap gerak pikiran (thought, thinking), perasaan (feeling), gambaran, keinginan, kehendak, dst.

 

Apa yang muncul dalam tubuh dan batin itulah yang diamati tanpa terseret atau terserap pada objek atau tanpa pusat si pengamat. Jangan berfokus pada objek tertentu atau mencoba untuk berkonsentrasi. Sadari saja apa yang datang dan pergi dalam batin dan sensasi tubuh anda.

 

Pengamatan tanpa si pengamat terjadi ketika batin kosong dari seluruh isinya. Kalau batin bergerak, kita memiliki pengalaman ”knowing” yang melibatkan ”a knower”. Pikiran atau si pemikir (ego) menjadi pusat.

 

Ketika batin kosong, muncul pengalaman ”knowing without a knower”. Lalu orang menyebutnya ”cloud of unknowing”. Meskipun si pemikir atau pikiran berakhir, di sini diri yang halus (self/true self) masih aktif bergerak.

 

”The cloud of unknowing” ini suatu saat juga berakhir. Ketika berakhir, muncullah ”cloud of knowing”, yaitu suatu pemahaman akan sesuatu yang tidak berhubungan dengan otak atau batin sehingga tidak meninggalkan jejak pengalaman sama sekali (non-experiential). Kita menyebutnya sebagai pengalaman tanpa-diri (”no-self”). Ketika diri sepenuhnya berakhir, muncullah SESUATU YANG LAIN.

 

Anda bisa mencoba untuk duduk, berjalan, berbaring dalam keadaan SADAR

 

js

From: sethiadi <sset...@gmail.com>
Subject: Meditasi.(2)
To: "Sudrijanta" <sudri...@yahoo.co.uk>
Date: Wednesday, 23 December, 2009, 0:12

Saya sudah baca tulisan Pater "Meditasi tanpa obyek". Tetapi mungkin saya tidak begitu mengerti. Baru-baru ini saya baca ulang. Samar-samar saya mulai mengerti apa yang Pater maksudkan. Ya, Pater menulis :"Meditasi tanpa objek tidak menempatkan Kristus sebagai objek meditasi, namun mengikutiNya sebagai model."
 
Dahulu saya pernah meditasi sendiri berdasarkan ayat Mazmur:
 

1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Tetapi tidak lama dan tidak konsekwen. Bagaimana melaksanakannya secara konsekwen dan tekun dan terus menerus?
Beberapa bulan yang lalu saya masuk millis Samagiphala dan dapat petunjuk dari para Buddhis. Saya kemudian belajar meditasi cara Ajahn Brahm selama 3 bulan. Saya yakin saya tidak sesat karena saya tahu, diabad pertengahan Meister Eckhart juga telah bermeditasi. Tetapi bagaimana cara Eckhart bermeditasi?
Eckhart sangat berjasa untuk gereja. Tetapi beberapa ajarannya dianggap sesat oleh Paus waktu itu. Tetapi karena Eckhart menulis (kira-kira) : "I may be wrong in some of my teaching, but I'm not a heretic." Paus tidak ex-communicate- nya.
Dalam satu artikel ditulis (kira-kira) :" Eckhart dalam meditasinya melihat sebuah lapangan seperti Lao Tze." Pada usia 23 pandangan saya adalah pantheist seperti Lao Tze. Apakah kesan Eckhart waktu itu mirip dengan kesan saya pada usia 23 tahun?
Dapatkah Pater beri saya sedikit pencerahan?
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
 
 
 
 
----- Original Message -----
From: Sudrijanta
Sent: Tuesday, December 22, 2009 12:20 PM
Subject: Re: Meditasi.

Pak Sethiadi,
 
Pendekatan saya berbeda dengan meditasi Ajahn Brahm dan kebanyakan meditasi lainnya. Kebanyakan meditasi masih pakai konsentrasi; meditasi yang saya kembangkan bukan meditasi konsentrasi.
 
Kalau belum mendapatkan buku REVOLUSI, barangkali Anda bisa membaca dulu tulisan "Meditasi tanpa objek" di www.gerejastanna.org. Lalu kita lanjutkan dialognya.
 
js

--- On Mon, 21/12/09, sethiadi <sset...@gmail.com> wrote:

From: sethiadi <sset...@gmail.com>
Subject: Meditasi.
To: sudri...@yahoo.co.uk
Date: Monday, 21 December, 2009, 18:51

Maaf Pater Johanes, bolehkah saya bertanya sesuatu soal meditasi, sambil menunggu buku Pater saya dapat beli di-Gramedia Matraman? Saya pernah latihan meditasi kira-kira 3 bulan dengan petunjuk dari buku Ajahn Brahm dan dipandu para Buddhist dimillis Samagaphala. Apa tidak ada bedanya dengan cara Anda mengajar meditasi? Konsentrasi hanya pada pernafasan. Berusaha hening. Lupakan masa lalu, dan masa depan. Yang ada hanya masakini.
 
Tetapi kemudian saya berhenti karena dapat flu berat. Batuk-batuk terus.
 
Kini saya mau coba lagi. Apa ada petunjuk khusus dari Anda? Tidak perlu konsentrasi kepada Yesus?
 
 
Salam dalam kasih Kristus. Stanley Sethiadi.


Abin...@app.co.id

unread,
Dec 29, 2009, 9:32:46 PM12/29/09
to spiritu...@googlegroups.com

Bung Sethiadi,
Cukup menarik membaca tulisan Romo Sudriyanta Johanes S.J. (SJ di sini tentunya dari Serikat Jesuit khan... tolong koreksi kalau saya salah).

Dari tulisan romo Sudriyanta, saya sangat yakin bahwa beliau minimal mempelajari dasar-dasar meditasi Buddhist, yang sepertinya kemungkinan dimodifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan dalam lingkungan gerejani. Konsep-konsep an-atta dalam ajaran Buddha sesungguhnya akan sulit untuk 'fit-in' dalam konsep-konsep atta yang dianut oleh agama samawi. Meditasi dalam Buddhisme adalah memiliki landasan kuat karena Buddhisme mengajarkan untuk berjuang dengan usaha sendiri, tanpa bantuan dari 'luar'. Atas dasar ini, maka meditasi merupakan sebuah usaha. Sedangkan dalam konsep samawi, segalanya digantungkan pada bantuan dari luar diri, yakni pada the almighty god. Kalau berangkat dari konsep ini, maka tentunya yang dibutuhkan hanya doa permohonan, bukan usaha lewat meditasi. Ini hanya intermezzo saja... hanya ingin memastikan bahwa romo Sudriyanta pasti mempelajari dasar-dasar meditasi Buddhist (Vipassana Bhavana).

Untuk sebagian tulisan romo Sudriyanta saya bisa setuju, namun untuk sebagian lain saya kurang sependapat. Ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan terkait apa yang disampaikan oleh beliau.

Ajahn Brahm menganjurkan kepada meditator pemula untuk konsentrasi pada pernafasan. Kemudian agar berusaha hening selama mungkin. Kelihatannya Pater itu mau tiba-tiba hening. Saya maksudkan dengan "kosongkan pikiran", jangan pikir apa-apa. Betulkah ini?

Apakah anda berlari sebelum bisa merangkak? Semua harusnya dimulai dari tahap-tahapan yang lebih rendah. Sering kali bahkan seorang pembimbing meditasi memulai latihan untuk muridnya dengan latihan duduk tanpa bergerak apapun yang terjadi... mau kram, gatal, gelisah atau apapun... bertahan selama mungkin tanpa bergerak. Ini adalah membiasakan diri.
Ajhan Brahm menganjurkan untuk berkonsentrasi bukan tanpa dasar. Buddha secara eksplisit menyatakan bahwa pikiran itu liar. Liarnya pikiran adalah seperti seekor monyet yang tidak pernah diam. Senantiasa meloncat ke sana ke mari. Konsentrasi berfungsi untuk 'menenangkan' pikiran agar tidak liar. Dalam anapanasati Samatha Bhavana, latihan konsentrasi ini akan mencapai tahapan yang luar biasa, yakni SATI. Sati adalah konsentrasi yang sangat kuat dan tajam. By practice, pencapaian akan semakin baik dan pencapaian itu akan bisa diulang.

Sedang konsep "mau tiba-tiba hening", ini tentunya seperti tiba-tiba berlari tanpa terlebih dahulu berjalan. Bagaimana hasilnya? Mungkin saja terjadi sekali dua kali... sifatnya INSIDENTIL. (karena beliau seorang Katholik yang percaya mukijizat, mungkin mind-set berharap mukjizat itu yang mempengaruhi konsep yang digunakannya. Ada harapan campur tangan 'dari luar'.

Romo Sudriyanta terjebak dalam term-term yang sesungguhnya malah akan mengganggu meditasi itu sendiri. Perlu diingat bahwa ketika kita melakukan meditasi, segala konsep harus ditinggalkan. Jangan membawa konsep-konsep dalam meditasi. Konsep meditasi adalah teori. Meditasi adalah praktik. Jangan pernah sibuk mencocok-cocokan proses meditasi dengan konsep-konsep atau tulisan apapun tentang meditasi.... "oh, saya merasakan ini, apakah ini seperti yang disebut blablabla dalam buku itu?"

Saya cukup berhati-hati untuk menggunakan kata KOSONG dalam bahasan-bahasan spiritual. Sama seperti ketika kita berbicara dalam matematika. Ada perbedaan yang mendasar antara HIMPUNAN KOSONG dengan HIMPUNAN NOL.
Lebih jauh lagi, jika tidak ada wadah, bagaimana mungkin kosong? Apanya yang kosong? Batin? Batin itu Subject atau Object? Kan tidak ada subject dan tidak ada object... lalu apa yang kosong kalau tidak ada subject sebagai wadah???

Saya lebih suka menggunakan istilah pikiran yang terhenti, walau istilah ini tentu akan menimbulkan beberapa permasalahan baru. Bisakah pikiran berhenti?
Pikiran itu hidup di masa lalu (past)... pikiran tidak pernah hidup di masa kini (present). Ketika ada stimulus... misalnya kita melihat seekor kucing... kontak mata dengan obyek adalah present, selebihnya ada judgement terhadap obyek... kucing itu berwarna belang telon, matanya hijau, menggigit seeokor tikus,...bla-bla-bla... ketika kita kemudian MENYADARI (titik ini adalah NOW) bahwa kita sedang melakukan judgement maka semua proses itu sesungguhnya sudah lewat sepersekian detik yang lalu...

Romo Sudriyanta menyatakan "anda bisa mencoba untuk duduk, berjalan, berbaring dalam keadaan SADAR", ini yang sesungguhnya Vipassana dalam ajaran Buddha.

Mungkin anda bisa bertanya pada Romo Sudriyanta, dari mana beliau mendapatkan pengetahuan tentang apa yang disampaikan tersebut, karena jujur saja, secara jelas terlihat bahwa konsep yang mendasarinya adalah bhavana dalam ajaran Buddha, yang sepertinya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ada bagian yang mengalami distorsi.
Saya tidak yakin bahwa anda akan mampu menemukan konsep tentang batin, mengamati batin, sensasi tubuh dan batin, no self dan lain sebagainya dalam ajaran Alkitab. Terkecuali jika beliau berani menyatakan bahwa konsep tersebut diciptakannya sendiri.

Pernyataan "meditasi tanpa objek tidak menempatkan Kristus sebagai objek meditasi, namun mengikutiNya sebagai model" ini cukup 'membingungkan', jika tidak bisa dibilang 'menyesatkan'. Manusia sangat mudah terjebak dalam kata-kata yang indah. Tidak menempatkan Yesus sebagai objek sepertinya akan merupakan sebuah dosa besar, maka untuk menghindarkan dosa tersebut, dikatakanlah mengikutiNYA sebagai model. Setengah mati saya berusaha mencerna kalimat tersebut... "bermeditasi dengan mengikuti Yesus sebagai model" ... tapi saya tidak mampu menerjemahkannya... dalam konteks meditasi.

Jadi, saya tidak heran jika anda lebih mampu memahami tulisan Ajahn Brahm ketimbang Romo Sudriyanta. Tulisan-tulisan Ajhan Brahm memiliki dasar-dasar yang kuat, yakni pada ajaran Buddha. Dalam Abhidhamma, proses-proses batin dijelaskan secara runut dan rinci. Dengan dasar proses-proses inilah meditasi berdiri. Sama seperti memecahkan suatu masalah, anda butuh tahu masalahnya terlebih dahulu. Agaknya cukup menggelikan bahwa Romo Sudriyanta bicara soal proses batin sedangkan dasar-dasar tentang proses batin itu tidak ada dalam ajaran Kristen.
Hal lain dalam literatur Buddhist adalah simplicity... semua dijelaskan dengan sederhana, tidak blunder dan tidak menggunakan istilah-istilah yang dimunculkan untuk menutupi sebuah kebuntuan. "cloud of unknowing" what the heck is that? Juga dalam tulisan Ajahn Brahm anda tidak akan menemukan kalimat-kalimat indah... yang sesungguhnya malah bisa membingungkan.

Semoga bermanfaat
Mettacettana,
Abin Adika Ranggala

note;
Jika dirasa perlu untuk menforward tulisan saya ini pada romo Sudriyanta, saya tidak keberatan dan tidak menjadi masalah bagi saya. Saya menyatakan sesuatu apa adanya, tanpa kata-kata indah yang tidak perlu.

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 30, 2009, 12:16:58 AM12/30/09
to spiritu...@googlegroups.com

Setelah saya baca ulang, saya menangkap 2 penafsiran yang salah, masing-masing dari Romo Sudriyanta dan dari Bung Sethiadi.

Romo Sudriyanta:

Pendekatan saya berbeda dengan meditasi Ajahn Brahm dan kebanyakan meditasi lainnya. Kebanyakan meditasi masih pakai konsentrasi; meditasi yang saya kembangkan bukan meditasi konsentrasi.

Abin:
Koreksi. Meditasi yang dibimbing oleh Ajahn Brahm bukan meditasi konsentrasi (samatha bhavana) tetapi meditasi pandangan terang (vipassana bhavana). Kalau sampai Romo Sudriyanta menyimpulkan bahwa meditasi yang dibimbing oleh Ajahn Brahm adalah meditasi konsentrasi, maka saya dalam hal ini dengan terpaksa menyatakan bahwa saya sangat-sangat meragukan pengetahuan dan pengalaman Romo Sudriyanta soal meditasi.


Bung Sethiadi:  


Kini saya mau coba lagi. Apa ada petunjuk khusus dari Anda? Tidak perlu konsentrasi kepada Yesus?


Abin:
Pertanyaan Bung Sethiadi ini juga mengambarkan bahwa Bung Sethiadi belum bisa membedakan Samatha dengan Vipassana.
Sesungguhnya, meditasi mana yang akan digunakan? Dari diskusi yang sudah, terlihat bahwa Bung Sethiadi berbicara soal Vipassana, karena sempat dibahas segala macam soal mengamati, soal subyek, soal obyek... tapi koq ujung-ujungnya malah muncul pertanyaan "perlu tidakkah konsentrasi pada Yesus". Kalau konsentrasi pada Yesus atau obyek apapun, itu larinya sudah ke Samatha.

sethiadi

unread,
Dec 30, 2009, 2:57:04 AM12/30/09
to spiritu...@googlegroups.com
Abin:
Meditasi dalam Buddhisme adalah memiliki landasan kuat karena Buddhisme mengajarkan untuk berjuang dengan usaha sendiri, tanpa bantuan dari 'luar'
 
Sethiadi:
Terus terang sdr Abin, saya berusaha beberapa kali untuk tidak buat dosa menurut definisi Kristen (Kesepuluh perintah Allah). Tetapi saya sungguh tidak mampu. Saya berdosa lagi dan berdosa lagi.
 
Kemudian saya pelajari "usaha sendiri" dari Buddhisme. Kalau saya nangkap ajaran Sang Buddha dengan benar, saya rasa dalam kehidupan ini sayapun tidak bisa masuk Nibana (atau Nirwana). Entah berapa kehidupan lagi harus saya jalani baru saya bisa sempurna menurut ajaran Buddhisme.
 
Anda sendiri, apakah Anda yakin bisa masuk Nibana setelah kehidupan ini berakhir untuk Anda?
 
Abin:
Apakah anda berlari sebelum bisa merangkak?
 
Sethiadi:
Dalam hal ini saya lebih setuju dengan Ajahn Brahm. Saya "merangkak" saja masih susah payah. Apalagi "berlari".
 
Abin:
Jika dirasa perlu untuk menforward tulisan saya ini pada romo Sudriyanta, saya tidak keberatan dan tidak menjadi masalah bagi saya. Saya menyatakan sesuatu apa adanya, tanpa kata-kata indah yang tidak perlu.
 
Sethiadi:
Terima kasih, akan saya lakukan. Tujuan saya adalah mencari cara meditasi yang sesuai dengan agama Kristen. Saya yakin bahwa hal itu bisa terjadi.
 
Anda mengritik meditasi dalam Mazmur 1 yang saya kutip tempohari. Anda bilang kata meditasi didistorsi. Tidak sdr Abin. Kata Meditasi dapat diartikan begini dan dapat diartikan begitu. Meditasi yang dimaksudkan Mazmur 1 dan banyak lagi ayat-ayat Alkitab, boleh dan dianjurkan. Meditasi seperti yang diajarkan Buddhisme, dengan tujuan masuk Nibana, mungkin tidak dianjurkan di-KeKristenan. Tetapi meditasi mencari kedamaian dalam hati, kestabilan jiwa, ketenangan batin, saya yakin boleh dan sangat baik dilakukan siapa saja. Itulah yang kini saya cari dan dmbakan.
 
Salam. Stanley Sethiadi.

 
--

Abin...@app.co.id

unread,
Dec 30, 2009, 8:54:32 PM12/30/09
to spiritu...@googlegroups.com

Sethiadi:
Terus terang sdr Abin, saya berusaha beberapa kali untuk tidak buat dosa menurut definisi Kristen (Kesepuluh perintah Allah). Tetapi saya sungguh tidak mampu. Saya berdosa lagi dan berdosa lagi.
 
Kemudian saya pelajari "usaha sendiri" dari Buddhisme. Kalau saya nangkap ajaran Sang Buddha dengan benar, saya rasa dalam kehidupan ini sayapun tidak bisa masuk Nibana (atau Nirwana). Entah berapa kehidupan lagi harus saya jalani baru saya bisa sempurna menurut ajaran Buddhisme.
 
Anda sendiri, apakah Anda yakin bisa masuk Nibana setelah kehidupan ini berakhir untuk Anda?

Abin:
Saya mencapai Nibbana pada kehidupan ini? Mungkin saja... tapi saya tidak begitu berharap. Dalam paham Buddhisme, Nibbana adalah bukan suatu tempat tetapi Nibbana adalah suatu kondisi batin.
Kelemahan dalam ajaran Samawi adalah berfokus pada tujuan (surga), bukan pada proses.
Anda pernah baca kish Sufi tentang "membakar surga dan memadamkan neraka"?
Praktisi ajaran Buddha sudah tidak melakukan sesuatu demi nibbana, tetapi melakukan sesuatu yang memang baik untuk dilakukan.

Soal berapa kehidupan lagi yang harus dilalui, so what gitu loh... kenapa harus menjadi beban... Setiap kehidupan adalah kesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan diri... kita menjadi better pada satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Sama dengan kita dalam skala kecil mengatakan bahwa hari ini harus lebih baik dari besok dan besok harus lebih baik dari hari ini.
Praktisi ajaran Buddha tidak lagi melihat satu kehidupan ke kehidupan berikutnya sebagai sesuatu yang terpisah, tetapi merupakan suatu proses yang berkelanjutan.
Sidharta Gautama apakah mencapai kesempurnaan dalam 1 kehidupan??? 10 kehidupan??? 100 kehidupan???  Tidak! Sidharta melewati berkalpa-kalpa kehidupan untuk menyempurnakan diri untuk mencapai Samma-Sambuddha.
Namun pencapaian Nibbana tidak harus selalu melalui jalur Samma-Sambuddha. Ada jalur Arahat, Anagami, Sakadagami, dan Sotapana. Bahkan dengan mencapai tingkat Sotapana, seseorang hanya akan mengalami kelahiran kembali sampai maksimal 7 kali lagi (yang merupakan waktu untuk menyempurnakan pencapaianya. Nah, jika seorang bhikkhu mencapai Sotapana saja, itu sudah cukup menjadi jaminan akan pencapaian Nibbana dalam 7 kehidupan berikutnya... So, apa yang tidak mungkin???

 
Sethiadi:
Terima kasih, akan saya lakukan. Tujuan saya adalah mencari cara meditasi yang sesuai dengan agama Kristen. Saya yakin bahwa hal itu bisa terjadi.

Abin:
Meditasi dalam pengertian yang bagaimana dulu? Itu yang harus didefinisikan dengan jelas dulu.


Sethiadi:
Anda mengritik meditasi dalam Mazmur 1 yang saya kutip tempohari. Anda bilang kata meditasi didistorsi. Tidak sdr Abin. Kata Meditasi dapat diartikan begini dan dapat diartikan begitu. Meditasi yang dimaksudkan Mazmur 1 dan banyak lagi ayat-ayat Alkitab, boleh dan dianjurkan. Meditasi seperti yang diajarkan Buddhisme, dengan tujuan masuk Nibana, mungkin tidak dianjurkan di-KeKristenan. Tetapi meditasi mencari kedamaian dalam hati, kestabilan jiwa, ketenangan batin, saya yakin boleh dan sangat baik dilakukan siapa saja. Itulah yang kini saya cari dan dmbakan.
 
Abin:
Jika meditasi untuk kedamaian dalam hati, kestabilan jiwa, ketenangan batin, maka sesungguhnya anda masuk ke meditasi Samatha Bhavana, bukan Vipassana Bhavana. Dan dalam Samatha Bhavana... anda tidak bisa membahas tentang pencapaian Nibbana. Jika anda membahas pencapaian Nibbana, maka anda harus berbicara dalam ranah Vipassana Bhavana.

Sekedar ilustrasi,
Sidharta Gautama dalam pencariannya, pernah berguru pada dua orang guru meditasi ternama pada jamannya, yakni Alara Kalama dan Uddhaka Ramaputta. Namun akhirnya Sidharta meninggalkan kedua gurunya karena ia tidak menemukan apa yang dicarinya. Kenapa demikian? Karena ternyata kedua gurunya itu mengajarkan meditasi yang berjenis Samatha Bhavana, bukan Vipassana Bhavana.
Nah, dapat pula disimpulkan bahwa ternyata meditasi sudah ada sebelum ajaran Buddha, tetapi pada masa itu adalah Samatha Bhavana. Vipassana Bhavana dapat disimpulkan merupakan ajaran meditasi yang ditemukan oleh Sang Buddha, yang tidak ada pada masa sebelumnya.

Bung Sethiadi,
Saya sesungguhnya agak khawatir dengan kemelekatan anda yang demikian kuat dengan ajaran yang anda yakini. Kemelekatan tidak akan membawa anda pada apa-apa. Pernah ketika seorang bhikkhu pergi bertapa sendirian ke dalam hutan untuk waktu yang cukup lama... ketika dia kembali ke perkampungan, dia ditanya apa yang didapatkannya selama di hutan. Bhikkhu itu menjawab bahwa dia tidak mendapatkan apa-apa... justru dia "melepaskan" banyak sekali.

Saya, walau lebih muda dari anda, tapi saya telah melewati apa yang mencengkeram anda saat ini. Saya pernah sedemikian Katholiknya, lalu saya pernah sedemikian Buddhistnya. Dalam Buddhisme saya menyadari semakin anda melekat, semakin anda sengsara. Akhirnya saya melepaskan semuanya, bahkan saya sudah dalam proses melepaskan ke-Buddhist-an saya. Menjadi seorang Buddhist tidak akan membawa hasil apa-apa bagi saya, walau bagi anda mungkin menjadi Kristen merupakan jaminan tiket surga bagi anda.

Ajaran Buddha itu adalah rakit/alat/sarana untuk menyeberang. Ajaran Buddha bukan seperti ajaran Kristen yang dengan memegangnya kuat-kuat, membelanya mati-matian akan dipertimbangkan oleh Tuhan ketika memutuskan anda akan menuju surga atau neraka.
Rakit itu untuk digunakan untuk menyeberang, bukan untuk di-attach-kan pada diri kita. Kalau saya sudah menyeberang dengan rakit, maka rakit itu akan saya tinggalkan di tepian... akan saya tinggalkan.
Jika anda melekat pada suatu ajaran, maka sama saja setelah menyeberang anda akan memikul rakit itu ke mana-mana.

Terus terang saja, saat ini kalau ada yang bertanya apa agama saya, jawaban saya "atheis".

Saya bertanya-tanya, apakah anda akan melekat demikian kuat pada ajaran Kristen, seandainya anda lahir dalam keluar Islam atau agama lain...
Tidakkah kelekatan anda itu adalah hasil doktrin belaka?

sethiadi

unread,
Dec 31, 2009, 3:12:14 AM12/31/09
to spiritu...@googlegroups.com
Abin:
Saya bertanya-tanya, apakah anda akan melekat demikian kuat pada ajaran Kristen, seandainya anda lahir dalam keluar Islam atau agama lain...
Tidakkah kelekatan anda itu adalah hasil doktrin belaka?

Sethiadi:
Saya lahir dalam keluarga freethinker.  Saya mencari "Kebenaran" dalam usia 16 tahun sebagai seorang agnostik. Pada usia 16 tahun itu saya tolak Alkitab, saya tolak agama Katolik, Protestan, Pentakosta dll. Saya anggap waktu itu kisah-kisah di-Alkitab hanya dongeng-dongeng bagus buat tidurkan anak kecil. Lihat kesaksian saya di-www.freewebs.com/sethiadi/
Saya juga pernah forward dibeberapa millis.
 
 
Abin:
Terus terang saja, saat ini kalau ada yang bertanya apa agama saya, jawaban saya "atheis".
Sethiadi:
Saya belum pernah Ateis. Sebagai agnostik, saya belum ambil sikap apa-apa. Ateis sudah ambil sikap. Dan menurut saya ateis sangat tidak masuk akal. Alam semesta termasuk manusia, sangat sangat sangat kompleks. Tidak mungkin jadi sendiri atau selamanya ada. Ada suatu intelegensi, suatu kuasa dibelakang alam ini. Makin dalam saya pelajari alam semesta ini makin kagum saya pada "Intelegensi" dibelakang alam semesta ini.
 
 
Salam. Stanley Sethiadi.
 
 
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, December 31, 2009 8:54 AM
Subject: Re: [Spiritual-World] Meditasi.


jack

unread,
Jan 1, 2010, 11:37:20 AM1/1/10
to Spiritual World
Hasil pencarian yang luarbiasa ....
Namun sebuah pencarian sudah berhenti saat telah menetapkan akhir dari
pencarian itu sendiri ... "TUHAN".
Karena tidak tahu lalu membuat "kesimpulan" berdasarkan info "Kitab
Suci" yang tidak diketahui siapa sebenarnya yang menuliskan itu semua.

Jika pun benar diketahui, siapa yang mengalirkan semua tulisan tulisan
itu semua. .... "Tuhan".
Dimana sang "Tuhan" berada sebenarnya, apa misi dari Yesus kepada
Paulus untuk mendirikan tubuh "Gereja" yang baru ?.

Dihari moment natal ini, kapan dan dimanakah sebenarnya "kristus"
terlahir dan mencapai kesempurnaan ?

Salam Natal Bro ...

sethiadi

unread,
Jan 3, 2010, 2:43:27 PM1/3/10
to spiritu...@googlegroups.com
Suwarno Liang:

Apakah Anda siap.. setelah anda memasuki Tanpa Pengamat, anda akan
menemukan jati diri alam semesta yang TANPA TUHAN KRISTEN ???

Sethiadi:
Mungkin Anda benar. Saya tidak jadi belajar pada pastor itu. Ajahn Brahm
lebih jujur.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages