Perkembanganfilsafat Islam tidak leapas dari sumbangsih pemikiran filsafat Yunani akan tetapi filsfat Islam tidaklah berdasarkan filsafat Yunani seperti yang ditudingkan oleh sebagaian kalangan hal ini dikarenakan berguru tidak harus menunjukan sesuatu yang sama. Tujuan artikel ini untuk mengetahui sejarah perkembangan filsafat Islam mulai penerjemahan filsafat yunani sampai kemunduran. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan Historical Research sedangkan pengumpulan datanya yaitu literature review. Hasil penelitian menyatakan bahwa poin 3.1) Proses penerjemahan yang dilakukan pada zaman kekhalifahan pada masa khalifah al-Makmum menjadi cikal bakal lahirnya filsuf muslim yang menjadi awal terciptanya filsafat Islam itu sendiri. 3.2) Lahirnya filsafat Islam mendapatkan banyak respon dari berbagai kalangan, ada yang menolak ada pula yang menerima. 3.3) Dalam perjalanannya filsafat Islam mengalami pasang surut terbukti pada tahun 806 M lahirlah filsuf Islam bernama al-Kindi dan al-Razi, akan tetapi pada tahun 840M terjadi pertentangan oleh Imam Ibnu Hanbal, baru pada tahun 870M terjadinya perkembangan filsafat kembali yang dipelopori oleh al-Farabi dan Ibnu Sina akan tetapi pada tahun 1058M pertentangan kembali terjadi oleh Al-Ghazali hingga pada akhirnya pada tahun 1153M Ilmu filsafat kembali berkembang yang diperkasai oleh Subrawardi dan Ibnu Arabi
Author allows readers to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full texts of its articles and allow readers to use them for any other lawful purpose. The journal allows the author(s) to hold the copyright without restrictions. Finally, the journal allows the author(s) to retain publishing rights without restrictions.
Dengan anggapan-anggapan ini, filsafat bukan saja tidak menarik dipelajari, tetapi juga bayangannya sedemikian suram dan penuh dengan ketakutan-ketakutan seperti, takut sesat, takut murtad, bahkan takut menjadi kafir. Citra buruk (bad image) yang muncul belakangan bahwa filsafat Islam itu bercitra sulit dipelajari, pada dasarnya itu terjadi karena filsafat Islam efek diasingkan dari realitas peradaban Islam.
Pun, lazim terjadi, filsafat sering disinyalir laksana pisau bermata dua; satu dapat bernilai positif manakala digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan kemanusiaan. Namun, tidak jarang pula, satu dimensi yang lainnya digunakan untuk keburukan, bahkan kejahatan sehingga tidak jarang menghadirkan dan menyisakan nestapa kemanusiaan.
Namun kali, penulis tak akan membahas apakah filsafat bisa menyesatkan apakah tidak, melainkan mengajak pembaca untuk menapaki jejak historis filsafat Islam. Sudah jelas bahwa filsafat (sebagaimana telah dijelaskan dalam berbagai literatur) berasal dari Keldania (sekarang Irak), kemudian pindah ke Mesir, lalu ke Yunani, Suryani, dan akhirnya sampai ke negeri Arab. Filsafat pindah ke negeri Arab setelah datangnya Islam.
Syahdan, di abad pertama sejarahnya, Islam tidak membawa filsafat. Meskipun semenjak awal, Islam memungkinkan pembicaraan tentang etimologi Islami atau etika Islami, namun pada saat itu belum berkembang kesadaran akan metode dan sistem kefilsafatan. Meskipun demikian, dalam perkembangannya lantaran pengaruh Persia, membuat Islam bersinggungan dengan filsafat-filsafat kuno.
Wilayah-wilayah penyebaran Islam memiliki warisan Hellenis sebagaimana yang dikembangkan oleh gereja-gereja Timur, ia merupakan pengaruh yang ditinggalkan oleh Iskandar Agung, jauh sebelum Islam. Bahwa bangsa Nestoria tetap mempertahankan sebuah aliran filsafat di Jundishapur (atau Gandisapora) di dekat Ahvaz, Persia, sejak abad ke-3 Masehi.
Rupanya, keadaan mulai berubah secara progresif, terutama setelah kaum muslimin membentuk suatu negara raksasa yang membentang dari penghujung negeri Cina di timur, sampai ke penghujung semenanjung Andalusia (Spanyol) di Barat. Mereka telah menerima dan memegang panji-panji peradaban dunia, mendalami berbagai disiplin ilmu dan seni, serta merenungkan dasar-dasarnya.
Watak ajaran Islam adalah terbuka, oleh sebab itu sesuai dengan perkembangan dan perluasan wilayah Islam itu sendiri, maka ajaran Islam tidak bisa lepas dari pergumulan dengan budaya dan pengetahuan bangsa lain serta berkembang semakin luas dan menyangkut berbagai disiplin ilmu, termasuk filsafat. Pertanyaannya adalah bagaimana filsafat masuk ke dunia Islam?
Hampir semua pemikir mengatakan bahwa, filsafat masuk ke dalam pemikiran Islam melalui kontak yang terjadi di pusat-pusat peradaban Yunani yang terdapat di Aleksandria (Mesir), Antiokhia (Suriah), Jundisyapur (Irak), dan Bakhtra (Persia). Budaya dan Filsafat Yunani masuk ke negeri-negeri tersebut dengan adanya ekspansi Alexander Agung (Alexander The Great), yang dalam bahasa Arab disebut Iskandar Zulkarnain.
Ekspansi yang dilakukannya terjadi sekitar abad ke-4 Sebelum Masehi. Selanjutnya wilayah-wilayah tersebut, jatuh ke dalam kekuasaan Islam pada permulaan abad ke-7 M. Dari sini timbullah para filsuf Muslim seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Ibnu Thufail, dan Al-Farabi.
Terhadap hal ini, kita bisa melihat dari konsep antropo-kosmologi Islam, yang banyak memberikan perhatian dan perkembangan intelektual; suatu metode pengetahuan yang berdasarkan akal budi, menggunakan penelitian, analisis kritis, dan berusaha menemukan hubungan-hubungan yang dapat diterima akal dari gejala-gejala yang ada.
Karena itu, tidak mengherankan jika dalam suasana ini, pengaruh filsafat Barat (terutama melalui Yunani) pada masing-masing bagian daerah kaum Muslim begitu besar, dan berhubungan dengan kolonialisme yang dominan di masing-masing daerah Islam.
Jika demikian, sekiranya dewasa ini, filsafat Barat mutakhir bisa dipetakan dengan filsafat Inggris-Amerika (yang dominan dengan positivisme-logis), filsafat Perancis (yang dominan dengan fenomenologi, eksistensialisme, strukturalisme, dan post-strukturalisme serta postmodernisme), dan filsafat Jerman (yang dominan dengan tradisi Neo-Hegelianisme dan penafsiran baru atas Hegel-Marx melalui The Frankfurt School), maka filsafat Islam kontemporer juga bisa dipetakan dalam alam pemikiran Islamnya yang didominasi oleh tradisi filsafat Inggris-Amerika, Perancis, atau Jerman.
Jika diperhatikan, sangat banyak kacamata sinis memandang sebelah mata pemikiran Timur sebagai bukan filsafat melainkan sebagai agama, karena dianggap terlampau transenden, surealis, tidak logis dan irrasional, tidak sistematis juga tidak kritis. Jika memang demikian, tentu satu pertanyaan lugu segera bisa kita ketengahkan.
Apakah kriteria radikal (berpikir secara mendalam dan tuntas), sistematis, dan kritis memang berasal dari dan hanya bisa dilakukan oleh Barat? Logika paralel yang bisa diketengahkan adalah: apakah teori emanasi (faidl) al-Farabi, teori iluminasi (isyraq) Suhrawardi, konsepsi safar-nya Mulla Shadra yang ternyata tidak jauh beda dengan pemikiran dan ajaran Buddha, Konfusius, dan Lao Tzu tidak termasuk filsafat?
Inilah yang kemudian layak disangsikan, karena memang seringkali kategorisasi filsafat dan bukan filsafat ditentukan oleh Barat yang cenderung selalu memaksakan kriteria-kriterianya terhadap Timur. Padahal, kita tahu al-Kindi, ar-Razi, al-Farabi, dan Ibnu Sina telah jauh menggumuli masalah klasik perbedaan antara esensi dan eksistensi ketika masyarakat dunia Barat masih belum banyak berkembang.
Justru pemikiran-pemikiran Timur lah yang banyak memiliki kedalaman, bersifat analitis, dan kritis, bahkan melampaui pemikiran Barat, misalnya Konfusius Lao Tzu dan Siddharta Gautama, meski pemikiran mereka di satu sisi tidak jarang diterima begitu saja oleh para penganutnya tanpa suatu kajian kritis, terkadang hanya dipahami dan ditafsirkan, untuk kemudian diamalkan sebagai way of life atau manhaj al-hayah.
Begitu juga, jika menilik fakta-fakta sejarah dan ilmiah dari tradisi berfilsafat itu sendiri, yakni: kritis, sistematis dan radikal. Maka tak disangsikan lagi bahwa filsafat Timur memenuhi segala kriteria filsafat. Barangkali, satu kegelisahan yang tidak mungkin kita tolak deru-deramnya adalah perbedaan filsafat Timur dengan Barat.
Telah mafhum kiranya, filsafat Barat sejak zaman Yunani kuno hingga post-modernisme menjadikan akal budi sebagai episentrum kajian, filsafat Timur tidak hanya berangkat dari akal budi, tetapi bahkan melampauinya dengan memberi apresiasi dan afirmasi pada roh, hati, dan olah jiwa.
Hati, dalam tradisi Timur dipahami sebagai instrumen yang mempersatukan rasio dan intuisi, serta intelegensi dan perasaan. Sementara, roh adalah spektrum dari kehadiran dan keabadian Tuhan dalam diri dan denyut kehidupan manusia yang serba temporer, cenderung muspra dan centang-perenang.
Konon, dalam berbagai Kitab Suci agama-agama disebutkan bahwa roh dan nafsu senantiasa bergumul dan berperang untuk menuntaskan metamorfosis dari kesejatian masing-masing dalam diri dan di luar diri. Tidak mengherankan jika filsafat Timur menembus dinding-dinding waktu dan melintasi rotasi masa sekian ratus generasi untuk kemudian menginspirasi perjalanan sejarah manusia.
Dalam teori Ali Sami al-Nasysyar, sesungguhnya, orang-orang Islam telah mengenal filsafat Yunani, tidak hanya pada Masa Abbasiyyah, namun telah ada sejak masa Dinasti Umayyah. Al-Nasysyar mengajukan dua alasan penguatnya menyangkut kedinian masuknya filsafat ke dunia Islam.
Pertama, menurutnya telah terjadi kontak intelektual antara orang-orang Islam dengan pemuka-pemuka gereja di Syam dan Mesopotamia, karena pemuka-pemuka agama itu adalah guru-guru filsafat Yunani pada gereja-gereja dan biara-biara.
Kedua, bahwa Khalid bin Walid telah memerintahkan pakar-pakar Yunani yang tinggal di Iskandariyah (Mesir) untuk menerjemahkan Organon (Kitab Logika Aristoteles) ke dalam Bahasa Arab. Dua alasan ini kata al-Nasysyar menunjukkan fakta bahwa orang-orang Islam telah mengenal filsafat Yunani pada masa Bani Umayyah, pada abad pertama Hijriyah.
Pergumulan antara bangsa satu dengan bangsa lain di dunia hampir tak bisa dihindari sama sekali. Implikasi dari semua ini adalah, tidak adanya kemurnian budaya satu pun di dunia ini. Dan biasanya negara besarlah yang memiliki pengaruh dan bersifat hegemonik. Hanya, Islam memiliki orisinalitas dan otentisitas ajaran.
3a8082e126