Cerita Nyi Roro Kidul Pdf

0 views
Skip to first unread message

Julia Dodoo

unread,
Aug 5, 2024, 4:34:37 AM8/5/24
to somuchardbrax
Dalammitologi Jawa, Kanjeng Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping Telu yang mengisi alam kehidupan sebagai dewi padi dan dewi alam yang lain. Sedangkan Nyi Roro Kidul mulanya merupakan putri Kerajaan Sunda yang diusir ayahnya karena ulah ibu tirinnya.

Nyi Roro Kidul juga dikenal dengan berbagai nama yang mencerminkan berbagai kisah berbeda dari asal-usulnya, legenda, mitologi, dan kisah turun-temurun. Ia lazim dipanggil dengan nama Ratu Laut Selatan dan Gusti Kanjeng Ratu Kidul.[2] Menurut adat-istiadat Jawa, penggunaan gelar seperti Nyai, Kanjeng, dan Gusti untuk menyebutnya sangat penting demi kesopanan.


Terkadang orang juga menyebut namanya sebagai Nyai Loro Kidul. Bahasa Jawa loro merupakan sebuah homograf untuk "dua - 2" dan "sakit, menderita". Sementara bahasa Jawa rara (atau roro) memiliki arti "gadis". Seorang ortografer Belanda memperkirakan terjadinya perubahan dari bahasa Jawa kuno roro menjadi bahasa Jawa baru loro, sehingga terjadi perubahan arti dari "gadis cantik" menjadi "orang sakit".[3]


Masyarakat Sunda mengenal legenda mengenai penguasa spiritual kawasan Laut Selatan yang berwujud perempuan cantik yang disebut Nyi Rara Kidul. Legenda yang berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran dari abad ke-15 berumur lebih tua daripada legenda Kerajaan Mataram Islam dari abad ke-18. Meskipun demikian, penelitian atropologi dan kultur masyarakat Jawa dan Sunda mengarahkan bahwa legenda Ratu Laut Selatan Jawa kemungkinan berasal dari kepercayaan animistik prasejarah yang jauh lebih tua lagi, dewi pra-Hindu-Buddha dari samudra selatan. Ombak Samudra Hindia yang ganas di pantai selatan Jawa, badai serta terkadang tsunami, kemungkinan telah membangkitkan rasa hormat serta takut terhadap kekuatan alam, yang kemudian dianggap sebagai alam spiritual para dewata serta lelembut yang menghuni lautan selatan yang dipimpin oleh ratu mereka, sesosok dewi, yang kemudian diidentifikasikan sebagai Ratu Kidul.


Salah satu cerita rakyat Sunda menceritakan Dewi Kadita, putri cantik dari kerajaan Sunda Pajajaran, yang melarikan diri ke lautan selatan setelah diguna-guna. Guna-guna tersebut dikeluarkan oleh seorang dukun atas perintah saingannya di istana (ibu tiri) , dan membuat putri tersebut menderita penyakit kulit yang menjijikkan. Ia mendapat bisikan gaib dari ibunya untuk melompat ke lautan yang berombak ganas dan kemudian ia menjadi sembuh serta kembali cantik. Para lelembut kemudian mengangkatnya menjadi Ratu Lelembut Laut Selatan yang legendaris.[4]


Versi yang serupa adalah Kandita, putri tunggal Raja Munding Wangi dari Galuh Pakuan. Karena kecantikannya, ia dijuluki Dewi Srngng ("Dewi Matahari"). Meskipun mempunyai seorang putri yang cantik, Raja Munding Wangi bersedih karena ia tak memiliki seorang putra yang dapat menggantikannya sebagai raja. Raja kemudian menikah dengan Dewi Mutiara dan mendapatkan putra dari pernikahan tersebut.


Dewi Mutiara ingin putranya dapat menjadi raja tanpa ada rintangan di kemudian hari, sehingga ia berusaha menyingkirkan Kandita. Dewi Mutiara menghadap Raja dan memintanya untuk menyuruh Kandita pergi dari istana. Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putrinya. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara tersenyum dan berkata manis sampai Raja tidak marah lagi kepadanya.


Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang tukang tenung. Dia menyuruh sang dukun untuk meneluh Kandita. Pada malam harinya, tubuh Kandita gatal-gatal dipenuhi kudis, berbau busuk dan penuh bisul. Ia menangis tak tahu harus berbuat apa. Raja mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan Kandita serta sadar bahwa penyakit tersebut tidak wajar, pasti berasal dari guna-guna. Dewi Mutiara memaksa Sang Raja untuk mengusir putrinya karena dianggap akan mendatangkan kesialan bagi seluruh kerajaan. Karena Sang Raja tidak menginginkan putrinya menjadi gunjingan di seluruh kerajaan, ia terpaksa menyetujui usulan Dewi Mutiara untuk mengasingkan putrinya dari kerajaan.


Kandita pergi berkelana sendirian tanpa tujuan dan hampir tidak dapat menangis lagi. Ia tidak dendam kepada ibu tirinya, melainkan meminta agar Sanghyang Kersa mendampinginya dalam menanggung penderitaan. Hampir tujuh hari dan tujuh malam, akhirnya ia tiba di Samudra Selatan. Air samudra itu bersih dan jernih, tidak seperti samudra lain yang berwarna biru atau hijau. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Ia melompat dan berenang, air Samudera Selatan melenyapkan bisulnya tanpa meninggalkan bekas, malah membuatnya semakin cantik. Ia memiliki kuasa atas Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi yang disebut Nyi Roro Kidul yang hidup abadi. Kawasan Pantai Palabuhanratu secara khusus dikaitkan dengan legenda ini.


Dalam salah satu cerita rakyat Sunda, Banyu Bening ("Air Jernih") menjadi ratu dari kerajaan Joyo Kulon. Ia menderita lepra kemudian berkelana menuju selatan. Ia ditelan ombak yang besar dan menghilang ke dalam samudra.[5]


Nyi Roro kidul dikenal sebagai penguasa Laut Selatan. Kisah Nyi Roro Kidul menjadi legenda cerita rakyat di Jawa. Masyarakat mempercayai keberadaan Nyi Roro Kidul ada di pantai laut selatan. Nyi Roro Kidul identik menggunakan pakaian bernuansa hijau lengkap dengan atribut anggota kerajaan di masa lampau.


Dalam cerita legenda, Nyi Roro Kidul adalah keturunan Raja Prabu Siliwangi dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Berikut cerita legenda Nyi Roro Kidul singkat, mengutip dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler: meliputi legenda, mitos, fabel.


Nyi Roro Kidul adalah putra Raja Prabu Siliwangi dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Ibunya merupakan permaisuri kinasih (paling disayangi) oleh Prabu Siliwangi. Nyi Roro Kidul sebelumnya bernama Putri Kandita. Sang putri memiliki paras cantik melebihi kecantikan ibunya. Tidak heran jika putri Kinasih menjadi kesayangan sang raja.


Rencana jahat selir dan putra-putri raja terlaksana. Putri Kandita dan ibunya tiba-tiba terserang penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Mereka dikucilkan hingga diusir dari istana atas desakan selir dan putra-putrinya.


Akhirnya putri Kandita dan permaisuri pergi ke arah selatan wilayah kerajaan. Tetapi dalam perjalanan tersebut, sang permaisuri meninggal dunia. Akhirnya Putri Kandita mengembara sendiri. Dia sampai di sebuah aliran sungai, kemudian menghirup air sepuas hatinya. Setelah menghirup air, tubuhnya menjadi segar kembali.


Putri kandita lalu menyusuri aliran sungai sampai ke arah hulu. Akhirnya dia menemukan beberapa mata air yang menyembur deras. Kemudian putri Kandita berendam dalam sungai tersebut. Dalam kesendiriannya dia menetap di dekat sumber air panas dan melatih olah kanuragan. Setelah sekian lama mandi di sungai, secara berangsur penyakitnya hilang.


Kemudian putri Kandita melanjutkan perjalanan ke arah hilir sungai. Dia terpesona melihat muara sungai berada dekat laut. Akhirnya dia bermukim di tepi laut, sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran. Selama menetap, putri Kandita dikenal luas sebagai wanita cantik dan digdaya.


Banyak pangeran muda yang ingin mempersuntingnya. Untuk menghadapi para pelamar, putri Kandita mengajukan syarat. Siapa yang ingin mempersuntingnya harus mengalahkan kesaktiannya, termasuk bertempur dengan gelombang laut di pantai selatan pulau Jawa. Sebaliknya jika mereka kalah harus tunduk menjadi pengiringnya. Pertempuran tersebut sering terjadi di teluk pantai selatan.


Putri Kandita berhasil menguasai gelombang laut selatan. Kemudian dia mendapatkan gelar Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul yang artinya Ratu Penguasa Pantai Selatan. Pesan moral yang didapat dari cerita ini yaitu penderitaan dapat dijalani dengan usaha, doa, serta kesabaran.


Berawal dari Mulajadi Nabolon, sang dewa pencipta yang menjadikan Ihatmanisia (laki-laki) dan Siboru Ihatmanisia (wanita). Pasangan ini memiliki keturunan yang sakti mandraguna. Kemudian dari dua generasi selanjutnya lahirlah Ompu Siraja Batak.


Di puncak bukit di atas Desa Sianjur Mulamula ada sebuah tempat yang dibangun untuk Guru Tatea Bulan dan anak-anaknya. Sebuah bangunan dengan sejumlah patung sakral sebagai perwujudan mereka berdiri di sana, Sopo Guru Tatea Bulan.


Dalam ceritanya Guru Tatea Bulan memiliki 10 orang anak kembar. Tiap lahir, anaknya selalu berpasangan, laki-laki dan perempuan. Anak yang paling besar diberi nama Si Raja Uti, Sariburaja, Limbong Mulana, Sagalaraja, Silauraja, Siborubiding Laut, Siborupareme, Anting Haumasan, Sipunggahaumasan dan Nan Tinjo.


Halaman 1 2 Selanjutnya ratu pantai selatannyi roro kidulsiborubiding lautsibiding lautguru tatea bulansianjur mulamulasamosir .skybanner width: 160px; #bt_tkt article:nth-child(n+9) display: none; Berita Terkait Batu Parsidangan, Tempat Hukuman Mati Pelanggar Adat di Samosir Fakta dan Sejarah Pantai Parangtritis Yogyakarta Larangan Pakai Baju Hijau di Pantai Palabuhanratu, Sekedar Mitos? Datang ke Samosir, Harus Coba Menari Tor-tor di Desa Wisata Tomok Kabar 'Makam Nyi Roro Kidul' di Tangerang Bikin Gempar 'Makam Nyi Roro Kidul' Buatan Warga di Tangerang Akhirnya Dibongkar Penampakan 'Makam Nyi Roro Kidul' yang Bikin Geger Warga Tangerang Polisi: 'Makam Nyi Roro Kidul' di Tangerang Dibuat untuk Menarik Pasien Rencanakan Liburanmu! Rekomendasi Wisata Seru dan Populer

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages