Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Wawancara Eksklusif: H.M. Soeharto: Nyatanya, Saya Tidak Korupsi

35 views
Skip to first unread message

Adrian Dharma Wijaya (Adri)

unread,
Nov 20, 2007, 10:38:52 PM11/20/07
to
di copy dari milis sebelah

HYPERLINK
"http://www.gatra.com/artikel.php?id=109228"http://www.gatra.-com/artikel.-php?id=109228


Wawancara Eksklusif
H.M. Soeharto: Nyatanya, Saya Tidak Korupsi

Matahari belum sepenggalah ketika H.M. Soeharto berjemur di pekarangan
rumahnya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, pertengahan Ramadan lalu.
Di pagi cerah itu, Pak Harto, 86 tahun, menghangatkan tubuhnya dengan duduk
menyandar di kursi taman. Usai bermandi cahaya matahari, ia kemudian
berjalan ke ruang keluarga.

Langkahnya tertatih-tatih. Tak sampai 10 meter berjalan, Pak Harto sudah
tampak kelelahan. Napasnya tersengal. Tubuhnya pun tampak terhuyung, tapi
dengan cepat dipegang oleh pengawalnya ketika mengulurkan tangan untuk
menyalami tim Gatra yang datang. Toh, ia menyebut kesehatannya tidak ada
masalah. "Saya baik-baik saja," katanya seraya melempar senyumnya yang khas.

Namun tampaknya dua kali serangan stroke, ditambah usianya yang semakin
lanjut, membuat kondisinya jauh menurun. Tangannya tak berfungsi normal.
Bahkan, pada saat akan duduk di kursi, Pak Harto harus sering dibantu
pengawal setianya, Letkol (purnawirawan) I Gusti Nyoman Sweden, 61 tahun.

Purnawirawan polisi militer itu bertugas di ring satu Cendana sejak
berpangkat letnan. "Sudah 20 tahun saya mengawal Bapak," tutur Sweden, yang
menjelang H.M. Soeharto lengser pada Mei 1998 menjabat sebagai Komandan
Detasemen Pengamanan Khusus, satuan pada Pasukan Pengamanan Presiden
(Paspampres) yang ditempatkan di ring satu.

Sehari-hari, kini Sweden menemani Pak Harto mulai subuh hingga malam. Tak
mengherankan bila ia lebih sering menginap di Jalan Cendana ketimbang pulang
ke rumah pribadinya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur. Sweden merasa
tak enak hati bila terlalu sering meninggalkan Cendana.

Tak banyak perwira mantan Paspampres yang berada di sekitar Pak Harto.
Sebagai mantan presiden, semestinya Pak Harto berhak mendapat pengawalan
anggota Paspampres aktif. Tapi tak ada lagi yang ditempatkan di sana.

Kini dia hanya dijaga 10 pensiunan Paspampres, termasuk Sweden. Yang lain
adalah satpam sebanyak 15 personel yang bertugas secara bergiliran. Keadaan
ini berbeda dari para penerusnya, baik B.J. Habibie, Gus Dur, maupun
Megawati Soekarnoputri, yang masih mendapat pengawalan personel militer
aktif.

Ditemani Nyoman Sweden, mantan Presiden Soeharto menerima tim Gatra untuk
sebuah wawancara. Ini kali pertama Pak Harto bersedia ditemui pers sejak
lengser pada Mei 1998. Wawancara berlangsung di ruang keluarga kediamannya,
yang disekat dari ruang makan oleh rana kayu jati berhiaskan ukiran kulit
sosok Pandawa Lima.

Ruang keluarga itu tampak sederhana untuk ukuran rumah seorang mantan
presiden. Langit-langit ruangan itu terlampau pendek, membuat sirkulasi
udara di dalamnya terasa terbatas. Tak terlihat perabotan baru. Satu-satunya
perkakas yang terbilang keluaran abad ke-21 hanyalah televisi layar datar 36
inci merek Samsung, ditambah sebuah jam meja berbentuk bundar bertuliskan
"Peringatan 1.000 Hari Wafatnya L.B. Moerdani".

Di luar itu, semuanya stok lama. Ada satu set sofa dengan bingkai kayu jati
ukiran khas Jepara. Ada juga meja ukir dengan beberapa toples. Isinya
makanan ringan, seperti keripik tempe, pisang sale (semacam keripik pisang),
emping melinjo, dan kacang mete. Sebuah keranjang buah ada juga di sana,
berisi buah duku yang sebagian besar kulitnya sudah menghitam.

Mantan Presiden Soeharto duduk membelakangi rana. Usia sepuh, ditambah
kondisi fisik yang semakin renta, membuatnya tak mampu lagi duduk tegak.Ia
selalu menyandarkan badan di kursi.

Pak Harto juga selalu kesulitan berbicara atau gagap pada saat mengawali
ucapan. Ia seperti kesulitan memilih kata-kata. Kalaupun sempat mengucapkan
kalimat panjang, hampir selalu ditutup dengan suara batuk-batuknya.
Pedengarannya makin terbatas, Karena itu, tim Gatra yang terdiri dari Putut
Trihusodo, Heddy Lugito, dan Herry Mohammad harus "setengah berteriak"
ketika mewawancarainya. Pak Harto pun hanya menjawab dengan kalimat-kalimat
pendek. Petikannya:

Apakah kesehatan Bapak sekarang cukup baik?
(Mantan Presiden Soeharto hanya tersenyum. Tidak menjawab sepatah kata pun).

Bapak baik-baik saja?
Saya baik-baik saja.

Bapak masih sempat mengurus yayasan-yayasan yang dulu Bapak dirikan?
Dhar, Dhar... Dharmawis (maksudnya Dharmais) itu bantu orang miskin (Pak
Harto sering gagap pada saat mengawali ucapan). Bantu orang tua jompo
operasi mata.

Tahun ini, Yayasan Dharmais masih menyalurkan bantuan? Berapa besar?
(Pak Harto tidak menjawab. Ia mengangkat kepala, lalu menyandarkannya
kembali di bantalan kursi. Beberapa saat kemudian, ia memencet tombol bel di
meja kecil, di samping tempat duduknya. Sweden bergegas mendekat. Lalu
tangan Pak Harto menunjuk ke arah tumpukan berkas di meja sambil
mengucapkan, "Dharmais, Dharmais, laporan...." Sweden segera mengambil
berkas itu dan menyerahkannya pada Pak Harto).

(Berkas itu adalah laporan penyaluran dana Yayasan Dharmais yang diterima
pada hari itu juga. Setelah mencermati berkas itu, Pak Harto kemudian
memberikannya kepada Gatra. Isinya menyebutkan, selama tahun 2007 Yayasan
Dharmais menyalurkan dana sebesar Rp 32 milyar).

Disalurkan ke mana?
Seribu... seribu seratus... (Pak Harto masih terus menatap angka-angka di
map tersebut sambil berpikir keras. "Seribu lima ratus lima puluh panti
asuhan dan panti jompo," Sweden membantu membacakan. Ia juga menunjukkan
data bahwa bantuan itu jatuh ke 47.500 anak yatim piatu dan orang tua jompo
yang tersebar di 1.550 panti di seluruh Indonesia. Yayasan Dharmais pun
membiayai operasi katarak dan bibir sumbing warga miskin).

Dari mana sumber dana Yayasan Dharmais itu?
Penghasilan Dharmais itu dari rente.

Bunga bank?
Ya, bunga dana abadi. Seluruhnya dari rente untuk menghidupkan yayasan.

Kalau begitu, dana abadi milik yayasan itu tidak akan habis?
Ya. Umpamanya dipakai 7%, sisanya 30% disimpen.

Maksudnya, dari bunga dana abadi itu, yang dipakai 70%, kemudian yang 30%
disimpan?
Apa namanya, 30% disimpen. Lantas 70% disimpen, biar tambah terus. Kontinu,
membantu orang miskin. (Tampaknya Pak Harto kesulitan menjawab pertanyaan
panjang. Jawabannya sering tidak klop dengan persoalan yang ditanyakan).

Jadi, Bapak menginginkan yayasan itu terus-menerus memberi bantuan?
Ya. Kontinu, terus.

Yayasan lainnya apa saja?
Ada tujuh. Supersemar mengatasi kemiskinan. (Sebenarnya Yayasan Supersemar
begerak di bidang pendidikan. Boleh jadi, Pak Harto kini sudah lupa tentang
fungsi dan peran masing-masing yayasan yang didirikannya)-.

Selain Yayasan Supersemar, yayasan apa lagi?
Lantas itu, Dharmais, Mandiri, Gotong Royong, YAM (Yayasan Amal Bhakti
Muslim) memberi bantuan masjid.

Apakah Yayasan Amal Bhakti sekarang masih bisa membangun masjid?
Tinggal 33 yang belum. Kompletnya 999, nanti tahun 2009.

Kalau sudah 999, apa masih akan membangun masjid lagi?
Mem, mem... membangun lagi. Ada lagi, terus saja.

Akan membangun masjid sampai berapa jumlahnya?
Membangun satu, satu, satu lagi, sampai 999. Nyambung terus.

Mengapa harus 999?
Sembilan, sembilan, sembilan dibagi-dibagi jadi 99. Itu asmaul khusna (99
adalah nama-nama keagungan Tuhan dalam ajaran Islam).

Yayasan Dakab juga masih melakukan kegiatan?
Dakab mengentasken kemiskinan. Keseluruhannya mengentasken kemiskinan.

Ada yayasan yang bergerak di bidang pertanian?
Ada juga.

Karena Bapak ahli pertanian, ya? (Pertanyaan diulang dua kali)
He, he, he... cita-citanya. Cita-citanya itu. Yayasan pertanian, apa
namanya, Mekar Sari. Oleh Mamiek (putri bungsu Pak Harto) dikembangken jadi
pembibitan buah. Eh, apa namanya, luasnya dua, dua, 250 hektare.

Apakah pengurus yayasan memberikan laporan rutin?
Ada laporan. Ada tanggung jawab.

Masih sempat hadir dalam rapat yayasan?
Saya hadir, akan tetapi tempo-tempo.

Berapa besar dana yang disalurkan seluruh yayasan per tahunnya?
Ehm, ehm, ehm... (Pak Harto terbatuk-batuk)-. Dharmais itu untuk pendidikan,
kebudayaan (Pak Harto lupa bahwa Yayasan Dharmais bergerak di bidang
kesehatan dan batuan sosial).

Jumlah dana yang disalurkan berapa?
Itu ditanyaken pada Yono (maksudnya Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan
Menteri Kependudukan, kini menjadi Ketua Harian Yayasan Dharmais).

Ketika dituduh melakukan korupsi, apakah Bapak merasa sakit hati?
He, he, he... biarken saja. Biarken ngomong, pating celomet. Biarken saja
disangka korupsi. Nyatanya, saya tidak korupsi. Lantas saya dikasih satu
trilyun.

Satu trilyun karena menang gugatan terhadap majalah Time. Akan digunakan
untuk apa uang itu?
Kalau sudah dibayar, apa namanya, untuk pajak 350%.

Maksudnya 350 milyar atau 35% untuk membayar pajak?
Ya, ya. Sisanya untuk bantu orang miskin.

Tapi, sisanya kan masih banyak?
He, he, he... sugih dadakan (kaya mendadak). He, he, he... semua
disumbangkan fakir miskin.

Apa benar Bapak punya tanah di mana-mana?
He, he... ndak benar.

Tanah di Tapos itu atas nama pribadi atau yayasan?
Tanah pemerintah, hak guna usaha. Dipakai mengembangken domba dan sapi untuk
rakyat. Apa namanya, anak sapi dan kambing itu diberikan rakyat.

Bapak juga dikabarkan punya simpanan uang di bank Swiss? (Pertanyaan
diulang dua kali)
Ndak benar itu (berhenti sebentar). Saya sudah bikin kuasa (surat kuasa).
Kalau ada, biar untuk rakyat. Tapi, nyatanya, ya, ndak ada.

Atau mungkin disimpan di bank lainnya di luar negeri?
(Pak Harto tak langsung menjawab. Ia melihat dulu ke Nyoman Sweden.
"Ndak ada simpenan di luar," kata Pak Harto).

Bapak masih sering menonton televisi?
Tempo-tempo.

Acara televisi apa yang paling sering ditonton?
Badut-badutan, pelawak, Srimulat, Tukul, he, he, he....

Suka film atau sinetron?
Dulu itu ada Angling Dharma, Jaka Tingkir, sekarang ndak ada.

Acara olahraga?
Tinju. Dulu, apa namanya itu, banting-bantingan.-.. smackdown (Pak Harto
menirukan Nyoman Sweden). Sekarang sepak bola.

Apa kegiatan lain untuk mengisi waktu senggang?
Berdoa. Membaca ini (Pak Harto menunjukkan selembar kertas berisi catatan
sejumlah doa dan zikir. Antara lain berbunyi, "Laa khaula walaa quwwata illa
billahil aliyyil adzim", yang artinya, "Tiada daya upaya dan kekuatan
kecuali atas izin Allah").


--
website address : http://www.adriandw.com (about christian, jew and islam;
history, knowledge, teaching and practice on life)
e - mail address : adri...@centrin.net.id
Cellphone/Mobile/Hand Phone : +62 816 705 818
World Church baptized me Saint John in 1985
World Church and World Synagogue acknowledged me as Messiah


0 new messages