Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Ita Martadinata : mati sia-siakah?

830 views
Skip to first unread message

OrangKaya

unread,
May 17, 2004, 10:12:44 AM5/17/04
to
SUARA PEMBARUAN DAILY

Pembunuhan Ita Diselubungi
Sejumlah Keganjilan

Jakarta, Pembaruan

Sejumlah keganjilan masih menyelubungi kasus tewasnya Ita Martadinata (18),
angota tim relawan untuk kemanusiaan, kendati petugas Polres Jakarta Pusat
dan Polda Metro Jaya berhasil meringkus tersangka pembunuhnya, Sabtu
(10/10) malam .

Tokoh Barisan Nasional Sarwono Kusumaatmadja pembunuhan ini merupakan
''terorisme kekuasaan.'' Sedangkan praktisi hukum Luhut Pangaribuan
berpendapat kasus ini bukan peristiwa kriminal biasa karena tidak ada barang
yang hilang.

Tidak seperti kasus-kasus pembunuhan lainnya, pada pengungkapan kasus ini,
Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Drs Noegroho Djajusman langsung
menggelar jumpa pers Sabtu malam itu juga.

Kapolda mengatakan, pembunuhan dilakukan tersangka Su alias Ot (22)
bermotif kriminal murni. ''Yang dilakukannya adalah bermotifkan perampokan
biasa, tersangka mencuri uang untuk menutupi utang bapaknya, sedangkan
tersangka menghabisi korban untuk menghilangkan jejak,'' katanya.

Ot disebut tinggal di samping rumah korban. Untuk keperluan bayar utang
itulah, Jumat siang pelaku masuk ke rumah korban yang biasa tidak terkunci.
Saat ada di lantai satu, gerak-geriknya kepergok Ita yang saat itu tidak
masuk
sekolah.

Didampingi Kaditserse Polda Kol Pol Drs Gories Mere, Kadispen Letkol Pol
Drs Edward Aritonang, Kapolres Jakpus Letkol Pol Drs Iman Haryatna,
Kapolda mengatakan, karena korban berteriak Ot panik hingga tersangka
mengejarnya sampai di kamar korban di lantai 2. Korban dihabisi di sana
dengan
sepuluh tusukan senjata tajam dan hantaman benda tumpul.

Ot mengaku, usai membunuh korban ia mengunci pintu dari luar dan membuang
anak kuncinya ke got, kata Kapolda. Tidak ada indikasi perkosaan dalam kasus
itu. Dari tersangka, disita sejumlah perhiasan imitasi dan empat pasang kaus
kaki warna putih, dua baju kaus, satu tas pinggang dan celana panjang penuh
noda
darah. Sejumlah kaus itu digunakan tersangka membersihkan bercak darah.
Menurut Ot ia menghabisi Ita menggunakan pisau dapur.

Ihwal tertangkapnya Ot, menurut Kapolda, dari kecurigaan petugas karena
tersangka sudah berada tempat kejadian saat petugas kepolisian dan anjing
pelacak datang. Anjing pelacak sempat mengendus Ot yang kemudian lari entah
ke mana. Ot baru kembali Sabtu malam karena kebingungan. Saat diinterogasi
petugas, tersangka mengakui perbuatannya.

Pernyataan Kapolda tersebut persis sama dengan yang diungkapkan tersangka
beberapa saat kemudian kepada wartawan. Ditanya mengapa tega menghabisi
nyawa korban, Ot mengatakan ''Sebab Ita (korban) sudah lihat wajah saya.
Kalau
saya kabur ketahuan, sebab Ita mengetahui saya tetangganya.''

Psikolog Sarlito Wirawan Sarwono pada kesempatan itu mengatakan, tersangka
tidak mengidap kelainan jiwa. Tindakan yang tergolong sadis tersebut bisa
saja
diakibatkan karena pelaku panik, apalagi pada diri seseorang yang baru
pertama
kali melakukan tindak kriminal.

Belum Terjawab

Kendati tersangka pelaku telah ditangkap petugas, namun sejumlah keganjilan
masih belum terjawab. Samiran (34) dan Ngatmi (53) warga yang tinggal persis
di samping rumah korban menyatakan tidak melihat gelagat mencurigakan di
rumah Jl Berlian III/29 (bukan nomor 25 seperti diberitakan sebelumnya --
Red) itu. Pada saat sekitar terjadinya pembunuhan, keduanya bergantian
berada
di depan rumah atau sekitar 10 meter dari gerbang rumah korban. Padahal
tersangka mengaku masuk rumah melalui pintu depan. ''Saya baru dengar
ribut-ribut minta tolong saat sedang menggelar sajadah untuk salat magrib,''
kata
Samiran.

Pada laporan kepolisian tidak didapati barang yang hilang dari rumah korban
sehingga muncul pernyataan bahwa motif pembunuhan siswi kelas 3 IPS2 SMU
Pascalis itu bukan perampokan. Nyatanya dari tangan tersangka didapati
sejumlah perhiasan imitasi.

Kecurigaan polisi yang berawal dari kehadiran Ot di tempat kejadian juga
menyangsikan, sebab saat itu banyak warga yang berbondong-bondong datang
setelah terdengar teriakan minta tolong Ny Wiwin (ibu korban). ''Banyak
warga
dari kampung sini yang datang bawa pentungan dan senjata

lain sebab mengira ada perampokan dan pelakunya masih di dalam rumah,'' kata
Samiran.

Terorisme Kekuasaan

Tokoh Barisan Nasional Sarwono Kusumaatmadja menilai, pembunuhan sadis
terhadap anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) Martadinanata
merupakan bagian dari terorisme kekuasaan. ''Kasus pembunuhan ini tidak
berdiri sendiri. Bagi saya ini merupakan tindakan kejam terhadap rakyat oleh
suatu kekuasaan yang kejam. Saya tidak percaya ini merupakan pembunuhan
biasa,''kata Sarwono kepada wartawan seusai menjenguk keluarga korban di
Jakarta, Sabtu (10/10).

Sarwono meminta kalangan pers melakukan penelitian yang seksama dan teliti
terhadap kasus pembunuhan Ita. Ia melihat adanya upaya disinformasi yang
dilakukan kelompok tertentu untuk mengaburkan kasus yang sebenarnya.

Di tengah berbagai upaya TRuK untuk mengungkap kasus latar belakang
kerusuhan Mei lalu yang diwarnai dengan berbagai teror terhadap aktivis
TRuk,
munculnya asumsi bahwa pembunuhan Ita bukan pembunuhan biasa merupakan
hal yang tidak terelakkan. Ia juga berulangkali mengingatkan, pembunuhan
terhadap Ita bukan merupakan pembunuhan terhadap golongan tertentu tapi
serangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup ini mengimbau semua pihak untuk
mengusut tuntas kasus-kasus yang bernuansa politik termasuk di dalamnya
kasus Banyuwangi dan terbunuhnya anggota relawan. ''Jangan sampai ada
peradilan rakyat,''kata Sarwono mengutip pernyataan Ketua DPP PDI, Megawati
Soekarnoputri beberapa waktu lalu.

Pendapat senada dikemukakan praktisi hukum Luhut MP Pangaribuan dan
Koordinator TRuk, Romo Sandyawan Sumardi di tempat yang sama. ''Saya
kurang percaya pembunuhan Ita merupakan kriminal murni. Apalagi jika
dikaitkan dengan fakta tidak adanya barang-barang yang diambil pelaku dan
aktivitas korban selama ini sebagai anggota Tim Relawan yang bersama-sama
dengan ibunya akan berangkat ke Amerika untuk membawa empat korban
perkosaan berbicara di depan sejumlah kelompok HAM,''kata Luhut.

Sandyawan menambahkan, pihak keluarga korban sangat menyesalkan tindakan
aparat kepolisian yang dinilai berlebihan.

Sabtu dini hari sejumlah polisi malah mencoba mengajak ayah kandung korban,
Leo Haryono, ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan.

Di tengah suasana duka, masih menurut Sandyawan, muncul kabar yang sangat
negatif mengenai prilaku seksual korban di lingkungan rumah korban.
''Keterlaluan,''katanya.

Selain itu, pihak keluarga juga mempertanyakan cara kerja polisi menangani
kasus tersebut. ''Kok bisa-bisanya polisi mengatakan tidak memiliki foto
mayat
korban dengan alasan kamera yang dipakainya ternyata tidak ada
filmnya,''keluh
Sandyawan.

Anehnya, polisi juga ternyata mengambil hampir semua barang pribadi korban
seperti foto-foto korban, kartu nama hingga kartu telepon. ''Yang disisakan
hanya dompet berisi uang sekitar Rp 70 ribu,''kata Sandyawan. (A-14)

(A-15)

The Jakarta Post

Saturday, October 10, 1998

Rape victims' counselor killed

JAKARTA (JP): A Volunteers for Humanity activist working with rape victims
of May riots was found dead at her Central Jakarta house on Friday
evening.

The victim, identified as Martadinata and popularly known as Ita, 18, was
found with her neck slashed and stab wounds on her hands, abdomen and
chest.

+ACI-Ita's body was discovered by my husband at about 6 p.m. in her room on
the second floor,+ACI- Wiwin, Ita's mother said calmly. Her husband, Leo
Haryono, was visibly shocked over their daughter's murder.

Wiwin believed the murderers entered the house on Jl. Berlian through one
of the doors, which was found damaged. There were no witnesses to the
incident.

Lt. Col. Iman Harjatna, head of the Central Jakarta Police Precinct,
arrived at the scene soon after the police were notified. He said there
were no sign that the murder was related to a robbery since none of the
family's belongings was missing.

+ACI-We'll investigate it thoroughly,+ACI- he said, refusing to comment any
further.

When asked whether the murder could have been connected to the fact that
Ita had volunteered to help rape victims of the May riots, Iman only
reminded silent.

Several activists helping rape victims of the May riots have complained
that groups of individuals have tried to use terror tactics to force an
end to their involvement in trying to disclose information relating to the
cases.

Guests coming to the house to convey their condolences included Sandyawan
Sumardi and Karlina Leksono-Supelli of the Volunteers for Humanity and Ita
Fatia Nadia of Kayana Mitra.

Sandyawan, a priest who runs the Jakarta Social Institute, which provides
services for the urban poor, declined to comment extensively on the
incident.

+ACI-Whether or not the killing had something to do with the terror
(tactics),
just wait and see,+ACI- he said.

Ita, student of Paskalis Catholic senior high school, had reportedly been
active with her mother in counseling four rape victims.

Her body was sent to Cipto Mangunkusumo General Hospital for a postmortem
examination.

Rita, one of the victim's neighbors, said Ita was the friendliest member
of the family.

The family lived in a residential area in which few of the residents knew
each other well.

+ACI-She just had asked my daughter for one of to loris bought by my
daughter
three days ago. Unfortunately, the one she asked for died today. Perhaps
the animal and Ita have already found each other,+ACI- Rita said. (emf/hhr)

PBB: Korban Perkosaan 13 Mei Diancam

Kamis, 25 Maret 1999
Geneva, Buana

Hasil penyelidikan komisi hak asasi manusia PBB menunjukkan bahwa etnik
Tionghoa yang menjadi korban pemerkosaan massal saat kerusuhan Mei tahun
lalu ternyata diancam agar tutup mulut. Penyelidik Khusus untuk Komisi Hak
Asasi Manusia PBB, Radhika Coomaraswamy, Kamis (25/3) mengatakan, ia
menemukan bukti bahwa korban secara fisik diancam pihak tertentu.

Diungkapkan, ia memperoleh bukti bahwa selama kerusuhan itu, telah terjadi
85 kasus pelecehan seksual, di antaranya 52 kasus pemerkosaan. Radhika
mengutarakan hal itu dalam laporan resmi pada acara panel tahunan bidang hak
asasi manusia PBB di Geneva.

"Korban hampir seluruhnya dari etnik Tionghoa. Mereka diancam akan dibunuh
melalui surat gelap dan foto-foto saat mereka diperkosa. Mereka diancam,
selain dibunuh, foto-foto itu akan disebarluaskan agar seluruh keluarga
korban jadi malu. Jadi, bohong kalau disebutkan tak ada korban perkosaan
saat kerusuhan itu," ujar Radhika.

Pengungakapan Radhika ini sangat bertentangan dengan laporan Polri yang
menyatakan tak menemukan bukti apa pun yang mengisyaratkan adanya
pemerkosaan itu. Karena itu, pejabat PBB mempertanyakan, mengapa ia yang
hanya menurunkan tim kecil dalam investigasi itu berhasil menemukan
bukti-bukti, sementara Polri tidak mampu sama sekali?

Menurut Radhika, salah satu dasar aparat di Indonesia berusaha sekuat tenaga
untuk menutup-nutupi kasus pemerkosaan itu ialah karena saat ini penguasa
tengah mencari upaya untuk mencari legitimasi pengakuan rakyat.
Ditambahkannya, bisa jadi kerusuhan itu merupakan teror kepada rakyat sipil
agar tak menggoyang penguasa.

Salah satu bentuk teror itu, lanjutnya, telah menimpa Ita Martadinata
Haryono (17), putri seorang wanita aktivis pejuang hak asasi manusia. "Dia
dibunuh secara brutal di rumahnya, setelah sebelumnya mendapat ancaman akan
dibunuh melalui surat tak beralamat ke rumahnya," papar Radhika.

Tindakan pemerkosaan massal itu, tandasnya, berkaitan dengan kemarahan
kelompok tertentu akibat digusurnya Soeharto dari jabatan presiden. "Etnik
Tionghoa di Indonesia memang selalu jadi sasaran empuk kekerasan. Sebab,
hanya sedikit pihak yang membela mereka. Dari data yang ditemukan
sukarelawan kemanusiaan, tercatat 1.190 korban tewas akibat kerusuhan di
Jakarta dan 168 wanita diperkirakan menjadi korban pemerkosaan,"


0 new messages