Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

042 : SJAMSUL NURSALIM BDNI GATE, Apakabar Bapak Wapres Taufik Kemas ??

43 views
Skip to first unread message

FaKToR

unread,
May 1, 2000, 3:00:00 AM5/1/00
to
FAKTOR
FRONT AKSI ANTI KONGLOMERASI & KORUPTOR
http://www.egroups.com/list/faktor
http://welcome.to/faktor

Majalah TAJUK edisi 2 Maret 2000, halaman 18-21 (Investigasi)

Kasus Dipasena - Sjamsul Nursalim:

Mirip cerita Texmaco, "keterli-batan" TK dalam hiruk pikuk kasus
Dipasena diawali dari hubungan perkoncoannya dengan Sjamsul Nursalim,
bos Grup Gajah Tunggal dan investor tam-bak udang PT Dipasena Citra
Darmaja (DCD). Sebagai kawan, kisah sumber, Sjamsul --yang kerepotan
menghadapi gugatan petani plasma PT DCD, dan tercekik kasus BLBI atas
banknya: Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), -datang mengadu ke TK.

Bukan tanpa alasan Sjamsul datang ke TK. Sebab, sebelum kasus DCD
mencuat, sudah ada deal kerja sama di antara mere-ka. Intinya: TK akan
memasukkan adik kandungnya: Santayana Kiemas dan M. Nazaruddin menjadi
komisaris di
salah sa-tu anak perusahaan Gajah Tunggal. Kebe-tulan Letjen Makmun
Murod, ayah Dudhi Makmun Murod yang anggota DPR FPDI--P asal Sumatra
Selatan, kabarnya, sudah la-ma menjabat preskom di Gajah Tunggal. Dudhi
sendiri, disebut-sebut sebagai ko-misaris di DCD.

Keberadaan Dudhi inilah yang mem-perlancar negosiasi TK dengan Jacob
Nursalim, keponakan Sjamsul yang ditunjuk mewakili si bos. Namun, belum
lagi renca-na terealisir, ribuan petani plasma DCD keburu menggelar
protes ke
DPRD Lam-pung dan DPR RI. Mereka menyoal tin-dakan licik Sjamsul yang
sangat merugikan petani plasma. Belakangan, DCD juga di-soal lantaran
kawasan tambak seluas 16.250 hektare itu ternyata digunakan se-bagai
agunan ke BDNI --yang belakangan dilikuidasi.

Rencana kerja sama TK dan Sjamsul pun tertunda. Cuma, lanjut sumber,
upaya Gajah Tunggal untuk memperoleh protek-si politik dari TK terang
tidak berhenti. Untuk menanam budi, misalnya, Jacob di-sebut-sebut
mengongkosi kepergian TK dan rombongan saat merayakan ulang ta-hun di
Hong Kong, menjelang tutup tahun 1999. Kepada TAJUK, seorang pengusaha
Cina yang dekat dengan militer menim-pali, Sjamsul sendiri mengaku
pernah di-minta TK untuk memberikan dana miliar-an rupiah. Memang, tidak
sebesar permin-taan semula yang dipenuhi Syamsul. "Cu-ma, you tahu,
kalau ada pengusaha Cina yang diinjak, besoknya dia pasti cerita ke
rnana-mana," ujar sumber ini, menegaskan kebenaran informasinya.

Kisah belum berakhir. Kabar lain yang diperoleh Tajuk, menyebutkan,
Sjamsul memfasilitasi TK untuk berkantor di lantai III Wisma Dharmala,
Jakarta. Kabarnya, gedung irii digunakan sebagai posko tim sukses
Megawati menjelang Kongres Se-marang. Pun, pembekalan kepada.pimpin-an
anak-anak cabang dilakukan di sini. Te-tapi, ketika TAJUK mencek lokasi
tersebut, tak terlihat ada aktivitas. Menurut staf pe-masaran Wisma
Dharmala, saat ini pihak-nya sedang bernegosiasi dengan sebuah bank,
yang berencana menyewa lantai itu. "Kami tidak mendengar di situ menjadi
posko PDI-P," tukasnya.

Benar atau tidak, yang pasti, komit-men-komitmen awal yang dijanjikan
Sjamsul itulah, agaknya, yang bisa menjelaskan mengapa TK gigih membela
peng-usaha yang bernama asli Lim Tek Siong ini. Padahal, bukan rahasia,
ada ketidakberes-an Sjamsul dalam mengelola tambak DCD. Terletak di
Mesuji-Lampung, aset tambak terbesar di Asia itu ditaksir senilai Rp 20
triliun. Cuma, karena terjerat kredit macet, tambak yang diagunkan ke
BDNI
itu kini disita BPPN. "Jadi, tidak aneh kalau Sjamsul sekarang sibuk
mencari proteksi politik. Termasuk ke Mas Taufiq, yang langsung
merespons permintaan itu," tu-tur anggota F-PDI-P yang pernah sangat
dekat dengan TK.

0 new messages