Wednesday, December 06, 2006
Paulus nama aslinya adalah Saul, lahir di Tarsus (Turki) kira-kira 2
tahun sebelum Masehi. Karena Yesus lahir kira-kira tahun 6 SM, maka
Paulus kira-kira berusia 8 tahun lebih muda daripada Yesus.
Ayahnya Paulus berasal dari suku Benyamin salah satu suku dari 12 suku
Bani Israel. Meskipun ayahnya Paulus tinggal di negeri asing ia tetap
melaksanakan hukum Taurat dengan cermatnya. Pada zaman Paulus, kota
Tarsus merupakan kota dagang yang penting dan ramai karena sebagai
kota perlintasan dari Timur ke Eropa pulang pergi. Pada masa itu kota
Tarsus terdapat sebuah perguruan Yunani, sejumlah kuil dewa-dewi,
gedung komedi, dan tempat-tempat hiburan lainnya yang sangat digemari
oleh orang-orang Yunani.
Sejak muda Paulus sangat tertarik pada kebudayaan Yunani terutama
pelajaran filsafat Yunani. Dengan demikian terkumpullah pada dirinya
dua pengaruh, pertama pengaruh didikan hukum Taurat dari keluarga
Yahudinya, kedua pengaruh kebudayaan Yunani yang berpengaruh luas di
masyarakat kala itu. Mengenai ajarannya Paulus juga berguru pada
Gamalil, seorang ulama Yahudi yang amat terkenal di Yerusalem.
Persinggungan pengaruh agama Yahudi dengan filsafat Yunani di masa itu
adalah umum meliputi segenap masyarakat Yunani di Asia Barat dan
Afrika Utara. Aliran filsafat Yunani yang amat berpengaruh ketika itu
adalah aliran Stoa yang pantheistik menganggap Tuhan dan makhluk
merupakan suatu kesatuan yang sama zat (substansi) nya dan hanya
berbeda dalam penglihatan bentuk.
Synthese antara ajaran filsafat Stoa dengan ajaran agama Yahudi
seperti kita lihat pada seharah filsafat terdapat pada filosof Yahudi
Philo yang menganggap Logos dari Stoa sebagai semacam malaikat yang
tertinggi alias Roh Kudus. Philo ini hidupnya antara tahun 25 SM
hingga 50 SM, jadi satu masa dengan kehidupan Yesus dan Paulus.
Paulus bukanlah orang Nazareth dan bukan pula orang Yerusalem. Ia
bukanlah orang yang sejak muda kontak dengan lingkungan Yesus. Dan
memang Paulus bukanlah murid Yesus, juga bukan pula pengikutnya, baik
di Yerusalem maupun di Nazareth. Dia belum pernah bertatap muka dengan
Yesus, meskipun ada kemungkinan dia pernah melihatnya dari kejauhan.
Bible sendiri mencatat Paulus merupakan musuhnya pengikut-pengikut
Yesus dan ia bertindak sangat kejam sekali kepada mereka. Tidak
diceritakan apakah paulus terlibat dalam upaya penangkapan untuk
menyalib Yesus atau tidak.
Paulus hingga matinya tidak pernah menikah dan badannya kurang sehat.
Tetapi paulus adalah seorang pembicara (orator) yang baik sekali,
apalagi ditambah pengetahuan yang begitu mendalam tentang agama-agama
Hellenisme (Kisah 2:39, Kisah 25:1-12).
Dalam surat-surat yang ditulis oleh Paulus, sangat jelas bahwa Paulus
beraliran filsafat Stoa. Dr. Von Platen dalam bukunya "Sejarah
Filsafat Barat" dengan tegas mengatakan bahwa ajaran Paulus sangat
dipengaruhi filsafat filsafat klasik Yunani terutama dari mazhab Stoa.
Dalam khotbahnya yang terkenal di Areopagos Athena, Paulus mengutip
kata demi kata dari penyair Stoa yang terkenal yaitu:
Aratos (yang dikutip juga oleh Paulus dan tercatat dalam Kisah 17:28)
"Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang
telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu.."
Menurut Von Platen dan cendekiawan Barat yang netral maka ajaran
Paulus tentang Tuhan dan makluk-makhluk adalah berasal dari ajaran
Teleologi1 dari mazhab Stoa yang pantheistik itu (1 Korintus
12:12-272)
Ajaran Paulus sendiri sangatlah jelas bertentangan dengan ajaran
Yesus, yakni.
Yesus selalu mementingkan dalam khotbah-khotbahnya bahwa akan
kedatangan Kerajaan Allah yang akan datang. Sedangkan Paulus
menitikberatkan pada kedatangan kembali Yesus yang kedua.
Yesus tidak pernah membicarakan tentang dosa warisan, sedangkan Paulus
mengajarkan dosa warisan (Roma 5:12).
Yesus mengajarkan tentang pengampunan dari Tuhan atas dasar tobat yang
sungguh-sungguh, sedangkan Paulus menyandarkan pengampunan Tuhan pada
penyaliban Yesus sebagai penebus dosa
Yesus tetap mengakui hukum Taurat (Matius 5:17-18), sedangkan Paulus
menyatakan hukum Taurat telah mati dan digantikan oleh iman kepada
penyaliban Yesus sebagai penebus dosa (Roma 3:21-28, Roma 7:4-6).
Yesus hanya mengajarkan Injil hanya untuk bani Israel (Matius 10:5-6
dan Matius 15:24-26), sedangkan Paulus mengajarkan pada non-Yahudi
(Kisah 13:46 dan Kisah 14:27).
Yesus meneruskan hukum wajib untuk khitanan, sedangkan Paulu tidak
mewajibkan khitanan (Roma 3:30).
bagus!!!
--
website address : http://www.adriandw.com (about christian, jew and islam;
history, knowledge, teaching and practice on life)
e - mail address : adri...@centrin.net.id
Cellphone/Mobile/Hand Phone : +62 816 705 818
World Church baptized me Saint John in 1985
World Church and World Synagogue acknowledged me as Messiah
"Dokter_Cinta" <dokkter...@yahoo.co.id> wrote in message
news:cbc94875-77a0-4483...@v29g2000hsf.googlegroups.com...
TERJEMAHAN : Kemarahan Allah semakin besar terhadap dirinya--yg dibunuh nabi
dlm nama Allah.
"Dokter_Cinta" <dokkter...@yahoo.co.id> wrote in message
news:cbc94875-77a0-4483...@v29g2000hsf.googlegroups.com...
Kisah Para Rasul 25:1-12
25:1 Tiga hari sesudah tiba di propinsi itu berangkatlah
Festus dari Kaisarea ke Yerusalem.
25:2 Di situ imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi yang
terkemuka datang menghadap dia dan menyampaikan dakwaan terhadap Paulus.
25:3 Kepadanya mereka meminta suatu anugerah, yang
merugikan Paulus, yaitu untuk menyuruh Paulus datang ke Yerusalem. Sebab
mereka sedang membuat rencana untuk membunuh dia di tengah jalan.
25:4 Tetapi Festus menjawab, bahwa Paulus tetap ditahan di
Kaisarea dan bahwa ia sendiri bermaksud untuk segera kembali ke sana.
25:5 Katanya: "Karena itu baiklah orang-orang yang
berwewenang di antara kamu turut ke sana bersama-sama dengan aku dan
mengajukan dakwaan terhadap dia, jika ada kesalahannya."
25:6 Festus tinggal tidak lebih dari pada delapan atau
sepuluh hari di Yerusalem. Sesudah itu ia pulang ke Kaisarea. Pada keesokan
harinya ia mengadakan sidang pengadilan, dan menyuruh menghadapkan Paulus.
25:7 Sesudah Paulus tiba di situ, semua orang Yahudi yang
datang dari Yerusalem berdiri mengelilinginya dan mereka mengemukakan banyak
tuduhan berat terhadap dia yang tidak dapat mereka buktikan.
25:8 Sebaliknya Paulus membela diri, katanya: "Aku
sedikitpun tidak bersalah, baik terhadap hukum Taurat orang Yahudi maupun
terhadap Bait Allah atau terhadap Kaisar."
25:9 Tetapi Festus yang hendak mengambil hati orang
Yahudi, menjawab Paulus, katanya: "Apakah engkau bersedia pergi ke
Yerusalem, supaya engkau dihakimi di sana di hadapanku tentang perkara ini?"
25:10 Tetapi kata Paulus: "Aku sekarang berdiri di sini di
hadapan pengadilan Kaisar dan di sinilah aku harus dihakimi. Seperti engkau
sendiri tahu benar-benar, sedikitpun aku tidak berbuat salah terhadap orang
Yahudi.
25:11 Jadi, jika aku benar-benar bersalah dan berbuat
sesuatu kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi,
jika apa yang mereka tuduhkan itu terhadap aku ternyata tidak benar, tidak
ada seorangpun yang berhak menyerahkan aku sebagai suatu anugerah kepada
mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!"
25:12 Setelah berunding dengan anggota-anggota pengadilan,
Festus menjawab: "Engkau telah naik banding kepada Kaisar, jadi engkau harus
pergi menghadap Kaisar."
1 Korintus 12:12-27
12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan
anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak,
merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik
orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah
dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari
satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku
bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk
tubuh?
12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena
aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk
tubuh?
12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata,
di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah
penciuman?
12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada
anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang
dikehendaki-Nya.
12:19 Andaikata semuanya adalah satu anggota,
di manakah tubuh?
12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya
satu tubuh.
12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada
tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata
kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh
yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang
menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus.
Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian
khusus.
12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh
anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa,
sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan
khusus,
12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam
tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
12:26 Karena itu jika satu anggota menderita,
semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota
turut bersukacita.
12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu
masing-masing adalah anggotanya.
Kasih. Demikian judul Surat Pertama Rasul Paulus
kepada umat di Korintus dalam bacacan kedua. Kata "kasih" diulang-ulang
dalam setiap kalimat dan frase. Sudah sangat pasti, bahwa pendengar akan
digiring ke dalam proses internalisasi (pendalaman) dan pergolakan
permenungan, saat kata "kasih" diulang intensif. Kita bertanya, dalam
konteks waktu dan tempat mana, Paulus menulis surat seindah dan sedalam ini?
Dalam pasal-pasal antara 12 sampai 14 Surat Pertama
Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, kita temukan jejak-jejak
spiritualitas aneh di antara orang-orang Korintus. Mereka mengklaim: Ketika
mereka mulai membiarkan diri dipimpin oleh Roh Kudus ĄV hal ini nyata dalam
kefasihan berbicara (glosalie) tetapi tidak dimengerti dan juga kepandaian
berkotbah ĄV mereka sudah memilki segala sesuatu yang dianggap urgen untuk
hidup bahagia di dunia dan dengan itu sudah memilki garanti masuk Surga.
Kerinduan akan persatuan dengan Kristus yang bangkit
dalam pengalaman ekstase menghantar mereka ke dunia baru, di mana mereka
melupakan banalitas keseharian dengan tantangan-tantangan real, dan oleh
karena itu mereka menjadi manusia-manusia tak realistis. Eufori yang salah
menutup mata dan hati, sehingga mereka memiliki konsep keselamatan yang
salah pula. Terhadap mereka Rasul Paulus menulis surat ini. Paulus ingin
menyelamatkan situasi dan menghantar mereka keluar dari bingkai konsep
keselamatan yang keliru. Tanpa embel-embel Paulus menekankan primat
cinta-kasih di atas aktivitas-aktivitas kontigens dan sekunder. Cinta-kasih
mesti menjadi "termometer" segala kehebatan dan prestasi manusia. Segala
model pengalaman iman seseorang, seharusnya memanifestasi diri dalam ukuran
dan cara tertentu, di mana cinta-kasih menjadi fundamen-nya.
Sejauh mana segala gerak-gerik, perbuatan dan
tutur-kata kita sebagai orang Kristen ditopang oleh roh Cinta Kasih dan
memanifestasi diri dalam keseharian? Ini menjadi pertanyaan penting. Paulus
kelihatannya berkonfrontasi secara mendalam dengan realitas jamannya,
mengalami frustrasi oleh karena kenyataan yang bertolak belakang dengan
konsep keselamatan Kristus, lalu menulis kata-kata ini. Tanpa kasih cinta,
segala sesuatu, entah itu dalam kalangan Gereja Katolik, entah itu dalam
keseharian Gereja Protestan, entah sebuah perbuatan atau kata melampaui
batas kapasitas pemahaman manusia, entah itu sebuah pertanggungjawaban
teologi atau moral terhadap sebuah perkara alot hingga membungkam seribu
satu penanya, tetapi jika semuanya tanpa disulam kasih, segalanya hampa tak
berguna. Giring bergemerincing menarik perhatian, genderang bersahut-sahutan
memecah keheningan, teriakan memanggil Allah dalam keteduhan semesta akan
menjadi suara sumbang, kalau semuanya tak berjiwa kasih.
Kasih menaggung semua dengan sabar, tidak cemburu,
tidak mencari-cari sebab permusuhan, tidak egoistis. Kasih yang dilukis
Paulus sepertinya bukan hal baru, melainkan hal otomatis sebagai atribut
kasih itu sendiri. Kasih itu sabar, sederhana, rela menanggung
ketidaknyamanan, dan justru kasih itu mampu berbuat segalanya, karena ia
pada hakikatnya terbuka dan tulus.
Paulus tak ingin membantu mereka untuk mengembangkan
konsep keliru, bahwa menyembah yang baru dan eksotik (supranatural) adalah
karakter utama pengalaman akan Allah. Sebaliknya ia ingin menekankan makna
keseharian dengan segala pengalamannya yang sederhana dan tulus. Kerinduan
akan mujizad dalam diri bukan merupakan jaminan untuk merasakan kedekatan
dengan Allah, apalagi kalau pengalaman seperti itu disertai dengan paksaan
diri yang hebat. Keseharian dengan pengalaman-pengalaman kecil dan sederhana
adalah wahana yang digunakan Tuhan untuk bertemu dengan setiap pribadi.
Asalkan saja manusia membuka hati untuk itu. Cinta kasih selalu mengandaikan
keterbukaan hati untuk pihak lain, dalam hal ini Tuhan dan sesama manusia
serta segala makhluk ciptaanNya. Hanya kekuatan cinta-lah yang mampu
mempertemukan kita dengan Tuhan dalam kemesrahan spiritual dan dengan
manusia lain dalam keharmonisan dan damai.
Allah adalah Bapa semua manusia, bukan hanya untuk
mereka yang kaya-raya, mampu berprestasi besar dan tergolong hebat dalam
jamannya. Ia juga adalah Bapa bagi mereka yang memulung dan mengemis,
menderita dan menangis dalam tekanan kesempitan apa saja. Minggu lalu Yesus
mewartakan citra Allah Bapa yang solider dengan orang-orang kecil dan
miskin, lemah dan kalah dalam pertarungan nasib hidup. Keberpihakan Allah
dalam diri Yesus dari Nazaret ini adalah pemenuhan janji dari generasi ke
generasi. Dengan demikian, kita semua boleh bersuka cita, karena jalan kasih
kini terbuka bagi kita semua dan kita boleh berjalan di jalan Tuhan. Kasih
yang diwartakan Yesus itu memungkinkan kehidupan, dalamnya segala kehebatan
dan prestasi duniawi dan konsep-konsep keselamatan luarbiasa menjadi
realiatis. Manusia merajut keseharianNya bersama Yesus. Kasih itu berjalan
dari bawah. Ia tidak memerintah dan bertitah dari takhta kesombongan dan
imajinasi.
Kaish yang demikian dalam dan bernuansa keselamatan
adalah hadiah dan milik Allah. Patut kita kenang selalu, bahwa kita orang
Kristen adalah orang-orang pilihan Allah yang diselamatkan dan dibebaskan
untuk mencinta. Madre Teresa dari Calcuta memahat bahasa cinta dalam hati
dunia sebelum kematiannya. Bahasannya tidak lebih tidak kurang dari sebuah
interpretasi terhadap misi Yesus bagi umat manusia dan mengingatkan manusia
akan tujuan dan misinya sendiri: "Allah menciptakan kita, agar mencintai dan
dicintai". Itulah panggilanmu, itulah jalanmu; jalan yang disinari
kebijaksanaan Allah; demikian konfirmasi Paulus.
Adalah sebuah kerinduan alamiah setiap manusia untuk
membuat pengalaman lebih dari biasa. Entah itu jalan mitis-magis, entah itu
diklaim sebagai kegiatan spiritual-kristiani, semuanya dilakukan untuk
keluar dari keseharian yang monoton. Keseharian dengan segala realitasnya
yang banal dirasa membosankan. Ada anggapan: Allah mesti berada dalam
situasi "super". Bukankan ini sebuah pelarian yang tidak diinginkan Allah?
Berhadapan dengan ini, Paulus menegaskan, bahwa justru dalam
pengalaman-pengalaman keterbatasan, perjuangan untuk sesuap nasi, kesempitan
upaya untuk selamat dari kematian, dalam keterlemparan di lembah harapan; di
sana, Allah hadir dan membuka dimensi jalan baru agar kita mengalami
kedekatanNya. Dimensi baru akan lahir dari apa yang biasa dan manusiawi,
karena Allah tidak pernah mandeg. Ia akan selalu hadir dalam cara baru dan
dalam nafas kehidupan baru.
"Cintailah Allah dengan segenap hatimu dan dengan
segenap tenagamu, dan cintailah sesama manusia seperti engkau mencintai
dirimu sendiri!" Ya, dalam perintah ini tersurat dan tersirat segala sesuatu
yang dicari, kata Yesus kepada seorang pemuda yang menginginkan hidup kekal.
Orang-orang Nazaret menolak Yesus, karena Ia lahir
dan dibesarkan dalam pengalaman-pengalaman keseharian dan kesederhanaan.
Pertanyaan mereka akan asal-usulnya dengan merujuk pada Yosef, ayahNya,
mengandung pemikiran, bahwa yang biasa dan dikenal tidak masuk hitungan
keselamatan Allah. Menepis ketidakpercayaan mereka, Yesus mengangkat
realitas: Tak ada nabi yang dihormati di negrinya sendiri. Yesus menegaskan
satu point penting dalam apologesinya, bahwa Tuhan bisa berbicara melalui
yang biasa dan telah dikenal. Bukankan Ia bisa menjadikan anak-anak Abraham
dari batu-batu? Bukankah kandang hewan telah menjadi takhta keselamatan?
Lebih dari itu, Yesus mau mengatakan: Sungguh pertobatan hati (metanoia)
sebagai tujuan kotbah dan seruan seorang nabi Tuhan itu tidak mudah. Jika
tanpa kasih cinta akan Allah, tak akan ada pertobatan. Ketika manusia lalai
dan sukar bertobat, di sana hanya ada kesombongan diri.
Hukum cinta kasih berdimensi dobel: Cintailah Allah
Tuhanmu dengan segenap hatimu dan cintailah sesama manusia seperti diri
sendiri. Dalam bahasa Jerman, hukum ini disebut "goldene Regel", artinya
"Hukum emas". Kalau itu berpredikat emas, ia masih biasa-biasa, karena emas
bisa dilihat dan dimiliki semua orang. Malah ada yang alergi melihat emas.
Di sini cinta kasih berdimensi dobel menjadi jalan emas untuk kita.
Sekalipun jalan emas bukan sebuah jalan yang supra-natural (dalam
realisasinya), bukan sebuah yang metafisis, ia adalah ungkapan kemutlakan
dalam pengalaman akan Allah dan keselamatan. Tak ada jalan lain seindah
jalan berdimensi dua itu.
Mencintai Allah dan sesama manusia (vertikal dan
horisontal, dan dimensi kedua meliputi segala ciptaanNya) mungkin sudah dan
sedang kita lakukan. Namun berapa sering kita terperangkap dalam otomatismus
atau sindrom "lupa", justru karena biasa-nya. Naskah Paulus dalam 1Korintus
13 di atas hendaknya didengar dan disimak terus menerus dalam semangat baru.
Hanya dengan sikap demikian, Injil (Eu-Angelion) menjadi Kabar Keselamatan,
Good News, Frohe Botschaft, bukan sebuah message biasa.
Karena Tuhan menyelamatkan kita dalam ruang dan
waktu, dunia kita, keseharian kita dengan segala keterbatasannya menjadi
kosmos, medan karya dan pewahyuan DiriNya. Oleh karena itu, Pemazmur dalam
curahan hatinya pasal 139 menyebut Allah sebagai yang "Maha Hadir". "Jika
aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di
sana tanganMu akan menuntun aku, dan tangan kananMu memegang aku". Dengan
keyakinan Pemazmur, kita ingin menyusuri keseharian kita bersama Tuhan.
Bersama Tuhan, kita pasti selamat. Dalam Dia kita dipenuhi kasih. Amin.
"Dokter_Cinta" <dokkter...@yahoo.co.id> wrote in message
news:cbc94875-77a0-4483...@v29g2000hsf.googlegroups.com...
"Dokter_Cinta" <dokkter...@yahoo.co.id> wrote in message
news:cbc94875-77a0-4483...@v29g2000hsf.googlegroups.com...
Para Rasul adalah orang-orang yang dipilih, diajarkan dan ditugaskan oleh
Yesus Kristus untuk mewartakan Kabar Gembira (Injil) untuk membaptis,
mendirikan, mengarahkan, dan memelihara Gereja-Nya sebagai pelayan-pelayan
Allah dan penjaga misteri-misteri-Nya. Mereka adalah uskup-uskup Gereja
Katolik yang pertama.
Injil Santo Matius (Matius 10:1-4) menunjukkan daftar para Rasul dalam
urut-urutan seperti ini: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus,
Bartolomeus, Thomas, Matius, Yakobus, Yudas Thadeus, Simon dan Yudas
Iskariot. Matias diangkat untuk menggantikan tempat Yudas Iskariot. Paulus
menjadi Rasul oleh panggilan khusus dari Yesus Kristus. Barnabas disebut
juga sebagai seorang Rasul.
Dua diantara empat penginjil (penulis kitab Injil) yaitu Yohanes dan Matius,
termasuk dalam bilangan 12 rasul. Dua yang lainnya, Lukas dan Yohanes
Markus, sangat erat hubungannya dengan kumpulan para Rasul.
"BHAGAWAN ABIYASA" <mend...@yahoo.com> wrote in message
news:kX3lj.15917$LN4.11216@trnddc07...
terimakasih atas masukannya sekal lagi...
semoga para krestener bisak merenungi apakah merekanya termasuk
pengikut jesus atawa paulus nyang sangat bertolak belakang (jika
mereka mau berpikir dan mengamati)..
wasalam
qw