Ada sebuah buku yang berjudul "Abdullah bin Saba' Benih Perpecahan Ummat" yang ditulis oleh M. Hashem, dan diterbitkan oleh YAPI, Bandar Lampung.
Buku tersebut telah beredar dan laku keras, pada dasarnya sesungguhnyalah isi buku tersebut merupakan saduran dari buku yang berjudul "Abdullah bin Saba" yang ditulis oleh Murtadha Al Askari, seorang imam Syi'ah yang bermukim di Irak.
Siapakah Abdullah bin Saba' ?
Abdullah bin Saba' adalah seorang Yahudi berasal dari Shan'a, Yaman, yang datang ke Madinah dan kemudian berpura-pura setia kepada Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan ra. Padahal, dialah yang sesungguhnya mempelopori kudeta berdarah dan melakukan pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan, dialah juga pencetus aliran Syi'ah yang kemudian mengkultuskan 'Ali bin Abi Thalib ra. Di antara isue-isue yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba' untuk memecah belah ummat Islam pada saat itu antara lain adalah:
1. Bahwa 'Ali bin Abi Thalib ra telah menerima wasiat sebagai pengganti Rasul saw (An Naubakhti, Firaq asy Syi'ah, hal. 44).
2. Bahwa Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan ra adalah orang-orang zhalim, karena telah merampas hak khilafah 'Ali ra setelah wafatnya Rasulullah. Ummat Islam saat itu yang membai'at ketiga khalifah tersebut dinyatakan kafir. (An-Naubakhti, op cit, hal. 44).
3. Bahwa 'Ali bin Abi Thalib ra adalah pencipta semua makhluk dan pemberi rezeki. (Ibnu Badran, Tahdzib al Tarikh al Dimasyq, juz VII, hal. 430).
4. Bahwa Nabi Muhammad saw akan kembali lagi ke dunia sebelum hari kiamat, sebagaimana kepercayaan akan kembalinya Nabi Isa as. (Ibnu Badran, op cit, juz VII, hal. 428).
5. Bahwa 'Ali ra tidak mati, melainkan tetap hidup di angkasa. Petir adalah suaranya ketika marah dan kilat adalah cemetinya. (Abd. Al-Thahir Ibnu Muhammad Al Baghdadi, Al-Farq Baina AI-Firaq, hal. 234).
6. Bahwa Ruh Al Quds berinkarnasi ke dalam diri para Imam Syi'ah. (Al bad'u Wa al Tarikh, juz V, hal. 129, th 1916).
7. Dan lain-lain.
Dapat ditambahkan pula, bahwa Abu Muhammad al Hasan Ibnu Musa An Naubakhti, seorang ulama Syi'ah yang terkemuka, di dalam bukunya "Firaq asy Syi 'ah" hal. 41-42 mengatakan, bahwa 'Ali ra pernah hendak membunuh Abdullah bin Saba' karena fitnah dan kebohongan yang disebarkan, yakni menganggap 'Ali sebagai Tuhan dan mengaku dirinya sebagai Nabi, akan tetapi tidak jadi karena tidak ada yang setuju. Lalu sebagai gantinya, Abdullah bin Saba' dibuang ke Mada'in, ibu kota Iran di masa itu.
Apa Persoalannya?
M. Hashem di dalam bukunya tersebut mencoba untuk menghilangkan figur Abdullah bin Saba' dari panggung sejarah, alasannya:
1. Seluruh berita tentang Abdullah bin Saba' yang ditulis dalam buku-buku sejarah baik oleh Ibnu Katsir, Ibnu Atsir, Ahmad Amin, Nicholson, Welhausen, maupun yang lainnya, mengutip dari buku sejarah tulisan Ath Thabari.
2. Sedangkan Ath Thabari memperoleh berita tentang Abdullah bin Saba' melalui jalur Saif bin Umar at Tamimi.
3. Padahal, Saif bin Umar at Tamimi dikenal sebagai perawi yang lemah, suka berdusta dan tidak bisa dipercaya. Demikian menurut ahli-ahli hadits seperti Ibnu Hajar, Ibnu Hibban, Al Hakim, Nasa'i dan lain-lain.
Oleh karena itu, kata M. Hashem berita tentang Abdullah bin Saba' yang ditulis dalam buku sejarah dengan mengambil sumber buku Ath Thabari tak dapat dipercaya, karena dalam setiap jalur riwayat (sanad) yang diambil oleh Ath Thabari terdapat Saif bin Umar at Tamimi.
Begitu kata M. Hashem (lihat skema hal. 81). Hanya dengan alasan itu saja M. Hashem menyimpulkan bahwa yang disebut Abdullah bin Saba' adalah tokoh fiktif, yang sebenarnya tidak pernah ada.
Buku tersebut ternyata ada juga pengaruhnya di kalangan intelektual (yang tidak berpendirian) seperti Nurcholis Majid (Tempo, 19 Desember 1987, hal. 102) atau yang serupa dengannya, dan mereka yang tidak mempunyai pengetahuan tentang sejarah Islam.
Sebenarnya pendapat yang mengatakan bahwa Abdullah bin Saba' adalah tokoh fiktif, sudah agak lama juga muncul. Pendapat tersebut dipelopori oleh para orientalis dan dikembangkan oleh Murtadha al Askari, seorang tokoh Syi'ah pertengahan abad XX yang berasal dari Iraq.
Kemudian diikuti oleh Dr. Kamal Asy-Syibi, Dr. Ali Al-Wardi (keduanya murid orientalis dari Iraq). Dr. Thaha Husein, Dr. Muhammad Kamil Husein, Thalib Al-Husein Al- Rifa'i (murid-murid orientalis dari Mesir), Muhammad Jawad Al-Mughniyah, Dr. Abdullah Fayyah (murid-murid orientalis dari Libanon).
Bagaimana Sebenarnya?
Saif bin Umar At-Tamimi memang dinyatakan lemah dan tidak dapat dipercaya oleh ulama hadits, tapi dalam masalah yang ada hubungannya dengan hukum syari'ah, bukan
dalam bidang sejarah.
Berita tentang adanya Abdullah bin Saba' tidak hanya melalui jalur Saif bin Umar At-Tamimi saja. Malah, Abu Amr Muhammad Ibnu Umar Al-Aziz Al-Kasyi (imam hadits dari kalangan syi'ah sendiri) meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba' melalui 7 (tujuh) jalur, tanpa melalui Saif bin Umar At-Tamimi yang dianggap lemah itu. Yaitu dari:
1. Dari Muhammad Ibnu Quluwaihi Al-Qummy dari Sa'ad Ibnu Abdullah Ibnu Abi Khalaf, dari Abdurrahman Ibnu Sinan, dari Abu Ja'far as. (Rijal Al-Kasyi, hal. 107).
2. Dari Muhammad Ibnu Quluwaihi, dari Sa'ad Ibnu Abdillah dari Ya'qub Ibnu Yazid dan Muhammad Ibnu Isa, dari Abu Umair, dari Hisyam Ibnu Salim dari Abu Abdillah as. (Rijal AI-Kasyi, hal. 107).
3. Dari Muhammad Ibnu Quluwaihi, dari Sa'ad Ibnu Abdillah dari Ya'qub Ibnu Yazid dan Muhammad Ibnu Isa dari Ali Ibnu Mahzibad, dari Fudhallah Ibnu Ayyub al Azdi, dari Aban Ibnu Utsman dari Abu Abdillah as. (Rijal al Kasyi, hal. 107).
4. Dari Ya'qub Ibnu Yazid dari Ibnu Abi Umair dan Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Isa dari ayahnya dan Husein Ibnu Sa'id, dari Ibnu Abi Umair, dari Hisyam Ibnu Salim, dari Abu Hamzah ats Tsumali, dari Ali Ibnu Husein. (Rijal al Kasyi, hal. 108).
5. Dari Sa'ad Ibnu Abdillah, dari Muhammad Ibnu Khalid ath Thayalia, dari Abdirrahman Ibnu Abi Najras, dari Ibnu Sinan, dari Abu Abdillah as. (Rijal al Kasyi, hal. 108).
6. Dari Muhammad Ibnu Al-Hasan, dari Muhammad Al-Hasan ash Shafadi, dari Muhammad Ibnu Isa, dari Qasim Ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan Ibnu Rasyid, dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah as. (Ash-Shaduq, Ila Al-Syara'i'i, cetakan ke-II, hal. 344).
7. Dari Sa'ad Ibnu Abdillah, dari Muhammad Isa lbnu Ubaid al Yaqthumi, dari Al Qasim Ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan Ibnu Rasyid, dari Abi Bashir dan Muhammad Ibnu Muslim, dan Al Abdillah as. (Ash Shaduq, Al Khishal, cetakan tahun 1389 H, hal. 628).
Demikian keterangan dari kalangan Syi'ah sendiri.
Adapun dari kalangan Sunni, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam bukunya "Lisan Al Mizan" (jilid III, hal. 289-290, cetakan I, th. 1330 H.) meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba' melalui 6 (enam) jalur, yang juga tanpa melalui jalur Saif bin Umar At-Tamimi. Yaitu:
1. Dari Amr Ibnu Marzuq, dari Syu'bah, dari Salamah Ibnu Kuhail, dari Zaid Ibnu Wahab, dari 'Ali bin Abi Thalib ra.
2. Dari Abu Ya'la Al-Mushili, dari Abu Kuraib, dari Muhammad Ibnu Al-Hasan Al-Aswad, dari Harun Ibnu shahih, dari Al Harits Ibnu Abdirrahman dari Abu al Jallas, dari 'Ali bin Abi Thalib ra.
3. Dari Abu Ishaq al Fazari Ibnu Syu'bah, dari Salamah Ibnu Kuhail, dari Abu Za'ra'i, dari Zaid Ibnu Wabab.
4. Dari Al Isyari dan Al Alka'i dari Ibrahim, dari 'Ali ra.
5. Dari Muhammad Ibnu Utsman Abi Syaiban, dari Muhammad Ibnu al Ala'i dari Abu Bakar Ayyasy, dari Mujalid, dari Asy Sya'bi.
6. Dari Abu Nu'aim, dari Ummu Musa, (Yusuf al Kandahlawi, Hayat al Shahabah).
Berdasarkan tiga belas riwayat yang tidak melalui Saif bin Umar at-Tamimi ini (baik dari ulama Syi'ah ataupun Sunni), maka alasan mereka yang hendak menghilangkan figur Abdullah bin Saba' dari panggung sejarah tidak dapat dipertahankan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mereka terlalu ceroboh dalam melakukan penelitian dan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Ataukah memang mereka mempunyai maksud-maksud tertentu ?
Apa Maksud Mereka?
Apa sebenarnya maksud yang terkandung pada diri mereka dalam menghilangkan figur Abdullah bin Saba' dari panggung sejarah, dapatlah kita analisa.
1. Golongan Syi'ah berkeyakinan bahwa Syi'ah telah muncul semenjak zaman Rasulullah. Tetapi kenyataan sejarah tidak dapat mereka pungkiri bahwa Abdullah bin Saba'-lah pelopornya. Oleh karena itu, dengan menghilangkan figur Abdullah bin Saba' mereka berharap dapat diterima sebagai salah satu madzhab dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan Yahudi.
2. Mendukung gerakan Tasykik untuk membingungkan Ummat Islam dengan cara memutar-balikkan fakta sejarah, sehingga Ummat dialihkan dari apa yang seharusnya mereka kerjakan dan lupa akan kelicikan-kelicikan musuh Islam.
3. Menjauhkan Ummat Islam dari Ulama dan pemimpinnya, serta menghilangkan kepercayaan kepada generasi pertama yaitu generasi sahabat Rasulullah yang seharusnya merupakan contoh dan panutan.
4. Menempatkan tokoh-tokoh Syi'ah dan apa yang disebut "pembaru" lainnya, setaraf dengan para Ulama Salaf yang terdahulu.
Lebih dari itu, apapun yang mereka tuju, yang jelas pemikiran seperti itu telah dipelopori oleh Kaum Orientalis. Apakah mereka memang bagian dan kaki tangan orientalis, ataukah mereka korban tipu daya orientalis?
Boleh jadi mereka adalah generasi baru Abdullah bin Saba'. Mari kita buktikan!
Daftar Referensi
A. Dari Kalangan Syi'ah
1. Al-Askari, Murtadha, Abdullah bin Saba'. Penerbit An-Najah, Cairo, cetakan ke II, th. 1381.
2. Muhammad al-Husein Ali Kasyif al-Ghitha', Ashlu-asy-Syi'ah wa-ushuluha, Penerbit Al-Muthi'ah Nejef, cetakan ke VII tanpa tahun.
3. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahju al-Balaghah, cetakan ke II, th. 1967.
4. Al-Kulaini, Abu Ja'far Muhammad Ibnu Ya'qub, Ushul-al-Kaafi, Maktabah al-Islamiyah, Teheran, th. 1288 H.
5. As-Sury, Jamaluddin Ibnu al-Maqdad lbnu Abdillah, Kanz al-Irfan, Teheran 1285.
6. Ath-Thurisy al-Masyhady, Imaduddin Muhammad Ali Ibnu Hamzah, Al-Washilah Ila Nail al-Fadhilah, tanpa penerbit dan tahun.
7. Ath-Thusy. Abi Ja'far Muhammad Ibnu al-Hasan, Al-Istibshar, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran (tanpa tahun).
8. Al-Baladzuly, Al-Imam Abu al-Hasan, Futuh al-Buldan, Dar al-Kutub al-Ilimyah Beirut, th. 1978.
9. Al-Khomeini, Al Hukumah Al-Islamiyah.
10. AI-Asy'ary Al-Qummy, Sa'ad Ibnu Abdillah Ibnu Khalaf, Kitab Al-Maqalat wa al-Firaq, Markaz Inti syarat 'Iimy wa Franky, cetakan I (tanpa tahun).
11. Al-Huseiny, Hasyim Ma'ruf, Asy-Syi'ah Baina al-Asy 'Ariyyah wa al-Mu'tazilah Dar An-Nasyr li al-Jami'iyyin, th. 1964.
12. Asad Haidar, Al-Imam Ash-Shadiq fi al-Madzahib al-arba'ah. Maktabah al-Imam al-Amir al-Mu'minin 'Ali, Beirut, Lebanon, cetakan II, th. 1969.
13. Al-Khurasany, Husein Ali al-Wa'izh, Al-Islam 'ala Dhaui at-Tasyayyu', tanpa penerbitan dan tahun.
14. 'Abd. al-Husein Ahmad al-Aminy an-Najafy, Al-Qadir fi al-Kitab wa As-Sunnah wa al-Adab, Dar Al-Kitab al-Arabi, Beirut, cetakan III, th. 1967.
15. Muhammad Jawad al-Mughniyah, Ma'a asy-Syi'ah al-Imamiyah, Maktabah al-Andalus, Beirut, th. 1956.
16. Muhammad 'Ali al-Zari'iy, La Sunnah wa la Syi'ah, Dar-al-Ilmy li Malayin, Beirut.
B. Dari Kalangan Sunni
1. Dr. Ali Syami An-Nasyar, Nasyatu al-Fikri al-Falsafi fi al-lslam, Al-Ma'arif, th. 1965.
2. Dr. Sa'di al-Hasyimi, Ibnu Saba' Haqiqatun La Khayal. Maktabah Madinah al-Munawwarah, cetakan I, th. 1406 H.
3. Dr. Ibrahim Dasuqi Syatta, As-Staurah al-Iraniyah Judzur al-Idiyulujiyyah, Maktabah Dar al-Kutub, Beirut, th. 1979.
4. DR. Musa al-Musawi, As-Tsaurah al-Baisah, tanpa penerbit dan tahun.
5. Ibnu Hisyam, Sirah an-Nabawiyyah, Muassasah 'Ulum Al-Qur'an.
6. Ath-Thabari, Muhammad Ibnu Jarir Ibnu Yazid, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut-Lebanon.
7. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, Dar Al-Fikri Al-Arabi.
8. Ibnu Taimiyah Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah.
9. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat Al-Kubra, Dar Al-Mashadir, Beirut.
10. An-Nawawy, Shahih Muslim.
11. Ibnu Hajar Asqalany, Fath Al-Bari.
12. Asy - Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal.
13. Adz-Dzahabi, Al-Muntaqa.
14. Ibnu Hazmin, Al-Fashl.
Sumber: Buku "Mengapa Kita Menolak Syi'ah" hal. 227-233, Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi'ah, LPPI, Jakarta, Juli 1998.
--
_______________________________________________
Have you downloaded the latest calling software from Net2Phone? Click here to get it now!
http://www.net2phone.com/cgi-bin/adforward.cgi?p_key=NH211JK&url=http://commcenter.net2phone.com/
jamal