Kalau seandainya Megawati yang terpilih, pastilah beliau pun akan
mendapat caci maki yang kurang lebih sama ....:)
dg
Ada banyak kampret di Indonesia … tetapi begitu dia terpilih menjadi
presiden … dia TIDAK BOLEH SEDETIK PUN menjadi kampret … sebab akan
dibawa kemana pemberantasan koruspi di Indonesia yg sudah membudaya
ini … jika presidennya seorang kampret … cuih … cuih … cuih …
(membuang ludah)
loh emangnya kampret gak bole lebih dari satu ???
On Nov 20, 4:26 pm, Kopral Johnny <kopral_joh...@ggmail.com> wrote:
> "David G." <dvdg...@gmail.com> wrote in news:ff59faf6-0b3f-4252-ac8a-
> ae4817019...@l13g2000yqb.googlegroups.com:
Kalok dihitung dari jaman penjajahan, lalu pasca kemerdekaan, jaman
suharto, dan sesudahnya, rakyat indonesia kayaknya sih sudah sengsara
lebih dari tujuh turunan.
Dipandang dari sudut pandang fisika, ini kan semacam fenomena
"inersia". Suatu sistem yang berada dalam keadaan tertentu cenderung
mempertahankan keadaannya itu. Kalau bergerak ya berusaha tetap
bergerak. Kalau diam ya berusaha tetap diam.
Kalau inersia-nya kecil, mudah dirubah. Kalau inersianya besar, lebih
susah.
Lah....si mBill kenapa tidak sengsara, why? Si mekoQ kenapa tidak
sengsara? Si Apid kenapa tidak sengsara? Si Gatho kenapa tidak sengsara?
Apakah mereka juga bukan termasuk "rakyat" Indonesia? ;-) Sedangkan
mereka belum tujuh keturunan, hayooo jawab!
Apa hubungannya inersia (fisika) dengan mentalitas yg bobrok, hayoo jawab...
Mengapa pada jaman Belanda tidak ada inersia semacam begituan?
Budaya korupsi di Indonesia memang sudah menjadi CULTURE … bahkan
hampir menjadi CACAT BAWAAN suatu bangsa … kita bahkan hampir tidak
tahu darimana harus mulai untuk menhancurkan budaya itu … dengan
adanya KPK sedikit banyak harapan itu sudah mulai muncul …
Kriminalisasi KPK hanya dilakukan para KAMPRET KEPARAT …
> BarisanSoekarno wrote:
>> Kalo yg kampret itu presiden � rakyat bisa tambah susah � krn
>> KEBIJAKAN KAMPRET pemerintah BERPOTENSI akan menyengsarakan rakyat
>> sampai tujuh turunan �
>
> Lah....si mBill kenapa tidak sengsara, why? Si mekoQ kenapa tidak
> sengsara? Si Apid kenapa tidak sengsara? Si Gatho kenapa tidak sengsara?
> Apakah mereka juga bukan termasuk "rakyat" Indonesia? ;-) Sedangkan
> mereka belum tujuh keturunan, hayooo jawab!
>
iQ karena mengikoti logika rajap.sr , majoritas orang kaya karena korupsi.
Logika Mayor Hasan:
Semua yang kuliah di luar negri, orang tuanya kaya.
Si Apid kuliah di luar negri
Jadi si Apid orang tuanya kaya
Mayoritas orang kaya korupsi
Si Apid orang tuanya kaya
Jadi orang tua si Apid korupsi
Yang tidak bersih, akan risih
Si Apid risih
Jadi si Apid tidak bersih.
Dari dulu saya sering usul,
perlu ada pelajaran khusus ilmu logika di sekolah menengah, dan semua
perguruan tinggi.
dg
> kita bahkan hampir tidak
> tahu darimana harus mulai untuk menhancurkan budaya itu .
setuja !!
memprihatinkan sekaligus membikin putus asa
kalo mau serius bener2 bongkar habis korupsie, harus revolusi
kek na, itu semacam "tumbal" yg harus diadakan
I dont see any other way , SBY mah cuma retorika, demi
menjaga posisi , .... gak beda dng pamingpin2 laen :(
Jika tidak kaya, bagaimana bisa menyekolahkan anak di luar negeri, how?
Somebody musti ada uang untung menyekolahkan anak di Amerika.
> Si Apid kuliah di luar negri
Siapa yg bayar, bukankah orang tua? Siapa? Apakah Apid bayar sendiri
dari kerja keras di Indonesia?
> Jadi si Apid orang tuanya kaya
>
> Mayoritas orang kaya korupsi
> Si Apid orang tuanya kaya
> Jadi orang tua si Apid korupsi
Jika bukan dari hasil korupsi, mengapa Apid takut dan tidak mau tanya
apa pekerjaan Babe?
Berapa susahnya jawab dan bilang, Oh Babe saya dokter, atau Babe saya
punya pabrik kecap, dstnya.
Itu jawaban yg gampang, mengapa harus plintir2x seperti si mBill? Apa
logikanya sehingga Apid harus plintir2x menjawab pertanyaan yg begitu
mudah di jawab?
Jika Apid di periksa oleh KPK, apakah begitu jawaban Apid plintir2x, begitu?
Mengapa kamu harus berdusta lagi David G.? Mayor Hasan bilang
"MAJORITAS"
sedangkan kamu misquoted dia dan kamu katakan "SEMUA"...
Apakah itu yg kamu belajar di sekolah fisika/matematika di Indonesia,
berdusta?