Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Mohon Petunjuknya (raga, jiwa, sukma & Hyang Sukma)

498 views
Skip to first unread message

Nugroho Gariasmara by way of

unread,
Dec 18, 2006, 12:04:26 AM12/18/06
to
Dari: Nugroho Gariasmara <nugi...@yahoo.com>

Kepada
Bp. Hudoyo
Yang Budiman

Terimakasih bapak telah memberi pencerahan yang berharga bagi saya,
kiranya bapak juga mau meberikan petunjuk atas pemahaman yang saya dapati dibawah ini agar pemahaman ini tidak menyesatkan bagi saya.

Manusia terdiri dari raga dan sukma, sukma menghidupi jiwa, jiwa yang menguasai raga menjaga kesinambungan antara raga dan sukma, jika nafas habis raga kembali ke tanah sedangkan sukma kembali ke Hyang Sukma.

Jiwa dipengaruhi oleh nafsu-nafsu dari unsur-unsur alam (catur warna dalam penjelasan Dewaruci), tri warna yang sangat mempengaruhi jiwa agar bersifat duniawi.

Hanya satu warna yang menanggapi semua sifat duniawi, yang dapat menerima anugrah luhur, yang menyatukan mahluk dan khaliknya dan dapat mempertimbangkan ini dan itu yang menyelaraskan budi dan akalnya .

Dalam bermeditasi kita hanya berkeinginan mencari kenikmatan bersatu dengan Hyang Sukma, merasakan mati dalam hidup dan hidup dalam mati.

Mematikan raga karena raga berisi nafsu-nafsu yang membawa godaan menjurus kita berlaku tidak baik dan raga tempat kita berada di alam dunia yang bersifat sementara.

Menyadari kehidupan sukma kita yang bersifat kekal selama kita di dunia dan tetap hidup dialam kelanggengan (abadi ).

Begitu pula menurut serat sjech siti jenar, alam dunia ini merupakan alam kematian alam kehidupan yang sebenarnya itu setelah kita mati (berakhir dalam alam dunia).

Terimakasih atas kemurahan hati bapak untuk memberikan petunjuk dan perhatiannya

Persaudaran selalu
Nugie

===================================
HUDOYO:

Rekan Nugroho yg baik,

Terima kasih buat email Anda. Wah, dalil-dalil yang Anda tampilkan banyak sekali. :-) Semua itu tidak lain adalah dalil-dalil agama secara umum. Bisa kita lihat unsur-unsurnya di dalam agama mana saja.

Di bawah ini saya akan menanggapinya dari sudut pandang seorang pemeditasi.

Dalam dalil pertama Anda terdapat empat pengertian: 1. raga, 2. sukma, 3. jiwa, 4. Hyang Sukma. 'Raga' jelas pengertiannya. Tapi 'sukma', 'jiwa', dan 'Hyang Sukma' berbeda-beda pengertiannya dari satu orang ke orang lain. Maka kita harus sepakat dulu apa yang dimaksud dengan masing-masing istilah itu.

Apakah yang Anda maksud dengan 'sukma'? Apakah sama dengan 'roh'? Lalu, seperti apakah 'sukma' / 'roh' itu? Di bawah Anda menyebutkan, "sukma itu abadi". Dari mana Anda tahu bahwa 'sukma' tu abadi, padahal segala sesuatu di alam semesta ini selalu berubah dan fana? Bukankah itu sekadar kepercayaan / iman, padahal kita tidak tahu apa-apa dari pengalaman kita sendiri apa itu 'sukma'/'roh'?

Mohon diperhatikan, bahwa saya tidak mengatakan bahwa 'sukma'/'roh' itu TIDAK ADA; sebaliknya, saya pun tidak mengatakan bahwa saya tahu atau pernah mengalami sendiri apa itu 'sukma'/'roh', sehingga saya bisa bicara tentang 'sukma' / 'roh' BERDASARKAN pengalaman saya sendiri.

Mungkin saja kelak, jika perkembangan rohani saya sudah "matang", saya bisa mengalami sendiri 'sukma' / 'roh' itu, tapi mungkin saja--bahkan saya merasa yakin-- bahwa akan ternyata hakikat 'sukma' / 'roh' itu lain sekali daripada apa yang selama ini dipersepsikan oleh pikiran saya.

Lalu, tentang 'Hyang Sukma'. Kita gunakan saja kembali istilah yang lazim untuk pengertian itu, yaitu "Tuhan". Apa itu 'Tuhan'? Bagi kebanyakan orang--kecuali segelintir orang yang pernah mendapat rahmat mengalami Yang Tertinggi/Terakhir itu--'Tuhan' itu tidak lebih daripada sekadar kepercayaan atau iman, seperti halnya kepercayaan tentang adanya 'sukma'/'roh'. Lalu, isi iman kepada 'Tuhan' roh itu pun bermacam-macam: ada yang percaya 'Tuhan' itu banyak, ada yang percaya 'Tuhan' itu satu, ada yang percaya 'Tuhan' itu "satu tapi terdiri dari tiga pribadi", ada yang percaya 'Tuhan' itu tidak ada sama sekali, dsb dsb. Begitulah, pengertian tentang 'Tuhan' tidaklah semudah mengucapkannya. (Bacalah posting lain hari ini: "Bila Tuhan Mesti Bertanggung-jawab ...")

***

Nah, bagaimanakah seorang pemeditasi melihat masalah 'sukma' dan 'Hyang Sukma'?

Seorang pemeditasi menghindari berpikir tentang apa yang tidak pernah dialaminya secara langsung, menghindari berpikir tentang kepercayaan/iman dsb. Saya kutipkan kembali dari posting "Bila Tuhan Mesti Bertanggung-jawab ...":

Di lain pihak, seorang mistikus (pemeditasi), alih-alih merenungkan yang tak terbatas, ia mengkaji hakikat pikiran itu sendiri, yang selamanya tidak lengkap, selamanya terkondisi, selamanya menciptakan dualisme subyek-obyek, yakni suatu persepsi atau paradigma yang tidak nyata. Karena kesadaran mengenai hakikat pikiran itu, seorang pemeditasi akan menghindari bicara tentang "Tuhan".

Bila ini disadari terus-menerus, makin lama makin dalam, maka pada suatu titik, yang entah kapan datangnya, pikiran itu akan diam, si aku akan runtuh, dan dualisme subyek-obyek akan lenyap (si pengamat akan lenyap). Di situlah, dan hanya di situ, muncul Sesuatu, dari mana segala sesuatu yang partikular ini muncul, berada dan larut kembali. Tetapi sesuatu itu bukan "Tuhan" (yang ada dalam pikiran) sebagaimana diajarkan oleh agama-agama.

Hakikat Sesuatu itu tidak mungkin dijangkau dan dipahami oleh pikiran/si aku, yang sementara itu sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, selama masih ada pikiran/si aku yang mencoba merenungkan hal itu, satu-satunya atribut yang paling mendekati adalah "Yang Tak Dikenal" (The Unknown). (Bahkan kata "Esa" pun sudah berlebihan untuk diterapkan pada Sesuatu, oleh karena jika yang ada hanyalah yang satu itu, tidak ada yang lain, maka untuk apa pula perlu disebut "Esa". -- Menyebut "Tuhan Yang Maha ESA" itu adalah untuk dihadapkan dengan sudut pandang politeisme, jadi untuk memperhadapkan satu opini dengan opini lain, bukan untuk memahami Tuhan itu sendiri.)

***

Begitulah, Rekan Nugroho, meditasi yang saya pahami dan lakukan, yakni meditasi yang mendekati Yang Tertinggi/Terakhir itu melalui "jalan negatif", yakni menghindari pemikiran positif apa pun tentang Yang Tertinggi/Terakhir itu. Alih-alih, yang menjadi obyek perhatiannya adalah apa yang nyata dialami oleh manusia, yakni 'raga' dan 'jiwa'-nya (batin, mind), yang selamanya berubah dan fana.

Meditasi seperti ini berbeda sekali--malah dalam banyak aspek bertolak belakang--dengan meditasi yang Anda ungkapkan: "Dalam bermeditasi kita hanya berkeinginan mencari kenikmatan bersatu dengan Hyang Sukma ...", yakni meditasi yang menempuh "jalan positif", dengan mempertahankan ide/pengertian yang positif tentang Yang Tertinggi/Terakhir.

Nah, jadi saya sudah jelaskan, ada dua jalan meditasi. Buddha (dalam mazhab Theravada), Krishnamurti & meditasi Zen menggunakan "jalan negatif". Sedangkan meditasi dalama agama-agama selebihnya (Mahayana, Hinduisme, Islam & Kristen dll) menggunakan "jalan positif.

Silakan Anda memilih sendiri jalan mana yang akan Anda tempuh, "jalan positif" atau "jalan "negatif". Tetapi saya hanya bisa menjelaskan meditasi "negatif" yang saya tempuh. Bila Anda ingin mendapat petunjuk tentang bagaimana menjalankan meditasi "positif", silakan bertanya kepada para ahlinya.

Salam,
Hudoyo

0 new messages