Usai perang Badar, Jabir bin Abdillah ra. menghadap Nabi Muhammad SAW, "Hai
Jabir." Tegur Nabi Muhammad SAW dengan suara yang ramah dan penuh kasih,
"Mengapa aku lihat kamu tampak sedih?" Jabir ra. menjawab, "Ya Rasulullah,
ayahku baru saja syahid di Badar. Ia meninggalkan keluarga dan utang yang
banyak." Nabi Muhammad SAW bertanya, "Maukah kamu menerima kabar gembira
tentang bagaimana Allah SWT menyambut ayahmu? Allah tidak berbicara dengan
makhluk-Nya kecuali melalui tirai. Allah menghidupkan ayahmu dan berbicara
dengannya berhadap-hadapan. Allah SWT berfirman, "Hai hamba-Ku, mintalah
kepada-Ku, Aku akan memberimu."
Ayahmu menjawab, "Ya Allah, hidupkan aku lagi, biar aku berperang di
jalan-Mu untuk kedua kalinya." Allah SWT berfirman, "Sudah berlaku
ketentuan-Ku, orang yang terbunuh tidak akan kembali lagi ke dunia." Ayahmu
berkata, "Kalau begitu sampaikan ya Allah, kepada orang yang di belakangku
tentang kebahagiaan yang aku peroleh."
Setelah itu turunlah ayat, "Janganlah sekali-kali kamu mengira orang-orang
yang dibunuh di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di hadapan Tuhan mereka
dan diberi rezeki. Mereka bergembira kepada apa yang Allah berikan sebagai
anugerah-Nya kepada mereka. Mereka berbahagia demi orang-orang yang belum
menyusul mereka di belakang mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan
tidaklah mereka berduka cita." (QS. Ali Imran : 169-170).
Ungkapan jangan "sekali-kali" disebut sebagai tawkid atau penegasan. Allah
SWT menegaskan dengan sangat bahwa orang yang mati syahid itu tidak mati
melainkan mereka hidup di tempat lain dan diberi rezeki. Mereka menyaksikan
orang-orang yang ditinggalkannya, mendoakan mereka dan menolong mereka bila
diperlukan. Kepada orang yang syahid diberi kekuasaan untuk memberi syafaat
kepada tujuh puluh orang keluarganya.
Sebagian ulama tafsir menganggap bahwa kehidupan syuhada dengan limpahan
rejeki dan kebahagiaan itu hanya terjadi pada hari kiamat. Al-Fakhr al-Razi
ra. menolak anggapan ini dan tidak perlu ada ungkapan penegas tentang ini,
karena pada hari akhirat semua akan dibangkitkan lagi dan yang dibangkitkan
pada hari kiamat bukan hanya para syuhada. Lalu di mana kelebihan para
syuhada dibandingkan dengan mukmin yang tidak mati syahid?
Di dalam Quran diterangkan tentang orang-orang zalim yang mendapat siksa
setiap pagi dan petang. Firman Allah SWT, "Jika Allah menjadikan ahli siksa
tetap hidup sebelum hari kiamat untuk menyiksa mereka, maka tentu lebih
utama lagi bagi Allah SWT untuk menghidupkan ahli pahala sebelum hari kiamat
sebagai kebaikan dan pemberian pahala dari Allah atas mereka." (QS. Ghafir :
46).
Karena para syuhada masih hidup, mereka diizinkan berhubungan dengan
saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia. Mereka turut berbahagia ketika
orang-orang menyusulnya dengan kesyahidan lagi. Mereka mendoakan orang-orang
yang menziarahinya dengan doa kebaikan. Mereka masih ikut serta dalam
membentuk sejarah kaum muslimin sepanjang masa. Darah mereka telah menyiram
bumi Allah SWT agar tumbuh pohon-pohon keadilan dan merekah mawar kesucian
di dalam taman kemanusiaan. Rasulullah SAW bersabda, "Di atas kebaikan tidak
ada lagi yang lebih baik, kecuali mati syahid." Dalam ayat ini para syuhada
disebut sebagai "orang-orang yang terbunuh di jalan Allah SWT". Sudah
sepakat para ulama bahwa para Nabi semuanya mati syahid.
Nabi Muhammad SAW adalah sayyid al-syuhada atau pemimpinnya para ahli
syahid. Ada pertanyaan, bukankah Nabi Muhammad SAW wafat secara wajar karena
tidak dibunuh? Mereka lupa, bahwa mati syahid tidak harus diartikan sebagai
mati karena dibunuh dalam peperangan menegakkan agama Allah SWT. Saya akan
menyampaikan kepada Anda, bahwa Rasulullah SAW juga dibunuh di jalan Allah,
tetapi tidak dengan pedang melainkan dengan racun yang mematikan.
Apa dasarnya bahwa Nabi Muhammad SAW dibunuh dan siapa yang membunuhnya?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, izinkan saya melaporkan berbagai usaha
untuk membunuh Rasulullah SAW sejak hari-hari pertama beliau di Mekkah
sampai hari-hari terakhirnya di Madinah.
Jalaluddin Rakhmat
Rencana membunuh Nabi Muhammad SAW di Mekkah
Menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW, telah berkembang berita di seluruh
Jazirah Arabia. Berita itu disampaikan oleh tukang-tukang ramal, para
pendeta Nashara dan para Rabbi Yahudi. Tersiar kabar bahwa penghulu para
Nabi akan keluar dari Mekkah, mengajarkan kesucian dan menghancurkan
berhala. Jabir bin Abdillah bercerita, "Berita pertama yang kami dengar
tentang Rasulullah SAW datang dari seorang peramal di zaman jahiliyah.
Peramal itu punya hubungan dengan bangsa jin dan salah seorang di antara
mereka datang kepadanya dalam bentuk burung. Ia mengabarkan tentang
kedatangan seorang lelaki dari Mekkah yang mengharamkan perzinahan."
Pada zaman jahiliyah, Amr bin Murrah al-Juhani melakukan haji. Di Mekkah ia
melihat cahaya memancar dari Kabah sampai ke bukit-bukit di Yatsrib. Dari
dalam cahaya, ia mendengar suara, "Muncullah ke-Islam-an, hancurlah
keberhalaan dan bersambunglah kekeluargaan." Untuk mengetahui tersebarnya
berita tentang Nabi Muhammad SAW dari kalangan Yahudi dan Nashara, kisah
yang dilaporkan kepada kita oleh Abu Sufyan berikut ini sangat menarik.
Cerita Abu Sufyan, "Bersama Umyyah bin Abi al-Shalat dari kabilah Tsaqif,
aku berdagang ke Syam. Setiap kali kami singgah di suatu tempat, Umayyah
selalu mendatangi orang-orang yang menjamu kami. Ketika kami datang ke
negeri orang Nashara, mereka menyambutnya, memuliakannya dan memberikan
hadiah kepadanya.
Suatu kali Umayyah pergi ke rumah mereka dan kembali pertengahan siang. Ia
melepaskan pakaiannya atas dan bawah, dan menggantinya dengan pakaian
hitam-hitam. Ia berkata kepadaku, "Hai Abu Sufyan, maukah kau pergi
bersamaku untuk menemui seorang alim Nashara dan kita pertanyakan kepadanya
ilmu yang berasal dari kitab."
Aku menolaknya. Akhirnya ia berangkat sendirian. Ia datang lagi selepas
tengah malam. Ia melepaskan pakaiannya dan berbaring di tempat tidurnya.
Demi Allah ia tidak tidur dan tidak bangkit sampai subuh. Pagi-pagi ia duduk
dalam keadaan sedih dan berduka. Ia tidak bicara kepada kami dan kami tidak
bicara kepadanya.
Kami melanjutkan perjalanan dua malam lagi dalam keadaan ia sedang resah.
Aku berkata kepadanya, "Kenapa aku menyaksikan apa yang aku lihat pada
dirimu setelah engkau kembali dari sahabatmu?" Ia menjawab, "Karena hari
kembaliku." Aku bertanya lagi, "Apakah memang engkau akan kembali?" Ia
berkata, "Memang demi Allah, aku akan mati dan aku akan hidup lagi."
Aku bertanya, "Maukah kau menerima amanahku?" Ia berkata, "Untuk apa?" Aku
berkata, "Agar engkau tidak dibangkitkan dan tidak diminta perhitungan." Ia
tertawa seraya berkata, "Justru aku akan dibangkitkan dan dimintai
perhitungan. Demi Allah, hai Abu Sufyan, sebagian dari kita masuk surga dan
sebagian lagi masuk neraka." Aku berkata, "Kamu sendiri di mana? Apakah
sahabatmu memberitahukannya kepadamu?" Ia menjawab, "Sahabatku tidak
mengetahui nasib diriku dan nasib dirinya."
Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami dan sampai lagi di perkampungan
orang Nashara. Ketika mereka melihatnya, mereka menyambutnya, memberikan
hadiah kepadanya dan berangkat bersama mereka ke tempat ibadah mereka. Ia
datang lagi kepada kami lewat tengah hari lalu ia memakai pakaian hitamnya
dan pergi lagi. Ia baru pulang setelah lewat tengah malam. Ia menanggalkan
pakaiannya dan menjatuhkan dirinya di tempat tidurnya.
Demi Allah ia tidak tidur dan tidak bangun lagi sampai subuh. Pagi hari ia
tampak sedih dan murung. Ia tidak bicara kepada kami dan kami pun tidak
berbicara kepadanya. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami selama beberapa
malam. Ia berkata kepadaku, "Hai Abu Sufyan, kabarkan kepadaku tentang
Rabi'ah. Apakah ia menjauhi kedzaliman dan hal-hal yang haram?" Aku berkata,
"Ya, demi Allah." Ia berkata, "Apakah ia menyambungkan kekeluargaan dan
memerintahkan orang lain melakukan hal yang sama?" Aku berkata, "Ya, demi
Allah."
Ia berkata, "Apakah menurut kamu ada orang Quraisy lainnya yang lebih mulia
darinya?" Aku berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu." Ia berkata, "Apakah ia
orang miskin?" Aku berkata, "Tidak, ia punya harta yang banyak." Ia berkata,
"Berapa usianya sekarang?" Aku berkata, "Lebih dari seratus." Ia berkata,
"Usia dan kedudukannya melemahkannya?" Aku berkata, "Tidak, demi Allah
bahkan menambah kebaikannya."
Ia berkata, "Memang begitu. Aku akan ceritakan kepadamu apa yang aku dengar
dari alim Nasrani yang aku datangi. Aku menanyakan kepadanya banyak hal dan
aku juga menanyakan kepadanya tentang nabi yang ditunggu-tunggu. Alim
Nasrani itu mengatakan bahwa nabi itu adalah seorang lelaki dari Arab, dari
pengurus rumah yang menjadi tempat haji orang-orang Arab." Aku berkata,
"Kalau begitu pada kamilah ada rumah tempat haji orang-orang Arab itu. Ia
berkata, "Ia memang berasal dari saudara kamu dari Quraisy." Telah menimpaku
sesuatu yang belum pernah menimpaku sebelumnya. Telah keluar dari tanganku
keberuntungan dunia dan akhirat, dan aku berharap, akulah nabi yang dimaksud
itu.
Aku berkata kepadanya, "Tolong jelaskan sifat-sifatnya kepadaku." Ia
berkata, "Nabi itu adalah seorang muda yang sedang memasuki masa tuanya. Ia
memulai perjuangannya dengan menjauhi yang haram dan berbagai kedzaliman. Ia
menyambung tali silaturahmi. Ia miskin tetapi pemurah dan sangat santun
kepada siapa pun. Kebanyakan tentaranya para malaikat." Aku bertanya, "Apa
tanda-tandanya?" Ia berkata, "Syam telah berguncang tiga puluh kali setelah
wafatnya Isa putera Maryam dan semuanya musibah. Tinggallah satu goncangan
menyeluruh, yang di dalamnya ada musibah yang terjadi setelah
kedatangannya."
Abu Sufyan berkata, "Ini tidak benar. Sekiranya Allah membangkitkan seorang
rasul, pastilah ia memilih seseorang yang sudah tua dan berkedudukan
tinggi." Kata Umayyah, "Akupun bersumpah seperti itu pula." Akhirnya kami
pergi sehingga jarak ke Mekkah tinggal dua malam lagi. Seorang penunggang
kuda mengejar kami di belakang kami. Ia membawa berita bahwa Syam baru saja
ditimpa goncangan besar yang menghancurkan penduduknya dan menimpakan
musibah besar. Umayyah berkata, "Bagaimana pendapatmu, wahai Abu Sufyan?"
Aku berkata, "Aku pikir, sahabatku itu benar."
Kami sampai di Mekkah dan menyelesaikan urusanku, lalu aku berangkat lagi ke
Yaman, berdagang dan tinggal di sana selama lima bulan. Ketika sampai di
Mekkah, orang-orang berdatangan dan mengucapkan salam kepadaku, lalu
menanyakan barang dagangan mereka. Datanglah kepadaku Muhammad bin Abdullah
ra, sementara Hindun sedang bermain dengan anak-anaknya di sampingku. Ia
mengucapkan salam kepadaku, menyambut aku dan menanyakan tentang
perjalananku dan kedatanganku, dan ia tidak menanyakan barang dagangannya
karena setelah itu dia pergi.
Aku berkata kepada Hindun, "Demi Allah, orang ini membuat aku kagum. Semua
orang Quraisy yang menitipkan dagangannya padaku selalu bertanya tentangnya,
tetapi orang ini tidak bertanya tentang barang dagangannya sedikit pun."
Hindun berkata kepadaku, "Apa engkau tidak tahu apa yang terjadi padanya?"
Aku bertanya sambil terkejut, "Ada apa?"
Hindun berkata, "Muhammad mengaku bahwa ia rasul Allah." Aku teringat ucapan
orang Nashara dan diam seribu bahasa sehingga Hindun bertanya kepadaku,
"Mengapa kamu?" Aku berkata, "Ini pasti omongan yang keliru. Ia terlalu
cerdas untuk mengatakan hal seperti itu. Hindun berkata, "Demi Allah ia
memang mengatakan demikian dan mengajak orang kepadanya. Ia juga punya
sahabat-sahabat yang mengikuti agamanya.
Aku datang ke Thaif dan menemui Umyyah lalu berkata kepadanya, "Masih
ingatkah kamu cerita orang Nashara?" Umayyah mengangguk. Aku berkata,
"Memang sudah terjadi." Umayyah terkejut dan bertanya, "Siapa dia?" Aku
berkata, "Muhammad bin Abdullah." Umayyah bertanya, "Anak Abdul Muthalib?"
Kemudian aku ceritakan kepadanya berita dari Hindun dan tiba-tiba
keringatnya bercucuran.
Umayyah berkata, "Demi Allah, ya Abu Sufyan jika engkau jelaskan sifatnya,
memang dialah orangnya. Jika dia menang dan aku masih hidup, aku akan
meminta tebusan dari Allah. Setelah kejadian itu aku berangkat ke Yaman dan
sepulang dari Yaman, aku singgah lagi ke rumah Umayyah." Aku berkata, "Sudah
sampai kepadamu perihal lelaki itu, sekarang bagaimana sikapmu?"
Umayyah berkata, "Demi Allah, aku tidak mau beriman kepada seorang rasul
yang bukan berasal dari kabilah Tsaqif." Abu Sufyan mengakhiri ceritanya
dengan mengatakan, "Ketika aku sampai di Mekkah, aku mendapatkan
sahabat-sahabat Muhammad direndahkan dan dipukuli sehingga aku membatin,
'Mana tentaranya dari kalangan para malaikat?' Sejak saat itu masuklah dalam
hatiku sesuatu yang juga masuk dalam hati orang lain yakni 'Perasaan Lebih
Tinggi'."
Seperti Umayyah, Abu Sufyan juga sudah mendengar tentang bakal munculnya
Nabi Muhammad SAW dari para pendeta Nashara. Ia telah menyaksikan
bukti-bukti kebenaran berita itu, tetapi keangkuhan telah menutup mata
hatinya. Mereka memprotes Allah SWT dan menyesali mengapa nabi terakhir
tidak lahir dari keluarga yang berkedudukan tinggi dan kaya raya di Mekkah
atau Thaif. Mengapa kenabian tidak diberikan kepada Abu Sufyan, pemimpin
dari bani Umayyah yang kaya, atau kepada Umayyah pemimpin bani Tsaqif yang
kaya?
Isi hati kedua orang takabur ini disampaikan Allah lewat firman-Nya, "Mereka
berkata : mengapa Quran tidak diturunkan kepada salah seorang dari tokoh
besar dari kedua negeri?" (QS. Al-Zukhruf : 31). Saat itu Abu sufyan sedang
berada di puncak kejayaannya. Setelah melewati persaingan dan pertarungan
politik yang keras, di antara kabilah-kabilah Quraisy dilakukan pembagian
kekuasaan, yakni:
Bani Hasyim.
Bertugas melakukan siqayah dan rifadah yakni pembagian air minum bagi jamaah
haji dan penyediaan logistik makanan.
Bani Abd al-Dar.
Bertugas memegang panji yang mempersatukan kabilah Quraisy.
Bani Abd al-Syams.
Bertugas memegang kekuasaan politik pemerintahan secara umum.
Abu Sufyan adalah pimpinan tertinggi Bani Abd al-Syams. Tiba-tiba dari Bani
Hasyim muncul seseorang yang dipilih Allah SWT menjadi nabi terakhir.
Jabatan kerasulan menggoncang perjanjian yang telah disepakati. Abu Sufyan
berkata, "Kabilah kami dan kabilah Bani Hasyim seperti kuda yng sedang
berlomba. Setiap Bani Hasyim mendatangkan sesuatu, kami juga mendatangkan
tandingannya. Lalu datanglah salah seorang dari mereka mengaku membawa
berita dari langit. Bagaimana mungkin kami mendatangkan tandingannya."
Akhirnya didorong perasaan benci dan keangkuhannya, Abu Sufyan dan
pengikutnya tidak henti-hentinya menyerang Nabi Muhammad SAW. Ia ingin
menghancurkan dakwah Islam dengan cara halus dan kasar. Berulang kali ia
berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW dan sebagian kisahnya bisa kita ikuti di
bawah ini.
Abu Sufyan adalah nama julukan dan nama aslinya adalah Shakr bin Harb bin
Umayyah bin Abd al-Syam bin Abd Manaf. Ayahnya hidup sejaman dengan Abdul
Muthalib, yakni kakek Nabi Muhammad SAW. Pada zamannya, ia kalah wibawa
dengan Abdul Muthalib. Pada suatu waktu, raja Sayf bin Dzi Yazn menguasai
Yaman, maka Abdul Muthalib datang menemuinya dan mengucapkan selamat
kepadanya. Sayf mengutamakan Abdul Muthalib di atas pemimpin para kabilah
lainnya.
Ia dibawa ke tempat sunyi dan di sana Sayf menceritakan bahwa seorang nabi
akan lahir dan dia menjelaskan sifat-sifatnya. Begitu mendengar
penjelasannya, Abdul Muthalib mengucapkan takbir dan bersujud. Melihat hal
ini Sayf bertanya, "Apakah engkau yakin kebenaran berita ini ?" Jawab Abdul
Muthalib, "Saya yakin dan saya baru saja memiliki cucu yang menunjukkan
sifat-sifat yang baginda sebutkan."
Sayf memberi nasihat, "Berhati-hatilah kamu pada orang Yahudi dan kaumnya.
Kaum kamu bahkan lebih keras daripada orang Yahudi. Allah akan
menyempurnakan cahaya-Nya dan akan meninggikan dakwah-Nya."
Ramalan Sayf terbukti benar, karena terbukti dalam sejarah, Abu Sufyan
menghabiskan hidupnya untuk memerangi Nabi Muhammad SAW. Ia merencanakan
pembunuhan dan penyiksaan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia menghimpun
kabilah-kabilah Arab dan melakukan embargo total pada kabilah bani Hasyim.
Keluarga Nabi Muhammad SAW diasingkan di lembah Abu Thalib. Makanan dan
minuman dilarang dikirimkan kepada mereka, tidak boleh melakukan perdagangan
terhadap mereka dan selama tiga tahun keluarga Nabi Muhammad SAW mengalami
kelaparan dan kehausan dan selama itu juga berbagai usaha pembunuhan
direncanakan Abu Sufyan dan kelompoknya.
Sebab itu setiap malam Abu Thalib tidur di ranjang Nabi Muhammad SAW dan
Nabi Muhammad SAW berpindah-pindah tempat setiap malam. Abu Thalib tidak
memejamkan matanya untuk melindungi keponakan yang sangat dicintainya. Ia
menyanyikan dukungannya kepada Nabi Muhammad SAW dengan syairnya yang
terkenal
Demi Allah, mereka semua tidak akan
Menyentuh kamu
Sampai di bawah tanah aku terbaring kaku
Jalankan tugas yang dibebankan kepadamu
Bergembiralah dan tentramkan hatimu
Sebelum itu, beberapa tokoh Quraisy mendatangi Abu Thalib. Mereka membawa
seorang anak muda bernama Amarah bin al-Walid al-Makhzumi. Anak itu
ditawarkan untuk ditukar dengan Nabi Muhammad SAW. Kata Abu Thalib, "Ajaib
benar, kalian memberikan kepadaku anakmu untuk aku pelihara dan aku harus
menyerahkan keponakanku untuk kalian bunuh." Mereka menjawab, "Tidak, kami
tidak bermaksud membunuh Muhammad."
Malam itu, Abu Thalib menghimpun anak-anak muda dari bani Abdi Manaf dan
bani Zuhrah. Ia memerintahkan mereka untuk berjaga-jaga di sekitar Masjid.
Bila sampai subuh ia tidak melihat Nabi Muhammad SAW atau mendengar hal-hal
yang buruk, ia memerintahkan mereka untuk memerangi musuh-musuh Rasulullah
SAW. Ketika Abu Thalib melihat Nabi Muhammad SAW datang, ia melonjak
gembira, "Ke mana saja engkau, wahai anak saudaraku? Apakah engkau baik-baik
saja?" Untuk pertanyaan itu Nabi Muhammad SAW menjawab dengan tersenyum.
Berkat kegigihan Abu Thalib, Nabi Muhammad SAW selamat dari berbagai usaha
pembunuhan. Di hadapan Abu Thalib, gerakan-gerakan Abu Sufyan dan
kelompoknya tidak berarti apa-apa.
Tetapi semua kegagalan itu tidak membuat mereka semua putus asa. Pada suatu
hari, mereka sepakat menyewa Ma'mar bin Yazid, seorang jago pedang dari Bani
Kinanah. Ia sangat ditaati oleh kaumnya. Dengan bangga ia berkata, "Aku akan
membereskan Muhammad dengan cepat dan menentramkan kalian dari dia. Jika
Bani Hasyim menuntut balas, aku sudah menyiapkan dua puluh ribu orang
bersenjata dan jika mereka meminta diyat (tebusan nyawa), aku akan
membayarnya sepuluh kali lipat."
Ia membawa pedang yang lebar dan panjang. Dengan gagah ia mendatangi Nabi
Muhammad SAW di Masjidil Haram. Nabi Muhammad SAW sedang melakukan shalat di
Hijir Ismail. Beliau sudah mengetahui kedatangannya. Beliau tidak bergeming
dan tidak juga memendekkan shalatnya. "Ini dia Muhammad sedang sujud,"
teriak orang-orang kepadanya. Ma'mar menghunus pedangnya dan mendekati Nabi
SAW. Tiba-tiba ia melempar pedangnya dan lari tunggang langgang. Di pintu
Shafa, ia terpeleset dan jatuh. Ketika bangun kembali, mukanya penuh darah,
karena batu-batu bukit Shafa yang tajam. Ia berlari tanpa menoleh ke
belakang sampai ke lapangan terbuka di luar Masjid. Kawan-kawannya
menyusulnya dan membersihkan darah dari mukanya.
Mereka bertanya, "Apa yang terjadi padamu?" Ma'mar berkata, "Celaka kamu.
Tertipulah orang yang kalian tipu." Mereka bertanya lagi, "Ada apa?" Jawab
Ma'mar, "Aku tidak pernah melihat seperti yang aku lihat hari ini.
Tinggalkan aku sebentar." Mereka membiarkannya berpikir sesaat.
Mereka bertanya lagi, "Apa yang terjadi?" Ma'mar menjawab, "Ketika aku
mendekati Muhammad dan bermaksud hendak membunuhnya dengan pedangku,
tiba-tiba aku melihat di atas kepalanya dua ekor ular buas yang
menghembuskan api dan matanya merah membara. Aku tidak akan pernah lagi
menyakiti Muhammad SAW."
Pada kali yang lain, Abu Sufyan dan tokoh-tokoh lainnya berkumpul di Hijr
Ismail. Mereka berkata, "Belum pernah kita bersabar menghadapi satu orang
lelaki saja. Ia telah menghina keturunan kita, mencaci orang-orang tua kita,
mencela agama kita, memecah belah persatuan kita, dan memaki Lata, Uzza,
Manat, Nailah dan Asaf yakni dewa-dewa besar yang ada di atas Ka'bah. Pada
waktu berhadapan dengan Muhammad, kita harus bersatu dan kita tidak
meninggalkan dia sebelum kita membunuhnya."
Fatimah putri Nabi Muhammad SAW yang masih kecil mendengar rencana jahat
itu. Ia menemui ayahnya sambil menangis, "Ayah para pemimpin Quraisy telah
bersatu untuk membunuhmu. Semua orang telah menentukan bagiannya dari
darahmu." Nabi Muhammad SAW menjawab, "Anakku, ambilkan air wudhuku."
Kemudian beliau berwudhu. Beliau masuk Masjid.
Ketika orang-orang kafir yang berniat membunuhnya melihat beliau, tiba-tiba
mereka seperti memikul beban yang berat. Mereka menundukkan pandangannya,
merapatkan dagu masing-masing ke dadanya, dan terpaku di tempat duduknya.
Tidak seorang pun berani mengangkat kepalanya, apalagi berdiri. Nabi
Muhammad SAW mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke arah mereka.
Beliau SAW bersabda, "Remuk redamlah muka kalian." Aneh bin ajaib,
orang-orang yang terkena lemparan tanah Nabi Muhammad SAW pada saat itu,
kelak terbunuh di Perang Badar dalam keadaan kafir.
Perang Badar terjadi setelah hijrah. Puncak makar terhadap Nabi Muhammad SAW
terjadi pada malam hijrah. Di Darun Nadwah, parlemen kabilah-kabilah Quraisy
bersidang untuk memutuskan tindakan yang harus dilakukan terhadap Nabi
Muhammad SAW. Ketua parlemen berkata, "Lelaki ini telah melakukan apa yang
kalian saksikan. Demi Allah kita tidak aman dari gangguan dia dan gangguan
orang-orang yang mengikuti dia di luar kita. Mari kita kumpulkan pendapat."
Abu al-Bakhtari bin Hisyam berdiri, "Penjarakan dia dalam belenggu besi,
tutup pintu penjaranya, siksa dia sebagaimana kita menyiksa para penyair
semacam dia dan siksa terus sampai mati." Yang lain berkata, "Bukan ini
pendapat yang kita perlukan. Demi Allah jika kita memenjarakan dia,
ajarannya akan sampai pada sahabat-sahabatnya lewat pintu yang telah
terkunci. Jangan ragu, bahwa mereka akan menyerang kalian dan mengambil dia
dari tangan yang lain. Mereka akan melebihi jumlah kalian dan menaklukkan
kalian. Coba kemukakan pendapat yang lain."
Al-Aswad bin Rabi'ah berdiri seraya berkata, "Kita buang saja dia dari
negeri kita. Jika sudah keluar, kita tidak peduli ke mana dia mau pergi."
Orang yang menyampaikan pendapat sebelumnya berkata, "Bukan, bukan pendapat
ini yang kita perlukan. Tidakkah kalian perhatikan tutur katanya, kemanisan
pembicaraannya, dan kemampuannya untuk meluluhkan hati manusia. Kalian tidak
akan mampu menghindari dia. Ia akan datang pada satu perkampungan Arab,
penduduknya akan mempercayai ucapannya, lalu mereka berbaiat, bergerak
menuju kalian mengambil pemerintahan dari kalian dan menindak kalian
sekehendak mereka. Kemukakan pendapat yang lain."
Abu Jahal berkata, "Demi Allah, aku punya pendapat yang bagus. Ambil dari
setiap kabilah pemuda yang gagah, tegap dan perkasa di tengah-tengah kaumnya
dan berikan kepada mereka pedang yang tajam. Gerakkan mereka untuk menyerang
dan membunuh Muhammad sebagai satu kesatuan. Biarkan darahnya tersebar pada
seluruh kabilah sehinga bani Abdul Manaf tidak akan berani menunutut balas.
Ketua sidang memuji pendapat itu dan semua anggota Darun Nadwah sepakat
untuk menjalankannya. Berkenaan dengan sidang itu, turunlah ayat, "Ingatlah
ketika orang kafir membuat rencana untuk memenjarakan kamu, atau membunuh
kamu, atau mengusir kamu. Mereka membuat rencana, Allah pun membuat rencana.
Dan Allah adalah perencana yang baik." (QS. Al-Anfal : 30).
Lewat sepertiga malam, sekitar seratus orang mengintai rumah Nabi Muhammad
SAW, tetapi Nabi SAW keluar dari rumah beliau di depan hidung orang-orang
kafir itu tetapi mereka tidak melihatnya. Beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib
berbaring dan tidur di ranjang beliau, hal ini persis seperti ketika Abu
Thalib melindungi Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa embargo beberapa tahun
sebelumnya.
Nabi Muhammad SAW mengambil segenggam tanah, lalu membaca surat Yasin 8-9.
Para calon pembunuh malam itu diserang kantuk yang hebat sehingga semuanya
tertidur. Pada pagi hari ketika mereka menyerbu rumah Nabi Muhammad SAW,
mereka hanya mendapati Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad SAW lolos dari
usaha pembunuhan untuk kesekian kalinya. Sebelum kita melihat upaya
pembunuhan Rasulullah SAW setelah hijrah, ada baiknya kita mengutip
peristiwa yang sering kita dengar. Umar bin Khatab, tanpa kita ketahui siapa
yang membunuhnya, menghunus pedang untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.
Di jalan ia berjumpa dengan seorang lelaki dari bani Zahrah yang menegurnya,
"Mau ke mana, hai Umar?" Jawab Umar, "Aku akan membunuh Muhammad." Kata
lelaki itu, "Bagaimana kamu bisa aman dari pembalasan bani Hasyim dan bani
Zahrah, jika kamu membunuhnya ?" Jawab Umar, "Aku pikir kamu juga sudah
murtad dari agama yang kamu peluk sebelumnya." Kata lelaki itu, "Hai Umar,
aku tunjukkan hal lebih aneh lagi. Iparmu dan saudara perempuanmu, sekarang
sudah meninggalkan agama yang kamu peluk."
Setelah menyelesaikan urusannya dengan saudaranya, Umar mendatangi rumah
Al-Arqam. Di situ sedang berkumpul Nabi Muhammad SAW bersama para
sahabatnya. Umar menggebrak pintu rumah. Hamzah bertanya, "Siapa yang
datang?" Jawab para sahabat, "Umar bin Khatab." Kata Hamzah, "Umar bin
Khatab? Bukakan pintu. Jika dia datang kami akan menyambutnya dan jika dia
berpaling, kita akan membunuhnya."
Nabi Muhammad SAW mendengarkan percakapan ini. Beliau SAW bertanya, "Siapa
yang datang?" Para sahabat menjawab, "Umar bin Khattab." Nabi Muhammad
keluar rumah, mendatangi Umar dan menjambak rambut Umar serta
menghentakkannnya dengan keras sampai Umar tersungkur dan jatuh ke tanah.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Belum jugakah kamu mau berhenti wahai Umar?"
Akhirnya hati Umar bin Khattab menjadi luluh dan beliau segera mengucapkan
kalimat syahadat sehingga resmi masuk Islam.
Rencana Membunuh Nabi SAW di Madinah
Upaya untuk membunuh Nabi Muhammad SAW di Mekkah, tidak hanya dilakukan oleh
orang kafir saja. Di Madinah, para pembunuh Nabi Muhammad SAW juga meliputi
orang-orang Islam yakni sahabat-sahabat Nabi yang dikenal sebagai kaum
munafik. Kita mulai dari tipu daya Abu Sufyan. Pada suatu hari, di hadapan
orang-orang Quraisy di Mekkah, Abu Sufyan berkata, "Mengapa tidak ada yang
mau membunuh Muhammad ketika ia berjalan-jalan di pasar. Kita perlu menuntut
balas." Seorang Arab dari dusun mendatangi Abu Sufyan di rumahnya. Ia
berkata, "Jika kamu mau memberiku bekal, aku akan membunuh dia. Aku orang
yang pandai menemukan jalan ke Madinah. Aku sangat mahir mengenai arah, lagi
pula aku mempunyai pisau yang sangat tajam."
Abu Sufyan tentu saja sangat gembira. Ia berkata, "Engkau sahabatku." Ia
memberinya unta dan perbekalan. Abu Sufyan juga berbisik, "Rahasiakan
perjanjian ini. Aku tidak mau ada orang yang mendengarnya karena nanti ia
akan menyampaikannya kepada Muhammad." Orang Arab itu menjawab, "Tidak akan
tahu seorang pun."
Singkat cerita, ia berangkat menuju Madinah. Setelah hampir seminggu, ia
mencapai kota Nabi. Ia mencari Nabi Muhammad SAW, dan menemukan beliau
sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya di Mesjid. Ia pun masuk ke
Mesjid. Begitu Nabi Muhammad SAW melihatnya, beliau berkata, "Orang ini
bermaksud buruk, tetapi Allah akan menghalanginya dari apa yang
direncanakan."
Orang Arab itu berhenti di depan para sahabat dan bertanya, "Yang mana anak
Abdul Muthalib?" Rasulullah SAW bersabda, "Akulah anak Abdul Muthalib."
Lelaki Arab itu mendekati Nabi Muhammad SAW dengan merunduk ke arah sebelah
kirinya. Usaid bin Khudair ra., seorang sahabat Ansor meloncat dan
membentaknya, "Jangan dekati Nabi Muhammad SAW."
Ia menyentakkan sesuatu dari dalam sarungnya dan merampas pisaunya. Nabi
Muhammad SAW bersabda, "Memang ia punya maksud buruk." Dalam cengkeraman
Usaid ra., lelaki Arab itu memohon, "Lindungi darahku, ya Muhammad." Nabi
Muhammad bertanya kepadanya, "Maukah kamu bicara jujur kepadaku dan sebutkan
mengapa engkau datang kepadaku. Jika kamu jujur, maka kejujuran itu akan
berguna bagimu, dan jika kamu dusta, aku sudah mengetahui apa yang kamu
rencanakan."
Lelaki Arab itu bertanya, "Apa saya diberi perlindungan?" Nabi Muhammad SAW
menjawab, "Kamu aman." Lelaki itu menceritakan perjanjiannya dengan Abu
Sufyan. Nabi Muhammad SAW menyerahkan dia kepada Usaid. Keesokan harinya, ia
memanggil orang Arab itu. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Aku sudah
memberikan perlindungan kepadamu. Sekarang berangkatlah kamu ke mana saja
kamu suka atau pilihlah yang paling baik bagimu."
Lelaki itu bertanya, "Apa yang paling baik bagiku?" Jawab Nabi Muhammad SAW,
"Engkau ucapkan : Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah utusan-Nya." Lelaki itu menirukan kalimat syahadat itu, "Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah. Aku yakin engkau dalam kebenaran, dan kelompok Abu Sufyan adalah bala
tentara setan."
Orang Arab itu sempat tinggal di Madinah beberapa hari sampai Nabi Muhammad
SAW mengizinkannya pergi, dan setelah itu ia tidak diketahui keberadaannya
serta sejarah tidak lagi membicarakannya. Yang ditulis sejarah setelah
kejadian ini adalah dua orang utusan Nabi Muhammad SAW yang diperintahkan
membunuh Abu Sufyan.
Sayang karena kecerobohan, keduanya gagal menjalankan tugasnya, bahkan
hampir kehilangan nyawanya.
Dengan tidak menghitung peperangan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW, di
Madinah kita dapat menyebutkan beberapa rencana membunuh Nabi Muhammad SAW
yang gagal. Yahudi bani Nadhir merencanakan menjatuhkan batu besar ke kepala
Nabi Muhammad SAW, tetapi beliau selamat karena dilindungi Allah. Setelah
Perang Khaibar seorang wanita Yahudi mengirim makanan yang sudah diracuni
kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi ketika beliau bermaksud menyantapnya,
daging kambing itu berbicara yang isinya mengabarkan bahwa daging kambing
itu sudah diracuni. Nabi Muhammad SAW selamat, tetapi beberapa sahabat
beliau meninggal dunia.
Semua pemberontakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW dilakukan oleh
orang-orang kafir. Yang sangat mengherankan kita adalah rencana pembunuhan
yang dirancang oleh orang Islam sendiri, yang mana mereka termasuk berada
dekat di sekitar Nabi Muhammad SAW. Tentang orang-orang Islam munafik itu,
Allah berfirman, "Di antara orang-orang Arab di sekelilingmu itu ada orang
munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam
kemunafikannya. Kamu tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahui mereka.
Kami akan menyiksa mereka dua kali dan kemudian mereka dikembalikan kepada
siksa yang besar." (QS. At-Taubah : 110).
Semua pemberontakan itu gagal total kecuali satu yang berhasil. Saya akan
menyampaikan apa yang ditulis ahli hadits tentang peristiwa "Aqabah" ketika
Nabi Muhammad SAW pulang dari Perang Tabuk yakni perang terakhir yang
dipimpin Nabi SAW sendiri. Sampailah kepada kaum Muslimin berita, bahwa
tentara Romawi sudah bermarkas di Syam, dan bersiap-siap menyerang Madinah.
Dari pengalaman dalam pertempuran dengan orang-orang Romawi, mereka menjadi
tahu betapa perkasanya tentara Romawi, salah satu kerajaan adikuasa waktu
itu.
Kebetulan rencana menyongsong orang Romawi itu terjadi pada musim panas,
ketika buah-buahan sedang dipanen, lagi pula perjalanan yang harus ditempuh
sangat jauh. Para sahabat mengajukan berbagai keberatan dan akibatnya Allah
SWT menegur mereka dengan sangat keras seperti tampak dalam firman-Nya :
"Hai orang-orang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu:
berangkatlah untuk berperang di jalan Allah, kamu merasa berat dan tetap
ingin tinggal di rumahmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai
ganti kehidupan di Akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini
dibandingkan kenikmatan hidup di akhirat tidak ada apa-apanya. Jika kamu
tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa
yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak dapat
memberikan kemudharatan kepada Allah sedikit pun dan Allah Mahakuasa atas
segala sesuatu." (QS. Al-Taubah : 38-39).
Firman Allah yang lain :
"Kalau yang kamu serukan kepada mereka adalah keuntungan yang mudah
diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka
mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu terasa amat jauh bagi mereka.
Mereka akan bersumpah dengan nama Allah : Jikalau kami sanggup, tentu kami
akan berangkat bersamamu. Mereka membinasakan diri mereka sendiri, dan Allah
mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." (QS.
At-Taubah : 42).
Ada yang mengadukan kepada Nabi Muhammad SAW tentang udara yang panas.
Mereka minta perang ditangguhkan sampai habis musim panas. Allah langsung
menjawab keberatan mereka dengan Firman-Nya :
"Orang-orang yang ditinggalkan yakni yang tidak ikut berperang itu, merasa
gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah Muhammad SAW, dan
mereka tidak suka berjihad dengan harta dan nyawa mereka pada jalan Allah
dan mereka berkata : Janganlah kamu berangkat pergi berperang dalam panas
terik ini. Katakanlah api neraka jahanam itu lebih sangat panasnya, jikalau
mereka mengetahui." (QS. At-Taubah : 81).
Ada yang minta izin untuk tidak berangkat berperang dengan mengajukan
alasan, "Kami tidak tahan melihat wanita cantik. Karena wanita Romawi itu
cantik-cantik, kami takut jatuh pada fitnah." Allah menjawab keberatan orang
munafik dengan firman-Nya, "Di antara mereka ada orang yang berkata :
Berilah saya izin tidak pergi berperang, dan janganlah kamu menjadikan saya
terjerumus dalam fitnah. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam
fitnah, dan sesungguhnya jahanam itu benar-benar meliputi mereka yang
kafir." (QS. At-Taubah : 49).
Hampir semua surat Taubah yang turun membahas keberatan para sahabat yang
tidak mau berangkat berperang. Ibnu Abbas ra. tidak menyebutnya At-Taubah
tetapi al-Mubaqqirah, yang membongkar kepalsuan iman sebagian di antara para
sahabat Nabi SAW. Perang itu ternyata tidak terjadi, dan rupanya perintah
berperang ini hanyalah diturunkan Allah untuk memilah-milah dengan tegas
kaum munafik dari kaum Mukmin. Karena berita itu terbukti tidak benar, maka
Rasulullah Muhammad SAW hanya bergerak sampai ke Tabuk.
Sekembalinya dari Tabuk, sejumlah sahabat merencanakan untuk membunuh
Rasulullah Muhammad SAW dengan menjatuhkan beliau ke dalam jurang. Banyak
sahabat yang waktu itu ikut bersama Rasulullah Muhammad SAW, menceritakan
peristiwa ini, tetapi saya akan memilih Urwah ra. untuk melaporkannya kepada
kita :
Rasulullah Muhammad SAW dari Tabuk kembali ke Medinah, ternyata di
pertengahan jalan ada sekelompok sahabat memiliki rencana tersembunyi untuk
melemparkan Rasulullah Muhammad SAW ke dalam jurang dari bukit terjal.
Ketika mereka sampai ke bukit itu, mereka ingin menempuh jalan yang sama
dengan jalan yang ditempuh Rasulullah Muhammad SAW.
Beliau SAW mendengar berita tentang keinginan mereka itu. Beliau bersabda,
"Kalian harus berjalan melewati lembah, karena itu lebih luas bagi kamu."
Dan Rasulullah Muhammad SAW sendiri naik ke atas bukit. Semua sahabat
menempuh lembah yang luas, kecuali sekelompok orang yang berniat melakukan
makar kepada Rasulullah SAW. Segera setelah mereka mendengar perintah
Rasulullah Muhammad SAW, mereka melakukan persiapan dan menutupi wajah
mereka.
Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan Hudzaifah bin al-Yaman ra. dan Ammar
bin Yasir ra. untuk menyertainya. Ammar ra. diperintahkan memegang kendali
unta, dan Hudzaifah menuntunnya. Ketika mereka sedang berada dalam
perjalanan itu, tiba-tiba mereka mendengar suara-suara di belakang mereka
dan tampaknya ada sekelompok sahabat yang menyusul mereka.
Rasulullah Muhammad SAW murka dan memerintahkan Hudzaifah ra. untuk mengusir
mereka. Saat itu tampak dalam pandangan Hudzaifah ra. kemurkaan di wajah
Rasulullah Muhammad SAW. Hudzaifah ra. berbalik arah dengan membawa tombak.
Ia menghadang orang-orang bertopeng yang menyusulnya. Hudzaifah ra.
melemparkan tombaknya dan orang-orang yang diserangnya berusaha menutupi
wajah mereka. Tidak ada kesan bahwa mereka adalah musafir.
Begitu orang-orang bertopeng itu melihat Hudzaifah ra., Allah SWT memasukkan
rasa takut di hati mereka, dan mengira bahwa pemberontakan mereka sudah
ketahuan. Sebab itu mereka melarikan diri dan bergabung bersama para sahabat
yang melewati lembah. Hudzaifah ra. kembali menyusul Rasulullah Muhammad
SAW, dan beliau SAW bersabda, "Berangkatlah engkau, wahai Hudzaifah dan
berjalanlah bersama Ammar." Mereka berdua mempercepat perjalanannya sampai
ke puncak bukit. Mereka menuruni bukit dan sampai di suatu tempat menunggu
rombongan lainnya.
Rasulullah Muhammad SAW berkata kepada Hudzaifah ra., "Tahukah kamu
rombongan yang kamu usir itu atau salah seorang di antaranya ?" Jawab
Hudzaifah ra., "Aku tahu kendaraan Fulan dan Fulan tetapi malam itu keadaan
sangat gelap dan mereka memakai penutup muka." Rasulullah Muhammad SAW
bersabda, "Tahukah kamu apa yang diinginkan rombongan bertopeng itu?"
Para sahabat menjawab,"Tidak, ya Rasulullah, demi Allah." Rasulullah
Muhammad SAW bersabda, "Mereka berniat melakukan pembunuhan dengan cara
berjalan bersamaku dan setelah sampai di jalanan bukit yang gelap, mereka
akan melemparkan aku dari situ." Hudzaifah ra. dan Ammar ra. berkata, "Kalau
begitu, perintahkan kepada orang banyak, agar mereka ditebas lehernya."
Jawab Rasulullah SAW, "Aku tidak ingin kelak orang memfitnahku dengan
menyebarkan kabar bahwa Muhammad tega membunuh sahabatnya sendiri."
Rasulullah Muhammad SAW lalu menyebutkan nama-nama para sahabat yang berniat
membunuh beliau kepada Hudzaifah ra. dan Ammar ra. seraya berpesan,
"Sembunyikan nama-nama mereka." Sejak itu Hudzaifah digelari Shahib Sirri
al-Nabi SAW atau pemilik rahasia Nabi Muhammad SAW. Walaupun begitu dalam
beberapa kitab akhirnya disebutkan juga nama-nama itu. Karena penghormatan
saya kepada sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad SAW, saya tidak ingin
menyebutkan mereka, karena saya beranggapan bahwa hadits yang memuat
nama-nama sahabat itu adalah hadits yang tidak bisa dipegang kebenarannya
dan pendapat ini sesuai dengan pendapat Ibn Hazim al-Andalusi.
Peristiwa Aqabah adalah salah satu di antara kegagalan mereka untuk membunuh
Rasulullah Muhammad SAW. Qu'ran menyebut peristiwa itu "Mereka bermaksud
membunuh Rasulullah Muhammad SAW, tetapi tidak berhasil." (QS. At-Taubah :
74). Akhirnya usaha untuk membunuh Rasulullah SAW berhasil, sehingga
akhirnya beliau SAW wafat karena diracun. Di bawah ini saya sampaikan
bukti-bukti bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah wafat karena diracun.
Ketika Ali ra., al-Fadl ra., dan Usamah ra. masuk ke kubur Rasulullah
Muhammad SAW, seorang lelaki Ansor yang bernama Ibnu Khuli meminta untuk
ikut masuk juga. Ia berkata, "Kalian tahu, aku biasa masuk ke kubur para
syuhada dan Rasulullah Muhammad SAW adalah syuhada yang paling utama."
Lelaki itu diizinkan masuk ke kubur Nabi SAW bersama mereka. Abdullah bin
Mas'ud berkata, "Aku lebih suka bersumpah sembilan kali, untuk menyatakan
bahwa Rasulullah Muhammad SAW terbunuh, daripada bersumpah satu kali bahwa
beliau tidak terbunuh, sebab Allah telah mengangkat beliau menjadi Nabi dan
pasti menjadikannya syahid."
Al-Hakim melalui rijal yang sahih, mengutip ucapan Al-Syu'bi, "Demi Allah
telah diracun Rasulullah Muhammad SAW, telah diracun Abu Bakar ra., telah
dibunuh Umar Bin Khattab ra., Utsman bin Affan ra. dan Ali bin Abi Thalib
ra. dan semuanya dalam keadaan terperdaya. Al-Hasan bin Ali diracun dan
Al-Husein bin Ali dibunuh."
Para muarrikh sepakat bahwa Rasulullah Muhammad SAW wafat karena diracun dan
mereka hanya berbeda pendapat tentang kapan racun itu diberikan dan oleh
siapa. Banyak di antara mereka perempuan Yahudi sebagai pemberi racun dan
peracunan ini terjadi setelah Perang Khaibar. Sebagian lagi menolak anggapan
ini.
Riwayat yang sahih menunjukkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW tidak makan
sedikit pun racun itu. Sekiranya beliau memang menelan racun waktu itu,
mengapa efeknya baru tampak empat tahun kemudian. Dalam waktu sekian lama
itu, beliau menikmati kesehatan yang baik. Saya tidak ingin mempersoalkan
siapa yang meracuni beliau.
Saya hanya ingin menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW juga wafat sebagai
seorang syahid. Beliau tetap hidup di sekitar kita dan beliau tetap menjawab
salawat dan salam yang kita sampaikan kepada beliau. Beliau juga dapat
dimintakan syafaatnya kapan saja, sebab itu di dalam shalat, kita akhiri
shalat kita dengan mengucapkan salam kepada beliau dan kepada semua hamba
yang saleh yang masih tetap hidup di sisi Allah. Assalamu 'alaika ayyuhan
Nabi wa rahmatulahi wa barakatuh. Assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish
shalihin.[]