Jika ingin membuktikan adanya jaringan pelacuran gelap warga negara
Indonesia (WNI) di Arab Saudi, ialah Anda menunggu di sekitar Toko Bandung
atau Restoran Bali di distrik Syarafiyyah, Jeddah, sekitar pukul 23.00
hingga dini hari. atau tiga rombongan perempuan Indonesia akan keluar
mengenakan pakaian abaya terbuka menunggu pelanggan datang. Di sini tidak
ada wanita keluar malam tanpa didampingi muhrim kalau bukan pelacur," tutur
Ketua Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa Arab Saudi, Habib Sayed Mochsin
Alhabshy, suatu ketika kepada Duta di Jeddah.
Semula tidak sedikit pun terlintas dalam benak ada jaringan pelacuran gelap
dinegeri petrodolar Arab Saudi. Terlebih kabar tersebut melibatkan ratusan
wanita asal Indonesia. Namun, malam itu juga Duta membuktikan. Dari sebuah
apartemen milik seorang kawan tidak jauh dari tempat yang dimaksud, wartawan
harian ini menunggu detik-detik keluarnya perempuan sebangsa menjajakan
cinta sekejap kepada bangsa lain di negeri orang. Malam itu sudah
menunjukkan pukul 23.30 Waktu Arab Saudi (WAS), namun baru muncul seorang
wanita ditemani seorang pria.
Keduanya berumur sekitar 25 tahun. Wanita berkaca mata itu membuka penutup
kepalanya dan tampak jelas berambut cekak seleher. Sementara abaya hitamnya
dibiarkan terbuka sebagai tanda dia sedang mengundang para calon pelanggan.
Sambil melintas di sekitar remang "Pohon Soekarno" tidak jauh dari lokasi,
sayup-sayup terdengar logat dialek wanita itu berasal dari sebuah daerah di
Jawa Barat.
Duta terus memperhatikan gerak-gerik mereka dari mobil yang diparkir sekitar
300 meter dari lokasi. Tidak lama kemudian muncul lagi dua wanita sejenis
dari sebuah taksi. Persis seperti wanita pertama, keduanya juga mengenakan
pakaian abaya hitam dengan penutup kepala dibiarkan terbuka. Malam semakin
larut. Pagi pun datang. Satu persatu wanita Indonesia itu habis dibawa oleh
seseorang yang entah
berkebangsaan apa. Yang jelas, wanita Indonesia di Arab Saudi terkenal tidak
berharga alias murah.
Mereka yang ingin menyalurkan hasrat biologisnya dengan cepat, cukup
menyediakan dana 50 real saja sudah dapat mengambil dari lokasi. Karena
saking tidak berharganya wanita Indonesia di Arab Saudi,
hingga muncul istilah "Abu Khomsin" atau "wanita seharga 50 real" untuk
sekali pakai. Di Arab, untuk menyebut harga sesuatu, misalnya menanyakan jam
tangan yang seharga 160 real, cukup dengan menyebut "Abu Miah wa Sittin",
maka dihadapan Anda akan tersedia beberapa merek jam seharga yang dimaksud.
Demikian juga berlaku untuk wanita Indonesia yang dihargai hanya 50real.
Pada hari berikutnya, Duta sengaja berkeliling dengan taksi di daerah
penampungan yang banyak dihuni oleh para tenaga kerja wanita Indonesia (TKW)
yang melarikan diri dari majikannya. Dari daerah seperti inilah, menurut
kesaksian sejumlah mukmin Indonesia di Jeddah, biasanya banyak wanita
penjajah cinta lahir. Para wanita penghibur di Arab Saudi biasanya disebut
dengan panggilan "Sarmud" alias WTS.
Indonesia shaghir.. suwayya.. (maaf, "barangnya" wanita Indonesia
kecil-kecil dan permainannya pelan," ujar sopir taksi yang mengaku dari
Benggali itu. Bahkan pada kesempatan lain ada sopir taksi dari Pakistan
menanyakan stok wanita panggilan dari Indonesai yang siap dikencani.
Pelacuran terselubung wanita Indonesia di Jeddah ternyata sudah bukan
rahasia lagi, mulai dari bisik-bisik sesama TKI hingga bangsa negara lain
turut membicarakan wanita Indonesia. Bahkan ketika Duta bertemu dengan
Ustazd Fudoili, seorang aktivis Partai Keadilan Arab Saudi, dia menunjukkan
foto seorang wanita Indonesia sedang setengah telanjang digandeng dua pria
Benggali. "Foto ini sudah pernah saya kirim ke Habib Riezik Shihab (komandan
FPI) di Jakarta agar menekan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan baru
dalam pengiriman TKW," ujarnya