Seorang wanita yang ingin mengandung sebaiknya tidak mengkonsumsi
kedelai selama masa ovulasi (masa subur), demikian nasehat para
peneliti dari Inggris. Penelitian menunjukkan bahwa zat yang
terkandung di dalam kedelai menyebabkan sperma melepaskan 'senjata
penusuknya' sebelum waktunya sehingga tidak bermanfaat. Tapi
penelitian tersebut tidak menerangkan pengaruhnya kedelai pada
kesuburan.
Lynn Fraser dari King's College London mempelajari pengaruh genistein
- zat yang ditemukan pada tanaman polong-polongan seperti kedelai --
terhadap sperma dalam sebuah larutan yang dibuat semirip mungkin
dengan kondisi yang terdapat pada alat reproduksi wanita. "Ini sangat
istimewa," katanya, "Dalam satu jam sperma ketiga telah kehilangan
kesempatan."
Ini berarti bahwa genestein mendorong sperma untuk melakukan reaksi
acrosome secara prematur. Acrosome adalah ujung sperma yang terdiri
atas enzim yang dibutuhkan untuk menembus kulit luar sel telur sesaat
sperma berhasil menempel. Jika acrosome habis sebelum waktunya, sperma
kehilangan kesempatan untuk membuahi sel telur.
Fraser mengatakan bahwa penelitian lain menunjukkan bahwa genestein
ditemukan pada darah orang yang mengkonsumsi olahan kedelai. Ia
percaya bahwa genestein akan mengganggu daerah reproduksi dan merusak
kesempatannya untuk hamil. "Dari yang kami lihat, wanita seharusnya
menghindari kedelai selama periode ovulasi," katanya.
Efek Pada Lelaki
Tapi para ahli yang lain tidak yakin hanya cukup dengan nasehat
tersebut. James Kumi-Diaka dari Florida Atlantic University, AS
mengatakan bahwa ia dan timnya juga menemukan bahwa genestein juga
berpengaruh pada sperma. Sehingga muncul idenya untuk menambahkan
genestein pada kondom sebagai kontrasepsi.
Penelitiannya menunjukkan, saat genestein diinjeksi ke dalam tikus
jantan tiga kali seminggu, maka jumlah kelahiran anak turun dari 11
menjadi 5. Bahkan sedikit dosis sudah menimbulkan pengaruh. Jadi,
dianjurkan juga kepada para lelaki untuk menghindari kedelai jika
menginginkan anak.
"Tapi, nasehat seperi itu saja masih belum cukup karena tergantung
pada banyak hal," kata Kumi-Daka. "Bagaimana makanan disiapkan,
seberapa sering makan, atau apakah dimakan sendiri. Jika genistein
benar-benar mempengaruhi kesuburan, seharusnya terjadi masalah
kesuburan di negara-negara Asia. Kenyataannya, tidak ada masalah yang
terjadi di negara yang banyak mengkonsumsi kedelai."
Kombinasi Kimia
Laporan Fraser yang pertama bahwa genistein mendorong reaksi acrosome
pada sperma tikus tahun 2003. Pada penelitian yang lain, ditemukan dua
zat kimia lain yang juga mendorong terjadinya reaksi acrosome yaitu
8-prenylnaringenin yang ditemukan di bir dan nonylphenol yang
ditemukan pada produk cat, pestisida, dan pembersih. Meskipun demikian
tidak kandungan yang dapat mempengaruhi secara signifikan.
Temuan Fraser yang lebih mengejutkan adalah kombinasi zat-zat kimia
tersebut yang disebut xenobiotics, yang memiliki pengaruh jauh lebih
besar. "Memberikan xenobiotics pada level tertentu di suatu waktu
memeperlihatkan pengaruh kesuburan yang dapat diamati secepatnya,"
kata Fraser.
Hasil penelitian terakhir dilaporkan Fraser dalam pertemuan tahunan
Perkumpulan Reproduksi Manusia dan Embriologi Eropa di Kopenhagen,
Denmark, Rabu (22/6/2005). (NewScientist.com/Wah)
Jumat, 24 Juni 2005, 12:06 WIB
Copyright @ PT. Kompas Cyber Media
Newsletter Kesehatan Pelita, info sehat setiap hari via e-mail.
Berlangganan? Kirim mail kosong ke mailto:pel...@chevy.or.id
Arsip: http://chevy.or.id/pelita