Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

PIMPRO 329 -> SESEPUH WARGA KETURUNAN HARUS TURUN TANGAN

220 views
Skip to first unread message

Pimpro

unread,
Aug 25, 1998, 3:00:00 AM8/25/98
to apakabar, Indo Chaos, Apakabar
Peristiwa Pertengahan Mei 1998 yang mengakibatkan adanya sejumlah wanita diperkosa
khsusunya WNIK Cina, telah mendapat simpati begitu besar dari masyarakat Etnik
Cina diberbagai Negara.

Protes anti Indonesia tidak hanya terjadi di Hongkong, Taiwan, Singapore, namun
juga dibeberapa negara bagian Amerika Serikat. Solidaritas itu menunjukkan betapa
kuatnya jalinan persaudaraan diantara sesama Etnik Cina.

Solidaritas semacam itu sebenarnya baik baik saja, sejauh dilandasi oleh rasa
Kemanusiaan yang tinggi atau justru didasari oleh faktor Rasialis juga ??(Kesamaan
Etnis Belaka).

Saya yakin tidak seluruh keturunan Cina di Indonesia senang menerima pembelaan
seperti itu dari saudara saudaranya sesama etnik cina di Hongkong, Taiwan,
Singapore dan Amerika Serikat, karena solidaritas dan pembelaan tersebut telah
memberikan reaksi balik dari warga Pribumi dengan disertai sejumlah tudingan bahwa
Keturunan Cina di Indonesia hanya Numpang dagang untuk membangun Kampung Halaman
dan Negeri Leluhurnya, apalagi dengan semakin menghangatnya kasus Perbankan akhir
akhir ini yang melibatkan mayoritas Bankir WNIK Cina juga.

Kontroversi "Pembelaan dan Solidaritas" tersebut bahkan semakin bersifat dan
bernada Ekstrim dengan di hacknya beberapa situs pemerintah (Hankam, dan BKKBN)
serta banyaknya milis milis - diskusi serta forum terbuka yang cenderung menghujat
Indonesia atau warga Pribumi dengan kata kata kotor, kasar, terror dan lain
sebagainya, bahkan akhir akhir telah banyak beredar di situs situs spt : Hueren,
Indo Chaos, Asian Dragon tentang Photo Photo korban perkosaan yang itu itu juga,
padahal jelas jelas foto foto tersebut FAKE, sehingga telah beredar indikasi baru
adanya "Terror Foto" yang dilancarkan oleh kelompok tertentu dengan memperalat
"Kasus Perkosaan" itu. Tujuannya saya yakin untuk mengadu domba dan memecah belah
Kesatuan dan Persatuan Bangsa Indonesia.

Kontroversi tersebut diatas akan menjadi Bom Waktu yang sangat berbahaya bagi para
WNIK Cina di Indonesia yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa apa dan tetap
cinta kepada Indonesia sebagai negara kelahiran mereka.

Seburuk apapun situasi sekarang ini, senang tidak senang, sedih tidak sedih, marah
tidak marah, curiga tidak curiga, gengsi tidak gengsi, untuk meminimalkan
kontroversi tersebut untuk meredam reaksi balik dan kesan negative dari warga
Pribumi atau bahkan dari umat Islam saya sarankan ada baiknya : Meminta sesepuh
sesepuh WNIK Cina dari berbagai kalangan agama Islam maupun non Islam serta
Kelompok Profesi lainnya al :

1. Islam : Junus Yahya, Yusuf Hamka, Anton Medan, Yenny Rahman dan masih banyak
lainnya.
2. Non Islam : Muchtar Riady, William Soeryajaya, Ciputra dan masih banyak
lainnya
3. Kelompok Profesi lainnya : Kwik Kian Gie, Christianto Wibisono, Laksamana
Sukardi, Mari Pangestu, dan masih banyak lainnya

Tujuannya adalah :

1. Memberikan pernyataan yang menguntungkan kedua belah pihak yakni WNIK Cina
dan Pribumi
2. Serta menghimbau masyarakat etnik Cina di luar negeri untuk tidak ikut campur
terlalu dalam urusan dalam negeri Indonesia
3. Dan yang terpenting menjelaskan kepada mereka bahwa Peristiwa Kerusuham Mei
98 lalu bukanlah Peristiwa Kerusuhan Anti Cina.
4. Sekaligus juga mendesak pemerintah untuk lebih Tegas dan Transparan khususnya
dalam mendukung LSM dan Tim Relawan yang menangani kasus perkosaan.
5. Sekaligus juga mendesak LSM dan Tim Relawan untuk segera memberikan bukti
kongkret dan tidak hanya "berlindung" dengan alasan "menjaga kerahasian
korban" atau "mengalami kejadian traumatis" sehingga tidak berani memberikan
laporan kongkret kepada pihak berwenang.
6. Sekaligus juga ancam LSM dan Tim Relawan tersebut kalau dalam kurun waktu
yang ditentukan tidak bisa membuktikannya, maka berarti telah menghasut dan
menyebarkan informasi yang menyesatkan yang bisa dituduh Kriminal Berat.

Demikianlah pendapat dari saya ini yang pembuatannya mendapat inspirasi dari
tulisan bung Syaifuddin pada kolom Surat & Komentar majalah Adil.

Wassalam

Pimpro


Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
Prabowo Cs Akan Diperiksa Puspom Lagi
鋳Sudah Cukup Bukti Memenuhi Unsur Pidana鋳

Jakarta,JP.-
Danpuspom ABRI Mayjen TNI H Syamsu Djalal menegaskan, pengakuan Prabowo Subianto telah
menculik sembilan aktivis prodemokrasi sudah bisa jadi bukti untuk menyeretnya ke
mahkamah militer. Sebab, pengakuan menantu mantan Presiden
Soeharto yang baru saja dipensiun dari ABRI ini sudah jadi bukti adanya unsur pidana.

鋳Maka, kalau Pangab sudah menyatakan kemungkinan besar Prabowo cs bisa dimahmilkan,
itu jangan dianggap pernyataan yang main-main. Itu pernyataan serius,鋳 ujar Syamsu
kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin.

Menurut dia, meski Prabowo sudah dipecat dari ABRI, Puspom masih ingin memeriksa lagi
mantan Dansesko ABRI ini bersama Mayjen TNI Muchdi Pr dan Kolonel Inf Chairawan.
Ketiganya dimintai keterangan sebagai saksi sebelas anggota
Kopassus yang kini menjadi tersangka penculikan para aktivis prodemokrasi. Hanya,
mengenai pemeriksaan itu, Syamsu belum bersedia menjelaskannya secara rinci.

Ketika dikonfirmasi soal kabar sebelas tersangka anggota Kopassus yang kini di tahanan
Puspom ABRI tidak bersedia menandatangani BAP (berkas acara pemeriksaan), Syamsu
mengatakan kabar itu tidak benar.

Menyinggung kemungkinan keterlibatan BIA, Syamsu mengatakan bahwa lembaga itu tidak
terlibat dalam operasi penculikan yang dilakukan tiga perwira tersebut. Sebab, BIA
sendiri tidak mengetahui penculikan itu.

Sementara itu, Letjen (pur) Hasnan Habib secara terpisah mempertanyakan keputusan
Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto yang 鋳hanya鋳 membebastugaskan mantan Danjen
Kopassus Letjen TNI Prabowo Subianto. 鋳Kalau terbukti melakukan penculikan,
seyogyanya dia (Prabowo) dimahmilkan saja,鋳 kata Hasnan Habib kepada wartawan di
sela-sela Sarasehan Nasional Visi Baru Indonesia di CSIS, kemarin.

Hasnan lalu mengutip pernyataan anggota Dewan Kehormatan Militer (DKP) Letjen TNI Agum
Gumelar kepada media massa bahwa Prabowo mengaku menculik sembilan aktivis
prodemokrasi. Kalau pernyataan Agum benar, berarti Prabowo harus dimahmilkan karena
sudah melakukan tindak pidana. 鋳Sekali lagi, kalau Prabowo mengaku benar menculik,
harusnya dia dimahmilkan,鋳 katanya lagi.

Hasnan lalu menyebut hukum militer bahwa apa yang dilakukan seorang prajurit menjadi
tanggung jawab komandannya. Sebab, ia sebagai perwira penyerah perkara. Logikanya,
kalau anak buahnya melakukan kesalahan, otomatis yang bertanggung jawab adalah
komandannya.

Pangab, lanjut Hasnan, tidak perlu ragu-ragu memahmilkan kasus penculikan itu. Jika
pimpinan ABRI meyakini benar tidak akan melibatkan pejabat militer lain di atas
Prabowo. Sebab, menurut kabar yang beredar, jika Prabowo diajukan ke mahmil,
dirinya akan menggigit pejabat di atasnya. 鋳Saya kira bergantung pimpinan ABRI. Kalau
yakin tidak melibatkan pejabat lain sebaiknya dimahmilkan saja,鋳 tandasnya.

Namun, Hasnan mengingatkan, Pangab sendiri punya hak prerogatif terhadap nasib anak
buahnya. Apakah Pangab meneruskan tuntutan ke mahmil atau sekadar memberikan sanksi
administratif. 鋳Pangab tentu punya keyakinan sendiri terhadap apa yang dilakukan anak
buahnya. Dan, itu hak dia (Pangab),鋳 ingatnya.

Yang perlu diingat, lanjut Hasnan, Pangab tidak punya kewenangan memecat prajurit yang
berpangkat kolonel ke atas. Baik Mayjen TNI Muchdi maupun Kol Inf Chairawan diberi
sanksi karena kesalahan mereka dinilai lebih kecil daripada atasannya,
Letjen TNI Prabowo Subianto.鋳 Jadi, salah besar kalau media memberitakan Pangab
melakukan pemecatan. Prabowo tidak dipecat, tapi diberhentikan dengan hormat,鋳
jelasnya. (mik/ado/bh/gie)

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
Kronologis Bentrok ProMeg-Aparat

08.30 WITA Masa Mega berkumpul di Belakang Masjid Agung Darussalam

09.10 Meneriaki Satgas PDI

10.50 Massa merangsek maju ke arah Wisma Haji

11.10 Syarwan Hamid tiba di Wisma Haji

11.15 Insiden pemukulan terhadap wartawan

11.40 Hujan batu terjadi, petugas menghalau dengan tembakan ke atas dan gas
air mata beberapa petugas terluka. Satgas PDI mundur, Kongres terhenti

12.15 Bentrok berhenti, ada suara Adzan

12.17 Hujan batu kembali terjadi beberapa massa Mega jatuh

12.30 Pangdam + Mendagri ke Bandara

14.00 Tembakan peringatan kembali terdengar

14.20 Bentrok terhenti, massa Mega duduk-duduk istirahat.

14.55 Bentrok lagi

15.10 Negosiasi Jacob Nuwawea, Kapolda, Kapolres Donggala, hasilnya: kongres
cepat diakhiri.

15.30 Jacob tiba di lokasi Wisma Haji, bentrok stop

16.10 Bentrok lagi, gas air mata, tembakan peluru karet

17.15 Massa mundur sambil mengancam hari datang lagi.

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
Suara Merdeka Berita Utama
Rabu, 26 Agustus 1998

Bung Karno Ditodong Dua Jenderal

Dipaksa Tandatangani Supersemar
Saksi Mata Dituduh Terlibat PKI

YOGYAKARTA - Seorang saksi mata penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret
(Supersemar), S Wilarjito S Miss (71), meminta Kassospol ABRI merehabilitasi nama
baiknya dari tuduhan terlibat PKI. Di samping itu, penduduk Gancahan, Kelurahan
Sidomulyo, Godean, Sleman tersebut, meminta agar hak-haknya selaku anggota ABRI
dengan pangkat terakhir letnan dua dikembalikan.

Dia juga minta perlindungan kepada Denpom IV/2 Yogyakarta. Rabu ini, dia akan
diterima Dandenpom Letkol Unggul K Yudoyono, di ruang kerjanya pukul 10.00.

Selasa siang kemarin, Wilarjito memberikan kesaksian mengenai kejadian yang
sebenarnya di Istana Bogor ketika Supersemar ditandatangani, kepada puluhan wartawan

di kantor LBH Yogyakarta.

LBH sendiri telah membentuk tim penasihat hukum yang terdiri atas Budi Hartono SH,
Yahuddin SH, dan Satryawan Guntur Zass. Kemarin, LBH langsung mengirimkan surat
permintaan rehabilitasi nama itu ke Kassospol di Jakarta.

''Kemungkinan kami akan ke Jakarta, menghadap Kassospol, Pangab, dan Danpuspom,''
ujar Budi Hartono yang didampingi kliennya, istri Wilarjito (Sih Wilujeng), dan anak

keenamnya, Gargarina Sardiana.

Wilarjito yang masih kelihatan tegar meski sudah lanjut usia itu menuturkan
kronologi
penandatanganan Supersemar di Istana Kepresidenan Bogor, 11 Maret 1966.

Pada tanggal itu, katanya, dia sedang dinas malam sebagai security Presiden
Soekarno.
Sekitar pukul 01.00 datang empat jenderal, yakni Mayjen Amirmachmud, Mayjen Basuki
Rachmat, Mayjen M Yusuf, dan Mayjen Maraden Panggabean.

Para perwira tinggi AD itu memaksa agar Presiden Soekarno yang sudah tidur
dibangunkan. Begitu keluar dari kamar, Pak Karno yang berpakaian piyama menemui
keempat tamunya itu di ruang kerja Istana.

Tiba-tiba, lanjut Wilarjito yang saat itu berdiri persis di belakang Presiden
Soekarno, ia
melihat Mayjen M Panggabean dan Mayjen Basuki Rachmat menodongkan pistol sambil
meminta Bung Karno menandatangani Supersemar.

Ketika ditanya apakah dia yakin bahwa yang datang itu jenderal-jenderal tersebut,
Wilarjito mengatakan, ''Sebagai anggota Mabad (Markas Besar Angkatan Darat, Red),
saya tahu betul mereka.''

Setelah itu, lanjutnya, tiba-tiba pula dia ditangkap militer dan dituduh terlibat G
30 S/PKI.
Selain ditahan tanpa prosedur, seluruh surat berharga, tanda jasa, serta ijazahnya
disita
aparat keamanan tanpa surat penyitaan.

Di tahanan Pulau Buru, dia mengalami siksaan sangat berat dan baru dibebaskan dari
tahanan dengan status Tapol Golongan B, 20 Desember 1977.

Minta Uang Pensiun

Sejak ditangkap, pemegang 12 tanda jasa, termasuk Bintang Gerilya itu, tidak pernah
memperoleh hak-haknya selaku anggota ABRI.

Karena itu, salah satu tuntutannya adalah meminta uang pensiun yang belum pernah
dibayarkan sejak tahun 1966. Sebab, dia tak pernah merasa menjadi anggota organisasi

terlarang tersebut.

Wilarjito lalu bercerita lebih lanjut, pada saat menodongkan pistol, Panggabean
mengatakan, ''Ini Pak ditandatangani.....'' Pak Karno lalu membaca selembar surat
yang
disodorkan kepadanya lalu berkata, ''Ini diktumnya bukan diktum Kepresidenan. Ini
diktumnya kok kemiliteran.'' Panggabean menjawab, ''Tolong ditandatangani saja,
waktunya sudah sempit.''

Setelah menandatangani surat tersebut, Soekarno mengatakan, ''Ya sudah kalau saya
harus menyerahkan kepada Harto. Tetapi kalau situasi sudah pulih, mandat ini
dikembalikan kepada saya.'' Dan mereka menjawab, ''Siap.''

Ketika Bung Karno ditodong, Wilarjito mengambil pistol FN 46 di pinggangnya demi
menyelamatkan Presiden. Tetapi Bung Karno mencegahnya, ''Jangan, jangan.''

Padahal, di magazen pistolnya yang sudah dikokang itu berisi tujuh butir peluru siap

tembak. Pada saat itu, tambahnya, seluruh keluarga Soekarno berada di dalam Istana.
Lalu, lanjutnya, setelah para jenderal itu pergi, Bung Karno mengatakan kepada
Wilarjito,
''Kamu hati-hati saja, saya harus keluar dari istana ini.''

Beberapa menit kemudian, datang pasukan Kostrad yang berjumlah puluhan. ''Saya yang
sedang berjaga di serambi depan Istana lalu ditangkap dan dimasukkan jip dan dibawa
ke
rumah tahanan militer di daerah Lapangan Banteng,'' kenangnya.

Dari situ dia dipindahkan ke Denpom Yogya, lalu ke LP Wirogunan selama 4 tahun, ke
LP Mlaten Semarang, LP Kablin dan Kalisosok Surabaya, dan terakhir tahun 1975
dipindahkan ke Pulau Buru. (A18-23c)

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
MAJALAH SWA

TANGGAPAN, 16/1998

                      Masalah Etnis Cina di Indonesia

                      Saya adalah seorang etnis Cina. Namun, saya tidak bisa berbahasa Mandarin, dan juga
                      tidak bisa bicara salah satu dialek Cina. Bahkan nenek dan kakek saya, baik dari pihak
                      ayah maupun ibu, juga tidak menguasai bahasa tersebut. Kalau bicara bahasa
                      Indonesia, mereka tidak pelo seperti Om Liem. Bahkan, mereka sangat fasih berbahasa
                      Jawa, termasuk bahasa halusnya.

                      Saya juga bukan berasal dari keluarga bisnis. Keluarga kakek-nenek maupun orang tua saya
                      bukanlah keluarga pengusaha. Saya saat ini pun bukan pengusaha, apalagi konglomerat yang
                      besar karena cantolan politik. Bahkan, Anda yang pernah membaca tulisan saya bisa melihat
                      bahwa sejak saya menjadi pengamat ekonomi-politik, saya selalu kritis terhadap fenomena
                      patronasi bisnis. Karena, patronasi bisnis bukan hanya merupakan praktek ketidakadilan
                      ekonomi, tapi juga menyebabkan kesenjangan ekonomi yang luar biasa, mempertajam
                      ketegangan ras, dan lebih dari itu menjadi sumber high cost economy yang membuat
                      perekonomian Indonesia jatuh terpuruk seperti sekarang.

                      Ketika saya diundang menjadi anggota Dewan Etik Indonesia Corruption Watch (ICW),
                      saya menerima karena salah satu misi ICW adalah mengidentifikasi dan mengikis habis
                      pola-pola KKN yang menjadikan BUMN sebagai sapi perah, membuat proyek-proyek
                      mengalami mark-up gila-gilaan, dana proyek IMF dan World Bank bocor, perusahaan
                      dimintai sumbangan liar maupun resmi, dan lain-lain. Saya yakin, pemulihan perekonomian
                      Indonesia bisa lebih mudah, bila tidak lagi dibebani segala macam praktek KKN.

                      Saya tidak pernah menikmati kolusi antara penguasa dan pengusaha. Analisis dan pendapat
                      saya, sejak dulu selalu mendukung upaya pemerataan ekonomi dan pemberantasan KKN.
                      Biarpun begitu, kalau saya bertemu dengan massa pribumi yang sedang mengganyang orang
                      etnis Cina, saya pasti langsung digasak hanya karena ciri-ciri fisik saya. Orang-orang seperti
                      Arief Budiman, Ong Hok Ham, Melly G. Tan, Ariel Heryanto dan almarhum Yap Thiam
                      Hien, bisa dipastikan bernasib sama. Ketika orang tidak bisa memandang perbedaan individu
                      etnis Cina, dan memukul rata sifat, watak dan posisi orang etnis Cina hanya berdasarkan
                      ciri-ciri fisik ras mereka, maka itu merupakan bukti bahwa memang ada rasisme terhadap
                      orang etnis Cina.

                      Prasangka etnis tersebut sedemikian kuat, sehingga apapun yang dilakukan kalangan etnis
                      Cina, mereka dipersalahkan. Bahkan, mereka dipersalahkan karena lari ke luar negeri setelah
                      peristiwa penjarahan, kekerasan fisik, perkosaan dan pembunuhan terhadap mereka, serta
                      harus membawa uang sangu. Karena mereka belum mau kembali, mereka lagi-lagi
                      dipersalahkan, sebab distribusi barang-barang pokok katanya menjadi seret. Masyarakat
                      tidak lagi merasa perlu melakukan investigasi, betulkah distribusi macet atau barang memang
                      langka. Kalau misalnya, Menteri Koperasi berhasil membangun jaringan distribusi alternatif
                      melalui koperasi, sebetulnya tidak dijamin bahwa aliran bahan-bahan kebutuhan pokok akan
                      lancar. Masalahnya beras, minyak goreng, pupuk, BBM, dan lain-lain kebutuhan pokok yang
                      sekarang disubsidi menjadi komoditas yang sangat menguntungkan untuk diselundupkan ke
                      luar Indonesia dan dijual dengan harga internasional di lautan bebas.

                      Pemerintahan Mahathir ternyata bisa melihat persoalan dimensi ekonomi etnis Cina secara
                      lebih jernih. Itu tergambar dari program New Economic Policy untuk pemberdayaan ekonomi
                      kalangan Bumiputera pada 1971, setelah Malaysia diterpa kerusuhan rasial pada 1969.
                      Karena yang diutamakan kepentingan pembangunan ekonomi nasional, maka kekuatan
                      ekonomi yang besar seperti yang dimiliki etnis Cina di Malaysia tidak dimatikan. Penguasaan
                      ekonomi mereka dibiarkan tumbuh dari sekitar 30% pada awal dekade 1970-an menjadi
                      sekitar 50% (bertumbuh 66,6%) pada tahun akhir dekade 1980-an. Namun, pangsa
                      penguasaan ekonomi kalangan Bumiputera dibantu bertumbuh sangat jauh lebih cepat lagi,
                      yaitu dari sekitar 2% menjadi sekitar 30% (bertumbuh sebesar 1.400%).

                      Dalam menghadapi krisis ekonomi yang terus memburuk seperti saat ini, bangsa Indonesia
                      harus bisa mencontoh apa yang dilakukan Malaysia. Apalagi, karena dimensi etnis Cina
                      bukan hanya merupakan fenomena dalam negeri, tapi juga erat kaitannya dengan kekuatan
                      ekonomi regional di Asia Timur dan Tenggara. Menurut data BKPM, penanam modal asing
                      terbesar di Indonesia sejak 1967 hingga sekarang bukanlah Jepang, Amerika Serikat dan
                      Inggris. Melainkan, para pemodal etnis Cina dari Singapura, Taiwan dan Hong Kong. Belum
                      lagi, kalau penanaman modal asing etnis Cina yang berasal dari Malaysia, Filipina dan
                      Thailand dihitung.

                      Kalau berbicara mengenai kepentingan nasional bangsa Indonesia saat ini, yang harus
                      diutamakan, upaya pemulihan perekonomian yang sampai sekarang masih terus memburuk.
                      Apa yang harus dilakukan? Semua pengusaha, baik etnis Cina maupun pribumi, sama-sama
                      harus menghentikan praktek-praktek KKN dan membantu upaya-upaya membersihkan
                      perekonomian dari praktek-praktek yang membuat perekonomian Indonesia menjadi high
                      cost economy. Semua pengusaha -- etnis Cina maupun pribumi -- bersama-sama berupaya,
                      supaya BUMN tidak lagi disapiperahkan.

                      Semua pengusaha ekspor -- etnis Cina maupun pribumi -- sama-sama menaikkan UMR
                      paling tidak 100%. Dengan begitu, mereka masih untung karena dilihat dari upah yang
                      mereka bayar, mereka sangat diuntungkan dengan adanya depresiasi rupiah yang sangat luar
                      biasa. Semakin banyak keuntungan ekspor yang disalurkan kembali ke buruh, semakin
                      meningkat daya beli masyarakat, sehingga roda perekonomian bisa mulai bergerak.

                      Semua pengusaha menengah dan besar -- etnis Cina maupun pribumi -- sama-sama
                      memberikan kesempatan ke koperasi karyawan (seperti yang dilakukan perusahaan pers)
                      untuk memiliki saham paling tidak 20%. Saham koperasi karyawan bisa disetor secara
                      bertahap memakai sebagian dividen yang dibagikan. Untuk mendorong peningkatan daya beli
                      masyarakat, dividen tidak lagi dibagikan per tahun, tapi per kuartal.

                      Apa lagi yang harus dilakukan? Semua pengusaha -- etnis Cina maupun pribumi -- dalam
                      menghadapi situasi krisis yang semakin memprihatinkan ini, bersama-sama mengecilkan
                      kepentingan usaha mereka masing-masing, dan bersama-sama mencari upaya-upaya lain
                      meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia, melalui cara-cara yang tidak membebani
                      APBN dan tidak menimbulkan inflasi.(o)

                      Alexander Irwan, Ph.D

                      Penulis adalah pengamat ekonomi-politik.

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
SESEPUH WARGA KETURUNAN CHINESE HARUS TURUN TANGAN

Pribumi atau bahkan dari umat Islam saya sarankan ada baiknya : Meminta sesepuh

Sprite

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
eh pimpro , kamu dah dibenci sama orang begitu kok masih
juga ngebacot sih. Saya sih cuman berharap kalo adik
atau kakak kamu diperkosa sama orang trus disuruh nari
nari di depan para netters, coba loe bunuh kaga tuh
orang2. Go and eat shit you funkin moron! loe orang
paling munafik yang paling bejat !!

Eh gue mau nanya:


kalo kontol loe dipotong loe mau ngaku kalo kontol loe
dah ngak ada ?

> Peristiwa Pertengahan Mei 1998 yang mengakibatkan adanya sejumlah wanita diperkosa
> khsusunya WNIK Cina, telah mendapat simpati begitu besar dari masyarakat Etnik
> Cina diberbagai Negara.

> Solidaritas semacam itu sebenarnya baik baik saja, sejauh dilandasi oleh rasa
> Kemanusiaan yang tinggi atau justru didasari oleh faktor Rasialis juga ??(Kesamaan
> Etnis Belaka).

Kalo pribumi dibantai sama cina di malaysia, loe disini
kaga tambah ngebacot, jangan2 loe potong lagi tuh cina
cina di indonesia karena loe mau bales dendam buat
sodara loe di malaysia. (kesamaaan etnis belaka? it's
true moron!. Untung cina2 di malaysia dan negara2
lainnya mentalnya kaga sebejat orang indonesia, sedikit2
bakar, sedikit2 bunuh, sedikit2 perkosa.

> Saya yakin tidak seluruh keturunan Cina di Indonesia senang menerima pembelaan
> seperti itu dari saudara saudaranya sesama etnik cina di Hongkong, Taiwan,
> Singapore dan Amerika Serikat, karena solidaritas dan pembelaan tersebut telah
> memberikan reaksi balik dari warga Pribumi dengan disertai sejumlah tudingan bahwa
> Keturunan Cina di Indonesia hanya Numpang dagang untuk membangun Kampung Halaman
> dan Negeri Leluhurnya, apalagi dengan semakin menghangatnya kasus Perbankan akhir
> akhir ini yang melibatkan mayoritas Bankir WNIK Cina juga.
> Kontroversi "Pembelaan dan Solidaritas" tersebut bahkan semakin bersifat dan
> bernada Ekstrim dengan di hacknya beberapa situs pemerintah (Hankam, dan BKKBN)
> serta banyaknya milis milis - diskusi serta forum terbuka yang cenderung menghujat
> Indonesia atau warga Pribumi dengan kata kata kotor, kasar, terror dan lain
> sebagainya, bahkan akhir akhir telah banyak beredar di situs situs spt : Hueren,
> Indo Chaos, Asian Dragon tentang Photo Photo korban perkosaan yang itu itu juga,
> padahal jelas jelas foto foto tersebut FAKE, sehingga telah beredar indikasi baru
> adanya "Terror Foto" yang dilancarkan oleh kelompok tertentu dengan memperalat
> "Kasus Perkosaan" itu. Tujuannya saya yakin untuk mengadu domba dan memecah belah
> Kesatuan dan Persatuan Bangsa Indonesia.


Sekarang ajah Indonesia dah dipecah belah sama orang2
kayak loe bego ! Orang Pinter tapi suka hasut orang di
newsgroup ! bukannya itu bego juga kaya tuh orang2 yang
post foto2 (yang menurut loe).

> Kontroversi tersebut diatas akan menjadi Bom Waktu yang sangat berbahaya bagi para
> WNIK Cina di Indonesia yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa apa dan tetap
> cinta kepada Indonesia sebagai negara kelahiran mereka.

ngancem?? loe mau potong2 cina2 lagi ? nah kan ini
biangnya!!!!

> Seburuk apapun situasi sekarang ini, senang tidak senang, sedih tidak sedih, marah
> tidak marah, curiga tidak curiga, gengsi tidak gengsi, untuk meminimalkan
> kontroversi tersebut untuk meredam reaksi balik dan kesan negative dari warga
> Pribumi atau bahkan dari umat Islam saya sarankan ada baiknya : Meminta sesepuh
> sesepuh WNIK Cina dari berbagai kalangan agama Islam maupun non Islam serta
> Kelompok Profesi lainnya al :

Loe kira tuh cina2 mau? siapa sih yang kaga tau kalo
peristiwa mei lalu antara lain gerakan anti cina

> Tujuannya adalah :
>
> 1. Memberikan pernyataan yang menguntungkan kedua belah pihak yakni WNIK Cina
> dan Pribumi

menguntungkan pribumi, tapi entar 20 tahun lagi juga loe
bunuh tuh cina2 lagi.

> 2. Serta menghimbau masyarakat etnik Cina di luar negeri untuk tidak ikut campur
> terlalu dalam urusan dalam negeri Indonesia

Udah gue bilang orang melayu dibantai loe masak tinggal
diem, logis dikit dong.


> 3. Dan yang terpenting menjelaskan kepada mereka bahwa Peristiwa Kerusuham Mei
> 98 lalu bukanlah Peristiwa Kerusuhan Anti Cina.

Hmmmm...coba loe mikir dulu, masak semua orang sebego
loe !


> 4. Sekaligus juga mendesak pemerintah untuk lebih Tegas dan Transparan khususnya
> dalam mendukung LSM dan Tim Relawan yang menangani kasus perkosaan.

yang ini bener !


> 5. Sekaligus juga mendesak LSM dan Tim Relawan untuk segera memberikan bukti
> kongkret dan tidak hanya "berlindung" dengan alasan "menjaga kerahasian
> korban" atau "mengalami kejadian traumatis" sehingga tidak berani memberikan
> laporan kongkret kepada pihak berwenang.

Ini dia satu lagi pernyataan bego, udeh gue bilang
kontol loe kalo dipotong ama orang karena loe perkosa
kebo , loe mau ngaku sejujurnya kejijikan loe ke dunia
biar semua orang tau, apalagi kalo loe diancem ama yang
tukang potong kontol loe, dikasih bom lah, dibunuh lah,
diperkosa lagi lah.


> 6. Sekaligus juga ancam LSM dan Tim Relawan tersebut kalau dalam kurun waktu
> yang ditentukan tidak bisa membuktikannya, maka berarti telah menghasut dan
> menyebarkan informasi yang menyesatkan yang bisa dituduh Kriminal Berat.

Back to basic lagi ngak bisa yah, namanya ajah dah tim
RELAWAN ! orang mereka kaga disuruh sama siapa2 kok,
mereka rela ! masak harus diancam, sekarang ajah dah
diancam sama manusia2 kaya loe ! gue salut sama mereka
udah rela mau cari kebenaran malahan mau dituduh ama si
pimpro, kriminal berat !! hehehehe loe maling teriak
maling luh !


>In article <35E4016D...@hotmail.com>,
>Pim...@hotmail.com says...
>
> --------------39EB88917D33C5D288CD69EC
> Content-Type: text/plain; charset=us-ascii
> Content-Transfer-Encoding: 7bit

pim...@hotmail.com

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
Inilah orang orang yang Buta - Tuli tapi Tukang Koar Koar.
Kerjannya cuma bisa berkata kata jenis XXX, Jorok, Sakit dll ;
***tol, *hit, **jat etc.

Pimpro


In article <MPG.104e31dd...@news.bigpond.com>,

-----== Posted via Deja News, The Leader in Internet Discussion ==-----
http://www.dejanews.com/rg_mkgrp.xp Create Your Own Free Member Forum

pim...@hotmail.com

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
Inilah orang orang yang Buta - Tuli tapi Tukang Koar Koar.
Kerjannya cuma bisa berkata kata jenis XXX, Jorok, Sakit dll ;
***tol, *hit, **jat, **cking etc.
Hayati saja input saya itu, terus lakukanlah buat anda yang terbaik

Pimpro


In article <MPG.104e31dd...@news.bigpond.com>,
no...@none.com (Sprite) wrote:

-----== Posted via Deja News, The Leader in Internet Discussion ==-----

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
TIM RELAWAN KECAM PENYEBARAN FOTO-FOTO PALSU PERKOSAAN

JAKARTA, (SiaR, 25/8/98) Sekretaris Tim Relawan Untuk Kemanusiaan,
Romo Sandyawan prihatin dan mengecam upaya penyebaran foto-foto perkosaan
yang dilakukan oleh pihak tertentu. Sebab, foto-foto yang tidak jelas kebenarannya
itu bisa dipakai untuk menyudutkan Tim Relawan dan tim advokasi masyarakat lainnya
yang sedang mencari kebenaran dalam kasus kerusuhan Mei lalu.

"Saya sedih, masih saja ada usaha-usaha untuk mendiskreditkan data-data hasil
kerja Tim Relawan," papar Sandyawan akhir pekan lalu.

Menurut Sandyawan, upaya-upaya pendiskreditan itu juga dilakukan mereka dengan
membuat homepage atas nama Tim Relawan dan memajang foto-foto perkosaan yang tidak
jelas kebenarannya itu. "Minimal ada dua home page yang mengatas- namakan tim
relawan. Perlu dicatat, kami tidak memakai foto untuk bukti," katanya.

Foto-foto yang sengaja disebarluaskan lewat internet tersebut berupa foto-foto
yang diduga berasal dari penyiksaan di Timor Timur dan juga foto-foto yang konon
pernah ada di home page tertentu sebelum terjadinya kerusuhan Mei. "Tapi kami
belum konfirmasi mengenai hal ini," kata sebuah sumber.

Belakangan diakui banyak usaha-usaha yang mencoba mengaburkan fakta-fakta yang
ditemukan oleh Tim Relawan. Usaha-usaha itu misalnya dengan terbongkarnya
penyusupan seorang intel polisi berpangkat Letnan Satu Yeni ke dalam Tim Relawan
dan menyiarkan kabar bohong temuannya ke media massa. Juga upaya-upaya dari pihak
tertentu dengan mengintimidasi para saksi dan korban.

Kepolisian sendiri selama ini getol melakukan manuver-manuver untuk menyudutkan
kerja masyarakat mengenai kasus kerusuhan dan perkosaan. Kapolri Jenderal
Roesmanhadi beberapa waktu lalu sempat menekan LSM dengan mengeluarkan pernyataan
yang menyudutkan. Juga, Polda Metro Jaya awal pekan ini mengeluarkan pernyataan
yang berlawanan dengan Tim Relawan mengenai terorganisirnya penggerak kerusuhan.

Belakangan muncul kecurigaan terhadap ulah aparat keamanan terutama polisi dalam
pengungkapan kasus kerusuhan dan perkosaan ini, terutama dengan penarikan
tiba-tiba Kolonel Gories Mere dari Tim Gabungan Pencari Fakta dan digantikan
dengan petugas yang lain. "Diduga keras, Gories Mere ikut mengendalikan operasi
intimidasi akhir-akhir ini," kata sumber SiaR tanpa menyebutkan fakta-fakta
keterlibatan Gories.

Selain itu, di sejumlah negara saat ini muncul gerakan-gerakan dari para Overseas
Chinese (Cina Perantauan) yang sangat atraktif dan agitatif. Gerakan-gerakan ini
dinilai oleh sejumlah kalangan termasuk Tim Relawan merupakan tindakan yang
terlalu berlebihan dan cenderung counter productive bagi advokasi yang dilakukan
oleh masyarakat Indonesia sendiri. "Gerakan mereka yang cenderung atraktif dan
brutal justru bisa memperuncing konflik yang ada di Indonesia dan bisa mengaburkan
upaya-upaya damai yang sedang dilakukan," kata sebuah sumber.***


Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
                                 Detik Rabu, 26 Agustus 1998

                                  TGPF Panggil Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin

                                  detikcom, Jakarta - Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kerusuhan 14
                                  Mei 1998memanggil Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin. Pertemuan TGPF
                                  dengan mantan Pangdam Jaya itu berlangsung di rumah salah satu
                                  anggota tim, Bambang Suharto, di Jalan Intan Raya 8 Jakarta, Rabu
                                  (26/8).

                                  Selain Bambang, anggota TGPF yang ikut menemui Sjafrie adalah Jaksa
                                  Agung Tindak Pidana Umum I Made Gelgel, Bambang Widjojanto,
                                  Rosita M Noer, Saparinah Sadli dan Hermawan Sulistyo. "Kita memang
                                  mengundang Mayjen Sjafrie yang merupakan Pangkoops/Pangdam Jaya
                                  saat kerusuhan terjadi. Ini sifatnya konsultatif dan usaha klarifikasi atas
                                  adanya laporan masyarakat," ujar Bambang.

                                  Menurut Bambang, pada pertemuan itu TGPF menanyakan hal-hal yang
                                  berkisar dengan peristiwa kerusuhan. Menurutnya, hal-hal mengenai
                                  pemerkosaan dan penjarahan tidak disinggung pada pertemuan sekitar
                                  dua setengah jam itu. Sjafrie, kata Bambang, sangat antusias dan ingin
                                  membantu kerja TGPF agar sesuatu yang tak terlihat dengan kasat mata
                                  bisa segera ditangkap.

                                  Sjafrie yang menjadi idola ibu-ibu itu menjelaskan hal-hal yang
                                  berhubungan dengan sistem keamanan. Dia menceritakan basic-basic
                                  prosedur pengamanan termasuk saat kerusuhan terjadi. Diceritakan pula
                                  oleh Sjafrie, kata Bambang, soal-soal koordinasi dengan satuan Kodam
                                  dengan Pemda. "Sistem keamanan saat itu digalang dengan komponen
                                  lain. Beliau mengakui tidak ada alih komando pengendalian. Semua di
                                  bawah komando Pangdam Jaya," kata Bambang.

                                  Sjafrie, kata anggota Komnas HAM itu, juga mengatakan bahwa jumlah
                                  pasukan di ibukota tidak kurang. Namun, pasukan dikonsentrasikan
                                  untuk menjaga tempat-tempat vital seperti PDAM dan sentra-sentra
                                  ekonomi. Menurut Bambang, 'pemeriksaan' terhadap Sjafrie dianggap
                                  cukup. Namun, sambungnya, tidak tertutup kemungkinan TGPF
                                  memanggilnya lagi. Dalam waktu dekat, mantan Kapolda Mayjen Pol
                                  Hamami Nata juga akan dipanggil dalam kapasitas sebagai Wakil
                                  Pangkoops.

                                  Saat ditanyakan mengapa konsultasi dilakukan di rumah anggota tim,
                                  Bambang mengatakan: "Ini permintaan beliau. Dia tidak mau dilakukan di
                                  departemen kehakiman." Sjafrie sendiri datang ke rumah Bambang sekitar
                                  pukul 8.55 WIB dengan kendaraan Mitsubishi Pajero B 1030 JS warna
                                  hijau muda. Dia mengenakan setelan safari juga dengan warna hijau
                                  muda.
 

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
                                Detik, 26 Agustus 1998
 

                                  Beddu Amang Dicopot Sebagai Kabulog

                                  detikcom, Jakarta - Rupiah menguat harga sembako tetap membumbung
                                  tinggi. Korban pun jatuh. Kabulog Beddu Amang dicopot sebagai
                                  Kepala Bulog. Pencopotan itu dikemukan oleh Menteri Penerangan
                                  Yunus Yosfiah, Rabu (26/8) di Bina Graha, Jakarta. Untuk sementara
                                  jabatan Kabulog dirangkap Menperindag Rahadi Ramelan.

                                  Namun menurut Yunus Yosfiah, diberhentikannya Beddu Amang
                                  tersebut merupakan hal yang biasa. Tidak ada kaitannya dengan harga
                                  sembako maupun distribusi sembako. "Ini semacam
                                  penyegaran,"katanya.

                                  Jika saja sebuah sumber detikcom di Bulog menyebutkan, pencopotan
                                  Beddu Amang tersebut erat kaitannya dengan soal distribusi sembako
                                  yang kian semrawut dan harga sembako yang terus membumbung tinggi.
                                  Sebut saja di Jawa Timur harga beras sudah mencapai Rp 5.000. Padahal,
                                  santer diberitakan bantuan beras sudah mengalir ke Indonesia. Dan
                                  rupiah pun kian menguat.

                                  Sementara distribusi sembako tersebut juga tersendat-sendat.
                                  Sampai-sampai, DPRD Jawa Timur pada pekan lalu memanggil Ketua
                                  Bulog Jawa Timur untuk dimintai keterangannya soal pasokan sembako
                                  yang terlambat sehingga mengakibatkan harga sembako di Jawa Timur
                                  membumbung tinggi.

                                  Di lain pihak menurut sumber tersebut, Habibie menilai antara Bulog
                                  dengan Departemen yang dipimpin Rahadi Ramelan tidak sinkron.
                                  Banyak kebijakan yang tumpang tindih. "Bulog dinilai sering jalan
                                  sendiri,"katanya. Itulah sebabnya, jika posisi Kabulog dirangkap oleh
                                  Rahadi Ramelan, tidak lain bertujuan untuk membuat sinkron sepak
                                  terjang kedua lembaga tersebut dalam upaya memenuhi kebutuhan
                                  sembako bagi rakyat dengan harga yang terjangkau.

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
                                 Detik, Rabu, 26 Agustus 1998

                                  Kesaksian Bung Karno Ditodong Dinilai Bohong

                                  detikcom, Jakarta - Pengungkapkan kesaksian Letda inf (purn)
                                  Soekardjo Wilardjito, bahwa Bung Karno ditodong pistol saat
                                  menandatangani Supersemar diragukan. Jenderal (purn) Maraden
                                  Panggabean buka suara. Ia membantah telah menodong pistol ke arah
                                  Bung Karno. Dan menyatakan kesaksian itu bobong besar.

                                  Keraguan itu dilontarkan mantan Kasospol Letjen (purn) Bambang
                                  Triantoro, Rabu (26/8) ketika dimintai pendapatnya soal kesaksian
                                  Soekardjo. "Wah itu meragukan dan berlebihan,"kata Bambang. Meski
                                  Bambang mengaku, meski ia bukanlah saksi mata dalam peristiwa
                                  bersejarah yang tidak habis-habisnya dikontroversikan itu, namun jika
                                  Bung Karno sampai ditodong saat menandatangani Supersemar,
                                  dinilainya tidak masuk akal.

                                  "Kharisma Bung Karno itu luar biasa. Tak masuk akal kalau Basuki
                                  Rachmat atau Panggabean punya keberanian menodong Bung
                                  Karno,"kata Bambang yang juga Ketua Yayasan Kerukunan dan
                                  Persaudaraan Kebangsaan. "Kalau berani menodong Bung Karno,
                                  memang luar biasa,"katanya. Namun begitu, kalau Soekardjo yakin
                                  dengan kesaksiannya, sebaiknya kesaksiannya itu dibuktikan secara
                                  hukum.

                                  Sedangan Panggabean, sebagaimana dikutip harian Berita Buana edisi,
                                  26 Agustus 1998, membantah kesaksian Soekardjo. "Dari mana dia bisa
                                  mengarang cerita itu,"tandasnya. Apalagi kata Panggabean, saat itu ia
                                  tidak ikut berada di Bogor. "Berarti waktu itu mata Soekardjo sedang
                                  sakit,"katanya dengan nada keras. "Apa yang dinyatakan Soekardjo itu
                                  merupakan kebohongan. Bohong besar,"kata Panggabean.

                                  Menurut kisah Panggabean, saat Supersemar ditandatangani Bung
                                  Karno, ia sama sekali tidak pergi ke Bogor dan juga tidak bertemu Bung
                                  Karno. "Silahkan cek ke Yusuf, saya ikut atau tidak,"katanya.
 
 
 

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
                                 Detik, Rabu, 26 Agustus 1998

                                  Habibie Dinilai Berhasil, IMF Cairkan 1 Miliar Dolar

                                  detikcom, Jakarta - Sementara di dalam negeri Presiden BJ Habibie
                                  diterjang berbagai kritik keras, di dunia internasional Habibie justru
                                  mendapat pujian dan dinilai berhasil mendorong reformasi. Buktinya?
                                  Ada. Dengan alasan berhasil itulah, Dana Moneter Internasional (IMF),
                                  Rabu (26/8) kembali mencairkan pinjaman 1 miliar dolar AS kepada
                                  Indonesia.

                                  Adalah Direktur IMF Michael Camdessus sendiri yang memgumumkan
                                  pencairan itu di kantor pusat IMF di New York. Penilaian Camdessus
                                  adalah bahwa strategi reformasi yang menyeluruh pemerintahan Habibie,
                                  telah mendorong kebijakan makroekonomi seperti upaya untuk
                                  memperkuat nilai tukar rupiah dan mengurangi tingkat inflasi. Hal itu
                                  terlihat dari kian menguatnya Rupiah, yang sempat mencapai Rp
                                  16.000/dolar, kini menjadi Rp 10.000-11.000/dolar.

                                  Tidak tanggung-tanggung, Camdessus juga memuji pelaksanaan yang
                                  baik dari berbagai kebijakan nasional dalam beberapa bulan terakhir ini.
                                  Di samping itu, ia kembali menekankan pentingnya dilakukan kebijakan
                                  uang ketat untuk mengurangi inflasi dan memperkuat rupiah lebih jauh
                                  lagi. "Adalah sangat penting untuk terus mengembangkan sistim
                                  perbankan nasional secara cepat dan resutrukturisasi perusahaan demi
                                  meletakan dasar bagi pertumbuhan ekonomi,"kata Camdessus.

                                  IMF juga memberikan jangka waktu pembayaran yang lebih panjang dan
                                  meringankan kepada Indonesia dengan menerapkan program Fasilitas
                                  Bantuan yang Diperluas (Extended Fund Facility, EFF). Pemerintah
                                  Indonesia baru akan menerima pembayaran dana bantuan lagi bulan
                                  depan, jika reformasi yang dijalankan terus berada pada arah yang benar.
                                  "Jangka waktu pembayaran yang panjang di bawah program EFF akan
                                  memberikan waktu yang cukup bagi langkah reformasi untuk mencapai
                                  sasarannya," kata Camdessus.

Pimpro

unread,
Aug 26, 1998, 3:00:00 AM8/26/98
to
Rabu, 26 Agustus 1998

EKONOMI DAN KEUANGAN

RIYADI: HANCURNYA EKONOMI NASIONAL BUKAN DOSA
KONGLOMERAT


Jakarta - Bos Grup Lippo Mochtar Riyadi mengatakan, jika kehancuran ekonomi
Indonesia dianggap sebagai akibat dari perbuatan dosa, maka dosa itu hendaknya
tidak dilimpahkan sepenuhnya kepada semua warga negara keturunan Tionghoa yang
bergerak dalam dunia usaha.

"Semua orang bisa menjalankan bisnis besar dan tidak semua etnis Tionghoa
melakukan kolaborasi dan kolusi dalam konglomerasinya. Itu bisa dihitung dengan
jari," katanya menjawab pertanyaan pers di Jakarta, Selasa. Dosa kehancuran
ekonomi Indonesia, menurut Mochtar yang ditemui pers saat menghadiri acara
penyematan bintang jasa kepada Tong Djoe, tidak ada sangkut pautnya dengan jutaan
warga negara keturunan Tionghoa di Indonesia.

"Mereka pun sebenarnya ada buruh, pegawai, petani dan nelayan sehingga apabila
dikatakan bahwa kehancuran ekonomi Indonesia merupakan dosa para konglomerat,
dosanya jangan dilimpahkan kepada seluruh keturunan Tionghoa," katanya.

Mochtar mengatakan, hal itu sama dengan peristiwa kerusuhan pada pertengahan Mei
lalu. "Pada kerusuhan 14 Mei, ada perkosaan, pernjarahan dan perbuatan tercela
lain, itu kan juga hanya dilakukan oleh segelintir orang Indonesia, bukan semua
orang Indonesia demikian," tegasnya.

Tetapi kejadian itu kemudian didramatisir oleh surat kabar luar negeri yang
menggambarkan seolah-olah semua bangsa Indonesia sebagai pelaku dalam kerusuhan
itu. "Saya tidak bisa terima itu. Itu sama sekali tidak benar," katanya.

Jika ada segelintir manusia di Indonesia yang berbuat salah pada 14 Mei itu, tidak
berarti mewakili seluruh bangsa Indonesia, apalagi mewakili umat Islam, kata
Mochtar.

Analogi kejadian Mei lalu, menurut Mochtar, sama halnya dengan urusan
konglomerasi. "Siapa salah itu yang harus ditindak, jangan cerita semua keturunan
Tionghoa itu salah," katanya.

Mochtar menyatakan rasa bangganya bahwa Tong Djoe bisa dihargai Pemerintah pada
saat justru banyak orang yang mempermasalahkan kerusuhan 14 Mei lalu.


truth

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to
Kerepotan luh !
To the point aja !!!!

Pimpro <Pim...@hotmail.com> wrote in article
<35E37555...@hotmail.com>...

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
Kamis, 27 Agustus 1998

Ibnu Hartomo Selewengkan US$3 Miliar

JAKARTA (Media): Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) tiga mantan direktur Bank Indonesia
yang diduga terlibat korupsi senilai Rp 1,5 triliun mendekati rampung. Sementara Jaksa
Agung melaporkan Mayjen TNI (Purn) Prof Dr Ibnu Hartomo, adik ipar mantan Presiden
Soeharto, menyalahgunakan promisory notes senilai US$ tiga miliar.

BAP tiga mantan direktur BI yakni Paul Soetopo, Heru Supratomo, dan Hendrobudianto,
mendekati rampung, diungkapkan Kapolda Metro Jaya Mayjen Noegroho Djajoesman, kemarin
(26/8). ''BAP-nya sudah 50% selesai. Mudah-mudahan dapat segera rampung,'' kata
Noegroho.

Tiga direktur BI disidik sejak akhir 1997 dengan tuduhan merugikan uang negara sekitar
Rp 1,5 triliun. Penanganannya berjalan lambat, menurut kapolda, karena polisi selama
ini direpotkan dengan pengamanan situasi kamtibmas yang tidak henti-hentinya. Meski
riak unjuk rasa masih berlangsung sampai saat ini, Polda sudah bisa membagi tugas
untuk menyelesaikan kasus tiga mantan direktur BI itu.

Miranda Goeltom yang dihubungi terpisah setuju pengawas bank dari BI maupun bankir
nakal ditindak tegas untuk mengembalikan kredibilitas pemerintah serta kepercayaan
terhadap perbankan. Bila ada pengawas BI yang melakukan penyimpangan dari garis
ketentuan, tegasnya, bisa saja diperiksa. ''Tetapi harus dilakukan secara
proporsional. Kalau disebabkan pengawas kalah canggih maka pengawasnya dididik supaya
lebih baik,'' paparnya.

Perbanas juga mendukung langkah pemerintah menindak tegas anggotanya (bankir) yang
nakal. ''Silahkan, kalau ada bankir terbukti bersalah, kami setuju diproses secara
hukum,'' ujar Thomas Soeyatno Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Bank-bank Swasta
Nasional (Perbanas).

Thomas yang didampingi sejumlah pengurus justru meminta aparat hukum bertindak lebih
cepat sebab lambatnya pemeriksaan memperburuk sistem perbankan nasional.

Terhadap dana yang diselewengkan bankir nakal yang diperkirakan mencapai Rp 200
triliun
termasuk bunganya, Jaksa Agung M Ghalib menegaskan terus memburunya. ''Upaya
pemerintah memberantas KKN terencana dan terorganisir dengan tujuan utama
menyelamatkan keuangan serta aset negara,'' kata M Ghalib.

Dalam Sidang Kabinet Terbatas Bidang Polkam di Bina Graha, kemarin, Jaksa Agung juga
melaporkan penyalahgunaan promisory notes dari Mayjen TNI (Purn) Prof Dr Ibnu Hartomo.
Kasus ini, katanya, harus diusut karena merugikan pemerintah.

Ibnu Hartomo mengeluarkan promisory notes ketika menjabat Wakil Sekjen Dewan
Hankamnas. Hubungan keluarga dengan Presiden Soeharto yang sedang berkuasa membuat
kasusnya ketika itu tidak terjangkau hukum. ''Siapa yang berani...,'' seloroh Menteri
Kehakiman Muladi.

(San/DE/Hri/Awi/Rid/M-2)

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
Soal Pemerkosaan, Pemerintah ’’Dikerjain’’

Jakarta, JP.-27 Agustus 1998

Santernya pemberitaan tentang aksi pemerkosaan terhadap etnis Cina pada kerusuhan Mei lalu
ternyata hanya isapan jempol. Sebab, sampai kini tidak ditemukan bukti-bukti nyata
sehingga kemudian disimpulkan bahwa pemerintah Indonesia dikerjain organisasi-organisasi
yang menggembar-gemborkan adanya pemerkosaan tersebut.

Kesimpulan bahwa pemerintah dikerjain itu disampaikan sebelas anggota LSM (lembaga swadaya
masyarakat) dari Taiwan kepada Menhankam/Pangab dan dilaporkan dalam Sidang Kabinet
Terbatas Bidang Polkam yang dipimpin Presiden B.J. Habibie
di Bina Graha, Jakarta, kemarin.

Menpen M. Yunus Yosfiah menjelaskan kepada wartawan setelah sidang kabinet, ke-11 anggota
LSM dari Taiwan itu datang ke Indonesia guna mencari kebenaran tentang terjadinya
pemerkosaan terhadap etnis Cina pada kerusuhan Mei lalu, sebagaimana
banyak dilansir belakangan ini.

’’Selama LSM-LSM tersebut berada di Indonesia, mereka telah bertemu dengan sejumlah tokoh,
konsulat Taiwan di Jakarta, menteri peranan wanita, dan mencari informasi tentang korban
pemerkosaan. Ternyata tidak ditemukan adanya korban pemerkosaan sehingga mereka
menyimpulkan Anda (pemerintah) dikerjain,’’ kata Menpen.

Menurut Menpen, pihak kepolisian juga telah mengusut tentang dugaan pemerkosaan tersebut.
’’Ada 103 pengusutan yang dilakukan Polri, tetapi hasilnya adalah tidak bisa dibuktikan
adanya kasus pemerkosaan itu,’’ ujar Yunus.

Dari 103 kasus yang diusut itu, kata Menpen, antara lain, pengusutan terhadap informasi
adanya pemerkosaan di Apartemen Mitra Bahari (4 orang). ’’Setelah diusut, hasilnya adalah:
korban telah dievakuasi ke Singkawang, Manado, dan Minahasa oleh Romo
Sandyawan. Adanya pemerkosaan ini diragukan,’’ jelas Menpen.

Begitu juga informasi tentang pemerkosaan yang terjadi di Jelambar, Jakarta Barat, yang
bersumber dari informasi Pendeta Samuel Budi dari Gereja Pantekosta, Jelambar. ’’Hasilnya,
tidak ada jamaah Gereja Pantekosta Jelambar yang diperkosa pada
13–14 Mei,’’ kata Yunus.

’’Itu hanya contoh-contoh dari 103 kasus yang diusut Polri,’’ kata Menpen, yang mencoba
mengaitkan kesimpulan penyelidikan Polri itu dengan kesimpulan sebelas anggota LSM dari
Taiwan tersebut. (an/jpnn)

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
WartaEkonomi

Mingguan Berita Ekonomi & Bisnis
 

ANTREAN BANKIR MENUJU BUI

Sebagian pengurus bank dalam likuidasi (BDL) sudah dijaring Bank Indonesia untuk diadili. Para pemilik dan debitur boleh jadi
menyusul. Bagaimana dengan tiga mantan direktur BI yang terlibat? Akankah gebrakan awal ini merembet sampai kepada para
mantan petinggi bank beku operasi (BBO) dan bank take over (BTO)?

Kini, bankir jangan coba-coba "bermain" dengan uang orang lain. Salah-salah bisa dijebloskan ke dalam bui. Terlebih
sekarang-sekarang ini, tampaknya Bank Indonesia tidak memberi hati kepada bankir yang nakal. Buktinya, belum lama ini sejumlah bankir dari sembilan bank dalam likuidasi (BDL) dilaporkan ke pihak kepolisian. Mereka masing-masing adalah pemilik atau pengurus Bank Harapan Santosa (BHS), Bank Anrico, Bank Pinaesaan, Bank Dwipa Semesta, Bank Kosagraha, Bank Citrahasta Danamanunggal, Bank Pacific, South East Asia Bank (SEAB) dan Sejahtera Bank Umum (SBU).

Pemeriksaan terhadap para tersangka itu berkaitan erat dengan ditemukannya unsur pidana yang mereka lakukan. Diduga, mereka
telah melakukan pelanggaran dalam hal Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Dalam Undang-Undang Perbankan diatur,
pemberian kredit kepada perusahaan-perusahaan dalam satu grup bisnis dengan bank bersangkutan dipagari sampai 30% dari
modal bank. Hal ini dinyatakan dalam pasal 11 ayat 1 dan 2 dalam UU No. 7 Tahun 1992 itu.

Bank Dwipa, misalnya, seperti yang pernah diberitakan Warta Ekonomi, diketahui bermasalah setelah ditinggal pergi pemiliknya,
Bambang Samijono. Berdasarkan catatan kepolisian, bank ini dibobol setidaknya tiga ratus miliar rupiah. Separo dari jumlah itu
berasal dari penerbitan commercial paper fiktif atas nama bank itu tapi hasilnya tidak masuk ke dalam pembukuan bank. Demikian
halnya pula dengan Bank Citra. Bank ini juga dibobol ratusan miliar rupiah. Sementara itu, Bank Anrico--bank yang didirikan pada
1966 di Padang dan terkenal menawarkan suku bunga deposito yang selalu tinggi--itu kebobolan sekitar Rp150 miliar, melebihi
Batas Maksimum Pemberian Kredit dari modalnya, sebagaimana yang ditentukan Bank Indonesia.

Sementara ini, penyerahan hasil pemeriksaan dari pihak BI kepada pihak kepolisian menyangkut kasus sembilan bank dalam
likuidasi itu tidak dilaksanakan secara sekaligus, tetapi bertahap. Pertama, bankir-bankir dari dua bank, yaitu BHS dan Dwipa, yang ditindaklanjuti. Kemudian pada bulan Mei, empat bank yang diserahkan. Terakhir, bulan Juli, kasus tiga bank lagi sisanya.

Seperti diketahui, awal November tahun lalu pemerintah melikuidasi total enam belas bank. Di luar sembilan bank yang disebutkan
di atas, tujuh bank lainnya adalah Bank Industri, Bank Astria Raya, Bank Andromeda, Bank Guna Internasional, Bank Umum
Majapahit Jaya, Bank Mataram Dhanarta dan Bank Jakarta. Dalam hal likuidasi, Bank Indonesia mungkin saja mempertimbangkan bahwa kondisi ke-16 bank itu mampu membahayakan sistem perbankan nasional.

"Dari 16 bank dalam likuidasi tempo lalu, tujuh inilah yang baru disidik, sedangkan dua di antaranya (Citra dan Dwipa--Red.) telah
selesai berkas-berkasnya dan diajukan kepada penuntut umum," papar Direktur Serse Ekonomi Mabes Polri Kol. Made Pangestika
kepada Warta Ekonomi.

Di antara mereka yang ditahan pihak kepolisian, Kol. Made Pangestika menyebut dua nama dari Bank Harapan Santosa, yakni
Hendro Wahono dan Serni Kojonggian, dan satu dari Sejahtera Bank Umum, yaitu Jonny Basuki. Menurut Made, secara umum
mereka diperiksa atas dugaan pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Sementara para tersangka yang
berkas-berkasnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan antara lain adalah Benny Ondang dan Bambang Samijono (yang diduga kabur
ke luar negeri) dari Bank Dwipa dan Achmad Fadilah dari Bank Citra. Menyusul penahanan mereka, Anwar Syukur dan anaknya,
Refri Anwar Syukur, yang masing-masing adalah direktur utama dan komisaris utama dari Bank Anrico, kemudian juga ditahan.

 
'KEBERANIAN' BANK INDONESIA

Sesuai dengan pasal 49 ayat 2 (b) dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, bankir-bankir dari sembilan BDL itu bisa diganjar untuk dikerangkeng dengan maksimal enam tahun dan bayar denda paling banyak Rp6 miliar. Tindak pidana yang
mereka lakukan tergolong kejahatan. Jadi, bukan pelanggaran biasa.

"Kalau ada unsur pidananya harus ditindak karena ini kan menyangkut uang masyarakat. Itu harus dipertanggungjawabkan," tegas
Direktur BI Achjar Iljas. Sedangkan Hendrick Kolonas, mantan wakil presiden komisaris Bank Tiara Asia, mengatakan kalau
memang dana bank diambil untuk kepentingan pribadi dan kelompok bisnisnnya, kasus sembilan bankir itu mesti diusut.

Dalam kaitan itu, kepercayaan para nasabah yang menyimpan dana mereka di bank bersangkutan diduga diselewengkan. Dana
masyarakat yang dihimpun bank-bank itu dipinjamkan kepada perusahaan-perusahaan dalam kelompok bisnis masing-masing
dengan maksud agar perusahaan-perusahaan itu tidak bangkrut. Mengingat kredit itu sendiri berasal dari dana masyarakat yang
disimpan pada bank, risiko kegagalan atau kemacetan yang dialami bank berdampak juga pada keamanan dana masyarakat
tersebut.

Jika kita telah dari prosedur auditnya, kegagalan kredit diakibatkan adanya kepentingan pribadi para eksekutif bank dalam
memutuskan pengucuran kredit sehingga tidaklah objektif. Masalah sembunyi-sembunyi ini tentunya berkaitan dengan kebrobokan
mental para petinggi bank itu.

Pengamat hukum perbankan, Sutan Remy Syahdaeni, menilai bahwa tindakan eksekutif bank dalam memberikan kredit secara
gampangan tanpa analisis yang baik itu sudah merupakan pelangaran yang dapat dikenai pidana, sekalipun pengucuran kredit itu
sebetulnya tidak melewati batasan BMPK atau bahkan tidak macet. "Memberikan kredit tanpa analisis yang baik itu juga termasuk
tindak pidana menurut UU No. 7 Tahun 1992".

Sutan Remy Syahdaeni, yang juga mantan direktur BNI 46, menyatakan gembira bahwa masalah itu sudah mulai diungkap dan
ditindaklanjuti. "Sejak semula saya memang selalu mempersoalkan, kenapa kok tidak ada tindakan atau pengusutan sama sekali
terhadap pengurus atau pemilik bank-bank dalam likuidasi," ujar Sutan Remy. Ia pun memuji "keberanian" BI dalam mengungkap
kasus tersebut dan melimpahkannya kepada pihak kepolisian.

Pendapat senada juga datang dari Menteri Kehakiman. "Saya setuju sekali dan mereka itu harus ditindak tegas," kata Muladi.
Tindakan BI melaporkan bankir-bankir tersebut tentunya dapat menghindarkan merajalelanya para penjarah bank-bank sendiri itu.

Selanjutnya, menurut Sutan Remy pula, kepolisian diharapkan menindaklanjuti terus pengusutan kasus itu dan meneruskannya
hingga ke pengadilan. Sebaliknya, pihak kepolisian kelihatannya memang akan meneruskan prosedur hukum dari kasus tersebut.
Kapolri Letjen Roesmanhadi menegaskan bahwa penanganan para bankir itu tetap akan dilaksanakan sesuai dengan aturan hukum.

Di samping para komisaris dan anggota direksi, berbagai pihak menginginkan agar para pemegang saham bank juga tidak luput
diperiksa. Menurut Remy, banyak bank di mana komisaris atau eksekutifnya hanyalah orang-orang suruhan atau boneka layaknya.
"Sedangkan kendali dari bank bersangkutan tetap dipegang pemegang saham," jelasnya.

Tidak ketinggalan pula mereka yang harus dihukum adalah para debitur dari bank-bank dalam likuidasi itu. Para pengurus
perusahaan-perusahaan afiliasi dalam grup usaha yang sama dengan bank bersangkutan juga mesti diseret ke meja hijau.

KOLUSI

Salah seorang pengamat ekonomi melihat bahwa tindakan investigasi kepolisian terhadap bankir-bankir itu terlambat. Pasalnya,
jumlah dan nilai kredit bermasalah gara-gara pelanggaran BMPK ini diketahui sudah membengkak pada awal 1990-an. Bank
Indonesia baru bertindak sesudah merasa hampir putus asa untuk mengupayakan pemulihan bank-bank bermasalah.

Sebenarnya, jikalau diketahui terjadi penyimpangan, BI bisa segera meminta komitmen dari direksi dan komisaris untuk melakukan
pembenahan, serta komitmen dari pemilik bank untuk menanggulangi masalah yang memerlukan kewenangan pemilik.
Pertanyaannya kini, mengapa pihak BI setuju-setuju saja atas pengucuran kredit melebihi plafon yang ditentukan?

Sebagai pembina dan pengawas, personel-personel kunci di bank sentral semestinya tidak membiarkan pengelola suatu bank
mengucurkan kredit dengan cara yang merugikan bank bersangkutan sekaligus yang merugikan nasabah. Gubernur BI Syahril
Sabirin tidak menutup kemungkinan terjadinya suatu kolusi antara direksi BI dan bankir-bankir yang diperiksa itu. "Mungkin juga
terjadi seperti demikian itu, kalau kita lihat mayoritas kesalahan mereka (bankir-bankir yang diperiksa--Red.) bukan lain adalah
pelanggaran BMPK," katanya kepada Warta Ekonomi.

Sebelumnya, ramai diberitakan bahwa ada tiga mantan direktur BI yang terlibat dalam kasus bobroknya beberapa bank bermasalah. Pada perkembangan selanjutnya, tidak lagi terdengar diteruskannya pemeriksaan terhadap ketiga pejabat teras di bank sentral itu.

Kaditserse Polda Metro Jaya Letkol. Gories Mere mengakui, penyelidikan terhadap ketiga mantan direktur BI itu memang sempat
mengendur. Alasannya, berbagai macam persoalan alias banyak pekerjaaan yang juga tengah ditangani pihak kepolisian. Namun,
menurut Gories pula, selama ini mereka tetap dijadikan tersangka dan bukti-butki sedang disusun kembali. "Tidak pernah terpikir
untuk meng-SP3-kan (surat perintah penghentian perkara) mereka. Kami tetap lanjutkan penyelidikan itu," kata Kaditserse, ketiga
tersangka itu tidak ditahan. Ini mengingat mereka telah memberikan jaminan untuk tetap bersedia memberikan keterangan bilamana dibutuhkan. "Kami juga akan lihat dari hasil pemeriksaan, perlu tidaknya mereka ditahan."

Di satu sisi, terlihat indikasi kolusi antara pejabat BI dan manajemen bank bermasalah. Di sisi lain, tidak berjalannya pengawasan
dan penindakan dari BI, dilihat dari kacamata seorang pengamat ekonomi, itu dikarenakan adanya orang-orang kuat di belakang
bank-bank bermasalah. Pada suatu seminar industri kecil di Sidoarjo, Ekonom CIDES, Umar Juoro berpendapat bahwa
beking-beking di balik sejumlah bank besar menghalangi upaya BI untuk menjatuhkan sanksi. Selama ini, memang petinggi BI
tampaknya menghadapi kendala dalam menindak bank-bank tertentu yang bermasalah.

Bisa dimaklumi pula jika Bank Indonesia terkesan bersikap sungkan karena kebetulan dalam jajaran pemilik atau pengurus
bank-bank bermasalah itu bertengger nama-nama besar. Sebut saja Bambang Trihatmodjo yang duduk di kursi dewan komisaris di
Bank Andromeda, Yoga Soegomo yang menjadi presiden komisaris di Bank Dwipa, Hashim Sumitro Djojohadikoesoemo di Bank
Industri dan Probosutedjo di Bank Jakarta.

Berurusan dengan tokoh-tokoh tersebut terbukti tidak mudah. Probosutedjo, contohnya, justru menggugat pemerintah dan BI tatkala Bank Jakarta dilikuidasi. Hampir saja tindakannya itu juga diikuti oleh Bambang Trihatmodjo, yang seempat ingin mengajukan Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Belakangan ini, dalam perkara perbankan seperti kasus sembilan BDL itu, telah ada kesepakatan antara bank sentral dan
kejaksaan bahwa pemeriksaan terhadap bankir-bankir dilaksanakan terlebih dahulu oleh BI sebelum kasusnya dilimpahkan kepada
pihak berwenang. Seperti dikatakan Direktur Hukum dan Kesekretariatan BI Achjar Iljas, berdasarkan kesepakatan dengan pihak
kepolisian, pemeriksaan pertama memang dilakukan oleh BI dan hasilnya baru disampaikan kepada pihak berwajib. Hanya,
mengapa bankir-bankir yang diperiksa hanya dari sembilan bank, lantas bagaimana dengan mereka yang dari tujuh bank dalam
likuidasi lainnya?

 
SIAP BERTANGGUNG JAWAB?

Sangat boleh jadi, gebrakan BI yang paling gres dalam memperkarakan bankir-bankir sembilan BDL tidak berhenti sampai di situ
saja. Bank-bank pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional ternyata bisa ikut diperiksa. Terutama, bank-bank yang dikenal
sebagai bank beku operasi (BBO) dan bank yang diambil alih (bank take over--BTO). Mereka inilah yang paling rakus melahap dana pinjaman dari pemerintah yang ditalangi BI atau yang dikenal sebagai Bantuan Likuiditas BI (BLBI).

Seperti diketahui, awal April tahun ini pemerintah secara serempak membekukan kegiatan operasional tujuh bank dan mengalihkan
manajemen tujuh lainnya. Bank-bank yang dibekukan operasinya adalah Bank Surya, Bank Pelita, Bank Hokindo, Bank Centris
International, Bank Deka, Bank Subentra dan Bank Kredit Asia. Sedangkan bank yang diambil alih BPPN dan didampingi bank-bank pemerintah adalah Bank Expor Impor Indonesia (Exim), bank Private Development Finance Company of Indonesia (PDFCI), Bank Danamon, Bank Tiara Asia, Bank Modern, Bank Umum Nasional (BUN) dan Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI).

Achjar Iljas dari BI menegaskan, pemeriksaaan terhadap BBO dan BTO tergantung kondisinya. "Jika dalam perkembangan
penelitiannya ditemukan indikasi yang sama (pelanggaran BMPK--Red.), tentu mereka akan diperlakukan sama pula seperti kasus
BDL." Sedangkan Gubernur BI Syahril Sabirin menguatkan hal itu dengan mengatakan bahwa pemeriksaan terhadap BBO dan BTO bisa menyusul. Dengan demikian, pada masa datang bukan cuma bankir-bankir BDL yang dapat dihadapkan ke muka hakim,
melainkan juga bank-bank lain dengan kasus serupa.

Lantas, bagaimana tanggapan para mantan pemilik atau pengurus bank-bank itu? Mantan wakil presiden komisaris Bank Tiara,
Hendrick Kolonas, misalnya, telah tegas menyatakan bahwa ia tidak akan lari dari masalah. "Saya orang yang bertanggung jawab,"
katanya kepada Warta Ekonomi. Hendrick hanya berharap bahwa masyarakat jangan memandang semua bank itu sama nakalnya,
tetapi seharusnya bisa memisah-misahkan mana yang baik dan mana yang buruk. Bagaimanapun, menurutnya, perbankan kita
memang tengah menghadapi masalah saat ini.

Sementara itu, beberapa pemilik BTO rupanya masih menikmati hari-hari "kebebasannya" dan meneruskan usaha-usaha lainnya
yang nonperbankan. Lihat saja mantan presiden direktur sekaligus pemilik utama Bank Dagang Nasional Indonesia, Sjamsul
Nursalim. Menurut Presdir Ometraco Boyke Gozali, yang adalah adik iparnya Sjamsul, bos Grup Gajah Tunggal itu sekarang
sedang berada di Lampung untuk urusan bisnis tambak udangnya. Padahal, banyak pihak yang menghendaki agar mereka ini juga
turut dijaring. Adapun pemilik lama Bank Danamon, Usman Admadjaja, ketika dihubungi Warta Ekonomi per telepon, 14 Agustus
lalu, hanya mengatakan bahwa dirinya sehat dan baik-baik saja. Usman enggan berkomentar mengenai nasib bank eks miliknya
tersebut. "Jangan. Saya tidak ada keterangan soal itu."

Sejauh ini, dari keterangan yang berhasil dihimpun oleh tim Warta Ekonomi, para pemilik dan eksekutif BTO belum pernah diperiksa atau ditahan. Padahal, seperti dipaparkan pengamat ekonomi Umar Juoro, lebih dari 20 persen bank-bank yang masuk dapur BPPN memiliki indikasi pelanggaran legal lending limit sebagaimana bank-bank dalam likuidasi.

BDNI, yang mengeluarkan pinjaman sebanyak Rp26,9 triliun, diketahui mengucurkan kredit bagi pihak terafiliasi sebesar Rp24,4
triliun atau mencapai 90,7 persen dari keseluruhan pinjaman yang dikeluarkan bank ini. Sekitar Mei hingga Oktober tahun 1997
BDNI diketahui mengeluarkan pinjaman bagi kepentingan Grup Gajah Tunggal sebanyak US$600 juta. Bank Modern menyalurkan
pinjaman sejumlah Rp1,9 triliun dan Rp1,2 triliun di antaranya atau 63,2% diperuntukkan bagi pihak terafiliasi. Sedangkan Bank
Danamon memberi pinjaman Rp12,9 triliun atau 43,8 persen dari total Rp29,5 triliun yang disalurkan bank ini bagi pihak terafiliasi.

"Laporan dari masyarakat tentang keempat bank (Bank Danamon, BDNI, Bank Tiara dan Bank Modern) itu memang ada dan sejauh ini kepolisan masih mempelajarinya," kata Direktur Serse Polri Kol. Made. Ia menyatakan bahwa semua kasus perbankan bisa disidik. Hanya, itu tergantung pada sumber daya manusia di kepolisian, yang jumlahnya sedikit dan memiliki keterbatasan untuk mengerti masalah perbankan.

Hal yang jelas, para pemilik bank terambil alih saat ini termasuk mereka yang dicekal, yang jumlah semuanya santer disebut-sebut
mencapai 94 orang itu. Helmy, sekretaris Kaharudin Ongko, salah satu bekas pemilik mayoritas Bank Umum Nasional,
membenarkan bahwa bosnya sudah termasuk salah satu dari mereka yang dicekal pihak berwenang. Pencekalan terhadap taipan
ini akan berakhir pada bulan September mendatang, tetapi besar kemungkinan bisa diperpanjang kembali mulai bulan Oktober.

Nasib yang sama juga menimpa eks bos Bank Modern yang juga adalah pemilik mayoritas kelompok Modern, Samadikun Hartono.
Sebuah sumber menyebutkan bahwa Samadikun terkena pencekalan pula sejak sekitar bulan April dan saat ini ia sedang berada di
luar kota. Menurut sumber itu, kalau kemudian terjadi kasus pelanggaran BMPK di Bank Modern, sebenarnya pihak Bank Indonesia turut punya andil dalam masalah ini.

Terlepas dari kendala-kendala pihak BI dan kepolisian, dengan diadilinya bankir-bankir bermasalah itu, pihak BI berharap agar
kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dapat pulih. Yang jelas, pada saat-saat sulit diterjang badai krisis moneter
berkepanjangan yang memorakporandakan dunia perbankan nasional ini, BI bertekad untuk menegakkan hukum. "Kami akan
langsung menindak tegas bankir-bankir yang nakal," jelas Gubernur BI Syahril Sabirin. Ia menyatakan bahwa banknya sendiri tidak
perlu dilikuidasi dahulu untuk kemudian bankir-bankirnya diperiksa, bukan sebagaimana kasus bank-bank dalam likuidasi tadi.
Dengan demikian, apakah ini berarti bahwa siapa pun bankir yang nakal--tanpa pandang bulu--bakal dilibas semua?

 

HENDRARTO DARUDOYO, NAPHTARINA MUSSOLINI, KUNTO HARYOKO, ROSITA ARUAN, TITIS NURDIANA, ATI OKTAVIA, FADJAR ADRIANTO, EDI SIMON
SIAHAAN DAN SATRIJA BUDI WIBAWA (SIDOARJO)

 

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar, Halim Susanto
WartaEkonomi

Mingguan Berita Ekonomi & Bisnis
 

203 PENGURUS **BANK BERMASALAH**

NO NAMA                              JABATAN                          
1. Adiwidjaja                        Komisaris Bank Kredit Asia
2. Agus Anwar                        Presdir Bank Pelita, Kom Bank Kredit Asia
3. Agus Gunawan                      Direktur Bank Danamon
4. Agustina Admadjaja                Direktur Bank Danamon
5. Alfred Fransiscus                 Direktur Bank Pelita 
6. Ali Sanusi Lubis                  Direktur Utama Bank Pacific
7. Andri Tedjadharma                 Komisaris Bank Centris
8. Antonius Tjipto Prastowo          Direktur Bank Surya
9. Arsll, S.E.                       Direktur Bank Anrico
10.Asrianty Purwantini               Komisaris Bank Kosagraha S.

11.Asrul Rizany                      Direktur Bank Kredit Asia  
12.A. Basjik Sadin                   Direktur Bank Mataram            
13.A.F. Fadillah                     Komisaris Bank Citra
14.A.K. Ariawan                      Presdir  Bank Surya
15.A.K. Hanafiah                     Direktur Utama Bank Citra
16.Bambang Budiman                   Direktur Bank BHS
17.Bambang Priambodo                 Wk. Presdir Bank Tiara
18.Bambang Samijono                  Wk. Komisaris Utama Bank Dwipa 
19.Bambang Sutrisno                  Komisaris Bank Deka
20.Bambang Trihatmodjo               Komisaris Bank Andromeda

21.Bardal Beslla, S.H.               Direktur Bank Anrico                
22.Benny Ondang                      Direktur Bank Dwipa
23.Benny Suherman                    Preskom Bank Subentra
24.Benny Wenas                       Direktur Bank Tiara
25.Bob Hasan                         Komisaris Utama BUN
26.Catharina Widjaja                 Direktur BDNI
27.Darwin Maaruf                     Komisaris Bank Anrico
28.Dasa Eka Widagdo                  Direktur Bank SBU      
29.Daud Gozali                       Direktur Bank Centris  
30.Dewanto Kurniawan                 Preskom Bank Deka

31.Dewanto Kurniawan                 Preskom Bank Hakindo
32.Didiek Wardjijanto                Direktur Bank Kredit Asia
33.Drs. Hasin Tanamas                Direktur Bank Guna
34.Drs. Johniee Malloa               Direktur Bank Guna        
35.Drs. Denis D. Yohana              Direktur Bank Anrico
36.Drs. Waldjimin S.W.               Direktur Utama Bank Jakarta
37.Dr. Didik J. Rachbini             Komisaris Bank Jakarta
38.Dr. Hasudungan Tampubolon         Komisaris Utama Bank SBU
39.Dr. KRMH Ibnu Harjanto            Komisaris Bank BHS 
40.Dr. Mari Elka Pangestu            Komisaris Bank SBU

41.Dr. Yoga Soegomo                  Komisaris Utama Bank Guna
42.Eddi Wangsayatna                  Direktur Bank Pacific         
43.Eddie Tong Thung Auw              Presdir Bank PDFCI
44.Edison Mawikere                   Direktur Bank Danamon  
45.Eko Budi Putranto, BBA            Komisaris Bank BHS, Guna
46.Ekotjipto, S.H.                   Direktur Utama Bank BHS
47.Elon Dachlan                      Komisaris Bank Surya
48.Eric J. Lazuardi                  Direktur Utama B. Kosagraha
49.Ferdiand N.P.                     Direktur Bank Citra       
50.Ferry Teguh Santoso               Wk. Preskom Bank Tiara

51.Ganda Prayitna                    Direktur Bank Surya  
52.Gerard Yokobus                    Direktur Utama Bank Mataram
53.Gina Trisno                       Wk. Komisaris Utama B. SEAB
54.Gustiono Kustanto                 Direktur Bank Tiara
55.Handy Sunardio                    Direktur Utama  B. SEAB
56.Harry Sasongko                    Direktur Bank Tiara   
57.Hartatie N.P.                     Komisaris B. Kosagraha
58.Haryanto Ekapradja                Komisaris Bank Centris
59.Hashim S. Djojohadikusumo         Komisaris Utama Bank Pelita
60.Hendra Rahardja                   Komisaris Utama Bank BHS

61.Hendrick Kolonas                  Wk. Preskom Bank Tiara
62.Hendro Kawi                       Direktur Bank Deka
63.Hendro Suwono                     Direktur Bank BHS           
64.Henky Liem                        Komisaris Bank Astria
65.Henry Liem                        Direktur Bank Astria, Kom Bank Astria
66.Henry Pribadi                     Komisaris Bank Andromeda
67.Herman Suryono                    Direktur Bank Umum Nasional
68.Hermansjah Jamaluddin             Direktur Bank PDFCI
69.Herutomo Edhi Prasetyo            Direktur Bank Subentra
70.Hokianto                          Direktur Bank Hakindo 
71.Houtman Z. Arifin                 Komisaris Bank Pacific
72.Husni Ali                         Direktur BDNI
73.H. Irawan Bratakusumah            Komisaris Bank Danamon
74.H. Anwar Syukur                   Direktur Utama Bank Anrico
75.H.Muchtar Suriadihardja, S.E.     Direktur Bank BHS
76.H. Nico W. Eman                   Komisaris Bank Pinaesaan
77.H. Probosutedjo                   Komisaris Utama Bank Jakarta
78.H.R. Rembet                       Komisaris Utama Bank Pinaesaan
79.H.W. Tehubijuluw                  Komisaris Utama Bank Pacific
80.Ign. Herry Wibowo                 Presdir Bank Tiara

81.Imam T. Djojosubroto              Direktur Utama Bank Dwipa
82.Ina Debora Palar                  Direktur Bank Surya
83.Irjanto Ongko                     Komisaris BUN
84.Isman Dito                        Direktur Bank Andromeda
85.I. Nyoman Moena                   Komisaris Bank Guna
86.Jemy Sutjiawan                    Direktur Bank SEAB
87.Johannes A.W. Kurnia              Direktur Bank Umum Nasional
88.Johannes B. Kotjo                 Komisaris Bank Andromeda
89.John Lumowa                       Direktur Bank Pinaesaan  
90.Johny Basuki                      Komisaris Bank SBU

91.Junanda P. Syarfuan               Komisaris Bank Andromeda
92.Jusran                            Komisaris Bank Andromeda
93.Jusuf Arbianto                    Komisaris Bank Danamon
94.J.R. Ananta Kawita                Komisaris Bank Deka
95.Kaharuddin Ongko                  Wk. Preskom BUN
96.Kalimuda Sinaga                   Direktur Bank Umum Nasional
97.KGPH Hadiwinoto                   Komisaris Bank Mataram
98.Kiki Hamidjaja                    Direktur Bank Modern 
99.Kindarto Kohar                    Komisaris Bank Astria
100. Koeswardojo Soemanagoro           Komisaris Bank Tiara

101. Kosasih Wikanta                   Direktur Bank Pacific
102. Kusumadjati Suroso                Komisaris Bank SEAB
103. Kwan Benny Ahadi                  Direktur Bank Astria       
104. Leo Andyanto                      Direktur Bank SEAB
105. Leo Hartono                       Direktur Bank Deka  
106. Leonard Tanubrata                 Presdir Bank Umum Nasional
107. Lesmana Basuki                    Direktur Utama Bank SBU
108. Letjen (Purn) Sutopo Yuwono       Komisaris Utama Bank Guna
109. Lo Kiem Tjing                     Komisaris Bank Pelita
110. Louis J.H. Eman                   Direktur Utama Bank Pinaesaan

111. Luntungan Honoris                 Komisaris Bank Modern
112. Mahandra Wardhana                 Direktur  Bank PDFCI
113. Maizalus Ali                      Direktur Bank Pelita
114. Mansur Jatim                      Direktur Bank Pelita  
115. Marjanto Danoesapoetra            Komisaris Bank Guna
116. Max D. Setijadi                   Komisaris Bank Umum Nasional
117. Megawaty W. Liem                  Direktur Bank Andromeda             
118. Michael Kurniawan                 Komisaris Bank Deka
119. Michael Lukman Soetanto           Direktur BDNI
120. Mohammad Soebekti                 Komisaris BDNI

121. Mongula Rudolf Hendrik            Presdir Bank Modern
122. Muchtar Abdullah, S.E.            Direktur Utama Bank Guna
123. Muchtar Abdullah, S.E.            Komisaris Bank BHS
124. Muh. Nur Tajeh                    Komisaris Bank Guna, BHS
125. Mu'min Ali Gunawan                Komisaris Bank SEAB
126. M. Djumeri                        Direktur Utama Bank Industri
127. M. Wiyono Kariawigena             Direktur Bank Dwipa                 
128. Nico Mallangkay                   Direktur Utama B. Andromeda
129. Nienie N. Admadjaja               Presdir Bank Danamon
130. Ny. Sumandari Sunarwinto          Komisaris Bank Umum Nasional

131. Ny. Loeki Sundjaja Putra          Wk. Presdir Bank Tiara
132. Ny. M.F. Effy Handoko             Direktur Bank Modern
133. Ny. Tetty Lanawati Gozali         Direktur BDNI
134. Octariadi Anis                    Direktur BDNI 
135. Okie R. Lukita                    Komisaris Bank Pelita
136. Okie Sugiri                       Direktur Bank Danamon
137. Ongki W. Dana                     Presdir Bank Subentra
138. Padmo Sumasto, S.H.               Komisaris Bank BHS
139. Peter F. Gontha                   Komisaris Bank Andromeda
140. Pontjo Sutowo                     Komisaris Bank Pacific

141. Prajogo Pangestu                  Komisaris Utama Bank Andromeda
142. Predie                            Direktur BDNI
143. Prijatna Admadja                  Komisaris BDNI
144. Prof.Drs. H. Harun Zain           Komisaris Utama Bank Anrico
145. Prof.Dr. Mochtar Kusumaatmadja    Komisaris Bank Pinaesaan
146. Putu Windu Hanaya                 Direktur Bank Industri
147. Rachman Hadi                      Direktur Bank Danamon
148. Raden Bientarno                   Wk. Preskom Bank Danamon
149. Refri Anwar Syukur, S.E.          Komisaris Bank Anrico
150. Robby A. Menajang                 Direktur Bank Pinaesaan

151. Roes Haryanto                     Komisaris Bank Industri
152. Romulus M.T. Hariandja            Komisaris BDNI
153. Ronny Ganjar Wirahadi             Direktur Bank Subentra
154. Royanto Kurniawan                 Presdir Bank Deka
155. Rustam Wirasusanto                Direktur Bank Subentra 
156. R.C. Eko Santoso Budianto         Direktur Bank PDFCI
157. R. Kurniawati Probosutedjo, M.A.  Wk. Komut Bank Jakarta
158. R. Rachmad                        Komisaris Bank Astria
159. R. Rahmad                         Komisaris Bank Industri
160. Sachman H. Kadiman                Direktur Bank Umum Nasional  

161. Samadikun Hartono                 Preskom Bank Modern
162. Sarwono Soedjlarto, S.H.          Direktur Bank Anrico
163. Sarwono Sudarto                   Direktur Bank Industri                 
164. Setiawan Chandra                  Komisaris Utama B. Kosagraha
165. Sherny Kojongian, B.Sc.           Direktur Bank BHS
166. Sistijiatmo K. Suwidho            Presdir Bank Hakindo
167. Siswoko                           Direktur Bank Kredit Asia
168. Siwie Honoris                     Komisaris Bank Modern
169. Sjamsul Nursalim                  Presdir BDNI
170. Soebari                           Wk. Direktur Utama B. Jakarta    

171. Soedwikatmono                     Komisaris Utama Bank Surya
172. Soegeng S.K. Hendra Kartika       Komisaris Bank Dwipa
173. Soekardjo S.R.                    Komisaris BDNI
174. Soesilo Oetomo                    Direktur Bank Danamon
175. Soetaris Natakusumah              Direktur Utama Bank Astria
176. Sri Nastjarja Poewasoeparta       Komisaris
177. Sri Sultan Hamengku Buwono X      Komisaris Utama Bank Mataram
178. Stefanus Soetarto                 Direktur Bank SBU
179. Steve Boedy S. Subroto            Wk. Presdir Bank Danamon
180. Suharyanto Harsono                Presdir Bank Centris 

181. Sunardji P.A.                     Komisaris Bank Pacific
182. Sungkono Honoris                  Komisaris Bank Modern
183. Suryagupita                       Komisaris Bank Tiara
184. Suryo Suherman                    Komisaris Bank Subentra
185. Sutomo Sunarta Dirdja             Komisaris Bank Pacific
186. Suyoso Sukarno                    Komisaris Utama Bank Citra
187. Syafri Nur                        Presdir Bank Kredit Asia
188. Taty Sumaryati Susatyo            Komisaris Bank SEAB
189. Teuku Abdullah                    Komisaris Bank Astria
190. Tidjan Ananto                     Wk. Komisaris Utama B. SEAB

191. Tjandra Somali                    Komisaris Bank Tiara
192. Tjenharto Kohar                   Komisaris Bank Astria
193. Todung P. Harahap                 Wk. Komisaris Utama Bank Dwipa
194. Tony Suherman                     Direktur Bank SBU
195. Toos Juniarli                     Direktur Bank Kredit Asia
196. Tri Rudi Anitio                   Komisaris Bank Subentra
197. Usman Admadjaja                   Preskom Bank Danamon
198. Uthan A. Sadikin                  Direktur Bank Andromeda
199. Vonny Mandagio                    Direktur Bank Pinaesaan
200. Wartodi, BBA                      Direktur Bank SEAB             

201. Yohanes Lembong                   Komisaris Bank Astria
202. Yoyok Setiawan Susilarto, S.E.    Direktur BDNI
203. Y. Diasmono                       Direktur Bank Kosagraha                 

*Yang dimaksud dengan pengurus adalah jajaran  dewan  komisaris dan dewan direksi.
Nama pengurus yang termaktub diambil berdasarkan  laporan keuangan terakhir
(untuk bank yang  dilikuidasi  dan bank  beku operasi) dan pengurus sebelum bank
 dinyatakan  diambil alih (untuk bank take-over).

**Yang  dimaksud bank bermasalah adalah bank  yang  dilikuidasi, bank yang
dinyatakan beku operasi (BBO), dan bank take-over (BTO)

Data: Diolah dari berbagai sumber
 

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
WartaEkonomi

Mingguan Berita Ekonomi & Bisnis
 
 

                      BIAS DALAM MENILAI PEBISNIS KETURUNAN

                                     B. Widyahartono

 

... kalaupun sampai terjadi krisis kepercayaan, sebaiknya janganlah seenaknya menyalahkan masyarakat biasa yang terhitung "powerless". Justru yang pertama-tama harus menggugat diri adalah elite pemerintah dan legislatif yang kurang memiliki sense of crisis.

 

Dalam melakukan analisis, saat dihadapkan dengan ketidakpastian dan krisis kepercayaan, banyak pengamat dari elite birokrasi
dan politik yang belum pernah menjadi pelaku bisnis sering terjebak pada penstereotipan kelompok pebisnis. Seolah-olah pebisnis
itu homogen dalam sikap kepekaan sosiokultural maupun etika. Namun, justru ketidakmampuan menelaah secara jernih, konsisten
dan berwawasan visioner, telah membuat masyarakat kehilangan sikap mempercayai sesama.

Daripada menuding atau menyalahkan orang lain, lebih baik kita semua menyadari bahwa dalam berinteraksi sosial sebagai
manusia biasa setiap saat, sadar atau tidak sadar, disentuh kepekaan etisnya. Sikap percaya (trust) yang dibangun merupakan
modal sosial yang mencakup aspek perilaku, budaya dan emosionalitas manusia sebagai anggota masyarakat. Dalam masa krisis
ini yang kita perlukan adalah pola pikir yang jernih dan berbudaya. Kini momentumnya tidak boleh dilewatkan. Sementara itu, pola
pikir yang serbaambivalen dan salah melulu (principiele denkfout) harus dibuang untuk memulihkan social trust.

Kalaupun sampai terjadi krisis kepercayaan, sebaiknya janganlah seenaknya menyalahkan masyarakat biasa yang terhitung
"powerless". Justru yang pertama-tama harus menggugat diri adalah elite pemerintah dan legislatif yang kurang memiliki sense of
crisis.

Terasa ada saja rekayasa ketidakharmonisan dengan sengaja mengadu domba dan menciptakan stereotip atau menggeneralisasi.
Selama era Orde Baru ada kesan kesengajaan untuk menstereotipkan kelompok keturunan yang disebut nonpri sebagai kelas
bisnis yang seolah-olah kemampuannya melulu hanya berbisnis.

Walaupun ada rekayasa terselubung untuk mengotak-ngotakkan masyarakat, tetapi realita keseharian dalam hubungan bisnis
antarpelaku bisnis dan antara bisnis dan pelanggan justru sudah terbentuk rasa saling percaya--karena masing-masing ingin
memperoleh nilai tambah (added value) dari keterkaitan (relationship).

Setiap bisnis mau tak mau berhadapan dan mengalami dinamika jaringan kerja (networking). Proses membangun jaringan ini
memakan waktu bertahun-tahun dan bukan satu-dua bulan. Proses ini merupakan pelumas bagi perilaku sosial dan jiwa etika
bisnis. Orang yang berbagi dalam hubungan jaringan itu saling terikat oleh kode timbal balik dan sederajat (code of reciprocity and
equity).

Berbisnis adalah interaksi antarmanusia dengan membangun keterkaitan atas dasar saling mempercayai. Memang arogansi sering
kali menyingkirkan kepekaan etis (ethical sensitivity). Muka seseorang merupakan komponen utama dalam dinamika jaringan
karena harus memiliki kepekaan dalam membangun kepercayaan masyarakat (social trust) yang nyata.

Sama bobotnya dengan kepekaan untuk memelihara muka (face saving), rasa berkewajiban (obligation) merupakan modal sosial
(social capital) yang dapat memperlancar interaksi sosial termasuk bisnis. Sebaliknya, kehilangan muka sebagai akibat hilangnya
kepercayaan masyarakat bisa merusak jaringan. Jadi, ada ikatan moral antara sikap percaya dan sikap berkewajiban.

Menipisnya kepercayaan masyarakat diperparah dengan belum pulihnya kepercayaan investor asing untuk beroperasi kembali.
Kenyataan ini menunjukkan masih lemahnya kredibilitas dan legitimasi pemerintah yang sekarang--apalagi dengan masih adanya
bias dalam menilai pebisnis. Pengamatan selama 20 tahun terakhir Orde Baru dan peralihan ke reformasi mencuatkan masih
adanya keraguan sentimen pasar pada bobot kepemimpinan (leadership), baik dalam bidang politik maupun ekonomi/bisnis. Kalau
keraguan ini terus berlanjut, timbul pertanyaan: kapan kepercayaan masyarakat akan kembali dalam wujud nyata dan bukan
rekayasa yang hanya di permukaan saja?

 

(Penulis adalah pengamat ekonomi dan bisnis)

 
 

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
Suara Merdeka Berita Utama Kamis,27 Agustus 1998

LSM Taiwan: Pemerintah RI ''Dikerjain'' dalam Isu Perkosaan

JAKARTA - Dugaan adanya aksi pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa pada kerusuhan
Mei lalu dinilai hanya isapan jempol, karena tidak ditemukan bukti-bukti nyata. Berkaitan
dengan isu tersebut, Pemerintah RI telah dikerjain oleh organisasi-organisasi yang
menggembar-gemborkan adanya pemerkosaan tersebut.

Demikian kesimpulan yang disampaikan 11 anggota LSM dari Taiwan kepada Menhankam/


Pangab dan dilaporkan dalam Sidang Kabinet Terbatas Bidang Polkam yang dipimpin

Presiden BJ Habibie di Bina Graha, Jakarta, Rabu kemarin.

Menpen M Yunus Yosfiah setelah sidang kabinet berakhir menyatakan, 11 anggota LSM
dari Taiwan itu datang ke Indonesia guna mencari kebenaran mengenai pemerkosaan
terhadap etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei lalu, seperti banyak dilansir belakangan ini.

"Selama di Indonesia, mereka bertemu sejumlah tokoh, konsulat Taiwan di Jakarta, Meneg
Peranan Wanita, dan mencari informasi tentang korban pemerkosaan. Ternyata tidak
ditemukan adanya korban pemerkosaan, dan mereka menyimpulkan 'Anda (Pemerintah
-Red) dikerjain'."

Sementara itu Kepolisian, ujar dia, juga mengusut dugaan mengenai pemerkosaan itu.
"Ada 103 pengusutan yang dilakukan Polri, tetapi hasilnya tidak bisa dibuktikan,'' ujar dia.

Dari 103 kasus yang diusut itu, kata dia, antara lain pengusutan terhadap informasi adanya
pemerkosaan di Apartemen Mitra Bahari (empat orang). "Setelah diusut, hasilnya adalah:


korban telah dievakuasi ke Singkawang, Manado, dan Minahasa oleh Romo Sandyawan.

Adanya pemerkosaan ini diragukan."

Begitu pula informasi pemerkosaan yang terjadi di Jelambar, Jakarta Barat, yang


bersumber dari informasi Pendeta Samuel Budi dari Gereja Pantekosta, Jelambar.

"Hasilnya, tidak ada jemaah Gereja Pantekosta Jelambar yang diperkosa pada 13-14 Mei.


Itu hanya contoh-contoh dari 103 kasus yang diusut Polri," kata Menpen, yang mencoba

mengaitkan kesimpulan penyelidikan Polri itu dengan kesimpulan 11 anggota LSM dari
Taiwan.

Tidak Konfrontatif

Kadispen Polri Brigjen Pol Drs Togar M Sianipar menjelaskan, dalam menyelesaikan kasus
pemerkosaan Polri berusaha tidak bertindak konfrontatif atau menghujat LSM yang tengah
menangani kasus itu. ''Polri menciptakan suasana akomodatif dan saling dukung agar
masalah ini dapat dijernihkan dan diselesaikan secepat-cepatnya.''

Walau usaha Polisi belum membuahkan hasil yang mengarah ke pembuktian awal,
pihaknya sudah mengumpulkan informasi dari 147 sumber.

Ke-147 sumber itu tidak hanya dari LSM, tetapi juga berbagai pihak, termasuk rumah sakit,
dokter, dan korban. Namun hasil yang didapat belum menunjukkan bukti-bukti awal sedikit
pun.

Kemungkinan Polri menggunakan kekuasaan sebagaimana diatur dalam Pasal 216 dan
221 KUHP yang isinya mengatur wewenang Polri memanggil sumber berita dan
menghukumnya jika bohong, secara tegas Togar menepis. ''Tidak. Cara itu tidak akan kami
ambil. Cara yang kami ambil adalah saling mendukung,'' katanya. (bu,ant-29g)


Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
Suara Merdeka Berita Utama Kamis,27 Agustus 1998

Bambang Tri Dicekal, Ibnu Hartomo Diusut

JAKARTA - Bambang Trihatmojo, putra mantan presiden Soeharto, masuk dalam daftar
cekal bersama 96 bankir dalam kaitan dengan kasus perbankan bermasalah. Seperti bankir
yang lain, Bambang dilarang bepergian ke luar negeri. Dia pemilik Bank Andromeda yang
dilikuidasi November tahun lalu.

"Kami mengharapkan kesabaran masyarakat. Sampai sekarang saya sudah menerima
35.025 surat pengaduan masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN),'' kata Jaksa Agung
Andi M Ghalib seusai mengikuti Sidang Kabinet Bidang Polkam di Bina Graha, kemarin.

Ghalib mengimbau masyarakat bersabar, karena masalah KKN merupakan persoalan yang
sangat rumit. Ia berharap, dalam proses hukum itu jangan sampai orang bertindak anarkis
ataupun memaksakan kehendak dalam menyelesaikan kasus-kasus KKN tersebut.

Dia menjelaskan, upaya Pemerintah memberantas KKN betul-betul dilaksanakan secara
terencana dan terorganisasi dengan tujuan menyelamatkan aset negara. Masalah yang
menonjol kini kasus perbankan. Ada 16 bank yang dilikuidasi, kemudian tujuh bank
dibekukan, yang disusul tiga lagi dibekukan, serta empat dikuasai Pemerintah.

"Kalau kita lihat, jumlah uang yang telah dikucurkan BI kepada bank-bak tersebut, ada yang
mengatakan Rp 142 triliun. Kalau dihitung dengan bunganya, dalam sidang kabinet
dikatakan, mungkin sudah menjadi Rp 200 triliun lebih. Yang jadi perhatian, bagaimana
uang yang dikucurkan kepada bank-bank tersebut bisa kembali utuh,'' katanya.

Untuk itu, lanjut dia, diupayakan dan diharapkan para bankir tersebut jangan sampai
menghilangkan uang yang mereka terima dari BI. Kalau hal itu sampai terjadi, Pemerintah
terpaksa menggunakan sarana hukum pidana khusus, sebab itu sudah termasuk korupsi
atau merugikan keuangan negara.

"Kalau dulu Eddy Tansil dengan Rp 1,3 triliun sudah ribut luar biasa, masa sekarang Rp
140 triliun lebih tidak ditangani. Ini yang menjadi perhatian. Karena itu kita wajib berusaha
mengembalikan uang negara tersebut. Tentu saja harus bekerja sama dengan aparat
perbankan, BPPN. Sebab, merekalah yang memberikan kredit itu,'' papar Jaksa Agung.

Dia mengatakan, dalam pengusutan akan ditelusuri berapa banyak uang yang telah
diberikan, ke mana larinya, ke mana asetnya, jaminannya, dan sebagainya. Hal-hal itulah
yang akan dikejar. Bila sudah cukup bukti, barulah Kejaksaan bisa bertindak.

Kasus Ibnu Hartomo

Dalam sidang kabinet, kata dia, juga dibicarakan mengenai penyelesaikan kasus Ibnu
Hartomo, adik kandung almarhumah Ny Tien Soeharto, berkaitan dengan pemberian
promissory note (janji utang) yang sekarang sudah jatuh tempo dengan jumlah sampai
miliaran dolar AS. Mereka yang dulu menerima promissory note dari Ibnu Hartomo sudah
jatuh tempo dan menuntut pembayaran.

"Dalam hal ini, kita sedang mendapat kesulitan besar, sebab membayar pengacara saja
sudah habis miliaran. Nah, ini kita harus ambil langkah-langkah. Nanti, Polri akan
mengambil langkah-langkah itu, karena tindakan hukum terhadap pelakunya menjadi
ukuran bagi pihak luar,'' ujar dia.

Kalau tidak ada tindakan hukum, mereka menganggap itu benar. Padahal tidak benar,
karena dikeluarkan oleh pihak yang tidak berwenang. Yang berwenang mengeluarkan itu
Menteri Keuangan, bukan Deputi Wanhankamnas. "Karena beliau bukan yang berwenang,
berarti secara hukum tidak sah.''

Tetapi itu harus dibuktikan dengan proses hukum. "Maka, Polri akan mengusut secara
hukum. Baru kita lempar ke luar, baru kita lepas dari tuntutan ganti rugi atau tuntutan hukum
dari mereka yang memegang promissory note,'' jelasnya.

"Apa dulu Ibnu Hartomo tidak pernah dipanggil?'' tanya wartawan.

Belum sampai Ghalib selesai menjawab, Menkeh Muladi yang duduk di sampingnya
menyela dengan ucapan, "Dulu siapa yang berani.'' Tawa pun meledak.

"Berapa nilai promissory note itu?''

"Dalam catatan saya 3 miliar dolar lebih. Itu tahun 1985. Kalau sekarang ada yang
mengatakan 4,5 miliar dolar AS, karena dihitung dengan bunganya,'' jawab Ghalib.

Jaksa Agung juga menjelaskan, sekarang ada indikasi terjadi penyimpangan fiskal di
Bandara Soekarno-Hatta. Melalui informasi yang diterimanya, ada penyimpangan karena
jumlah penumpang yang pergi ke luar negeri dan jumlah uang yang disetor ke negara
berbeda. Kini sedang diteliti kebenarannya.

"Jumlahnya cukup besar, sampai Rp 600 miliar lebih, terhitung sejak tahun 1997. Ini baru
hasil penyelidikan, kita teliti dulu benar nggak laporan itu,'' tandasnya.(A20,wid-11g)


Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
                              Kamis, 27 Agustus 1998

                              Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid:
                              Hentikan Polemik dan Debat mengenai Prabowo

                              Jakarta, Kompas
                              Hentikan polemik dan debat tentang keputusan Pangab, demikian
                              harapan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. Sementara
                              KSAD Jenderal TNI Subagyo mengatakan, bisa saja Letjen TNI
                              (Purn) Prabowo diajukan ke Mahkamah Militer (Mahmil), dan hal itu
                              dinilai baik sekali oleh Nurcholish Madjid.

                              Ketua Umum PB NU KH Abdurrahman Wahid menegaskan perlunya
                              segala bentuk polemik dan debat tentang keputusan Pangab patut
                              dihentikan dahulu. "Hentikan sampai di sini. Nanti kita lihat lebih
                              lanjut hasil pemeriksaan terhadap 10 tersangka lainnya. Masalah
                              Prabowo itu mengaku atau tidak, itu bukan soal," tuturnya kepada
                              wartawan di kediamannya, Rabu.

                              Sementara KSAD Subagyo Hadisiswoyo mengatakan, meski telah
                              menjadi seorang sipil, mantan Komandan Jenderal Komando
                              Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Letjen TNI (Purn) Prabowo
                              Subianto bisa saja dibawa ke Mahmil. Menjawab pertanyaan
                              Kompas dan Media Indonesia di sela-sela acara peluncuran buku
                              Gagasan dan Pemikiran Edi Sudradjat di Jakarta, Selasa (25/8)
                              malam, Subagyo menyatakan, langkah seperti itu bisa dilakukan
                              mengingat perkaranya terjadi saat Prabowo sedang menjabat posisi
                              di militer.

                              "Persoalannya bukan Prabowo dijamin atau tidak ke Mahmil. Ia bisa
                              ke Mahmil. Itu bisa karena proses atau masalahnya terjadi waktu dia
                              ada di sana (di Kopassus). Kita bisa lihat keterkaitannya bagaimana.
                              Tergantung kasusnya, dong. Ini 'kan kasus dulu waktu dia di ABRI,"
                              kata Subagyo.

                              Subagyo menambahkan, yang terjadi di luar negeri pun begitu.
                              Misalnya, pengadilan dapat dilakukan terhadap para veteran perang
                              Vietnam. "Ini contoh kasus saja," tutur Subagyo.

                              Pendapat senada dikemukakan secara terpisah oleh Menkeh Muladi
                              dan Jaksa Agung AM Ghalib sebelum mengikuti sidang Kabinet
                              Pembangunan Reformasi bidang polkam di Bina Graha, Jakarta,
                              Rabu. Dikatakan, meski sudah diberhentikan dari dinas kemiliteran,
                              namun tidak tertutup kemungkinan Prabowo Subianto tetap bisa
                              dibawa ke Mahmil.

                              Menkeh menilai, keputusan terhadap Prabowo menunjukkan
                              integritas dan obyektivitas Wiranto, sekaligus menghapus keraguan
                              berbagai pihak kepadanya, mengingat Wiranto pernah menjadi
                              ajudan mantan Presiden Soeharto.

                              "Tapi langkah ini belum selesai. Jadi kita tunggu. Kita lihat saja,
                              jangan dipengaruhi, biar obyektif. Biar ABRI menyelesaikan
                              masalahnya secara baik. Karena dalam hal ini yang dihadapi itu 'kan
                              rakyat. Semuanya harus transparan dan obyektif," kata Muladi
                              sambil menegaskan tidak tertutup kemungkinan Prabowo di bawa ke
                              Mahmil. Jaksa Agung AM Ghalib mempertegas, pengajuan ke
                              Pengadilan Militer, bisa dilakukan bila sudah ada keputusan
                              penyerahan perkara.

                              Sedangkan Nurcholish Madjid berpendapat, keinginan mengajukan
                              Prabowo ke Mahmil baik sekali, karena dapat mengungkapkan
                              semua yang terjadi berkaitan dengan kasus penculikan tersebut.
                              Namun pengadilan Mahkamah Militer juga dapat menimbulkan efek
                              pembebasan Prabowo. "Yang penting adalah bagaimana caranya
                              agar kasus ini dikejar terus dan apakah hanya berhenti pada
                              Prabowo," kata Nurcholish. (uu/gg/wis/rie/osd)
 

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to apakabar
BERITA UTAMA WASPADA

KAMIS, 27 AGUSTUS 1998

Staf Ahli Kongres AS Nilai Isu Perkosaan Terlalu Dibesarkan

JAKARTA (Waspada): Sembilan staf ahli Kongres AS menilai, meskipun ada kasus
perkosaan yang mungkin terjadi di Indonesia saat kerusuhan pertengahan Mei 1998,
namun pemberitaan oleh media massa terhadap isu itu terlalu dibesar-besarkan oleh
pihak tertentu.

Demikian antara lain fokus pembicaraan antara Wakil Ketua MPR/DPR Abdul Gafur
dengan sembilan staf ahli Kongres AS di Jakarta Rabu (26/8).

Selain menanyakan isu perkosaan massal, delegasi Kongres itu juga meminta
penjelasan pimpinan DPR/MPR mengenai Sidang Istimewa MPR, Pemilu dan arah
reformasi politik, ekonomi dan hukum yang sedang berjalan.

Kepada delegasi Kongres AS, Gafur mengatakan bahwa berita perkosaan massal
'terlalu indah dari rupa'. "Tolong ini dipahami," katanya.

Setelah dijelaskan tentang sumber-sumber berita tersebut, anggota delegasi staf
ahli Kongres AS memahami bahwa isu perkosaan itu terlalu dibesarkan, walaupun
mengakui kemungkinan kasus perkosaan memang terjadi tetapi tidak massal seperti
berita yang mereka terima.

Gafur juga mengatakan, terus terang bahwa kasus perkosaan mungkin saja terjadi
saat kerusuhan berlangsung, tetapi jumlahnya tidak seperti yang dipublikasikan
oleh pers. Hingga kini tidak ada data akurat yang bisa dijadikan pedoman untuk
meyakini bahwa kasus itu benar-benar terjadi secara massal.

Geleng Kepala

Mendengar penjelasan itu, delegasi Kongres AS geleng-geleng kepala. Apalagi
sebelumnya mereka telah bertemu dengan Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)
Marzuki Darusman dan Presiden BJ Habibie selama sekitar dua jam.

Selama ini anggota Kongres AS dan staf ahlinya hanya mendapatkan informasi tentang
isu perkosaan massal dari media massa setempat. Namun mereka berubah pikiran
setelah mengunjungi dan melihat langsung keadaan Indonesia.

Para staf ahli itu juga merasa heran ternyata pemberitaan itu belum dilandasi data
yang akurat.Bahkan hingga mereka tiba di Indonesia untuk menanyakan langsung isu
itu, ternyata data tentang perkosaan massal belum ada secara pasti dan akurat.

Mereka mendukung niat DPR RI yang akan membentuk tim investigasi untuk membantu
pengusutan isu perkosaan massal. Tim DPR akan bekerjasama dengan TGPF yang telah
dibentuk sebelumnya dan kini sedang bekerja.

Karena itu, staf ahli Kongres AS mengharapkan isu itu bisa diselesaikan secara
tuntas dan cepat yang didukung data akurat berikut bukti kasus. Staf ahli Kongres
akan meminta data hasil pengusutan itu untuk digunakan sebagai salah satu bahan
yang disampaikan kepada Kongres. (antara)

----------end----------

Pimpro

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to
SUARA PEMBARUAN DAILY

Menpen: Waspadai Berita

Perkosaan Yang Direkayasa

Jakarta, 27 Agustus

Presiden BJ Habibie mengingatkan, informasi-informasi yang direkayasa perlu
diwaspadai. Menurutnya, bentuk perang sekarang ini bukan hanya perang berupa
ancaman fisik dan senjata, tapi sudah meluas berupa informasi-informasi yang
direkayasa.

Pernyataan Presiden tersebut dikemukakan oleh Menpen Yunus Yosfiah saat
melaporkan hasil sidang kabinet terbatas bidang Polkam di Bina Graha, Rabu (26/8).
Menpen juga berharap agar para wartawan menyadari hal itu.

"Sangat berbahaya kalau rekan-rekan wartawan tidak menyadari bahwa informasi yang
direkayasa itu bisa menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia," katanya.

Sebagai contoh, ada rekayasa di internet tentang berita-berita perkosaan padahal
ternyata beberapa gambar yang dimunculkan merupakan gambar yang diambil beberapa
tahun lalu, sehingga ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Australia yang
menolak gambar itu.

"Hal itu kalau tidak diwaspadai, seolah-olah benar semuanya padahal merupakan bagian
dari informasi yang direkayasa untuk memojokkan negara kita sehingga muncul persepsi
dan tudingan yang sangat negatif terhadap bangsa kita di luar negeri, misalnya adanya
demonstrasi-demonstrasi perwakilan kita di luar negeri," lanjut Yunus.

(W-4/M-5)


ITCons...@my-dejanews.com

unread,
Aug 27, 1998, 3:00:00 AM8/27/98
to
In article <35E50301...@hotmail.com>,

Pimpro <Pim...@hotmail.com> wrote:
> Suara Merdeka Berita Utama Kamis,27 Agustus 1998
>
> LSM Taiwan: Pemerintah RI ''Dikerjain'' dalam Isu Perkosaan
>

Berikut ini bantahan dari Taipei Economic and Trade Office di muat di surat
pembaca Kompas 28 Agustus 1998

Penjelasan Taiwan

Berita pada harian Kompas tanggal 27 Agustus 1998, halaman 11
yang menyatakan bahwa "11 LSM Taiwan menyimpulkan bahwa
Anda (pemerintah) dikerjain karena tidak ada bukti-bukti nyata yang
ditemukan dalam dugaan adanya aksi pemerkosaan etnis Tionghoa",
tidak sesuai dengan pernyataan sebenarnya.

Kedatangan kelompok wanita dari Taiwan yang dipimpin oleh
pengacara Wang Ching-Feng pada tanggal 2-5 Agustus 1998 adalah
karena rasa peduli terhadap korban-korban kerusuhan pertengahan
Mei. Mereka bertemu dengan Menperta (Tuty Alawiyah), Wakil Ketua
Komnas HAM (Marzuki Darusman) dan Ketua Umum PBNU
(Abdurrahman Wahid). Mereka menyatakan bahwa, "Kami tidak
bertemu dengan korban, tapi berdasarkan informasi dari Bpk Gus
Dur, ada 108 kasus dan 20 di antaranya meninggal," Pernyataan
tentang "Mereka tidak bertemu dengan korban dan menyimpulkan
Anda (pemerintah) dikerjain" adalah tidak benar.

Taipei Economic and Trade Office

Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
Kamis, 27 Agustus 1998

AS TETAP ANGGAP INDONESIA YANG TERKUAT DI ASEAN

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) masih melihat Indonesia sebagai negara terkuat di kawasan
Asia Tenggara, terutama dilihat dari potensi kekuatan ekonominya.

Pandangan AS terhadap Indonesia itu dilontarkan Direktur Studi Asia pada Lembaga Hubungan
Luar Negeri AS Robert A. Manning yang berbicara dalam telewicara antara Washington dan
Jakarta, Rabu.

Selain Manning, dalam pembicaraan jarak jauh itu Washington juga menghadirkan mantan
Dubes AS untuk Indonesia, Paul D. Wolfowitz, sementara Jakarta menempatkan Direktur Bank
Indonesia Miranda D. Goeltom, ekonom Sri Mulyani Indrawati dan Ketua Kadin Iman Taufik.
Menurut Manning, di tengah krisis ekonomi dan sosial yang melanda Indonesia saat ini,
Indonesia masih merupakan pemain kunci di kawasan Asia Tenggara.

Sementara menurut Wolfowitz, yang pernah bertugas di Indonesia tahun 1986-1989, untuk
bisa keluar dari krisis yang dialami Indonesia diminta merujuk kepada pengalaman AS dalam
mengatasi kondisi serupa di waktu lampau.

"Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah adalah hal yang sangat penting,"
kata Dekan Studi Internasional Lanjutan di Universitas John Hopkins itu.

Pandangan Manning dan Wolfowitz itu mendapat tanggapan dari Sri Mulyani yang mengatakan,
sebagai negara yang memiliki kepentingan ekonomi cukup besar di Indonesia, AS juga harus
memberikan kontribusi dalam menciptakan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap
pemerintahnya.

Setelah turunnya Soeharto, Sri Mulyani melihat AS sangat mendukung langkah pemberian
status otonom terhadap Timor-Timur.

"Apakah Amerika (Pemerintah AS-red) berpendapat pihaknya akan merasa lebih baik dari segi
bisnis apabila Indonesia berbentuk negara federal," ujarnya.

Menjawab pertanyaan Sri Mulyani itu, Wolfowitz mengatakan, kebijakan Pemerintah AS tidak
dibuat oleh swasta sehingga tidak benar kalau setiap kebijakan pemerintah berangkat dari
kepentingan bisnis semata.

Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
From: bung tomo

MARAKNYA KAMPANYE ANTI INDONESIA

Kampanye Anti Indonesia bahkan dalam bentuk aksi demonstrasi pada berbagai Kantor Kedutaan
besar Indonesia di luar negeri, tidak saja dilakukan oleh kalangan etnis Cina, tetapi meluas
dilakukan oleh para aktivis berbagai LSM di luar negeri.

Kini segenap bangsa Indonesia patut prihatin atas aksi-aksi demo dan kampanye itu, karena tak
lama lagi warga negara Indonesia akan dijuluki sebagai manusia-manusia yang tak bermoral yang
hanya pantas hidup berdampingan dengan binatang.

Luar biasa opini masyarakat dunia telah tergiring oleh LSM dan kalangan pers yang dengan
gigih menyebarluaskan pemberitaan/ informasi tentang kerusuhan pertengahan Mei 1998 di
Jakarta menyertai kasus pemerkosaan massal walau tanpa dukungan data
dan bukti-bukti otentik. Bahkan berbagai Tim relawan yang secara spontan dibentuk oleh LSM
termasuk bentukan Pemerintah yang anggotanya terdiri dari berbagai unsur juga belum kunjung
memberikan data dan bukti yang konkrit untuk dijadikan bahan pengusutan secara hukum lebih
lanjut.

Tapi informasi pers dan LSM sudah keburu meluas dan menjalar ke seantero bumi dan
menghentakkan masyarakat dunia yang selama ini cukup hormat dengan bangsa
Indonesia yang berbudaya dan berbudi luhur.

Kampanye dan demo anti Indonesia bukan hal yang terlarang dan sangat wajar dilakukan oleh
siapapun juga, jika perbuatan biadab segelintir manusia yang mengaku warga Indonesia itu
benar-benar terbukti dan dilakukan secara terorganisir dan serentak seperti
diberitakan kalangan Pers dan LSM. Kitapun salut sebagai bagian dari masyarakat dunia bahwa
solidaritas kebangsaan itu masih tetap mewarnai tata kehidupan masyarakat dunia yang ditandai
dengan aksi spontan dalam bentuk kampanye dan demo atas peristiwa
perkosaan massal.

Namun kita prihatin, karena dorongan aksi kampanye dan demo itu hanya berdasar pada informasi
dan pemberitaan Pers serta LSM yang belum terdukung data/bukti konkrit.

Rasanya pantas kita salut kepada Pers dan LSM dengan kinerja yang handal telah mampu menjual
informasi sensasional menjadi konsumsi masyarakat dunia. Namun patut disayangkan bahwa
kebencian pers dan LSM terhadap rezim Orde Baru menyebabkan 220 juta rakyat Indonesia menjadi
korban caci maki dan sumpah serapah seluruh penghuni bumi, khususnya warga etnis Cina yang
ada di seantero dunia.

Dosa apa yang pernah dilakukan 220 juta rakyat Indonesia kepada Pers dan LSM sehingga tega
menjadikannya bahan cemoohan, bahan caci makian dan sumpah serapah warga masyarakat dunia .?

Sebaliknya sukses para pembuat issu tersebut dapat dijadikan cambuk bagi aparat Pemerintah
yang sampai saat ini belum mengumumkan hasil kebenaran berita
buruk tersebut. Oleh sebab itu aparat penegak hukum dan lembaga-lembaga
pemerintah lainnya perlu bekerja ekstra keras untuk dapat membuktikan pada dunia
internasional bahwa, berita-berita tersebut tidak benar.

Pekerjaan ini harus dilakukan secara terpadu lintas departemen terkait, mana itu aktivitas
Departemen yang mengurusi wanita..?, sosial, pemerintahan dalam negeri..? Luar negeri, dan
lain-lain..? nampaknya kok tidak tergerak untuk ikut memikirkan kemelut bangsa.

Apakah beban ini hanya tugas kita-kita ini para penulis dan wartawan saja..? Marilah bangun
dari tidur hari para pemimpin bangsa, jangan biarkan kepribadian bangsa kita ini hancur
berkeping-keping, di injak-injak oleh bangsa lain dan mungkin segelintir bangsa kita yang
ngin jadi pahlawan tetapi kesiangan.


Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
From: bung tomo

MEGAWATI DITENGAH PILIHAN SULIT
RASIONAL ATAU EMOSIONAL ..???

Kongres PDI di Palu 25-29 Agustus 1998 versi Suryadi tampaknya tak dapat ditawar lagi, karena
seluruh utusan PDI daerah-daerah sudah mulai ngumpul di daerah itu, meskipun kesibukan Panitia
Kongres dan aparat keamanan setempat cukup ekstra keras dan hati-hati berhubung adanya rencana
para pendukung Megawati untuk menggalkan hajat Suryadi dan segenap pendukungnya.

Ditengah arogansi pendukung Mega yang sangat yakin dapat menggagalkan Kongres di Palu, juga
disertai pernyataan dan keyakinan bahwa merekalah yang sah sekaligus mereka lebih mendapat
dukungan massa PDI dibanding Suryadi. Sikap ini cenderung emosional, karena banyak pihak intern
pendiri PDI mengharapkan adanya penyelesaian damai dalam konflik yang terjadi antara Suryadi dan
Mega bersama pendukungnya.

Jika Mega dan pendukungnya yakin mendapat dukungan terbesar kalangan warga PDI, kenapa Ia tidak
secara arif dan bijak untuk memenuhi undangan panitia Kongres
di Palu dan undangan terbuka Suryadi untuk hadir dalam pentas kompetisi yang mengagendakan acara
Pemilihan Ketua Umum baru PDI ..? Mengapa Ia ikut arus sikap
emosional pendukungnya kalau di atas kertas Ia bakal didukung banyak pihak PDI untuk menjadi
Ketua Umum dalam Kongres tersebut ?

Pertanyaan ini seolah meragukan sikap optimistik pendukung Mega yang sudah yakin atas dukungan
mayoritas warga PDI terhadap kepemimpinan Megawati ?
Mungkinkah kekhawatiran Mega yang akan kalah dengan Fatimah Ahmad menjadi kompensasi sikapnya
untuk memilih jalan emosional menggagalkan Kongres
ketimbang menghadirinya sebagai sikap rasional dan jalan damai ..?

Ternyata keyakinan Mega dan pendukungnya hanya sebuah mimpi belaka tanpa sikap jantan untuk
membuktikannya di tengah Kongres Palu, dan tindakan-tindakannya justru akan menjadi bumerang bagi
pihak Mega sendiri, yang akan menjauhkan dirinya
dari pendukungnya dan mulai ragu untuk mendukung Mega dengan konsep yang tidak jelas, serta sulit
untuk diharapkan sebagai "sang penyelamat"


Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
From: merah putih

EKSPLOITASI INFORMASI KERUSUHAN DAN PERKOSAAN

Kerusahan yang terjadi di Jakarta 13-14 Mei 1998 lalu
yang disusul oleh peristiwa serupa di beberapa Kota
besar lainnya, menjadi komoditi informasi yang cukup
laris terjual oleh berbagai media massa, tidak hanya
media massa dalam negeri tetapi terlebih media massa
luar negeri. Namun untuk menu media massa luar negeri
seperti yang banyak dipantau para netters terkesan
kemasan informasi atas peristiwa kerusuhan itu lebih
menyoroti korban-korban perkosaan dan penganiayaan
termasuk yang tewas secara sengaja dengan mencerburkan
diri ditengah bara api kebakaran gedung karena rasa malu.

Dalam berbagai berita mass media telah diungkapkan
data temuan yang menyebutkan bahwa korban yang tewas
terpanggang api karena terjebak asap tebal dalam
kebakaran gedung-gedung bertingkat baik yang tak
berdosa maupun mereka yang mungkin menjadi anggota
kelompok penjarah gedung bertingkat itu, lebih 1000
orang. Ini jelas kasus yang memprihatinkan dan patut
mengundang rasa kemanusiaan yang tentu tidak hanya
terbatas pada warga etnis keturunan Tionghoa saja,
tetapi sudah menyentuh perikemanusia an setiap orang.

Tapi mengapa informasi yang kemudian lebih meluas
disebarkan hanya sebatas korban-korban warga etnis
Tionghoa itu, bukankah yang lainnya juga manusia
yang patut mengundang keprihatinan dan rasa kemanusiaan ?
Atau mungkinkah warga etnis Tionghoa itu adalah warga
negara kelas Satu dimanapun Ia berada sehingga selalu
mendapat dukungan dan perlindungan media massa yang luas,
sementara penduduk lain sekalipun warga negara asli
diasumsikan sebagai warga negara kelas Teri yang tak
perlu dihiraukan keadaannya sekalipun juga ikut tewas
menggenaskan dalam suatu peristiwa kerusuhan .?

Dari pola dan cara penyebarluasan informasi kerusuhan
Mei 1998 lalu di Jakarta oleh berbagai media massa
internasional, secara tak sadar mungkin akan mengundang
tanda tanya besar, seolah-olah misi pemberitaan itu juga
merupakan mata rantai yang merekayasa kerusuhan untuk
menyudutkan Pemerintah dan bangsa Indonesia,
agar isu kesenjangan ekonomi dan KKN yang dibangun
diciptakan oleh kalangan warga keturunan Tionghoa
bisa terkikis oleh isu kerusuhan itu.

Adakah Sutradara dan skenario khusus dibalik eksploitasi
pemberitaan itu ? ..mungkin saja kaan.


Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
From: merah putih

FOTO DAN DATA TENTANG PERKOSAAN YANG MISTERIUS

Melalui jaringan internet foto-foto kasus perkosaan pertengahan Mei 1998 lalu di
Jakarta
dan Solo telah menyebar ke seluruh dunia. Di Singapura foto itu bahkan digelar
dalam
sebuah pameran resmi. Akibatnya reaksi keras menghujat Indonesia kini bermunculan,
baik di Jakarta, Hongkong, Beijing, Taipe, Singapura maupun di berbagai belahan
dunia lainnya.

Ditengah reaksi atas foto yang tersebar di tataran internet dan menjadi konsumsi
masyarakat dunia itu, Harian Asian Wall Street Journal (AWSJ) edisi 20 Agustus
1998 mencurigai foto-foto itu palsu dan tidak berhubungan sama sekali dengan
kerusuhan pertengahan Mei lalu.

Dugaan foto tersebut sebagai palsu dan kebohongan juga muncul dari "Aware"
kelompok dari Singapura. Bersamaan dengan itu juga muncul reaksi kecurigaan serupa
dari Dewan Reformasi Pemuda dan Mahasiswa Surabaya (Derap Masa) yang menganggap
foto tersebut sebagai rekayasa dan kepalsuan untuk mendramatisir kerusuhan Mei
1998 di Jakarta dan Solo.

Kecurigaan itu cukup beralasan karena sesuai dengan pemberitaan Harian Asian Wall
Street Journal (AWSJ) antara lain disebutkan bahwa paling tidak 15 foto adalah
palsu dan sumbernya "Asian Pornography Website, East Timoresse Exite Homepage dan
US Based Exhebition of gori photos".

Sebagai contoh foto tentang seseorang dengan Uniform menyiksa seorang wanita
dengan tongkat, puntung rokok dan tali, ternyata berasal dari segepok foto milik
East Timoresse Exite Homepage yang sudah muncul sejak bulan November 1997, jauh
sebelum kerusuhan di Jakarta terjadi. Data ini jelas merupakan kebohongan nyata
dari para aktivis
LSM yang sejak awal telah gencar mempersoalkan masalah ini.

Sementara itu anggota Tim Relawan yang juga Pimpinan Gereja Utusan Pantekosta
Jemaat Pasar Legi di Solo Drs. Ch MD Estefanus, Msi, membantah kebenaran laporan
bahwa 24 Wanita WNI keturunan Cina menjadi korban kasus perkosaan massal di Solo.
Bahkan beliau menulis surat khusus kepada Kapolwil Surakarta dan menyatakan bahwa
laporan itu bohong belaka.

Hal serupa juga dialami oleh berbagai Tim Relawan yang dibentuk di Jakarta,
termasuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk Pemerintah beberapa waktu lalu
masih belum mampu memberikan data konkrit kepada masyarakat Aktivis Perwakilan
Ummat Budha
Indonesia (Walubi) Ny,Hartati Murdaya hingga kamis 20 agustus 1998 mengaku belum
menemukan satupun Korban dugaan kasus perkosaan massal.

Sementara Direktur LBH di Jakarta Nursyahbani Katjasungkawa juga mulai tidak yakin
dengan pendiriannya yang semula getol mengutuk kasus perkosaan massal itu. Ia
menyatakan tidak tahu persis jumlah korban perkosaan, soalnya Ia tidak
ikut menjadi anggota Tim Relawan.

Bahkan Romo Mangun Cs + Ita Nadia sewaktu di AS ada yang bertanya bahwa foto-foto
dan poster-poster yang dibawa adalah palsu, mereka agak gugup karena
poster perkosaan yang diedarkan sudah beredar sejak 2 tahun yang lalu oleh CNRM
Ramos Horta di AS dan Eropa. Selain itu Ita Nadia juga mengeluarkan issu yang
sensitive bahwa diantara kelompok pemerkosa sebelum melakukan aksi perkosaan,
berteriak "Allahu Akbar". Selesai kesaksian di Kongres AS, Romo Mangun Cs
berangkat juga ke Genewa untuk sidang PDPM dan juga membohongi publik
internasional bahwa 162 orang diperkosa sistematis dan 20 orang tewas.

Jika dicermati berbagai komentar/pendapat banyak pihak termasuk yang sudah sejak
awal menjadi relawan dalam upaya mengungkap kasus perkosaan massal itu sudah mulai
ragu atas data dan foto- foto peristiwa tersebut.

Sekarang ini dikalangan LSM sendiri mulai timbul keragu-raguan misalnya dari
Website "Indonesian Hvaren Crisis Centre", menyatakan bahwa foto-foto palsu dan
minta "Visitors" untuk menandai bila ada foto-foto lain yang juga palsu.

Tetapi ada juga LSM "kepala batu" yang tetap bertahan dan menyatakan bahwa benar
atau palsunya foto tidak penting, sebab masalah utamanya agar pemerintah Indonesia
sadar bahwa ada masalah terhadap WNI keturunan Cina dan harus mengambil
langkah nyata.

Nah lho..apa ini bukan logika yang terbalik-balik ? Lagi pula tindakan
menghalalkan cara atau fitnah, kan lebih kejam dari pembunuhan..?

Di tengah kepanikan dan derita rakyat Indonesia, ternyata LSM dan kalangan media
massa mampu meraup keuntungan yang membebaskan mereka dari situasi Krisis moneter
(Krismon), namun martabat bangsa dan negara kita tercinta ini telah dihancurkan.


Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to apakabar
Republika 28 Agustus 1998

Yth Mbak Mega!

Terima kasih Mbak Mega! Karena wibawa Anda, ribuan massa
yang telah berkumpul di Palu itu akhirnya mampu menahan diri.

Bentrok, seperti kita tahu, memang sempat terjadi. Beberapa
orang memang terluka. Baik sebagian dari orang-orang yang
begitu mencintai Anda, maupun sejumlah polisi yang tengah
menjalankan tugas. Namun, syukurlah, kerusuhan besar yang
dikhawatirkan tidak berlangsung.

Semula sebagian masyarakat sempat sangat khawatir. Beberapa
orang menyampaikannya pada saya.

''Saya sangat mengerti kemarahan mereka pada Soerjadi,'' kata
salah seorang pengusaha. ''Tapi, apakah harus disalurkan
dengan cara demikian?''

Dipaparkannya upaya menggagalkan Soerjadi berangkat ke
Palu. ''Bayangkan, bagaimana mereka mengejar-ngejar.
Motor-motor sampai masuk ke jalan tol. Banyak cara yang tak
semestinya dilakukan. Mengapa kalian, para wartawan, diam
saja dan tak menulis apa-apa?''

Saya tersenyum. Bangsa kita masih sangat muda. Artinya,
memang belum cukup beradab.

Maka, ringan saja aparat militer yang bertugas di Aceh
menganiaya, membantai, dan memperkosa warga; para petinggi
Kopassus waktu itu juga tak keberatan menjadikan institusinya
sebagai tempat penyekapan; sejumlah direktur Bank Indonesia
tak merasa bersalah merampok puluhan triliun uang negara dan
tokoh-tokoh yang mengaku kritis pura-pura tidak tahu hal itu
dan lebih suka menghajar IPTN sebagai ''proyek pemborosan
nasional.''

Masyarakat kita masih suka menjarah. Juga memperkosa?
Mungkin ya, walaupun saya sangat tidak percaya bahwa itu
ditujukan khusus pada wanita Tionghoa. Jangankan di situasi
yang tak menentu di mana banyak orang akan mengambil
kesempatan. Di situasi normal pun, terutama malam hari, tak
banyak tempat yang benar-benar aman buat perempuan muda.
Etnis apa pun.

Di segala lapisan, penyalahgunaan kekuasaan masih berlangsung.
Mulai yang teratas hingga terbawah. Tak aneh banyak wartawan
merasa gagah bila telah menginterogasi (bukan mewawancarai)
Soerjadi. Juga massa yang merasa puas bila berhasil melumat
Soerjadi yang dianggap sebagai simbol kesewenangan negara
tersebut. Betapapun kita tahu, sebagai pribadi, Soerjadi adalah
seorang yang baik.

Massa seperti itulah Mbak Mega yang menaruh harapan pada
Anda. Sedemikian besar harapan tersebut, sehingga melahirkan
kekhawatiran baru.

''Kans Mega untuk menang sangat besar. Seharusnya banyak
orang pandai sekarang mendampingi Mega. Kalau tidak, saya
takut (bangsa) kita akan berada pada spiral yang menurun bila
Mega jadi presiden,'' kata seorang pengamat ekonomi.

''Kan ada Kwik Kian Gie dan Laksamana Sukardi,'' kata saya.

''Dua? Jelas nggak cukup,'' katanya.

Mbak Mega! Banyak kekhawatiran seperti itu. Namun, saya
berharap Anda telah menginventarisasinya, dan kemudian
--pada saatnya-- menjawab semua kekhawatiran tersebut
dengan program nyata. Program yang memang akan disambut
oleh masyarakat luas, baik yang memuja Anda maupun yang
bukan.

Saya berharap, iklim politik masa depan Indonesia adalah iklim
yang penuh dengan persaingan kerja dan program nyata. Sebuah
iklim yang tokoh-tokohnya --di luar persaingan yang ada--
dapat duduk semeja, berbincang dan berdiskusi dengan tenang.
Sebuah iklim yang akan mendidik masyarakat untuk semakin
beradab dan berkualitas --syarat mutlak bangsa untuk
mengarungi Abad 21.

Mbak Mega, Allah telah memilih Anda sebagai salah seorang
dari sedikit orang yang menjadi kunci untuk mendidik bangsa
kita!


Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
Lev: Tionghoa Harus Berpolitik

Jakarta, JP.- 28 Agustus 1998

Pengamat masalah Indonesia asal George Washington Univesity, AS, Prof Dr Daniel S. Lev
menyeru etnis Tionghoa di Indonesia agar lebih aktif berpolitik. Sebab, 鋳Sikap
menjauhi dunia politik selama ini terbukti telah membuat etnis Tionghoa selalu menjadi
sasaran setiap kali terjadi konflik politik,鋳 kata Lev dalam diskusi bertema
Kebijakan Pemerintah terhadap Warga Tionghoa di LP3ES kemarin.

Meski demikian, Lev mengingatkan bahwa itu tidak berarti orang-orang Cina harus
mendirikan partai Tionghoa yang eksklusif. Sebab, katanya, partai yang eksklusif tidak
akan memecahkan masalah, bahkan bisa sebaliknya.

Menurut dia, selama tiga dasawarsa di bawah Orde Baru, etnis Tionghoa terus berada
dalam kondisi tertekan dan ketakutan. Sebab, tiap kali terjadi konflik di masyarakat,
warga minoritas ini akan selalu menjadi sasaran amuk massa. Kondisinya lebih parah
karena Orde Baru secara sengaja membuat warga Tionghoa terisolasi secara sosial
politis.

Solusi yang tepat dalam menyelesaikan sentimen etnis Tionghoa, lanjut Lev, adalah
membuka isolasi politik. Caranya, warga Tionghoa tidak lagi menjauhi dunia politik
praktis. Justru mereka harus menggeluti dunia politik dengan ramai-ramai masuk partai
politik. 鋳Masuk dan aktiflah dalam partai politik yang terbuka. Jangan membentuk
partai sendiri,鋳 tegasnya.

Membentuk partai tersendiri yang eksklusif, kata Lev, justru tidak akan membuka
isolasi tersebut. Sebaliknya, secara tidak sadar, mereka malah terjebak pada isolasi
eksklusivisme yang baru.

Kata Lev, etnis Tionghoa di Malaysia sudah sangat lama terlepas dari keterkungkungan
politis melalui keterlibatan mereka yang intens dalam politik. Di Malaysia, mereka
melibatkan diri dalam politik dengan membentuk partai sendiri. Tapi, untuk Indonesia,
pola itu tidak cocok. Sebab, komposisi etnis Tionghoa di Indonesia dan Malaysia
berbeda. 鋳Di Malaysia, etnis Tionghoa mencapai 35 persen, sementara di Indonesia
hanya lima persen鋳.

Jumlah itu terlalu kecil untuk sebuah representasi politik. Kata Lev, sangat sulit
mendapatkan dukungan dari masyarakat nonetnis Cina bagi partai-partai Cina itu. Karena
itu, pembentukan partai Tionghoa tidak feasible di Indonesia. 鋳Lebih baik bergabung
dengan partai politik lain,鋳 kata Lev yang menulis buku Hukum dan Politik di
Indonesia.

Doktor politik lulusan Cornell University ini menjelaskan, selama ini memang ada
kecenderungan warga Tionghoa tidak menyukai politik dan lebih enjoy menggeluti dunia
bisnis.

鋳Saya cemas sekali anak-anak muda warga Tionghoa di Indonesa ini tak mau masuk partai
politik. Ini tidak menguntungkan bagi masa depan mereka. Justru mereka harus aktif
dalam politik. Sebab, kalau tidak, mereka akan terus menjadi sasaran dan kambing hitam
tiap kali terjadi konflik politik,鋳 ucapnya.

Lev melihat, kecenderungan untuk apolitis di lingkungan warga Tionghoa itu lahir
sebagai akibat kebijakan politik isolasi pemerintahan Orde Baru. Warga Tionghoa
dikondisikan menjauhi politik dengan imbalan diberi kesempatan dalam kegiatan
berdagang. 鋳Tapi, untuk itu pun, mereka harus menyediakan banyak uang sebagai imbalan
atas fasilitas-fasilitas yang diberikan Orde Baru,鋳 katanya. (adb/bh)

Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to apakabar
Konglomerat BBO juga banyak yang punya lho !!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jawapos : 28 Agustus 1998

Kabulog Itu Kekayaannya Wah

Kabulog Beddu Amang, konon, memiliki tiga rumah mewah di Amerika Serikat. Salah satu rumah
Beddu yang beralamat 702 N Rexbury Drive Beverly Hills, California 90210, itu, menurut
Panji, akan dihadiahkan kepada Moerdiono. Tapi, tiba-tiba itu dibatalkan karena
perkembangan politik di tanah air tidak menguntungkan.

Akhirnya, rumah yang dibeli pada 23 Januari 1996 seharga USD 2.421.679 itu dipakai sendiri
atas nama Elysa P. Amang (putrinya) dan Maisaroh H. Amang (istri) yang tercatat dalam
dokumen No 96-122138.

Selain rumah itu, Beddu masih memiliki rumah dengan alamat 213 South Almont Drive Beverly
Hills, California 90211, yang dibeli pada 2 Mei 1994. Jadi, sewaktu menjadi wakil kepala
Bulog, dia sudah kaya raya. Rumah lainnya beralamat di 11815 Nebraska
Avenue, Los Angeles, California 90025, yang dibeli pada 7 Mei 1991. Namun, sejauh ini
belum ada konfirmasi soal tiga rumah mewah Beddu itu.

Melihat kekayaan Beddu Amang yang "wah" itu, Kejaksaan Agung akan melakukan pemeriksaan
terhadap kemungkinan adanya korupsi yang dilakukan Beddu selama menjabat. Bahkan, sebuah
sumber menyebutkan, Kejaksaan Agung sudah membentuk tim
khusus untuk mengusut dan memeriksa Beddu Amang.

Tim intelijen kejaksaan sedang mempelajari pelbagai tindak penyelewengan pejabat Bulog.
СТMasih taraf pengumpulan data oleh aparat intel,ТТ ungkap Jaksa Agung Tindak Pidana
Khusus Anton Sujata seperti dikutip Panji.

Namun, banyak kalangan yang skeptis terhadap keseriusan Jaksa Agung ini. Sebab, ada ikatan
primordial yang cukup kuat di antara kerukunan keluarga Sulawesi, antara Beddu Amang,
Jaksa Agung Andi Muhammad Galib, dan Presiden B.J. Habibie. Jadi,
penindakan hukum terhadap Beddu hanya kemungkinan kecil. Kendati begitu, Beddu sudah siap
atas kemungkinan itu. Ia bahkan sudah menyiapkan pengacara Amir Syamsuddin untuk menangani
masalahnya.

Beddu bisa mulus menduduki orang nomor satu yang mengurusi kebutuhan hidup orang banyak
lantaran Tommy Soeharto. Ceritanya, ketika Beddu memuluskan permintaan Tommy terhadap
ruilslag atas tanah yang dipakai gudang Dolog untuk kepentingan Goro milik Tommy.

Sejak saat itu, keluarga Cendana makin leluasa bermain di Bulog. Misalnya, Siti Hutami
Endang Adiningsih (Mbak Mamiek) dengan perusahaan Airlink Resources dan Siti Hediati
Probowo memakai bendera Latipson Internasional. Bahkan, untuk setiap impor barang
kebutuhan pokok, konon, Tommy dan saudara kandungnya senantiasa mendapatkan "setoran" dari
Bulog. Khusus untuk Tommy, Bulog menyediakan USD 4 per ton untuk setiap impor beras. Semua
ini mengamankan posisi Beddu. Tapi, zaman berubah. Soeharto lengser, Beddu pun menyusul.
(asa)


Pimpro

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
Jumat, 28 Agustus 1998

Tiga Direktur Bank Beku Operasi Ditahan Polisi

Jakarta, Kompas

Mabes Polri menahan tiga direktur dari tiga Bank Beku Operasi (BBO) - Bank Umum Nasional (BUN), Bank Modern,
dan Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) - Kamis (27/8). Ketiganya, LT (Presiden Direktur BUN yang juga adalah
Sekretaris Jenderal Perbanas), KH (Direktur Bank Modern), dan HA (Direktur Kredit BDNI) yang disangka terlibat
tindak pidana perbankan.

Komandan Korps Reserse (Dankorserse) Polri Mayjen (Pol) Da'i Bachtiar membenarkan pihaknya menahan tiga
bankir BBO. Hanya saja dia tidak memberikan keterangan rinci. "Untuk jelasnya, tanyakan kepada Kepala Dinas
Penerangan," kata Da'i Bachtiar.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Polri Brigjen (Pol) Togar M Sianipar juga menolak
memberikan keterangan rinci seputar penahanan tiga bankir BBO tersebut. "Pokoknya kasus-kasus bank itu sedang
dalam penyidikan," katanya singkat.

Dengan penahanan itu, maka sudah delapan bankir yang ditahan. Lima yang sudah lebih dulu ditahan, JB (Dirut
Bank SBU), SK dan HS (direksi bank BHS), serta AS dan RAS (Direktur Utama dan Komisaris Bank Anrico).

Pembekuan tiga bank nasional swasta, yaitu BUN, Bank Modern, dan BDNI diumumkan Menko Ekuin Ginandjar
Kartasasmita, Menneg PBUMN Tanri Abeng, Gubernur BI Sjahril Sjabirin, Menneg PPN/Kepala Bappenas Boediono, dan
Sekjen DPKEK Aburizal Bakrie di Wisma Negara, Jakarta, 21 Agustus lalu.

29 bankir

Jumlah tersangka dalam kaitan penyidikan kasus pidana perbankan dari tujuh bank dalam likuidasi dan tiga BBO,
sebanyak 29 bankir.

Sebagian besar sudah diperiksa dan sebagian lagi akan diperiksa. Dari jumlah itu, delapan orang di antaranya
sudah ditahan. Dua orang, yakni HR dan EEP (masing-masing Presiden Komisaris dan Komisaris Bank BHS) masih
dicari dan sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polri. Diduga, keduanya kabur ke luar negeri.

Tersangka lainnya - 19 orang - yang sudah diperiksa tetapi tidak ditahan, LB (komisaris bank SBU), AW dan SG
(direksi Bank BHS), HS, JS, LA (direksi Bank SEAB), EUM (Dirut Bank Pacific), AH, FJ, HS, SG (direksi Bank
Pacific), SC, JR, EL (direksi Bank Kosagraha), HRR (Komisaris Bank Pinaesaan), serta JL, CM, RAM, LJ (direksi
Bank Pinaesaan).

Polisi juga telah meminta keterangan dari 66 saksi. Di antaranya, 22 orang dari Bank Indonesia. Sisanya
adalah para pejabat bank yang diperiksa, pejabat perusahaan yang masuk dalam grup bank tersebut, debitur dan
kreditur bank. (nn)


A Goodman

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
Sudah saatnya kita bawa para koruptor seperti Beddu Amang ke meja hijau ....

Gantung Beddu Amang !!!


me

unread,
Aug 28, 1998, 3:00:00 AM8/28/98
to
Pimpro wrote:
>
> SESEPUH WARGA KETURUNAN CHINESE HARUS TURUN TANGAN

wah pimp,
ini sih lu jiplak mati-matian dari tulisan bung Syaifuddin;
bisa-bisanya elu bilang "mendapat inspirasi"........
pernah dengar kata "plagiat" ngak ??
tambah parah saja lu.
salam sayaaaang.

Koruptor Bangsa

unread,
Aug 29, 1998, 3:00:00 AM8/29/98
to
Motivasi dari rohaniawan Sandyawan dan Ita Nadia dari Kalyanamitra menyebarkan issue tentang perkosaan massal dalam kerusuhan mei yang lalu, tidak lebih dari menagguk uang sumbangan dari simpatisan-simpatisan di luar negeri.

agar peristiwanya lebih dramatisir, maka dipakailah idiom-idiom islam seperti Alahu Akbar ketika perkosaan itu sedang dilakukan. Dengan demikian simpatisan luar negeri akan melihat bahwa ada penindasan orang non muslim di republik ini. Tujuan akhirnya adalah menangguk uang sumbangan dari luar negeri.

Bila kita mengenal model penghianat bangsa yang menjual para pahlawan nasional kita ketika melawan di jahanam Belanda, dengan cara membocorkan rahasia persembunyian pahlawan tersebut (ingat Sultan Hasanuddin, PAttimura dan lain-lain), maka penghianat bangsa jaman reformasi ini adalah yang menjual issue-issue murahan tentang perkosaan massal (karena eropah itu merasa sangat bersalah dengan perkosaan massal di Bosnia) ke negara-negara lain, agar sumbangan-sumbangan dapat diperoleh dengan lancar.

Makanya ketika diminta pertanggungjawaban bukti-bukti perkosaan tersebut, masing-masing diam seribu bahasa dengan alasan yang korban memilih menutup mulut atau telah dievakuasi di la\uar negeri.

Ingat mereka menyebutkan PERKOSAAN MASSAL, bukan perkosaan one by one.
Untuk itu petugas perlu memeriksa aliran sumbangan yang mereka terima setelah kampanye issue murahan dijalankan. Apakah mereka menerima begitu banyak sumbangan kemudian sekarang membiarkan kasus ini terkatung-katung.

Periksa laporan keuangan mereka... sebab belakangan ini saya perhatikan kegiatan rohaniawan Sandyawan ini telah melempem di kantor mereka di daerah Dewi Sartika. Mungkin dana telah cukup diterima untuk persiapan kerusuhan baru lagi atau pendanaan untuk kampanye menghadapi pemilu berikut.

Ada komentar

Koruptor Bangsa
(namayang burukdantidakpantasditiru)

Pimpro

unread,
Aug 29, 1998, 3:00:00 AM8/29/98
to
Terima kasih atas replynya yang "Cepat", "Tajam" dan "Terpercaya" selanjutnya
bagaimana dengan pernyataan Romo sandyawan ??

John

unread,
Aug 29, 1998, 3:00:00 AM8/29/98
to
Koruptor Bangsa wrote:
>
>

Saya kira Tim Relawan tersebut tidak seburuk itu, apalagi kamu bilang
bahwa mereka bertujuan untuk cari uang. Anda harus tahu dulu siapa
mereka dan apa yang sudah diperbuat mereka. Jauh sebelum peristiwa
Maret lalupun, Romo Sandyawan telah berkecimpung dalam membantu para
orang gelandangan dan pengemis.

Jadi jangan sembarangan anda menuduh, justru kita salut akan tugas
mereka. karena tidak semua orang mau dan sanggup bekerja untuk orang
yang hina dina. Dan kalaupun mereka membawa atau menyampaikan berita
tersebut di luar negeri adalah dengan alasan supaya pihak luar negeri
memberikan dukungan bagi pemerintah Indonesia agar tidak mempetieskan
masalah tersebut. Katakanlah Tim Relawan sudah kurang percaya akan
penyelesaian oleh pihak Indonesia secara fair.

Anda saya harapkan untuk lenih mengenal mereka dulu, dan saya menilai
anda ini benar-benar seperti nama anda sendiri yaitu "koruptor" dan juga
tulen produk Orde Baru.


Rgds

ITCons...@my-dejanews.com

unread,
Aug 29, 1998, 3:00:00 AM8/29/98
to
In article <35E79824...@hotmail.com>,

Pimpro <Pim...@hotmail.com> wrote:
> Terima kasih atas replynya yang "Cepat", "Tajam" dan "Terpercaya" selanjutnya
> bagaimana dengan pernyataan Romo sandyawan ??
>

Sama sama, Pimp :) Buat lu mah, gua selalu cepat mereplynya... Apalagi dengan
berita dari lu yang selalu "objective", "terpercaya", "cepat" dan
"tajam"...iya ngak Pimp? :) Maksud lu apaan dng pernyataan Romo Sandyawan?
Ngomong yang jelas dong..

0 new messages