Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Amien Versus Rosiana: Bukti Kebencian Orang Kristen!

987 views
Skip to first unread message

Muhammad Sani

unread,
May 3, 2004, 6:36:34 AM5/3/04
to mail2news-20040503-s...@anon.lcs.mit.edu
Kebencian orang-orang Kristen terhadap Amien Rais
begitu jelas. Amien Rais adalah seorang Muslim yang
merupakan mantan pemimpin Muhammadiyyah. Dia juga
turut dalam Kongres Ummat Islam untuk membantu ummat
Islam di Ambon. Amien Rais juga satu-satunya calon
presiden Indonesia yang berani mengkritik Kapolri
berkenaan dengan kasus penangkapan Ustad Abu Bakar
Ba'asyir yang tidak disertai dengan bukti yang nyata.

Oleh karena itulah orang-orang Kristen sangat
membencinya. Tak heran jika SCTV yang dikuasai oleh
orang Kristen seperti Peter F Gontha juga membencinya.

Wartawan SCTV, Rosiana Silalahi yang beragama Kristen,
bukannya bersikap netral dan profesional, malah
bersikap seperti preman yang mengajak berkelahi ketika
mewawancarai Amien Rais. Dia dan orang-orang Kristen
yang ada di SCTV berusaha menjatuhkan Amien Rais di
depan pemirsanya.

''Mereka hendak memadamkan cahaya agama Allah (Islam)
dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap
menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir
benci. Dialah Yang Mengutus Rasul-Nya dengan membawa
petunjuk dan agama yang benar (Islam) agar Dia
memenangkannya di atas segala agama, meski orang-orang
musyrik benci.'' Q.S. As-Shaf(61):8-9.

Orang-orang Kristen khawatir, jika Amien Rais
berkuasa, maka ummat Islam akan mempunyai pemimpin
yang mengayominya. Selama ini, pada masa pemerintahan
yang sekuler, orang-orang Kristen bebas mendangkalkan
aqidah ummat Islam lewat siaran TV tentang tahayul,
tayangan yang membuka aurat dan perzinahan, dan
lain-lain. Orang Kristen juga bebas melakukan
kristenisasi lewat pendidikan yang ditentang oleh
ummat Islam lewat RUU Sisdiknas.

Ketika PDIP menentang RUU Sisdiknas, Amien Rais serta
tokoh Islam lain yang mendukungnya.

Karena itulah orang-orang Kristen berusaha dengan
segala macam untuk menjatuhkan Amien Rais. Mereka
menuduh Amien Rais ambisius, meski ada capres lain
yang berusaha menang Pemilu dengan melakukan
kecurangan mau pun money politics agar berkuasa.
Mereka menuduh Amien Rais plin-plan, padahal ada tokoh
sekuler seperti Megawati yang menyatakan bahwa tak ada
setetes pun darah orang Aceh yang tumpah jika dia jadi
presiden, meski sekarang ternyata Mega yang membantai
rakyat Aceh dengan Darurat Militer.

Lewat propaganda di berbagai media massa, mereka
berhasil memfitnah Amien Rais. Banyak ummat Islam yang
termakan fitnah tersebut tanpa tabayyun ke Amien Rais.
Padahal hal itu merupakan hal yang terlarang.

Surah Al Hujuraat - Ayat 6
Hai orang-orang yang beriman , jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita , maka periksalah
dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Sabtu, 24 April 2004

Amien Versus Rosiana

Laporan : A Darmanto


Selama dua hari, 13 dan 14 April 2004 SCTV menayangkan
wawancara Rosiana Silalahi (Rosi) dengan Ketua Umum
Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. Wawancara
hari pertama dilaksanakan 13 April dalam program
Liputan 6 dan yang kedua disiarkan pada rubrik Topik
Minggu ini yang ditayangkan 14 April pukul 22.30 WIB.

Menjelang penayangan hari kedua, khalayak sempat
dibuat kecewa oleh pernyataan Rosi yang seolah-olah
menggambarkan bahwa wawancara dengan Amien Rais
benar-benar batal dilaksanakan. Setelah itu,
ditayangkan suasana Rapat Redaksi SCTV yang membahas
mengenai urungnya kedatangan Amien Rais ke SCTV. Dari
tayangan segmen ini khalayak menjadi tahu tentang
latar belakang ketidakhadiran Amien Rais ke SCTV dan
situasi internal PAN, yang tentu saja menimbulkan
gambaran negatif. Tetapi tak lama kemudian, Rosi
muncul lagi memberikan informasi bahwa pada akhirnya
Amien Rais memenuhi harapan SCTV untuk melangsungkan
wawancara dan telah direkam yang sesaat kemudian
segera ditayangkan. Wawancara pun dimulai, dan untuk
membukanya terlebih dahulu ditayangkan hasil liputan
reporter SCTV tentang adanya gerakan pengembosan yang
dilakukan oleh pejabat struktural PAN. Salah satu nama
yang disebut adalah Hatta Rajasa. Tetapi tuduhan
tersebut kemudian dibantah melalui penjelasan yang
memadai oleh Amien Rais dalam segmen wawancaranya
dengan Rosi.

Pada bagian awal wawancara Rosi menjelaskan dan
sekaligus minta klarifikasi tentang adanya pihak-pihak
yang mengaku sebagai pendukung Amien Rais telah
melakukan ancaman terhadap Rosi maupun SCTV. Beberapa
SMS yang bernada mengancam kemudian ditampilkan di
layar televisi. Salah satu di antaranya berisi ancaman
akan memberi pelajaran pada Rosi. Tetapi rasanya
pesan-pesan tersebut justru makin menambah nafsu Rosi
untuk mencecarkan pertanyaan kepada Amien Rais.

Berdasarkan fakta yang tertampil di layar SCTV
demikian itu jelaslah telah timbul permasalahan serius
antara Rosi (SCTV) dengan Amien Rais dan pendukungnya.
Hubungan yang kurang harmonis antara Rosi sebagai
jurnalis dengan Amien Rais, baik dalam kapasitas
sebagai Ketua Umum PAN, kandidat calon presiden, dan
narasumber berita patut mendapat perhatian serius
karena hal itu bisa menjadi preseden buruk bagi
perkembangan demokrasi di Indonesia. Tetapi
sebaliknya, masyarakat juga tidak ingin praktik tirani
media berlangsung terus menerus tanpa mau mempedulikan
privasi seseorang.

Sehubungan dengan adanya kasus tersebut tulisan ini
dibuat dengan maksud untuk mengkritisi tayangan kedua
program tersebut di atas dari sudut pandang ilmu
penyiaran. Tujuan utamanya lebih dimaksudkan sebagai
kritik terhadap media yang bersangkutan dan sebagai
masukan bagi upaya peningkatan profesionalisme
broadcaster.

Menelisik kasusnya
Secara substansial, isi rentetan pertanyaan yang
disampaikan Rosi kepada Amien Rais sebenarnya hal
wajar dalam era demokrasi. Bahkan memang seharusnya
begitulah setiap calon Presiden mesti dicoba kemampuan
diplomasinya di depan publik. Tetapi secara etis dan
teknis kedua tayangan tersebut patut dipersoalkan agar
tidak menjadi preseden bagi pihak lain. Bagaimana pun
kedua tayangan itu merugikan pihak PAN dan Amien Rais.
Hal itu terjadi karena pihak SCTV terlihat kurang
objektif, penuh sak prasangka, dan secara sistematis
hendak mempertontonkan "suasana kelabu" yang tengah
melanda Amien Rais dengan partainya kepada publik.
Dengan kata lain, pihak SCTV memang terkesan kurang
hati-hati, kurang mempedulikan etika komunikasi, dan
terlihat tidak netral alias memihak. Dalam konteks
penayangan kedua program tersebut di atas, SCTV dapat
dikatakan kurang profesional. Ada beberapa hal yang
dapat dijadikan indikator.

Pertama, salah satu titik pijak wawancara di program
Liputan 6 tanggal 13 April adalah rendahnya pencapaian
suara PAN pada pemilu legislatif 2004, dan keinginan
Amien Rais untuk tetap melaju mencalonkan diri sebagai
presiden. Menurut norma ketimuran, sungguh bukan cara
yang elegan tindakan mengeksploitasi pihak yang lemah.

Kedua, tidak ada pemberitahuan kepada publik mengenai
rencana pihak SCTV akan menayangkan wawancara sejenis
dengan calon Presiden lain. Akibatnya publik tidak
cukup informasi untuk menilai netral atau tidaknya
kebijakan redaksional SCTV. Karena tidak ada
pemberitahuan, dan faktanya memang tidak ada tayangan
program sejenis dengan calon presiden lain seperti
Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),
penayangan program wawancara dengan Amien Rais di
kedua kesempatan tersebut memang patut dipertanyakan
motivasinya. Apakah SCTV sekadar menjadikan Amien Rais
sebagai komoditas? Ataukah ada agenda terselubung
untuk melambungkan atau sebaliknya menjatuhkan Amien
Rais? Untuk dikatakan adil, semestinya SCTV juga
menayangkan program serupa dan cara pengemasan yang
sama, misalnya Megawati yang mengalami nasib lebih
tragis karena perolehan suara partainya turun drastis,
dan para petinggi PDIP bertarung saling menyalahkan.

Ketiga, apa motivasi menayangkan segmen "perdebatan"
internal di ruang redaksi SCTV tentang kemungkinan
batalnya wawancara Amien Rais kalau toh akhirnya
terlaksana juga. Bukankah sudah menjadi permasalahan
keseharian bagi media massa mana pun senantiasa
menghadapi dilema di saat-saat menjelang dead line.
Persoalan lain yang perlu dipertanyakan, apakah SCTV
juga melakukan hal serupa jika menghadapi persoalan
yang sama dengan narasumber lain? Mengapa terhadap
Amien Rais begitu "diistimewakan"? Apakah karena nilai
jualnya tinggi atau karena pertimbangan lain?

Keempat, kesempatan penayangannya tidak tepat waktu.
Fokus wawancara tanggal 14 April 2004 mengenai rencana
Amien Rais mencalonkan diri menjadi presiden. Jika
dilihat dari jadwal kegiatan Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden, penayangan program tersebut jelas tidak
memiliki acuan yang jelas. Dengan demikian, memang
patut dipertanyakan agenda terselubung (hidden agenda)
dari kedua program tersebut.

Kelima, bahasa dan diksi yang dipergunakan oleh Rosi
ketika menyampaikan pertanyaan kepada Amien Rais tidak
sebagaimana mestinya seorang pewawancara yang baik,
tetapi seolah melakukan interograsi dan bahkan
cenderung mengadili. Rosi terkesan menempatkan diri
sebagai lawan bicara yang selevel dan ingin
menunjukkan dirinya tahu banyak hal. Padahal menurut
berbagai kepustakaan tentang teknik wawancara, seorang
interviewer mestinya rendah hati, dan terlihat haus
untuk mendengar jawaban yang lebih banyak dari
interviewe (pihak yang diwawancarai). Interviewer dari
program Panorama BBC misalnya, menunjukkan sikap
kerendah-hatian yang patut dicontoh oleh para
interviewer Indonesia. Bahkan seorang Larry King yang
besar sebagai pewawancara ulung di Amerika Serikat
juga sangat menganjurkan pentingnya sikap rendah hati
seorang interviewer.

Keenam, mimik kurang familier. Dalam dua kali
penampilannya mewawancarai Amien Rais (13 dan 14
April) mimik Rosi tampak kurang familier, dan sesekali
memperlihatkan jari telunjuknya ke arah narasumber.
Ketika mimik, gestur, dan diksi yang kurang
mengenakkan itu bergabung menjadi satu, kesan sinis
Rosi terhadap Amien Rais sering tidak bisa ditutupi.
Bagi jurnalis televisi penampilan yang demikian itu
dapat menjadi indikasi kuat adanya ketidaknetralan,
dan subjektivitas yang tinggi.

Ketujuh, kurang adanya sopan santun dari interviewer.
Berkali-kali Rosi memotong pembicaraan Amien Rais yang
tengah berusaha menjawab pertanyaan. Dalam formatologi
siaran televisi, format wawancara berbeda dengan
debat, diskusi, dan dialog. Dengan demikian sangat
tidak etis jika seorang pewawancara berkali-kali
memotong jawaban narasumber yang tengah digali
informasinya padahal narasumber masih berbicara dalam
koridor yang semestinya. Memang pewawancara bisa saja
memotong narasumber yang sedang berbicara jika isinya
keluar konteks, tapi tidak demikian yang terjadi
ketika Amien Rais diwawancarai. Rosi terlalu sering
melontarkan pertanyaan yang bernada menggiring jawaban
tertentu, sehingga narasumber terpaksa harus meladeni
ke arah itu juga. Cara bertanya demikian itu sering
menjadi pangkal ''pemelintiran'' pernyataan
(statement) narasumber oleh pers. Sebagai pewawancara
Rosi sering memproduksi kata lebih banyak dari yang
diwawancarai. Padahal semestinya dia harus dapat
menggali informasi sebanyak-banyaknya dengan
pertanyaan pendek tapi fokus pada inti permasalahan.

Berdasarkan sejumlah bukti yang telah diuraikan
tersebut, dua paket wawancara SCTV dengan Amien Rais
pada tanggal 13 dan 14 April 2004 dapat dikatakan
bersifat merugikan pihak Amien Rais dan partainya.
Sayangnya sampai saat ini belum juga terbit standar
perilaku penyiaran dari Komisi Penyiaran Indonesia
(KPI) sehingga kita tidak bisa menunjuk butir rumusan
etik yang telah dilanggar oleh SCTV dalam penayangan
kedua program wawancaranya dengan Amien Rais. Meskipun
demikian cukup banyak alasan untuk mengatakan bahwa
SCTV telah bertindak sembrono, kurang hati-hati,
kurang memperhatikan etik komunikasi kultural, dan
bertindak sangat subjektif. Kecenderungan yang
demikian itu sangat berbahaya dan dapat mendatangkan
bencana bagi dunia penyiaran, serta dunia pers pada
umumnya. Oleh karena itu ancaman yang diterima setelah
penayangan wawancara dengan Amien Rais di Liputan 6
hendaknya menjadikan SCTV mau introspeksi dan
bertindak secara lebih profesional.

Anggota Tim Pemantau Media dan Advokasi Kekerasan
Terhadap Jurnalis pada Pemilu 2004, Pengajar Bidang
Penyiaran di MMTC Yogyakarta
http://www.republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=159148&kat_id=16




__________________________________
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs
http://hotjobs.sweepstakes.yahoo.com/careermakeover

Sundel Bolong

unread,
May 3, 2004, 3:13:07 AM5/3/04
to
Wah ADW ganti nama lagi nih...

Muhammad Sani <muhammad...@yahoo.com> wrote in message
news:200405031036...@web90107.mail.scd.yahoo.com...

Samuel

unread,
May 5, 2004, 2:41:56 AM5/5/04
to
Muhammad Sani <muhammad...@yahoo.com> wrote in message news:<200405031036...@web90107.mail.scd.yahoo.com>...


Saya tidak mengerti kenapa org muslim selalu menyebut org Kristen
kafir padahal di surat al imran 55 ada tertulis tentang org yang
mengikuti Isa akan diangkat di atas org kafir hingga hari kiamat, dan
Isa itu benar2 pernah mati di ayat itu juga tertulis bagaimana Allah
akan mawafatkan ISA jadi buka org lain berubah wujud jadi seperti Dia,
dan paha hari ketiga setelah kematian ISA, Dia bangkit, karena maut
tidak berkuasa atas Dia, musuh terakhir yang Isa kalahakan adalah
maut, oleh sebab itu barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak akan
binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal, teman janji ini jg
berlaku untuk anda, inilah rahmat Allah karena tidak ada seorangpun
yang dapat membeli keselamatan, harga keselamatan terlalu mahal, semua
karena Rahmat Allah, Tuhan memberkati, jangan kamu menghakimi kami
lagi sebab Hakim kami dan juga kamu sekalian adalah satu dan sama dan
kalian juga pasti tahu siapa Dia.

Muhammad Sani

unread,
May 6, 2004, 2:00:50 AM5/6/04
to mail2news-20040506-s...@anon.lcs.mit.edu
Kebencian orang-orang Kristen terhadap Amien Rais
begitu jelas. Amien Rais adalah seorang Muslim yang
merupakan mantan pemimpin Muhammadiyyah. Dia juga
turut dalam Kongres Ummat Islam untuk membantu ummat
Islam di Ambon. Amien Rais juga satu-satunya calon
presiden Indonesia yang berani mengkritik Kapolri
berkenaan dengan kasus penangkapan Ustad Abu Bakar
Ba'asyir yang tidak disertai dengan bukti yang nyata.

Oleh karena itulah orang-orang Kristen sangat
membencinya. Tak heran jika SCTV yang dikuasai oleh
orang Kristen seperti Peter F Gontha juga membencinya.

Wartawan SCTV, Rosiana Silalahi yang beragama Kristen,
bukannya bersikap netral dan profesional, malah
bersikap seperti preman yang mengajak berkelahi ketika
mewawancarai Amien Rais. Dia dan orang-orang Kristen

yang ada di SCTV (Don Bosco, dll) berusaha menjatuhkan

Ini bukan SARA, tapi kenyataan. Jika anda tak percaya,
silahkan tanya opini teman anda yang beragama Kristen
tentang Amien Rais. Mereka niscaya secara emosional
akan menjelek2an Amien Rais sebagaimana di atas. Jika
1 dari 10 teman anda yang beragama Kristen ada yang
mendukung Amien Rais, maka anda sangat2 beruntung.

Sundel Bolong

unread,
May 6, 2004, 1:54:41 PM5/6/04
to
ALVIN LEE orang kristen, tapi dukung Amien Rais.....
Elo itu kagak bisa menggeneralisasi satu dua orang kristen mewakili semua.
Tiap orang punya kepentingan sendiri.

BEGO AMAT!

Muhammad Sani <muhammad...@yahoo.com> wrote in message

news:2004050606005...@web90103.mail.scd.yahoo.com...

rangg...@gmail.com

unread,
Sep 25, 2018, 8:07:18 AM9/25/18
to
Bego lu
Message has been deleted
0 new messages