==================================================
Perintah illahi Islam: bersetubuh dengan menantu sendiri
oleh Ayesha Ahmed
Jan, 2008
Berhubungan kelamin dengan menantu wanita merupakan hal yang suci dan
hubungan yang mulia, seperti yang tertulis dalam Qur’an dan hal ini
pun dilakukan oleh ‘insan-e-kamil, nabi kita, sang manusia sempurna.
Nabi kita Muhammad memiliki menantu wanita cantik bernama Zainab, yang
merupakan istri anak angkatnya yang bernama Zaid Bin Mohammed. Di
suatu pagi, Muhammad berjalan masuk ke rumah menantunya untuk mencari
Zaid dan kebetulan melihat Zainab yang baru bangun tidur dan
telanjang. Muhammad senang sekali akan pemandangan ini. Muhammad, sang
rasulullah horny. Singkat cerita, beberapa hari kemudian Muhammad
berhubungan seks dengan Zainab.
MASYARAKAT MEDINAH
MEMPERTANYAKAN PERBUATAN NABINYA
Dalam budaya Arab, menantu wanita itu bagaikan anak perempuan sendiri,
tidak peduli apakah dia itu istri dari anak angkat atau anak kandung.
Kabar sang Nabi menyetubuhi istri anaknya sendiri membuat masyarakat
Medinah ngamuk. Mereka mempertanyakan hal ini padanya.
Orang-orang Medina:
“Wahai, sang Nabi Allah, bagaimana kau dapat melakukan hal yang begitu
memuakkan dan menjijikan, ngeseks dengan menantumu sendiri. Haremmu
membludak dengan istri-istrimu yang cantik dan bahenol. Lebih dari
itu, kau selalu mengambil 20% jumlah para tawanan wanita kafir sebagai
jatah rampasanmu. Rasul Allah, tindakan insetst-mu menghina tradisi
Arab yang terhormat.”
Sang Nabi:
Bagiku, satu-satunya perbuatan terhormat hanyalah mengikuti perintah
Allah. Dan Allah sendiri yang memerintahkanku untuk ngeseks dengan
Zainab. Ini lho ayatnya:
Q 33:37
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah
melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat
kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah",
sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang
lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri
keperluan terhadap istrinya, Kami kawinkan kamu dengan dia supaya
tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri
anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan
Allah itu pasti terjadi.
Orang-orang Medina:
Sungguh aneh bahwasanya Allah begitu bersemangat menikahkan kami
dengan anak-anak angkat kami. Sudahlah, jika itu memang yang
diinginkan Allah, maka biarkan saja. Tapi mengapa kau tidak
menyelenggarakan upacara kawin dengan Zainab sebelum menidurinya?
Bukankah itu merupakan zinah?
Sang Nabi:
Tentu saja tidak, dong, karena aku diijinkan ngeseks dengan saudara-
saudara sepupuku tanpa perkawinan dan Zainab sendiri adalah anak
perempuan tanteku. Ini lho ayatnya:
Q 33:50
Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu
yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki
yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan
Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara
laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu,
anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak
perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu
….
Orang Medinah:
Nabi, apakah kau yakin Q 33:50 itu tidak diwahyukan oleh Setan padamu
seperti yang dilakukannya dengan ayat-ayat setan di Mekah?
Sang Nabi:
Wah, aku tidak dapat ditipu setan lagi sekarang. Aku yakin banget
Jibril yang mendatangkan ayat itu padaku.
Orang-orang Medinah:
Rasul Allah, ada hal lain yang ingin kami bicarakan denganmu. Kami
diberitahu bahwa kau ngeseks dengan para istri kami saat kau
memerintahkan kami berjihad di tempat-tempat yang jauh. Apakah benar
begitu?
Sang Nabi:
Iya, benar begitu. Para Muslimah menawarkan diri padaku dengan harapan
selamat dan dapat tempat spesial dari Allah di akhirat dan Allah
sendiri mengijinkan diriku untuk memenuhi keinginan mereka dengan
lanjutan dari Q 33:50
….dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi
mau mengawininya,…
Akan tetapi, seperti yang kau ketahui, aku ini sibuk banget dan tidak
bisa memuaskan semua permintaan. Lagipula istri-istriku yang lain pada
marah dan cemburu jika aku bersama para wanita lain; mereka juga benci
melihat antrean Muslimah di luar kamarku setiap hari.
Orang-orang Medinah:
Sebenarnya istri-istrimu sendirilah yang memberitahu kami tentang hal
ini. Mereka bilang kau jadi begitu capek sehingga begitu kau datang ke
kamar mereka, kau langsung tidur setelah sholat. Beberapa istri mudamu
sangat iri dan marah sehingga kami dapat saja dengan mudah meniduri
mereka sama seperti yang katanya dilakukan Safwan bin Muattal terhadap
istri mudamu Aisha yang cemburu di perjalanan pulan dari Mustaliq
setelah kau mengawini istri muda barumu si Juwariyah. Kau sendiri
percaya Aisha ngeseks dengan pria lain dan mengirimnya kembali ke
rumah babehnya.
Sang Nabi:
Wah, Allah juga udah tahu kok tentang hal itu. Itulah sebabnya Dia
memerintahkan istri-istriku untuk tinggal di rumah saja dan
dikerudungi. Kalian semua tidak boleh mengunjungi istri-istriku tanpa
ijin dariku dan hanya boleh bicara dengan mereka di balik gorden, jika
memang musti bicara (sebelum itu di Medinah, kaum pria boleh bicara
dengan wanita bebas tanpa jilbab). Ini lho ayatnya:
Q 33:53
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi
kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu
waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan
bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang
percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu
Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu
(menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan)
kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.
Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…..
Tidak hanya itu saja, Allah pun menegur istri-istriku dengan keras:
Q 33:30
Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan
perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan
kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi
Allah.
Orang Medinah:
Boleh dong kami nikahi istri-istrimu setelah kau wafat. Kasihan lho
mereka itu masih begitu muda, cantik, dan kurang puas seks, sedangkan
kau begitu tua dan sudah bau tanah.
Sang Nabi:
Enak aja lu! Tidak ada yang boleh menyentuh istri-istriku setelah aku
mati!
Orang Medinah:
Kok gitu? Kau sendiri menikahi janda-janda muda jihadis yang mati
terbunuh di perampokan yang kau perintahkan. Kenapa sekarang kau
larang kami menikahi janda-jandamu?
Sang Nabi:
Karena Allah berkata begitu. Ini lanjutan ayatnya: Q 33:50
… Dan tidak boleh kamu mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah
ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di
sisi Allah.
Orang Medinah:
Gak fair sih. Tapi yo wes-lah kalau begitu. Eh, tapi bagaimana dengan
ngeseks semalam saja tanpa nikah dengan para saudara sepupu kami atau
Muslimah lain yang menawarkan diri pada kami?
Sang Nabi:
Kagak ada ya ngeseks semalam doang tanpa nikah. Kau hanya boleh
ngeseks dengan mereka jika setelah kau menikahi mereka.
Orang Medina:
Kok begitu? Kau sendiri boleh melakukannya, kenapa kami tidak?
Sang Nabi:
Ngeseks semalam tanpa ikatan kawin hanya khusus untukku saja, dan
bukan untuk siapapun. Ini lanjutan Q 33:50
...sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.
Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada
mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki
supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
Orang Medinah:
Tapi wahai Rasul Allah, bukankah Q 33:21 mengatakan kau adalah contoh
manusia sempurna bagi kami dan Q 3:31 mengatakan bahwa kami harus
mencontoh perbuatanmu jika kami ingin disayang Allah? Kalau begitu
ayat-ayat itu ngibul doang, karena selagi kau bersenang-senang insets
dan zinah, maka Allah dengan cepat menghalalkannya, sedangkan ketika
kami ingin mencontoh perbuatanmu, Allah menyebut hal itu zinah dan
menghukum dengan rajam. Mengapa kok begitu?
Sang Nabi:
Allah berkata bahwa kau tidak boleh membuat nabimu jengkel dan kau
sekarang membuatku sangat jengkel. Ini lanjutin Q 33:53
Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah
Orang- Medinah:
Masakan kami tidak boleh mengajukan pertanyaan?
Sang Nabi:
Tidak!! Jika kalian berani tanya-ayat segala, maka kalian akan
dipenggal.
Orang Medinah:
Ah, mana ada ayat-ayat Qur’an yang mengatakan begitu?
Sang Nabi:
Tentu saja ada. Nih Q 5:101-102:
[101] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada
Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan
kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu sedang
diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu)
tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
[102] Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu
menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian
mereka tidak percaya kepadanya.
Jika Muslim tidak percaya lagi, maka Allah menyuruh para Muslim lain
untuk memenggal kepalanya
Pesan kisah Qur’an di atas adalah:
Otakmu itu bagaikan keledaimu, dan Islam bagaikan sebuah mesjid. Kau
boleh menunggangi keledaimu ke mana saja kau mau, tapi jika kau masuk
mesjid, tinggalkan keledaimu di luar pintu mesjid.
KALAU KAU MASUK ISLAM, TINGGALKAN OTAKMU DI LUAR!
Sumber:
http://www.islam-watch.org/AyeshaAhmed/Sex-With-Daughters-in-Law-Ordained-by-Allah-Quran.htm
http://phoenixity.multiply.com/?&preview=&item_id=9&page_start=20