Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

kristenisasi dari membagi-bagi injil dan mempergunakan santet/teluh/pelet/jin

95 views
Skip to first unread message

Adrian Dharma Wijaya (Adri)

unread,
Oct 14, 2008, 7:19:54 AM10/14/08
to
http://www.sabili.co.id/telus-edisi23thx03b.htm

Pemurtadan, dari Bagi-bagi Injil Hingga Memakai Jin

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga

kamu mengikuti agama mereka" (al-Baqarah 120).

Sepenggal ayat al-Qur'an surat al-Baqarah di atas tampaknya pas untuk

melukiskan kondisi umat saat ini. Umat Islam ibarat seorang 'pesakitan'.

Kaum Salibis memborbardir umat dari segala penjuru. Pemurtadan pun

dilakukan beraneka ragam, mulai dari yang paling konvensional hingga

yang paling 'mutahir' sekalipun.

Secara konvensional, pendangkalan akidah umat dilakukan dengan

membagi-bagi uang dan al-Kitab secara gratis. Yang paling teranyar

terjadi di sejumlah sekolah di daerah Jakarta Selatan. Sumber SABILI

melaporkan di SMU Bina Kusuma, Pesanggarahan, Jakarta Selatan, Senin

(28/4), terjadi pembagian injil gratis kepada para siswa. Pembagian ini

dilakukan oleh dua orang tamu dari luar sekolah. Padahal, rasio

murid-murid Kristen di sekolah itu tak signifikan. "Rata-rata hanya ada

dua orang murid Kristen di masing-masing kelas," kata sumber SABILI itu.

Pada sampul injil tersebut tertulis The Gideon Internasional dan dicetak

oleh lembaga Alkitab Indonesia. Menurut Kristolog Ustadz Abu Deedat

Shihabuddin, The Gideon Internasional dibiayai oleh sejumlah

konglomerat. Lembaga ini, kata Ustadz Abud, tercatat sebagai lembaga

Kristen yang paling getol mencetak dan membagikan al-Kitab gratis ke

masyarakat. "Tak kurang sembilan juta eksemplar al-Kitab telah dicetak

dan dibagi-bagikan ke umat secara gratis," papar ustadz yang banyak

menangani kasus pemurtadan ini.

Pembagian al-Kitab secara gratis juga terjadi di sejumlah lembaga

pendidikan Islam seperti di Yayasan Pendidikan Umat Islam (PUI) di Jalan

Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan dan di sekolah Muhammadiyah IX

Cipulir, Jakarta Selatan. Modus operandi pembagian kitab suci agama

Kristen di Muhammadiyah melalui seorang satpam. "Ia mengaku beragama

Islam, tapi sebenarnya penganut setia Kristen," kata sumber itu.

Mendirikan gereja di sejumlah daerah adalah misi pemurtadan berikutnya.

Kaum Salibis hanya mau menang sendiri. Mereka tak peduli terhadap

kepentingan umat Islam. Demi misi penghancuran Islam, mereka keukeuh

membangun gereja meskipun hal itu menyalahi hukum dan adat setempat.

Peristiwa 'naas' ini dialami warga Muslim Kota Baru, Provinsi Kalimantan

Selatan. Kegembiraan mereka terusik saat segelintir warga Kristen

memaksa mendirikan gereja di kampung mereka di Desa Sungai Taib,

Kecamatan Pulau Laut Utara, 5 Km dari pusat kota.

Menurut sumber SABILI, selain berencana mendirikan gereja, di areal

seluas kurang lebih dua hektar itu juga akan dibangun perumahan mewah

plus fasilitas umum untuk warga Kristen. "Di situ juga akan dibangun

perumahan untuk orang Kristen," kata sumber itu.

Padahal, alasan penolakan cukup masuk akal. Secara turun-temurun Desa

Sungai Taib adalah basis umat Islam. Wajar kalau kemudian komposisi

penduduk hampir 100% adalah memeluk Islam. Sementara orang Nasrani di

desa itu jumlahnya tidak signifikan.

Ironisnya, di tengah Kota Baru yang tergolong tidak luas itu, sudah

berdiri empat buah gereja besar dengan jarak tempuh antar gereja tak

terlalu jauh. Hanya dengan beberapa menit dapat ditempuh dengan berjalan

kaki. Berdirinya empat buah gereja mencerminkan rasa toleransi besar

yang diberikan umat Islam Kota Baru. "Sehingga tidak rasional jika

segelintir orang Kristen keukeuh membangun gereja di sini," kata sumber

SABILI.

Di atas semua itu, berdirinya gereja di Desa Sungai Taib akan memberi

peluang besar praktek pemurtadan umat. Dengan berdirinya gereja, mereka

akan lebih leluasa menyebarkan faham sesatnya kepada umat. Rencana

pendirian gereja tersebut juga jelas-jelas melanggar SKB Menag dan

Mendagri No 01/Ber/mdn-mag/1969 dan SK Menag No 70 tahun 1978 tentang

Pedoman Penyiaran Agama.

Kaum Palangis tidak segan-segan memakai berbagai cara asal tujuannya

tercapai. Salah satunya melalui pemurtadan berkedok Islam. Lantaran,

tidak memiliki akidah mendalam dan pemahaman Islam yang baik, tak

sedikit umat terjebak bujuk rayu aktivis Nasrani. Padahal, di

belakangnya ada niat busuk menjauhkan umat dari Islam.

Kasus penipuan tiga orang pendeta yang berkedok ulama menjadi pembenaran

terhadap kasus ini. Dalam VCD yang beredar di masyarakat, tiga orang

pendeta Kristen yakni Pendeta M Filemon, Daud S Rajawali dan Fachri

Baerudin terbukti secara berani melakukan penipuan berkedok ulama untuk

mendangkalkan akidah umat.

Pendeta M Filemon misalnya. Dihadapan umat, ia mengaku pernah menjadi

juara MTQ di usia lima tahun. Padahal, sepanjang sejarah MTQ digelar

selama ini, tidak pernah ada pengelompokkan usia lima tahun. Parahnya,

untuk merasuki pikiran umat, ia mengaku-ngaku telah membaptis dai

sejumlah umat KH. Zainudin MZ. Bahkan, salah seorang anak KH. Zainudin,

katanya, sudah sekolah al-Kitab.

Hebohnya lagi, di kaset VCD lainnya, Pendeta Protestan yang banyak

memurtadkan umat Islam ini mengaku telah didatangi artis terkenal H.

Rhoma Irama untuk dimintai tolong menyembuhkan orang tuanya yang sedang

sekarat. Setelah sembuh, orang tua Rhoma masuk Kristen. Benarkah?

Ternyata setelah berita ini dikonfirmasi ke mereka, semua omongan

Pendeta Filemon tidak ada yang benar alias dusta. Padahal, kasus ini

sempat membuat masyarakat heboh. Bagi masyarakat awam, kasus ini sempat

mengoyangkan akidah mereka, bahkan ada pula yang ragu dengan Islam.

"Setelah kami konfirmasi dengan pihak bersangkutan, berita itu dusta,"

kata Ustadz Abu Deedat.

Berita bohong juga dilakukan Pendeta Fachri Baerudin. Dalam VCD

tersebut, Pendeta yang bertempat tinggal di daerah Kramat Jati itu,

mengaku-ngaku pimpinan Laskar Jihad (LJ) Sukabumi. Dari tujuh ratus

orang anggotanya, akunya, empat ratus tiga orang di antaranya sudah

dibaptis.

Ia juga mengklaim berhasil memurtadkan enam puluh orang ulama dan kiai

Sukabumi. Bahkan, tanpa rasa berdosa sedikit pun, untuk mengibuli umat

Islam, Pendeta Protestan ini menyatakan telah menghancurkan Gereja

Katedral Tasikmalaya tahun 1996 dan merubuhkan Gereja Katedral Situbondo

tahun 1980.

Sama seperti Pendeta Filemon, semua omongan Pendeta Fachri Baerudin,

dusta belaka. Sebagaimana sudah diketahui, tidak pernah ada Gereja

Katedral di Tasikmalaya dan Situbondo. Satu-satunya Gereja Katedral

berada di ibukota negara, Jakarta. "Saya orang Sukabumi, setahu saya tak

ada Gereja Katedral di Sukabumi," kata Ustadz Abu Deedat.

Saat Ustadz Abu menanyakan soal anggota LJ di Sukabumi ini beberapa

waktu lalu, Panglima Laskar Jihad Ustadz Djafar Umar Thalib menolak

keras berita dusta tersebut. Setelah dicek ke lapangan, menurut Ustadz

Djafar tidak ada anggota LJ yang murtad seperti dikatakan Pendeta

Fachri.

Pendeta Daud S Rajawali setali tiga uang. Kepada umat Islam, ia mengaku

sebagai orang paham agama alias ulama yang memiliki sekitar delapan

ratus anggota. Menurut pengakuannya, ia masuk Islam saat tirakat di

masjid Istiqlal Jakarta. Padahal, pengakuannya itu tidak terbukti

kebenarannya. Ucapannya hanya untuk mengelabui umat agar jauh dari

Islam.

Ada juga model misi Kristenisasi melalui jalur pendidikan. Di sejumlah

sekolah tinggi Kristen sengaja dicantumkan kurikulum perbandingan agama

untuk mengaburkan pemahaman Islam. Untuk mendukung program ini, mereka

melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren. Pesantren Daruttauhid,

Cirebon salah satu pesantren yang pernah dikunjungi Sekolah Tinggi

Kristen Apostolos.

Mereka juga menjalin kerja sama dengan sejumlah IAIN. Sejumlah staf

pengajar IAIN Sunan Kali Jaga, Yogyakarta, Syarif Hidayatullah, Jakarta

berhasil digaet untuk mengajar perbandingan agama di ST Apostolos.

Padahal, menurut sejumlah pihak, ada misi pemurtadan secara terselubung

dalam setiap kerja sama dengan lembaga Islam itu.

Pemurtadan dengan bantuan mahluk halus pun tidak boleh dipandang sebelah

mata. Kristenisasi melalui bantuan roh jahat ini, kini jadi tren baru

bagi sebagian sekte-sekte Kristen, terutama sekte Protestan. Kadang

dengan berkedok praktik pengobatan alternatif, mereka mencoba mengelabui

umat.

Secara atraktif, sejumlah pendeta yang kebanyakan dari aliran Tiberias

menunjukkan kemampuannya menyembuhkan berbagai penyakit kronis seperti

putus syaraf, jantung bocor dan lainnya kepada umat. Padahal, menurut

para pakar jin, yang menyembuhkan adalah jin.

"Para pendeta melakukan sihir untuk mempengaruhi pola pikir korban untuk

kemudian mengikuti agama Kristen," kata Pakar Jin Ustadz Abu Aqila.

Praktisi pengobatan jin secara syar'i ini menuturkan, sebagian besar

pendeta mempelajari sihir dengan mantra-mantra. Di Batu Malang, aku

Ustadz Abu Aqila, ada pelatihan sihir bagi pendeta untuk mempengaruhi

pikiran korban.

Biasanya orang-orang yang terkena sihir pendeta itu, masih kata Ustadz

yang sering mengobati orang kerusupan jin ini, dilakukan melalui 'air

suci'. Air itu adalah sihir. "Air itu yang bisa menyihir dan

mempengaruhi pola pikir umar Islam," kata penulis buku "Kesaksian Raja

Jin" ini.

Konspirasi menjauhkan umat dari Islam suatu kenyataan yang sulit

terbantahkan. Solusinya, kembali kepada umat Islam sendiri. Agar mampu

menangkis berbagai skenario kotor pasukan Salibis maka umat dituntut

mampu memahami Islam secara benar dan kaffah. n

Rivai Hutapea

-----------------------------------

http://www.sabili.co.id/telus-edisi23thx03c.htm

Menangkal Serangan Jin Salibis

Kunci menangkal berbagai sergapan jin adalah mencerahkan dan memurnikan

akidah umat. Sejauh mana hal itu sudah dilakukan?

Gerakan pemurtadan yang dipelopori oleh kaum missionaris menemukan

medium baru, bersekongkol dengan jin. Tak sedikit dari kalangan Muslim

awam yang tukar agama akibat tipu daya jin ini. Terang saja ini membuat

gerah banyak kaum Muslim.

Sebenarnya tak ada yang aneh dengan konspirasi pemurtadan lewat bantuan

jin. Ini sangat mungkin terjadi. Allah SWT sendiri menyebut musuh

seorang Muslim berasal dari jin dan manusia, "Dari kejahatan (bisikan)

syeitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam

dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia, (QS an-Naas: 4-6).

Kepentingan jin dan missionaris ini bertemu untuk menyesatkan manusia

dari petunjuk Allah.

Seiring dengan perkembangan teknologi, pemurtadan dengan jin tak hanya

dilakukan secara langsung. Bahkan, bisa juga melalui televisi atau

telepon. "Dia (jin) bisa lewat melalui aliran listrik," terang Abu

Aqila. Dirinya menambahkan, tak mustahil kalau seseorang yang

menghubungi nomor telepon yang ada di acara teve misalnya, dapat terkena

hipnotis melalui mantra-mantra khusus.

Untuk membuktikan konspirasi pemurtadan lewat bantuan jin secara ilmiah

tentu saja cukup sulit. Menurut Abu Aqila, itu disebabkan karena hukum

yang berlaku di negeri kita bukan hukum Islam.

Yang perlu diperhatikan umat Islam adalah hikmah yang Allah tetapkan

dari keberadaan jin. Tujuannya bukan agar mereka bekerja sama dengan

kita, apalagi dalam kerangka maksiat. Tapi, ia adalah salah satu batu

ujian untuk mendeteksi sejauh mana akidah kita.

Yang perlu dilakukan untuk menangkal berbagai serangan jin ini, apa pun

bentuknya, adalah mencerahkan akidah umat. "Masyarakat harus segera

disadarkan tentang ma'rifatul jin (pemahaman tentang jin, red). Tanpa

itu, sulit sekali kita menangkalnya walaupun sebenarnya sihir itu tidak

ada yang hebat. Tetapi, walaupun lemah kalau kita tidak memahami

seluk-beluknya, maka pemahaman kitapun dangkal. Bagaimana seseorang yang

akan berperang menghadapi musuh (setan) tapi tidak memahami kekuatannya

itu sejauh apa," tutur Abu Aqila, ayah dari Firqa Aqila Noor 'Arasy dan

Hidtsa Aqila Noor Arasy ini.

Selain pencerahan akidah dan memahami hakikat keberadaan jin, umat Islam

juga harus makin meningkatkan kewaspadaan. Contoh kecil, adalah ketika

berpapasan dengan orang tak dikenal. Apalagi kalau yang bersangkutan

tiba-tiba menawarkan bantuan secara gratis, baik pemberian materi maupun

pengobatan. Acara-acara televisi dan radio yang merusak akidah, apalagi

membawa misi pemurtadan, harus diboikot alias tak boleh ditonton.

"Jangan mendengarkan atau menyaksikan acara seperti itu," pesan Dr Salim

yang juga Ketua Dewan Syariah Partai Keadilan ini, tegas. Dr. Salim

menambahkan, dalam menghadapi acara-acara yang merusak akhlak, akidah,

kepala keluarga harus membentengi diri dan anak-anaknya. "Ada usaha agar

bangsa ini akhlaknya hancur, akidah hancur, lalu dengan mudah para

Zionis itu mempermainkan bangsa yang mayoritas penduduknya beragama

Islam ini," ujarnya lugas.

Sebenarnya, membentengi diri dari serangan pemurtadan lewat bantuan jin

ini tak begitu sulit. Banyak cara yang telah diajarkan Islam. Di

antaranya dengan senantiasa membiasakan diri mengingat Allah,

memperbanyak bacaan istighfar (astaghfirullahal azhim) dan istiadzah

(a'u dzubillahi minasy syaithanir rajim). Berbagai bacaan itu begitu

dibutuhkan, khususnya ketika dihadang bahaya. Misalnya, saat berada

sendirian di tempat sepi, di bis, ketika menyaksikan tayangan-tayangan

penuh kemusyrikan, saat berbicara dengan orang tak dikenal atau berada

dalam kelompok musuh-musuh Islam. Musuh-musuh Islam selalu mencari celah

untuk memurtadkan kaum Muslimin dengan cara apa pun.

Bacaan ma'tsurat (doa yang diajarkan Rasulullah saw), baik untuk pagi

maupun sore merupakan salah satu senjata ampuh untuk menghalau serangan

jin. Sebab, doa-doa tersebut bukan hanya membantu kita mengingat Allah,

tapi juga berfungsi sebagai "alat" yang membuat kita senantiasa sadar

dan waspada. Beberapa ayat dan surah al-Qur'an juga mengandung syifa'

(obat) dan "khasiat" dalam menangkal serangan jin seharusnya menjadi

"santapan" sehari-hari. Di antaranya surah al-Baqarah. Dalam sebuah

hadits Rasulullah saw bersabda, "Jangan jadikan rumah kalian kuburan.

Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah

al-Baqarah," (HR Muslim 780 dan Tirmidzi 2880).

Selain itu, biasakan juga membaca doa sebelum dan setelah tidur. Sebab,

ketika tidur manusia tak bisa menjaga dirinya sendiri. Ia bagaikan mayat

yang tak berdaya apa-apa. Sehingga ketika ada ancaman apa pun ia tak

bisa menghalau. Hanya Allahlah yang Maha Penjaga dan Pelindung

hamba-Nya. Tentu saja ketika membaca doa-doa tersebut hendaknya

benar-benar dilandasi dengan tsiqah (percaya) kepada Allah SWT. "Kalau

seseorang komitmen dengan ibadah dan keislamannya, iblis yang ditubuhnya

akan kurus," ujar Ust. Badruzaman. Sebaliknya, kalau tidak dilandasi

dengan keikhlasan, bacaan apa pun tak mempan. Menurut pengalamannya

sendiri, Ust Badru sering menemukan orang yang kerasukan jin, tak mempan

dibacakan al-Qur'an. Ia mengibaratkannya dengan manusia. "Dalam dunia

manusia, ada yang suka koruptor, penzina, nyimeng, dan maksiat lainnya

pernah dengar adzan dan al-Qur'an, biasa aja mereka," tambahnya.

Terakhir, seperti yang disampaikan KH Aminudin Shaleh, Direktur Lembaga

dan Pengkajian al-Qur'an, Bandung, jika umat Islam dilanda kesusahan,

jangan sekali-kali meminta bantuan dukun. Sebab, hal inilah yang sangat

diinginkan oleh pelaku pemurtadan. Sebaliknya, kembalilah kepada

al-Qur'an dan Sunnah dengan mendekati para ulama yang sejati. Wallahu

a'lam.

Hepi Andi


--

ADW sudah TIDAK di Komplek MABAD Rawa Belong No. 14; Jakarta Barat;
Indonesia, sejak 31 - 07 - 2008
SEJAK 31 - 07 - 2008 adw tinggal di Koordinat GPS: 6° 12' 11.13" South -
106° 46' 52.75" East

- Yahoo Messenger ID : adrian...@yahoo.com (i usualy in front of my
computer every day at 17:00 - 21:00 (indonesian times); GMT + 7:00, and my
computer usualy 24/7 connect to internet
- website address : http://www.adriandw.com (about christian, jew and
islam; history, knowledge, teaching and practice on life)
- e - mail address : adri...@centrin.net.id
- Cellphone/Mobile/Hand Phone : +62 816 705 818 (video call acceptable/3G
acceptable)
- World Church baptized me Saint John in 1985
- World Church and World Synagogue acknowledged me as Messiah

0 new messages