Pemurtadan, dari Bagi-bagi Injil Hingga Memakai Jin
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka" (al-Baqarah 120).
Sepenggal ayat al-Qur'an surat al-Baqarah di atas tampaknya pas untuk
melukiskan kondisi umat saat ini. Umat Islam ibarat seorang 'pesakitan'.
Kaum Salibis memborbardir umat dari segala penjuru. Pemurtadan pun
dilakukan beraneka ragam, mulai dari yang paling konvensional hingga
yang paling 'mutahir' sekalipun.
Secara konvensional, pendangkalan akidah umat dilakukan dengan
membagi-bagi uang dan al-Kitab secara gratis. Yang paling teranyar
terjadi di sejumlah sekolah di daerah Jakarta Selatan. Sumber SABILI
melaporkan di SMU Bina Kusuma, Pesanggarahan, Jakarta Selatan, Senin
(28/4), terjadi pembagian injil gratis kepada para siswa. Pembagian ini
dilakukan oleh dua orang tamu dari luar sekolah. Padahal, rasio
murid-murid Kristen di sekolah itu tak signifikan. "Rata-rata hanya ada
dua orang murid Kristen di masing-masing kelas," kata sumber SABILI itu.
Pada sampul injil tersebut tertulis The Gideon Internasional dan dicetak
oleh lembaga Alkitab Indonesia. Menurut Kristolog Ustadz Abu Deedat
Shihabuddin, The Gideon Internasional dibiayai oleh sejumlah
konglomerat. Lembaga ini, kata Ustadz Abud, tercatat sebagai lembaga
Kristen yang paling getol mencetak dan membagikan al-Kitab gratis ke
masyarakat. "Tak kurang sembilan juta eksemplar al-Kitab telah dicetak
dan dibagi-bagikan ke umat secara gratis," papar ustadz yang banyak
menangani kasus pemurtadan ini.
Pembagian al-Kitab secara gratis juga terjadi di sejumlah lembaga
pendidikan Islam seperti di Yayasan Pendidikan Umat Islam (PUI) di Jalan
Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan dan di sekolah Muhammadiyah IX
Cipulir, Jakarta Selatan. Modus operandi pembagian kitab suci agama
Kristen di Muhammadiyah melalui seorang satpam. "Ia mengaku beragama
Islam, tapi sebenarnya penganut setia Kristen," kata sumber itu.
Mendirikan gereja di sejumlah daerah adalah misi pemurtadan berikutnya.
Kaum Salibis hanya mau menang sendiri. Mereka tak peduli terhadap
kepentingan umat Islam. Demi misi penghancuran Islam, mereka keukeuh
membangun gereja meskipun hal itu menyalahi hukum dan adat setempat.
Peristiwa 'naas' ini dialami warga Muslim Kota Baru, Provinsi Kalimantan
Selatan. Kegembiraan mereka terusik saat segelintir warga Kristen
memaksa mendirikan gereja di kampung mereka di Desa Sungai Taib,
Kecamatan Pulau Laut Utara, 5 Km dari pusat kota.
Menurut sumber SABILI, selain berencana mendirikan gereja, di areal
seluas kurang lebih dua hektar itu juga akan dibangun perumahan mewah
plus fasilitas umum untuk warga Kristen. "Di situ juga akan dibangun
perumahan untuk orang Kristen," kata sumber itu.
Padahal, alasan penolakan cukup masuk akal. Secara turun-temurun Desa
Sungai Taib adalah basis umat Islam. Wajar kalau kemudian komposisi
penduduk hampir 100% adalah memeluk Islam. Sementara orang Nasrani di
desa itu jumlahnya tidak signifikan.
Ironisnya, di tengah Kota Baru yang tergolong tidak luas itu, sudah
berdiri empat buah gereja besar dengan jarak tempuh antar gereja tak
terlalu jauh. Hanya dengan beberapa menit dapat ditempuh dengan berjalan
kaki. Berdirinya empat buah gereja mencerminkan rasa toleransi besar
yang diberikan umat Islam Kota Baru. "Sehingga tidak rasional jika
segelintir orang Kristen keukeuh membangun gereja di sini," kata sumber
SABILI.
Di atas semua itu, berdirinya gereja di Desa Sungai Taib akan memberi
peluang besar praktek pemurtadan umat. Dengan berdirinya gereja, mereka
akan lebih leluasa menyebarkan faham sesatnya kepada umat. Rencana
pendirian gereja tersebut juga jelas-jelas melanggar SKB Menag dan
Mendagri No 01/Ber/mdn-mag/1969 dan SK Menag No 70 tahun 1978 tentang
Pedoman Penyiaran Agama.
Kaum Palangis tidak segan-segan memakai berbagai cara asal tujuannya
tercapai. Salah satunya melalui pemurtadan berkedok Islam. Lantaran,
tidak memiliki akidah mendalam dan pemahaman Islam yang baik, tak
sedikit umat terjebak bujuk rayu aktivis Nasrani. Padahal, di
belakangnya ada niat busuk menjauhkan umat dari Islam.
Kasus penipuan tiga orang pendeta yang berkedok ulama menjadi pembenaran
terhadap kasus ini. Dalam VCD yang beredar di masyarakat, tiga orang
pendeta Kristen yakni Pendeta M Filemon, Daud S Rajawali dan Fachri
Baerudin terbukti secara berani melakukan penipuan berkedok ulama untuk
mendangkalkan akidah umat.
Pendeta M Filemon misalnya. Dihadapan umat, ia mengaku pernah menjadi
juara MTQ di usia lima tahun. Padahal, sepanjang sejarah MTQ digelar
selama ini, tidak pernah ada pengelompokkan usia lima tahun. Parahnya,
untuk merasuki pikiran umat, ia mengaku-ngaku telah membaptis dai
sejumlah umat KH. Zainudin MZ. Bahkan, salah seorang anak KH. Zainudin,
katanya, sudah sekolah al-Kitab.
Hebohnya lagi, di kaset VCD lainnya, Pendeta Protestan yang banyak
memurtadkan umat Islam ini mengaku telah didatangi artis terkenal H.
Rhoma Irama untuk dimintai tolong menyembuhkan orang tuanya yang sedang
sekarat. Setelah sembuh, orang tua Rhoma masuk Kristen. Benarkah?
Ternyata setelah berita ini dikonfirmasi ke mereka, semua omongan
Pendeta Filemon tidak ada yang benar alias dusta. Padahal, kasus ini
sempat membuat masyarakat heboh. Bagi masyarakat awam, kasus ini sempat
mengoyangkan akidah mereka, bahkan ada pula yang ragu dengan Islam.
"Setelah kami konfirmasi dengan pihak bersangkutan, berita itu dusta,"
kata Ustadz Abu Deedat.
Berita bohong juga dilakukan Pendeta Fachri Baerudin. Dalam VCD
tersebut, Pendeta yang bertempat tinggal di daerah Kramat Jati itu,
mengaku-ngaku pimpinan Laskar Jihad (LJ) Sukabumi. Dari tujuh ratus
orang anggotanya, akunya, empat ratus tiga orang di antaranya sudah
dibaptis.
Ia juga mengklaim berhasil memurtadkan enam puluh orang ulama dan kiai
Sukabumi. Bahkan, tanpa rasa berdosa sedikit pun, untuk mengibuli umat
Islam, Pendeta Protestan ini menyatakan telah menghancurkan Gereja
Katedral Tasikmalaya tahun 1996 dan merubuhkan Gereja Katedral Situbondo
tahun 1980.
Sama seperti Pendeta Filemon, semua omongan Pendeta Fachri Baerudin,
dusta belaka. Sebagaimana sudah diketahui, tidak pernah ada Gereja
Katedral di Tasikmalaya dan Situbondo. Satu-satunya Gereja Katedral
berada di ibukota negara, Jakarta. "Saya orang Sukabumi, setahu saya tak
ada Gereja Katedral di Sukabumi," kata Ustadz Abu Deedat.
Saat Ustadz Abu menanyakan soal anggota LJ di Sukabumi ini beberapa
waktu lalu, Panglima Laskar Jihad Ustadz Djafar Umar Thalib menolak
keras berita dusta tersebut. Setelah dicek ke lapangan, menurut Ustadz
Djafar tidak ada anggota LJ yang murtad seperti dikatakan Pendeta
Fachri.
Pendeta Daud S Rajawali setali tiga uang. Kepada umat Islam, ia mengaku
sebagai orang paham agama alias ulama yang memiliki sekitar delapan
ratus anggota. Menurut pengakuannya, ia masuk Islam saat tirakat di
masjid Istiqlal Jakarta. Padahal, pengakuannya itu tidak terbukti
kebenarannya. Ucapannya hanya untuk mengelabui umat agar jauh dari
Islam.
Ada juga model misi Kristenisasi melalui jalur pendidikan. Di sejumlah
sekolah tinggi Kristen sengaja dicantumkan kurikulum perbandingan agama
untuk mengaburkan pemahaman Islam. Untuk mendukung program ini, mereka
melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren. Pesantren Daruttauhid,
Cirebon salah satu pesantren yang pernah dikunjungi Sekolah Tinggi
Kristen Apostolos.
Mereka juga menjalin kerja sama dengan sejumlah IAIN. Sejumlah staf
pengajar IAIN Sunan Kali Jaga, Yogyakarta, Syarif Hidayatullah, Jakarta
berhasil digaet untuk mengajar perbandingan agama di ST Apostolos.
Padahal, menurut sejumlah pihak, ada misi pemurtadan secara terselubung
dalam setiap kerja sama dengan lembaga Islam itu.
Pemurtadan dengan bantuan mahluk halus pun tidak boleh dipandang sebelah
mata. Kristenisasi melalui bantuan roh jahat ini, kini jadi tren baru
bagi sebagian sekte-sekte Kristen, terutama sekte Protestan. Kadang
dengan berkedok praktik pengobatan alternatif, mereka mencoba mengelabui
umat.
Secara atraktif, sejumlah pendeta yang kebanyakan dari aliran Tiberias
menunjukkan kemampuannya menyembuhkan berbagai penyakit kronis seperti
putus syaraf, jantung bocor dan lainnya kepada umat. Padahal, menurut
para pakar jin, yang menyembuhkan adalah jin.
"Para pendeta melakukan sihir untuk mempengaruhi pola pikir korban untuk
kemudian mengikuti agama Kristen," kata Pakar Jin Ustadz Abu Aqila.
Praktisi pengobatan jin secara syar'i ini menuturkan, sebagian besar
pendeta mempelajari sihir dengan mantra-mantra. Di Batu Malang, aku
Ustadz Abu Aqila, ada pelatihan sihir bagi pendeta untuk mempengaruhi
pikiran korban.
Biasanya orang-orang yang terkena sihir pendeta itu, masih kata Ustadz
yang sering mengobati orang kerusupan jin ini, dilakukan melalui 'air
suci'. Air itu adalah sihir. "Air itu yang bisa menyihir dan
mempengaruhi pola pikir umar Islam," kata penulis buku "Kesaksian Raja
Jin" ini.
Konspirasi menjauhkan umat dari Islam suatu kenyataan yang sulit
terbantahkan. Solusinya, kembali kepada umat Islam sendiri. Agar mampu
menangkis berbagai skenario kotor pasukan Salibis maka umat dituntut
mampu memahami Islam secara benar dan kaffah. n
Rivai Hutapea
-----------------------------------
http://www.sabili.co.id/telus-edisi23thx03c.htm
Menangkal Serangan Jin Salibis
Kunci menangkal berbagai sergapan jin adalah mencerahkan dan memurnikan
akidah umat. Sejauh mana hal itu sudah dilakukan?
Gerakan pemurtadan yang dipelopori oleh kaum missionaris menemukan
medium baru, bersekongkol dengan jin. Tak sedikit dari kalangan Muslim
awam yang tukar agama akibat tipu daya jin ini. Terang saja ini membuat
gerah banyak kaum Muslim.
Sebenarnya tak ada yang aneh dengan konspirasi pemurtadan lewat bantuan
jin. Ini sangat mungkin terjadi. Allah SWT sendiri menyebut musuh
seorang Muslim berasal dari jin dan manusia, "Dari kejahatan (bisikan)
syeitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam
dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia, (QS an-Naas: 4-6).
Kepentingan jin dan missionaris ini bertemu untuk menyesatkan manusia
dari petunjuk Allah.
Seiring dengan perkembangan teknologi, pemurtadan dengan jin tak hanya
dilakukan secara langsung. Bahkan, bisa juga melalui televisi atau
telepon. "Dia (jin) bisa lewat melalui aliran listrik," terang Abu
Aqila. Dirinya menambahkan, tak mustahil kalau seseorang yang
menghubungi nomor telepon yang ada di acara teve misalnya, dapat terkena
hipnotis melalui mantra-mantra khusus.
Untuk membuktikan konspirasi pemurtadan lewat bantuan jin secara ilmiah
tentu saja cukup sulit. Menurut Abu Aqila, itu disebabkan karena hukum
yang berlaku di negeri kita bukan hukum Islam.
Yang perlu diperhatikan umat Islam adalah hikmah yang Allah tetapkan
dari keberadaan jin. Tujuannya bukan agar mereka bekerja sama dengan
kita, apalagi dalam kerangka maksiat. Tapi, ia adalah salah satu batu
ujian untuk mendeteksi sejauh mana akidah kita.
Yang perlu dilakukan untuk menangkal berbagai serangan jin ini, apa pun
bentuknya, adalah mencerahkan akidah umat. "Masyarakat harus segera
disadarkan tentang ma'rifatul jin (pemahaman tentang jin, red). Tanpa
itu, sulit sekali kita menangkalnya walaupun sebenarnya sihir itu tidak
ada yang hebat. Tetapi, walaupun lemah kalau kita tidak memahami
seluk-beluknya, maka pemahaman kitapun dangkal. Bagaimana seseorang yang
akan berperang menghadapi musuh (setan) tapi tidak memahami kekuatannya
itu sejauh apa," tutur Abu Aqila, ayah dari Firqa Aqila Noor 'Arasy dan
Hidtsa Aqila Noor Arasy ini.
Selain pencerahan akidah dan memahami hakikat keberadaan jin, umat Islam
juga harus makin meningkatkan kewaspadaan. Contoh kecil, adalah ketika
berpapasan dengan orang tak dikenal. Apalagi kalau yang bersangkutan
tiba-tiba menawarkan bantuan secara gratis, baik pemberian materi maupun
pengobatan. Acara-acara televisi dan radio yang merusak akidah, apalagi
membawa misi pemurtadan, harus diboikot alias tak boleh ditonton.
"Jangan mendengarkan atau menyaksikan acara seperti itu," pesan Dr Salim
yang juga Ketua Dewan Syariah Partai Keadilan ini, tegas. Dr. Salim
menambahkan, dalam menghadapi acara-acara yang merusak akhlak, akidah,
kepala keluarga harus membentengi diri dan anak-anaknya. "Ada usaha agar
bangsa ini akhlaknya hancur, akidah hancur, lalu dengan mudah para
Zionis itu mempermainkan bangsa yang mayoritas penduduknya beragama
Islam ini," ujarnya lugas.
Sebenarnya, membentengi diri dari serangan pemurtadan lewat bantuan jin
ini tak begitu sulit. Banyak cara yang telah diajarkan Islam. Di
antaranya dengan senantiasa membiasakan diri mengingat Allah,
memperbanyak bacaan istighfar (astaghfirullahal azhim) dan istiadzah
(a'u dzubillahi minasy syaithanir rajim). Berbagai bacaan itu begitu
dibutuhkan, khususnya ketika dihadang bahaya. Misalnya, saat berada
sendirian di tempat sepi, di bis, ketika menyaksikan tayangan-tayangan
penuh kemusyrikan, saat berbicara dengan orang tak dikenal atau berada
dalam kelompok musuh-musuh Islam. Musuh-musuh Islam selalu mencari celah
untuk memurtadkan kaum Muslimin dengan cara apa pun.
Bacaan ma'tsurat (doa yang diajarkan Rasulullah saw), baik untuk pagi
maupun sore merupakan salah satu senjata ampuh untuk menghalau serangan
jin. Sebab, doa-doa tersebut bukan hanya membantu kita mengingat Allah,
tapi juga berfungsi sebagai "alat" yang membuat kita senantiasa sadar
dan waspada. Beberapa ayat dan surah al-Qur'an juga mengandung syifa'
(obat) dan "khasiat" dalam menangkal serangan jin seharusnya menjadi
"santapan" sehari-hari. Di antaranya surah al-Baqarah. Dalam sebuah
hadits Rasulullah saw bersabda, "Jangan jadikan rumah kalian kuburan.
Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah
al-Baqarah," (HR Muslim 780 dan Tirmidzi 2880).
Selain itu, biasakan juga membaca doa sebelum dan setelah tidur. Sebab,
ketika tidur manusia tak bisa menjaga dirinya sendiri. Ia bagaikan mayat
yang tak berdaya apa-apa. Sehingga ketika ada ancaman apa pun ia tak
bisa menghalau. Hanya Allahlah yang Maha Penjaga dan Pelindung
hamba-Nya. Tentu saja ketika membaca doa-doa tersebut hendaknya
benar-benar dilandasi dengan tsiqah (percaya) kepada Allah SWT. "Kalau
seseorang komitmen dengan ibadah dan keislamannya, iblis yang ditubuhnya
akan kurus," ujar Ust. Badruzaman. Sebaliknya, kalau tidak dilandasi
dengan keikhlasan, bacaan apa pun tak mempan. Menurut pengalamannya
sendiri, Ust Badru sering menemukan orang yang kerasukan jin, tak mempan
dibacakan al-Qur'an. Ia mengibaratkannya dengan manusia. "Dalam dunia
manusia, ada yang suka koruptor, penzina, nyimeng, dan maksiat lainnya
pernah dengar adzan dan al-Qur'an, biasa aja mereka," tambahnya.
Terakhir, seperti yang disampaikan KH Aminudin Shaleh, Direktur Lembaga
dan Pengkajian al-Qur'an, Bandung, jika umat Islam dilanda kesusahan,
jangan sekali-kali meminta bantuan dukun. Sebab, hal inilah yang sangat
diinginkan oleh pelaku pemurtadan. Sebaliknya, kembalilah kepada
al-Qur'an dan Sunnah dengan mendekati para ulama yang sejati. Wallahu
a'lam.
Hepi Andi
--
ADW sudah TIDAK di Komplek MABAD Rawa Belong No. 14; Jakarta Barat;
Indonesia, sejak 31 - 07 - 2008
SEJAK 31 - 07 - 2008 adw tinggal di Koordinat GPS: 6° 12' 11.13" South -
106° 46' 52.75" East
- Yahoo Messenger ID : adrian...@yahoo.com (i usualy in front of my
computer every day at 17:00 - 21:00 (indonesian times); GMT + 7:00, and my
computer usualy 24/7 connect to internet
- website address : http://www.adriandw.com (about christian, jew and
islam; history, knowledge, teaching and practice on life)
- e - mail address : adri...@centrin.net.id
- Cellphone/Mobile/Hand Phone : +62 816 705 818 (video call acceptable/3G
acceptable)
- World Church baptized me Saint John in 1985
- World Church and World Synagogue acknowledged me as Messiah