Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita j
Pada tanggal 18/02/10, Matheus Nugroho <mattews_nugros@
yahoo.com> menulis:
> Dunia anak kecil penuh dengan kreatifitas yang terkadang ulahnya membuat
> kita tersenyum, tertawa, bahagia dan juga terkadang marah....
>
> Ita adalah contoh seorang anak kecil yang penuh dengan daya kreatifitas yang
> membuat ayah - ibunya tidak akan pernah lupa dengan apa yang telah
> dilakukannya. ..
>
> Sepasang suami istri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan
> anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini,
> perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan
> kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah
> dia bersama ayun-ayunan di atas
buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik
> bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
>
> Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai
> tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari
> marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya.
> Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi
> anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
>
> Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari
> macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke
> sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri,
> lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu
> berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
>
> Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri
itu melihat mobil yang
> baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si
> bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa
> ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar.
> Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat
> wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia
> terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa
> saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
>
> Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari
> kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu
> ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja
> seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang
> ranting kecil dari pohon di depan rumahnya,
terus dipukulkannya berkali-kali
> ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis
> kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah
> memukul pula belakang tangan anaknya.
>
> Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas
> dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus
> berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian
> ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu,
> pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
>
> Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil
> luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil
> menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga
> menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air.
Lalu si
> pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak
> itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si
> anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!”
> jawab bapak si anak.
>
> Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan
> waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.
> Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu
> juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam,
> Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu.
> Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat
> dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu
> kamar pembantunya.
>
> Masuk hari keempat, pembantu rumah
memberitahukan tuannya bahwa suhu badan
> Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap”
> kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke
> klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya
> susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan
> ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan
> agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan
> infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua
> tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan
> ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia
> berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
>
> Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan airmata
> isterinya, si
ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan
> pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
> habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua
> tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke
> wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.
> Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.
> “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah
> pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya
> berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga
> sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus
> membuat wanita itu meraung histeris.
>
> “Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan
> mengulanginya lagi! Bagaimana
caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita
> mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ”
> katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata
> anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada
> manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak
> cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum
> mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…
>
> Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran
> bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan
> wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…,
>
> Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap
> hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
>
>
>
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========= ====
> Ketika kamu melontarkan kemarahan kepada orang lain apalagi terhadap orang
> terdekat kita.. OrangTua Kita,..Pasangan kita..Anak-anak kita Kamu seperti
> menancapkan paku dipohon.. Kamu bisa mencabut kembali.. Tapi lubang bekas
> paku yang kau tancapkan.. Masih berbekas..
> Begitulah.. Kata-kata kemarahan yang kamu lontarkan.. Perbuatan kamu yang
> disebabkan karena kemarahan.. Meninggalkan lubang dihati..
> Walaupun kamu sudah meminta maaf.. Tapi lukanya tetap masih ada.. Perihnya
> masih tetap menyayat..
>
> Renungan bagi kita yang mempunyai anak, atau calon orang
> tua......Ingatlah… .semarah apapun kita, janganlah bertindak berlebihan.
> Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially
> pada anak2 yg masih kecil karena mereka masih belum tahu
apa2. dan ingatlah,
> anak adalah anugrah dan amanah yang dititipkan oleh ALLAH untuk kita.
> anugerah terindah.... ... yang akan membawa kita ke surga atau ke
> neraka......
>
> Menahan Amarah memang bukan pekerjaan mudah..
> Ketika ada orang yang memancing emosi kita.. Darah ini gampang sekali naik
> keubun-ubun. .
> Tangan sudah gemetar mau memukul.. Mulut sudah siap mengeluarkan sumpah
> serapah..
> Karena itulah ALLAH memberikan Surga yang seluas langit dan bumi.. Bagi
> manusia yang bisa menahan amarahnya..
>
> menjadi pendidik itu ternyata mudah......
> menjadi contoh bagi yang kita didik ternyata sangat sulit.....
> mudah2 bagi kita nanti dikaruniai anak yang bisa membawa kita ke surga....."