Trs: AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

14 views
Skip to first unread message

Endang Mis

unread,
Jun 7, 2011, 2:36:54 AM6/7/11
to Smuncis-1 Alumni

Judul: AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.

Hari  demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung  mereka
menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih  muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang  mana semua gadis di
sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri  lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau  membuat adikku dan aku berlutut di
depan tembok, dengan sebuah tongkat  bambu di tangannya.:

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan :

"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!".

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram
tangannya dan berkata :

"Ayah, aku yang melakukannya! ".

Tongkat  panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu 
marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan  nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan  memarahi,:

"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal  memalukan apa lagi yang
akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu  layak dipukul sampai mati! Kamu
pencuri tidak tahu malu!".

Malam  itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh 
dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di  pertengahan
malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.  Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata :

"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku  masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian  untuk
maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut  masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang  adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku  berusia 11. Ketika adikku
berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus  untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, saya  diterima untuk masuk ke sebuah universitas
propinsi. Malam itu, ayah  berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya,
bungkus demi  bungkus. Saya mendengarnya memberengut :

"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas. Sambil berkata :

"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?".

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata :

"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak
buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya sambil berkata :

"Mengapa  kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?. Bahkan jika berarti 
saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua  sampai
selesai!".

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di  dusun itu untuk meminjam uang.
Aku menjulurkan tanganku selembut yang  aku bisa ke muka adikku yang membengkak,
dan berkata :

"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan
pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.".

Aku,  sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke  universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku  meninggalkan rumah
dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit  kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan  meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:

"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan
mengirimu uang.".

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air
mata bercucuran sampai suaraku hilang.

Tahun  itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam 
dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen  pada
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun  ketiga (di
universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku,  ketika teman
sekamarku masuk dan memberitahukan :

" Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !".

Mengapa  ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat 
adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.  Aku
menanyakannya, :

"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia  menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan  mereka
pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan 
menertawakanmu? "

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi  mataku. Aku menyapu debu-debu dari
adikku semuanya, dan tersekat-sekat  dalam kata-kataku :

"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu
adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..".

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia
memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan :

"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus
memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
pelukanku dan menangis dan menangis.

Tahun  itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, 
kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di  mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di  depan ibuku. "Bu, ibu
tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk  membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum :

"Itu  adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah 
kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca  jendela baru
itu..".

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku.  Melihat mukanya yang kurus, seratus
jarum terasa menusukku. Aku  mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut
lukanya.aku bertanya :

"Apakah itu sakit?".

"Tidak,  tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, 
batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak  menghentikanku
bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti.

Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke
wajahku.

Tahun  itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di  kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang  dan tinggal
bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka  mengatakan, sekali
meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus  mengerjakan apa. Adikku tidak
setuju juga, mengatakan :

"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku  menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan 
pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku  menolak
tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja  reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk  memperbaiki sebuah kabel, ketika
ia mendapat sengatan listrik, dan masuk  rumah sakit. Suamiku dan aku pergi
menjenguknya. Melihat gips putih  pada kakinya, saya menggerutu :

"Mengapa kamu menolak menjadi  manajer? Manajer tidak akan pernah harus
melakukan sesuatu yang  berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang
begitu serius.  Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. :

"Pikirkan  kakak ipar...ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak 
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa  yang
akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah:

"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia
berusia 26 dan aku 29.

Adikku  kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun 
itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya  kepadanya :

"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?".

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab :

"Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat
kuingat :

"Ketika  saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari 
kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan  pulang ke
rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.  Kakakku
memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja  dan berjalan
sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu  gemetaran karena cuaca
yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang  sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah, selama saya masih hidup,  saya akan menjaga kakakku dan baik
kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya
kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku akhirnya keluar juga :

"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."

Dan  dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan  perayaan
ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Mulia Maulalathif

unread,
Jun 7, 2011, 4:45:51 AM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
mencoba sharing cerita, yang ini juga tak kalah mengharukan

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kulihat kembali tumpukan surat kabar di rak meja ruang tamu. “Kecelakaan Garuda Tewaskan Ratusan orang,” itulah topik yang selalu diberitakan dan menjadi hampir di semua surat kabar nasional yang terbit sekitar sebulan lalu. Tragedy itu jugalah yang menewaskan kedua orang tuaku dan membuat adikku satu-satunya terbaring koma sampai detik ini. Ada rasa sesal, sedih, kecewa, marah, dan benci yang teramat sangat. Kalau saja Tita adikku, tidak selalu merengek ingin liburannya ke Paris, pasti kecelakaan itu tidak akan membuatku, yang masih menjadi mahasiswa tingkat III, menjadi yatim piatu secepat ini.

Mungkin predikat anak sial yang kudeklarasikan untuk Tita memang tidak salah. Selama 15 tahun kurasakanbetapa bahagianya menjadi anak tunggal yang selalu dimanja. Orang tuaku yang merupakan pengusaha sukses selalu memberikan apapun yang kuminta. Tapi kehadiran seorang adik di tengah-tengah kami menjadikan hidupku berubah 180 derajat. Mama lebih memperhatikan Tita, dan menyuruhku selalu mengalah. Tidak hanya itu, kedua orang tuaku pun selalu membelanya meskipun jelas-jelas Tita-lah yang bersalah. Ibarat putri raja yang seketika menjadi anak tiri. Menyebalkan !!! Kebencian itu sudah kupupuk semenjak mama dinyatakan positif hamil. Dan setiap hari hanya stress yang aku rasakan bila sudah berada di dalam rumah, karena tidak ada sedetik pun yang terlewat bahi Tita untuk tidak mengganguku.

Kejadian kecelakaan itu tidak membuat setitik pun rasa iba, bahkan kebencianku semakin memuncak padanya. Dialah yang merebut kebahagiaanku, dan dialah yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kejadian itu benar-benar membawa kesialan bagi kehidupan pribadiku. Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk jalan dengan teman-temanku. Bahkan Indra, pacarku, memutuskan hubungan kami hanya karena aku terlalu sibuk dengan Tita. Selama sebulan di rumah sakit, aku baru menjenguk Tita 3 kali, itupun hanya untuk mengurus administrasi dan sekerdar formalitas di depan dokter saja.

Hari ini aku menjengik Tita. Gadis kecil yang diperlengkapi dengan selang dan alat bantu kehidupannya lainnya itu, terbaring di ruang ICU yang cukup luas dan bernuansa putih-putih. Saat melihat wajah itu hatiku selalu menjerit, “Dasar Pembunuh!! Kenapa kamu tidak mati saja sekalian! Anak sial, kamu tidak hanya merebut mama dan papa tapi teman-teman saya, Indra, dan semua kebebasan saya!!” tak terasa air mata mengalir di pipiku, bukan air mata kesedihan, tapi jelas air mata kebencian. Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya saja sekalian. Kehidupannya hanya akan menjadi beban seumur hidupku!!

Tak kuasa menahan tangis, akhirnya aku keluar menuju taman rumah sakit dan duduk di salah satu bangku taman yang terlindung sengatan matahari oleh sebuah pohon yang rindang. Dan di situlah air mataku mengalir deras. Tiba-tiba kusadari ada gadis kecil dengan rambut dikuncir dua sedang memperhatikanku. Seketika itu pula aku teringat Tita, dan kebencian itu mendidihkan darahku kembali.

“Ngapain sih? Tidak ada kerjaan apa ngeliatin orang nangis. Anak kecil kayak kamu bukannya sekolah malah main-main di rumah sakit!” bentakku.

Yang dibentak hanya tersenyum.

“Namaku Rara, kakak siapa?”

“Yee… nih anak bukannya pergi. Udah deh, kakak lagi stress, jangan bikin kepala kakak jadi mumet.”

“Semua orang yang ke rumah sakit pasti mumet, tapi itulah hidup, kadang sehat, kadang sakit. Orang suka lupa sama tuhan kalau lagi sehat, tapi kalau sakit, apalagi deket-deket mau meninggal, eh bukannya taubat malah nyalahin Tuhan, kok tuhan ngasih cobaan seberat ini,” jawabnya yang membuatku melongo.

“Ih, dasar anak kecil sok tahu!!”

“Aku tahu, adik kakak sedang koma ya”

“Gak usah dibahas deh!! Gara-gara dia, mama dan papa meninggal.”

“Dia beruntung karena dia masih punya kakak. Aku juga sakit. Suatu saat nanti Tuhan akan mengambil penglihatanku, tapi aku yakin Tuhan akan membantu dalam kebutaanku karena Dia selalu adil pada semua orang, dan tidak akan membiarkan seorangpun mendapat cobaan yang tidak bias ditanggungnya.”

***

Kejadian hari itu benar-benar telah membuka mata hatiku. Seorang anak kecil telah mengajarkanku arti kehidupan. Ia benar, Tita hanya tinggal memilikiku. Aku tak pernah membayangkan bagaimana perasaannya saat ia tahu mama dan papa telah meninggal.

Entah mengapa akhir-akhir ini aku malah merindukan kehadiran Tita. Rumah ini benar-benar sepi tanpa canda dan kata-kata polosnya yang selalu membuat mama terpingkal-pingkal. Kulangkahkan kakiku ke kamar Tita di lantai atas. Kamar yang bernuansa pink, gambar kartun dimana-mana. Kamar yang tak pernah kudatangi sejak tragedi itu.

Tiba tiba mataku menangkap sebuah buku harian bergambar mickey mouse. Kubuka lembar demi lembar. Tak kusangka gadis berusia 7 tahun itu menulis segalanya tentang diriku.

“Kak Aurora adalah kakak paling cantik di dunia. Aku sayang padanya, amat cinta padanya. Aku hanya ingin kakak bahagia, aku ingin seperti teman-teman, aku ingin kakak mengajakku jalan-jalan, aku ingin kakak mengajariku matematika, karena dia sangat pintar. Tapi kok kakak tak pernah mau ya?? Aku sedih. Aku pernah Tanya sama mama apa kakak membenciku, tapi kata mama kakak sangat saying padaku, dia Cuma tidak enak badan, makanya malas ngomong sama aku. Aku suka ngejailin kakak, karena aku mau main sama kakak, tapi aku sedih karena kakak menampar mukaku. Aku tidak bilang sama papa, takut kakak dimarahi, dan nanti malah membenciku. Aku nangis semalaman saat kakak membuang kado ulang tahun yang aku kasih, padahal aku membeli kado itu dengan uang jajan yang aku tabung selama seminggu, sampai-sampai aku lapar karena tidak bisa jajan. Kakak,marah-marah waktu baju pestanya bolong. Tadinya aku Cuma ingin menyetrika baju itu biar tidak kusut, tapi pas lagi nyetrika, aku dipanggil mama, eh aku lupa, bajunya jadi bolong, terus aku dimarahin abis-abisan deh.

Diari, aku punya rahasia besar!! Kakak kan punya pacar namanya Indra, tapi aku tidak suka sama dia!! Aku tau dia punya pacar lain, kak veronica, sahabat kak Aurora. Aku pernah liat meraka mesra-mesraan waktu aku nganterin mama ke mall. Tapi aku tidak berani bilang karena aku takut kakak marah dan tidak percaya, aku takut ditampar kayak waktu itu. Asyiik… besok aku ke Paris sama mama dan papa, tapi kakak tidak ikut karena lagi ujian, tapi aku janji akan beliin oleh-oleh yang buaaaanyak untuk kakak. Aku ingin kakak juga bahagia…”

Air mataku mengalir deras, kapalaku seperti terhantam ombak. Ya Tuhan, bagaimana selama ini aku menyia-nyiakan adik kandungku. Kecintaannya kepadaku yang mendalam malah kubalas dengan kebencian yang membara. Kado itu, baju pesta itu, dan tamparan yang merupakan puncak kekecewaanku, rahasia tentang Indra…..BODOH!!! Kamu adalah manusia yang paling kejam di dunia, Aurora. Adik yang bagaikan malaikat itu telah kau sakiti hatinya! Telah kau robek perasaannya! Adik yang selalu mengingatmu dan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, malah kau tindas! Aku kembali teringat dengan tamparan itu. Aku menamparnya dengan sangat keras, sampai pipinya benar-benar merah, tapi ia hanya tersenyum dan bilang “Terima kasih, Kak.”

Ya Tuhan, izinkan aku untuk menebus dosa dan kesalahanku. Tapi….semua itu terlambat. Tepat pukul 23.00 WIB malam itu, pihak rumah sakit meneleponku dan mengabarkan Tita telah pergi untuk selama-lamanya.

Sekarang aku sendiri, hanya sendiri. Permohonan bodohku agar Tuhan mengambil nyawa adikku benar-benar terkabul. Seminggu setelah pemakaman Tita, aku kembali ke rumah sakit untuk menemui Rara, tapi pihak tumah sakit mengatakan bahwa Rara telah meninggal semingu yang lalu. Ia terlindas truk, karena pada saat menyeberang, penyakit gloukoma yang selama ini dideritannya telah menyebabkan kebutaan yang mendadak, sehingga ia tak mampu melihat saat ada truk yang melintas. Rara adalah gadis kecil yang selama ini dirawat oleh pihak rumah sakit. Dulu, Rara ditemukan di sebuah selokan karena dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.

Dua orang gadis kecil yang telah mengajariku arti kehidupan dan memberikan cinta kepadaku, kini telah pergi untuk selamanya. Hanya penyesalan yang tersisa, tapi itu menjadi pelajaran yang amat berarti untuk masa depanku. Merakalah malaikat kecil yang selalu ada dan tetap aka nada untuk selamanya di dalam hatiku


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2011/6/7 Endang Mis <misbah...@yahoo.com>
--
====================================================
> upami bade nga-posting, kirim ka email :smu...@googlegroups.com
> upami ngagaduhan tatanggi atanapi rerencangan sa Smuncis nu bade
di tambihkeun ka iyeu millist, emailkeun wae ka Ogut alamat emailna.
> salangkungna tiasa ditinggali ti URl dihandap iyeu :
http://groups.google.co.id/group/smuncis?hl=id?hl=id
> Ini alamat situs resmi sekolah kita http://smancis.sch.id
====================================================



--
Best Regard,


Mulia Maulalathif, SE
-----------------------------------------------
Promotion Department
PT SARAKA MANDIRI SEMESTA
HERBAL MEDICINES INDUSTRIES
Jl. Pancasila I Cicadas Gn. Putri - Bogor
Telp. (021) 86862288
Fax. (021) 86862299

Endang Mis

unread,
Jun 7, 2011, 5:00:00 AM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
Terima kasih, atas kiriman e-mail nya.
Pada kemana ya Mul, para sahabat alumni smuncis.
Sedang pada sibuk kali ya??????


Dari: Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Sel, 7 Juni, 2011 15:45:51
Judul: Re: [smuncis] Trs: AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Mulia Maulalathif

unread,
Jun 7, 2011, 5:07:59 AM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
yah maybe pada sibuk ato lupa buka email kali.. hehehe... kalo aku berhubung ini email bisnis, jadi always di buka....

2011/6/7 Endang Mis <misbah...@yahoo.com>

Endang Mis

unread,
Jun 7, 2011, 5:14:46 AM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
Betul betul betul....sabar aja dulu, karena sebentar lagi mau Ramadhan, jadi kita usahakan bisa disambung lagi tali silaturrahmi.


Dari: Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Sel, 7 Juni, 2011 16:07:59
Judul: Re: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

susilawati Susilawati

unread,
Jun 7, 2011, 5:25:57 AM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
Wilujeneg sonten atuh akang2, bade tumaros ari iyeu milis teh bebas kitu kriteria postingan na?

Salam,

Susi- class of 2003


From: Endang Mis <misbah...@yahoo.com>
To: smu...@googlegroups.com
Sent: Tuesday, June 7, 2011 4:14 PM
Subject: Bls: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Mulia Maulalathif

unread,
Jun 7, 2011, 5:32:26 AM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
Endang, yup... mudah-mudahan kita bisa sambung lebih erat lagi ramadhan nanti....

Susi, yup... disini bebas untuk mengirim artikel atau hanya sekedar sapaan.... mangga di antos...

2011/6/7 susilawati Susilawati <susi_n...@yahoo.com>

Endang Mis

unread,
Jun 7, 2011, 6:15:02 AM6/7/11
to smu...@googlegroups.com, cece, Dudun Ibrahim, Yayat Hidayat AB, Hermawati Rahayu
Benar and Leureus kata Kang Mulia, kita mah bebas ya, yuk kita galakan lagi millis alumni smuncis yg dirintis Kang Mulia.
BTW, dari angkatan 88/89 pernah tercetus mau ngadain basket dengan adik-adik siswa smuncis, cuma kemarin terhalang UN dan Smesteran.
Kumaha Kang Dudun? Jadi tidak persahabatan basket nya.


Dari: susilawati Susilawati <susi_n...@yahoo.com>
Kepada: "smu...@googlegroups.com" <smu...@googlegroups.com>
Terkirim: Sel, 7 Juni, 2011 16:25:57
Judul: Re: Bls: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Mulia Maulalathif

unread,
Jun 7, 2011, 9:02:46 PM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
Ralat... yang bikin milis ini Kang Roy... saya hanya meramaikan sajah.... hehehe.... ayolah ajak yang lain meramaikan lagi milis ini, siapa tahun tercetus untuk rencana silaturahmi lebaran nanti???

2011/6/7 Endang Mis <misbah...@yahoo.com>

Hermawati Rahayu

unread,
Jun 7, 2011, 10:55:31 PM6/7/11
to smu...@googlegroups.com

Duh,,,, para saderek..... kumaha damang???
kamarana wae atuh...??? hehehehe
saribuk panginten nya????



--- Pada Rab, 8/6/11, Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com> menulis:

Endang Mis

unread,
Jun 7, 2011, 11:08:34 PM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
Maaf...maaf...maaf. Saya suka ketukar-tukar nama orang. BTW Teh Hilda, Teh Yayu. sekarang pada kemana ya?


Dari: Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Rab, 8 Juni, 2011 08:02:46

Endang Mis

unread,
Jun 7, 2011, 11:20:13 PM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
Saya teh alhamdulillah baik, cuma kemarin tiarap dulu, karena sempat jadi PEJABAT = Pengangguran urang Jawa Barat.
Ayeuna aktif deui, sok atuh Teh Yayu uranf ramekeun deui.
Punteun Teh, untuk komunikasi lewat telepon, abdi teh tos geuntos nomer, anu lawas, ilang tanpa karana sareung alatna, aya nu ngagondol.
Kitu tah Teh riwayatna abdi.
Salam kasadayana group millis, terutami ka penggagas ieu millis.


Dari: Hermawati Rahayu <yayum...@yahoo.co.id>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Rab, 8 Juni, 2011 09:55:31

Mulia Maulalathif

unread,
Jun 7, 2011, 11:20:19 PM6/7/11
to smu...@googlegroups.com
damang teh yayu, kumaha kabarna? lama nih gak meramaikan lagi milis kita... hehhe

2011/6/8 Endang Mis <misbah...@yahoo.com>

Hermawati Rahayu

unread,
Jun 8, 2011, 1:57:15 AM6/8/11
to smu...@googlegroups.com
Mulya,,,, alhamdulullah sehat, kang endang, tapi sekarang dah kerja lagi kan kang? kerja dimana???

Roy mana ya....????
kaclep tanpa kabar...


Thanks & B'Regards

 Yayumaniez ** Export & Import Dept. Staff ** PT. MANITO WORLD ** Telp. 62-266-737111 ext. 117 ** Hp. 081315505427



--- Pada Rab, 8/6/11, Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com> menulis:

Dari: Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com>
Judul: Re: Bls: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Endang Mis

unread,
Jun 8, 2011, 2:11:06 AM6/8/11
to smu...@googlegroups.com
Sekarang saya kuli-ah di daerah alam sutera, di persh.sandal


Dari: Hermawati Rahayu <yayum...@yahoo.co.id>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Rab, 8 Juni, 2011 12:57:15

roy

unread,
Jun 9, 2011, 6:40:34 AM6/9/11
to smu...@googlegroups.com
Howdy......

Assalamu'alaikum......

aduhh...parunteun yeuh... sanes kaclep sanes ngaleungit.... maklum atuh ari bagean bunta-bantu mah sok seueur di tutah titah..... kaditu kadieu, ungkat-angkut.... macem2 dah, jadi rada hese bade mengudara teh.... hehehe.....

Ari jagoan mah, bade ninggalikeun heula we ti jauhan... hehehe.... sok dilajengkeun heula ah......

salam,
roy

Pada 8 Juni 2011 13:11, Endang Mis <misbah...@yahoo.com> menulis:
Sekarang saya kuli-ah di daerah alam sutera, di persh.sandal

--
====================================================
> upami bade nga-posting, kirim ka email :smu...@googlegroups.com
> upami ngagaduhan tatanggi atanapi rerencangan sa Smuncis nu bade
di tambihkeun ka iyeu millist, emailkeun wae ka Ogut alamat emailna.
> salangkungna tiasa ditinggali ti URl dihandap iyeu :
http://groups.google.co.id/group/smuncis?hl=id?hl=id
> Ini alamat situs resmi sekolah kita http://smancis.sch.id
====================================================

--
====================================================
> upami bade nga-posting, kirim ka email :smu...@googlegroups.com
> upami ngagaduhan tatanggi atanapi rerencangan sa Smuncis nu bade
di tambihkeun ka iyeu millist, emailkeun wae ka Ogut alamat emailna.
> salangkungna tiasa ditinggali ti URl dihandap iyeu :
http://groups.google.co.id/group/smuncis?hl=id?hl=id
> Ini alamat situs resmi sekolah kita http://smancis.sch.id
====================================================



--
Best Regards,

Roy Indra Lesmana
Email 1: royindr...@gmail.com
Email 2: dragr...@yahoo.com

Mulia Maulalathif

unread,
Jun 9, 2011, 8:56:14 PM6/9/11
to smu...@googlegroups.com
tah ningan, dedengkot milisna nonghol hehehe... kumaha kabarna klang roy? damang atuh?

2011/6/9 roy <royindr...@gmail.com>



--

roy1

unread,
Jun 9, 2011, 9:09:11 PM6/9/11
to smu...@googlegroups.com

Alhamdulillah damang....
Nuju sibuk naon yeuh kang mulya ayeuna??? Sok atuh urang ktmuan di bogor ah... Urang makan soto bogor, hehehe....

From: Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com>
Date: Fri, 10 Jun 2011 07:56:14 +0700
Subject: Re: Bls: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Mulia Maulalathif

unread,
Jun 9, 2011, 9:13:13 PM6/9/11
to smu...@googlegroups.com
hayu, kapan atuh, saya mah sibuk di kantor aja da, antara bogor jakarta aja kerjaan mah...

2011/6/10 roy1 <royindr...@gmail.com>

Endang Mis

unread,
Jun 9, 2011, 9:33:03 PM6/9/11
to smu...@googlegroups.com
Alhamdulillah, ternyata bobotoh urang sarerea akhirna muncul, kumaha khabarna ? Yuk urang ramekeun deui millis urang sarerea.



________________________________
Dari: roy <royindr...@gmail.com>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Kam, 9 Juni, 2011 17:40:34

Judul: Re: Bls: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Endang Mis

unread,
Jun 9, 2011, 9:34:33 PM6/9/11
to smu...@googlegroups.com
Wahh....ajak ajak atuh, kuring ge di bogor aya .................


Dari: roy1 <royindr...@gmail.com>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Jum, 10 Juni, 2011 08:09:11
Judul: Re: Bls: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Mulia Maulalathif

unread,
Jun 9, 2011, 9:42:28 PM6/9/11
to smu...@googlegroups.com
hayu kang endang, nu di bogor urang ngariung yuk....

2011/6/10 Endang Mis <misbah...@yahoo.com>

Endang Mis

unread,
Jun 9, 2011, 11:18:23 PM6/9/11
to smu...@googlegroups.com
Saya teh punya teman (Alumni SMUNCIS angakatan 88/89 namanya Nia Kurnia dan Guru Geographi Namanya Ibu Ulla, juga di bogor. kalau ketemuan mantap benarrrrrr.
Kang Cece, Kang Dudun, sareung nu sanesna, kamarana yeuuhhhhh ??????


Dari: Mulia Maulalathif <loveis...@gmail.com>
Kepada: smu...@googlegroups.com
Terkirim: Jum, 10 Juni, 2011 08:42:28

roy1

unread,
Jun 10, 2011, 2:21:03 AM6/10/11
to smu...@googlegroups.com
Sok cari atuh kang di google, bogor na dimana...., bisi tatangga abdi di bogor na, hehehe



From: Endang Mis <misbah...@yahoo.com>
Date: Fri, 10 Jun 2011 11:18:23 +0800 (SGT)
Subject: Bls: Bls: [smuncis] AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages