Rekan sekalian,
Saya nukilkan dari mail kantor, untuk tambahan pengetahuan kita. Disekitar kita banyak hal sepele tapi ternyata bermanfaat. *****************************************
Kecil tidak selalu berarti biasa-biasa
saja. Reputasi cabai rawit membuktikan ungkapan itu. Selain unggul rasa
pedasnya, cabai rawit juga mengandung banyak manfaat sebagai obat.
Cabai rawit (Capsicum
frutescen) ditemukan oleh
suku Indian, Amerika Selatan, sebelum abad ke-16. Setelah itu bangsa Portugis
dan Spanyol gencar memperdagangkan komoditi ini ke seantero dunia.
Perkembangan pengobatan dengan menggunakan cabai berukuran kecil ini sebenarnya
sudah lama terjadi. Penelitian modern tentang penggunaan cabai rawit sebagai
obat dilakukan pertama kali oleh seorang ahli botani bernama John Gerard,
penulis buku History of Herbal, pada tahun 1597.
Lalu, pada tahun 1652, Dr. Nicholas Culpeper, alumnus Cambridge University,
Inggris, melakukan penelitian yang sama. Ia menyebutkan bahwa cabai rawit dapat
digunakan untuk mengobati sakit gigi, melancarkan pencernaan dan urin, serta
mengeluarkan batu ginjal.
Kandungan cabai rawit yang kerap digunakan sebagai obat adalah capsaicin.
Sifat dari zat yang tidak larut
dalam air ini memberikan rasa pedas dan panas yang tak hanya dapat dirasakan
tubuh, tapi juga kulit.
Zat tersebut memiliki kekuatan untuk mengontrol rasa sakit. Rasa panas ini,
dalam beberapa literatur disebutkan akan memberikan efek pada jaringan yang
berhubungan langsung dengan zat P dan mencegah akumulasi dari zat tersebut.
Zat P ini berfungsi sebagai pemberi pesan rasa sakit dalam tubuh kepada saraf
penerima yang kemudian disampaikan kepada otak. Makanya, aktivitas capsaicin dalam mengobati rasa sakit cukup baik. Sebab, zat ini hanya
berpengaruh pada satu jenis saraf penerima rasa sakit saja.
Memicu
Endorphin
Di sisi lain, capsaicin juga bisa memicu pembentukan hormon endorphin yang
diproduksi oleh otak. Hormon endorphin akan terbentuk bila tubuh berada dalam
kondisi bahagia atau senang.
Keluarnya hormon tersebut akibat suatu rangsangan secara tidak langsung dapat
meningkatkan kekebalan tubuh. Pada saat inilah reseptor pada saraf dapat
memberikan rasa nyaman pada bagian tubuh yang sakit.
Pada penelitian lain disebutkan, selain baik untuk menghilangkan rasa nyeri
akibat sakit kepala, capsaicin juga berguna untuk mengatasi arthritis atau
radang sendi.
Di Cina dan Jepang, ramuan cabai rawit digunakan sebagai stimulan bagi orang
yang mengalami gangguan pencernaan, cabai rawit akan meringankan keluhan
tersebut dengan merangsang jalan kelenjar saliva (air liur) dan sekresi pada
perut.
Capsaicin dipercaya membentuk kembali jaringan pada perut dan membantu
gerakan peristaltik pada usus besar dengan menstimulasi sekresi lambung. Dengan
begitu, tubuh dapat membuang sisa makanan hasil pencernaan dengan lancar dan
membentuk asam hidroklorit guna mencerna sarinya.
Melancarkan
Darah untuk mengurangi resiko serangan Jantung
Yang tidak kalah penting, cabai rawit juga dapat melancarkan sirkulasi darah
dan meredakan pembengkakan yang terjadi pada pembuluh darah vena. Pembuluh
darah vena berbeda dengan arteri yang memiliki diameter yang lebih sempit,
sehingga lebih mudah menjadi bengkak.
Cabai rawit membantu sirkulasi darah melalui pembuluh vena dengan mudah.
Tanaman ini dapat pula mencegah pembekuan darah karena bersifat antikoagulan.
Karena mengandung vitamin C serta bioflavonoid, cabai rawit dapat mencegah
serangan jantung. Dua kandungan tersebut mampu memperkuat dinding pembuluh
darah vena serta dapat mengembalikan elastisitas pembuluh darah.
Menurut beberapa penelitian, pencegahan terhadap serangan jantung lewat cabai
rawit ini sama baiknya dengan pengobatan modern. Dengan cabai rawit, rasa sakit
pada angina pectoris saat otot jantung kekurangan darah, dapat hilang.
Capsaicin dapat dengan mudah masuk ke meridian jantung, lalu memompa darah dan
nutrisi ke otot jantung. Itu berarti cabai rawit memiliki kandungan nutrisi yang
baik untuk kesehatan jantung.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Journal of Idaho Observer pada bulan
Mei 2003 oleh para dokter di Pantai Barat Amerika membuktikan bahwa sebuah
jaringan di jantung dapat hidup dan terus berkembang hanya dengan pemberian
ekstrak cabai rawit. Menurut Wahyu Suprapto, seorang ahli tanaman obat, ekstrak
cabai rawit bisa didapat melalui proses penghalusan menggunakan blender.
Seorang ahli tanaman obat dan pengobat tradisional dari AS, Dr. John R.
Christopher, menjelaskan bahwa cabai rawit memiliki banyak kegunaan yang belum
diketahui oleh masyarakat. Ketidaktahuan tersebut terjadi karena persepsi
masyarakat yang menganggap cabai rawit sangat pedas dan menjadi berbahaya jika
digunakan sebagai obat.
