[share]: Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?

1 view
Skip to first unread message

eriek

unread,
Dec 9, 2011, 5:22:47 AM12/9/11
to smalimo-2001
bagus buat teman-teman pendidik (guru,dosen,dll). sebagai renungan atau harapan untuk putra-putrinya? wallahu 'alam.
semoga bermanfaat.

salam,
erie khafif mukti


Benarkah Makin Berat, Makin Hebat? 
Oleh RHENALD KASALI Ketua Program MM UI 

Sebagian besar pembaca mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi sulit,
sehingga kaya berbagai peribahasa, seperti: hemat pangkal kaya dan
rajin pangkal pandai. Kita bermain layang-layang, menangkap
belut,bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda,
tawa,dan keringat. 

Bagaimana anak-anak sekarang? Lahan kosong berganti menjadi kebun sawit
atau perumahan mewah.Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain
layang-layang dan air yang mengalir bening. Tapi anak-anak punya mainan
baru, Facebook,Twitter, Online Games, warung internet,dan bimbingan
belajar. 

Pergaulan fisik diganti dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung
diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata
pelajaran, sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana
anakanak kita? Bukannya dikurangi, melainkan semakin hari yang
dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. 

Sementara di Selandia Baru dan banyak negara maju anakanak sekolah
hanya mengambil enam mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit "The
Power of Simplicity". kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut,
"kalau terlalu mudah, tidak akan melahirkan kehebatan". 

Bukan hanya itu, di banyak negara, selain dirampingkan, mata ajar wajib
juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan
karier. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar
yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya
hanya semu, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan
sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. 

Ubah Cara Pandang 

Namun, sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, China, dan
Selandia baru,adajugaorangtu ayangprotes. Mereka tak menginginkan
sekolahnya dibuat lebih mudah."Sekolah itu memang harus sulit dan
anak-anak harus berjuang". Saya dapat mengerti pandangan ini, karena
anaknya termasuk cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai
tinggi.

Namun, saya kurang mengerti bagaimana orang tua rela menyita seluruh
waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar. Mendidik bukanlah untuk
melahirkan orang-orang yang tahu semua, tapi selalu bertanya, "Saya
harus melakukan apa?". Ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang
tak bisa bekerja dengan prioritas.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta
dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup.Untuk
itulah, talenta harus diasah, diberi ruang,dan waktu agar ia
tumbuh.Leadership maupun entrepreneurship diasah dari keseharian di
luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan. 

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping,
apakah benar menjadi lebih baik.Saya selalu teringat masa-masa memulai
karier sebagai penguji di program S-3.Saat seorang tua,kandidat doktor
diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. 

Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang
pemula. Tetapi semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri,
di-ongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua
menyatakan tidak puas.Sebagai doktor muda yang baru kembali dari
sekolah doktor, saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,
"Beginikah cara Bapak-Bapak menguji seorang calon doktor?"

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya.
Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru
saya dan terkenal di hadapan publik.Karena malu telah berkata- kata
bodoh,saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya
diri. 

Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede.Lagi
pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini.Semua dosen hanya
marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi
saran yang saling bertentangan. Saya pun mengatakan,andaikan saya yang
diuji di sini, saya beranijaminsaya puntidakakan lulus.

Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat,kita hanya diuji oleh
empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai,
malah dibantu. Di SLTA negara-negara maju,jumlah mata ajar memang
ramping,tetapisejak remajamereka sudah biasa membuat makalah dengan
kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah. 

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat
menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku
ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis
berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan
ini. 

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan
ini, kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Tidakkah
kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum
persekolahan kita? Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik
dengan baik kalau hanya belajar enam mata pelajaran seperti di Selandia
Baru, Denmark, atau negara-negara industri lainnya? 

Namun, fakta yang saya temui ternyata pendidikan yang hanya fokus pada
enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan
SelandiaBaruterbaik keenamdi dunia.Rasanya di sana juga tak ada siswa
yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita
meremajakan cara berpikir kita?



http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 412716/44/

pan...@gmail.com

unread,
Dec 9, 2011, 10:33:52 AM12/9/11
to smalim...@googlegroups.com
Brarti mulai2 kumpulin modal utk nyekolahkan anak kita kelak di selandia baru? Msk akal jg sih, skolah disini rasa di penjara ya? Beruntung ane msh sempat ngerasain nikmatnya skolah cm smp jam setengah 1 wkt sd dan sma pun plg skul jam 1 ya klo ga salah,, nikmatnya maen layangan, kelereng, petak umpet, dll yg melibatkan fisik dan sosialisasi nyata :o
Sent from my BlackBerry®

From: eriek <erie....@gmail.com>
Date: Fri, 9 Dec 2011 17:22:47 +0700
To: smalimo-2001<smalim...@googlegroups.com>
Subject: [smalimo-2001] [share]: Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?

Aseb Sebastian

unread,
Jun 25, 2012, 11:46:12 PM6/25/12
to smalim...@googlegroups.com
yo, semoga siapapun di antara kita kelak yang jadi pemimpin bisa memperbaiki system yang dak efektif ini. amin YRA. kita perlu belajr dan mengakui negara2 maju yang system pemerintahannya pada banyak bidang baik dan bermanfaat untuk rakyatnya, salam sukses

Dari: "pan...@gmail.com" <pan...@gmail.com>
Kepada: smalim...@googlegroups.com
Dikirim: Jumat, 9 Desember 2011 23:33
Judul: Re: [smalimo-2001] [share]: Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?

eriek

unread,
Jun 25, 2012, 11:55:01 PM6/25/12
to smalim...@googlegroups.com
aamiin. semoga seb. btw, apo kabar seb? euro dukung sapo? :D

Aseb Sebastian

unread,
Jul 3, 2012, 8:42:56 AM7/3/12
to smalim...@googlegroups.com
alhamdulillah baek rie. dukung spanyol dan alhamdulillah juara :-) telat bales emailnyo


Dari: eriek <erie....@gmail.com>
Kepada: smalim...@googlegroups.com
Dikirim: Selasa, 26 Juni 2012 11:55
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages