Persema (Subangkit)
Pola 3-5-2
Kiper : Sukasto
Belakang : Seme Patrick, Suroso, Park chul Hyung (bukan Ji Sung)
Tengah : Robi Gaspar, Bima Sakti, Siswanto, Jainal Ichwan, M. Kamri
Depan : Bima Pepito Sanusi, Jairon Feiliciano
Persik (bukan lagi Gusnul Yakin)
Pola 4-4-2
Kiper : Fauzi Toldo
Belakang : Sulis Budi, Gunawan Dwi Cahyo, Mekan Nashirov, Wawan Widiantoro
Tengah : Suswanto, Jefri Dwi Hadi, Amarildo Sousa, Mahyadi Panggabean
Depan : Yongki Aribowo, Pato Moralez
Susah untuk dipungkiri, saya memang ngefans sama Persema, terutama melihatnya sebagai sebuah hasil kerja dari Pelatih Subangkit. Tim selalu dan selalu tampil menyerang. Dimanapun, baik kandang maupun tandang. Kali ini mereka menghadapi Persik, sebuah kesebelasan yang juga mengusung misi menyerang. Sama juga, dimanapun, baik di kandang maupun tandang. Jadi inilah suatu contest sepakbola menyerang. Pasti selalu enak untuk ditonton.
Persik kali ini tampil tidak lagi di bawah asuhan Gusnul Yakin, tapi penggantinya (maaf saya belum mengetahui persis) tentu masih akan mempertahankan permainan Persik selama ini. Sangat riskan langsung merubah pola dan merubah taktik permainan. Satu yang mencolok, tapi mungkin bukan karena pelatih baru, Sulis Budi Prasetyo menggantikan O.K. John berduet dengan Gunawan Dwi Prasetyo sebagai dua orang centre back. Kemungkinan besar O.K. John mendapat akumulasi kartu. Wawan yang selama ini dikenal sebagai supersub masuk sebagai starter. Ia diposisikan sebagai full back kiri. Dengan masuknya Wawan dari menit awal, Mahyadi didorong naik menempati sayap kiri. Selebihnya formasi persik tetap sama dengan mengandalkan duet maut Yongki dan Pato Morales.
Babak Pertama
Karena ini contest sepakbola menyerang, maka yang terjadi memang saling serang antara kedua belah pihak. Namun tentu saja Persema yang mengambil inisiatif serangan lebih dulu. Tampil dengan pola 3-5-2 tapi sangat aktif dalam menyerang. Beberapa kesempatan bahkan Suroso yang nota bene adalah seorang centre back ikut membantu serangan sampai jauh masuk ke pertahanan Persik. Suatu kali, Bima Sakti yang melihat pergerakan dari Brima Pepito Sanusi memberikan umpan lambung, umpan lambung tersebut melewati Sulis Budi yang tidak mampu mengantisipasinya. Bola kemudian berhasil di chip dan masuk ke gawang Fauzi Toldo.
Menit 30-an Subangkit mengganti M. Kamri dengan Iswandi. Subangkit rupanya melihat perlunya seseorang yang bermain di belakang duet strikernya. Siswanto yang sebelumnya diplot untuk bermain seperti itu rupanya lebih cocok berada di sisi lapangan. M. Kamri yang bergerak dari sisi kiri seharusnya juga mampu untuk bertahan jika diperlukan. Maka dengan keunggulan 1 gol ini pertahanan menjadi penting, digantilah M. Kamri dengan Siswanto yang lihai bermain di sayap dan sedikit ada kemampuan bertahan. Selalu ada solusi dari Subangkit terutama melihat ketersediaan pemain. Bahkan bermain dengan tiga back juga menunjukkan Subangkit memang tidak pernah kehabisan akal. Ini untuk memanfaatkan Park Chul Hyung yang berpostur besar. Sehingga jika tiga orang back berpostur besar yakni Seme, Suroso dan Park tiga-tiganya siap, 3-5-2 yang menyerang, kenapa tidak?
Selanjutnya adalah serangan-serangan dari Persema yang beberapa kali gagal dimanfaatkan untuk menjadi gol. Finishing yang kurang titis oleh para penyerang mewarnai serangan dari Persema. Namun beruntung karena mencoba dilewati oleh Siswanto membuat Mekan tanpa sengaja menyentuh bola dengan tangannya di dalam kotak penalty. Wasit memberikan penalty untuk Persema yang dieksekusi dengan baik oleh Jairon Feiliciano. 2-0 untuk Persema.
Babak Kedua
Tidak ada tanggapan berupa perubahan formasi maupun pergantian pemain dari Persik memasuki babak Kedua. Persik masih percaya dengan formasinya. Yang mengherankan sebenarnya adalah tidak optimalnya Pato Morales, lain halnya dengan Yongki yang menurut saya penampilannya sangat stabil dan selalu mengancam gawang Persema. Suatu kesempatan Amarildo masuk ke kotak penalty dan mendapat pelanggaran dari Park yang menyebabkan wasit menunjuk titik putih, penalty untuk Persik. Amarildo sendiri yang mengambil tendangan dan 2-1 Persik memperkecil ketinggalan.
Tapi mungkin inilah perlunya strategi serangan balik. Persik tidak melakukan itu, mereka betul-betul frontal saling menyerang dengan Persema. Jelas kali ini Persema unggul cc karena main di kandang. Persema memang nawaitunya juga jelas menyerang. Semua pemain tidak perduli posisinya tampil ikut menyerang. Park bahkan seharusnya membuat gol dengan sundulan. Ia tidak terkawal dan dapat melakukan sundulan dengan bebas.
Suatu kesempatan Jainal Ichwan dari sayap kanan menggiring bola kedepan, ia melihat Jairon dan Pepito mendapat pengawalan dan tidak memiliki cukup ruang. Namun ia melihat Iswandi yang memang bermain di belakang kedua striker tidak dalam pengawalan. Ia kemudian memberikan umpan ke Iswandi yang kemudian secara mengejutkan menusuk ke kotak penalty, Sulis Budi yang sebelumnya mengawal striker berinisiatif menutup pergerakan Iswandi, namun terlambat karena Iswandi mampu melepaskan tembakan menyusur tanah yang tidak dapat dijangkau Fauzi Toldo, 3-1 untuk Persema. Saya melihatnya sebagai keberhasilan apa yang diterapkan oleh Subangkit menempatkan Iswandi dibelakang dua striker. Saya juga melihat sosok Jainal Ichwan sebagai sosok yang selalu menjadi andalan Subangkit, kemungkinan pemain ini yang paling mudah untuk diberikan instruksi oleh Subangkit.
--
Posting oleh Rachmanto ke Cintaku Sepakbola Indonesia pada 2/21/2010 08:15:00 PM