Diaterbangun dari kesakitan terkadang cinta harus bisa mengikhlaskan kesakitan.
Setelah zainuddin terbangun, memulai hidup baru zainuddin ambil keputusan untuk untuk merantau ke batavia bersama bag uluh, setelah sampai ke batavia zainuddin bersama bang uluh mereka melihat sebuah kapal buatan belanda yang sangat besar van der wajck, dan mereka berkata kita harus bisa sukses di sini jangan membuat cinta mematahkan cita-cita, kita harus membuktikan bahwa kita bisa.
Zainuddin mulai berkarya dengan menulis kisahnya ke dalam novel harian dan zainuddin terkenal menjadi seorang komedi karena karangan cerita yang sangat bagus zainuddun jadilah seorang yang kaya raya dengan kesuksesan nya.
Zainuddin dan hayati akhirnya bertemu di sebuah tempat acara opra bangsa zainuddin yang lagi tampil di atas pentas sebagai orang yang sukses di dalam karya tulisan nya.
kelihatan zainuddin begitu gagah di depan hayati
Pada 1930 an, Zainuddin pemuda asal Makassar memulai perjalanannya berkelana ke tanah Minang Kabau, tempat kelahiran bapaknya di Batipuh, Padang Panjang. Sesampainya di sana, Zainuddin senang dan tak disangka Zainuddin bertemu dengan perempuan berdarah bangsawan asli Minang Kabau yang memiliki paras cantik, seorang keturunan yang kental akan adat minang, Hayati namanya. Zainuddin menyimpan rasa kepada Hayati, ternyata begitu juga Hayati. Namun cinta tak mampu mengalahkan kentalnya adat istiadat yang harus dipatuhi yang telah melekat erat dengan keluarga Hayati, cinta Zainuddin dan Hayati kandas seketika, lamaran Zainuddin ditolak mentah-mentah oleh keluarga Hayati serta adatnya.
Patah hati Zainuddin tak sebentar, hingga akhirnya Zainuddin terpaksa meninggalkan ranah Minang dan pergi ke Pulau Jawa. Sebelum Zainuddin pergi, ia memberikan kenang-kenangan berupa selendang kepada Hayati untuk disimpan agar Hayati selalu ingat kepada Zainuddin. Hingga akhirnya datang sepucuk surat dari Hayati di Sumatera Barat kepada Zainuddin yang jauh dari Hayati memberitahu kalau dia akan segera menjadi isteri dari seorang yang kaya, Aziz namanya.
Aziz adalah orang dari keluarga terpandang dan tersanjung, sangat diterima oleh keluarga Hayati serta kepada adat istiadatnya. Hancur hati Zainuddin, kemudian ia jatuh sakit. Di hari jatuh sakitnya zainuddin, beberapa hari kemudian Hayati datang menjenguknya. Tampak senang pada raut wajah Zainuddin namun, kemudian hatinya lebih hancur lagi ketika melihat merahnya inai di kuku Hayati yang menandakan ia sudah bersuami, ternyata Hayati datang bersama suaminya Aziz yang kemudian menarik tangan Hayati supaya cepat meninggalkan Zainuddin.
Selepas Hayati pergi, Zainuddin tidak berlama-lama lagi di tempat tidurnya. Ia bangkit dengan saran teman, Muluk namanya.Muluk ini teman Zainuddin yang setia menemani ke manapun Zainuddin. Segala hal mulai dari penampilan, dan kehidupan Zainuddin, Muluk peran penting atas berubahnya kehidupan pemuda malang Zainuddin. Zainuddin pun berpikir lebih ke depan, di sinilah ia memulai kisah kebangkitannya dari patah hati yang mendalam. Zainuddin menjadi seorang yang terkenal berkat tulisannya yang populer dan sangat disukai oleh masyarakat. Kemudian tulisannya dijadikan drama dalam opera dan dihadiri oleh banyak kalangan.
Hal yang tak terduga, Hayati datang menghadiri opera Zainuddin, tentunya bersama suaminya, Aziz. Zainuddin bertemu dengan Hayati dari sekian lama mereka tidak bertemu. Ada perasaan sedikit senang karena bertemu Hayati namun, kemudian sedih karena Hayati datang bersama suaminya. Pada acara Zainuddin, Aziz terlihat sangat akrab dan bersahabat, seolah dia sudah berteman dekat dengan Zainuddin.
Zainuddin tidak menunjukkan rasa sedihnya kepada Hayati, dia tampak begitu berwibawa dan sangat berbeda. Pembawaan Zainuddin selalu ramah serta menerima, tak lupa senyumnya yang terlihat teduh dan bersahabat. Bahkan, Zainuddin makan malam bersama Hayati dan suaminya walaupun sebenarnya hatinya remuk. Hayati merasa tidak enak dengan Zainuddin karena Zainuddin begitu baik. Sifat
Zainuddin dengan Aziz begitu berbeda, suami Hayati banyak menghamburkan uangnya untuk hal-hal yang malah merugikan seperti minum-minuman keras dan sebagainya. Hingga akhirnya penagih hutang datang menggedor kediaman Hayati, dan Hayati membuka pintu untuk penagih hutang yang berkata dengan nada keras membuat Hayati tersontak, hutang Aziz menumpuk. Dari situ Aziz, suaminya Hayati jatuh sakit dan meninggal dunia, Hayati berduka.
Dari sepeninggalan suaminya, menjadi jandalah seorang Hayati. Hayati baru tahu bahwa Zainuddin masih mencintainya. Saat itu Muluk membawa Hayati ke suatu ruangan dan memperlihatkan poto Hayati yang dipajang besar di dinding ruangan itu dengan tersenyum, Zainuddin masih sangat mengharapkan Hayati. Hayati menangis, karena Zainuddin masih sangat mencintainya karena, selama ini Hayati masih selalu menjadi permata hati Zainuddin.
Pada makan malam, malam yang canggung itu, duduklah di meja seorang pemuda tampan Zainuddin dan seorang janda dambaan pemuda di depannya, Hayati. Dengan berat hati bahwa Hayati harus segera pulang ke Kampung halamannya, Sumatera Barat. Di sini Zainuddin tidak mengetahui kalau Hayati telah melihat poto besar Hayati yang dipajang itu. Walaupun berat hati, Zainuddin tetap harus rela. Hayati pun diantarkan ke Kapal Besar itu, kapal Van Der Wijck.
Perkiraan Zainuddin Hayati akan sampai ke Tanah Minang dengan baik-baik saja tapi tidak, kabar datang dengan segala kegundahan. Insiden pun terjadi, ketidak enakan hati, membuat sesak dan kesedihan yang mendalam. Kapal yang ditumpangi Hayati mengalami kecelakaan dan tenggelam yang menyebabkan Hayati menjadi salah satu korban dalam peristiwa itu.
Zainuddin bergegas menghampiri tempat penampungan para korban tenggelamnya kapal itu, sambil tergesa mencari kekasihnya tidak lama kemudian tampak jelaslah dengan mata kepala Zainuddin bahwa orang yang dicintainya itu sudah terbaring tak berdaya namun, masih sadar walau mungkin tidak sepenuhnya. Hayati sudah tampak sekarat karena mengalami kecelakaan kapal itu. Mimik wajah Zainuddin kini berubah menandakan luka hati melihat Hayati yang terbaring lemah.
Hayati masih bisa sadar kalau Zainuddin datang melihatnya, mendekatlah Zainuddin dengan langkah dan hati yang berat, langkahnya pelan dengan tatapan mata yang berkaca-kaca kepada Hayati, kemudian bersimpuh. Tumpahlah air mata Zainuddin melihat orang tersayang sudah hampir tak bernapas.
Zainuddin menangis sejadi-jadinya, kemudian meraung merasakan pedihnya hari itu, orang yang benar-benar ia cintai kini benar-benar pergi. Sebelum tatapan terakhir Zainuddin kepada Hayati, Hayati juga berlinang air mata. Permata hati yang dulu pernah Zainuddin dambakan, pernah diambil orang lain. Lalu kembali dan masih dicintai.
Namun kali ini hilang kembali dan kali ini bukan hilang atau pergi berpaling kepada orang lain, melainkan pergi selama-lamanya dari dunia ini. Hayati menghembuskan napas terakhirnya di depan Zainuddin yang selalu mencintainya. Kisah cinta dua insan kini bukan lagi dibatasi oleh adat atau pun keluarga namun, oleh perbedaan dunia. Tidak ada lagi yang ditatap penuh kasih, kekasih kini telah tiada, Zainuddin berduka.
Sastra romansa ini tentulah sangat fenomenal sehingga telah di filmkan dan sukses dengan banyak pencapaian. Namun disini kita tidak membahas Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dari segi perfilman, melainkan dari sumber yang rinci yakni novelnya yang telah terbit secara sah sejak 1976 oleh penerbit Bulan Bintang sedangkan cetak asli telah terbit secara cerita bersambung pada tahun 1937.
Kita bahan sedikit latar belakang Buya Hamka. Dilansir dari Wikipedia beliau bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan singkatan Hamka, lahir di Maninjau 7 Februari 1908 dan meninggal pada 24 July 1981. Beliau adalah ulama asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat beragama. Setelah melakukan perjalanan ke Jawa dan Mekkah sejak berusia 16 tahun untuk menimba ilmu.
Beliau bekerja sebagai guru agama di Deli, Sumatera Utara, lalu di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1935, Hamka meninggalkan Makassar untuk pergi ke Medan. Di kota itu, ia menerima permintaan untuk menjadi pemimpin redaksi majalah Pedoman Masjarakat, yang dalam majalah ini untuk pertama kalinya nama pena Hamka diperkenalkan. Di sela-sela kesibukannya, Hamka menulis Van der Wijck, karya yang diilhami sebagian dari tenggelamnya suatu kapal pada tahun 1936.
Tentu telah banyak dari kalian yang tahu bagaimana jalannya cerita ini. Secara garis besar Cerita berkisar tentang semangat juang Zainuddin, bagaimana merana dan melaratnya hidup Zainuddin setelah cintanya ditolak oleh keluarga Hayati. Kemudian beliau bangun semula dari segala kedukaan, membuka lembaran baru dalam hidupnya menjadi seorang penulis yang ternama dan berjaya. Ah, tidak perlu dijelaskanlah dengan begitu rinci karena kebanyakan dari kalian pastilah sudah tahu.
Bagi kalian yang mengetahui ceritanya dari film yang berdurasi kurang-lebih dua jam dan dengan segala keterbatasan waktu tersebut tentu ada yang kurang dan tidak didapati dari novelnya. Saya sendiri jujur baru membaca versi novelnya setelah menonton versi film, alhasil sosok hayati yang begitu dikagumi zainudin terbayanglah wajah Pevita Pearce, Ondeh mandeh. Sepertinya kurang gimana gitu, seolah imajinasi kita sudah terkotak-kotakan dengan ilustrasi yang ada di film. Seandainya belumlah nonton versi filmnya tentulah kita leluasa untuk berimajinasi, bagaimana zainuddin mengagumi keelokan paras hayati, seolah kita membayangkan paras mantan pacar yang semakin menjadi-jadi.(Ckckwkk)
Ah Hayati, kalau kau tahu ! Agaknya belum pernah orang lain jatuh cinta sebagaimana kejatuhanku ini. Dan bila kau alami kelak agaknya tidak juga akan kau dapati cinta sebagai cintaku. Cintaku kepadamu lebih dari cinta saudara kepada saudarnya, cinta ayah kepada anaknya. Kadang-kadang derajat cintaku sudah terlalu amat naik, sehingga hanya dua yang menandingi kecintaan itu, pertama Tuhan dan kedua mati.
Lebih seratus kali nama kau kusebut dalam sehari! Kadang-kadang saya panggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapanku. Kicut pintu ditolakkan angina, serasa-rasa langkah kau yang terdengar. Masih juga belum percaya saya bahwa kau memang telah sebenar-benarnya membuang saya dari ingatanmu. Saya tanyai diri saya, adakah saya berdosa kepadamu? Tidak rasanya, bahkan dosa yang lain yang kerap saya perbuat untuk mencukupkan cintaku kepadamu.
3a8082e126