Keanekaragaman adat dan budaya di Iindonesia sebagai warisan nenek moyang yang tidak ternilai harganya merupakan salah satu cerminan masyarakat Indonesia sebagai makhluk bermoral, berakal dan berperasaan. Keanekaragaman adat dan budaya Indonesia seperti upacara adat, kesenian, tari-tarian, senjata tradisional, lagu-lagu daerah dan pakaianadat memiliki nilai-nilai moral yang dapat dijadikan landasan dan diimplementasikan di kehidupan nyata. Dalam upaya melestarikan budaya Indonesia perlu adanya pengenalan tentang adat dan budaya Indonesia terhadap putra dan putri bangsa sejak usia dini agar budaya nusantara tetap lestari dan tidak hilang bahkan punah, terutama tari-tarian dan lagu nusantara yang selalu menjadi kekuatan dan ciri khas dari budaya Indonesia di mata dunia. Membangun multimedia interaktif merupakan inovasi yang tepat dalam memperkenalkan budaya Indonesia. Metode dalam pengembangan aplikasi ini menggunakan Interactive Multimedia System Design & Development Cycle secara khusus memberikan pembahasan mengenai tahapan pengembangan dan perancangan untuk sistem multimedia interaktif, hasil dari pembuatan aplikasi di uji terlebih dahulu dengan white box testing sebelum di publikasikan.
Dua mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) membawa nama Indonesia menampilkan lagu dan tarian tradisional Indonesia di Hungarya pada tanggal 6-10 Mei 2015 lalu dalam rangka memperingati hubungan diplomatik 60 tahun Indonesia-Hungaria serta Indonesian Days Charity Bazaar 2015.
Kedua mahasiswa itu adalah, Anisa Mawarni dari Program Studi Bimbingan dan Konseling (Prodi BK) dan Muhammad Ikhwan Sanjani dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI). Kedua mahasiswa FKIP tersebut bersama tim Seni Budaya UAD Yogyakarta lainya yang dipimpin langsung Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan Dr Abdul Fadlil MT menampilkan berbagai lagu-lagu daerah dan nasional yang mendapatkan sambutan meriah dari para penonton, di antaranya lagu Ampar-ampar pisang dari Kalimantan, Lagu Rek Ayo Rek dari Jawa Timur, dan lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke dan lagu Tanah Airku. Selain itu juga menampilkan beberapa tarian tradisional Indonesia diantaranya yaitu Tari Rentak Indah (Sumatra Barat), Tari Sintren (Cirebon), Tari Tanggai (Sumatera Selatan), Tari Tampi (Bangka Belitung), Tari Mandau (Kalimantan), Tari Asmarandhana merupakan kreasi penggabungan tari Jawa, Kalimantan,dan Bali.
Dubes RI Hungaria, Wening Esthyprobo dalam sambutan mengatakan, hubungan baik kedua negara, Indonesia meliputi segala bidang. Salah satu yang menonjol adalah di bidang pendidikan. Universitas Szeged terkenal dengan penemuan Vitamin C oleh Albert Szent Gryorgy yang mendapatkan penghargaan nobel. Memiliki kerja sama pendidikan tinggi dengan perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya yaitu dengan UAD. (H2)
Siapa yang membaca sepenggal lirik di atas sambil bernyanyi? Pasti Sobat Parekraf tak asing dengan penggalan lirik tersebut. Iringan musik yang ringan dan lirik yang berirama, seakan menghipnotis kita untuk menyanyikan lagu Sajojo secara otomatis.
Sajojo merupakan salah satu lagu daerah asal Papua. Meskipun memiliki musik yang ringan dan riang, ternyata ada makna mendalam di balik lirik lagu Sajojo. Singkatnya, lagu Sajojo menceritakan tentang seorang gadis yang sangat disayangi oleh kedua orangtuanya. Memiliki wajah yang cantik dan menjadi kembang desa, membuat banyak pria jatuh cinta kepadanya.
Berkat kecantikannya tersebut, banyak pria tertarik untuk mengajak gadis cantik tersebut keluar dan jalan-jalan bersama. Dengan kata lain, lagu Sajojo digambarkan sebagai seorang laki-laki yang meminta izin kepada orangtua untuk mengajak anak perempuannya jalan-jalan dan kembali pada sore hari.
Salah satu daya tarik lagu Sajojo adalah iringan musiknya yang menggunakan alat musik tradisional khas Papua, yakni Tifa. Meskipun bentuknya mirip gendang, tapi suara tifa cenderung lebih ringan dan bisa menjadi pengatur ritme dalam tarian.
Iringan tifa membuat alunan musik menjadi lebih yang ceria. Tidak heran kalau lagu Sajojo asal Papua ini mudah dinikmati anak-anak hingga orangtua. Tidak hanya untuk bernyanyi bersama, lagu Sajojo kerap menjadi iringan Tarian Sajojo khas Papua.
Tarian dan lagu Sajojo kerap dibawakan dalam berbagai acara, seperti acara adat, budaya, maupun sekadar sebagai hiburan. Meskipun memiliki lirik dan arti yang mendalam, namun Tarian Sajojo justru memiliki gerakan yang sangat energik dan penuh semangat.
Setiap penari menggunakan kostum adat khas Papua, yaitu busana yang terbuat dari akar maupun daun. Seperti misalnya menggunakan rok rumbai, senjata khas Papua, penutup kepala dengan unsur alam, serta kalung dan gelang yang terbuang dari benda-benda alam: batu, kayu, tulang, kerang, atau bahkan gigi binatang.
Kepopuleran lagu Sajojo tidak pernah padam sampai sekarang. Saking populernya, tidak jarang lagu Sajojo digunakan sebagai iringan musik untuk senam di pagi hari, promosi pariwisata, menyambut para tamu, hingga berhasil dikenal hingga mancanegara.
Tribratanews.polri.go.id - Tari tradisional adalah suatu tarian yang berasal dari masyarakat suatu daerah yang sudah turun-temurun dan telah menjadi budaya masyarakat setempat. Indonesia juga memiliki beragam tarian tradisional, salah satu tarian tradisional daerah Sumatera Utara.
Tari ini merupakan salah satu jenis tarian hiburan yang juga biasa ditampilkan untuk memperkenalkan kebudayaan. Karena tarian ini memiliki kekhasan dengan gerakan berpadu dengan busana tradisional yang penuh makna.
Tari Serampang Dua Belas adalah tari khas Sumatera Utara yang berasal dari suku Melayu. Tarian ini memiliki makna tersirat berupa kisah yang menceritakan tentang kisah romantis antara laki-laki dan perempuan.
Tari Rondang Bulan Angkola adalah tari tradisional yang berasal dari Tapanuli Selatan. Tari ini berasal dari sub etnis Batak angkola. Rondang bulan sendiri berarti "terang bulan". Tari ini menggambarkan tentang gadis-gadis angkola yang menari dengan riang di bawah pancaran sinar bulan purnama.
Tari piso surit adalah tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Karo. Tari ini biasanya ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu kehormatan. Keunikan tari ini terdapat pada kostumnya, yaitu pada penutup kepala penari wanita lebih besar dan berkarakter khas Karo.
Itulah kabasaran, tarian tradisional masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Tari kabasaran dahulu dimainkan oleh para penari laki-laki yang umumnya bekerja sebagai petani atau penjaga keamanan desa-desa di Minahasa. Jika sewaktu-waktu wilayah mereka terancam atau diserang musuh, mereka meninggalkan pekerjaan dan berubah menjadi waranei atau prajurit perang.
Kemunculan tarian ini tak bisa dipisahkan perang berkepanjangan dan ancaman dari suku-suku lain yang berdekatan. Untuk mempertahankan diri, leluhur orang Minahasa berusaha memperkuat diri dengan merekrut orang-orang kuat dan berbadan besar yang dilatih berperang dengan menggunakan pedang (santi) dan tombak (wengko).
Dari tari cakelele ini pula lahir tari kabasaran. Sutisno Kutoyo dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara menyebut tari kabasaran merupakan penyederhanaan dan penghalusan dari cakalele, tari perang sekaligus pemujaan leluhur. Tujuan tari cakalele dirasakan kurang ramah menyambut tamu-tamu Belanda, karena gerakan-gerakannya yang kasar dan liar.
Gerakan tari kabasaran enerjik melambangkan semangat seorang prajurit perang, tapi juga dinamis mengikuti irama alat musik. Semua gerakan tari berdasarkan komando atau aba-aba dari pemimpin tari yang disebut tombolu, yang dipilih sesuai kesepakatan para sesepuh adat. Tarian diiringi alat musik pukul seperti gong, tambur, atau kolintang.
Menurut Wenas, dulu ini merupakan tarian membawa kepala manusia. Pada tarian ini para kabasaran membentuk lingkaran lalu menari mengelilingi kepala manusia yang diletakkan di tengah lingkaran sambil menyanyi lagu Koyak e waranei, lagu patriotik keprajuritan tradisional Minahasa tempo dulu.
Kostum para penarik tak kalah menarik. Kostum terbuat dari kain tenun khas Minahasa, yang didominasi warna merah. Para penari juga memakai topi bulu ayam atau bulu burung cenderawasih, kalung, gelang, dan aksesoris lainnya.
Tari kabasaran lestari hingga saat ini. Beberapa kelompok tari masih merawat kesenian tradisional ini di sejumlah wilayah di Minahasa seperti Tombulu (Desa Kali, Desa Warembungan, Kota Tomohon), Tonsea (Desa Sawangan), Kota Tondano, dan Tontembuan (Desa Tareran).
Tari kabasaran juga kerap ditampilkan dalam acara penyambutan tamu, kenaikan pangkat pejabat di wilayah Sulawesi Utara, upacara adat pernikahan, dan kegiatan sosial lainnya. Bahkan pernah ikut membuka pesta olahraga Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.*
PUTRAJAYA, 28 Julai (Bernama) -- Lima tarian tradisional yang menterjemahkan kepelbagaian kaum di negara ini dengan diiringi lagu Keluarga Malaysia, akan menjadi persembahan tarikan pada Pelancaran Bulan Kebangsaan dan Kibar Jalur Gemilang 2022 di Dataran Putrajaya, Sabtu ini.
Pereka Tari Pentarama Jabatan Penerangan Malaysia Jafly Jaapar berkata persembahan tarian tradisional tersebut melibatkan tarian joget yang mewakili kaum Melayu, tarian reben (kaum Cina), tarian klasik kaum India, tarian ngiluk (Sabah) dan tarian ngajat (Sarawak).
Jafly berkata seramai 11 penari dengan berbusana tradisional Melayu, Cina, India, Sabah dan Sarawak akan mempersembahkan tarian berkenaan ketika lagu Keluarga Malaysia, yang liriknya hasil nukilan Menteri Komunikasi dan Multimedia Tan Sri Annuar Musa, berdurasi kira-kira tiga minit dimainkan.
Lebih 10,000 Keluarga Malaysia dijangka hadir pada Pelancaran Bulan Kebangsaan dan Kibar Jalur Gemilang 2022 yang merupakan satu daripada aktiviti utama bagi menyemarakkan sambutan Bulan Kebangsaan tahun ini.
Dimaklumkan bahawa soal selidik ini bertujuan untuk mendapatkan maklum balas pelanggan berhubung tahap pengamalan nilai-nilai murni di jabatan/agensi Kerajaan yang memberikan perkhidmatan kepada tuan/puan.
Berdasarkan pengalaman atau pemerhatian semasa berurusan dengan BERNAMA, sila beri maklum balas kepada pernyataan-pernyataan yang berikut dalam konteks semasa. Kami menghargai maklum balas yang jujur dan rasional daripada anda.
3a8082e126